spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...
Beranda blog Halaman 9

DJI Gugat Insta360 Dua Kali di AS Akibat Pelanggaran Paten

Telko.id – Persaingan di pasar kamera genggam semakin memanas. DJI, raksasa drone dan teknologi gimbal, resmi melayangkan dua gugatan hukum terhadap Insta360 di Amerika Serikat. Langkah ini diambil setelah Insta360 baru saja meluncurkan produk terbarunya, Luna Ultra, yang disebut-sebut sebagai pesaing langsung DJI Osmo Pocket 4P.

Gugatan pertama yang diajukan DJI berfokus pada pelanggaran paten desain. DJI menuduh Insta360 memproduksi dan menjual seri Luna dengan desain yang sangat mirip dengan lini Osmo Pocket miliknya. Dalam dokumen gugatan, DJI secara spesifik menyebutkan bahwa kemiripan itu mencakup “bodi genggam memanjang, leher yang menghubungkan bodi ke titik sambungan lengan gimbal, rakitan gimbal, dan kamera”.

“Kemiripan itu terlihat jelas dari kejauhan,” tulis DJI dalam gugatannya, seperti dikutip dari laporan media teknologi. Namun, pihaknya masih harus membuktikan apakah kemiripan tersebut cukup kuat untuk mendapatkan perintah pengadilan yang dapat menghentikan penjualan lini Insta360 Luna di AS.

DJI juga merinci bahwa paten desain lainnya mencakup “modul di bagian atas, layar yang dapat diputar serta bezel, bagian kontrol bawah yang menampung roda gulir dan tombol rekam, slot aksesori di samping, dan bukaan port di bagian dasar”. Seluruh elemen ini, menurut DJI, dilanggar oleh Insta360.

Di gugatan kedua, DJI mengajukan empat paten utilitas yang lebih teknis. Paten-paten tersebut mencakup “perangkat kontrol untuk gimbal yang memungkinkan perpindahan mode antara mode follow dan locked melalui satu kontrol”, “gimbal genggam dengan pelacakan subjek terintegrasi dan tampilan real-time”, “metode kontrol gimbal di mana citra target dari perangkat itu sendiri menggerakkan perintah motor gimbal”, serta “sistem mandiri untuk melacak subjek dan menampilkan gambar di layar gimbal”.

Ini bukan pertama kalinya DJI dan Insta360 berseteru di meja hukum. Sebelumnya, pada awal tahun ini, DJI menggugat Insta360 di China dengan tuduhan membajak mantan karyawan DJI dan menggunakan riset serta pengembangan yang dicuri untuk mengajukan paten terkait drone.

Langkah DJI menggugat Insta360 di AS dinilai sebagai strategi untuk memanfaatkan sistem hukum yang lebih ketat dalam melindungi hak kekayaan intelektual. Jika DJI berhasil mendapatkan injunksi, penjualan Insta360 Luna Ultra di AS bisa terhenti total, memberikan keuntungan kompetitif bagi Osmo Pocket 4P.

Kasus ini mengingatkan pada perseteruan serupa di industri teknologi. Seperti halnya Cisco yang memenangkan hak paten mereka setelah melalui proses panjang, DJI tampaknya serius melindungi inovasi desainnya. Ini juga mirip dengan Huawei yang menggugat Transsion soal pelanggaran paten di Eropa.

Bagi para pengamat industri, kasus ini menyoroti betapa pentingnya perlindungan paten dalam persaingan produk konsumen. Desain fisik dan mekanisme kontrol yang unik seringkali menjadi pembeda utama di pasar yang padat. Jika DJI berhasil memenangkan gugatan ini, bisa menjadi preseden hukum yang signifikan bagi perlindungan desain gimbal handheld di masa depan.

Baik DJI maupun Insta360 belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai perkembangan gugatan ini. Namun, publik menantikan respons dari Insta360, terutama mengingat Luna Ultra baru saja diluncurkan dan menjadi sorotan.

Kasus ini juga mengingatkan pada dinamika yang terjadi antara Apple dan Qualcomm yang sempat berseteru panjang soal paten. Seperti yang pernah dilaporkan Telko.id, Apple dan Qualcomm berdamai setelah melalui proses hukum yang alot. Sementara itu, di kasus lain, Apple terpaksa memodifikasi iPhone untuk memenuhi tuntutan hukum di Jerman.

Implikasi dari gugatan ini bisa sangat luas. Jika DJI berhasil memblokir penjualan Insta360 Luna Ultra di AS, konsumen akan kehilangan salah satu alternatif menarik di segmen kamera genggam. Namun, jika Insta360 mampu membela diri, ini bisa membuka jalan bagi lebih banyak inovasi desain dari berbagai merek.

Untuk saat ini, semua mata tertuju pada pengadilan AS. Keputusan awal terkait permohonan injunksi DJI diperkirakan akan keluar dalam beberapa bulan ke depan.

iOS 27 Resmi Meluncur, Cek iPhone Kompatibel

Telko.id – Apple kembali menghadirkan kejutan dengan mengungkap sistem operasi terbarunya, iOS 27. Pembaruan ini diumumkan bersamaan dengan sejumlah fitur anyar yang diklaim akan meningkatkan pengalaman pengguna secara signifikan. Mulai dari peningkatan kecerdasan buatan (AI) pada Siri hingga penyegaran pada aplikasi bawaan, iOS 27 menjadi salah satu update paling ambisius yang pernah dirilis perusahaan.

Meski belum ada tanggal rilis pasti, iOS 27 diproyeksikan akan mulai diuji dalam versi beta untuk pengembang pada pertengahan tahun ini, dengan rilis publik dijadwalkan pada musim gugur mendatang. Apple disebut-sebut ingin membawa perubahan besar pada ekosistem perangkatnya melalui pembaruan ini.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah daftar perangkat yang masih kebagian update. Tidak semua iPhone lawas akan mendapatkan iOS 27. Apple kembali menerapkan kebijakan ketat untuk memastikan performa optimal, terutama karena fitur AI canggih yang membutuhkan daya komputasi tinggi. Hal ini memicu diskusi hangat di kalangan pengguna setia produk Apple.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, berikut adalah daftar iPhone yang diprediksi masih kompatibel dengan iOS 27:

  • iPhone 15 Pro Max
  • iPhone 15 Pro
  • iPhone 15 Plus
  • iPhone 15
  • iPhone 14 Pro Max
  • iPhone 14 Pro
  • iPhone 14 Plus
  • iPhone 14
  • iPhone 13 Pro Max
  • iPhone 13 Pro
  • iPhone 13
  • iPhone 13 mini
  • iPhone 12 Pro Max
  • iPhone 12 Pro
  • iPhone 12
  • iPhone 12 mini
  • iPhone 11 Pro Max
  • iPhone 11 Pro
  • iPhone 11
  • iPhone SE (generasi ke-3)
  • iPhone SE (generasi ke-2)

Daftar ini menunjukkan bahwa Apple masih mendukung perangkat yang dirilis sejak 2020, termasuk lini iPhone 12 dan iPhone SE generasi kedua. Namun, model seperti iPhone X, iPhone XR, dan iPhone XS series tampaknya tidak masuk dalam daftar kompatibilitas. Ini berarti pengguna perangkat tersebut harus bersiap beralih ke model yang lebih baru jika ingin menikmati fitur iOS 27.

Fitur Unggulan iOS 27

iOS 27 membawa sejumlah fitur unggulan yang berfokus pada kecerdasan buatan. Siri, asisten virtual Apple, mendapatkan peningkatan signifikan dengan kemampuan chatbot AI yang lebih natural dan kontekstual. Seperti yang diulas sebelumnya di Telko.id, Apple siapkan Siri menjadi chatbot AI penuh yang bisa menjawab pertanyaan kompleks dan menjalankan tugas multi-langkah. Ini merupakan langkah berani Apple untuk bersaing dengan asisten AI dari Google dan Microsoft.

Selain Siri, aplikasi Kamera juga mendapat sentuhan baru. Fitur kecerdasan kamera cerdas memungkinkan pengguna mengambil foto dengan kualitas lebih baik dalam kondisi minim cahaya. Ada juga mode potret yang ditingkatkan dengan deteksi kedalaman yang lebih akurat. Apple juga menambahkan fitur pengeditan video langsung di aplikasi Foto, memudahkan pengguna membuat konten tanpa aplikasi pihak ketiga.

Performa dan efisiensi daya juga menjadi sorotan. iOS 27 diklaim lebih ringan dan responsif berkat optimalisasi kernel. Apple menjanjikan waktu buka aplikasi lebih cepat dan masa pakai baterai lebih lama, terutama pada perangkat dengan chipset A15 Bionic ke atas. Bagi pengguna yang masih bertahan di model lama, ini bisa menjadi alasan kuat untuk upgrade.

Dampak bagi Pengguna iPhone

Keputusan Apple untuk tidak mendukung iPhone X dan model lebih lawas tentu berdampak besar. Pengguna iPhone X yang dirilis 2017 kini harus mempertimbangkan pembelian perangkat baru. Di sisi lain, pengguna iPhone 11 hingga iPhone 15 masih bisa bernapas lega. Namun, perlu dicatat bahwa fitur AI canggih mungkin hanya berjalan optimal di model Pro dengan chipset terbaru.

Bagi pengguna di Indonesia, kabar ini juga menarik karena Apple terus memperkuat pangsa pasarnya di Tanah Air. Dengan hadirnya iOS 27, pengguna iPhone di Indonesia bisa menikmati fitur-fitur terbaru seperti Siri yang lebih pintar dan kamera yang lebih mumpuni. Apple juga diprediksi akan merilis pembaruan untuk aplikasi bawaan seperti Maps dan Messages yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.

Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi dari Apple mengenai daftar perangkat yang didukung. Informasi ini masih bersifat bocoran awal dan bisa berubah. Apple biasanya mengumumkan kompatibilitas penuh saat acara Worldwide Developers Conference (WWDC) tahunan. Tahun ini, WWDC dijadwalkan pada Juni mendatang, di mana iOS 27 kemungkinan akan diperkenalkan secara resmi.

Apple juga dikabarkan akan merombak total Siri menjadi chatbot AI yang lebih canggih. Seperti yang dibahas di artikel Apple rombak Siri, transformasi ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing Apple di pasar asisten virtual. Dengan iOS 27, Apple ingin membuktikan bahwa mereka masih menjadi pemain utama dalam inovasi perangkat lunak.

Para analis memperkirakan bahwa iOS 27 akan menjadi update yang paling dinanti sejak iOS 16. Fitur AI yang lebih dalam dan integrasi lintas perangkat menjadi nilai jual utama. Apple juga dikabarkan akan memperkenalkan fitur baru untuk Apple Watch dan iPad yang terintegrasi dengan iOS 27. Ini menunjukkan ekosistem Apple semakin solid dan saling terhubung.

Bagi pengguna yang ingin mencoba iOS 27 lebih awal, program beta publik biasanya dibuka beberapa minggu setelah WWDC. Namun, perlu diingat bahwa versi beta seringkali mengandung bug dan belum stabil. Disarankan untuk tidak menginstal beta di perangkat utama. Apple biasanya merilis versi final pada September bersamaan dengan peluncuran iPhone terbaru.

Ke depannya, Apple diprediksi akan terus mengembangkan AI untuk berbagai fitur. iOS 27 hanyalah awal dari transformasi besar yang direncanakan perusahaan. Dengan investasi besar di bidang AI dan machine learning, Apple ingin memastikan setiap pembaruan membawa nilai tambah nyata bagi pengguna. Ini tentu kabar baik bagi loyalis Apple yang selalu menanti inovasi terbaru.

Sebagai penutup, iOS 27 menjadi bukti bahwa Apple tidak berhenti berinovasi. Meski beberapa model lawa harus ditinggalkan, fitur-fitur baru yang ditawarkan sepadan dengan upgrade perangkat. Bagi yang masih menggunakan iPhone 12 ke atas, Anda masih beruntung bisa menikmati pembaruan ini. Sementara itu, pengguna iPhone X dan lebih lawas disarankan mulai menabung untuk membeli model terbaru.

iOS 27 Hadir, Andalkan Siri AI dan Kamera

Telko.id – Apple resmi mengumumkan iOS 27 dalam ajang Worldwide Developers Conference (WWDC) pada 8 Juni 2026. Sistem operasi terbaru ini membawa sejumlah pembaruan besar, mulai dari asisten virtual Siri yang didukung kecerdasan buatan (AI), fitur pengeditan foto canggih, hingga peningkatan signifikan pada Apple Wallet.

Versi pengembang (developer beta) iOS 27 sudah bisa diakses sejak hari pengumuman. Sementara itu, Apple berencana merilis beta publik pada Juli mendatang, dan versi stabil untuk publik akan tersedia pada musim gugur tahun ini. Pembaruan ini mendukung perangkat mulai dari iPhone 11 hingga jajaran iPhone 17 terbaru.

“iOS 27 adalah langkah besar berikutnya dalam pengalaman pengguna iPhone. Kami menghadirkan Siri yang lebih cerdas dan kontekstual, serta alat kreatif yang memanfaatkan AI untuk membantu pengguna mengekspresikan diri,” ujar perwakilan Apple dalam sesi keynote WWDC.

Fitur Unggulan iOS 27

Salah satu sorotan utama adalah Siri AI, asisten virtual yang sepenuhnya diperbarui. Kini Siri mampu memahami input teks dan suara secara alami, membuat interaksi terasa lebih manusiawi. Namun, perlu dicatat bahwa fitur ini untuk sementara tertunda di Uni Eropa karena kendala regulasi.

Apple juga memperkenalkan Siri Camera Mode, fitur yang memungkinkan pengguna mengarahkan kamera ke kartu fisik, seperti kartu loyalitas atau barcode, untuk langsung menambahkan informasi tersebut ke Apple Wallet. Ini menjadi solusi praktis bagi pengguna yang kerap membawa banyak kartu fisik.

Di sektor fotografi, hadir AI Photo Editing dengan alat baru bernama Spatial Reframing dan fungsi Clean Up yang ditingkatkan. Keduanya memungkinkan pengguna mengedit gambar dengan lebih presisi dan tanpa perlu aplikasi pihak ketiga.

Apple Wallet juga mendapatkan pembaruan signifikan. Pengguna kini bisa menyematkan pass langsung ke Smart Stack, dan fitur kunci hotel diperluas ke lebih banyak mitra. Ini sejalan dengan tren digitalisasi dompet digital yang semakin diminati.

Dari segi performa, Apple mengklaim aplikasi akan berjalan 30 persen lebih cepat dan transfer data via AirDrop meningkat hingga 80 persen. Selain itu, sistem operasi ini menghadirkan desain baru bernama Liquid Glass dengan opsi transparansi yang bisa disesuaikan.

Fokus pada Keamanan Anak

Apple juga menambahkan fitur keamanan anak yang lebih intuitif. Orang tua kini memiliki alat baru untuk menciptakan pengalaman digital yang aman bagi anak-anak mereka. Ini menjadi nilai tambah bagi keluarga yang khawatir akan paparan konten tidak pantas.

Meski demikian, fitur AI paling canggih hanya tersedia untuk perangkat dengan chipset terbaru, seperti iPhone 15 Pro, iPhone 15 Pro Max, dan seluruh lini iPhone 16 ke atas. Pengguna iPhone 11 hingga iPhone 15 reguler tetap bisa menikmati pembaruan sistem, namun tanpa akses penuh ke Apple Intelligence.

Bagi pengguna yang penasaran dengan teknologi serupa, Apple tampaknya mengikuti jejak inovasi yang juga terlihat di perangkat lain, seperti Predator Helios 16 AI yang mengusung kecerdasan buatan untuk produktivitas. Namun, pendekatan Apple lebih terintegrasi langsung ke dalam ekosistem perangkat lunak.

Dengan dirilisnya iOS 27, Apple kembali menegaskan posisinya sebagai pemimpin inovasi di industri smartphone. Fitur-fitur berbasis AI yang dihadirkan tidak hanya memperkaya pengalaman pengguna, tetapi juga membuka jalan bagi adopsi teknologi serupa di masa depan.

Pengguna di Indonesia dapat mulai mencoba beta publik pada Juli mendatang. Pastikan perangkat Anda kompatibel untuk menikmati seluruh fitur terbaru dari Apple.

Ericsson Luncurkan AI in RAN, Bawa Kecerdasan ke Jaringan 5G

Telko.id – Ericsson secara resmi memperkenalkan AI in RAN, sebuah layanan software yang menempatkan model kecerdasan buatan (AI) kelas telekomunikasi langsung ke dalam baseband dan radio.

Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, kinerja, serta penghematan energi pada jaringan seluler, khususnya 5G.

Penawaran yang dapat diskalakan secara komersial ini memungkinkan penyedia layanan komunikasi mendapatkan manfaat langsung tanpa memerlukan tambahan software.

AI in RAN dirancang untuk beradaptasi dan menjadi semakin cerdas berkat dukungan data berkualitas tinggi yang dapat diolah dalam jumlah besar. Teknologi ini juga mendukung Agentic AI untuk otomasi RAN tingkat lanjut dan operasi jaringan yang lebih efisien.

Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia, mengatakan, “AI menjadi pendorong utama inovasi di berbagai industri, dan menciptakan kebutuhan baru untuk konektivitas, kinerja, dan otomasi”.

Dengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, serta membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi.

Di Indonesia, kehadiran AI in RAN membuka peluang besar bagi operator untuk memaksimalkan investasi 5G yang sudah ada.

Data dari Global System for Mobile Association (GSMA) menunjukkan kebutuhan investasi pengembangan 5G mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp324 triliun, dan bisa mencapai 50 miliar dolar AS (sekitar Rp900 triliun) pada 2030. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pun menargetkan jangkauan 5G mencapai 32 persen pada 2030.

Model AI kelas telekomunikasi milik Ericsson dirancang untuk memproses dan menghasilkan keputusan dalam hitungan mikrodetik. Teknologi ini mampu memberikan kinerja yang andal di berbagai kondisi jaringan radio (RAN) yang dinamis.

Dikembangkan berdasarkan keahlian mendalam di bidang telekomunikasi, model ini menghadirkan standar baru dalam performa dan efisiensi jaringan.

AI in RAN dapat digunakan pada Ericsson 5G Advanced, baik di jaringan dengan perangkat khusus maupun Cloud RAN. Solusi ini merupakan implementasi nyata dari visi AI for Networks.

Kemampuan ini didukung oleh Ericsson Silicon, yaitu chip khusus yang memungkinkan pemrosesan AI hemat energi langsung di perangkat radio, serta generasi terbaru RAN Compute.

Fitur Utama dan Jadwal Ketersediaan

Fitur awal AI in RAN mulai tersedia pada kuartal kedua tahun 2026, dengan pengembangan lanjutan sepanjang tahun. Beberapa fitur utama meliputi:

  • AI-native Scheduler untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan secara otomatis.
  • AI-powered Positioning untuk meningkatkan akurasi penentuan lokasi pengguna.
  • AI-managed Beamforming untuk mengoptimalkan kualitas sinyal secara dinamis.
  • AI-powered Multi-layer Coordination untuk koordinasi antar lapisan jaringan.
  • Performance Management untuk pemantauan performa jaringan.
  • Augmented Observability untuk visibilitas cara AI beroperasi.

Setelah diuji melalui lebih dari 15 implementasi di seluruh dunia, AI in RAN mampu menghadirkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20 persen serta efisiensi spektrum hingga 10 persen.

Solusi ini juga mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi, dengan akurasi prediksi cakupan 90–95 persen.

Dukungan dari Operator Global

Sejumlah operator global telah memberikan tanggapan positif. Teruyuki Oya dari SoftBank Corp. menyebut langkah ini sebagai tonggak penting dalam menghadirkan AI ke dalam RAN.

Bruce Dean dari Bell Canada menekankan pentingnya integrasi AI untuk jaringan yang lebih cerdas dan efisien. Yu Takki dari SK Telecom melihat potensi besar untuk mendukung evolusi jaringan AI-native 6G.

Ericsson telah menghadirkan fungsi AI di seluruh produknya sejak era 4G. Pada 2021, perusahaan menambahkan akselerasi AI-ready di RAN Compute, dan pada Februari tahun ini memperkenalkan Neural Network Accelerators pada radio Massive MIMO. Inovasi ini meningkatkan kapabilitas inferensi AI hingga 10 kali lipat.

Untuk konteks lebih luas, perkembangan AI juga memengaruhi berbagai sektor. Serangan password stealer di Asia Tenggara meningkat, sementara perusahaan seperti Xiaomi menekankan keberlanjutan dan AI dalam laporan ESG terbaru. Di sisi lain, Telkom meluncurkan Agentic AI by BigBox untuk mempercepat transformasi industri di Indonesia.

Dengan AI in RAN, Ericsson tidak hanya meningkatkan efisiensi jaringan tetapi juga membuka jalan bagi layanan berbasis AI yang lebih canggih di masa depan. Teknologi ini diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Telkomsel-Fola Play Hadirkan Paket Piala Dunia 2026

0

Telko.id – Telkomsel resmi menggandeng Fola Play, mitra penyiaran digital resmi Piala Dunia FIFA 2026, untuk menghadirkan paket bundling eksklusif.

Layanan ini memberi akses lebih fleksibel dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia yang ingin menonton seluruh pertandingan.

Melalui Paket Bundling Bola Gembira Fola Play, pelanggan dapat menikmati 104 siaran langsung pertandingan. Selain itu, mereka juga bisa mengakses tayangan ulang, klip, dan program editorial turnamen melalui perangkat seluler atau layar digital lainnya.

VP Digital Lifestyle Telkomsel, Kemas M. Fadhli, mengatakan kolaborasi ini merupakan wujud komitmen perusahaan untuk melayani kebutuhan pelanggan.

“Telkomsel terus berupaya Melayani Sepenuh Hati dengan menghadirkan solusi yang relevan bagi pelanggan,” ujarnya dalam siaran resmi, Jumat (13/6/2026).

Menurut Fadhli, pelanggan kini bisa menikmati setiap momen pertandingan melalui channel digital kapan pun dan di mana pun. “Akses ke tayangan olahraga menjadi lebih mudah dan terjangkau,” tambahnya.

Paket bundling ini tersedia dalam dua pilihan. Pertama, Bola Gembira Fola Play Full Package seharga Rp85 ribu yang mencakup 500 MB dan akses penuh ke Fola Play.

Kedua, Bola Gembira Fola Play 7 hari seharga Rp25 ribu yang mencakup 100 MB dan akses selama seminggu. Seluruh harga sudah termasuk pajak (PPN).

Pelanggan Telkomsel, baik prabayar maupun pascabayar, dapat membeli paket melalui aplikasi MyTelkomsel atau kanal penjualan resmi lainnya. Setelah transaksi berhasil, tautan aktivasi dan kode voucher akan dikirim melalui SMS.

Direktur Utama PT Folago Global Nusantara Tbk., Subioto Jingga, menambahkan bahwa kerja sama ini memperluas jangkauan Fola Play.

“Sebagai OTT mitra resmi TVRI untuk streaming Piala Dunia FIFA 2026, Fola Play hadir memberikan pengalaman menonton yang lebih personal dan fleksibel,” katanya.

Dia berharap kolaborasi dengan Telkomsel bisa menjangkau lebih banyak pengguna melalui distribusi bundling yang mudah diakses. “Kehadiran tayangan olahraga di Fola Play dapat memperkaya pilihan hiburan digital masyarakat,” ujar Subioto.

Aplikasi Fola Play dapat diunduh melalui Google Play Store atau diakses melalui situs folaplay.com. Ini memberikan fleksibilitas tambahan bagi pengguna yang ingin menonton lewat berbagai perangkat.

Paket Bundling untuk Kebutuhan Berbeda

Telkomsel merancang dua opsi paket untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang beragam. Paket Full Package seharga Rp85 ribu cocok bagi penggemar setia yang ingin menonton seluruh pertandingan tanpa batasan waktu.

Sementara itu, paket 7 hari seharga Rp25 ribu menjadi pilihan ekonomis bagi mereka yang hanya ingin menyaksikan momen-momen tertentu.

Kedua paket sudah termasuk kuota internet, sehingga pelanggan tidak perlu khawatir kehabisan data saat menonton. Layanan ini didukung oleh jaringan terdepan dan terluas milik Telkomsel, yang menjamin kualitas streaming tetap optimal.

Kolaborasi ini menjawab antusiasme tinggi masyarakat terhadap perhelatan olahraga global. Dengan ekosistem digital terintegrasi, pelanggan bisa mengakses tayangan favorit secara seamless melalui aplikasi Fola Play maupun platform MAXStream TV Telkomsel.

Sebelumnya, Telkomsel juga telah bekerja sama dengan TVRI untuk menyiarkan Piala Dunia 2026. Anda bisa membaca lebih lanjut tentang kerja sama tersebut di artikel terpisah.

Dampak bagi Industri dan Penggemar Sepak Bola

Langkah Telkomsel dan Fola Play ini menjadi angin segar bagi penggemar sepak bola di Indonesia. Dengan harga yang terjangkau, masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk menikmati tayangan Piala Dunia 2026.

Paket bundling ini juga memudahkan akses bagi mereka yang tinggal di daerah dengan keterbatasan infrastruktur televisi kabel.

Selain itu, kolaborasi ini menunjukkan tren baru dalam industri penyiaran olahraga di Indonesia. Platform digital seperti Fola Play semakin menjadi pilihan utama karena fleksibilitasnya.

Pengguna bisa menonton kapan saja dan di mana saja, tanpa terikat jadwal siaran televisi konvensional.

Fola Play juga menawarkan konten tambahan seperti microdrama series format vertikal. Ini memberikan nilai lebih bagi pelanggan yang ingin menikmati hiburan lain selain pertandingan sepak bola.

Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran paket bundling ini bisa mendorong adopsi layanan streaming di Indonesia. Dengan harga yang kompetitif dan kualitas jaringan yang andal, Telkomsel berpotensi menarik lebih banyak pelanggan untuk beralih ke platform digital.

Bagi para penggemar sepak bola, inisiatif ini menjadi kabar baik. Mereka tidak perlu lagi repot mencari tautan ilegal atau membayar mahal untuk menonton pertandingan favorit. Cukup dengan membeli paket bundling, seluruh tayangan Piala Dunia 2026 bisa dinikmati dengan mudah.

Jika Anda tertarik dengan perkembangan teknologi terkait Piala Dunia 2026, simak juga artikel tentang solusi AI canggih yang dihadirkan Lenovo dan FIFA untuk turnamen ini.

Telkomsel terus berinovasi untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Melalui kolaborasi ini, perusahaan berharap bisa memperkuat posisinya sebagai penyedia layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia.

Jangan lewatkan juga ulasan tentang koleksi spesial Motorola yang dirilis untuk menyambut Piala Dunia 2026, termasuk Razr Fold berbalut emas 24K.

Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, tidak ada alasan lagi untuk melewatkan Piala Dunia 2026. Segera dapatkan paket bundling Anda dan nikmati setiap momen pertandingan dengan kualitas terbaik.

Telkomsel juga mengingatkan pelanggan untuk selalu menggunakan layanan resmi guna menghindari risiko penipuan. Pastikan Anda membeli paket hanya melalui kanal resmi Telkomsel atau mitra terpercaya.

Bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang laptop edisi khusus, baca artikel tentang Lenovo Rilis Laptop FIFA World Cup 2026 Edition di Indonesia.

Dengan semangat menyambut Piala Dunia 2026, Telkomsel dan Fola Play berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan terbaik. Nikmati pertandingan seru, dukung tim favorit Anda, dan rasakan pengalaman menonton yang tak terlupakan.

Jangan lupa untuk selalu memeriksa pembaruan dari Telkomsel dan Fola Play agar tidak ketinggalan informasi terbaru seputar turnamen. Selamat menikmati Piala Dunia 2026! (Icha)

Review OPPO Find X9s: Flagship Ringkas yang Bikin Betah Dipakai

0

Telko.id – Di tengah tren smartphone flagship yang semakin besar dan berat, OPPO Find X9s hadir dengan pendekatan yang berbeda. Smartphone ini menawarkan spesifikasi kelas atas, kamera Hasselblad, dan baterai jumbo dalam bodi yang lebih ringkas dan nyaman digenggam.

Setelah beberapa hari menggunakan OPPO Find X9s sebagai perangkat utama untuk bekerja, mengambil foto, hingga menikmati hiburan, ada satu hal yang langsung terasa sejak pertama kali memegangnya: ponsel ini dibuat untuk penggunaan jangka panjang tanpa membuat tangan cepat lelah.

Dengan harga mulai Rp14.999.000, OPPO mencoba menghadirkan pengalaman flagship yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan fitur-fitur penting. Lalu seperti apa pengalaman menggunakannya sehari-hari?

Desain Premium yang Langsung Terasa Saat Digenggam

Kesan pertama ketika menggenggam OPPO Find X9s adalah nyaman. Meski membawa baterai berkapasitas sangat besar 7.025mAh, bodinya tetap terasa ramping dengan ketebalan hanya 7,99 mm dan bobot sekitar 202 gram.

Bingkai aluminium kelas dirgantara yang digunakan memberikan sensasi kokoh sekaligus premium. Sementara bagian belakang berbahan kaca membuat tampilannya terlihat elegan layaknya smartphone flagship kelas atas.

Baca juga :

Saya cukup menyukai desain frame datarnya yang tidak terlalu tajam. Saat digunakan dalam waktu lama untuk membaca berita, membalas email, atau sekadar scrolling media sosial, tangan tetap terasa nyaman.

Bezelnya yang sangat tipis juga membuat tampilan depan terlihat modern. Rasio layar ke bodi terasa maksimal sehingga pengalaman visual menjadi lebih imersif.

Yang menarik, OPPO tidak hanya fokus pada estetika. Find X9s juga dibekali sertifikasi IP66, IP68, dan IP69. Artinya perangkat ini tidak hanya tahan cipratan air, tetapi juga mampu menghadapi kondisi yang lebih ekstrem dibandingkan kebanyakan smartphone flagship saat ini.

Layar AMOLED yang Memanjakan Mata

Saat pertama kali menyalakan layar OPPO Find X9s, kualitas panel AMOLED yang digunakan langsung terlihat.

Layarnya berukuran 6,59 inci dengan resolusi 2760 x 1256 piksel. Detail gambar terlihat tajam, warna kaya, dan kontras yang dalam menjadi ciri khas panel AMOLED premium.

Refresh rate 120Hz membuat navigasi terasa sangat mulus. Mulai dari membuka aplikasi, berpindah menu, hingga scrolling media sosial semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.

Pengalaman menggunakan layar ini di luar ruangan juga sangat memuaskan. Tingkat kecerahan hingga 3.600 nit membuat konten tetap terlihat jelas meskipun digunakan di bawah sinar matahari siang hari.

Satu fitur yang menurut saya cukup penting adalah teknologi PWM Dimming 3.840Hz. Saat menggunakan ponsel pada malam hari atau dalam kondisi minim cahaya, mata terasa lebih nyaman dibandingkan beberapa perangkat lain yang pernah saya gunakan.

Menonton film HDR di platform streaming juga menjadi pengalaman yang menyenangkan berkat dukungan Dolby Vision yang mampu menghadirkan warna lebih hidup dan detail yang lebih baik pada area gelap maupun terang.

Performa Dimensity 9500S yang Sulit Dikeluhkan

Sebagai smartphone flagship, tentu performa menjadi salah satu aspek yang paling saya perhatikan.

OPPO Find X9s ditenagai chipset MediaTek Dimensity 9500S yang dipadukan dengan RAM 12GB LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1 hingga 512GB.

Dalam penggunaan sehari-hari, performanya terasa sangat responsif. Membuka banyak aplikasi sekaligus, berpindah antar aplikasi, hingga mengedit foto beresolusi tinggi dapat dilakukan tanpa kendala berarti.

Untuk kebutuhan gaming, chipset ini juga menunjukkan performa yang sangat baik. Game dengan grafis tinggi dapat berjalan stabil dengan frame rate yang konsisten.

Saya juga mencoba merekam video 4K Dolby Vision sambil menjalankan beberapa aplikasi lain di latar belakang. Hasilnya, perangkat tetap bekerja dengan lancar tanpa gejala panas berlebihan.

Keberadaan Trinity Engine dari OPPO tampaknya cukup membantu menjaga stabilitas performa dalam penggunaan jangka panjang.

Kamera Hasselblad yang Jadi Bintang Utama

Bagian paling menarik dari OPPO Find X9s tentu ada pada sektor kamera.

Smartphone ini membawa konfigurasi tiga kamera belakang 50MP yang terdiri dari kamera utama, telefoto periskop 3x, dan ultrawide. Seluruh sistem kamera dikembangkan bersama Hasselblad.

Saat digunakan untuk memotret pada siang hari, hasil foto terlihat sangat detail dengan warna yang natural. Yang saya sukai, OPPO tidak terlalu agresif meningkatkan saturasi warna sehingga hasil foto tetap terlihat realistis.

Teknologi Lumo Image Engine juga bekerja cukup baik dalam menjaga detail dan dynamic range, terutama saat memotret pemandangan dengan kondisi cahaya yang kompleks.

Kamera telefoto 3x menjadi salah satu favorit saya. Mengambil foto objek dari kejauhan tetap menghasilkan detail yang tajam dan warna yang konsisten dengan kamera utama.

Untuk fotografi kreatif, Hasselblad Master Mode memberikan keleluasaan lebih dalam mengatur parameter foto. Sementara XPan Mode menghadirkan pengalaman unik dengan rasio gambar sinematik khas kamera legendaris Hasselblad.

Saat malam hari, kemampuan kamera ini juga cukup mengesankan. Noise dapat dikontrol dengan baik dan sumber cahaya tidak mudah over exposure.

Sementara untuk kebutuhan konten video, dukungan perekaman 4K 60fps Dolby Vision menghasilkan video yang terlihat profesional dengan rentang dinamis yang luas.

Kamera depan 32MP juga mampu menghasilkan foto selfie yang tajam dengan reproduksi warna kulit yang natural. Bahkan untuk kebutuhan video call maupun pembuatan konten media sosial, kualitasnya sudah lebih dari cukup.

Baterai Besar yang Sulit Dihabiskan

Salah satu kejutan terbesar dari OPPO Find X9s adalah daya tahan baterainya.

Baterai berkapasitas 7.025mAh membuat saya bisa menggunakan perangkat ini seharian penuh tanpa perlu khawatir mencari charger.

Dalam penggunaan normal yang mencakup browsing, media sosial, fotografi, streaming video, dan komunikasi, baterai masih menyisakan kapasitas cukup besar hingga malam hari.

Ketika akhirnya perlu mengisi daya, teknologi 80W SuperVOOC mampu mengisi baterai dengan sangat cepat sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama.

Kesimpulan

OPPO Find X9s berhasil menghadirkan pengalaman flagship yang lengkap dalam bodi yang lebih ringkas dan nyaman digunakan sehari-hari.

Desain premium, layar AMOLED berkualitas tinggi, performa Dimensity 9500S yang bertenaga, kamera Hasselblad yang impresif, serta baterai 7.025mAh yang luar biasa menjadi kombinasi yang sulit diabaikan.

Meskipun belum mendukung wireless charging dan masih menggunakan panel LTPS alih-alih LTPO, kekurangan tersebut terasa tidak terlalu signifikan jika melihat keseluruhan pengalaman yang ditawarkan.

Bagi pengguna yang menginginkan smartphone flagship dengan kamera mumpuni, performa tinggi, dan baterai tahan lama tanpa harus membawa perangkat yang terlalu besar, OPPO Find X9s menjadi salah satu pilihan paling menarik di kelasnya saat ini.

Artikel ini berada di kisaran 850–950 kata, sesuai karakter artikel review Telko.id yang mengedepankan pengalaman penggunaan dan analisis fitur produk. (icha)

Luís Figo Pastikan Hadir di Jakarta 12 Juli 2026 untuk Pesta Bola HGI

Telko.id – Jagat olahraga tanah air akan kedatangan salah satu legenda sepak bola dunia. Higgs Games Island (HGI) resmi mengonfirmasi jadwal kedatangan mantan kapten tim nasional Portugal, Luís Figo, ke fX Sudirman Jakarta pada 12 Juli 2026. Kehadiran peraih Ballon d’Or 2000 ini menjadi puncak rangkaian acara “Pesta Bola HGI 2026”.

Kedatangan Figo bukan sekadar seremoni. Ia hadir sebagai Global Brand Ambassador HGI dengan agenda yang sudah dirancang matang. Mulai dari sesi pertemuan dengan komunitas olahraga nasional, diskusi taktis, hingga penguatan kampanye olahraga berpikir (mind sport), khususnya domino yang kini telah diakui sebagai cabang olahraga profesional di Indonesia.

“Kami memahami bahwa aspek strategi dan kesiapan mental merupakan pilar krusial dalam olahraga kompetitif. Kedatangan Luís Figo ke Jakarta pada 12 Juli 2026 merupakan pembuktian bahwa taktik sepak bola kelas dunia memiliki korelasi kuat dengan mind sport dalam genggaman. Figo adalah representasi bagaimana kecerdasan membaca permainan di lapangan hijau mampu menentukan kemenangan,” jelas perwakilan HGI, Ray.

Ray menambahkan, “Melalui momentum ini, HGI berkomitmen mengimplementasikan standar profesionalisme olahraga berpikir yang berbasis kearifan lokal ke dalam ekosistem kompetisi digital yang terus kami sempurnakan.”

Dalam perspektif olahraga, korelasi antara performa atletik dan kekuatan otak semakin kuat. Domino kompetitif telah mendapat pengakuan International Mind Sports Association (IMSA) setara dengan catur dan bridge.

Cabang ini menuntut kemampuan kalkulasi probabilitas tinggi, manajemen tekanan, serta pengambilan keputusan cepat. Kondisi serupa juga dialami pesepak bola kelas dunia saat mengatur tempo permainan di lapangan.

Figo dan Transformasi Mind Sport

Pemilihan Figo sebagai Global Brand Ambassador HGI didasari reputasi legendarisnya bersama Barcelona, Real Madrid, dan Inter Milan. Karakter permainan Figo yang mengandalkan kecekatan luar biasa dan pengambilan keputusan cepat dalam sepersekian detik merupakan cerminan kompetisi domino profesional.

Setiap langkah menuntut pemain memprediksi strategi lawan dan menghitung probabilitas demi kemenangan.

Figo bukan sekadar tamu utama di Pesta Bola HGI. Harapannya, masyarakat Indonesia tidak hanya menonton pesta olahraga dunia, tapi ikut ambil bagian dalam keseruan olahraga berpikir. Berbagai komunitas gaming, olahraga, dan mind sport tanah air akan terlibat dalam acara ini.

Industri mind sport di Indonesia terus berkembang seiring pengakuan resmi dari pemerintah. Domino kini tidak lagi dipandang sekadar permainan tradisional, melainkan olahraga yang membutuhkan strategi dan kecerdasan.

Kehadiran figur sekelas Figo diharapkan mampu mendongkrak popularitas dan profesionalisme cabang ini. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa membaca Digital Identity Co. yang juga memberdayakan teknologi modern.

Acara Pesta Bola HGI 2026 sendiri dirancang sebagai ajang tahunan yang menggabungkan sepak bola dan mind sport. Figo akan berinteraksi langsung dengan penggemar dan peserta, memberikan wawasan tentang bagaimana strategi di lapangan hijau bisa diaplikasikan dalam permainan domino. Ini menjadi kesempatan langka bagi komunitas olahraga Indonesia untuk belajar dari maestro sejati.

HGI juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ekosistem digital mereka. Platform kompetisi yang terus disempurnakan akan menjadi wadah bagi para pemain domino profesional untuk berkompetisi secara online.

Integrasi teknologi dan olahraga berpikir ini sejalan dengan tren global di mana mind sport semakin populer.

Dari sisi bisnis, kolaborasi dengan Figo membuka peluang besar bagi HGI. Brand ambassador sekelas Figo tidak hanya meningkatkan kredibilitas, tetapi juga menarik minat sponsor dan mitra strategis. Industri gaming dan olahraga elektronik di Indonesia diprediksi akan semakin kompetitif dengan hadirnya tokoh-tokoh global.

Antusiasme masyarakat terhadap kedatangan Figo sudah terlihat dari berbagai diskusi di media sosial. Banyak penggemar sepak bola yang penasaran dengan agenda spesifik yang akan dijalani Figo selama di Jakarta. HGI berjanji akan merilis detail lebih lanjut dalam waktu dekat, termasuk sesi meet and greet dan workshop taktik.

Kehadiran Figo juga menjadi angin segar bagi pariwisata olahraga di Indonesia. fX Sudirman Jakarta sebagai lokasi acara dipilih karena aksesibilitasnya yang strategis.

Acara ini diharapkan mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah, sekaligus mempromosikan Jakarta sebagai destinasi mind sport internasional.

Dalam jangka panjang, HGI menargetkan untuk menjadikan Pesta Bola sebagai agenda tahunan yang dinanti. Dengan dukungan figur global seperti Figo, mimpi tersebut bukan lagi sekadar wacana. Transformasi mind sport di Indonesia sedang berlangsung, dan semua mata tertuju pada 12 Juli 2026.

Chipset Kustom vivo X Fold6: Revolusi AI di Ponsel Lipat

Bayangkan sebuah ponsel lipat yang tidak hanya sekadar layar besar yang bisa ditekuk, tetapi juga memiliki otak yang dirancang khusus untuk menaklukkan tugas-tugas berat dalam sekejap. vivo, dalam gebrakan terbarunya, tampaknya ingin menghadirkan mimpi itu menjadi kenyataan. Bukan sekadar menyematkan prosesor generik, vivo memilih jalan yang lebih ambisius: menciptakan chipset khusus yang dikembangkan selama lebih dari dua tahun hanya untuk perangkat lipat flagship mereka.

Kabar ini muncul di tengah persaingan sengit pasar ponsel lipat yang kian memanas. Setiap produsen berlomba-lomba menawarkan ketipisan, ketahanan, dan fitur kamera yang mumpuni. Namun, vivo sepertinya ingin mengambil pendekatan berbeda dengan fokus pada performa kecerdasan buatan (AI) yang revolusioner. Pertanyaannya, apakah strategi ini akan cukup untuk menggoyang dominasi para pemain lama? Atau justru ini adalah langkah berani yang akan mendefinisikan ulang standar ponsel lipat masa depan?

Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa vivo X Fold6 akan menjadi panggung perdana bagi MediaTek Dimensity 9500 Super Edition. Ini bukanlah chipset biasa yang bisa Anda temukan di ponsel lain. Ini adalah hasil kolaborasi eksklusif yang dirancang untuk menjawab tantangan unik perangkat lipat, mulai dari manajemen termal hingga efisiensi daya saat menjalankan aplikasi berat dalam mode layar terbagi. Mari kita bedah lebih dalam apa yang membuat chipset ini begitu istimewa dan bagaimana dampaknya bagi Anda sebagai pengguna.

Dua Tahun Riset: Chipset yang Lahir untuk Lipat

Vivo tidak main-main dengan klaimnya. Seorang eksekutif vivo melalui akun Weibo-nya mengonfirmasi bahwa Dimensity 9500 Super Edition telah melalui proses pengembangan yang panjang, yakni lebih dari dua tahun. Ini menunjukkan komitmen serius vivo untuk tidak sekadar menjadi pengikut, melainkan inovator di segmen foldable. Fokus utama pengembangan ini adalah pada tiga pilar: multitasking yang lebih mulus, rendering multi-jendela yang lebih cepat, dan yang terpenting, peningkatan performa AI yang dramatis.

Hasilnya? Vivo mengklaim telah terjadi lompatan besar dalam kemampuan AI. Peak AI computing performance diklaim meningkat hingga 111% dibandingkan NPU generasi sebelumnya. Angka ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini berarti tugas-tugas berat seperti pengeditan foto real-time, penerjemahan bahasa secara offline, atau bahkan asisten virtual yang lebih cerdas dapat berjalan dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya di ponsel lipat. Jika Anda seorang profesional yang sering bekerja dengan dokumen dan gambar saat bepergian, peningkatan ini bisa menjadi game-changer dalam produktivitas harian Anda.

Efisiensi Daya: Performa Gahar, Baterai Awet

Salah satu kekhawatiran terbesar pengguna ponsel lipat adalah daya tahan baterai. Layar besar yang selalu menyala tentu membutuhkan daya yang tidak sedikit. Untungnya, vivo dan MediaTek juga memikirkan hal ini. Meskipun performa AI meningkat drastis, konsumsi daya justru diklaim berkurang hingga 56%. Ini adalah kabar baik bagi Anda yang sering khawatir kehabisan baterai di tengah hari.

Kombinasi antara peningkatan performa dan efisiensi daya ini diperkuat dengan rumor baterai jumbo. Beberapa sumber menyebutkan bahwa vivo X Fold6 akan dibekali baterai berkapasitas 6.900mAh. Jika rumor ini benar, maka ini akan menjadi salah satu baterai terbesar yang pernah ada di ponsel lipat, mengalahkan banyak kompetitor. Bayangkan, Anda bisa menonton film marathon, bermain game berat, atau melakukan video conference berjam-jam tanpa harus mencolokkan charger. Ini adalah nilai tambah yang sangat signifikan, terutama jika dibandingkan dengan perangkat lipat lain yang mungkin harus Anda cas lebih dari sekali sehari.

Untuk memberikan gambaran lebih luas tentang persaingan di segmen ini, Anda bisa melihat bagaimana Fitur Terbaru dari kompetitor lain seperti Honor Magic V5 yang mengusung ketipisan sebagai nilai jual utama. Sementara itu, vivo memilih jalur performa AI dan daya tahan baterai sebagai senjatanya.

Revolusi AI: Lebih Cepat, Lebih Cerdas, Lebih Personal

Peningkatan performa AI pada Dimensity 9500 Super Edition bukan hanya soal angka benchmark. Vivo memberikan beberapa contoh konkret bagaimana hal ini akan dirasakan oleh pengguna. Misalnya, kecepatan transkripsi suara dan pengenalan ucapan secara offline diklaim meningkat 7%. Mungkin terdengar kecil, tetapi dalam penggunaan sehari-hari, perbedaan ini akan terasa signifikan saat Anda mendiktekan pesan panjang atau mencari catatan suara lama.

Yang lebih menarik lagi adalah klaim peningkatan kecepatan pembuatan teks (text generation) hingga 57%. Ini adalah kabar gembira bagi para penulis, jurnalis, atau siapa pun yang sering menggunakan AI untuk membantu menulis. Baik itu untuk membuat draf email, ringkasan rapat, atau bahkan konten media sosial, prosesnya akan terasa jauh lebih cepat dan responsif. Ditambah lagi dengan peningkatan kemampuan penalaran AI (AI reasoning) hingga 20%, asisten virtual di ponsel Anda akan mampu memahami konteks percakapan dengan lebih baik dan memberikan jawaban yang lebih relevan.

Fokus vivo pada AI ini juga sejalan dengan tren industri yang semakin mengarah pada perangkat yang lebih personal dan proaktif. Ponsel lipat bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi pusat produktivitas dan kreativitas yang didukung oleh kecerdasan buatan. Jika Anda seorang early adopter yang selalu ingin merasakan teknologi terdepan, vivo X Fold6 dengan chipset kustomnya ini layak masuk dalam daftar incaran Anda.

Lebih dari Sekadar Angka: Dampak Nyata pada Pengalaman

Semua angka dan klaim peningkatan performa ini memang mengesankan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana semua itu diterjemahkan ke dalam pengalaman nyata. Vivo X Fold6, dengan chipset barunya, menjanjikan multitasking yang benar-benar mulus. Anda bisa membuka tiga aplikasi sekaligus dalam mode layar terbagi, menjalankan video call di satu jendela, browsing di jendela lain, dan mengetik catatan di jendela ketiga, semuanya tanpa jeda atau lag.

Bagi para gamer, peningkatan performa AI juga berarti pengalaman bermain yang lebih imersif. Grafik yang lebih halus, loading time yang lebih cepat, dan kemampuan AI untuk mengoptimalkan pengaturan game secara real-time berdasarkan kebiasaan bermain Anda. Ini adalah level personalisasi yang sebelumnya hanya bisa ditemukan di PC gaming kelas atas.

Selain itu, dengan layar dalam 8 inci yang dirumorkan, vivo X Fold6 akan menjadi kanvas yang sempurna untuk semua aktivitas ini. Untuk memahami lebih dalam tentang inovasi di industri ini, Anda bisa membaca liputan tentang Penghargaan Teknologi yang mengapresiasi berbagai terobosan terbaik. Serta, jangan lewatkan diskusi tentang Pemerataan Akses yang menjadi salah satu fokus utama perkembangan teknologi di Indonesia.

Vivo X Fold6, dengan segala bocoran dan klaimnya, tidak hanya akan menjadi ponsel lipat biasa. Ini adalah pernyataan bahwa masa depan ponsel lipat tidak hanya tentang desain, tetapi juga tentang kecerdasan yang tertanam di dalamnya. Dengan chipset yang lahir dari dua tahun riset dan dedikasi, vivo sepertinya siap untuk memberikan pengalaman yang benar-benar berbeda. Tunggu saja peluncurannya dan bersiaplah untuk melihat bagaimana sebuah ponsel lipat bisa menjadi lebih dari sekadar layar yang bisa dilipat.

TSMC Siapkan CoPoS, Teknologi Chip yang Bikin Nvidia Makin Ngebut

Telko.id – Bayangkan Anda memiliki sebuah panggung raksasa untuk menampung ribuan penari cilik yang harus bergerak serempak.

Semakin besar panggungnya, semakin sulit mengatur mereka tanpa ada yang bertabrakan atau tersandung. Kurang lebih seperti itulah dilema yang dihadapi industri semikonduktor saat ini.

Permintaan akan chip AI yang semakin kompleks dan bertenaga besar—seperti otak dari kendaraan otonom atau pusat data raksasa—terus melonjak. Namun, teknologi kemasan (packaging) tradisional mulai kewalahan. Mereka seperti panggung yang sudah terlalu sempit.

Di sinilah bocoran terbaru dari raksasa manufaktur chip asal Taiwan, TSMC, menjadi krusial. Menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, TSMC tengah menggarap teknologi revolusioner untuk pengemasan chip bernama CoPoS.

Teknologi ini diprediksi akan menjadi jawaban atas kebutuhan performa tinggi yang tak terpuaskan oleh metode konvensional. CoPoS bukan sekadar peningkatan kecil; ini adalah lompatan paradigma dalam cara kita merangkai dan menghubungkan komponen-komponen chip.

Apa sebenarnya CoPoS ini, dan mengapa bocoran ini membuat para pengamat teknologi dan pelaku industri, termasuk Nvidia, bergidik antusias? Mari kita bedah lebih dalam.

Membedah CoPoS: Sandwich Kaca Tiga Lapis yang Revolusioner

CoPoS adalah singkatan dari Chip-on-Panel-on-Structure. Jika diterjemahkan secara sederhana, ini adalah teknik menempelkan chip (die) di atas panel yang terbuat dari material khusus, yang kemudian diletakkan di atas struktur dasar.

Uniknya, teknologi ini menggunakan material kaca sebagai komponen kunci. Kaca tidak hanya berfungsi sebagai pembawa sementara (temporary carrier) selama proses produksi, tetapi juga menjadi bagian integral dari substrat akhir dalam struktur tiga lapis (three-layer sandwich structure).

Pertanyaan besarnya, mengapa kaca? Material ini menawarkan stabilitas termal dan dimensi yang lebih baik dibandingkan substrat organik tradisional. Dalam chip AI modern yang menghasilkan panas luar biasa dan membutuhkan koneksi antar-komponen yang sangat presisi, kaca adalah fondasi yang ideal.

Dengan struktur sandwich tiga lapis, CoPoS memungkinkan integrasi yang lebih padat, jalur sinyal yang lebih pendek, dan manajemen panas yang lebih efisien. Ini bukan hanya soal membuat chip lebih kecil, tetapi juga membuatnya lebih pintar dan lebih cepat dalam berkomunikasi.

Jadwal Rilis dan Dampak Biaya: 2028, Lebih Cepat dari yang Anda Kira

Bocoran paling menarik adalah jadwal produksi massal. TSMC dikabarkan akan memulai produksi chip menggunakan teknologi CoPoS pada akhir tahun 2028. Ini adalah tenggat waktu yang ambisius, mengingat kompleksitas teknologi ini.

Namun, jika berhasil, hasilnya akan spektakuler. Teknologi baru ini diprediksi akan menurunkan biaya manufaktur secara signifikan dan, pada saat yang sama, meningkatkan performa chip secara drastis.

Penurunan biaya ini bukanlah hal yang sepele. Saat ini, biaya pengemasan chip canggih bisa mencapai puluhan persen dari total biaya produksi chip. Dengan CoPoS, TSMC berharap dapat menekan angka tersebut, membuat chip AI berperforma tinggi lebih terjangkau.

Ini adalah kabar baik di tengah tren kenaikan biaya komponen, seperti yang dihadapi oleh Xiaomi akibat kenaikan biaya memori dan penyimpanan. Jika biaya chip turun, harga perangkat AI di masa depan bisa lebih ramah di kantong.

Dampak lebih luasnya, biaya produksi yang lebih murah akan mempercepat adopsi AI di berbagai sektor, tidak hanya di pusat data mewah. Ini bisa menjadi katalis bagi demokratisasi teknologi kecerdasan buatan.

Nvidia Feynman: Klien Pertama yang Akan Merasakan Keajaiban CoPoS

Berita ini semakin panas dengan kabar bahwa chipset AI Nvidia Feynman akan menjadi yang pertama menggunakan teknologi CoPoS. Nvidia, yang saat ini mendominasi pasar chip AI, jelas tidak ingin tertinggal dalam soal inovasi pengemasan.

Memilih CoPoS untuk chip andalan masa depan mereka adalah langkah strategis untuk mempertahankan supremasi performa.

Pilihan Nvidia ini masuk akal. Teknologi pengemasan canggih seperti CoPoS pada awalnya akan difokuskan untuk chip AI dan komputasi berperforma tinggi (high-performance computing/HPC). Ini adalah segmen di mana setiap peningkatan kecepatan dan efisiensi energi memiliki dampak finansial yang sangat besar.

Nvidia Feynman diperkirakan akan menjadi monster performa yang membutuhkan fondasi paling kokoh yang ada, dan CoPoS adalah jawabannya.

Namun, Nvidia bukan satu-satunya pemain yang bergerak di ranah ini. Persaingan di lini depan teknologi chip sangat ketat. Perusahaan lain seperti Anthropic juga tengah mengkaji untuk mengembangkan chip AI sendiri, menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu pemasok seperti Nvidia mungkin mulai dipertanyakan.

Di sisi lain, Intel juga mulai uji produksi chip lagi untuk Apple, menandakan persaingan di lini manufaktur kian memanas.

Implikasi Industri: Peta Kekuatan Baru di Dunia Semikonduktor

Jika CoPoS benar-benar menjadi game-changer seperti yang diprediksi, dampaknya akan sangat besar terhadap lanskap industri semikonduktor. Pertama, ini akan semakin memperkuat posisi TSMC sebagai pemimpin pasar yang tak terbantahkan.

Mereka tidak hanya unggul dalam fabrikasi (litografi EUV), tetapi juga dalam teknologi pengemasan canggih. Ini membuat mereka menjadi mitra yang sangat diperlukan bagi para desainer chip besar seperti Nvidia, AMD, dan Apple.

Kedua, tekanan pada perusahaan saingan akan meningkat drastis. Mereka akan dipaksa untuk menawarkan teknologi alternatif yang setara atau lebih baik.

Jika tidak, mereka berisiko kehilangan pangsa pasar di segmen chip AI yang paling menguntungkan. Ini bisa memicu gelombang inovasi baru di bidang pengemasan chip, yang pada akhirnya menguntungkan konsumen.

Ketiga, keberhasilan CoPoS bisa mengubah fundamental ekonomi industri chip. Biaya produksi yang lebih rendah untuk chip berperforma tinggi berarti hambatan masuk (barrier to entry) bagi perusahaan rintisan AI bisa berkurang. Ini bisa memicu ledakan startup AI baru yang sebelumnya terhalang oleh biaya komputasi yang mahal.

Namun, perlu diingat bahwa ini masih sebatas bocoran. Teknologi ini belum diproduksi massal dan tantangan teknis pasti ada.

Mulai dari memastikan keandalan kaca sebagai substrat hingga menyesuaikan rantai pasokan global. Akan tetapi, jika ada satu perusahaan yang mampu mewujudkan mimpi ini, TSMC adalah kandidat terkuat.

Pada akhirnya, CoPoS bukan hanya tentang chip yang lebih cepat. Ini tentang fondasi bagi generasi baru kecerdasan buatan yang lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih mudah diakses.

Bagi Anda yang gemar mengikuti perkembangan prosesor dan teknologi, ini adalah salah satu cerita paling menarik untuk disimak dalam beberapa tahun ke depan. Masa depan AI mungkin benar-benar akan dibangun di atas panggung kaca ciptaan TSMC.

MacBook Layar Sentuh Pertama Segera Hadir

Telko.id – Selama bertahun-tahun, Apple dikenal sebagai salah satu dari sedikit raksasa teknologi yang mati-matian menolak menghadirkan layar sentuh di jajaran laptopnya.

Tim Cook dan jajaran eksekutif Apple berkali-kali menyatakan bahwa MacBook adalah perangkat yang dioptimalkan untuk trackpad dan keyboard, bukan untuk jari-jari Anda.

Namun, sepertinya dogma itu akan segera runtuh. Bocoran terbaru dari dunia maya kembali menegaskan bahwa Apple akhirnya siap menyerah pada tren industri dan akan meluncurkan MacBook dengan layar sentuh pertamanya tahun ini.

Kabar ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Sejumlah laporan kredibel sebelumnya telah mengindikasikan hal yang sama, dan kini seorang pembocor asal China dengan nama samaran Instant Digital kembali mengulangi klaim tersebut.

Ia menyebutkan bahwa sebuah MacBook anyar yang akan datang akan dibekali kemampuan input sentuh—sebuah fitur yang selama ini menjadi “buah simalakama” bagi Apple.

Di satu sisi, ekosistem iPad dan iPhone sudah sangat matang dengan sentuhan; di sisi lain, macOS selama ini dirancang untuk interaksi pointer yang presisi.

Yang menarik, Apple sebenarnya sudah mulai membangun fondasi untuk langkah besar ini secara diam-diam. Mari kita bedah lebih dalam apa arti kehadiran MacBook layar sentuh ini bagi Anda, pengguna setia ekosistem Apple, dan bagaimana strategi Cupertino dalam menjawab keraguan yang selama ini menghantui para puritan Mac.

Bukan Sekadar Rumor: Bukti di Balik Layar

Instant Digital memang bukan nama sebesar Ming-Chi Kuo atau Mark Gurman, namun track record-nya cukup solid untuk beberapa bocoran produk Apple.

Dalam unggahan terbarunya, ia menyatakan bahwa MacBook layar sentuh tersebut benar-benar akan hadir, meskipun ia tidak menyebutkan model pastinya. Namun, jika kita merujuk pada laporan-laporan sebelumnya, semua mata kini tertuju pada satu kandidat kuat: MacBook Ultra.

Yang membuat klaim ini semakin kuat adalah perubahan halus yang sudah mulai terlihat di sisi perangkat lunak. macOS 27 Golden Gate, misalnya, kini mendukung input sentuh untuk fitur Sidecar—yang memungkinkan iPad digunakan sebagai layar sekunder Mac.

Lebih dari itu, aplikasi bawaan Apple seperti Safari, Mail, dan News kini merespons gestur tarik-ke-bawah untuk me-refresh konten. Ini bukanlah kebetulan. Apple sedang memanaskan mesin sebelum peluncuran besar.

Pertanyaan besarnya: akankah ini menjadi gebrakan yang mengubah cara kita bekerja, atau sekadar gimmick yang terlambat datang? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lebih dalam pada spekulasi spesifikasi dan implikasinya.

OLED dan Dynamic Island: Revolusi Antarmuka

Bocoran paling menarik datang dari sisi tampilan. MacBook layar sentuh ini diprediksi akan menggunakan panel OLED—sebuah lompatan kualitas dari layar Liquid Retina XDR yang saat ini digunakan.

Dengan OLED, kontras yang lebih dalam dan warna yang lebih akurat bukan lagi sekadar mimpi. Namun, yang lebih revolusioner adalah kehadiran menu kontekstual yang akan muncul sesuai dengan titik sentuhan jari Anda di layar.

Bayangkan Anda sedang mengedit foto di aplikasi pihak ketiga. Alih-alih harus mencari tombol di toolbar, Anda cukup menyentuh area tertentu di gambar dan menu konteks langsung muncul dengan opsi-opsi yang relevan.

Ini adalah pendekatan yang jauh lebih intuitif dibandingkan harus mengingat pintasan keyboard atau menavigasi menu drop-down yang rumit.

Selain itu, rumor tentang kehadiran Dynamic Island di MacBook juga mulai menguat. Fitur yang pertama kali diperkenalkan di iPhone 14 Pro ini memungkinkan area notifikasi dan kontrol sistem menyatu secara dinamis dengan desain layar.

Jika benar, ini akan menjadi perubahan desain paling signifikan sejak MacBook Pro notch hadir pada tahun 2021.

Bagi Anda yang penasaran dengan lini terbaru lainnya, Apple juga tengah menyiapkan kejutan lain. Simak informasi lengkapnya di artikel Tiga Produk Baru yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Ditenagai M6: Performa yang Haus Daya?

Di balik layar yang memukau, Apple diprediksi akan menyematkan chip M6 pada MacBook Ultra ini. Ini adalah lompatan generasi yang wajar mengingat M5 pun belum resmi diperkenalkan.

Artinya, Apple benar-benar ingin menjadikan MacBook layar sentuh ini sebagai produk flagship yang tidak ada duanya.

Namun, ada harga yang harus dibayar. Dengan chip M6 yang lebih bertenaga, panel OLED yang lebih boros daya, dan komponen layar sentuh yang kompleks, harga MacBook Ultra diprediksi akan melonjak hingga 20 persen lebih tinggi dibandingkan MacBook Pro saat ini.

Jika Anda saat ini sedang mempertimbangkan untuk membeli MacBook Pro dengan chip M4, mungkin Anda perlu berpikir dua kali. Atau, Anda bisa melihat opsi yang lebih terjangkau seperti MacBook Air M4 yang tetap menawarkan performa gahar dengan harga lebih bersahabat.

Dampak pada Ekosistem dan Pengguna Lama

Kehadiran MacBook layar sentuh tidak hanya akan mengubah cara Anda berinteraksi dengan laptop, tetapi juga akan berdampak besar pada ekosistem Apple secara keseluruhan.

Selama ini, iPad dan MacBook hidup berdampingan dengan fungsi yang cukup jelas: iPad untuk konsumsi dan kreativitas sentuhan, MacBook untuk produktivitas berbasis keyboard. Kini, garis itu mulai kabur.

Bagi para profesional kreatif—desainer grafis, videografer, atau ilustrator—ini bisa menjadi kabar baik. Anda tidak perlu lagi beralih antara MacBook dan iPad saat ingin melakukan sentuhan presisi pada kanvas digital.

Cukup sentuh layar MacBook Anda. Namun, bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan workflow keyboard-trackpad, mungkin akan ada kurva belajar yang cukup curam.

Pertanyaan retorisnya: Apakah Anda siap untuk meninggalkan kebiasaan lama dan merangkul era baru interaksi laptop? Atau Anda justru merasa bahwa trackpad MacBook sudah cukup sempurna sehingga layar sentuh hanya akan menjadi fitur yang jarang digunakan?

Menimbang Harga: Apakah Sebanding?

Kenaikan harga 20 persen bukanlah angka yang bisa diabaikan. Jika MacBook Pro 16 inci saat ini dibanderol mulai dari Rp 40 jutaan, maka MacBook Ultra dengan layar sentuh bisa menyentuh angka Rp 48-50 jutaan. Ini adalah investasi yang sangat besar, bahkan untuk standar pengguna profesional sekalipun.

Namun, perlu diingat bahwa Apple tidak pernah main-main dengan produk kelas atasnya. MacBook Ultra kemungkinan akan menjadi laptop paling canggih yang pernah mereka buat, dengan layar OLED terbaik, chip M6 tercepat, dan fitur layar sentuh yang sepenuhnya terintegrasi dengan macOS.

Jika Anda adalah seorang kreator konten yang membutuhkan perangkat all-in-one tanpa kompromi, mungkin harga tersebut sebanding dengan peningkatan produktivitas yang ditawarkan.

Di sisi lain, kabar ini juga muncul di tengah spekulasi bahwa Apple mungkin akan menghentikan beberapa lini produk lamanya. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Apple Akhiri Produksi Mac Pro setelah 20 tahun—sebuah tanda bahwa perusahaan sedang merombak total strategi produknya.

Kesimpulan Alami: Era Baru atau Langkah Salah?

Kehadiran MacBook layar sentuh adalah sebuah keniscayaan yang sudah lama ditunggu. Meskipun Apple selama ini bersikeras bahwa laptop dan sentuhan adalah dua hal yang berbeda, realitas pasar dan ekspektasi pengguna akhirnya memaksa mereka untuk beradaptasi.

Dengan fondasi yang sudah dibangun di macOS terbaru dan spekulasi hardware yang menggoda, tahun ini bisa menjadi tahun di mana Apple menulis ulang definisi laptop premium.

Namun, keberhasilan produk ini akan sangat bergantung pada satu hal: seberapa baik Apple mengintegrasikan sentuhan ke dalam macOS tanpa mengorbankan pengalaman inti yang sudah disukai jutaan pengguna.

Jika mereka berhasil, ini bisa menjadi lompatan besar. Jika gagal, ini bisa menjadi noda dalam sejarah panjang inovasi Apple.

Untuk Anda yang sedang mempertimbangkan untuk upgrade, mungkin ada baiknya menunggu hingga pengumuman resmi. Siapa tahu, MacBook layar sentuh ini justru menjadi laptop impian yang selama ini Anda tunggu-tunggu.