Telko.id – Media sosial legendaris Friendster dikabarkan kembali hadir setelah lama “mati”, dan kini sudah bisa diakses oleh pengguna iPhone di Indonesia melalui App Store.
Kebangkitan ini menjadi momen nostalgia bagi pengguna lama, sekaligus menandai arah baru platform yang tidak lagi mengikuti konsep media sosial modern seperti sekarang.
Dalam sebuah postingan blog pada Senin (27/4), Mike Carson, seorang programmer komputer yang berbasis di Philadelphia, mengatakan bahwa ia telah membeli domain Friendster dan mengamankan hak merek dagang Friendster tahun lalu. Kini, ia meluncurkan aplikasi Friendster khusus iOS.
Melansir dari CNN pada Kamis (30/4/2026), aplikasi ini sudah tersedia untuk pengguna berusia 13 tahun keatas. Aplikasi yang hanya berukuran 5,9MB yang dikembangkan oleh Friendster Labs Inc. tersebut kini berada di nomor 52 charts social networking App Store.
Baca Juga:
- WhatsApp Siapkan Cloud Sendiri untuk Backup Chat
- XChat Sudah Resmi Rilis Global, Sudah Bisa Dicoba di Indonesia!
Berbeda dari versi lamanya, Friendster kini hadir dengan pendekatan yang jauh lebih sederhana. Aplikasi ini memiliki ukuran ringan dan hanya menyediakan fitur inti seperti feed, chat, dan notifikasi.
Tidak ada iklan maupun algoritma yang mengatur konten, sehingga pengguna hanya melihat postingan dari teman mereka tanpa campur tangan sistem rekomendasi seperti di media sosial lain.
Perubahan paling mencolok terletak pada cara berteman. Friendster versi terbaru mengusung konsep interaksi dunia nyata, di mana pengguna harus bertemu secara fisik dan “mengetuk” ponsel satu sama lain untuk menambahkan teman.
Artinya, koneksi sosial tidak bisa dilakukan hanya lewat pencarian atau permintaan pertemanan online seperti biasanya.
Tidak hanya itu, Friendster juga menghapus fitur yang identik dengan media sosial modern, seperti jumlah followers atau popularitas akun.
Bahkan, hubungan pertemanan bisa “melemah” jika pengguna jarang berinteraksi secara langsung di dunia nyata, menunjukkan bahwa platform ini ingin mendorong koneksi sosial yang lebih autentik.
Kembalinya Friendster menunjukkan adanya upaya menghadirkan alternatif dari media sosial saat ini yang penuh algoritma, iklan, dan konten viral. Alih-alih mengejar engagement digital, platform ini justru mencoba mengembalikan fungsi awal media sosial sebagai sarana membangun hubungan nyata antar manusia.
Jika tren ini berkembang, bukan tidak mungkin akan muncul gelombang baru media sosial yang lebih sederhana dan berfokus pada interaksi nyata, bukan sekadar aktivitas online.


