Kategori: Berita Google

  • Nano Banana AI Google Hadir di Fitur Now Brief Samsung Galaxy AI

    Nano Banana AI Google Hadir di Fitur Now Brief Samsung Galaxy AI

    Telko.id – Google Nano Banana, generator dan editor gambar AI yang sukses, kini tersedia di fitur Now Brief yang merupakan bagian dari Galaxy AI di perangkat Samsung.

    Kartu pembuatan gambar Nano Banana baru saja ditambahkan ke Now Brief, memungkinkan pengguna mengubah foto selfie atau hewan peliharaan secara acak dari galeri dengan bantuan AI.

    Fitur ini bekerja dengan menarik foto acak dari galeri pengguna dan menampilkan beberapa saran prompt editing. Pengguna cukup mengetuk salah satu prompt, dan Nano Banana akan menghasilkan versi gambar yang telah diubah oleh AI.

    Perubahan gambar acak ini dirotasi setiap hari pada waktu yang sama ketika Now Brief menghasilkan rekap Memori hariannya.

    Untuk mendapatkan fitur baru ini, pengguna harus mengunduh versi terbaru aplikasi Personal Data Intelligence dari Galaxy Store.

    Setelah menginstal aplikasi tersebut, akan muncul toggle baru untuk pembuatan gambar Nano Banana di bagian “Content to include” dalam pengaturan Now Brief. Pengguna hanya perlu mengaktifkan toggle tersebut untuk mulai menggunakan fitur ini.

    Integrasi Nano Banana ke dalam ekosistem Samsung menunjukkan semakin eratnya kolaborasi antara Google dan Samsung dalam pengembangan teknologi AI.

    Fitur ini sebelumnya telah diperkenalkan sebagai bagian dari Google Photos yang memperkenalkan 6 fitur AI baru, termasuk kemampuan Nano Banana.

    Kehadiran Nano Banana di platform Samsung semakin memperkuat posisi Galaxy AI sebagai salah satu solusi AI terkemuka di perangkat mobile.

    Sebelumnya, Galaxy AI dan Gemini telah terbukti mendongkrak efisiensi bisnis hingga 30% di seri Galaxy Z, menunjukkan potensi besar integrasi AI dalam produktivitas pengguna.

    Pengembangan fitur AI antara Google dan Samsung tidak hanya terbatas pada perangkat flagship.

    Samsung Galaxy A56 5G juga telah mendapatkan One UI 8 dengan fitur Gemini Nano Banana, membuktikan komitmen kedua perusahaan dalam mendemokratisasi teknologi AI ke berbagai segmen pasar.

    Kolaborasi semacam ini juga terlihat pada vendor lainnya, seperti OPPO dan Google yang memperkuat AI di Find X9 Series dengan fitur baru, menandakan tren kolaborasi antara raksasa teknologi dalam pengembangan AI mobile.

    Integrasi Nano Banana ke dalam Now Brief memberikan nilai tambah bagi pengguna Samsung yang ingin mengeksplorasi kreativitas dengan foto-foto pribadi mereka.

    Fitur ini memanfaatkan kekuatan AI untuk memberikan pengalaman editing yang intuitif dan menyenangkan tanpa memerlukan keahlian editing gambar yang rumit.

    Dengan adanya pembaruan ini, pengguna Galaxy AI kini dapat menikmati kemampuan editing gambar canggih langsung dari fitur Now Brief, memperkaya pengalaman penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

    Fitur ini diharapkan dapat meningkatkan engagement pengguna dengan konten visual mereka sambil menunjukkan kemampuan praktis teknologi AI dalam konteks yang mudah diakses. (Icha)

  • Google Siapkan Pusat Data Satelit Project Suncatcher

    Google Siapkan Pusat Data Satelit Project Suncatcher

    Telko.id – Google mengumumkan proyek ambisius baru bernama Suncatcher. Proyek ini diumumkan langsung Chief Executive Officer (CEO) Google, Sundar Pichai.

    Dengan Project Suncatcher, Google berencana meluncurkan chip AI Tensor Processing Unit (TPU) miliknya ke luar angkasa. Proyek ini akan bekerja sama dengan pihak lain, yakni Planet Labs.

    Melansir dari Kompas Tekno, untuk tahap awal, proyek Suncatcher rencananya akan meluncurkan dua satelit pada tahun 2027. Peluncurkan ini bertujuan untuk meneliti potensi pembangunan kluster pusat data berskala besar di ruang angkasa.

    Dalam sebuah unggahan di X, Pichai mengatakan proyek ini terinspirasi dari portofolio proyek moonshot alias Moonshot Factory atau Google X, yakni fasilitas riset rahasia Google yang fokus pada proyek-proyek ambisius.

    “Sebagaimana proyek moonshot lainnya, ini akan menuntut kami untuk memecahkan banyak tantangan rekayasa yang sangat kompleks,” jelas Pichai di akun X pribadinya.

    Pichai menjelaskan, dalam penelitian awal yang dilakukan, menunjukkan bahwa chip TPU generasi Trilium, yakni prosesor khusus untuk AI buatan Google, mampu bertahan tanpa kerusakan setelah diuji di akselerator partikel yang menstimulasikan tingkat radiasi orbit rendah bumi.

    Baca juga:

    Kendati demikian, Google mengaku masih menemui tantangan besar lain yang harus dihadapi, seperti pengelolaan panas dan kemampuan sistem saat berada di orbit.

    Sebagai bagian dari risetnya, Google juga menerbitkan makalah tentang Project Suncatcher.

    Makalah itu menguraikan visi untuk membangun sisem komputasi di ruang angkasa yang bisa ditingkatkan skalanya untuk machine learning, dengan memanfaatkan armada satelit yang dilengkapi panel surya, koneksi antar-satelit berbasis free-space optics, serta chip akselerator TPU.

    Selain itu, Google juga mengungkapkan rancangan dasar untuk pembangunan kluster berisi 81 satelit yang beroperasi di radius sekitar 1 kilometer.

    Namun, Google menegaskan masih banyak tantangan teknis dan logistic besar yang harus diatasi, di mana skala akhirnya bisa saja berubah seiring waktu.

    Pichai mengatakan, sebelum Google, sudah ada sejumlah proposal untuk membangun pusat data monolitik di luar angkasa, di mana satu pesawat luar angkasa ukurannya jauh melebihi roket peluncur terbesar yang ada saat ini.

    Pusat data monolitik yang dimaksud merujuk pada pusat data yang terpadu yang dibangun sebagai satu struktur tunggal dan utuh, bukan beberapa unit kecil yang terpisah. Namun, konsep besar seperti itu disebut punya risiko besar.

    Sebab, struktur raksasa harus dirakit di luar angkasa oleh manusia atau robot. Hal ini dinilai menimbulkan risiko tabrakan yang lebih rumit dan membutuhkan struktur penopang yang lebih kompleks.

    Oleh karena itu, gagasan lain yang dicanangkan Google adalah menggunakan pendekatan lebih modular, yakni meluncurkan banyak satelit kecil yang saling berdekatan di orbit rendah.

    Formasi ini memungkinkan sistem diperluas hingga menghasilkan daya komputasi berkekuatan setara terra-watt (TW), dengan memanfaatkan orbit sinkron matahari (sun-synchronous) yang terus mendapat cahaya pagi-sore.

    Namun, formasi ini juga memiliki tantangan besar lain, yakni dalam jaringan komunikasi antara-satelit.

    Di pusat data di Bumi, Google menggunakan koneksi supercepat antar-pod dan sistem Inter-Chip Interconnect (ICI) khusus yang mampu mentransfer data ratusan gigabit per detik per chip. Sedangkan saat ini, koneksi antar-satelit hanya mampu mencapai 1 Gbps – 100 Gbps.

    Analisis Google menunjukkan bahwa agar setara dengan kebutuhan pusat data AI, diperlukan bandwidth 10 terabit per detik (Tbps) per sambungan, yang secara teori bisa dicapai dengan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) komersial yang sudah ada, tapi membutuhkan daya optik jauh lebih tinggi dari standar satelit saat ini.

    Oleh karena itu, formasi satelit kecil-kecil tadi harus rapat dengan jarak 1 kilometer atau kurang, agar kebutuhan daya bisa ditekan.

    Selain itu, jarak dekat juga memungkinkan penggunaan berkas cahaya (beam) yang lebih kecil dan presisi, sehinga beberapa data DWDM bisa dijalankan secara bersamaan antar-satelit.

    Untuk itu, Google memperkirakan satelit harus beroperasi dalam formasi yang jauh lebih rapat dari konstelasi mana pun yang pernah ada, yakni di ketinggian sekitar 650 km dari Bumi. Masalah lain yang menjadi tantangan adalah soal radiasi luar angkasa.

    Google telah menguji chip TPU dan CPU AMD dalam server menggunakan sinar proton 67 MeV yang mensimulasikan kondisi orbit rendah.

    Perlindungan chip disesuaikan dengan tingkat pelindung yang disesuaikan untuk pengiriman ke ruang angksa.
    Hasilnya, chip-chip itu berhasil bertahan selama simulasi lima tahun dari paparan radiasi kosmik tanpa kerusakan permanen.

    Namun, sistem High Bandwidth Memory (HBM) menunjukkan kerentanan paling tinggi terhadap efek radiasi total (Total Ionizing Dose / TID).

    HBM mengalami sejumlah kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, meskipun Google menilai tingkatnya masih dapat diterima untuk penggunaan inferensi (menjalankan AI yang sudah dilatih).

    Proyek ambisius ini tentu menelan biaya dan energi tak sedikit. Biaya peluncuran satelit diestimasikan sekitar 1.500 dollar AS (sekitar Rp 25 juta) hingga 2.900 dollar AS (sekitar Rp 48 juta) per kilogram, tergantung misinya.

    Untuk membuat Project Suncatcher yang ekonomis, biaya itu harus lebih rendah. Estimasi Google, peluncuran ke orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) bisa turun 200 per kg. Maka total biaya peluncuran yang disebar selama masa pakai satelit akan hampir setara dengan biaya energi pusat data di Bumi, yakni sekitar 570 dollar AS (Rp 9,5 juta) hingga 3.000 dollar AS (sekitar Rp 50 juta) per kilowatt per tahun.

    Google memprediksi biaya tersebut baru bisa tercapai sekitar tahun 2035, sebagaimana dirangkum dari Data Center Dynamics.

    Ide penempatan pusat data di ruang angkasa ini mulai banyak dicanangkan. Selain Google, Elon Musk (SpaceX) dan Jeff Bezos (Amazon) juga memiliki gagasan serupa.


  • Google Photos Perkenalkan 6 Fitur AI Baru, Termasuk Nano Banana

    Google Photos Perkenalkan 6 Fitur AI Baru, Termasuk Nano Banana

    Telko.id – Google mengumumkan enam pembaruan fitur berbasis kecerdasan artifisial (AI) untuk Google Photos.

    Pembaruan ini mencakup kemampuan edit foto yang lebih personal, ekspansi fitur Ask Photos ke lebih dari 100 negara, serta integrasi model AI Nano Banana untuk transformasi gambar yang kreatif.

    Yael Marzan, Senior Director of Product Management untuk Google Photos dan Google One, menyatakan bahwa pembaruan ini dirancang untuk membantu pengguna melakukan lebih banyak hal dengan kenangan digital mereka.

    “AI features in Google Photos already help you do more with your memories,” ujarnya dalam pengumuman resmi, Kamis (11/11/2025).

    Fitur pertama memungkinkan pengguna melakukan edit personal pada foto hanya dengan perintah teks. Pengguna dapat membuka foto, memilih “Help me edit”, dan mengetik permintaan spesifik seperti “Remove Riley’s sunglasses, open my eyes, make Engel smile and open her eyes.”

    Google Photos akan menggunakan gambar dari grup wajah privat pengguna untuk menghasilkan edit yang akurat.

    Kemampuan edit dengan perintah suara atau teks juga kini diperluas ke platform iOS di Amerika Serikat. Fitur ini memungkinkan pengguna mendeskripsikan edit yang diinginkan tanpa perlu beralih antar alat atau menggeser slider.

    Google juga menghadirkan editor foto yang didesain ulang ke iOS dengan gestur sederhana dan saran satu ketuk.

    Transformasi signifikan datang dari integrasi model AI Nano Banana ke dalam editor Google Photos. Pengguna dapat membuka foto, mengetuk “Help me edit”, dan mendeskripsikan gaya baru yang diinginkan.

    Contohnya, meminta Photos “melukis Anda sebagai potret Renaissance”, “merestyling gambar sebagai mosaik dari ubin berwarna”, atau “mengubah foto menjadi halaman dari buku cerita anak-anak”.

    Bagi yang kesulitan membuat prompt sendiri, Google menambahkan bagian Create with AI berisi template AI siap pakai di tab Create pada Android di AS dan India.

    Template baru yang ditenagai Nano Banana ini membantu membuat gambar instan berdasarkan edit populer seperti “put me in a high fashion photoshoot”, “create a professional headshot”, atau “put me in a winter holiday card”.

    Dalam beberapa minggu mendatang, Google akan merilis template personalisasi pertama di AS yang menggunakan wawasan tentang pengguna dari galeri foto mereka untuk membuat edit unik berdasarkan hobi dan pengalaman. Contohnya “create a name doodle personalized to me” atau “create a cartoon of me and my hobbies”.

    Fitur Ask Photos, alat pencarian canggih yang membantu menemukan foto spesifik dan informasi di galeri dengan cara alami, kini diperluas ke lebih dari 100 negara dan region baru serta 17 bahasa tambahan.

    Ekspansi ini membuat cara intuitif untuk mencari di Google Photos tersedia bagi lebih banyak orang di seluruh dunia.

    Fitur baru “Ask” button memungkinkan pengguna melakukan lebih banyak hal dengan sebuah gambar.

    Saat melihat gambar, pengguna dapat memulai percakapan untuk mendapatkan jawaban instan tentang kontennya, menemukan momen terkait, atau mendeskripsikan edit yang diinginkan dan melihat perubahan muncul dalam hitungan detik.

    Sebagian besar fitur ini sudah mulai diluncurkan, memberikan pengguna cara baru untuk mengeksplorasi kemampuan AI dalam mengelola kenangan digital.

    Pembaruan ini memperkuat posisi Google Photos sebagai platform penyimpanan foto yang semakin cerdas dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.

    Pengembangan fitur AI pada Google Photos sejalan dengan inisiatif Google dalam pengembangan teknologi Gemini yang terus ditingkatkan kemampuannya.

    Integrasi teknologi mutakhir ini menunjukkan komitmen Google dalam menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih personal dan kreatif.

    Keamanan dan privasi data pengguna tetap menjadi prioritas dalam implementasi fitur-fitur AI ini. Seperti yang pernah diungkapkan dalam laporan sebelumnya tentang keamanan album Google Photos, perusahaan terus memperkuat proteksi data pribadi pengguna.

    Pembaruan ini juga menandai perkembangan signifikan dalam kompetisi layanan penyimpanan cloud, dimana fitur AI menjadi pembeda utama.

    Dengan hadirnya kemampuan edit dan pencarian yang semakin canggih, Google Photos memperkuat posisinya di pasar yang semakin kompetitif. (Icha)

  • Google Play Store Pakai AI untuk Ringkas Review Aplikasi

    Google Play Store Pakai AI untuk Ringkas Review Aplikasi

    Telko.id – Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca puluhan, bahkan ratusan, review aplikasi di Google Play Store? Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami—melelahkan dan kerap membuat bingung.

    Padahal, keputusan untuk mengunduh sebuah aplikasi seringkali bergantung pada pengalaman pengguna sebelumnya.

    Google, raksasa teknologi yang tak pernah berhenti berinovasi, telah lama mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam hampir seluruh lini produknya.

    Dari asisten virtual hingga algoritma pencarian, AI menjadi tulang punggung ekosistem digital mereka.

    Kini, gelombang transformasi AI tersebut akhirnya mencapai toko aplikasi terbesar di dunia, Google Play Store. Setelah lebih dari setahun diuji coba, fitur ringkasan review berbasis AI secara resmi mulai diluncurkan kepada pengguna Android.

    Langkah ini bukan hanya sekadar pembaruan antarmuka, melainkan sebuah terobosan yang berpotensi mengubah cara kita mengevaluasi aplikasi.

    Di tengah maraknya isu keamanan dan kredibilitas aplikasi—seperti kasus aplikasi jual beli ganja “haram” di Google Play Store yang sempat viral—kehadiran asisten digital ini menjadi semakin relevan.

    Mengulik Fitur “Users Are Saying” yang Diperkuat AI

    Fitur baru ini muncul dalam bentuk section bertajuk “Users are saying” yang terletak tepat di atas daftar review tradisional. Bayangkan ini sebagai asisten pribadi yang telah membaca semua review untuk Anda, lalu menyajikan intisarinya dalam satu paragraf yang padat dan informatif.

    Ringkasan AI ini secara cerdas mengidentifikasi dan menyoroti poin-poin positif dan negatif yang paling sering disebutkan oleh pengguna.

    Namun, Google tidak setengah-setengah dalam implementasinya. Di bawah paragraf ringkasan, Anda akan menemukan serangkaian ‘chips’—tombol tematik yang dapat diketuk.

    Setiap chip mewakili tema spesifik dari review, seperti “mudah digunakan”, “baterai boros”, atau “iklan mengganggu”.

    Dengan mengetuk chip tersebut, Anda akan langsung diarahkan ke review-review spesifik yang membahas tema itu, memberikan kedalaman informasi tanpa harus menyelami seluruh lautan komentar.

    Perlu dicatat bahwa fitur ini hanya tersedia untuk aplikasi yang telah memiliki cukup banyak review. Meskipun Google belum mengungkapkan ambang batas pastinya, kebijakan ini memastikan bahwa ringkasan yang dihasilkan benar-benar representatif.

    Hal ini sejalan dengan upaya Google dalam menjaga kualitas konten di platformnya, sebagaimana terlihat dalam kasus penghapusan aplikasi “Kepo” di Play Store beberapa waktu lalu.

    Langkah Strategis Google dalam Persaingan Ecosystem

    Peluncuran fitur AI review summary ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Pada April 2025, Apple telah lebih dulu memperkenalkan fitur serupa di iOS App Store.

    Persaingan ketat antara dua raksasa teknologi ini dalam menyempurnakan pengalaman pengguna toko aplikasi semakin memanas. Namun, Google memiliki keunggulan tersendiri dengan integrasi AI yang lebih mendalam ke dalam ekosistem Android.

    Rollout fitur ini dilakukan secara bertahap, mengikuti pola khas Google dalam meluncurkan pembaruan. Meski terkesan lambat, pendekatan ini memungkinkan mereka untuk memantau performa dan menerima umpan balik sebelum rilis skala penuh.

    Bagi pengguna yang belum melihat fitur ini di perangkat mereka, bersabarlah—revolusi AI di Play Store sedang dalam perjalanan.

    Inovasi ini juga datang di saat yang tepat, mengingat semakin kompleksnya lanskap aplikasi mobile. Dengan ribuan aplikasi baru bermunculan setiap bulan, pengguna membutuhkan alat yang lebih cerdas untuk menyaring opsi.

    Fitur ringkasan AI bukan hanya tentang menghemat waktu, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas keputusan pengunduhan aplikasi. Terutama dalam menyikapi aplikasi-aplikasi yang kontroversial, seperti yang terlihat ketika Google memblokir developer asal China di Play Store karena alasan keamanan.

    Masa Depan Review Aplikasi: Otomatisasi vs. Authentisitas

    Kehadiran AI dalam meringkas review membuka diskusi menarik tentang masa depan interaksi pengguna dengan konten ulasan. Di satu sisi, efisiensi yang ditawarkan sangat menggiurkan.

    Bayangkan bisa memahami kualitas sebuah aplikasi hanya dalam 30 detik, alih-alih menghabiskan waktu 30 menit membaca review manual.

    Namun, pertanyaan kritis muncul: akankah ringkasan AI ini sepenuhnya objektif? Sistem AI dilatih berdasarkan data yang ada, dan data tersebut bisa saja mengandung bias.

    Selain itu, ada kekhawatiran tentang potensi manipulasi—apakah developer bisa “mengakali” sistem dengan membanjiri review positif tertentu agar diambil sebagai ringkasan oleh AI?

    Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Beberapa pengamat telah mencatat praktik penghapusan review negatif yang dibayar di platform Google.

    Transparansi dalam algoritma AI dan mekanisme moderasi menjadi kunci untuk memastikan bahwa fitur ini benar-benar bermanfaat bagi pengguna akhir, bukan sekadar alat marketing bagi developer.

    Terlepas dari segala pertimbangan tersebut, langkah Google ini menandai babak baru dalam evolusi toko aplikasi. Integrasi AI tidak lagi sekadar fitur tambahan, melainkan menjadi kebutuhan dasar dalam menangani kompleksitas konten digital.

    Seiring dengan perkembangan teknologi ini, kita mungkin akan melihat kemampuan yang lebih canggih, seperti ringkasan yang disesuaikan dengan profil pengguna atau deteksi sentimen yang lebih nuanced.

    Bagi pengguna Android, kehadiran asisten AI di Play Store merupakan kabar gembira. Waktu yang dihemat dari membaca review manual bisa dialokasikan untuk hal-hal yang lebih produktif.

    Bagi developer, ini adalah tantangan sekaligus peluang—untuk lebih memperhatikan feedback pengguna yang sesungguhnya, karena kini keluhan dan pujian mereka akan disajikan secara lebih terstruktur dan mudah diakses.

    Revolusi AI di Google Play Store telah dimulai, dan masa depan evaluasi aplikasi tidak akan pernah sama lagi. (Icha)

  • Google Maps Android Uji Mode Hemat Daya Baru

    Google Maps Android Uji Mode Hemat Daya Baru

    Telko.id – Google tengah mengembangkan fitur hemat daya baru untuk aplikasi Google Maps di Android.

    Mode ini akan beroperasi secara independen dari pengaturan hemat daya ponsel dan diaktifkan dengan menekan tombol power perangkat.

    Fitur tersebut ditemukan melalui analisis kode pada rilis beta terbaru Google Maps untuk Android. Meski terdengar tidak biasa, kemungkinan mode ini dirancang sebagai alternatif mematikan layar sepenuhnya untuk menghemat baterai.

    Setelah diaktifkan, antarmuka Google Maps berubah menjadi monokrom dan sangat minimalis. Pengguna hanya akan melihat panah navigasi, perkiraan waktu tiba (ETA), sisa waktu perjalanan, dan jarak yang harus ditempuh. Informasi seperti nama jalan saat ini atau jalan berikutnya tidak ditampilkan.

    Mode hemat daya ini mendukung petunjuk arah untuk berjalan kaki, mengemudi, dan kendaraan roda dua. Namun belum jelas apakah fitur ini juga akan mendukung transportasi umum mengingat tingkat minimalismenya yang ekstrem mungkin tidak menampilkan nomor bus atau kereta.

    Meski tampilannya sederhana, mode ini tetap akan memiliki output audio. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa fitur ini dapat digunakan saat mengemudi di malam hari untuk mengurangi gangguan visual dari antarmuka.

    Fitur ini masih dalam tahap pengembangan dan belum diluncurkan secara resmi. Artinya, berbagai aspek dari mode hemat daya Google Maps ini masih mungkin berubah sebelum debut resminya.

    Perkembangan ini menunjukkan komitmen Google dalam mengoptimalkan pengalaman penggunaan aplikasi pada perangkat Android.

    Pengguna yang sering bergantung pada navigasi Google Maps untuk aktivitas sehari-hari mungkin menemukan nilai praktis dalam fitur ini, terutama bagi mereka yang menggunakan perangkat dengan kapasitas baterai terbatas. Fitur serupa hemat daya juga mulai banyak diadopsi oleh berbagai aplikasi mobile lainnya.

    Inovasi antarmuka minimalis pada Google Maps ini sejalan dengan tren pengembangan aplikasi yang mengutamakan efisiensi.

    Beberapa smartphone entry level dengan spesifikasi terbatas dapat memperoleh manfaat signifikan dari optimasi semacam ini.

    Pengembangan fitur hemat daya pada aplikasi navigasi menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya ketergantungan pengguna pada perangkat mobile.

    Google tampaknya berfokus pada penyempurnaan pengalaman pengguna melalui berbagai fitur inovatif yang tidak hanya fungsional tetapi juga efisien dalam konsumsi daya.

    Meski belum ada konfirmasi resmi dari Google mengenai timeline peluncuran fitur ini, pengembang terus memantau perkembangan versi beta untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang implementasi akhirnya.

    Pengguna yang tertarik dengan perkembangan terbaru sistem operasi Android dapat menyimak pembaruan Android terbaru yang diadopsi berbagai vendor smartphone.

    Kehadiran fitur hemat daya khusus pada Google Maps ini dapat menjadi solusi praktis bagi pengguna yang membutuhkan navigasi jangka panjang tanpa menguras baterai perangkat secara signifikan. (Icha)

  • Laporan 183 Juta Sandi Gmail Dicuri Ternyata Salah Kaprah

    Laporan 183 Juta Sandi Gmail Dicuri Ternyata Salah Kaprah

    Telko.id – Laporan media yang menyebut 183 juta sandi Gmail dicuri dalam sebuah pelanggaran data ternyata keliru. Google sendiri mengonfirmasi tidak mengalami kebocoran data.

    Menurut Satnam Narang, Senior Staff Research Engineer di Tenable, klaim tersebut “sangat salah menggambarkan realitas situasi”.

    Narang menjelaskan bahwa para peneliti sebenarnya mengumpulkan data ancaman dari berbagai sumber, yang mencakup 183 juta kredensial unik terkait berbagai situs web, termasuk Gmail.

    “Sumber data ini adalah kombinasi dari data yang bocor dalam pelanggaran lain, serta data yang diperoleh dari information stealers (infostealers),” jelasnya.

    Infostealers adalah perangkat lunak berbahaya yang ditemukan di komputer yang telah dikompromikan, yang dirancang untuk mencuri informasi seperti nama pengguna, alamat email, dan kata sandi.

    “Jika pengguna masuk ke akun Gmail mereka, lembaga keuangan, media sosial, dan akun lainnya, informasi ini akan direkam dalam log stealer tersebut,” tambah Narang.

    Para peneliti kemudian mengompilasi kumpulan data besar ini dan membagikannya dengan Troy Hunt dari HaveIBeenPwned, situs web yang mengkatalogkan data pelanggaran dan memberi tahu pengguna yang berlangganan layanan ketika alamat email mereka muncul dalam pelanggaran data.

    Berdasarkan temuan Hunt, sebagian besar data ini (91%) telah terlihat sebelumnya, dengan sekitar 16,4 juta alamat yang terlihat untuk pertama kalinya dalam log stealer ini.

    Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua data ini mungkin valid, sehingga angka 16,4 juta tersebut bisa lebih rendah secara alami.

    Ancaman Credential Stuffing dan Solusinya

    Salah satu tantangan paling umum ketika menyangkut kredensial akun yang dicuri adalah penggunaan ulang kata sandi.

    “Ketika data seperti ini beredar, tantangan utamanya adalah, jika pengguna menggunakan ulang kata sandi tersebut di situs web lain, penyerang dapat mencoba melakukan serangan ‘credential-stuffing’,” papar Narang.

    Serangan credential-stuffing terjadi ketika penyerang mencoba memasukkan banyak pasangan alamat email/kata sandi ke berbagai situs web untuk melihat mana yang berhasil login. Ini menggarisbawahi pentingnya menggunakan kata sandi unik untuk setiap akun.

    Narang merekomendasikan beberapa langkah keamanan yang dapat digunakan pengguna. “Langkah keamanan yang dapat digunakan pengguna adalah dengan mulai tidak menggunakan ulang kata sandi, memanfaatkan pengelola kata sandi, baik yang sudah built-in di perangkat mereka (misalnya Android atau iOS), atau pihak ketiga (1Password, Bitwarden, dll.),” sarannya.

    Pentingnya Multi-Faktor Autentikasi

    Selain penggunaan pengelola kata sandi, Narang menekankan pentingnya memanfaatkan autentikasi multi-faktor, di mana faktor kedua diperlukan untuk masuk.

    “Ini termasuk kode sekali pakai SMS, aplikasi autentikator yang menghasilkan kode setiap 60 detik, serta token perangkat keras seperti Yubikey atau Titan Security Key,” jelasnya.

    Langkah-langkah keamanan ini menjadi semakin krusial mengingat maraknya ancaman siber saat ini.

    Kasus ini mengingatkan kembali bahwa meskipun platform besar seperti Google memiliki sistem keamanan yang kuat, tanggung jawab keamanan digital juga berada di tangan pengguna.

    Penggunaan kata sandi yang unik dan kuat, dikombinasikan dengan autentikasi multi-faktor, tetap menjadi pertahanan terbaik melawan berbagai jenis serangan siber. (Icha)

  • OPPO dan Google Perkuat AI di Find X9 Series dengan Fitur Baru

    OPPO dan Google Perkuat AI di Find X9 Series dengan Fitur Baru

    Telko.id – OPPO mengumumkan fase baru kolaborasi dengan Google untuk meningkatkan pengalaman AI pada ponsel pengguna.

    Kerja sama ini berfokus pada tiga area utama: fitur AI yang dipersonalisasi, penyebaran model AI yang lebih baik, dan perlindungan privasi yang lebih kuat.

    Kai Tang, President of Software Engineering di OPPO, menyatakan, “Bekerja erat dengan mitra seperti Google memungkinkan kami mengintegrasikan pengalaman AI generasi berikutnya yang tidak hanya kuat tetapi juga sangat dipersonalisasi dan aman.”

    Kolaborasi ini menghadirkan aplikasi baru bernama Mind Space yang akan diluncurkan bersama OPPO Find X9 Series pada 28 Oktober mendatang.

    Mind Space membantu pengguna mengumpulkan dan mengatur konten di layar, seperti teks, gambar, atau halaman web, menggunakan gesekan tiga jari sederhana.

    Semua konten yang disimpan ditempatkan dalam satu lokasi dan diurutkan secara otomatis untuk kemudahan akses.

    OPPO telah bekerja sama dengan Google untuk menghubungkan Mind Space ke Gemini. Integrasi ini memungkinkan Gemini mengakses konten dari Mind Space dan membantu pengguna mengambil tindakan dengannya.

    Sebagai contoh, seseorang yang merencanakan perjalanan dapat menyimpan artikel dan catatan di Mind Space, kemudian meminta Gemini untuk membuat itinerary detail.

    Pengguna dapat memilih secara tepat apa yang dapat dilihat atau digunakan Gemini dari dalam Mind Space, menjaga kendali atas data mereka.

    Fitur ini sejalan dengan tren AI personal yang juga berkembang di perangkat lain, seperti yang terlihat pada kacamata AI Meta dan Oakley untuk atlet.

    Gemini juga akan bekerja dengan aplikasi OPPO lainnya pada Find X9 Series. Pengguna dapat mengobrol dengan Gemini untuk mendapatkan bantuan, mengedit foto menggunakan model pengeditan gambar Nano Banana, atau mengajukan pertanyaan melalui Gemini Live.

    Gemini Live dapat merespons apa yang dilihat pengguna di layar atau melalui kamera mereka, menawarkan bantuan visual seperti menunjukkan langkah-langkah untuk memperbaiki perangkat atau mengatur penyimpanan.

    Semua fitur ini didukung oleh AI Private Computing Cloud OPPO, yang menggunakan layanan komputasi rahasia Google Cloud. Pengaturan ini memastikan bahwa semua pemrosesan AI terjadi dalam lingkungan yang aman dan terenkripsi.

    Data sensitif tetap bersifat pribadi dan tidak dapat diakses oleh pihak ketiga mana pun, termasuk OPPO.

    Rangkaian lengkap fitur AI ini akan tersedia pada OPPO Find X9 Series dan ColorOS 16. Pembeli Find X9 atau Find X9 Pro akan mendapatkan langganan gratis tiga bulan ke Google AI Pro, yang mencakup akses ke alat Gemini premium dan penyimpanan cloud 2TB.

    Langganan ini menambah nilai dari program bundling yang sebelumnya ditawarkan OPPO, seperti kerjasama dengan Indosat yang memberikan kuota gratis.

    Kolaborasi OPPO dan Google dalam pengembangan AI ini mencerminkan tren industri yang semakin fokus pada integrasi teknologi cerdas.

    Seperti halnya Microsoft yang menjual paten kepada Xiaomi, kemitraan strategis antara perusahaan teknologi besar menjadi kunci dalam mempercepat inovasi.

    Peluncuran Find X9 Series dengan fitur AI mutakhir ini diharapkan dapat memperkuat posisi OPPO dalam persaingan smartphone premium global.

    Dengan pendekatan yang berpusat pada personalisasi dan keamanan, OPPO menawarkan nilai tambah yang signifikan bagi konsumen yang mengutamakan privasi dan kemudahan penggunaan. (Icha)

  • Google Luncurkan Gemini Enterprise, Saingi Microsoft dan OpenAI

    Google Luncurkan Gemini Enterprise, Saingi Microsoft dan OpenAI

    Telko.id – Unit cloud Google meluncurkan platform kecerdasan buatan (AI), diberi nama Gemini Enterprise yang diharapkan dapat menjangkau pekerja harian, sehingga memperdalam persaingan dengan Microsoft Corp. dan OpenAI dalam bidang tool bisnis.

    Mengutip dari Bloomberg Technoz, peluncuran berlangsung Kamis sebelum acara Gemini at Work milik perusahaan Alphabet Inc., tujuan dari platform ini adalah menyediakan tool AI yang mudah digunakan untuk membantu karyawan di berbagai departemen mengotomisasi tugas-tugas kompleks dan menghasilkan konten. Platform Gemini Enterprise akan dikenakan biaya bulanan sebesar 30 USD per pengguna.

    Gemini Enterprise memberikan pekerja, “pintu masuk tunggal memulai mana mereka dapat berinteraksi dengan semua data perusahaan, mencari informasi, dan menggunakan agen untuk melakukan berbagai tugas atas nama mereka,” kata Chief Executive Officer (CEO) Google Cloud Thomas Kurian dalam briefing sebelum pengumuman. “Kami sedang mendemokratisasi cara orang mengakses AI”.

    Baca juga:

    Dengan peluncuran Gemini Enterprise, Google Cloud secara langsung menantang pesaing seperti Microsoft Copilot dan OpenAI ChatGPT Enterprise, dengan keyakinan bahwa platform yang terintegrasi dan terbuka adalah kunci untuk memenangkan persaingan di tempat kerja yang didukung oleh AI.

    Pengumuman ini juga sejalan dengan upaya Google secara lebih luas untuk menunjukkan bahwa mmereka mendapatkan daya tarik yang serius di pasar AI. Perusahaan tersebut baru-baru ini mengatakan bahwa mereka sedang mengintegrasikan Gemini kedalam browser Chrome, berusaha untuk menyematkan model AI-nya kedalam semua produknya.

    Kurian menjelaskan bahwa Sembilan dari 10 laboratorium AI teratas di dunia kini mendapatkan daya komputasi mereka dari Google Cloud, dan perusahaan tersebut baru-baru ini mengungkap bahwa mereka memiliki komitmen sebesar 16 USD miliar dari kontrak pelanggan existing yang belum terpenuhi, dimana 58 USD miliar di antaranya diperkirakan akan menjadi dorongan pendapatan bagi unit tersebut hingga 2027.

    Secara umum, Google Cloud dianggap sebagai salah satu sumber pertumbuhan terkuat Alphabet seiring dengan matangnya bisnis pencarian utama raksasa teknologi tersebut.

    Gemini Enterprise menggabungkan berbagai teknoloig yang sudah ada di perusahaan, termasuk model AI Gemini, agen internal dan pihak ketiga, serta AI generatif kedalam platform tunggal yang terintegrasi. Platform ini akan terhubung dengan data di berbagai aplikasi bisnis, termasuk dari Salesforce Inc. dan SAP SE, diantara lainnya, kata Google.

    Meskipun banyak tool individu telah ditawarkan oleh Google Cloud di masa lalu, yang terbaru ini terutama ditujukan untuk developer dan profesional teknologi informasi, dan tersedia sebagai produk terpisah di ekosistem Google Cloud.

    Kini, Gemini Enterprise akan memungkinkan karyawan manapun untuk berinteraksi dengan data perusahaan dan memicu alur kerja di sistem bisnis tanpa perlu coding.

    Google menyatakan bahwa Gemini Enterprise akan tersedia di semua negara dimana produk Google Cloud dijual. Perusahaan juga menawarkan dukungan untuk platform ini dalam lebih dari selusin bahasa pada saat peluncuran.

  • Apple dan Meta Segera Selesaikan Kasus Antitrust Uni Eropa

    Apple dan Meta Segera Selesaikan Kasus Antitrust Uni Eropa

    Telko.id – Apple dan Meta dikabarkan sedang dalam proses akhir penyelesaian kasus antitrust dengan Komisi Eropa (EC).

    Menurut laporan Financial Times yang mengutip pejabat tidak disebutkan namanya, kedua perusahaan teknologi raksasa itu hampir mencapai kesepakatan dengan regulator Uni Eropa yang akan menghindarkan mereka dari denda besar.

    Para pejabat Eropa yang mengetahui pembahasan tersebut menyatakan ada “optimisme yang tumbuh” untuk menemukan “solusi yang dapat bekerja” terkait model ‘bayar atau setuju’ milik Meta.

    Model ini memaksa pengguna Facebook dan Instagram memilih antara menyetujui pelacakan data ekstensif atau membayar langganan bulanan untuk menghindarinya.

    Apple and Meta's regulatory woes in the EU are almost over, new report claims

    Meta sebelumnya telah didenda €200 juta karena praktik ini. Isu paling sensitif yang tersisa bagi Meta adalah memastikan konsumen dapat dengan mudah menemukan dan menavigasi semua opsi berbeda yang ditawarkannya di Uni Eropa.

    Penyelesaian ini menjadi bagian penting dari regulasi Uni Eropa yang semakin ketat terhadap perusahaan teknologi global.

    Sementara itu, Apple telah mengumumkan perubahan kebijakan App Store yang dianggap melanggar aturan pada Juni lalu.

    EC kini sedang mendiskusikan perubahan potensial lainnya dengan Apple menyangkut investigasi baru mengenai syarat kontrak Apple dengan pengembang aplikasi.

    Meskipun EC belum membuat keputusan final mengenai masalah kedua perusahaan, “orang-orang yang mengetahui pembicaraan” dilaporkan “berharap kasus-kasus ini akan segera diselesaikan.”

    Jika kesepakatan tercapai, Apple dan Meta akan terhindar dari penalti harian yang bisa mencapai 5% dari pendapatan harian global rata-rata mereka.

    Perkembangan ini menunjukkan bagaimana standar keamanan siber Uni Eropa menjadi semakin relevan bagi semua perusahaan teknologi yang beroperasi di kawasan tersebut.

    Tekanan regulator terhadap perusahaan teknologi besar terus meningkat seiring dengan perkembangan pasar digital yang pesat.

    Konteks persaingan pasar teknologi global saat ini memang sedang mengalami transformasi signifikan. Inovasi ramah lingkungan dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi faktor kunci dalam strategi perusahaan teknologi untuk mempertahankan posisi pasar mereka di Eropa.

    Penyelesaian kasus antitrust Apple dan Meta ini diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi kedua perusahaan sekaligus menjaga iklim kompetisi yang sehat di pasar digital Uni Eropa.

    Kedua perusahaan kini fokus pada adaptasi kebijakan mereka sesuai dengan tuntutan regulator Eropa. (Icha)

  • Meta Umumkan Kabel Bawah Laut Candle untuk Asia Pasifik

    Meta Umumkan Kabel Bawah Laut Candle untuk Asia Pasifik

    Telko.id – Meta secara resmi mengumumkan proyek kabel bawah laut terbaru bernama Candle yang akan menghubungkan enam negara di Asia Pasifik pada 2028.

    Kabel sepanjang 8.000 kilometer ini diklaim sebagai sistem kapasitas terbesar di kawasan Asia Pasifik dengan kemampuan 570 terabits per second (Tbps).

    Dalam pengumuman resmi yang dirilis 5 Oktober 2025, Meta menyebutkan Candle akan meningkatkan konektivitas di Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

    Proyek infrastruktur digital ini akan menghubungkan lebih dari 580 juta orang dan menggunakan teknologi kabel 24 fiber-pair terbaru.

    “Kawasan Asia Pasifik menjadi rumah bagi lebih dari 58% pengguna internet global yang membutuhkan infrastruktur kuat untuk konektivitas online dan akses teknologi inovatif seperti AI,” tulis Meta dalam pernyataan resminya.

    Content image for article: Meta Umumkan Kabel Bawah Laut Candle, Pacu Konektivitas Asia Pasifik

    Perusahaan menegaskan komitmennya membangun infrastruktur jaringan kelas dunia dengan kapasitas dan ketahanan memadai untuk mendukung pengalaman online yang kaya.

    Visi Meta adalah menciptakan masa depan di mana setiap orang memiliki akses ke AI, superintelligence personal, dan teknologi emerging lainnya.

    Meta juga memberikan update perkembangan tiga proyek kabel bawah laut lainnya di Asia Pasifik. Kabel Bifrost yang diumumkan pada 2021 telah selesai dan kini menghubungkan Singapura, Indonesia, Filipina, dan Amerika Serikat, dengan rencana perluasan ke Meksiko pada 2026.

    Sistem Bifrost mengambil rute berbeda dari kabel transpacific sebelumnya dan menambah redundansi lebih dari 260 Tbps untuk rute digital yang populer ini.

    Sementara itu, kabel Echo telah beroperasi dengan kapasitas 260 Tbps antara Guam dan California, dengan opsi konektivitas lanjutan ke Asia di masa depan.

    Proyek ketiga, Apricot, kini tersedia antara Jepang, Taiwan, dan Guam. Sistem sepanjang 12.000 kilometer ini akan diperluas ke Filipina, Indonesia, dan Singapura, menyediakan kapasitas 290 Tbps yang melengkapi sistem Bifrost dan Echo.

    Kolaborasi dengan perusahaan telekomunikasi terkemuka di kawasan menjadi kunci sukses proyek-proyek infrastruktur digital ini.

    Meta menyatakan Candle akan memanfaatkan teknologi yang sama dengan kabel kapasitas terbesar mereka saat ini, Anjana.

    Pengembangan infrastruktur digital di Asia Pasifik ini sejalan dengan tren pertumbuhan konektivitas di kawasan.

    GSMA memproyeksikan akan ada 675 juta koneksi 5G di Asia Pasifik pada 2025, menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan.

    Keempat kabel – Candle, Echo, Bifrost, dan Apricot – akan memungkinkan konektivitas intra-Asia dan jembatan transpacific ke Amerika. Investasi Meta dalam proyek-proyek seperti 2Africa juga akan membuka jalur ke India, Timur Tengah, dan Eropa.

    Proyek Waterworth yang diumumkan awal tahun ini disebut sebagai proyek kabel bawah laut paling ambisius Meta, yang akan mendarat di lima benua termasuk Asia pada akhir dekade ini.

    Inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem satelit Asia Pasifik juga terus diperkuat, menciptakan lanskap konektivitas yang komprehensif.

    Infrastruktur digital yang dikembangkan Meta di Asia Pasifik merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menyatukan orang di mana pun mereka berada di dunia. Bersama dengan mitra, investasi ini akan meningkatkan skala dan keandalan jaringan telekomunikasi global.

    Proyek satelit SATRIA yang menjadi program strategis dan pengembangan kabel bawah laut seperti Candle menunjukkan percepatan transformasi digital di kawasan Asia Pasifik.

    Meta memastikan layanan mereka dapat dikirimkan dengan cepat dan efisien untuk bisnis dan masyarakat di seluruh Asia Pasifik dan sekitarnya.

    Dengan penyelesaian proyek-proyek kabel bawah laut ini, Meta berkomitmen memberikan produk, layanan, AI, dan tingkat konektivitas baru kepada miliaran orang di kawasan Asia Pasifik.

    Penguatan infrastruktur digital ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan inovasi teknologi di kawasan. (Icha)