Kategori: Berita Google

  • Google Hapus Aplikasi Cuaca, Kini Akses Lewat Search

    Google Hapus Aplikasi Cuaca, Kini Akses Lewat Search

    Telko.id – Google mulai menghilangkan pengalaman aplikasi Cuaca atau Weather bawaan pada perangkat Android, yang selama ini bisa diakses lewat ikon atau widget khusus, dan menggantinya dengan tampilan prakiraan cuaca yang langsung muncul dalam hasil pencarian Google Search ketika pengguna mengetuk atau mengetuk informasi cuaca.

    Mengutip dari Notebookcheck, langkah ini menandai berakhirnyatampilan aplikasi cuaca independen yang selama ini bisa diakses melalui ikon pintasan maupun widget, meskipun informasi prakiraan cuaca tetap dapat diakses melalui pencarian.

    Perubahan ini berarti shortcut ikonik yang dulu membuka layar cuaca penuh kini akan mengarahkan ke halaman pencarian web yang menampilkan data cuaca lengkap seperti ramalan harian, prakiraan hingga 10 hari ke depan, kualitas udara, kelembapan, bahkan kecepatan angin, namun dalam format web, bukan aplikasi mandiri lagi.

    Perubahan ini merupakan bagian dari strategi Google untuk menyederhanakan pengalaman pengguna dengan memusatkan berbagai layanan lewat pencarian web alih-alih mempertahankan banyak aplikasi bawaannya.

    Meskipun fungsi utama prakiraan cuaca tetap bisa diakses, pengalaman penggunaan diperkirakan berubah karena pengguna tidak lagi melihat antarmuka aplikasi khusus yang lebih fokus dan cepat, melainkan hasil pencarian yang bisa juga menyertakan konten lain seperti tautan dan rekomendasi terkait.

    Baca juga:

    Bagi pengguna Android, dampaknya terasa pada cara mereka mengecek cuaca sehari-hari. Pengguna yang terbiasa dengan tampilan cuaca mandiri atau widget akan melihat pergeseran ke pengalaman berbasis web yang lebih umum, meskipun informasi cuaca tetap lengkap dan dapat diakses kapan pun.

    Perubahan ini juga berarti widget cuaca klasik mungkin tidak lagi bekerja seperti sebelumya, dan beberapa pengguna harus membiasakan diri dengan antarmuka baru yang terintegrasi ke mesin pencari.

    Sebagai gantinya antarmuka cuaca kini lebih serupa hasil pencarian dalam browser, memungkinkan pengguna menggulir konten yang juga berisi tautan dan rekomendasi di luar prakiraan cuaca.

    Perubahan ini sudah dilaporkan mulai diuji oleh Google pada November 2025 melalui uji coba A/B test, dan beberapa waktu terakhir kian luas diulas sebagai bagian dari fase penghapusan pengalaman cuaca aplikasi Android.

    Pengamat teknologi menilai bahwa keputusan Google ini mungkin mengurangi kenyamanan bagi sebagian pengguna yang sebelumnya terbiasa dengan layar cuaca mandiri yang mudah diakses dari layar awal atau widget.

  • Google Rilis Gemini 3.1 Pro, Model AI untuk Tugas Kompleks

    Google Rilis Gemini 3.1 Pro, Model AI untuk Tugas Kompleks

    Telko.id – Google secara resmi meluncurkan Gemini 3.1 Pro, model kecerdasan buatan (AI) terbaru yang dirancang untuk menangani tugas-tugas paling kompleks. Peluncuran ini menandai langkah signifikan dalam evolusi model AI Google, yang sebelumnya telah menghadirkan Gemini 3.

    Gemini 3.1 Pro diklaim sebagai model yang lebih cerdas dan efisien. Google menyatakan bahwa model ini dibangun untuk memberikan performa tinggi dalam analisis mendalam, penalaran multi-langkah, dan pemrosesan konteks yang luas. Peluncuran ini memperkuat posisi Google dalam persaingan ketat di bidang AI generatif.

    Perusahaan teknologi asal Mountain View itu menekankan bahwa Gemini 3.1 Pro hadir dengan peningkatan kapabilitas dalam memahami dan menghasilkan respons untuk permintaan yang rumit.

    Model ini ditujukan bagi pengembang dan perusahaan yang membutuhkan solusi AI untuk pekerjaan analitis berat, riset, dan pengembangan konten kompleks.

    “Gemini 3.1 Pro mewakili lompatan kemampuan kami dalam menciptakan AI yang benar-benar membantu,” ujar pernyataan resmi dari tim Google AI.

    Mereka menambahkan bahwa model ini dioptimalkan untuk menyeimbangkan kecepatan, akurasi, dan kemampuan memahami konteks yang lebih luas dibanding pendahulunya.

    Peningkatan utama pada Gemini 3.1 Pro terletak pada arsitektur yang lebih efisien, yang memungkinkannya memproses informasi dengan lebih baik. Hal ini membuatnya cocok untuk aplikasi di bidang sains, analisis keuangan, dan pengembangan perangkat lunak yang memerlukan ketelitian tinggi.

    Kehadiran Gemini 3.1 Pro juga menunjukkan percepatan inovasi di industri AI. Persaingan untuk menghadirkan model yang lebih kuat semakin ketat, dengan berbagai perusahaan teknologi besar terus berinvestasi.

    Tren ini juga terlihat pada adopsi AI di perangkat keras, seperti yang dilakukan Redmagic 11 Pro dengan sistem pendingin canggihnya untuk mendukung performa tinggi.

    Google belum merinci secara spesifik perbandingan numerik antara Gemini 3.1 Pro dengan model sebelumnya atau pesaing. Namun, perusahaan menegaskan fokus pada peningkatan kualitas output untuk tugas-tugas khusus yang membutuhkan kedalaman analisis.

    Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan pasar akan alat AI yang tidak hanya kreatif tetapi juga sangat analitis dan dapat diandalkan.

    Peluncuran model baru ini juga terjadi di tengah meningkatnya permintaan akan teknologi AI yang terintegrasi dalam berbagai aspek. Laporan dari penjualan Ray-Ban Meta yang melonjak menunjukkan antusiasme pasar terhadap produk yang dipadukan dengan kecerdasan buatan.

    Dengan Gemini 3.1 Pro, Google memperluas portofolio alat AI-nya untuk menjawab kebutuhan yang semakin spesifik. Model ini diharapkan dapat diakses oleh pengembang melalui platform Google Cloud AI dan Vertex AI dalam waktu dekat, memungkinkan integrasi yang lebih luas ke dalam aplikasi dan layanan bisnis.

    Implikasi dari kehadiran model AI yang lebih canggih ini dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari edukasi, riset akademik, hingga pengembangan produk teknologi.

    Kemampuannya dalam menangani kompleksitas memberikan alat baru bagi profesional untuk mengotomatisasi dan meningkatkan analisis data yang rumit.

    Ke depan, evolusi model seperti Gemini 3.1 Pro akan terus berlanjut, mendorong batasan dari apa yang dapat dicapai oleh kecerdasan buatan.

    Peluncuran ini sekaligus menegaskan komitmen Google untuk tetap menjadi pemain utama dalam lanskap AI yang terus berkembang pesat. (icha)

  • Google Pixel 11 Siapkan Fitur Face Unlock Canggih Setara iPhone

    Google Pixel 11 Siapkan Fitur Face Unlock Canggih Setara iPhone

    Telko.id – Google dikabarkan tengah mengembangkan teknologi pengenalan wajah terbaru yang akan disematkan pada seri Google Pixel 11. Raksasa teknologi asal Mountain View ini berambisi menghadirkan sistem keamanan biometrik yang mampu menyaingi keandalan Face ID milik Apple.

    Langkah ini menandai upaya serius Google untuk meningkatkan standar keamanan serta kenyamanan pengguna dalam ekosistem Android yang selama ini sering tertinggal dalam aspek pemindaian wajah 3D dibandingkan kompetitor utamanya.

    Berdasarkan informasi yang beredar, teknologi ini tidak hanya sekadar pembaruan perangkat lunak, melainkan melibatkan integrasi perangkat keras yang signifikan.

    Google dilaporkan sedang bereksperimen dengan kamera inframerah di bawah layar (under-display infrared camera) yang memungkinkan pemindaian wajah tetap akurat tanpa memerlukan “poni” atau notch lebar seperti pada generasi iPhone lama. Jika terealisasi, ini akan menjadi lompatan besar bagi lini ponsel Pixel di masa depan.

    Sistem ini dirancang untuk bekerja secara sinergis dengan chipset kustom Google generasi mendatang, yang kemungkinan besar adalah Tensor G6.

    Prosesor sinyal gambar (ISP) pada chipset tersebut akan memegang peranan vital dalam mengolah data biometrik, memastikan proses pembukaan kunci layar berjalan instan namun tetap aman untuk autentikasi pembayaran digital.

    Fokus Google pada sektor ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi biometrik antara Android dan iOS akan semakin ketat pada tahun 2026 mendatang.

    Teknologi Inframerah di Bawah Layar

    Kunci utama dari terobosan yang disiapkan untuk Pixel 11 terletak pada penempatan sensor. Google berencana memindahkan komponen kamera inframerah ke bagian bawah panel layar.

    Teknologi ini memungkinkan perangkat memiliki rasio layar-ke-bodi yang lebih luas tanpa mengorbankan fitur keamanan tingkat tinggi.

    Berbeda dengan sistem berbasis kamera depan biasa yang hanya mengandalkan pencocokan gambar 2D, sistem inframerah mampu memetakan kontur wajah secara tiga dimensi, sehingga jauh lebih sulit untuk dikelabui menggunakan foto atau topeng.

    Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi ini adalah interferensi cahaya yang disebabkan oleh lapisan layar di atas sensor. Namun, Google tampaknya telah menemukan solusi melalui pengembangan algoritma canggih pada ISP Tensor G6.

    Algoritma ini bertugas membersihkan noise dan menjernihkan sinyal inframerah yang menembus layar, sehingga akurasi pembacaan wajah tetap terjaga meski dalam kondisi minim cahaya sekalipun. Hal ini mengingatkan pada inovasi hardware kamera yang terus didorong oleh berbagai vendor global.

    Langkah ini juga dipandang sebagai respons Google terhadap kritik mengenai inkonsistensi fitur Face Unlock pada seri Pixel sebelumnya. Meskipun Pixel 4 sempat hadir dengan sensor radar Soli yang canggih, fitur tersebut memakan tempat yang cukup besar di bezel atas.

    Sementara itu, Pixel 7 dan 8 menggunakan metode berbasis kamera yang sangat bergantung pada pencahayaan lingkungan. Dengan teknologi baru di Pixel 11, Google ingin menggabungkan keamanan setara Soli dengan estetika layar penuh yang modern.

    Dukungan Tensor G6 dan Efisiensi Energi

    Selain aspek keamanan, penggunaan Tensor G6 pada Pixel 11 diharapkan membawa peningkatan efisiensi energi yang signifikan saat fitur pemindaian wajah aktif. Sistem under-display camera biasanya membutuhkan daya komputasi tinggi untuk memproses gambar secara real-time agar bebas dari distorsi.

    Google merancang arsitektur chip terbarunya untuk menangani beban kerja AI (Artificial Intelligence) ini dengan konsumsi daya yang lebih rendah, atau yang dikenal dengan istilah “Lite mode” pada subsistem pemrosesan gambar.

    Kemampuan ini sangat krusial mengingat pengguna smartphone modern menuntut daya tahan baterai yang prima. Dengan mengoptimalkan jalur pemrosesan data biometrik, Pixel 11 tidak hanya akan membuka kunci lebih cepat tetapi juga lebih hemat daya dibandingkan pendahulunya.

    Peningkatan ini juga berpotensi memperluas kegunaan Face Unlock, tidak hanya untuk membuka layar, tetapi juga untuk verifikasi aplikasi perbankan yang selama ini lebih mempercayai sensor sidik jari.

    Inovasi ini menempatkan Google pada posisi strategis untuk menarik pengguna yang memprioritaskan privasi dan keamanan data.

    Jika Google berhasil mengeksekusi rencana ini dengan mulus, Pixel 11 bisa menjadi standar baru bagi ponsel Android premium, bahkan berpotensi mengganggu dominasi bocoran iPhone yang selama ini memegang predikat emas dalam keamanan biometrik wajah.

    Pengembangan Pixel 11 masih berada dalam tahap awal, dan peluncurannya diprediksi baru akan terjadi pada tahun 2026. Namun, bocoran mengenai fokus Google pada teknologi under-display inframerah memberikan gambaran jelas mengenai arah masa depan perangkat keras mereka.

    Integrasi antara hardware kamera canggih dan kecerdasan buatan Tensor G6 akan menjadi senjata utama Google dalam merebut pangsa pasar premium global.

  • Google Hadirkan Dukungan AirDrop di Quick Share Seri Pixel 9

    Google Hadirkan Dukungan AirDrop di Quick Share Seri Pixel 9

    Telko.id – Google secara mengejutkan mulai menggulirkan pembaruan signifikan yang memungkinkan integrasi dukungan AirDrop ke dalam fitur Quick Share, yang secara khusus hadir pertama kali untuk jajaran seri Pixel 9.

    Langkah strategis ini menjawab keluhan lama pengguna mengenai sulitnya melakukan transfer data lintas platform secara instan tanpa bantuan aplikasi pihak ketiga, sekaligus menandai era baru konektivitas antara ekosistem Android dan iOS yang selama ini terpisah.

    Pembaruan ini memungkinkan perangkat Google Pixel 9 untuk mendeteksi dan mengirim file secara langsung ke perangkat Apple yang mengaktifkan fitur penerimaan AirDrop.

    Terobosan ini memanfaatkan protokol komunikasi nirkabel yang dioptimalkan, sehingga pengguna tidak perlu lagi bergantung pada metode konvensional seperti pengiriman via email atau aplikasi pesan instan yang sering kali menurunkan kualitas media. Inisiatif ini sejalan dengan visi Google untuk menciptakan ekosistem yang lebih terbuka dan inklusif bagi semua pengguna teknologi seluler.

    Kehadiran fitur ini pada seri Pixel 9 menegaskan posisi Google yang semakin agresif dalam memimpin inovasi perangkat lunak. Sebelumnya, pengguna Android sering kali merasa terisolasi ketika berada di lingkungan yang didominasi pengguna iPhone, terutama dalam hal berbagi dokumen atau foto beresolusi tinggi.

    Dengan adanya pembaruan pada integrasi sistem berbagi file ini, batasan tersebut perlahan mulai runtuh, memberikan fleksibilitas yang jauh lebih tinggi bagi konsumen.

    Evolusi Quick Share dan Interoperabilitas

    Sejarah berbagi file di Android telah mengalami perjalanan panjang sebelum mencapai titik ini. Awalnya, Google mengandalkan Android Beam yang berbasis NFC, kemudian beralih ke Nearby Share, dan akhirnya melakukan rebranding serta penyatuan teknologi dengan Samsung menjadi Quick Share.

    Transformasi ini bertujuan untuk menyederhanakan pengalaman pengguna yang sebelumnya terfragmentasi antar merek ponsel Android. Kini, dengan masuknya dukungan protokol yang kompatibel dengan AirDrop, Quick Share bertransformasi menjadi alat transfer universal yang sangat kuat.

    Mekanisme kerja fitur baru di Pixel 9 ini kemungkinan besar melibatkan penggunaan kombinasi Bluetooth Low Energy (BLE) untuk penemuan perangkat dan Wi-Fi Direct untuk transfer data berkecepatan tinggi.

    Hal ini memastikan bahwa kecepatan pengiriman file tetap optimal meskipun terjadi antar sistem operasi yang berbeda. Bagi pengguna yang terbiasa dengan ekosistem tertutup, kemudahan ini menawarkan pengalaman transfer iPhone yang mulus tanpa perlu proses pairing yang rumit atau pengaturan jaringan yang membingungkan.

    Penting untuk dicatat bahwa implementasi ini tidak hanya sekadar penambahan fitur kosmetik. Google tampaknya telah bekerja keras untuk memastikan keamanan dan privasi data tetap terjaga selama proses transfer lintas platform.

    Protokol enkripsi yang digunakan dalam Quick Share ditingkatkan untuk menyesuaikan standar keamanan yang diterapkan oleh Apple pada AirDrop, sehingga pengguna tidak perlu khawatir mengenai potensi kebocoran data saat bertukar file di tempat umum.

    Bagi pengguna yang baru beralih ke seri Pixel 9, fitur ini akan muncul secara otomatis dalam menu berbagi standar Android. Antarmuka pengguna telah dirancang ulang agar ikon perangkat penerima, baik itu sesama Android maupun perangkat iOS, muncul dalam satu daftar yang mudah diakses.

    Kemudahan ini mirip dengan tips transfer yang biasa ditemukan pada perangkat Samsung, namun dengan cakupan kompatibilitas yang jauh lebih luas.

    Dampak bagi Ekosistem Smartphone Global

    Langkah Google untuk membuka gerbang komunikasi dengan AirDrop melalui Pixel 9 dapat memicu tren baru di industri smartphone global. Selama bertahun-tahun, eksklusivitas fitur seperti AirDrop dan iMessage menjadi faktor pengunci (lock-in) utama yang membuat pengguna enggan beralih dari iOS ke Android.

    Dengan menghilangkan salah satu hambatan terbesar ini, Google secara efektif menurunkan barikade tersebut, membuat seri Pixel menjadi opsi yang jauh lebih menarik bagi pengguna yang hidup dalam lingkungan perangkat campuran (mixed-device households).

    Selain itu, fitur ini juga meningkatkan produktivitas bagi para profesional yang sering bekerja menggunakan berbagai jenis perangkat. Fotografer, videografer, dan konten kreator yang sering memindahkan file besar antara tablet, laptop, dan ponsel kini dapat bekerja lebih efisien.

    Tidak adanya kompresi file yang biasanya terjadi saat mengirim via WhatsApp atau Telegram menjadi nilai tambah utama. Pengguna juga disarankan untuk memahami cara berbagi aman guna memaksimalkan fitur ini tanpa mengorbankan privasi.

    Meski saat ini baru tersedia secara eksklusif untuk seri Pixel 9, besar kemungkinan teknologi ini akan diadopsi oleh OEM Android lainnya di masa depan, mengingat basis kode Quick Share yang kini menjadi standar Android.

    Jika hal ini terjadi, maka fragmentasi fitur berbagi file yang selama satu dekade terakhir menjadi masalah klasik di dunia teknologi seluler akan segera berakhir.

    Ini juga menjadi sinyal bagi produsen chipset untuk terus meningkatkan kemampuan konektivitas nirkabel mereka, meskipun ada tantangan seperti krisis memori atau pasokan komponen yang kadang melanda industri.

    Penerapan dukungan AirDrop di Quick Share pada Pixel 9 merupakan bukti nyata bahwa batasan perangkat lunak dapat diatasi demi kenyamanan pengguna. Google tidak hanya menjual perangkat keras, tetapi juga menawarkan solusi atas masalah interoperabilitas yang nyata.

    Ke depannya, konsumen dapat berharap adanya pembaruan lebih lanjut yang mungkin memperluas kemampuan ini ke perangkat laptop berbasis Windows atau ChromeOS dengan tingkat kemudahan yang setara.

  • Google Rilis Android 17 Beta 1: Fokus Privasi dan Performa Kamera

    Google Rilis Android 17 Beta 1: Fokus Privasi dan Performa Kamera

    Telko.id – Google secara resmi merilis Android 17 Beta 1 hari ini, menandai langkah besar dalam evolusi sistem operasi seluler mereka dengan fokus utama pada privasi, keamanan, dan peningkatan kinerja yang lebih halus.

    Peluncuran ini tidak hanya membawa fitur baru, tetapi juga mengubah cara Google menyajikan pembaruan kepada komunitas pengembang melalui program Android Canary yang menggantikan model Developer Preview tradisional.

    Matthew McCullough, VP Product Management Android Developer, menyatakan bahwa rilis ini melanjutkan upaya Google untuk membangun platform yang lebih adaptif.

    Build terbaru ini menghadirkan penyempurnaan signifikan pada kemampuan kamera dan media, alat baru untuk mengoptimalkan konektivitas, serta profil yang diperluas untuk perangkat pendamping. Perubahan mendasar dalam siklus rilis ini diharapkan dapat mempercepat adopsi fitur baru di ekosistem Android.

    Pergeseran dari Developer Preview ke saluran Canary yang “always-on” menawarkan tiga keuntungan utama bagi pengembang. Pertama, akses yang lebih cepat di mana fitur dan API mendarat di Canary segera setelah lulus pengujian internal.

    Kedua, stabilitas yang lebih baik karena pengujian awal di Canary menghasilkan pengalaman Beta 1 yang lebih matang. Ketiga, kemudahan pengujian melalui pembaruan OTA (Over-The-Air) yang menghilangkan kebutuhan flashing manual dan integrasi yang lebih mudah dengan alur kerja CI.

    Adaptasi Layar Besar dan Antarmuka

    Memasuki fase berikutnya dari peta jalan adaptif, Android 17 (API level 37) menghapus opsi bagi pengembang untuk menolak pembatasan orientasi dan ukuran ulang pada perangkat layar besar. Aturan ini berlaku untuk perangkat dengan lebar layar lebih dari 600dp, seperti Tablet Android maupun ponsel lipat.

    Aplikasi yang menargetkan SDK 37 wajib beradaptasi dengan berbagai kondisi layar. Pengguna mengharapkan aplikasi mereka bekerja di mana saja, baik saat multitasking di tablet, membuka perangkat lipat, atau menggunakan lingkungan windowing desktop. Antarmuka pengguna (UI) harus mengisi ruang yang tersedia dan menghormati postur perangkat.

    Beberapa atribut manifest dan API runtime yang diperkenalkan di Android 16 kini akan diabaikan pada layar besar jika aplikasi menargetkan Android 17. Atribut seperti screenOrientation (termasuk portrait dan landscape), resizeableActivity, serta rasio aspek minimum dan maksimum tidak lagi berlaku mutlak.

    Namun, pengecualian diberikan untuk aplikasi yang dikategorikan sebagai game. Pengguna juga tetap memegang kendali penuh untuk mengaktifkan atau menonaktifkan perilaku default aplikasi melalui pengaturan sistem.

    Peningkatan Kamera dan Media Profesional

    Sektor media mendapatkan perhatian serius dalam pembaruan ini. Android 17 menghadirkan alat tingkat profesional untuk aplikasi kamera dan media, termasuk transisi yang mulus dan standar kenyaringan suara.

    Fitur baru updateOutputConfigurations() pada CameraCaptureSession memungkinkan pengembang melampirkan dan melepaskan permukaan output secara dinamis tanpa perlu mengonfigurasi ulang seluruh sesi penangkapan kamera.

    Kemampuan ini memungkinkan transisi mulus antara mode penggunaan kamera, seperti beralih dari memotret gambar diam ke merekam video. Hal ini mengurangi biaya memori dan kompleksitas kode, serta menghilangkan gangguan visual atau pembekuan (freeze) yang sering terlihat oleh pengguna saat pengoperasian kamera.

    Selain itu, Google memperkenalkan dukungan metadata perangkat multi-kamera logis. Pengembang kini dapat meminta metadata tambahan dari semua kamera fisik aktif yang terlibat dalam penangkapan gambar, bukan hanya kamera utama.

    Fitur ini sangat berguna saat terjadi peralihan lensa untuk zoom, memberikan informasi lebih rinci untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dalam aplikasi kamera.

    Untuk perekaman video, Android 17 menambahkan dukungan standar Versatile Video Coding (VVC) dan mode kualitas konstan (Constant Quality) pada MediaRecorder.

    Mode ini memberikan kontrol lebih halus atas kualitas video dibandingkan pengaturan bitrate sederhana, sejalan dengan Fitur Baru yang sering dibutuhkan kreator konten.

    Optimasi Performa dan Keamanan

    Dalam hal performa, Android 17 memperkenalkan implementasi MessageQueue yang bebas kunci (lock-free). Perubahan ini bertujuan meningkatkan kinerja dan mengurangi frame yang hilang, meskipun mungkin berdampak pada klien yang menggunakan refleksi pada metode privat.

    Selain itu, pengumpulan sampah (garbage collection) generasional diperkenalkan pada ART Concurrent Mark-Compact collector untuk mengurangi biaya CPU dan durasi waktu pengumpulan sampah.

    Google juga memperketat aturan pemrograman dengan membuat kolom “static final” benar-benar final. Aplikasi yang menargetkan Android 17 tidak lagi dapat memodifikasi kolom ini, bahkan melalui refleksi, yang akan memicu IllegalAccessException. Langkah ini memungkinkan runtime menerapkan optimasi kinerja secara lebih agresif.

    Dari sisi keamanan, atribut android:usesCleartextTraffic kini tidak lagi disarankan (deprecated). Aplikasi yang menargetkan Android 17 atau lebih tinggi dan mengandalkan atribut ini tanpa konfigurasi keamanan jaringan yang sesuai akan secara default menolak lalu lintas teks jelas (cleartext). Google juga memperkenalkan antarmuka penyedia layanan publik untuk kriptografi hibrida HPKE guna komunikasi yang lebih aman.

    Konektivitas dan Produktivitas Pengembang

    Pembaruan juga mencakup sektor konektivitas dengan peningkatan riwayat panggilan VoIP. Sistem kini mendukung URI avatar penelepon dan peserta dalam dialer sistem, memberikan kontrol privasi log panggilan yang lebih terperinci kepada pengguna. Wi-Fi Ranging juga ditingkatkan dengan kemampuan deteksi jarak yang mendukung pengukuran berkelanjutan dan penemuan peer-to-peer yang aman.

    Bagi pengembang aplikasi perangkat pendamping, CompanionDeviceManager kini memiliki dua profil baru: Perangkat Medis dan Pelacak Kebugaran. Profil perangkat medis memungkinkan aplikasi meminta semua izin yang diperlukan dengan satu ketukan, menyederhanakan proses pengaturan.

    Sementara itu, profil pelacak kebugaran memastikan pengalaman pengguna yang akurat dengan ikon berbeda dan penggunaan kembali izin peran jam tangan yang ada.

    Google menargetkan pencapaian Platform Stability pada bulan Maret mendatang. Pada tahap tersebut, API SDK/NDK final dan perilaku aplikasi akan dikunci.

    Perangkat yang Rilis Segera di masa depan kemungkinan besar akan langsung mengadopsi standar baru ini. Pengguna perangkat Pixel yang didukung sudah dapat mendaftar untuk mendapatkan pembaruan Beta ini melalui udara (OTA). (Icha)

  • Meta Bagikan Tips Aman Internet bagi Remaja di Safer Internet Day

    Meta Bagikan Tips Aman Internet bagi Remaja di Safer Internet Day

    Telko.id – Peringatan Safer Internet Day atau Hari Internet Aman Sedunia yang jatuh pada 12 Februari 2026 menjadi momentum krusial bagi ekosistem digital di Indonesia.

    Memanfaatkan momen ini, Meta Indonesia kembali menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam menjaga keamanan remaja saat berselancar di dunia maya, tanpa harus terjebak dalam pengawasan yang kaku atau perdebatan yang melelahkan mengenai durasi penggunaan perangkat.

    Kepala Kebijakan Publik untuk Meta di Indonesia, Berni Moestafa, mengungkapkan bahwa pendekatan keamanan digital kini telah berevolusi. Orang tua dapat memastikan remaja tetap aman di internet tanpa perlu memeriksa setiap isi percakapan pribadi atau merasa kewalahan dengan cepatnya perubahan tren aplikasi serta grup percakapan yang ramai.

    Kunci utamanya terletak pada dukungan yang tepat sasaran dan pemanfaatan fitur teknologi yang sudah tersedia.

    Di tengah dinamika keamanan siber yang terus berubah, Meta membagikan serangkaian panduan praktis agar orang tua bisa tetap suportif terhadap aktivitas digital anak.

    Langkah ini diambil mengingat media sosial kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah bagi remaja untuk mencari hobi, belajar hal baru, dan bergabung dengan komunitas yang sesuai minat mereka.

    Membangun Komunikasi Dua Arah

    Langkah pertama yang disarankan adalah tetap menaruh minat atau “kepo” terhadap dunia digital remaja. Meskipun orang tua mungkin tidak sepenuhnya memahami siapa konten kreator favorit anak atau lelucon internal yang mereka gunakan, mengajak berdiskusi tentang minat mereka adalah pintu masuk yang efektif.

    Diskusi santai mengenai apa yang mereka sukai di dunia maya seringkali membuat remaja lebih terbuka untuk menceritakan aktivitas online mereka.

    Membangun kepercayaan dinilai sama pentingnya dengan mengaktifkan fitur teknis. Berni menyarankan agar diskusi dijadikan komunikasi dua arah yang hangat untuk menyamakan ekspektasi.

    Orang tua disarankan untuk menanyakan hal-hal spesifik seperti apa yang paling disukai remaja saat online, tindakan apa yang harus diambil jika menerima pesan dari orang asing, serta kesepakatan mengenai waktu istirahat dari gawai.

    Percakapan dari hati ke hati ini, jika dilakukan dengan jujur dan santai, dapat berdampak positif dan mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

    Hal ini sejalan dengan berbagai tips keamanan yang menekankan pentingnya kesadaran pengguna dalam berinteraksi di media sosial.

    Pemanfaatan Fitur Perlindungan Otomatis

    Selain pendekatan personal, Meta juga menyoroti pentingnya memaksimalkan fitur perlindungan bawaan. Saat remaja menggunakan platform seperti Instagram, Facebook, atau Messenger, akun mereka secara otomatis akan dikategorikan sebagai Akun Remaja.

    Kategori ini dilengkapi dengan perlindungan dan fitur keamanan penting yang aktif secara default bagi pengguna di bawah 18 tahun.

    Sistem ini memastikan bahwa orang asing tidak dapat mengirimkan pesan kepada remaja. Selain itu, interaksi seperti pemberian tag atau penandaan hanya dapat dilakukan oleh teman mereka.

    Fitur ini juga secara otomatis menyaring konten yang tidak sesuai usia dan memburamkan gambar yang mencurigakan di pesan langsung (DM). Khusus untuk remaja di bawah usia 16 tahun, pengaturan keamanan ini bersifat lebih ketat dan memerlukan izin orang tua jika ingin diubah.

    Manajemen Waktu Layar yang Ideal

    Negosiasi mengenai screen time seringkali menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasi hal ini, orang tua dapat memanfaatkan fitur pengingat istirahat yang tersedia di platform Meta. Remaja akan mendapatkan notifikasi untuk beristirahat setelah mengakses media sosial selama 60 menit setiap harinya.

    Lebih lanjut, tersedia fitur Mode Tidur yang aktif otomatis mulai pukul 22.00 hingga 07.00. Selama periode ini, suara notifikasi akan dimatikan dan balasan otomatis akan dikirimkan jika ada pesan masuk.

    Bagi orang tua yang menginginkan kontrol lebih, fitur pengawasan orang tua memungkinkan pengaturan batas waktu harian atau pemblokiran akses pada waktu-waktu tertentu, seperti saat mengerjakan pekerjaan rumah, makan bersama, atau waktu tidur.

    Hal ini menjadi relevan mengingat tingginya interaksi remaja dengan gawai, bahkan di era di mana teknologi lain seperti chatbot AI mulai mendominasi interaksi digital. Menjaga keseimbangan waktu layar menjadi kunci kesehatan digital keluarga.

    Adaptasi Sesuai Usia

    Berni Moestafa juga mengingatkan bahwa keamanan digital terus berkembang. Topik diskusi yang relevan saat anak berusia 13 tahun mungkin tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan mereka saat menginjak usia 16 tahun. Oleh karena itu, komunikasi di rumah harus bersifat adaptif mengikuti perkembangan dunia remaja yang begitu cepat.

    Bagi orang tua yang membutuhkan panduan lebih lanjut, Meta menyediakan Family Center Education Hub yang berisi materi dan referensi dari berbagai ahli. Namun, pengaruh terkuat tetaplah berasal dari orang tua itu sendiri. Menjadi sosok pertama yang didatangi remaja saat merasa tidak nyaman di internet adalah indikator keberhasilan pola asuh digital yang sehat. (Icha)

  • Google Konfirmasi Android 17 Beta 1 Segera Meluncur ke Publik

    Google Konfirmasi Android 17 Beta 1 Segera Meluncur ke Publik

    Telko.id – Google secara resmi memberikan konfirmasi bahwa pembaruan sistem operasi besar berikutnya, Android 17 Beta 1, dijadwalkan untuk segera meluncur.

    Kabar ini menjadi sinyal kuat bagi para pengembang aplikasi dan penggemar teknologi yang telah menantikan iterasi terbaru dari ekosistem Android, menandakan dimulainya fase pengujian publik yang lebih luas setelah tahap pratinjau pengembang.

    Konfirmasi ini datang langsung dari raksasa teknologi yang berbasis di Mountain View tersebut, menegaskan komitmen mereka untuk menjaga siklus pengembangan perangkat lunak yang konsisten.

    Peluncuran versi Beta 1 biasanya menjadi tonggak penting karena sistem operasi mulai beralih dari tahap eksperimental awal menuju bentuk yang lebih stabil untuk diuji coba oleh pengguna umum pada perangkat Google Pixel yang kompatibel.

    Meskipun Google belum merinci tanggal pasti ketersediaannya, penggunaan kata “segera” mengindikasikan bahwa file update OTA (Over-The-Air) mungkin akan mendarat dalam hitungan hari atau minggu ke depan.

    Langkah ini dinilai strategis untuk memberikan waktu yang cukup bagi ekosistem pengembang dalam menyesuaikan aplikasi mereka dengan API (Application Programming Interface) terbaru yang dibawa oleh sistem operasi ini.

    Kehadiran Android 17 Beta 1 ini juga memicu diskusi mengenai arah pengembangan sistem operasi Google di masa depan. Banyak pengamat industri melihat ini sebagai upaya berkelanjutan perusahaan untuk memperkuat integrasi antar perangkat.

    Hal ini sejalan dengan rumor mengenai revolusi baru yang mungkin menggabungkan elemen Android dan ChromeOS demi efisiensi yang lebih baik.

    Fokus pada Stabilitas dan Pengembang

    Dalam siklus rilis Android, versi Beta 1 sering kali menjadi versi pertama yang dianggap cukup aman untuk diunduh oleh pengguna non-pengembang yang ingin mencoba fitur baru lebih awal, meskipun risiko bug masih tetap ada.

    Google biasanya memanfaatkan fase ini untuk mengumpulkan umpan balik masif mengenai performa sistem, manajemen baterai, dan kompatibilitas aplikasi pihak ketiga.

    Bagi para pengembang game dan aplikasi berat, akses awal ini sangat krusial. Mengingat kompleksitas grafis dan pemrosesan data pada aplikasi modern, memastikan kompatibilitas sejak dini adalah keharusan.

    Hal ini mengingatkan pada antusiasme serupa ketika versi beta dari game populer seperti Minecraft Earth diperkenalkan ke platform seluler beberapa tahun silam.

    Persaingan di ranah sistem operasi seluler juga menjadi faktor pendorong percepatan rilis ini. Dengan kompetitor utama mereka yang baru saja merilis pembaruan besar, Google perlu memastikan bahwa Android tetap kompetitif dari segi fitur dan keamanan.

    Pengguna sering membandingkan kecepatan inovasi antara Android dan Apple iOS 18, sehingga peluncuran Beta 1 ini menjadi momen pembuktian bagi Google untuk menunjukkan peningkatan yang signifikan.

    Antisipasi Pengguna Pixel

    Para pengguna perangkat Google Pixel dipastikan akan menjadi yang pertama mendapatkan akses ke pembaruan ini melalui program Android Beta.

    Mekanisme pendaftaran biasanya dilakukan melalui situs web resmi Android Beta Program, di mana perangkat yang terdaftar akan menerima notifikasi pembaruan sistem secara otomatis.

    Namun, Google selalu menyarankan agar pengguna mencadangkan data penting mereka sebelum melakukan instalasi, mengingat sifat perangkat lunak beta yang belum sepenuhnya final.

    Peluncuran yang akan datang ini diharapkan membawa perbaikan pada antarmuka pengguna serta peningkatan privasi yang lebih ketat.

    Tren privasi memang sedang menjadi sorotan utama di dunia teknologi, mirip dengan fitur keamanan canggih yang ditawarkan oleh perangkat IoT seperti Xiaomi Smart Camera yang baru saja dirilis ke pasaran.

    Dengan konfirmasi resmi dari Google, komunitas teknologi kini tinggal menunggu pengumuman lanjutan mengenai fitur spesifik apa saja yang akan menjadi sorotan utama di Android 17 Beta 1.

    Fase pengujian ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan hingga versi stabil final dirilis, yang biasanya dijadwalkan pada paruh kedua tahun ini. (Icha)

  • ChromeOS Akan Pensiun, Google Siapkan AluminiumOS

    ChromeOS Akan Pensiun, Google Siapkan AluminiumOS

    Telko.id – Setelah lebih dari satu dekade menjadi tulang punggung Chromebook, ChromeOS dilaporkan akan memasuki masa pensiun. Google disebut menargetkan akhir dukungan sistem operasi tersebut pada 2034 sebagai bagian dari perubahan besar ekosistemnya.

    Informasi ini muncul dari sebuah dokumen pengadilan dalam kasusu antitrust Google di Amerika Serikat. Dalam transkrip sidang, ChromeOS disebut masih akan terus didukung selama beberapa tahun ke depan, tetapi Google berencana menghentikannya sepenuhnya setelah 2034. Setelah itu, proyek sistem operasi baru bernama AluminiumOS diprediksi menjadi platform utama untuk perangkat desktop dan thin client Google.

    Google sendiri pada 2025 sudah mengonfirmasi rencana untuk melebur Android dan ChromeOS menjadi satu platform desktop terpadu. AliminiumOS disebut sebagai hasil dari strategi tersebut, dan pengembangannya kini sudah berjalan aktif, demikian mengutip dari Techspot, Jumat (6/2/2026).

    Dokumen pengadilan juga menegaskan Google wajib mendukung perangkat ChromeOS yang sudah beredar “setidaknya” hingga 2033. Hal ini terkait komitmen perusahaan memberikan update dan dukungan software selama 10 tahun bagi pengguna Chromebook.

    Baca juga:

    Perubahan ini terjadi di tengah tekanan besar terhadap Google setelah kalah dalam gugatan Departemen Kehakiman AS terkait monopoli pencarian web. Hakim dalam kasus tersebut menyatakan Google memegang posisi monopoli illegal, sehingga perusahaan kini fokus mengurangi dampak putusan tersebut. Chrome browser masih dipertahankan, namun masa depan ChromeOS dan penerusnya menjadi bagian yang lebih tidak pasti.

    Secara teknis, ChromeOS selama ini dikenal sebagai sistem operasi ringan berbasis browser Chrome dan Linux, yang populer di sektor pendidikan karena harga perangkatnya terjangkau dan pengelolaannya mudah.

    AluminiumOS diperkirakan akan menjadi varian Android yang dioptimalkan untuk penggunaan desktop. Sistem ini disebut akan mendukung aplikasi Android dan juga kompatibel dengan aplikasi ChromeOS yang sudah disesuaikan untuk layar lebih besar.

    Menariknya, Aluminium OS juga digadang-gadang menjadi Android pertama yang bisa berjalan di arsitektur Arm maupun x86, membuka peluang lebih luas untuk perangkat PC dan laptop murah.

    Jika Aluminium OS benar-benar menggantikan ChromeOS, Google berpotensi membangun dominasi baru di pasar perangkat pendidikan berbiaya rendah dan desktop Android dalam beberapa tahun mendatang, meski langkah ini juga bisa memicu kontroversi baru di tengah sorotan regulator.

  • Google Photos Kini Bisa Ubah Foto Jadi Video Lewat Perintah Teks

    Google Photos Kini Bisa Ubah Foto Jadi Video Lewat Perintah Teks

    Telko.id – Google kembali menghadirkan inovasi cerdas untuk mempermudah penggunanya dalam mengelola kenangan digital.

    Raksasa teknologi ini baru saja meluncurkan kemampuan baru pada Google Photos yang memungkinkan pengguna mengubah kumpulan foto diam menjadi video menarik hanya dengan menggunakan perintah teks (text prompts).

    Pembaruan ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengotomatisasi proses penyuntingan yang biasanya memakan waktu.

    Fitur anyar ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pengguna yang sering kali memiliki ribuan foto di galeri namun kesulitan merangkainya menjadi sebuah cerita visual yang utuh.

    Dengan kemampuan generatif ini, pengguna tidak perlu lagi memilah satu per satu gambar atau menyusun klip secara manual di timeline editor. Cukup dengan mengetikkan deskripsi singkat, sistem akan bekerja secara otomatis.

    Mekanisme kerja fitur ini cukup sederhana namun canggih. Pengguna hanya perlu memasukkan instruksi spesifik ke dalam kolom pencarian atau menu pembuatan kreasi.

    Misalnya, Anda bisa mengetikkan perintah seperti “liburan di Bali tahun lalu” atau “momen ulang tahun kucing kesayangan”.

    Algoritma Fitur AI Baru Google kemudian akan memindai seluruh perpustakaan foto, mengidentifikasi gambar yang relevan dengan deskripsi tersebut, dan memilih momen-momen terbaik.

    Setelah aset visual terkumpul, Google Photos akan menyusunnya menjadi sebuah video kompilasi. Tidak hanya sekadar menempelkan foto, sistem juga secara cerdas menambahkan musik latar yang sesuai dengan suasana, serta menyinkronkan transisi antar gambar agar terlihat profesional.

    Hal ini menjadi evolusi signifikan dari fitur “Movie” atau “Highlight Video” yang sebelumnya sudah ada, di mana kontrol pengguna kini lebih presisi berkat input berbasis teks.

    Kemampuan untuk memahami konteks bahasa alami ini menunjukkan peningkatan signifikan pada mesin pencari visual Google.

    Sebelumnya, pengguna mungkin sudah familiar dengan kemampuan aplikasi ini untuk Cari Teks di dalam gambar atau mengenali wajah. Kini, pemahaman tersebut diperluas untuk tujuan kreasi konten, bukan sekadar pencarian arsip.

    Langkah ini sejalan dengan tren industri teknologi yang semakin gencar mengintegrasikan AI generatif ke dalam perangkat genggam.

    Google tampaknya ingin memastikan bahwa ekosistem mereka tetap menjadi pilihan utama bagi pengguna Android maupun iOS dalam menyimpan dan mengolah media.

    Kemudahan ini tentu sangat membantu bagi pengguna awam yang tidak memiliki keahlian editing video namun ingin membagikan momen spesial mereka ke media sosial.

    Selain kemudahan dalam pembuatan video, integrasi AI yang lebih dalam juga terlihat pada berbagai lini produk Google lainnya.

    Misalnya, rumor mengenai kemampuan Fitur Edit AI yang semakin canggih di perangkat Pixel generasi mendatang menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mendominasi sektor fotografi komputasional.

    Bagi para pengguna setia, fitur pembuatan video via teks ini menjadi solusi praktis untuk “menghidupkan kembali” foto-foto lama yang mungkin sudah terlupakan di tumpukan galeri.

    Alih-alih membiarkan memori digital tersebut mengendap, teknologi ini memberikan cara baru yang segar dan efisien untuk menikmatinya kembali dalam format video yang dinamis.

    Pembaruan ini diharapkan akan digulirkan secara bertahap kepada seluruh pengguna global. Dengan adanya fitur ini, Google Photos semakin mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai tempat penyimpanan awan (cloud storage), tetapi juga sebagai asisten kreatif pribadi yang bertenaga bagi setiap penggunanya. (Icha)

  • Google Perluas Personal Intelligence ke Mode AI di Search, Cari Data Jadi Lebih Mudah

    Google Perluas Personal Intelligence ke Mode AI di Search, Cari Data Jadi Lebih Mudah

    Telko.id – Google secara resmi memperluas cakupan fitur Personal Intelligence ke dalam Mode AI di layanan Search mereka.

    Pembaruan strategis ini dirancang untuk memberikan pengalaman pencarian yang lebih mendalam dengan mengintegrasikan data personal pengguna secara langsung ke dalam hasil pencarian berbasis kecerdasan buatan.

    Langkah ini memungkinkan pengguna untuk menemukan informasi pribadi yang tersimpan dalam ekosistem Google, seperti Gmail, Drive, dan Photos, tanpa harus meninggalkan halaman utama pencarian.

    Integrasi ini bertujuan menyederhanakan proses temu kembali informasi yang seringkali tercecer di berbagai aplikasi berbeda.

    Upaya raksasa teknologi ini memperkuat ekosistem mereka terlihat jelas seiring dengan persaingan teknologi yang kian ketat.

    Dengan memanfaatkan kemampuan Google Gemini yang semakin canggih, mesin pencari kini mampu memahami konteks pertanyaan yang bersifat pribadi, seperti menanyakan jadwal penerbangan yang ada di email atau mencari dokumen spesifik.

    Sebelum pembaruan ini, kemampuan pencarian personal seringkali terpisah dari pencarian web umum atau terbatas pada Google Assistant konvensional.

    Kini, dengan masuknya fitur tersebut ke Mode AI, batasan antara pencarian informasi publik dan data pribadi menjadi semakin tipis namun tetap terkontrol. Hal ini menawarkan efisiensi waktu yang signifikan bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi.

    Google memastikan bahwa meskipun akses data diperluas, privasi pengguna tetap menjadi prioritas utama. Data pribadi yang muncul dalam hasil pencarian Personal Intelligence hanya dapat dilihat oleh pengguna itu sendiri dan tidak digunakan untuk keperluan iklan publik.

    Pendekatan keamanan ini serupa dengan protokol yang diterapkan pada berbagai Fitur Baru di layanan mereka lainnya.

    Keterhubungan antar layanan menjadi nilai jual utama fitur ini. Misalnya, pengguna dapat mencari foto liburan tahun lalu dengan deskripsi natural, dan sistem akan menarik data relevan dari Google Photos langsung ke antarmuka AI Mode.

    Kemudahan ini menghilangkan kebutuhan untuk membuka aplikasi galeri dan melakukan pencarian manual yang memakan waktu.

    Perluasan fitur ke Mode AI di Search ini menandakan babak baru dalam interaksi manusia dengan mesin pencari. Google tidak lagi hanya berperan sebagai gerbang menuju situs web lain, melainkan menjadi pusat komando untuk mengelola kehidupan digital penggunanya secara lebih cerdas dan terintegrasi. (Icha)