Kategori: Berita Google

  • Google Ubah Android Jadi Sistem Operasi Berbasis AI

    Google Ubah Android Jadi Sistem Operasi Berbasis AI

    Telko.id – perkembangan teknologi AI mulai mengubah cara kerja perangkat digital secara fundamental. Jika sebelumnya sistem operasi haya berfungsi sebagai penghubung antara pengguna dan aplikasi, kini perannya mulai bergeser menjadi sistem kecerdasan yang mampu memahami konteks, menjalankan tugas otomatis, hingga membantu pengguna mengambil keputusan.

    Perubahan inilah yang mulai terlihat melalui pengembangan ekosistem AI terbaru seperti Gemini Intelligence dari Google.

    Melansir dari Antara, dalam acara Android Show: I/O Edition yang digelar Selasa, pertengahan Mei, Google memperkenalkan Gemini Intelligence, sebuah ekosistem kecerdasan buatan (AI) dengan rangkaian fitur-fitur yang semakin pintar dan terintegasi.

    Kehadiran Gemini Intelligence di ekosistem Android menandai evolusi baru dalam cara pengguna berinteraksi dengan perantkat pintar mereka.

    Salah satu terobosan paling signifikan dari teknologi ini adalah kemampuannya dalam mengotomatisasi tugas-tugas multi-langkah yang repetitif, sehingga pengguna dapat lebih berfokus pada aktivitas yang lebih esensial.

    Baca Juga:

    Pengguna tidak perlu lagi berpindah aplikasi secara manual untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Misalnya, AI dapat membaca daftar belanja di Google Keep lalu otomatis mengubahnya menjadi keranjang belanja digital di aplikasi marketplace hanyay melalui perintah suara.

    Teknologi ini juga mampu mengambil data dari Gmail, mencari informasi tertentu, lalu menjalankan tindakan lanjutan tanpa perlu banyak interaksi manual dari pengguna.

    Perubahan ini menunjukkan bahwa sistem operasi modern mulai bergerak menuju konsep AI-native system, dimana kecerdasan buatan menjadi inti utama pengalaman penggunaan perangkat.

    Jika sebelumnya pengguna membuka aplikasi satu persatu untuk menjalankan tugas, kini AI mulai bertindak sebgai ‘penghubung pintar’ yang memahami tujuan pengguna dan menyelesaikan proses secara otomatis.

    Inovasi kecerdasan buatan ini tetap memberikan jaminan bahwa kendali penuh tetap berada di tangan pengguna.

    Gemini diprogram untuk hanya beroperasi berdasarkan komando yang diberikan dan akan berhenti sesaat setelah tugas tersebut diselesaikan, dan untuk menjamin keamanan transaksi atau tindakan, eksekusi terakhir akan selalu membutuhkan konfirmasi final dari pengguna.

    Chrome, sebagai aplikasi peramban andalan Google juga kebagian. Mulai akhir Juni 2026, pengguna Chrome di perangkat Android akan mengalami peningkatan signifikan dalam pengalaman menelusuri internet dengan hadirnya asisten penelusuran yang lebih cerdas, yakni integrasi Gemini di dalam Chrome.

    Fungsi utama Gemini di Chrome dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan riset pengguna secara jauh lebih efisien. 

    Hal ini tentu sangat memudahkan pengguna dalam mencerna informasi yang kompleks dan padat, tanpa harus membuang waktu membaca banyak halaman secara manual.

    Perubahan ini berpotensi membuat penggunaan perangkat menjadi jauh lebih praktis dan personal.

    Aktivitas sehari-hari seperti mengatur jadwal, mencari dokumen, membuat reservasi, hingga berbelanja dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan AI yang terintegrasi langsung ke sistem perangkat.

    Di sisi lain, perkembangan ini juga menandai era baru komputasi, di mana perangkat digital tidak lagi hanya menjalankan aplikasi, tetapi mulai memahami dan membantu aktivitas manusia secara lebih aktif.

  • HP Android Lama Terancam Tak Kebagian Gemini Intelligence

    HP Android Lama Terancam Tak Kebagian Gemini Intelligence

    Telko.id – Google menetapkan spesifikasi yang cukup tinggi untuk perangkat Android yang ingin menjalankan fitur AI terbaru mereka, Gemini Intelligence.

    Teknologi ini memang menjanjikan pengalaman AI yang jauh lebih canggih dan proaktif, namun di sisi lain membuat banyak smartphone lama berpotensi tidak kebagian fitur tersebut.

    Berdasarkan catatan kaki yang tertera di halaman web Gemini Intelligence, terungkap bahwa fitur-fitur eksklusif ini membutuhkan spesifikasi perangkat keras dan lunak yang tidak main-main.

    Melansir dari Detik inet, agar sebuah smartphone Android dapat menjalankan Gemini Intelligence, Google menetapkan sejumlah syarat minimum, yang tergolong berat, di antaranya:

    • Ditenagai oleh chipset kelas flagship.
    • Memiliki kapasitas RAM minimal 12GB.
    • Mendukung AI Core dan Gemini Nano v3 (atau versi yang lebih tinggi).
    • Jaminan pembaruan: Produsen harus menjamin minimal 5 kali peningkatan OS Android dan 6 tahun pembaruan keamanan kuartalan.
    • Memenuhi standar kualitas tertentu terkait tingkat crash dan aspek stabilitas perangkat lainnya.

    Indikator paling menentukan dari daftar tersebut adalah kewajiban dukungan Nano v3. Berdasarkan halaman developer Google, dukungan Nano v3 saat ini sebagian besar hanya menyasar ponsel yang diluncurkan pada tahun 2026 dan akhir 2025.

    Baca Juga:

    Beberapa perangkat yang masuk radar dukungan ini antara lain seri Pixel 10 dan seri Samsung Galaxy S26.

    Ironisnya, perangkat premium yang lebih tua sedikit seperti Pixel 9 dan Galaxy Z Fold 7 tampaknya belum memenuhi kriteria tersebut.

    Meski begitu, ada catatan penting bahwa halaman pengembang Google saat ini masih merujuk pada dukungan API, bukan ketersediaan model Nano v3 itu sendiri.

    Hal ini menyisakan secercah harapan bahwa fitur ini bisa saja ditambahkan melalui pembaruan OS di masa mendatang.

    Syarat tersebut menunjukkan bahwa Gemini Intelligence bukan sekedar fitur AI biasa.

    Google memang sedang mengubah Android menjadi sistem yang lebih berbasis AI Agent, dimana AI dapat memahami konteks layar, berpindah antar aplikasi, hingga menjalankan tugas kompleks secara otomatis tanpa banyak interaksi manual dari pengguna.

    Di luar urusan spesifikasi yang berat, Gemini Intelligence memang menjanjikan lompatan fungsionalitas yang luar biasa.

    Mengusung konsep mengubah smartphone dari sekedar ‘sistem operasi’ menjadi ‘sistem intelijen’ ini membawa sejumlah fitur menarik, seperti:

    Rambler, fitur ini mampu merapikan dikte suara yang kacau atau berantakan menjadi teks tertulis yang terstruktur dengan baik, bahkan jika pengguna mencampuradukkan bahasa saat berbicara.

    Isi formulir cerdas, AI dapat membaca informasi dari foto yang tersimpan di ponsel. Misalnya Gemini bisa otomatis mengisi detail penerbangan Anda hanya dengan memindai foto paspor di galeri, tanpa perlu mengetik manual.

    Vibe Code, kemampuan untuk menciptakan widget kustom secara instan yang disesuaikan dengan fitur atau informasi apapun yang sedang dibutuhkan pengguna.

    Fitur-fitur ini akan dijadwalkan debut pertama kali pada perangkat Pixel dan Samsung Galaxy di akhir tahun 2026.

    Kehadiran syarat hardware yang tinggi ini juga memperlihatkan arah baru industri smartphone.

    AI kini mulai menjadi inti utama pengalaman perangkat, sehingga kapasitas RAM besar dan chip AI khusus semakin dibutuhkan untuk menjalankan Proses AI langsung di perangkat (on-device AI) tanpa bergantung penuh ke cloud.

    Kondisi ini bisa membuat siklus upgrade smartphone menjadi lebih cepat. Jika sebelumnya HP flagship bisa bertahan nyaman selama bertahun-tahun, era AI generatif kemungkinan akan membuat perangkat dengan spesifikasi lama lebih cepat tertinggal karena keterbatasan kemampuan pemrosesan AI.

  • Konten AI Kini Bisa Ditandai, ChatGPT dan Nvidia Ikut Pakai

    Konten AI Kini Bisa Ditandai, ChatGPT dan Nvidia Ikut Pakai

    Telko.id – Persaingan industri AI memasuki fase baru setelah OpenAI dan Nvidia resmi mengadopsi teknologi watermark AI milik Google bernama SynthID.

    Melansir dari SindoNews, langkah ini dilakukan untuk membantu pengguna membedakan konten asli dengan konten yang dihasilkan kecerdasan buatan, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran gambar, video, dan audio AI yang semakin sulit dikenali.

    Penggunaan SynthID yang diperluas, yang diperkenalkan sejak tahun 2023, akan memungkinkan sistem AI Google termasuk Gemini untuk lebih mudah mendeteksi konten gambar, video, dan audio generatif yang dihasilkan AI.

    Fitur deteksi dapat diakses oleh pengguna melalui aplikasi Gemini, fungsi Circle to Search, dan integrasi di browser web Google Chrome.

    Melalui kerja sama ini, OpenAI akan mulai menerapkan SynthID pada gambar yang dihasilkan lewat ChatGPT dan API mereka, sementara NVIDIA mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam model AI Cosmos miliknya.

    Baca Juga:

    Selain OpenAI dan Nvidia, beberapa perusahaan lain seperti ElevenLabs dan Kakao juga ikut mendukung penggunaan SynthID sebagai standar identifikasi konten AI lintas platform.

    Google juga memperluas kemampuan verifikasi AI melalui dukungan standar C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity).

    Teknologi ini bekerja dengan metadata dan tanda kriptografi untuk menunjukkan asal-usul sebuah konten digital, termasuk apakah konten tersebut pernah dimodifikasi AI.

    Fitur verifikasi ini mulai tersedia di aplikasi Gemini dan nantinya akan diperluas ke Google Search serta browser Chrome.

    Selain software, Google turut membawa dukungan C2PA ke perangkat keras.

    Seri smartphone Pixel terbaru disebut akan menjadi salah satu perangkat pertama yang mendukung standar tersebut secara native, termasuk kemampuan menambahkan informasi metadata AI langsung pada foto dan video yang direkam pengguna.Dalam pengembangan perangkat keras, seri ponsel pintar Pixel 10 akan menjadi salah satu perangkat pertama yang mendukung standar C2PA secara native.

    Google juga berencana untuk memperbarui perangkat Pixel 8 dan Pixel 9 dalam waktu dekat sehingga informasi metadata C2PA dapat secara otomatis disertakan dalam konten video yang direkam.

    Kolaborasi lintas perusahaan ini menunjukkan bahwa industri AI mulai bergerak menuju sistem verifikasi bersama untuk menghadapi era konten sintetis.

    Seiring kualitas AI generatif yang semakin realistis, keberadaan watermark dan sistem identifikasi seperti SynthID dipandang penting untuk membantu menjaga kepercayaan pengguna terhadap konten digital di internet.

  • Google Perluas Fungsi Gemini Lewat Teknologi AI Baru

    Google Perluas Fungsi Gemini Lewat Teknologi AI Baru

    Telko.id – Google resmi memperluas kemampuan Gemini melalui serangkaian teknologi AI terbaru yang diumumkan dalam ajang Google I/O 2026.

    Lewat pembaruan ini, Google mulai mengubah Gemini dari sekadar chatbot menjadi asisten digital pintar yang mampu bekerja secara lebih proaktif dan terintegrasi dengan aktivitas pengguna sehari-hari.

    Dalam presentasinya, Google memperkenalkan desain ulang aplikasi Gemini, model AI terbaru, hingga agen berbasis cloud bernama Gemini Spark yang diklaim mampu bekerja 24 jam bahkan saat perangkat pengguna tidak aktif.

    Google menyebutkan bahwa Gemini kini telah digunakan oleh lebih dari 900 juta pengguna aktif bulanan di 230 negara dan mendukung lebih dari 70 bahasa, dan angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun lalu yang berada di kisaran 400 juta pengguna.

    Salah satu fitur paling menarik yang diumumkan menurut digitaltrends adalah Gemini Omni, model AI baru yang memiliki kemampuan multimodal lebih luas.

    Teknologi ini memungkinkan AI memahami dan menghasilkan berbagai format konten sekaligus, mulai dari teks, gambar, audio, hingga video dalam satu sistem terpadu.

    Gemini Omni bahkan disebut mampu membuat video sinematik dari kombinasi prompt teks, foto, maupun video, lengkap dengan efek visual otomatis dan avatar AI yang menyerupai pengguna.

    Baca Juga:

    Google menyatakan fitur Gemini Omni mulai diluncurkan secara global untuk pelanggan Google AI Plus, Pro, dan Ultra mulai Rabu, 20 Mei 2026.

    Selain itu, Google juga memperkenalkan Gemini Spark, agen AI berbasis cloud yang dirancang untuk tetap bekerja meski laptop ditutup atau ponsel dikunci.

    Google juga memperkenalkan Gemini Spark, agen AI berbasis cloud yang dirancang tetap aktif bekerja meski perangkat sedang tidak digunakan.

    Sistem ini dapat membantu berbagai aktivitas seperti memantau email penting, mendeteksi langganan tersembunyi dari laporan kartu kredit, hingga merangkum catatan rapat menjadi dokumen dan draft email secara otomatis.

    Untuk tindakan sensitif seperti pembayaran atau pengiriman email, AI tetap meminta persetujuan pengguna sebelum menjalankan tugas tersebut.

    Selain itu, Google menghadirkan fitur seperti Daily Brief, yang memanfaatkan data Gmail dan Kalender untuk membuat ringkasan aktivitas harian secara otomatis.

    Gemini juga mulai diperluas ke lebih banyak perangkat dan layanan Google, termasuk Android, Search, Workspace, hingga macOS.

    Di Android sendiri, Google memperkenalkan konsep Gemini Intelligence, yang memungkinkan AI menjalankan tugas lintas aplikasi dan memahami konteks penggunaan perangkat secara real-time.

    Selain pengembangan Gemini, Google juga mengumumkan kehadiran agen AI pada Google Search, memperkenalkan Pomelli untuk membantu pembangunan merek, serta memamerkan Wear OS 7 generasi terbaru.

    Melalui pembaruan itu, Google menegaskan arah baru pengembangan Gemini sebagai asisten digital berbasis AI yang mampu membantu aktivitas pengguna secara lebih otomatis dan berkelanjutan.

    Perkembangan ini berpotensi membuat interaksi dengan teknologi menjadi lebih praktis dan personal.

    AI nantinya tidak hanya merespons perintah, tetapi juga dapat memahami konteks aktivitas pengguna, mengingat kebutuhan tertentu, hingga membantu menyelesaikan tugas tanpa harus diperintah secara detail setiap saat.

  • Google Perkenalkan Gemini Omni, AI Multimodal Baru

    Google Perkenalkan Gemini Omni, AI Multimodal Baru

    Telko.id – Google kembali mengembangkan lini kecerdasan buatannya lewat kemunculan Gemini Omni, model AI baru yang disebut membawa kemampuan multimodal lebih luas dibanding generasi sebelumnya.

    Kehadiran model ini menunjukkan arah pengembangan AI Google yang tidak lagi hanya fokus pada teks, tetapi juga mampu memahami berbagai jenis input sekaligus seperti gambar, suara, video, hingga konteks interaksi secara real-time.

    Dalam pengumuman resminya, Google menyebut Gemini Omni sebagai model yang dapat menciptakan apa pun dari berbagai jenis input, dengan fokus awal pada pembuatan video.

    Sistem ini memungkinkan pengguna menggabungkan berbagai sumber media sekaligus untuk menghasilkan video yang tetap memahami konteks dunia nyata berkat basis pengetahuan Gemini.

    Versi pertama yang diperkenalkan adalah Gemini Omni Flash.

    Model tersebut dirancang untuk menghasilkan video dan audio secara simultan dengan pendekatan yang lebih cepat dan responsif.

    Baca Juga:

    Tidak hanya membuat video dari prompt teks, Omni Flash juga dapat menggunakan foto, potongan video, maupun rekaman audio sebagai bahan dasar pembuatan konten baru.

    Gemini Omni diperkirakan menjadi pengembangan lanjutan dari ekosistem Gemini yang sebelumnya sudah digunakan di berbagai layanan Google seperti Search, Android, Workspace, hingga Google Cloud.

    Model ini disebut memiliki kemampuan respons yang lebih cepat dan lebih adaptif untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pencarian informasi, analisis visual, hingga interaksi berbasis suara secara real-time.

    Google menjelaskan bahwa Gemini Omni juga mendukung conversational editing. Pengguna dapat mengedit video melalui percakapan alami dengan AI tanpa harus menggunakan timeline editing tradisional seperti pada software video editor konvensional.

    Berbeda dari model Veo yang lebih berfokus pada text-to-video, Gemini Omni disebut memiliki pemahaman multimodal lebih luas karena dilatih menggunakan data dan kemampuan reasoning Gemini.

    Pendekatan ini memungkinkan sistem memahami konteks visual, suara, serta hubungan antar objek secara lebih kompleks.

    Menurut Google DeepMind, Gemini Omni Flash saat ini mampu menghasilkan video berdurasi hingga sekitar 10 detik. Namun, Google menyatakan durasi tersebut akan terus ditingkatkan pada pengembangan berikutnya.

    Bagi pengguna, kehadiran Gemini Omni berpotensi membuat penggunaan AI menjadi lebih praktis dan intuitif.

    Pengguna tidak lagi harus mengetik semua instruksi secara manual, tetapi bisa berinteraksi menggunakan kombinasi suara, gambar, maupun video sesuai kebutuhan.

    Hal ini juga membuka peluang integrasi AI yang lebih luas di smartphone, wearable device, hingga perangkat rumah pintar di masa depan.

  • Google Batasi Gemini Intelligence untuk Android Premium

    Google Batasi Gemini Intelligence untuk Android Premium

    Telko.id – Google dikabarkan akan membatasi fitur Gemini Intelligence hanya untuk perangkat Android kelas premium.

    Kebijakan ini menunjukkan bahwa kemampuan AI generatif tingkat lanjut membutuhkan spesifikasi hardware yang jauh lebih tinggi dibanding fitur smartphone biasa.

    Dilaporkan Gsm Arena, Minggu (17/5) waktu setempat, fitur-fitur Gemini Intelligence tersebut kemungkinan akan debut di Samsung Galaxy Z Fold8 dan Samsung Galaxy Z Flip8 yang akan datang.

    Google baru saja mengumumkan Gemini Intelligence dengan serangkaian fitur AI canggih yang mampu mengotomatiskan tugas multilangkah dan menjalankannya sepenuhnya di latar belakang secara mandiri.

    Gemini Intelligence dapat mencari dan mengolah informasi, serta berinteraksi dengan berbagai aplikasi dan situs web atas nama pengguna.

    Baca Juga:

    Secara teknologi, Gemini Intelligence merupakan sistem AI yang terintegrasi langsung ke perangkat dan mampu menjalankan berbagai fungsi pintar seperti ringkasan otomatis, pemrosesan gambar, bantuan penulisan, hingga interaksi berbasis konteks secara real-time.

    Untuk menjalankan fitur tersebut dengan lancar, perangkat membutuhkan kombinasi CPU, GPU, dan terutama NPU (Neural Processing Unit) yang lebih kuat.

    Google disebut memprioritaskan perangkat flagship karena model AI modern memerlukan kapasitas RAM besar, bandwidth memori tinggi, serta kemampuan pemrosesan AI on-device yang stabil.

    Tanpa hardware yang memadai, fitur AI bisa berjalan lambat, boros baterai, atau menghasilkan pengalaman yang tidak optimal.

    Google juga mengonfirmasi bahwa seri Samsung Galaxy S26 serta Google Pixel 10 akan mendapatkan Gemini Intelligence pada musim panas tahun ini.

    Catatan di situs resmi Android menyebutkan Gemini Intelligence sebagai fitur premium dan eksklusif.

    Salah satu syarat utama perangkat yang mendukungnya adalah memiliki RAM minimal 12GB, yang mengindikasikan model AI tersebut membutuhkan performa tinggi untuk dijalankan langsung di perangkat.

    Selain itu, perangkat juga wajib mendukung AICore, layanan sistem Android yang menyediakan API untuk menjalankan tugas AI menggunakan model Gemini Nano di perangkat.

    Gemini Intelligence secara khusus membutuhkan Gemini Nano versi 3 atau lebih baru, sementara saat ini baru sedikit perangkat yang mendukung teknologi tersebut.

    Google juga menetapkan sejumlah persyaratan tambahan, seperti penggunaan chipset flagship, lolos pengujian kualitas tertentu, serta memiliki tingkat crash yang rendah saat digunakan di lapangan.

    Di sisi lain, keputusan ini juga menunjukkan adanya kesenjangan baru di ekosistem Android.

    Jika sebelumnya fitur utama Android relatif tersedia di banyak kelas perangkat, kini fitur AI generatif justru mulai eksklusif untuk ponsel tertentu yang memiliki hardware khusus AI.

    Bagi pengguna flagship, kehadiran Gemini Intelligence dapat menghadirkan pengalaman penggunaan yang lebih personal dan efisien.

    Namun bagi pengguna ponsel menengah dan entry-level, pembatasan ini berpotensi membuat fitur AI terbaru tidak bisa dinikmati secara penuh.

    Secara keseluruhan, langkah Google memperlihatkan bahwa era smartphone AI kini mulai bergeser ke arah “AI-first device”, di mana kemampuan AI menjadi inti utama dari pengalaman penggunaan perangkat modern.

  • Google Cloud Hadirkan AI untuk Bantu Produksi Konten

    Google Cloud Hadirkan AI untuk Bantu Produksi Konten

    Telko.id – Google Cloud menghadirkan teknologi AI generatif untuk membantu kreator profesional dalam proses produksi konten, melalui kolaborasi dengan perusahaan media hiburan.

    “Sejak dulu, manusia adalah pencerita, dan teknologi memberi cara baru untuk membagikan pandangan dan pengalaman dengan dampak yang lebih besar,” ujar Managing Director Southeast Asia, Google Cloud Mark Micallef, melansir dari Antara.

    Inisiatif ini bertujuan mengurangi pekerjaan teknis yang berulang, sehingga tim kreatif dapat lebih fokus pada pengembangan ide, cerita, dan kualitas produksi.

    Pusat dari inovasi ini adalah platform VidioGen, yang dikembangkan oleh Emtek Group dengan memanfaatkan teknologi Google Cloud seperti Gemini, Veo, dan Imagen.

    Baca Juga:

    Platform ini menyediakan berbagai alat berbasis AI yang dapat mempercepat proses produksi, mulai dari pengembangan konsep visual hingga penyempurnaan hasil akhir.

    Dengan pendekatan ini, proses kreatif yang biasanya memakan waktu lama kini bisa dilakukan lebih cepat dan fleksibel.

    Teknologi AI yang digunakan mampu melakukan berbagai tugas kompleks dalam produksi konten.

    VidioGen menyediakan berbagai alat bantu AI bagi produser dan tim produksi.

    Alat ini memungkinkan seniman dan sinematografer memperluas bingkai gambar di luar batas aslinya, misalnya mengubah close-up menjadi tampilan panorama.

    Veo dan Imagen digunakan untuk menciptakan elemen visual yang tetap selaras, termasuk bagian latar depan dan tengah, yang sebelumnya sulit diwujudkan karena keterbatasan fisik maupun anggaran.

    Teknologi AI ini juga memungkinkan tim visual effect melakukan perubahan detail secara cepat pada tekstur, properti, maupun pencahayaan di dalam bingkai yang sudah ada, sehingga mengurangi kebutuhan menggambar ulang atau pengambilan gambar ulang.

    Gemini 3 Pro Image dapat digunakan, misalnya, untuk menyesuaikan kostum karakter sesuai kebutuhan cerita.

    Kemampuan long-context AI Google juga dimanfaatkan untuk mencegah visual drift atau perubahan tampilan yang tidak konsisten antar-adegan, sehingga hasil yang dibantu AI tetap tetap selaras dengan alur cerita dan gaya visual yang dirancang manusia.

    “Kami percaya masa depan industri konten akan dibangun melalui kolaborasi antara kreator dan AI yang membuka banyak kemungkinan baru, dengan New Keluarga Somat sebagai contoh awal. Bersama Google Cloud, kami akan terus mengembangkan VidioGen dan inisiatif ‘Studio of the Future’, dan tetap menempatkan kreativitas manusia serta keaslian budaya sebagai inti dari cerita Indonesia,” ujar Managing Director Emtek Group Sutanto Hartono.

  • Apple Gandeng Google, Siri Siap Naik Level di Update Selanjutnya

    Apple Gandeng Google, Siri Siap Naik Level di Update Selanjutnya

    Telko.id – Apple dikabarkan tengah menyiapkan lompatan besar untuk Siri dengan dukungan teknologi AI Gemini milik Google, yang diproyeksikan hadir di iOS 27.

    Melansir dari Detik Inet, pernyataan tersebut disampaikan CEO Google Cloud, Thomas Kurian, dalam ajang Google Cloud Next 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat.

    Ia menegaskan bahwa Google menjadi “preferred cloud provider” untuk pengembangan generasi baru Apple Foundation Models berbasis Gemini.

    “Kami berkolaborasi dengan Apple sebagai preferred cloud provider untuk mengembangkan generasi berikutnya dari Apple Foundation Models berbasis teknologi Gemini. Model-model ini akan mendukung fitur-fitur Apple Intelligence di masa depan, termasuk Siri yang lebih personal yang akan hadir akhir tahun ini,” kata Kurian.

    Meski terdengar seperti pengumuman baru, Apple sebenarnya sudah lama memberi sinyal soal transformasi besar Siri.

    Perusahaan asal Cupertino itu berkali-kali menyebut peningkatan signifikan akan hadir pada 2026, meski tanpa tanggal pasti. Dengan konfirmasi dari Google, arah pengembangan Siri kini semakin jelas.

    Baca Juga:

    Siri generasi terbaru akan mengalami peningkatan signifikan dibanding versi saat ini. Dengan dukungan Gemini, asisten virtual ini diharapkan mampu memahami konteks percakapan lebih panjang, merespons lebih natural, serta memberikan jawaban yang lebih personal sesuai kebiasaan pengguna.

    Pengembangan ini merupakan bagian dari strategi besar Apple Intelligence, di mana Apple ingin menghadirkan AI yang tidak hanya pintar, tetapi juga tetap menjaga privasi pengguna.

    Untuk itu, sistemnya kemungkinan akan menggabungkan pemrosesan di perangkat (on-device) dan cloud melalui pendekatan seperti Private Cloud Compute.

    Pada Maret 2025, Apple menunda peluncuran dan hanya menyebut fitur tersebut akan hadir “in the coming year”. Hingga akhir 2025 dan awal 2026, Apple tetap mempertahankan target rilis di tahun ini tanpa tanggal pasti.

    Kolaborasi Apple dan Google dalam proyek ini juga menarik perhatian. Meski dikenal sebagai rival, keduanya kini saling melengkapi di era AI.

    Google menyediakan teknologi dan infrastruktur melalui Gemini, sementara Apple tetap memegang kendali pengalaman pengguna.

    Jika sesuai rencana, versi awal Siri baru ini akan diperkenalkan di ajang Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026, sebelum akhirnya dirilis bersama iOS 27.

    Pembaruan ini berpotensi menjadi salah satu upgrade terbesar Apple dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi upaya untuk mengejar ketertinggalan dari asisten AI lain yang lebih dulu berkembang.

  • Youtube Shorts Hadirkan Fitur Kloning Kreator Berbasis AI

    Youtube Shorts Hadirkan Fitur Kloning Kreator Berbasis AI

    Telko.id – YouTube mulai mendorong kreator untuk memanfaatkan teknologi AI dengan menghadirkan fitur yang memungkinkan mereka “mengkloning diri” secara digital. Fitur ini memungkinkan kreator membuat versi AI dari suara maupun wajah mereka, sehingga dapat digunakan untuk memproduksi konten secara lebih efisien.

    Langkah ini diambil di tengah upaya platform menyeimbangkan kehadiran fitur generatif dengan maraknya masalah konten tiruan. Perusahaan menyebut fitur ini memungkinkan pengguna membuat versi digital dari diri mereka sendiri yang disebut avatar.

    Avatar pintar ini nantinya bisa disisipkan ke dalam video Shorts yang sudah ada sebelumnya. Pengguna juga bebas memanfaatkannya untuk membuat sebuah klip video yang benar-benar baru dari awal.

    Secara teknologi, fitur ini memanfaatkan model AI generatif yang mampu meniru suara, ekspresi, hingga gaya komunikasi kreator. Dengan begitu, kreator bisa membuat video tanpa harus selalu tampil langsung di depan kamera, karena AI dapat membantu menyampaikan pesan atau narasi dengan karakter yang serupa.

    Cara membuat tiruan digital ini rupanya tidak semudah menekan satu tombol. Pengguna harus merekam video swafoto langsung untuk menangkap wajah dan suara mereka sambil mengikuti serangkaian instruksi dari sistem.

    Baca Juga:

    Agar hasilnya maksimal, perekaman wajib dilakukan di tempat dengan pencahayaan yang bagus dan lingkungan yang tenang. Perangkat ponsel juga harus dipegang sejajar dengan tinggi mata dan pastikan tidak ada orang lain di latar belakang.

    Setelah avatar selesai dibuat, pengguna bisa langsung memerintahkan sistem untuk membuat klip pendek berdasarkan teks. Klip hasil olahan kecerdasan buatan ini memiliki durasi maksimal hingga delapan detik.

    YouTube juga menekankan bahwa penggunaan teknologi ini tetap harus melalui izin dan kontrol penuh dari kreator. Artinya, proses kloning digital tidak bisa dilakukan sembarangan tanpa persetujuan, guna menghindari penyalahgunaan seperti deepfake atau pencurian identitas digital.

    Pengguna berhak menghapus avatar maupun video yang memuat tiruan tersebut kapan pun mereka mau. Jika tiruan digital ini dibiarkan menganggur selama tiga tahun berturut-turut, sistem akan menghapusnya secara otomatis.

    Semua video yang menggunakan avatar ini akan ditandai dengan jelas sebagai hasil buatan kecerdasan buatan. Penandaan ini mencakup tanda air visual serta label digital seperti SynthID dan C2PA, dikutip dari 9to5Google, Senin (13/4/2026).

    Ketersediaan fitur ini akan dilakukan secara bertahap dan belum bisa dinikmati oleh semua orang secara serentak. Syarat utamanya adalah kreator harus berusia minimal 18 tahun dan sudah memiliki saluran YouTube yang aktif.


  • Gemma 4 Resmi Rilis, Bisa Jalan di Smartphone

    Gemma 4 Resmi Rilis, Bisa Jalan di Smartphone

    Telko.id – Google resmi merilis Gemma 4 pada awal April 2026 ini. Generasi terbaru model AI terbuka (open model) yang dirancang agar bisa berjalan tidak hanya di pusat data, tetapi juga langsung di perangkat seperti smartphone.

    Langkah ini menandai perubahan besar dalam pendekatan AI, dari yang sebelumnya bergantung pada cloud menjadi AI yang bisa dijalankan langsung di perangkat pengguna (on-device).

    Dilansir dari laman perusahaan, Gemma 4 dirancang untuk menangani tugas yang lebih kompleks dibanding dengan generasi sebelumnya, khususnya dalam penalaran tingkat lanjut an alur kerja berbasis agen (agentic workflows). Model ini mampu melakukan perencanaan multi-langkah serta menjalankan instruksi secara lebih mandiri melalui integrasi dengan berbagai alat dan API.

    Kemampuan tersebut diperkuat dengan dukungan native untuk pemanggilan fungsi, keluaran terstruktur seperti JSON, hinga instruksi sistem yang memungkinkan pengembang membangun agen otonom berbasis AI.

    Secara teknologi, Gemma 4 dikembangkan oleh Google DeepMind sebagai bagian dari keluarga model ringan berbasis arsitektur yang juga digunakan pada Gemini.

    Model ini hadir dalam beberapa varian dengan ukuran berbeda, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan—mulai dari server hingga perangkat dengan spesifikasi lebih terbatas seperti laptop dan smartphone.

    Baca Juga:

    Terdapat 4 varian dari Gemma 4 yakni, Effective 2B (E2B), Effective 4B (E4B), 26B Mixture of Experts dan 31B Dense.

    Varian terbesar, 31B, disebut mampu menempatai posisi teratas dalam jajaran model terbuka global untuk ukuran kelasnya, bahkan mengungguli model lain yang memiliki parameter hingga 20 kali lebih besar.

    Sementara itu, model E2B dan E4B difokuskan untuk perangkat edge seperti smartphone dan perangkat IoT. Kedua model ini dirancang dengan konsumsi memori dan daya yang lebih rendah. Namun, tetap mendukung kemampuan multimodal, termasuk pemrosesan gambar, video dan audio secara langsung.

    Keunggulan utama Gemma 4 terletak pada efisiensinya. Model ini dirancang agar tetap mampu menjalankan tugas kompleks seperti penalaran, pembuatan kode, hingga pemrosesan bahasa alami, namun dengan kebutuhan komputasi yang lebih ringan dibanding model AI besar pada umumnya.

    Bahkan, dalam beberapa skenario, AI ini bisa berjalan tanpa koneksi internet, karena seluruh proses dilakukan langsung di perangkat.

    Selain itu, Gemma 4 juga membawa sejumlah peningkatan teknis seperti dukungan multi-bahasa lebih dari 140 bahasa, kemampuan memahami konteks panjang (hingga ratusan ribu token), serta dukungan multimodal yang memungkinkan pemrosesan teks, gambar, hingga audio.

    Hal ini membuatnya fleksibel untuk berbagai kebutuhan, mulai dari aplikasi chatbot, coding assistant, hingga agent AI yang lebih kompleks.