Kategori: Berita Google

  • Google Pindahkan Pengembangan Pixel Premium ke Vietnam Mulai 2026

    Google Pindahkan Pengembangan Pixel Premium ke Vietnam Mulai 2026

    Telko.id – Google dilaporkan tengah merencanakan perubahan strategis besar dalam rantai pasokan perangkat kerasnya.

    Menurut laporan terbaru dari Nikkei Asia, raksasa teknologi ini akan mulai memindahkan pengembangan dan produksi Google Pixel model premium ke Vietnam mulai tahun 2026.

    Langkah ini mencakup jajaran perangkat high-end, termasuk Pixel standar, Pixel Pro, dan Pixel Fold. Pergeseran ini menandai transisi signifikan dari ketergantungan Google terhadap China, yang selama ini memegang peranan sentral dalam pengembangan maupun perakitan perangkat tersebut.

    Namun, untuk seri entry-level seperti Pixel A, proses produksi dilaporkan masih akan tetap dilakukan di China untuk sementara waktu.

    Keputusan ini menunjukkan bahwa Google kini memperluas peran Vietnam lebih dari sekadar lokasi perakitan sederhana.

    Negara tersebut kini dipercaya untuk menangani tahapan paling krusial dalam siklus hidup produk smartphone, sebuah tanggung jawab yang sebelumnya didominasi oleh rantai pasokan di Tiongkok.

    Langkah ini juga dinilai sebagai upaya strategis untuk mengamankan stabilitas distribusi di tengah dinamika pasar global.

    Pergeseran ini tentu akan mengubah peta persaingan manufaktur teknologi di Asia. Dengan memindahkan lini produk premiumnya, Google tampaknya ingin membangun ekosistem yang lebih tangguh, mirip dengan bagaimana kompetitor mulai menjajaki inovasi baru seperti Ponsel Lipat Tiga yang membutuhkan presisi manufaktur tinggi.

    Vietnam Memegang Kendali New Product Introduction (NPI)

    Salah satu aspek paling penting dari transisi ini adalah pemindahan proses New Product Introduction (NPI) ke Vietnam. NPI merupakan tahap paling kritis dalam pembuatan smartphone baru.

    Proses ini mencakup pengujian desain, verifikasi kompatibilitas antar komponen, pengaturan lini produksi, hingga persiapan akhir sebelum ponsel masuk ke tahap produksi massal.

    Menangani NPI bukanlah tugas ringan. Fase ini membutuhkan keterlibatan ratusan insinyur ahli, peralatan pengujian canggih, serta koordinasi yang sangat ketat dengan para pemasok komponen.

    Dalam industri smartphone, kemampuan sebuah negara atau fasilitas untuk menangani NPI dianggap sebagai indikator kapabilitas manufaktur tingkat tinggi. Hal ini juga menandakan adanya kepercayaan jangka panjang dari perusahaan teknologi global terhadap ekosistem industri setempat.

    Sebelum adanya rencana ini, Google telah memindahkan sebagian pekerjaan perakitan Pixel ke Vietnam. Namun, pengembangan inti dan produksi tahap awal selalu tetap berada di China karena rantai pasokan di sana dinilai paling matang di dunia.

    Kini, dengan rencana baru di tahun 2026, Vietnam akan memikul tanggung jawab penuh untuk mengembangkan model Pixel premium dari nol, sebuah langkah maju yang signifikan bagi industri teknologi negara tersebut.

    Lini produksi smartphone Google Pixel

    Alasan di Balik Perubahan Strategi 2026

    Keputusan Google untuk memindahkan pusat produksi Google Pixel ini didorong oleh keyakinan yang semakin kuat terhadap ekosistem manufaktur Vietnam. Saat ini, Google sudah memproduksi beberapa ponsel Pixel kelas atas di sana serta melakukan proses verifikasi dan pengujian.

    Pengalaman positif ini membuka jalan untuk memindahkan seluruh proses pengembangan ke negara tersebut.

    Selain faktor kapabilitas, alasan utama lainnya adalah mitigasi risiko rantai pasokan. Bergantung terlalu berat pada satu negara, dalam hal ini China, dinilai berisiko di tengah ketegangan perdagangan global, perubahan kebijakan, atau potensi gangguan distribusi.

    Strategi diversifikasi ini juga terlihat pada kompetitor lain, di mana pengembangan produk seperti iPhone Lipat milik Apple juga mengalami penyesuaian strategi produksi untuk memastikan kelancaran pasokan.

    Dengan menyebarkan produksi ke berbagai negara, Google berharap dapat menciptakan rantai pasokan yang lebih stabil dan fleksibel. Hal ini penting untuk menjaga ketersediaan stok global, terutama untuk perangkat kompleks seperti Pixel Fold yang membutuhkan presisi tinggi, setara dengan kerumitan Desain Ponsel futuristik lainnya yang mulai bermunculan di pasar.

    Dampak Geopolitik dan Ekonomi

    Pergeseran ini memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar operasional Google. Bagi China, langkah ini merupakan sinyal bahwa perusahaan teknologi global secara perlahan mulai mengurangi ketergantungan mutlak pada sistem manufaktur mereka.

    Sebaliknya, bagi Vietnam, ini adalah kemenangan besar. Pengembangan smartphone kelas atas akan membawa investasi asing, menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi, dan memperkuat jaringan pemasok lokal.

    Secara global, langkah Google ini sejalan dengan tren besar di mana raksasa teknologi sedang membentuk ulang rantai pasokan mereka di seluruh Asia untuk menyeimbangkan risiko ekonomi dan politik.

    Vietnam kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat manufaktur teknologi utama di kawasan ini, bergerak naik dari sekadar perakit menjadi pengembang produk bernilai tinggi.

    Meskipun Google belum memberikan komentar resmi terkait laporan ini, jika rencana tersebut berjalan mulus, tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi sejarah smartphone Pixel.

    Vietnam berpotensi menjadi salah satu lokasi terpenting di dunia untuk pengembangan dan produksi perangkat seluler premium, membuka babak baru dalam lanskap manufaktur teknologi global. (Icha)

  • Google Translate Dukung Live Speech Translate via Headphone

    Google Translate Dukung Live Speech Translate via Headphone

    Telko.id – Google kembali memperluas kemampuan Translate dengan menghadirkan fitur live speech translation atau terjemahan percakapan langsung yang kini bisa digunakan di hampir semua jenis headphone. Fitur ini sebelumnya hanya tersedia di Pixel Buds, namun lewat pembaruan terbaru, Google membuka aksesnya untuk pengguna Android secara lebih luas.

    Mengutip dari Detik Inet, fitur live translation ini mulai digulirkan hari ini dalam versi beta. Pengguna hanya membutuhkan ponsel Android yang kompatibel dan aplikasi Google Translate, tanpa perlu perangkat audio khusus. Pendekatan ini berbeda dengan Apple yang mensyaratkan AirPods untuk menikmati fitur serupa di ekosistem iOS.

    Dengan dukungan lebih dari 70 bahasa, fitur terjemahan suara ke suara ini memungkinkan pengguna mendengar hasil terjemahan secara real-time melalui headphone apa pun yang terhubung ke ponsel Android.

    Pada tahap awal, fitur ini tersedia di Amerika Serikat, Meksiko, dan India, sebelum nantinya diperluas ke wilayah lain. Google juga memastikan fitur ini akan menyambangi aplikasi Translate di iOS pada tahun depan.

    Tak hanya live translation, Google juga meningkatkan kualitas terjemahan teks di Translate. Berkat integrasi Gemini, hasil terjemahan kini diklaim lebih akurat dalam menangani frasa non-literal seperti idiom, slang, atau ungkapan sehari-hari yang kerap sulit diterjemahkan secara harfiah. Contohnya, ungkapan seperti “stealing my thunder” kini bisa dipahami maknanya sesuai dengan konteks, bukan hanya sekedar terjemahan perkata.

    Baca juga:

    Pembaruan lainnya adalah perluasan fitur Practice, yang menjadi pendekatan Google Translate ke arah pembelajaran bahasa. Fitur ini mirip aplikasi belajar bahasa seperti Duolingo, namun langsung terintegrasi di Translate. Practice kini tersedia di 20 negara tambahan dengan dukungan lebih banyak bahasa.

    Practice memanfaatkan AI untuk menyusun sesi belajar yang disesuaikan dengan kemampuan pengguna. Materinya mencakup latihan kosakata, pemahaman mendengar, hingga evaluasi berbasis level kemampuan, sehingga pengalaman belajar terasa lebih personal.

    Untuk saat ini, peningkatan terjemahan teks sudah tersedia di AS, dan Meksiko, baik di Android, iOS maupun versi web Google Translate. Sementara itu, fitur Practice masih berstatus beta sehingga belum bisa diakses oleh semua pengguna.

  • Waze Uji Coba Fitur Lampu Lalu Lintas, Akhirnya Menyusul Google Maps?

    Waze Uji Coba Fitur Lampu Lalu Lintas, Akhirnya Menyusul Google Maps?

    Telko.id – Pernahkah Anda, saat menggunakan Waze, bertanya-tanya mengapa aplikasi navigasi yang begitu canggih dalam hal laporan pengguna ini tidak menampilkan simbol lampu lalu lintas yang sederhana? Sementara kompetitor utamanya, Google Maps, telah lama memamerkan fitur tersebut.

    Rupanya, penantian panjang pengguna setia Waze itu akan segera berakhir. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa fitur penampil lampu lalu lintas (traffic lights) akhirnya memasuki tahap uji coba terbatas.

    Fenomena ini menarik untuk dikulik. Waze, yang telah diakuisisi Google sejak 2013, seringkali menjadi laboratorium fitur crowdsourcing yang kemudian diadopsi oleh Google Maps.

    Namun, dalam hal visualisasi lampu lalu lintas, justru Waze yang tertinggal jauh. Fitur ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berkendara dengan Google Maps selama bertahun-tahun, membantu pengendara mempersiapkan diri menghadapi persimpangan.

    Keterlambatan integrasi fitur dasar ini di Waze sempat menjadi teka-teki, terutama mengingat keduanya berada di bawah payung perusahaan yang sama. Apakah ini soal prioritas pengembangan, kompleksitas integrasi data, atau sekadar strategi diferensiasi produk?

    Kini, kabar baiknya datang dari Israel. Waze secara resmi memulai pengujian fitur tampilan lampu lalu lintas di negara tersebut. Meski masih dalam tahap awal dan cakupannya terbatas, langkah ini adalah sinyal kuat bahwa fitur yang paling banyak diminta (most requested) itu sedang dalam perjalanan ke ponsel Anda.

    Ini bukan sekadar tambahan ikon di layar; ini tentang menyempurnakan ekosistem navigasi real-time yang menjadi DNA Waze. Lantas, seperti apa detailnya, dan kapan kita bisa menikmatinya?

    Uji Coba Terbatas : Tampilan Maksimal Tiga Lampu

    Menurut laporan dari sumber berbahasa Ibrani, uji coba fitur lampu lalu lintas di Waze saat ini benar-benar bersifat awal dan eksklusif untuk wilayah Israel.

    Yang menarik dari implementasi perdana ini adalah adanya batasan tampilan. Waze dikabarkan hanya akan menampilkan maksimal tiga lampu lalu lintas di depan ketika pengguna berada dalam mode navigasi aktif.

    Kebijakan ini diduga diambil untuk menjaga antarmuka pengguna (UI) tetap bersih, tidak terlalu penuh, dan fokus pada rute inti. Bayangkan jika setiap persimpangan sepanjang jalan tol ditandai dengan ikon lampu, layar bisa menjadi berantakan dan justru mengganggu konsentrasi berkendara.

    Namun, ada nuansa menarik lainnya. Jika Anda membuka aplikasi Waze tanpa mengaktifkan mode navigasi (hanya melihat peta), Anda akan melihat semua lampu lalu lintas di sekitar lokasi Anda.

    Perbedaan ini menunjukkan pendekatan yang cerdas: saat navigasi diaktifkan, yang utama adalah kejelasan instruksi belok; sedangkan dalam mode eksplorasi, kelengkapan informasi visual menjadi prioritas.

    Pendekatan “less is more” dalam mode navigasi ini patut diapresiasi, mengingat keselamatan berkendara harus diutamakan. Fitur ini sejalan dengan tren integrasi layanan navigasi, seperti yang pernah terjadi ketika Fitur Waze di Google Maps Hadir di 40 Negara, menunjukkan bagaimana platform saling meminjam kekuatan.

    Lampu Lalu Lintas: Fitur Kecil yang Berdampak Besar

    Mungkin ada yang menganggap remeh kehadiran ikon lampu merah, kuning, dan hijau di peta digital. Namun, dalam praktiknya, fitur ini memiliki nilai strategis yang tinggi.

    Bagi pengendara, mengetahui posisi persimpangan berikutnya membantu dalam persiapan mental dan fisik: kapan harus mengurangi kecepatan, kapan harus berpindah jalur, atau sekadar waspada terhadap kendaraan dari arah lain.

    Dalam konteks Waze yang terkenal dengan navigasi berbasis komunitas, kehadiran lampu lalu lintas bisa menjadi konteks tambahan yang sempurna untuk laporan pengguna.

    Misalnya, laporan “macet di depan” menjadi lebih informatif ketika diketahui bahwa penyebabnya adalah lampu merah yang panjang di persimpangan tertentu.

    Fitur ini juga menjadi pelengkap sempurna untuk sistem peringatan dini Waze lainnya. Seperti kita tahu, Waze telah menjadi primadona untuk menghindari kemacetan, terutama di momen-momen spesifik.

    Buktinya, Saat Ramadhan, Pengguna Waze Naik 44 Persen, menunjukkan betapa masyarakat bergantung pada aplikasi ini untuk navigasi yang efisien. Dengan tambahan data lampu lalu lintas, algoritma perhitungan waktu tempuh (ETA) Waze berpotensi menjadi lebih akurat, karena dapat mempertimbangkan pola berhenti dan jeda di persimpangan, bukan hanya berdasarkan kecepatan kendaraan dan volume lalu lintas.

    Kapan Roll Out Global? Prediksi dan Harapan

    Pertanyaan jutaan pengguna Waze di luar Israel tentu saja: kapan fitur ini akan tersedia secara global? Sayangnya, Waze belum memberikan timeline resmi. Pengujian terbatas di satu negara adalah fase yang wajar dalam pengembangan fitur besar.

    Tim developer perlu mengumpulkan data, memantau performa, dan menyesuaikan algoritma sebelum melakukan peluncuran bertahap ke negara lain. Namun, fakta bahwa uji coba telah dimulai adalah kabar yang sangat menggembirakan. “Wait probably won’t be much longer from this point on,” begitu kira-kira harapan yang terbangun.

    Peluncuran global mungkin akan mengikuti pola fitur-fitur Waze sebelumnya, yang seringkali dimulai di beberapa negara sebelum akhirnya tersedia di seluruh dunia.

    Kita bisa melihat pola serupa pada integrasi fitur-fitur Waze ke dalam Google Maps, seperti yang dibahas dalam artikel Fitur Waze di Google Maps Hadir di 40 Negara, Indonesia?.

    Prosesnya mungkin tidak instan, tetapi arahnya sudah jelas. Indonesia, dengan pengguna Waze yang loyal dan kondisi lalu lintas yang dinamis, memiliki peluang besar untuk termasuk dalam daftar negara penerima fitur ini pada fase selanjutnya.

    Menyempurnakan Ekosistem: Lebih dari Sekadar Lampu

    Kehadiran lampu lalu lintas di Waze bukanlah akhir dari evolusi. Ini justru membuka pintu untuk pengembangan fitur yang lebih cerdas dan kontekstual di masa depan.

    Bayangkan jika sistem ini nantinya terintegrasi dengan data waktu nyata tentang durasi lampu hijau atau merah, atau bahkan bisa memberikan saran lajur berdasarkan pola lampu.

    Atau, dalam skenario yang lebih maju, fitur ini bisa dikombinasikan dengan sistem peringatan “polisi di depan” yang legendaris di Waze, menciptakan peta bahaya dan titik perhatian yang lebih komprehensif untuk pengendara.

    Inovasi semacam ini akan semakin mengukuhkan posisi Waze sebagai aplikasi navigasi “by the people, for the people”. Dengan komunitas pengguna yang aktif melaporkan segala hal di jalan, dari kecelakaan, bahaya, hingga suara DJ Khaled yang memandu perjalanan, penambahan data infrastruktur statis seperti lampu lalu lintas adalah langkah logis berikutnya. Ini adalah konvergensi antara data crowdsourcing yang dinamis dengan data peta dasar yang akurat.

    Jadi, meski saat ini kita hanya bisa menyaksikan uji coba dari jauh, momentum ini patut disambut. Fitur lampu lalu lintas mungkin terlihat sebagai tambahan kecil, tetapi ia mewakili komitmen Waze untuk terus berinovasi dan mengejar ketertinggalan dari fitur-fitur praktis yang ditawarkan kompetitor.

    Bagi pengguna setia, ini adalah pengingat bahwa aplikasi favorit mereka terus mendengarkan masukan. Tinggal menunggu waktu saja hingga ikon lampu merah, kuning, dan hijau itu menghiasi layar kita, menyempurnakan setiap petualangan di jalan raya dengan satu lapis informasi tambahan yang sangat berarti. (Icha)

  • Meta Ungkap 5 Tren Digital & Sosial yang Bentuk Bisnis di 2026

    Meta Ungkap 5 Tren Digital & Sosial yang Bentuk Bisnis di 2026

    Telko.id – Meta memproyeksikan lima tren digital dan sosial yang akan berkembang pesat pada 2026 dan dapat dimanfaatkan bisnis untuk memperkuat hubungan dengan pelanggan.

    Tren ini mencakup kecerdasan buatan generatif (Gen AI), pesan bisnis berbasis agen AI, ekosistem kreator, video commerce imersif, serta perdagangan lintas batas dan ekonomi halal.

    Pieter Lydian, Country Director Meta untuk Indonesia, menyatakan transformasi digital di Indonesia berjalan sangat pesat.

    “Kami melihat bagaimana tren sosial serta teknologi seperti AI semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan pelaku bisnis. Meta berkomitmen untuk mendukung bisnis lokal agar dapat memanfaatkan tren digital dan sosial, bisa membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan dan memperluas pasar hingga ke tingkat global,” kata Pieter.

    Proyeksi ini didasari oleh posisi kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, sebagai pemimpin global dalam hal pengguna jejaring sosial. Dominasi platform seperti Facebook dan Instagram di kawasan ini diproyeksikan akan terus meningkat.

    Bagi bisnis, kemampuan mengikuti perubahan ini dinilai krusial untuk membangun koneksi yang kuat dengan pelanggan dan mengakselerasi pertumbuhan.

    Gen AI dan Otomatisasi Jadi Penghubung Utama

    Tren pertama yang diidentifikasi Meta adalah semakin kuatnya peran Generative AI (Gen AI) dan otomatisasi sebagai penghubung utama konsumen dengan dunia digital. Pada 2026, aktivitas pencarian dan pendalaman referensi akan semakin mengandalkan teknologi ini.

    Misalnya, ketika melihat suatu produk di postingan atau video, konsumen dapat langsung bertanya kepada asisten AI untuk mendapatkan riset produk, rekomendasi, hingga saran gaya secara instan.

    Adopsi teknologi ini di Indonesia sudah menunjukkan perkembangan nyata. Data Meta menunjukkan 79% Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia telah menggunakan AI pada platform digital.

    Pemanfaatan utamanya adalah untuk pemasaran produk baru (65%) dan berkomunikasi dengan pelanggan (61%). Ke depan, AI diharapkan dapat lebih membantu pelaku bisnis meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya secara signifikan. Upaya digitalisasi serupa juga didorong melalui program seperti Fasilitator Rumah BUMN Telkom Percepat Digitalisasi UMKM Binaan.

    Content image for article: Meta Ungkap 5 Tren Digital & Sosial yang Bentuk Bisnis di 2026

    Pesan Bisnis dan Pemanfaatan Agen AI

    Aplikasi pesan seperti WhatsApp, Instagram Direct Message (DM), dan Messenger telah berevolusi menjadi “toko” utama bagi bisnis. Pelanggan kini dapat bertanya, berkonsultasi, dan bertransaksi langsung dalam satu percakapan yang dibantu oleh Agen AI. Agen ini mampu menangani pertanyaan-pertanyaan mendasar dari pelanggan secara otomatis.

    Contoh penerapannya di Indonesia dapat dilihat pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menggunakan chatbot WhatsApp untuk layanan informasi keuangan.

    Implementasi ini dilaporkan menghasilkan peningkatan produktivitas sebesar empat kali lipat dan mampu menyelesaikan 80% pertanyaan melalui bot. Inovasi dalam produktivitas bisnis digital juga menjadi fokus dalam acara seperti iBox Ignite Summit 2025 Dorong Inovasi Produktivitas Digital Korporasi.

    Ekosistem Kreator yang Diperkuat AI

    Kreator konten telah menjadi saluran baru yang sangat berpengaruh dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Mereka membentuk cara orang menemukan, menilai, hingga membeli suatu produk.

    Kini, AI semakin memperkuat pengaruh kreator dengan membantu mereka membangun relevansi, melokalkan konten lebih cepat, memprediksi tren, dan mempersonalisasi rekomendasi.

    Salah satu contoh dampak kreator bagi bisnis adalah kemitraan afiliasi Facebook dengan Shopee di Asia Tenggara. Kemitraan ini memungkinkan kreator untuk menyematkan tautan produk Shopee langsung di konten mereka, sehingga dapat mengubah cerita menjadi penjualan secara real-time.

    Video dan Live Commerce yang Imersif

    Video disebut sebagai salah satu bahasa utama perdagangan digital saat ini. Format seperti Live Shopping dan video interaktif menjadi pendorong utama penjualan produk.

    Dukungan terhadap tren ini terlihat dari hampir 2 juta pengiklan yang kini menggunakan Generative AI untuk membuat materi iklan video yang lebih relevan dan variatif bagi audiens yang berbeda-beda.

    Meta tengah menguji cara baru bagi kreator untuk menambahkan tautan produk ke Instagram Reels dan mengakses program afiliasi mereka. Dengan fitur ini, penonton dapat membeli produk langsung dari konten video yang mereka tonton, mempersingkat journey pembelian.

    Perdagangan Lintas Batas dan Peluang Ekonomi Halal

    Kawasan Asia Pasifik kini menjadi pusat perdagangan lintas negara. Tren ini membuka peluang besar bagi ekonomi halal. Dengan infrastruktur digital yang semakin matang, berbagai merek lokal Indonesia, khususnya di sektor fashion, makanan, dan kosmetik halal, memiliki peluang besar untuk mengekspor produk ke pasar global Muslim.

    Di sisi lain, konsumen dalam negeri juga mendapatkan akses lebih mudah ke produk halal bersertifikat dari luar negeri, memperkaya ekosistem perdagangan syariah digital. Peluang ekspansi pasar ini sejalan dengan antusiasme yang terlihat pada tren wisata Asia 2026 yang juga menunjukkan dinamika kawasan.

    Untuk dapat unggul memanfaatkan kelima tren tersebut pada 2026, Meta memberikan sejumlah rekomendasi langkah strategis bagi pelaku bisnis.

    Langkah-langkah tersebut antara lain berinvestasi pada AI untuk meningkatkan journey pembelian konsumen, mengintegrasikan messaging sebagai saluran utama penjualan dan layanan, serta berkolaborasi dengan kreator melalui model afiliasi yang terukur.

    Selain itu, bisnis juga disarankan untuk memprioritaskan konten video imersif, seperti Live dan Reels, untuk penjualan produk secara masif di platform mobile.

    Langkah terakhir adalah memperluas jangkauan lintas batas dengan memanfaatkan data untuk mengidentifikasi pasar potensial baru. Penerapan strategi ini diharapkan dapat membantu bisnis, terutama di Indonesia, tetap kompetitif dan terhubung lebih baik dengan konsumen di era digital yang terus bergerak dinamis. (Icha)

  • Google Luncurkan Android Emergency Live Video untuk Darurat

    Google Luncurkan Android Emergency Live Video untuk Darurat

    Telko.id – Google secara resmi mengumumkan fitur keamanan baru bernama Android Emergency Live Video. Fitur ini memungkinkan pengguna berbagi video langsung (live video) dengan layanan darurat saat melakukan panggilan atau mengirim pesan teks darurat.

    Pengumuman ini menandai langkah signifikan dalam upaya meningkatkan respons darurat melalui perangkat mobile.

    Fitur yang diberi nama Android Emergency Live Video ini bekerja “dalam satu ketukan” (in a single tap). Mekanismenya sederhana: saat pengguna melakukan panggilan atau mengirim SMS darurat, petugas operator (dispatcher) dapat meminta akses video langsung dari ponsel pengguna.

    Pengguna kemudian dapat memulai streaming video secara aman hanya dengan sekali ketuk. Menurut Google, dalam situasi darurat setiap detik sangat berharga, sehingga kemudahan akses menjadi prioritas utama.

    Video yang dibagikan akan memberikan pandangan real-time kepada petugas respons darurat, memungkinkan mereka menilai situasi dengan cepat dan menentukan bantuan yang tepat.

    Selain itu, dengan melihat kondisi langsung, petugas dapat membimbing pengguna melalui langkah-langkah penyelamatan jiwa, seperti prosedur CPR (Cardiopulmonary Resuscitation), hingga bantuan tiba di lokasi.

    Google menekankan bahwa fitur ini tidak memerlukan penyiapan (setup) sebelumnya dan dienkripsi secara default untuk menjaga privasi. Kendali penuh ada di tangan pengguna; mereka yang memutuskan apakah akan berbagi video dan kapan menghentikan streaming.

    “Kami bekerja sama erat dengan organisasi keselamatan publik di seluruh dunia untuk memperluas fitur ini ke lebih banyak wilayah di masa depan,” ujar pernyataan resmi Google, seperti dilaporkan GSMArena.

    Untuk saat ini, Android Emergency Live Video mulai diluncurkan di Amerika Serikat serta “wilayah terpilih” di Jerman dan Meksiko. Fitur ini tersedia untuk ponsel Android yang menjalankan sistem operasi Android 8 (Oreo) dan versi lebih baru, serta memiliki Google Play Services terbaru.

    Peluncuran bertahap ini menunjukkan komitmen Google dalam menguji dan mengadaptasi teknologi sesuai dengan regulasi dan infrastruktur darurat di setiap negara.

    Kehadiran fitur seperti Android Emergency Live Video sejalan dengan tren perangkat mobile yang semakin terintegrasi dengan kebutuhan keselamatan pengguna. Inovasi serupa juga dapat ditemukan pada perangkat seperti 70Mai Dash Cam Pro Plus, yang berfungsi sebagai alat perekam dan pengaman di kendaraan.

    Pengembangan fitur darurat berbasis video ini diprediksi akan menjadi standar baru dalam ekosistem Android. Integrasi yang mulus antara perangkat keras, sistem operasi, dan layanan darurat lokal menjadi kunci keberhasilannya.

    Ekspansi ke lebih banyak negara akan sangat bergantung pada kolaborasi Google dengan otoritas dan penyedia layanan darurat setempat.

    Dengan diluncurkannya Android Emergency Live Video, Google tidak hanya menambah fitur pada sistem operasinya, tetapi juga berpotensi meningkatkan efektivitas respons dalam situasi kritis.

    Inisiatif ini menunjukkan bagaimana teknologi mobile dapat dimanfaatkan untuk tujuan sosial yang lebih luas, melampaui fungsi komunikasi dan hiburan sehari-hari. (Icha)

  • Google Perbarui Editor Video, Fitur Baru untuk Android dan iOS

    Google Perbarui Editor Video, Fitur Baru untuk Android dan iOS

    Telko.id – Google secara resmi mulai merilis seperangkat alat pembuatan dan penyuntingan video baru untuk aplikasi Photos di platform Android dan iOS.

    Pembaruan ini membawa kemampuan pembuatan video highlight menggunakan template, editor video yang direvitalisasi, serta pemilih soundtrack yang lebih mudah digunakan bagi semua pengguna.

    Dalam pengumumannya, Google menyatakan bahwa pengguna Android kini dapat membuat video highlight dengan memanfaatkan template yang telah disediakan langsung di dalam aplikasi Photos.

    Template-template ini dilengkapi dengan musik, teks, dan potongan transisi yang telah diatur. Pengguna hanya perlu memilih foto dan video dari galeri, lalu aplikasi akan secara otomatis menyusunnya menjadi sebuah video highlight yang siap dibagikan.

    Selain itu, Google juga meluncurkan editor video yang telah diperbarui untuk kedua platform, Android dan iOS.

    Editor baru ini memberikan kendali lebih besar kepada pengguna dalam mengolah video highlight melalui antarmuka timeline universal dan kemampuan penyuntingan multi-klip.

    Fitur ini memungkinkan pengguna untuk dengan mudah memotong, menggabungkan, dan mengatur urutan beberapa klip dalam satu proyek video.

    Google Photos gets new video editing tools on Android and iOS

    Pembaruan signifikan lainnya adalah kehadiran pemilih soundtrack (soundtrack picker) yang dipermudah. Baik pengguna Android maupun iOS kini mendapatkan akses ke library musik yang telah dikategorikan di dalam Photos.

    Kategori-kategori ini dirancang untuk membantu pengguna menemukan musik yang sesuai dengan nuansa dan durasi klip video mereka dengan lebih cepat.

    Khusus untuk pengguna Android, Google menambahkan opsi untuk memperkaya video highlight dengan overlay teks. Pengguna dapat memilih dari berbagai pilihan font, gaya, dan warna teks yang tersedia, menawarkan personalisasi yang lebih luas untuk video mereka.

    Editor video yang telah direvitalisasi ini kini menjadi pengalaman default di aplikasi Photos Android, menyediakan akses cepat ke alat edit, overlay teks, dan integrasi musik langsung di dalam aplikasi.

    Rilis fitur-fitur baru ini menunjukkan komitmen Google dalam menyempurnakan ekosistem kreatif pengguna ponsel pintar melalui aplikasi Photos.

    Dengan semakin banyaknya pengguna yang membuat dan berbagi konten video, penyediaan alat edit yang powerful dan mudah diakses menjadi semakin krusial.

    Pembaruan ini juga menempatkan aplikasi Photos sebagai pesaing yang lebih serius di ranah penyuntingan video mobile dasar.

    Kehadiran timeline universal dan editing multi-klip, yang sebelumnya sering ditemukan di aplikasi editing khusus, kini diintegrasikan ke dalam aplikasi galeri default.

    Hal ini dapat mengurangi kebutuhan pengguna untuk mengunduh aplikasi pihak ketiga hanya untuk melakukan pengeditan video sederhana hingga menengah. Integrasi yang mulus antara galeri dan editor diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas pengguna.

    Google Photos gets new video editing tools on Android and iOS

    Fitur template otomatis untuk video highlight juga menjadi jawaban atas tren konten yang cepat dan menarik perhatian. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memilih momen-momen terbaik dan menyusunnya dengan musik serta transisi yang sesuai, Google Photos mempermudah pengguna awam untuk menghasilkan konten yang terlihat profesional tanpa kurva belajar yang curam.

    Pembaruan ini juga menarik untuk dilihat dalam konteks persaingan fitur kreatif di antara vendor smartphone. Beberapa produsen, seperti Samsung, telah lama mengintegrasikan fitur AI canggih untuk fotografi dan videografi dalam perangkat mereka, seperti yang bisa dilihat pada Try Galaxy terbaru yang memamerkan kemampuan AI di Galaxy S25 Series.

    Dengan pembaruan di aplikasi Photos, Google memperkuat sisi software untuk pengguna Android secara luas, terlepas dari merek ponsel yang mereka gunakan.

    Di sisi lain, meski fitur editing video semakin canggih, beberapa pengguna mungkin masih mencari fungsi spesifik yang belum tersedia. Sebagai contoh, ada pertanyaan dari pengguna mengenai belum hadirnya opsi untuk mengubah video pendek menjadi GIF secara native di aplikasi, sebuah fitur yang bahkan pernah ada di perangkat lama beberapa tahun silam.

    Hal ini menunjukkan bahwa meski pembaruan besar telah dilakukan, ruang untuk pengembangan fitur berdasarkan masukan pengguna tetap terbuka lebar.

    Peningkatan kapabilitas editing video di aplikasi inti seperti Photos juga sejalan dengan kebutuhan perangkat dengan daya tahan baterai yang baik untuk aktivitas kreatif yang lebih intensif.

    Pengguna yang sering membuat dan mengedit video mungkin akan mempertimbangkan perangkat dengan kapasitas baterai besar, seperti Motorola Moto G67 POWER atau seri sebelumnya Moto G06 POWER, untuk mendukung sesi editing yang lebih lama tanpa khawatir kehabisan daya.

    Rolling out pembaruan ini dilakukan secara bertahap. Pengguna aplikasi Google Photos di Android dan iOS disarankan untuk memastikan aplikasi mereka telah diperbarui ke versi terbaru melalui Google Play Store atau Apple App Store untuk dapat segera menikmati semua fitur baru tersebut.

    Dengan langkah ini, Google terus mengembangkan Photos tidak hanya sebagai tempat penyimpanan kenangan, tetapi juga sebagai studio kreatif portabel di genggaman pengguna. (Icha)

  • CEO Google Cemas Kemajuan AI China Lampaui Amerika Serikat

    CEO Google Cemas Kemajuan AI China Lampaui Amerika Serikat

    Telko.id – CEO Google, Sundar Pichai, mengeluarkan peringatan keras bahwa Amerika Serikat (AS) berisiko kalah dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) global melawan China kecuali jika negara tersebut segera membenahi regulasinya. Ia menyatakan tumpang tindih aturan tingkat negara bagian di AS berisiko melumpuhkan inovasi.

    Pichai mengatakan menjamur lebih dari 1.000 rancangan undang-undang terkait AI yang sedang diproses diberbagai badan legislative negara bagian AS menciptakan labirin regulasi. Hal ini dapat memberikan keuntungan telak bagi China dalam perlombaan AI yang akan mendefinisikan abad ke-21.

    “Bagaimana Anda menghadapi beragam regulasi tersebut dan bagaimana Anda bersaing dengan negara seperti China yang bergerak cepat dalam teknologi ini? Saya pikir kita harus menemukan keseimbangan yang tepat,” cetus Pichai yang dikutip dari Fox News.

    Bos Google tersebut berpendapat AS harus menyeimbangkan antara mendorong inovasi dan memasang pengaman. Menurutnya, akan lebih baik dilakukan secara nasional daripada setiap negara bagian menyusun aturan yang saling bertentangan.

    Baca juga:

    Komentarnya muncul di momen kritis dalam perlombaan senjata AI global, di mana China menggelontorkan miliaran dolar untuk pengembangan AI. Di saat yang sama, negara-negara Barat bergulat dengan regulasi teknologi ini tanpa mematikan inovasi.

    Di sisi lain, Pichai menekankan pemerintah dan perusahaan teknologi harus bermitra untuk memperkuat pertahanan terhadap ancaman berbasis AI, serta menyerukan kerja sama internasional untuk mencegah teknologi ini dijadikan senjata. “Sebagian solusinya adalah kami sebagai perusahaan membuat produk kami lebih baik,” kata Pichai.

    Menurutnya, negara-negara harus bekerja sama untuk mengembangkan kerangka kerja sama internasional agar tidak menjadikan teknologi ini sebagai senjata untuk saling menyerang. Meski mengakui manfaat besarnya, ia memperingatkan AI dapat disalahgunakan dengan dampak yang menghancurkan oleh pelaku kejahatan, “Setiap teknologi memiliki dua sisi,” ujar Pichai.

    Google sudah mengerahkan AI secara defensif, menggunakannya untuk menghentikan penjahat yang mungkin mempersenjatai teknologi ini untuk penipuan dan peretasan. Alat SynthID yang dikembangkan oleh Google DeepMing, dapat mengidentifikasi gambar dan video yang dibuat oleh AI.

    Dia juga memberikan gambaran sekilas tentang proyek ambisius perusahaan bernama ‘Suncatcher’ untuk membangun pusat data AI bertenaga surya di luar angkasa guna menopang infrastruktur yang semakin haus energi.

    “Saya tidak ragu bahwa dalam satu dekade atau lebih, kita akan melihatnya sebagai cara yang lebih normal untuk membangun pusat data,” katanya.

    Saat ditanya apakah AI merusak pemikiran manusia, Pichai menyinggung kritik awal terhadap Google Search, “Sekitar 25 tahun lalu, orang menanyakan pertanyaan yang sama tentang Google Search. Saya pikir sebagai masyarakat kita akan beradaptasi, dan saya harap masa-masa kreatif kita akan jadi lebih kaya di masa depan,” katanya.

  • Gantikan ChromeOS, Google Siapkan AluminiumOS

    Gantikan ChromeOS, Google Siapkan AluminiumOS

    Telko.id – Google saat ini sedang menyiapkan sistem operasi baru untuk laptop dengan nama Aluminium Operating System atau ALOS. Aluminium OS disiapkan sebagai pengganti ChromeOS, sekaligus membuka jalan untuk membawa pengalaman Android ke ekosistem PC.

    Mengutip dari Kompas Tekno, nama kode Aluminium OS ini muncul sebagai perkembangan terbaru dari rencana Google untuk melebur ChromeOS dan Android. Jejaknya bisa ditemukan dari berbagai dokumen internal, laporan bug, hingga lowongan pekerjaan yang dipublikasikan Google.

    Bagi yang belum familiar, ChromeOS lahir dari peramban Chrome yang kemudian berkembang menjadi sistem operasi untuk laptop ringan yang banyak mengandalkan komputasi cloud.

    Sementara itu Android tumbuh menjadi OS lengkap untuk ponsel, tablet, TV hingga perangkat IoT. Kini, Google berencana menggabungkan keduanya dalam satu platform baru.

    Sebelumnya, di ajang Snapdragon Summit 2025 September lalu, Rick Osterloh selaku Senior Vice President Devices and Services Google, sudah mengonfirmasi langkah besar perusahaan yang akan menggabungkan ChromeOS dengan Android mulai 2026.

    Baca juga:

    Ketika itu, Google tak banyak merinci soal rencana tersebut. Jadi, kita tidak tahu soal codename, fitur baruna, dan detail lainnya.

    Petunjuk soal OS laptop baru hasil peleburan ChromeOS-Android makin jelas, salah satunya dari sebuah lowongan kerja Google berjudul Senio Product Manager, Android, Laptop and Tablets.

    Lowongan tersebut pertama kali ditemukan oleh tipster bernama Forst Core di Telegram.

    Dalam deskripsi lowongan kerja itu tertulis jelas bahwa kandidat akan bertugas mengembangkan ‘Aluminium, Android-based operating system’.

    Jadi, ini secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa Aluminium adalah codename (nama sementara/internal) untuk platform laptop baru yang menyatukan Android dan ChromeOS.

    Menurut analisis dari media teknologi Android Autrhority, Google sengaja memilih ‘Aluminium’ karena kata ini memiliki awalan ‘AL’. Bisa jadi menekankan bahwa OS ini memang dirancang untuk Android Laptop (AL).

    Atau bisa juga secara simbolik dan permainan kata untuk mengindikasikan unsur AI (Artificial Intelligence) yang akan menjadi inti didalamnya.

    Jika diperhatikan lebih lanjut, Google juga memakai ejaan Inggris ‘Aluminium’, bukan ‘Aluminum’ seperti di Amerika. Penggunaan ‘Aluminium’ ini tampaknya sengaja untuk melanjutkan tradisi Google yang memakai nama logam berakhiran ‘-ium’.

    Sebelumnya, perusahaan asal Mountain View, California ini sudah menggunakan Chromium yang menjadai dasar ChromeOS. Jadi Aluminium kemungkinan dipilih agar terasa seperti ‘keluarga’ yang sama dengan ChromeOS, tapi dengan fondasi yang berbeda, yaitu Android.

  • Google Luncurkan Antigravity, Platform Coding AI Mandiri

    Google Luncurkan Antigravity, Platform Coding AI Mandiri

    Telko.id – Google telah meluncurkan sebuah platform yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman coding generasi terkini, yaitu Google Antigravity.

    Mulai 19 November 2025, Google Antigravity sudah tersedia dalam versi public preview gratis untuk pengguna Windows, macOS, dan Linux. Platform berbasis Gemini 3 ini memungkinkan agen AI bekerja secara mandiri untuk menulis kode, menjalankan perintah, mengoperasikan browser, hingga memberikan bukti transparan dari setiap langkah kerja yang dilakukan.

    Baca juga:

    Mengutip dari Kumparan, Google Antigravity adalah sebuah platform yang merupakan lingkungan development atau development environment berbasis AI yang dapat memberi akses langsung kepada agen untuk masuk ke editor, terminal, dan browser pengguna.

    The Verge mengungkapkan, Antigravity mampu menjalankan tugas kompleks dari awal sampai akhir secara mandiri, berbeda dari tool coding tradisional yang hanya memberi saran dalam bentuk teks.

    Konsep tersebut dikenal sebagai autonomous workflow execution, dimana AI bekerja dengan menjawab instruksi, sekaligus menyelesaikan pekerjaan seperti layanya developer.

    Fitur Utama Google Antigravity

    Antigravity membawa sejumlah teknologi baru yang membuatnya lebih unggul dibandingkan alat coding berbasis AI lainnya. Google menekankan bahwa platform ini bisa membantu developer menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan akurat.

    Berikut beberapa fitur yang ditawarkan oleh Google Antigravity:

    • Desain Berbasis Agen (Agent-First)

      Antigravity memposisikan agen AI sebagai pekerja utama, bukan sekedar sistem. Agen mampu merencanakan tugas, berkoodinasi satu sama lain, menulis kode, menjalankan operasi browser, dan menghasilkan laporan kerja.

      Pendekatan ini mengubah cara developer bekerja dengan AI, karena sebagian besar tugas bisa diselesaikan tanpa campur tangan manual.

      • Sistem Bukti Kerja yang Transparan

      Fitur paling signifikan dari Antigravity adalah Artifacts, yaitu Kumpulan bukti terstruktur untuk setiap tindakan yang dilakukan agen. Keberadaan Artifacts membuat proses auditing lebih mudah, karena developer dapat melihat bukti visual dan data asli dari setiap langkah kerja.

      Artifacts mencakup berbagai elemen seperti rencana kerja, ringkasan reasoning, perubahan kode, hasil pengujian, screengshot, hingga rekaman aktivitas di browser. Artifacts menawarkan bukti yang lebih mudah dipahami, tidak seperti log model biasa yang panjang dan sulit diverifikasi.

      • Editor View dan Manager View

      Antigravity menawarkan fleksibilitas kerja dengan dua mode tampilan berbeda. Editor View digunakan untuk pengalaman coding klasik dengan bantuan AI di samping layar.

      Kemudian ada Manager View, ditujukan bagi pengguna tingkat lanjut yang ingin mengatur beberapa agen bekerja parallel dalam satu waktu. Mode ini sangat berguna untuk proyek besar yang memerlukan manajemen multi-agen.

      • Kolaborasi dan Feedback Lebih Mudah Dipahami

      Pengguna dapat memberikan komentar langsung pada Artifacts. Artinya, feedback bisa diberikan tanpa menghentikan alur kerja agen.

      Agen akan memproses komentar tersebut dan menyesuaikan tindakan lanjut secara otomatis berdasarkan masukan pengguna.

      • Agen Bisa Belajar dari Pekerjaan Sebelumnya

      Salah satu keunggulan Antigravity adalah kemampuan agen untuk menyimpan pola kerja, prosedur repetitive, hingga cuplikan kode yang sering dipakai.

      Dengan demikian, performa agen meningkat dari waktu ke waktu, layaknya memori jangka panjang khusus untuk proses pengembangan.

    1. Google Rilis Gemini 3, Model AI Terbaru yang Lebih Cerdas

      Google Rilis Gemini 3, Model AI Terbaru yang Lebih Cerdas

      Telko.id – Google secara resmi meluncurkan Gemini 3, suite model kecerdasan buatan (AI) terbaru mereka yang diklaim sebagai yang terbaik saat ini.

      Model ini menggantikan Gemini 2.5 yang sebelumnya diperkenalkan pada Mei lalu di Google I/O. Gemini baru ini sudah mulai diroll out dalam AI Mode di Google Search untuk pelanggan Google AI Pro dan AI Ultra, serta di aplikasi Gemini untuk semua pengguna.

      CEO Google Sundar Pichai menyatakan, Gemini baru ini “jauh lebih baik dalam memahami konteks dan maksud di balik permintaan Anda, sehingga Anda mendapatkan yang dibutuhkan dengan prompt yang lebih sedikit.”

      Google mengklaim Gemini 3 adalah “model terbaik di dunia untuk pemahaman multimodal,” yang menghadirkan “visualisasi yang lebih kaya dan interaktivitas yang lebih mendalam.”

      Rilis Gemini 3 dimulai dengan Gemini 3 Pro, yang saat ini masih dalam tahap “preview”. Selanjutnya akan menyusul Gemini 3 Deep Think, yang sedang diuji oleh “safety testers”. Setelah proses pengujian selesai, Gemini 3 Deep Think akan tersedia untuk pelanggan Google AI Ultra.

      Menurut Google, Gemini 3 Pro “secara signifikan mengungguli” Gemini 2.5 Pro dalam setiap tolok ukur AI utama. Model ini “membawa tingkat kedalaman dan nuansa baru ke setiap interaksi,” dengan respons yang “cerdas, ringkas, dan langsung, menggantikan klise dan pujian dengan wawasan yang genuin — memberitahu Anda apa yang perlu didengar, bukan hanya yang ingin didengar.”

      Gemini 3 Deep Think disebut mengungguli Gemini 3 Pro dalam benchmark, meski dengan kompensasi waktu respons yang lebih lama.

      Gemini terbaru ini dikembangkan sejak awal untuk “secara mulus menyintesis informasi tentang topik apa pun di berbagai modalitas, termasuk teks, gambar, video, audio, dan kode,” sehingga lebih baik dalam membantu proses belajar.

      Google menyatakan Gemini baru ini adalah model paling aman mereka sejauh ini, yang telah “menjalani rangkaian evaluasi keamanan paling komprehensif dari model AI Google mana pun hingga saat ini.”

      Model ini menunjukkan “sikap menjilat yang berkurang, peningkatan resistensi terhadap injeksi prompt, dan perlindungan yang lebih baik terhadap penyalahgunaan melalui serangan siber.”

      Integrasi teknologi AI Google seperti Gemini terus berkembang di berbagai perangkat. Sebelumnya, Nano Banana AI Google Hadir di Fitur Now Brief Samsung Galaxy AI, menunjukkan kolaborasi erat antara Google dan Samsung dalam menghadirkan AI ke genggaman pengguna.

      Kehadiran Gemini di ekosistem Samsung semakin meluas, seperti yang terlihat pada Samsung Galaxy A17 5G, Cicilan Rp303 Ribuan dengan Gemini AI yang menawarkan aksesibilitas teknologi AI kepada lebih banyak pengguna.

      Tidak hanya smartphone, teknologi ini juga merambah ke perangkat wearable seperti Galaxy Buds3 FE, TWS Premium dengan Gemini AI.

      Peluncuran Gemini 3 menandai perkembangan signifikan dalam lanskap AI Google, dengan peningkatan kemampuan multimodal dan keamanan yang lebih robust.

      Ketersediaan model ini di berbagai platform, termasuk Google Search dan aplikasi Gemini, memperluas jangkauan teknologi AI canggih kepada pengguna di berbagai segmen. (Icha)