spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1692

Buka kantor Baru, Mataharimall targetkan Rajai e-commerce Indonesia

0

Telko.id – Mataharimall.com, sebagai salah satu e-commerce lokal terbesar di Indonesia, hari ini (10/2) meresmikan kantor baru mereka. Mengambil tempat yang cukup strategis, kantor Mataharimall.com berada di gedung Lippo Kuningan, Jakarta. Sekedar informasi, kantor baru ini juga memiliki desain interior yang mengambarkan karakteristik dari Mataharimall yang berani, cepat dan menyenangkan.

Hadirnya kantor baru ini diharpkan dapat menumbuhkan semangat dan kreatifitas dari para karyawan mereka. Pasalnya, Kantor yang diberinama ‘hoMMe’ ini memiliki desain yang menyenangkan serta ‘fresh’ untuk memberikan berbagai macam ide bagi para karyawa mereka.

Bersamaan dengan itu, Hadi Wenas selaku CEO Mataharimall.com mengungkapkan target mereka untuk menjadi e-commerce nomor satu di Indonesia. Ia mengungkapkan,” Mataharimall memiliki visi untuk menjadi perusahaan ecommerce nomor satu di Indonesia, visi tersebut hanya dapat diwujudkan kalau Mataharimall dapat mendorong talenta-talenta terbaik Indonesia untuk bergabung dan bekerjasama dengan nyaman dan kerasan seperti dirumah sendiri, oleh karena itu kami menyebut kanto kami dengan sebutan hoMMe,” ucapya.

Berbicara mengenai target tadi, hal senada juga diucapkan oleh Emirsyah Satar, Chairman mataharimall yang menyebutkan, “Saya hanya jngin menggaris baweahi jika Mataharimall ingin menjadi e-commerce terbesar di Indonesia dan membantu untuk meningkatkan perekonomian,” ucapnya.

Sekedar informasi, saat ini MatahariMall.com menjadi salah satu e-commerce lokal terbesar di sektor B2c di Indonesia. Hal ini akan semakin diperkuat dengan program pemerintah yang memfokuskan diri pada ranah e-commerce di tahun ini.

Berbicara mengenai mode bisnis, Wenas mengungkapkan,”Kita melihat e-commerce itu long term bukan short term, seperti contohnya departemen store kami yaitu matahari mall sudah lebih dari 25 tahun dan ini adalah ambisi kami untuk jadi yang terbesar secara long term dan kami berfokus pada profitabiliti dan suistainbility,” Ucap Wenas.

Sekedar Informasi, MatahariMall.com juga mendukung program pengembangan sektor UKM dengan meluncurkan program JOA (Jual online Aja). Tercatat, program ini telah menjaring setidaknya 100 UKM yang sudah mulai aktif berjualan di Indonesia.

Amerika Canangkan Cybersecurity National Action Plan

0

Telko.id – Baru saja, Amerika dikejutkan oleh terbukanya data hampir 29 ribu karyawan FBI. Itu merespon itu, Barack Obama akan menginvestasikan 19 miliar US$ untuk memperketat Cyber Security negaranya. Lebih tinggi 35% ketimbang investasi yang dilakukan pada tahun lalu. Dan menghimbau Chief Information Security Officer atau CISO untuk mengawasi semua proses upgrade infrastruktur yang usang dan tidak aman. CISO ini adalah posisi yang pertama kali dibentuk oleh Amerika.

Jumlah insiden keamanan informasi tumbuh lebiih dari 11 kali lipat antara tahun 2006 dan 2014. Dari 67 kasus menjadi 168 kasus dan serangan yang berasal dari negara lain pun meningkat.

Agar tidak terjadi lagi, Obama pun mengumumkan Cybersecurity National Action Plan yang diharapkan dapat membendung serangan digital. Selain itu juga akan dilakukan modernisasi jaringan digital milik pemerintah. Langkah ini dilakukan bukan hanya untuk memperkuat keamanan tetapi juga mendidik para ahli yang diperlukan untuk memastikan perbaikan yang sedang berlangsung berjalan lancar. Adapun Cybersecurity National Plan yang dicanangkan oleh Obama tersebut ada 9 poin yakni:

  1. Akan mengalokasikan dana sebesar 3.3 miliar US$ untuk upgrade infrastruktur yang sudah usang dan sulit untuk pengamanan digital.
  1. Menunjuk Chief Information Security Officer atau CISO untuk mengawasi proses upgrade. Pekerjaanya akan meliputi mengembangkan, mengelola dan mengkoordinasikan strategi cybersecurity, kebijakan, dan operasional antar federal di pemerintahan.
  1. Membentuk “Komisi Nasional Peningkatkan Cybersecurity. Komisi ini akan berisi orang-orang yang memiliki kemampuan strategi, bisnis dan teknik yang berasal dari luar pemerintahan. Termasuk beberapa anggota yang dipilih oleh kongres. Komisi ini akan merekomendasikan aksi yang akan terjadi pada 10 tahun ke depan sehingga mampu memperkuat keamanan digital baik untuk public maupun swasta sekaligus melindungi privasi. Termasuk di dalamnya menjaga keamanan publik dan keamanan nasional dan ekonomi, membina penemuan dan pengembangan solusi teknis baru; dan memperkuat kemitraan antara Federal, Negara, dan pemerintah daerah dan sektor swasta dalam pengembangan, promosi dan penggunaan teknologi cybersecurity, kebijakan, dan praktik terbaik. Kelompok ini akan didukung oleh National Institute of Standards and Technology (NIST).
  1. Melakukan modernisasi IT Pemerintah dan mengubah bagaimana pemerintah berhasil mengatur cybersecurity dengan menggunakan dana modernisasi teknologi informasi sebesar $ 3,1 miliar, yang akan memungkinkan melakukan pensiun, penggantian, dan modernisasi IT yang ada. Langkah tersebut tidak mudah dan membutuhkan dana yang besar. Itu sebabnya ada formasi baru dalam pemerintahan yakni Federal Chief Information Security Officer yang akan mendorong perubahan ini di pemerintahan.

Memberdayakan masyarakat untuk mengamankan akun online mereka dengan                tidak mengandalkan password saja, tetapi juga menambahkan lapisan keamanan            lain. Seperti menggabungkan antara password yang kuat dengan faktor                              tambahan, seperti sidik jari atau kode penggunaan tunggal yang dikirimkan                      melalui pesan teks. Dengan demikian akan lebih aman.

Masalah multi-factor authentication ini akan masuk dalam kampanye nasional                tentang Cybersecurity yang dikeluarkan oleh National Cyber ​​Security Alliance                  yang didesain sangat simple dan dapat ditindaklanjuti untuk melindungi diri dari            dunia digital yang semakin meningkat.

National Cyber ​​Security Alliance akan bermitra dengan perusahaan-perusahaan              teknologi terkemuka seperti Google, Facebook, Dropbox, dan Microsoft untuk                  memudahkan jutaan pengguna untuk mengamankan akun online mereka, dan                jasa keuangan perusahaan seperti MasterCard, Visa, PayPal, dan Venmo yang                  akan membuat transaksi lebih aman.

Pemerintah juga akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi data                       pribadi dalam transaksi online antara warga dan pemerintah, termasuk melalui               rencana aksi baru untuk mendorong adopsi dan penggunaan pemeriksaan                         identitas yang efektif dan metode otentikasi multi-faktor yang kuat dan review                 yang sistematis sehingga Pemerintah Federal dapat mengurangi ketergantungan             pada nomor Jaminan Sosial sebagai pengenal warga.

  1. Investasi 19 miliar US$ untuk keamanan cyber adalah bagian dari Fiskal Presiden Tahun anggaran 2017. Ini menggambarkan peningkatan lebih dari 35 persen dari Fiskal tahun anggaran 2016 sumber keseluruhan sumber dana Federal untuk keamanan cyber, demi kepentingan keamanan Amerika di masa depan. (Icha)

Perancis Perintahkan Facebook Berhenti Kirim Data Pengguna ke AS

0

Telko.id – Otoritas perlindungan data Perancis telah memerintahkan Facebook untuk berhenti mentransfer data pengguna ke AS, menyusul putusan dari Uni Eropa yang membatalkan perjanjian transfer data lama trans-Atlantik.

Dalam sebuah perintah yang dikeluarkan Senin lalu, otoritas perlindungan data, yang dikenal dengan singkatan bahasa Perancisnya, CNIL, juga memberi Facebook waktu tiga bulan untuk menghentikan pelacakan aktivitas web non-pengguna tanpa persetujuan mereka. Menurut CNIL, Facebook bisa kena denda jika gagal memenuhi aturan ini.

Pada bulan Oktober, Pengadilan Tinggi Eropa memutuskan bahwa perjanjian transfer data trans-Atlantik antara Eropa dan AS, yang dikenal sebagai pakta Safe Harbor, adalah ilegal dengan alasan bahwa AS tidak memberikan perlindungan privasi yang memadai. Batas waktu tiga bulan untuk membangun kesepakatan alternatif berakhir pekan lalu, dan meskipun para pejabat AS dan Eropa sepakat untuk kerangka baru pekan lalu, namun belum dioperasikan.

Pembatalan Safe Harbor menjadi dasar lahirnya perintah CNIL, meskipun Facebook mengatakan bahwa transfer data mereka sesuai dengan hukum Uni Eropa. Demikian dilaporkan The Verge, Rabu (10/2).

“Melindungi privasi orang-orang yang menggunakan Facebook adalah jantung dari segala sesuatu yang kami lakukan,” kata juru bicara Facebook seperti dilansir Reuters. “Kami… berharap untuk terlibat dengan CNIL untuk menanggapi keprihatinan mereka.”

CNIL juga memerintahkan Facebook untuk menginformasikan pengguna non-Facebook bahwa kegiatan web browsing mereka dilacak dengan cookie ketika mereka mengunjungi halaman Facebook.

Regulator menambahkan bahwa pengguna Facebook harus dapat memilih apakah data mereka dibagi dengan pengiklan, dan bahwa perusahaan harus berhenti “mempertahankan data pribadi di luar lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tujuan itu dimana itu dikumpulkan dan diproses.” CNIL mengatakan bahwa praktik ini melanggar hukum Perancis.

‘Sengketa’ antara Facebook dan Perancis ini sebenarnya bukan kali pertama dialami jejaring sosial milik Mark Zuckerberg. Sebelumnya, Facebook juga telah menghadapi sejumlah penyelidikan terkait privasi di Eropa. Pada bulan November, pengadilan Belgia memerintahkan perusahaan untuk berhenti menggunakan cookies untuk melacak aktivitas web dari para penggunanya, yang berarti bahwa pengguna kini harus login untuk melihat halaman Facebook, termasuk yang umum.

Gandeng 7 Operator, GSMA Terbitkan Panduan Keamanan Internet of Things

0

Telko.id – GSMA, bersama tujuh operator seluler – berasal dari Amerika Serikat, China, Jepang dan banyak lagi – telah meluncurkan pedoman keamanan yang luas untuk mengembangkan layanan dan produk Internet of Things (IoT).

Asosiasi telekomunikasi global itu mengatakan bahwa pedoman tersebut telah dirancang dengan memikirkan seluruh ekosistem IoT, termasuk penyedia layanan IoT, produsen perangkat, pengembang dan operator jaringan.

Menurut laporan Telecoms, Rabu (10/2), kekhawatiran atas keamanan adalah penghalang terbesar untuk menerapkan IoT antara operator telekomunikasi – diidentifikasi oleh hampir setengah dari mereka yang disurvei. Sementara itu, hanya 10% mengatakan bahwa mereka mampu meluncurkan layanan IoT yang aman sepenuhnya. Hal inilah yang kemudian membuat GSMA dan operator merasa perlu untuk memiliki panduan lebih dalam mengamankan IoT.

GSMA mengatakan panduan atau pedoman tersebut akan menguraikan berbagai cara untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi ancaman IoT, sehingga membantu penyedia layanan membangun layanan yang aman dari awal. Pedoman ini juga akan menjelaskan metodologi penilaian risiko untuk memastikan layanan IoT mampu mengumpulkan, menyimpan dan bertukar data dengan aman sementara mengurangi serangan cybersecurity yang mungkin saja terjadi.

Menurut CTO GSMA, Alex Sinclair, dengan miliaran perangkat menjadi terhubung di Internet of Things, yang menawarkan layanan baru yang inovatif dan saling terkoneksi, potensi kerentanan akan semakin meningkat.

“Ini bisa diatasi jika keamanan end-to-end layanan IoT dipertimbangkan dengan baik oleh penyedia layanan ketika merancang layanan mereka dan teknologi mitigasi yang tepat dikerahkan. Pendekatan yang baik dan kuat untuk keamanan akan menciptakan layanan yang handal dan terpercaya seiring dengan pertumbuhan pasar,” katanya.

Untuk menghasilkan panduan ini, GSMA bermitra dengan sejumlah operator seluler diantaranya AT&T, China Telecom, Etisalat, KDDI, NTT DOCOMO, Orange, Telefónica, Telenor dan Verizon untuk mendapat input dari operator dan penyedia layanan, sementara Ericsson, Gemalto dan u-blox ikut berkontribusi dari komunitas penjual.

Chief IoT Officer Telefónica, Vicente Muñoz Boza, mengatakan industri membutuhkan panduan semacam ini sehingga penyedia layanan dapat merasa aman dengan layanan IoT-nya.

“Keamanan solusi IoT adalah sangat penting dan dokumen-dokumen ini merupakan langkah penting dalam mendukung pelanggan kami untuk mendapatkan layanan end to end yang aman,” pungkasnya.

20.000 Data Agen FBI Terpapar Akibat Ulah Hacker

0

Telko.id – Seorang hacker telah mempublikasikan data pribadi dari 20.000 agen FBI dan 9000 petugas Departemen Keamanan Dalam Negeri secara online.

Gelombang pertama dari data Departemen Keamanan Dalam Negeri dipublikasikan pada hari Minggu, sedangkan data FBI muncul secara online tadi malam. Kedua data tersebut dipublikasikan ke Cryptobin dengan sandi “lol”. Adapun file tersebut meliputi nama, jabatan, nomor telepon, lokasi negara dan alamat email bagi karyawan pemerintah AS.

Menurut Motherboard, banyak dari alamat email yang tidak umum, sementara jabatan termasuk “gugus tugas wakil direktur” dan “agen khusus.” Sementara itu, Guardian mengklaim bahwa beberapa catatan tampak usang, alias sudah kadaluarsa.

Data-data tersebut diumumkan lewat akun Twitter @DotGovs, disertai dengan hashtags #FreePalestine dan #ProPalestine. Biografi Twitter termasuk kalimat “Persetan pemerintahan Anda.”

Dilansir dari Gizmodo, Rabu (10/2), hacker mengklaim telah menipu seorang karyawan dalam menyediakan token yang dapat digunakan untuk mengakses portal online DOJ, yang pada gilirannya memberikan akses ke tiga komputer dan database staf.

Hingga berita ini diturunkan, tidak jelas siapa yang berada di balik aksi peretasan ini. Tahun lalu, kelompok dengan nama “Crackas With Attitude” (CWA) berhasil mengobrak abrik isi email pribadi Direktur CIA John Brennan sebelum akhirnya mengendalikan 34.000 baris email, nama, posisi dan nomor telepon dari rekan pemerintahan, termasuk militer.

Namun, hacker dibalik aksi peretasan data FBI ini mengklaim pada Motherboard bahwa ia tidak terkait dengan CWA dan bahwa data yang diperoleh berasal dari sumber yang berbeda.

CTI : Operator Seluler Akan Dapatkan Banyak Pemasukan di Era Big Data

0

Telko.id – Computrade Technology International (CTI) Group memprediksi bahwa para pemain di Industri Telekomunikasi Indonesia akan meraup banyak revenue dari fenomena Big Data seperti sekarang ini. Adalah Rachmat Gunawan, selaku Direktur CTI Group yang mengungkapkan bahwa banyak yang bisa dihasilkan oleh para pelaku Industri Telekomunikasi khususnya para operator seluler pada era Big Data ini.

“Telko adalah industri pertama yang bisa memanfaatkan fenomena Big Data, terutama para operator dengan data analitik pengguna yang mereka punya dan juga tentunya para vendor telekomunikasi yang ada di industri ini,” ucapnya kepada tim Telko.id di Jakarta (9/2).

Beberapa sumber pemasukan yang bisa didapatkan oleh para operator seluler di Indonesia erkait dengan tren ini diantaranya adalah data analitik, digital content, dan tentunya volume penggunaan data yang akan meningkat dari para pelanggan mereka, menurut CTI Group. Hadirnya kualitas jaringan yang semakin baik dan cepat, serta internet 4G yang semakin menjangkau seluruh wilayah Indonesia juga menjadi salah-satu modal utama bagi para operator dalam memainkan peran krusial mereka di era Big Data ini.

“Khusus di Industri Telekomunikasi, mereka dapat menjual data analitik dari para pelanggan mereka ke industri lain seperti asuransi untuk mendapatkan ‘insight’ para pengguna, mereka juga saat ini telah memulai dalam pengarapan digital content yang tentunya akan memberikan pemasukan lain bagi para operator disamping peningkatan penggunaan data dari konsumen mereka,” ucap Rahmat.

Sementara itu, berbicara mengenai mengenai kesiapan infrastruktur, pihak CTI Group menyebutkan banyak sekali perangkat atau infrastruktur IT yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan jika ingin bermain di era Big Data ini.

Bahkan, Suresh Nair, Managing Director Hitachi Data Systems Indonesia mengungkapkan, “Beberapa infrstuktur yang harus dimilii antara lain seperti, Storage, Hadoop Operating System, data warehouseing untuk memprovide social media dan lain-lain, dan kami melihat bahwa para operator di Indonesia sudah sangat siap dalam tren ini dan bahkan mereka telah memulainya sejak saat ini,” ucapnya kepada tim Telko.id.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai tantangan utama di era Big Data yakni Cyber Security, Rahmat Gunawan menegaskan bahwa sanya CTI Group telah memiliki solusi untuk membantu mengatasi tantangan sekaligus ancaman di era Big Data ini.

“Jika berbicara mengenai Mobility, Cloud, Big Data, dan Social Media, tentunya securiy menjadi isu utama dalam tren ini, Pada acara Infrastructure Summit nanti, Kami aka membahas mengenai cyber security dan bagaimana mengamankan teknologi para klien dari kejahatan siber, kami juga akan menyediakan solusi untuk membantu klien kami me manage latform security yang mereka miliki,” tutupnya.

CTI Group Akan Kembali Gelar Infrastructure Summit

0

Telko.id – Computrade Technology International (CTI Group) selaku penyedia solusi infrastruktur IT, akan kembali menyelenggarakan seminar dan pameran infrastruktur TI di Indonesia. Kegiatan yang nantinya akan diselenggarakan pada 3 Maret 2016 mendatang.

Bertempat di salah satu cafe di kawasan Senayan City, Jakarta (9/2), CTI Group melangsungkan “kick off” untuk acara Infrastructure Summit 2016 tersebut.
Sekedar informasi, dengan teknologi mobiliti semua nya juga menjadi lebih mudah untuk berkomunikasi dan terintegrasi ke penyimpanan cloud sehingga memudahkan pengguna mengirimkan sesuatu.

Yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana cara menganalisis data yang sangat melimpah seperti saat ini. Latar belakang fenomena inilah yang akhirnya diangkat menjadi tema untuk infrastruktur summit CTI tahun ini.

Rachmat Gunawan, Director CTI Group mengungkapkan, “saat ini kira-kira terdapat tiga miliar pengguna yang terhubung ke internet dan 2 miliar diantaranya terhubung ke sosial media, dunia saat ini juga sudah terkoneksi sedemikian rupa dan kita merasa seakan dunia ini menjadi lebih kecil,” ucapnya.

Ia menambahkan, digitalisasi bisnis telah menjadi faktor esensial dibalik prrtumbuhan bisnis. IDC juga memprediksi bahwa sekitar 60% prmimpin perusahaan di kawasan Asia Pasifik akan menempatkan transformasi digital sebagai strategi utama perusahaan pada 2017 mendatang.

Tahun ini, Tema CTI Infrastructure Summit 2016 adalah ‘Digitizing Your Business to Dicover New Market Opportunities’. Tema inu juga akan memfokuskan pada berbagai solusi TI terkini dan sharing best practice untuk membantu perusahaan mengakselerasi transformasi bisnis dari ranah tradisional menuju digital.

Dalam kegiatan ini juga di paparkan penelitian dari Capgemini mengenai perusahaan yang melakukan transformasi digital berhasil mendapatkan peningkatan sekitar 9% dalam segi pendapatan, 26 % profit, serta 12% dalam penilaian pasar terhadap perusahaan yang bersangkutan.

Rahmat juga mengungkapkan, ” Kami berharap CTI Group dapat menjadi mitra serta membantu perusahaan untuk mengakselerasi Digital Journey mereka,” ucapnya.
Tak lupa, Ia menyebutkan bahwa CTI IT Infrastrucutre Summit 2016bakan menghadirkan berbagai solusi teknologi terkini dan best practice yang dapat menjadi referensi bagi para profesional bisnis dan IT dalam melakukan transformasi digital secara lebih baik dan komperhensif.

Tahun ini, CTI Infrastructure Summit 2016 juga didukung oleh l3mbaga riset gartner dan juga berbagai vendor IT terkemuka seperti HDS Indonesia, IBM, Huawei, Double Take, Defenxor, Tableau, VMware, Dell serta Redhat.

Bagi para pekerja di bidang IT yang hendak melakukan registrasi dan mengikuti kegiatan ini, bisa langsung mengunjungi website mereka di www.itinfrastructuresummit.com.

Google Loon Akan Layani Masyarakat Sri Lanka Pada Maret 2016

0

Telko.id- Sri Lanka telah menandatangani kontrak satu tahun dengan Google untuk memulai uji coba penerbangan dari Project Loon, penelitian dan pengembangan proyek raksasa internet Bertujuan menyediakan akses broadband ke daerah-daerah terpencil dengan menggunakan balon ketinggian tinggi.

Seperti yang dikutip dari Cellular News, Menteri Telekomunikasi dan Digital Infrastruktur Sri Lanka, Harin Fernando menyebutkan bahwa pengujian skema Project Loon akan mulai akhir Februari 2016 dan akan memberikan internet gratis untuk Ratmalana, pinggiran Colombo. Lebih lanjut, Harin Fernando mengatakan bahwa, Google project Loon ini harus memulai layanannya pada bulan Maret 2016.

Untuk dapat meningkatkan jangkauan layanan internetnya, pemerintah Sri Lanka tidak perlu menginvestasikan uang dalam proyek. Cukup memberikan kontribusi dengan memberikan spectrum, pemerintah Sri Lanka akan mendapatkan 25 persen saham di sebuah perusahaan yang akan dibentuk dengan Google.

Dan kesempatan itu diambil oleh pemerintah Sri Lanka. Selanjutnya, pemerintah Sri Lanka juga akan berencana akan menawarkan 10% saham tersebut pada operator telekomunikasi lokal masuk dalam usaha patungan.

Balon ini akan berada di angkasa dua kali lebih tinggi dari pesawat komersial dan harus dapat bertahan diposisinya paling tidak selama 6 bulan sebelum melakukan pengisian kembali. Tujuannya adalah untuk menyiarkan konektivitas internet di wilayah yang luas dengan biaya rendah, meningkatkan cakupan di daerah pedesaan.

“Dengan adanya peningkatan akses Internet, harapannya akan memberikan perangsang bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Menteri Telekomunikasi dan Digital Infrastruktur Harin Fernando.

Menurut Fernando, di Sri Lanka baru 26 persen saja yang menggunakan internet dan berdasarkan hasil penelitian bahwa akses yang lebih besar adalah salah satu cara termudah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebab, kenaikan 10% dari jumlah penduduk suatu Negara yang terhubung akan menambahkan 1,2 – 1,3% pertumbuhan ekonomi.

Balon Google ini akan melayang di lapisan stratosfer menggunakan sehingga mampu memberikan jangkauan nirkabel udara dengan kecepatan tinggi setara dengan 4G sehingga memungkinkan akses internet yang lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah. (Icha)

Ekspansi, Ooredoo Myanmar Siapkan Dana Segar USD 300 Juta

0

Telko.id – Tahun 2016 baru juga dimulai, namun perusahaan Induk Indosat di luar sana, Ooredoo, tampaknya tidak mau berleha-leha. Ditandai dengan kesiapan perusahaan untuk memperluas kekuasaan di Myanmar. Tak tanggung-tanggung, dana segar sebesar USD 300 juta yang diperoleh dari dua institusi keuangan pun disiapkan perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Qatar ini.

Adalah Asian Development Bank dan International Finance Corporation (IFC), dua institusi yang dimaksud itu. Keduanya masing-masing akan memberikan Ooredoo Myanmar dengan pinjaman sebesar USD 150 juta.

Ooredoo mengatakan pinjaman ini akan mendukung strateginya untuk pasar Myanmar, memungkinkan untuk mempercepat peluncuran infrastruktur.

“Kami bangga bahwa pemberi pinjaman terkenal di dunia seperti Asian Development Bank dan International Finance Corporation berpartisipasi dalam kesepakatan pendanaan dengan Ooredoo Myanmar untuk lebih memperluas jaringan dan distribusi kami di negara ini,” kata CEO Ooredoo Group, Saud Bin Nasser Al Thani, dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan, kesepakatan pembiayaan ini menunjukkan komitmen Ooredoo di Myanmar dan potensi yang kuat dari Ooredoo Myanmar untuk mempercepat pengiriman jaringan dan layanan kepada rakyat Myanmar.

Diwartakan Total Telecom, Selasa (9/2), Ooredoo juga menjelaskan bahwa ada rencana aksi lingkungan dan sosial di Myanmar sebagai bagian dari persyaratan kesepakatan pembiayaan.

Ooredoo meluncurkan layanan di Myanmar pada bulan Agustus 2014, menjadi yang pertama dari dua operator asing – selain Telenor – untuk menggelar layanan mobile di pasar yang sangat terbelakang.

Pada akhir September 2015, lebih dari 13 bulan setelah peluncuran, perusahaan telah memiliki 4,8 juta pelanggan, naik dari 1 juta pelanggan di tahun sebelumnya.

Zuckerberg Kecewa India Blokir layanan Free Basics Facebook

0

Telko.id – Keputusan regulator India – Telecom Regulatory Authority (TRAI) – untuk memblokir aplikasi Free Basic milik Facebook akhirnya mendapat tanggapan dari Mark Zuckerberg. Pendiri Facebook tersebut mengaku kecewa dengan keputusan yang diambil pihak berwenang di negeri Bollywood itu.

Pada Senin sore, Mark Zuckerberg menanggapi keputusan yang dibuat oleh regulator India untuk melarang aplikasi besutannya itu, yang diklaim menawarkan akses internet terbatas untuk mereka yang ada di negara-negara berkembang. Langkah ini menyulut ‘perang’ antara Facebook dan TRAI, yang percaya bahwa Free Basic berkompromi dengan netralitas internet, gagasan bahwa pengguna internet harus diberikan akses yang sama terhadap semua konten.

Dalam sebuah posting Facebook yang membela Free Basic, Zuckerberg mengatakan bahwa menghubungkan India adalah tujuan penting yang tidak akan membuatnya menyerah, karena lebih dari satu miliar orang di India tidak memiliki akses ke Internet.

“Kami tahu bahwa menghubungkan mereka dapat membantu mengangkat orang dari kemiskinan, menciptakan jutaan lapangan kerja, dan menyebarkan kesempatan pendidikan. Kami peduli dengan orang-orang ini, dan itu sebabnya kami sangat berkomitmen untuk menghubungkan mereka,” katanya seperti dilansir Fast Company, Selasa (9/2).

Kontroversi seputar Free Basics adalah hasil dari kontrol yang dimiliki Facebook atas situs mana yang termasuk dalam aplikasi. Dengan kata lain, pengertian perusahaan mengenai pemberian akses gratis ke Internet kepada orang banyak adalah untuk menawarkan sebuah aplikasi yang hanya menampilkan konten yang disetujui atau diijinkan Facebook.

Untuk lebih jelasnya, berikut bunyi postingan Zuckerberg yang dimaksud:

Everyone in the world should have access to the Internet.

That’s why we launched Internet.org with so many different initiatives—including extending networks through solar-powered planes, satellites and lasers, providing free data access through Free Basics, reducing data use through apps, and empowering local entrepreneurs through Express Wi-Fi.

Today India’s telecom regulator decided to restrict programs that provide free access to data. This restricts one of Internet.org’s initiatives, Free Basics, as well as programs by other organizations that provide free access to data.

While we’re disappointed with today’s decision, I want to personally communicate that we are committed to keep working to break down barriers to connectivity in India and around the world. Internet.org has many initiatives, and we will keep working until everyone has access to the internet.

Our work with Internet.org around the world has already improved many people’s lives. More than 19 million people in 38 countries have been connected through our different programs.

Connecting India is an important goal we won’t give up on, because more than a billion people in India don’t have access to the Internet. We know that connecting them can help lift people out of poverty, create millions of jobs, and spread education opportunities. We care about these people, and that’s why we’re so committed to connecting them.

Our mission is to make the world more open and connected. That mission continues, and so does our commitment to India.