Telko.id – PT Indointernet Tbk (Indonet) mengumumkan kinerja keuangan solid sepanjang tahun fiskal 2025. Dalam Public Expose yang digelar di Jakarta, perusahaan penyedia infrastruktur digital ini membukukan pendapatan bersih mencapai Rp842,1 miliar.
Pertumbuhan ini didorong oleh lonjakan permintaan layanan jaringan dan data center dari segmen enterprise serta hyperscaler.
Bisnis jaringan Indonet mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 22 persen. Sementara itu, segmen data center melesat 48 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Angka ini mencerminkan kebutuhan infrastruktur digital yang semakin masif di Indonesia, terutama untuk mendukung komputasi awan dan kecerdasan buatan.
Donauly Situmorang, Chief Executive Officer Indonet yang baru menjabat, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari strategi perusahaan dalam menjawab kebutuhan digital nasional.
“2025 menjadi tahun yang kuat bagi Indonet, di mana kami berhasil menerjemahkan pertumbuhan kebutuhan digital menjadi kinerja yang nyata di bisnis jaringan dan data center,” ujarnya Rabu (22/4/2026).
Ekspansi Jaringan Fiber dan Data Center
Secara operasional, Indonet terus menjalankan ekspansi infrastruktur. Perusahaan memperluas jaringan fiber optik, termasuk pengembangan infrastruktur bawah tanah yang menghubungkan pusat kota Jakarta dengan klaster data center di kawasan industri Bekasi, Cibitung, dan Karawang. Langkah ini bertujuan meningkatkan keandalan dan resiliensi jaringan.
Di sisi data center, melalui anak usahanya Digital Edge Indonesia, kapasitas EDGE1 telah terkontrak penuh. Sementara itu, EDGE2 mencapai sekitar 70 persen kapasitas terkontrak hingga akhir FY2025. Angka ini menunjukkan tingginya permintaan terhadap layanan colocation yang scalable.

Indonet juga tengah mengembangkan hyperscale data center campus di kawasan industri GIIC. Proyek ini memiliki kapasitas awal 500MW yang dapat ditingkatkan hingga 1GW.
Inisiatif ini memposisikan Indonet untuk menangkap permintaan jangka panjang dari kebutuhan hyperscale dan beban kerja berbasis AI.
“Ekspansi kami difokuskan pada pembangunan jaringan backbone yang padat dan andal, sekaligus memastikan platform data center kami siap mendukung kebutuhan hyperscale dan teknologi generasi berikutnya,” ujar Yudie Haryanto, Sales & Marketing Director Indonet.
Baca Juga:
Rencana Delisting dan Perubahan Kepemimpinan
Indonet juga mengumumkan rencana untuk melakukan delisting secara sukarela dari Bursa Efek Indonesia. Langkah ini mencerminkan posisi perusahaan sebagai bagian dari Digital Edge Group.
Dinamika kompetisi di sektor infrastruktur digital yang semakin tinggi menuntut agility dan kecepatan dalam eksekusi.
“Rencana delisting ini merupakan langkah strategis untuk memberikan fleksibilitas lebih dalam menjalankan rencana jangka panjang kami. Sebagai bagian dari Digital Edge Group, integrasi yang lebih erat akan memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat, optimalisasi alokasi modal, serta keselarasan yang lebih kuat di seluruh platform,” tambah Donauly.
Perusahaan mencatat bahwa sahamnya tidak aktif diperdagangkan di bursa. Langkah delisting diharapkan dapat mendorong integrasi yang lebih lancar antar entitas dalam grup, menyederhanakan proses pengambilan keputusan, serta mendukung pelaksanaan rencana investasi jangka panjang.
Selain itu, Indonet mengumumkan perubahan kepemimpinan dengan penunjukan Donauly Situmorang sebagai CEO. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Chief Financial Officer sejak 2021 dan berperan penting dalam memperkuat fondasi serta mendorong ekspansi perusahaan. Andrew Rigoli kini beralih ke Dewan Komisaris dan akan tetap memberikan arahan strategis.
Perusahaan menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan dan kontribusi Andrew Rigoli. Jajaran Direksi lainnya tetap melanjutkan perannya untuk menjaga kesinambungan operasional.
Dengan kinerja 2025 yang kuat, pipeline ekspansi yang solid, serta arah strategis yang jelas, Indonet berada pada posisi yang tepat untuk terus mendukung transformasi digital Indonesia. (Icha)


