Telko.id – Pemerintah China dikabarkan mulai membatasi perjalanan ke luar negeri bagi sejumlah peneliti yang bekerja di perusahaan AI terkemuka seperti DeepSeek dan Alibaba.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya persaingan global dalam pengembangan kecerdasan buatan, yang kini dipandang sebagai teknologi strategis dengan nilai ekonomi dan keamanan nasional yang tinggi.
Melansir dari Bloomberg, badan pemerintahan China mulai memberlakukan pembatasan bepergian untuk individu yang terlibat dalam industri AI dan dianggap penting bagi negara.
Artinya, orang-orang yang dianggap penting dan strategis harus mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang sebelum bepergian ke luar negeri, kata sumber Bloomberg yang tidak ingin namanya disebut.
Otoritas China khawatir pengetahuan, riset, dan teknologi yang dikembangkan perusahaan AI domestik dapat bocor ke pihak asing.
Karena itu, sejumlah peneliti yang dianggap memiliki akses ke teknologi penting disebut harus melalui proses persetujuan khusus sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri, terutama untuk menghadiri konferensi, pertemuan bisnis, atau kegiatan akademik internasional.
Baca Juga:
- Nvidia Akui Kalah di Pasar AI China, Huawei: Siap Melanjutkan
- Alibaba Cloud Gandeng PosIND, BULOG, dan Agrinesia Ini Target nya!
Langkah tersebut mencerminkan semakin pentingnya AI dalam persaingan teknologi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan China seperti DeepSeek berhasil menarik perhatian dunia melalui model AI yang mampu bersaing dengan produk dari perusahaan Amerika Serikat.
Di saat yang sama, pemerintah China juga terus mendorong pengembangan teknologi domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing, terutama setelah berbagai pembatasan ekspor chip dan teknologi canggih dari AS.
Negara-negara besar semakin berupaya menjaga talenta, data, dan inovasi teknologi yang dianggap krusial bagi daya saing di masa depan.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pengembangan AI kini tidak lagi sekadar urusan bisnis atau penelitian, tetapi juga telah menjadi bagian dari strategi nasional.
Akibatnya, mobilitas peneliti dan pertukaran pengetahuan internasional yang selama ini menjadi bagian penting dunia teknologi mulai menghadapi tantangan baru.
Pembatasan ini berisiko melemahkan kemampuan perusahaan AI di China untuk merekrut dan mempertahankan talenta. Hal ini juga dapat menambah kekhawatiran tentang sejauh mana intervensi pemerintah di industri AI.
Namun disisi lain, kondisi ini berpotensi memperkuat tren fragmentasi ekosistem teknologi global, di mana pengembangan AI semakin terpusat pada blok atau wilayah tertentu.


