spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1749

TalkTalk ‘Dibobol’ Hacker, Data 4 Juta Pelanggan Dalam Bahaya

0

Jakarta – Perusahaan Telekomunikasi asal Inggris, TalkTalk, melalui blog resminya telah mengkonfirmasi bahwa ada kemungkinan para hacker telah memiliki data identitas pengguna seperti nama, alamat, tanggal lahir, nomor telepon, alamat email, informasi akun TalkTalk, hingga rincian kartu kredit dan rincian bank dari 4 juta pelanggannya.

Dilansir dari Telecoms, Senin (26/10), Dido Harding selaku CEO TalkTalk menegaskan bahwa perusahaan terus memperbarui sistem sebagai langkah keamanan yang diambil terkait ancaman dari penjahat siber ini.

“Kami sangat serius menjaga data pelanggan dari setiap ancaman keamanan dan kami mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memahami apa yang telah terjadi di sini,” katanya.

Namun, Harding mengatakan pada ITV bahwa sampai saat ini mereka tidak mengetahui persis berapa pelanggan yang menjadi korban dari ancaman tersebut.

Bagian FAQ dari situs web TalkTalk mengklaim bahwa mereka percaya data konsumen tetap aman, namun mereka juga mengakui bahwa ada beberapa data yang tidak dienkripsi. Sebagai informasi, ini merupakan serangan siber ketiga yang mempengaruhi  perusahaan tersebut dalam 12 bulan terakhir.

Sebelumnya, sejumlah pelanggan TalkTalk juga sempat mengeluhkan telah menjadi korban scamming yang meminta sejumlah akses pada komputer mereka.

Bahkan, pada Februari  lalu, penjahat siber berhasil masuk ke dalam sistem jaringan komputer perusahaan dan mencuri data-data konsumen mereka.

Ahli keamanan Ryan Wilk, yang juga direktur dari NuData Security memaparkan, “Para pencuri data akan menjual informasi ini kepada agregator yang tentunya akan meningkatkan nilai dari data tersebut. Dengan banyaknya data yang terkumpul, para penipu ini bisa saja membuat rekening Bank palsu atau meminjam sejumlah uang di Bank dengan data diri para korban yang tercuri. Hal ini tentunya akan sangat meresahkan dan membuat permasalahan panjang bagi si korban,” jelas Wilk.

Wilk menambahkan, Sistem keamanan lawas yang digunakan oleh banyak perusahaan telekomunikasi, seperti otentikasi berbasis KBA akan sangat rentan untuk dicuri, Ia menyarankan untuk mengganti sistem tersebut dengan User behavioural analytics (UBA). [AK/IF]

Pandora Lesu di Industri Streaming Musik

0

Jakarta – Semakin baiknya kualitas jaringan internet di seluruh dunia membuat persaingan di semua aspek semakin ketat. Hal yang sama berlaku untuk industri streaming musik.

Pandora, misalnya, perusahaan yang sempat merajai industri musik streaming ini bahkan barus mengatur strategi baru guna bertahan di industri ini.  Pasalnya, Pandora kini terkesan menjadi pecundang dalam industri yang tengah memanas ini.

Dilansir dari Digitaltrend, Senin (25/10), dua hari setelah CEO Apple Tim Cook mengumumkan bahwa Apple Music memiliki 6,5 juta pelanggan berbayar dan 8,5 juta pengguna pada percobaan tiga bulan gratis, Pandora justru mengalami kerugian sebesar USD85.900.000 pada kuartal ketiga tahun ini.

Sejatinya pandora yang hanya mengandalkan streaming radio kalah bersaing dengan kompetitor lain seperti Apple Music, spotify serta Google Play Music yang menghadirkan streaming musik berbayar dan memberikan free selama masa percobaan.

Tidak seperti beberapa pesaingnya, Pandora tidak bisa memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk memilih lagu untuk diputar karena hanya berbasis radio streaming. Hal itu nampaknya yang menjadi awal dari kegagalan mereka menjangkau pasar streaming musik kali ini.

Anjloknya peminat pandora semakin dipertegas dengan jumlah “pendengar aktif” mereka yang mengalami penyusutan menjadi 78.100.000 pengguna dari 79.400.000 pada kuartal ketiga tahun ini.

Fenomena Internet Of Things memang mempengaruhi gaya hidup semua orang di dunia ini. Kemajuan teknologi dari sisi smartphone juga sangat mendukung fenomena ini, kita tunggu saja bagaimana hal tersebut akan berlangsung di Indonesia. [AK/IF]

 

87% Smartphone Android Rentan akan Virus

Jakarta – Seperti diketahui sebelumnya, platform Android memang menjadi platform mobile yang sangat rentan terhadap peretasan data. Namun berdasarkan survey terbaru di lapangan mengungkapkan bahwa sebanyak 87 % smartphone Android yang ada di pasaran saat ini tidak aman.

Para ilmuwan Inggris membuktikan bahwa perangkat Android sangatlah berbahaya bila ditinjau dari segi keamanan data. Penelitian mendalam yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Cambridge pada beberapa perangkat dan menganalisis lebih dari 20.000 smartphone dari berbagai merek dan menemukan bahwa 87,7% perangkat Android yang diteliti dikategorikan rentan terhadap paling tidak satu jenis kerentanan yang kritis.

Penelitian ini dilakukan dengan bantuan para penggguna smartphone. Para peserta menyetujui penggunaan aplikasi khusus bernama Device Analyzer dari Google Play. Aplikasi ini membantu untuk mengetahui seberapa tahankah smartphone terhadap serangan yang berdampak luas dengan cara mengirimkan data ke perangkat lunak di masing-masing perangkat.

Dari kesemuanya ada 32 jenis smartphone yang kritis, namun hanya 11 bug yang bisa diterapkan ke semua perangkat, dan diperhitungkan sepanjang percobaan untuk menghasilkan hasil yang adil.

Berdasarkan data dari Securelist.com, dalam jangka waktu 4 tahun (dari Juli 2011 hinga 2015), tingkat mean dari indeks FUM untuk seluruh perangkat Android mengalami penurunan yang mengerikan, – 2,87 dari 10. Smartphone yang paling aman, seperti diperkirakan, adalah Google Nexus. Hal ini tentunya tidaklah mengherankan mengingat Google memperhatikan patching terhadap perangkatnya sendiri.

Platform Android merupakan sistem yang sangat rentan. Kecuali Google merubah OS serta model distribusi untuk memungkinkan adanya mekanisme update yang simultan, regular serta vendor-agnostic untuk memudahkan pengguna dalam pengurusan keamanan perangkat mereka.

Beberapa tips untuk mengatasi kerentanan tersebut diantaranya:

  •  Pasang pembaharuan sistem sesegera mungkin bila sudah tersedia. Jangan menunda apalagi mengabaikannya.
  • Unduh aplikasi yang berasal dari sumber terpercaya dan berhati – hatilah terhadap situs yang nakal. Hal ini tidak menjamin Anda terhindar dari masalah keamanan, namun cara tersebut merupakan salah satu cara untuk menghindari beberapa ancaman tertentu.
  •  Gunakan solusi keamanan – bila vendor smartphone Anda lambat dalam melakukan patch keamanan serta menyelamatkan penggunanya dari eksploitasi, perusahaan antivirus mungkin dapat melakukannya dengan lebih baik.
  • Cobalah untuk tetap mendapatkan informasi terbaru: bacalah berita – berita mengenai keamanan. Jika tidak, maka Anda tidak akan pernah tahu, sebagai contoh, lebih baik menonaktifkan pengunduhan MMS standar untuk menghindari masalah yang terkait dengan kerentanan Stagefright.

Indosat Kembali Gelar Kids & Teens Hackathon

0

Jakarta – Ajang pencarian bakat Kids and Teens Hackaton ke-9, yang bertujuan melatih pola pikir logis anak kembali digelar.

Kegiatan ini di peruntukkan bagi anak berusaia 7-15 tahun yang akan ditantang untuk membuat ide dan coding aplikasi. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Indosat ini sejatinya bertujuan untuk menstimulus anak-anak untuk lebih menyukai dunia pemrograman.

Sebaga informasi, kompetisi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) yang akan berakhir pada 31 Oktober mendatang.

Para peserta dapat memilih kategori pembuatan proposal ide dan pembuatan aplikasi lewat coding competition. Sementara untuk tahun ini, kegiatan Kids & Teens Hackathon terlaksana berkat kerjasama antara indosat dengan Clevio Coder Camp, yang merupakan tempat belajar pemrograman komputer yang diperuntukan untuk anak-anak.

Deva Rachman, Group Head Corporate Communication Indosat mengungkapkan, Teknologi kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari anak-anak dan remaja, oleh karena itu Indosat mengajak mereka untuk tidak sekedar menjadi pengguna melainkan juga menjadi seorang contentdigelar,” ungkap Deva Rachman, Group Head Corporate Communication Indosat di Jakarta, Sabtu (24/10).

Indosat juga berharap, ajang ini tak hanya akan membuat anak-anak dan remaja semakin menyukai dunia pemrograman, tetapi juga dapat menjadi wadah untuk mewujudkan kreasi dan imajinasi anak-anak ke dalam suatu aplikasi.

Sebagai informasi, IWIC sendiri menghadirkan beberapa kategori peserta diantaranya, Kids (SD), Teens (SMP-SMA), Mahasiswa/umum, Developer, serta kategori untuk Perempuan dan Inbound Tourism.

Kegiatan ini di menangkan oleh Daulah dan Salya, kakak beradik ini membuat ide games chicken farm dan mampu memukau para juri.

 

‘Duit Besar’ Ketika IoT Kawin Dengan Industri otomotif

0

Sepanjang pabrikan mobil masih memproduksi, maka jumlah kendaraan pun akan terus bertambah. Jumlah yang ratusan juta itu menjadi potensi ‘uang’ masuk bagi para developer yang memanfaatkan teknologi Internet Of Things. Menghubungkan antara Cloud ke wireless Technology, smart chips, onboard computer, mobile apps, yang akan mendorong jenis bisnis model baru.

Konektifitas selama perjalanan yang berkaitan dengan penyimpanan data yang besar sudah menjadi kebutuhan. Bahkan, McKinsey & Company (2014) dalam laporannya menyatakan bahwa lebih dari seperempat dari pembeli mobil mengatakan bahwa konektivitas internet lebih penting daripada fitur seperti tenaga mesin dan efisiensi bahan bakar. Menurut perkiraan Gartner, dalam lima tahun ke depan, jumlah mobil yang terhubung dapat melebihi seperempat miliar di seluruh dunia.

Mobil terhubung awan masa depan di sini hari ini – dan tumbuh di nomor. Ini adalah tren didorong sebagian besar oleh permintaan konsumen. Dalam 2014 laporan McKinsey & Company, lebih dari seperempat dari pembeli mobil mengatakan bahwa konektivitas internet lebih penting daripada fitur seperti tenaga mesin dan efisiensi bahan bakar. Dalam lima tahun ke depan, jumlah mobil yang terhubung dapat melebihi seperempat miliar di seluruh dunia, menurut perkiraan Gartner.

Yang dibutuhkan, bukan hanya kecepatan dalam konektifitas saja, tetapi juga stabil. Di indutsri otomotif sendiri sudah mulai merambah ke koneksi nirkable 4G yang diimplementasikan dalam kendaraan produksi terbarunya. Bahkan sudah mulai ada yang membuatnya menjadi standar. Terutama untuk model-model yang akan diproduksi pada tahun 2010.

Teknologi yang digunakan adalah kombinasi WiFi dan teknologi IoT. Kedua teknologi tersebut membuka jalan untuk membangun aplikasi yang dibutuhkan oleh pengemudi maupun penumpang. Seperti Navigasi, info lalu lintas yang realtime, informasi parkir, streaming infotainment dan integrasi antara dashboard, smartphone dan perangkat. Baik berkaitan dengan health tracking dan jam pintar.

Sumber Pendapatan Baru

Industri otomotif yang dikaitkan dengan Big Data akan menggeser pengalaman kita selama berkendara. Tentu ini akan menjadi pengalaman baru, baik bagi pabrikan mobil, penyedia layanan maupun industri lain yang terkait. Termasuk juga industri travel atau wisata.

Pendapatan dari jasa mobil yang sudah memanfaatkan teknologi IoT ini di lima tahun kedepan akan mencapai $ 40 miliar, seperti yang disampaikan oleh SNS Research beberapa waktu lalu. Bahkan, di dalamnya juga termasuk industry keuangan sebagai penjamin kredit mobil dengan mudah melakukan penagihan yang fleksibel. Baik dalam pembayaran di muka, langganan maupun skema pembayaran lainnya.

Semua kegiatan financial tersebut dapat dimanfaatkan oleh perusahaan telekomunikasi sebagai penyedia jaringan IoT sehingga mampu menambah pos-pos pendapatan yang baru. Hal yang sama juga dapat dimanfaatkan oleh para perusahaan pengembang aplikasi.

Layanan yang berkenaan dengan industry otomotis ini sudah dilakukan oleh Ford melalui SYNC dan EnForm dari Lexus. Produsen ini sudah menawarkan berbagai layanan tambahan bagi para konsumen nya yang berbasis Cloud. Seperti Always –On Access, layanan saat darurat, Roadside Assistance, Teen-driver monitoring dan advanced voice control.

Layanan tersebut diberikan secara berlangganan. Artinya, ada pemasukan yang regular bagi para penyedia jaringan maupun pengembang aplikasi. Dari sisi pelanggan, layanan tersebut menambah benefit dan memberikan pengalaman baru yang sungguh sangat diperlukan saat berkendara. Hubungan antara produsen dengan konsumen pun semakin erat, sehingga akan memudahkan ketika akan membuat loyality program. Dan hubungan ini pun akan menjadi lebih lama. Tidak sekedar beli saja. Ada entertain terhadap konsumen dan tentunya, nanti nya jika puas akan terjadi penjualan unit saat keluar unit baru.

Peluang Besar

Dilihat dari contoh di atas, maka layanan otomotif berbasis Cloud berpontensi sangat besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan ketika unit baru atau tipe baru dari sebuah merek mobil dipasarkan. Tapi jangan salah, potensi pun dapat merambah pada kendaraan second.

Seperti yang dilakukan oleh Verizon di Amerika dan Kanada. Pada musim panas lalu meluncurkan layanan HUM, layanan baru untuk purna jual. Untuk $14.99, pelanggannya dapat terhubung dengan Cloud. Layanannya berupa alert accident, system diagnostic dan stolen vehicle locator service untuk mobil yang bukan baru. Semua ini dilakukan dengan memasang Port Onboard Diagnostic (OBD) di samping setir mobil. Port ODB inilah yang menjadi entry point dari aplikasi mobile yang terhubung dengan Cloud, khusus untuk kendaraan bermotor.

Smart Connected Cars

Saat ini, ketika Anda berkendaraan sangat memungkinkan berinterasi dengan sekeliling, bahkan dengan dunia sekalipun. Semua itu dapat dilakukan berkat Cloud Based System yang menggunakan IoT innovations seperti sensor jarak dan Predictive Intelligence. Seperti yang ada pada model Mercedes-Benz yang terbaru. Saat berkendara, Anda dapat terhubung langsung ke Nest, IoT powered smart home system, mengaktifkan control suhu di rumah sebelum Anda sampai di rumah. Sungguh mengasyikan. Setelah lelah bekerja, disambut oleh suhu yang nyaman di rumah.

Potensi koneksi lain yang dapat dilakukan dalam jarak jauh tentu menjadi bisnis model baru di masa depan. Bahkan dengan mudah menginformasikan pada rekan meeting Anda ketika jalanan macet dan akan terlambat datang meeting. Lalu, mampu mengkonfirmasi janji, melakukan reservasi tempat untuk makan malam hingga menu yang diinginkan.

Selain itu, Anda juga dapat pesan tiket film, membayar bensin dan parkir. Semua dilakukan secara mandiri tanpa ada yang ikut campur. Tentu, layanan tersebut membutuhkan mekanisme penagihan secara berlanggan atau berbasis penggunaan. Hal ini harus mulai dipikirkan oleh para service provider. Sehingga ketika datang waktunya, sudah siap dengan skema yang tepat.

Tiga Model Bisnis Potensial

Ada standar monetization, ada tiga model bisnis  yang mungkin dihadapi ketika IoT kawin dengan industri otomotif.

Pertama, Car Sharing. Ke depan, trend Car sharing akan semakin disukai oleh masyarakat. Sebenarnya, seperti model bisnis yang dilakukan oleh Uber. Diperkirakan pada 2030 mendatang, ada sekitar 650 miliar orang seluruh dunia akan menggunakan model Car-Sharing ini, seperti yang disampaikan oleh ABI Research. Contoh bisnis lainnya adalah agen rental mobile maupun pengoperasian kendaraan perusahaan. Bahkan pabrikan pun melihat tren tersebut menjadi cara yang cerdas yang akan meningkatkan jumlah penjualan tradisional.

Kedua, Pay Per Use. Bayar sesuai dengan penggunaan. Ini model bisnis yang menarik. Di mana, ketika semua sudah berjalan, Anda tidak perlu lagi membeli kendaraan dengan harga mahal. Cukup membayar sesuai dengan waktu Anda menggunakan kendaraan tersebut. Biaya perbulan akan dipatok sesuai dengan penggunaan. Tentu, hal ini dapat dijadikan model bisnis yang menarik karena akan sesuaikan dengan jarak tempuh dan sangat menarik bagi masyarakat yang tinggal di Negara berkembang. Hal ini sudah dilakukan oleh Citroen, Pabrikan asal Eropa sejak tahun 2014. Namun, dengan adanya teknologi IoT maka model bisnis ini pasti akan lebih menarik lagi. Tidak saja bagi pengguna kendaraan, pabrikan dan industri pembiayaan.

Ketiga, Direct-To-Consumer Sales. Penjualan langsung ke konsumen sudah dilakukan oleh Tesla Motors. Di mana perusahaan ini menjual IoT Infused. Jadi, Tesla dapat melakukan hubungan langsung dengan para pelanggannya kapan pun dan di mana pun konsumen nya berada. Perusahaan ini dapat secara proaktif melakukan upgrade, pemeliharaan, menambahkan fitur baru dan secara intensif memasukan model terbaru langsung ke setiap dashboard konsumennya.

Dulu, inovasi dari Tesla Motors ini sempat di larang oleh beberapa Negara dan ditekan oleh lobi yang kuat dari para dealers. Namun, di sisi lain, Federal Trande Commission (FTC) sangat mendukung layanan ini.

Maju Terus Pantang Mundur

Inovasi teknologi akan terus berlanjut. Tentu akan mempengaruhi harga atau yang dibayarkan untuk sebuah mobil. Baik untuk kendaraan yang memiliki layanan digital, asuransi mobil dan peralatan serta layanan lainnya. Diproyeksikan, tidak akan sampai 10 tahun, semua layanan tersebut sudah banyak digunakan oleh masyarakat. Nanti akan banyak layanan transportasi yang dijalankan secara pintar dari Cloud.

Satu hal yang tidak dapat dipastikan adalah bagaimana inovasi teknologi di kemudian hari akan menjadi tren. Tetapi yang pasti, dalam sebuah bisnis perlu ada cara yang strategis untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi. Dan peluang itu, akan hadir dengan menggabungkan antara mobil dengan internet. (Icha)

Di Masa Depan, IoT akan Pengaruhi Strategi Pemasaran

0

Jakarta – Ada setidaknya 50 miliar benda, dimana masing-masing memiliki sistem komputasi sendiri yang tertanam didalamnya dan mampu berinteraksi dengan infrastruktur internet yang ada, yang diperkirakan akan menjadi bagian dari Internet of Things (IoT) pada tahun 2020 nanti.

Permasalahannya adalah, laju pembangunan untuk IoT lebih cepat dibandingkan dengan kemajuan yang dibuat dalam bidang perangkat elektronik saat ini, terutama karena pembangunan perangkat elektronik secara global telah mendekati batas maksimum.

Dari segi bisnis, beberapa implikasi pemasaran harus diciptakan guna mengikuti perkembangan teknologi IoT yang sedang berjalan dan terus berkembang.

Strategi Pemasaran IoT

Konsumen akan merespon jauh lebih baik produk yang menawarkan daya tarik. Semua ini mempromosikan loyalitas dan komitmen untuk nama merek tertentu, dan ini tepatnya semacam efek yang selalu diinginkan pemasar untuk dicapai. Di masa depan, tren ini akan ditekankan dan dikembangkan lebih lanjut untuk mendorong hubungan yang lebih erat antara konsumen dan penjual.

Penjual juga akan lebih tepat sasaran dalam menawarkan produk mereka kepada konsumen dengan menggunakan big data analitik. Hal ini terasa perlu untuk memberikan informasi yang tepat kepada calon pelanggan yang paling mungkin untuk melakukan pembelian.

Ini akan membutuhkan investasi yang lebih besar dalam produksi iklan, serta penelitian yang lebih baik untuk mengidentifikasi kelompok konsumen yang tepat untuk menyampaikan pesan.

Layanan nilai tambah dari suatu produk akan menjadi lebih penting dan lebih ditekankan pada era Internet of Things. Sebagai contoh,  jam tangan biasa yang akan bertransformasi menjadi smartwatch, dengan terkoneksi pada jaringan data atau nirkabel, kemudian blender dapur akan digantikan oleh blender dapur pintar, dan jenis strategi akan mulai menembus semua pengembangan produk dan strategi pemasaran.

Steve Reed, VP Development Client, Elevation Market mengungkapkan, “Kita berada pada titik puncak perubahan teknologi secara revolusioner, Nilai yang melekat dari Internet of Things adalah menghubungkan perangkat ke sistem cloud dimanapun lokasi Anda berada saat ini, dengan kemajuan IoT akan membuat setiap industri dapat menikmati banyak peluang untuk memasarkan produk kepada pembeli potensial dan menargetkan pelanggan sehingga mencapai hasil yang instan dan maksimal.”

 

Pemasaran dan periklanan akan diberikan dengan lebih spesifik dan efektif lagi karena banyak perangkat pintar yang akan dipasang di seluruh negara yang dapat menyediakan data penggunaan yang sangat besar. Hal ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan lebih banyak cara mengenai strategi, dan meningkatkan laba atas investasi untuk masa depan penjualan. Kesempatan yang cepat untuk modifikasi dan perbaikan strategi juga menjadi salah satu keuntungan perusahaan apabila perangkat pintar tadi tidak memberikan hasil yang real.

Perubahan juga terjadi dari sisi Customer Relationship Management (CRM), yang akan berbentuk sebuah aplikasi, sehingga perusahaan akan lebih banyak mendapatkan data pengguna dan mempermudah mereka untuk mendapatkan insight pengguna. CRM pun berguna untuk menganalisis dan mengumpulkan data pelanggan, sehingga perusahaan dapat mengambil tindakan cerdas mengenai basis konsumennya.

Kecepatan Broadband di Uni Eropa Tak Sesuai yang Dijanjikan

0

Jakarta – Pelanggan broadband di Uni Eropa hanya mendapatkan 75 persen dari kecepatan download yang diiklankan, meskipun harga broadband terus menurun di seluruh benua. Ini hanya dua dari tiga temuan studi pada kecepatan broadband, harga dan cakupan yang diterbitkan oleh Komisi Eropa belum lama ini.

Menurut Telecompaper, Jumat (23/10), laporan pertama untuk kecepatan broadband di semua negara Uni Eropa ditambah Islandia dan Norwegia meliputi angka yang diperbarui untuk Oktober 2014. Di sini ditunjukkan bahwa rata-rata kecepatan broadband di Eropa tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan, dengan angka 75 persen sama seperti yang diposting di 2013. Meskipun investasi di jaringan broadband dilakukan terus menerus, yang menaikkan rata-rata kecepatan download yang sebenarnya secara signifikan dari 30 Mbps di 2013 menjadi 38 Mbps pada tahun 2014.

Studi ini juga menunjukkan bahwa perbedaan lebih kecil di kabel (86,5 persen dari headline kecepatan download yang diiklankan) dan FTTx (83 persen) dibandingkan DSL (63,3 persen). Selain itu, kecepatan download yang sebenarnya di Eropa tetap lebih tinggi daripada di AS, dengan layanan xDSL rata-rata 8.27 Mbps di Eropa dan 7.67 Mbps di AS. Sementara untuk layanan kabel dan FTTx, di Eropa rata-rata 66,57 Mbps dan 53,09 Mbps, di AS 25,48 Mbps dan 41,35 Mbps.

Studi kedua, terkait harga eceran broadband hingga Februari 2015, ditemukan bahwa harga broadband di EU28 turun sekitar 12 persen antara tahun 2012 dan 2015, dengan tawaran harga masuk akal untuk kecepatan 12 hingga 30 Mbps.

Namun, laporan ini menunjukkan bahwa harga secara signifikan bervariasi dan bisa sampai 300 persen lebih tinggi untuk layanan serupa tergantung pada lokasi. Secara umum, negara-negara Uni Eropa lebih murah daripada AS untuk broadband di atas 12 Mbps, sementara Korea Selatan dan Jepang lebih murah daripada EU28 untuk broadband di atas 30 Mbps.

Studi pada cakupan broadband juga menemukan bahwa lebih dari 216 juta rumah tangga di Uni Eropa (99,4 persen dari total) memiliki akses ke setidaknya satu teknologi broadband tetap atau mobile pada akhir 2014 (tidak termasuk satelit).

Penetrasi broadband mobile 4G kecepatan tinggi meningkat dari 59,1 persen pada 2013 menjadi 79,4 persen pada tahun 2014. Teknologi Next Generation Access (NGA) – mampu memberikan setidaknya 30 Mbps – tersedia di 68,1 persen rumah, naik dari 61,9 persen tahun lalu.

Begini Implementasi Internet of Things di Industri Hiburan

0

Jakarta – Internet of Things, tak bisa dipungkiri lagi telah menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah sektor industri di luar sana. Tak hanya mereka yang berkutat dalam industri teknologi saja yang ingin mengimplementasinya dalam kehidupan nyata, tetapi juga fashion dan hiburan.

WME-IMG, misalnya, perusahaan entertainment yang berbasis di Amerika Serikat ini bahkan mengumumkan usaha patungannya dengan AGT Internasional untuk mengembangkan pengalaman fisik berbasis aplikasi untuk peserta dari banyak acara live yang mereka hasilkan.

“Internet of Things” digambarkan sebagai harmonisasi digital dari segala sesuatu yang disentuh, sebagai contoh sebuah perangkat yang mampu menyalakan oven saat pengguna sedang bekerja, membersihkan lantai si pengguna, mengunci pintu dari lokasi terpencil,  mengendarai kendaraan mereka dan banyak lagi.

Kemitraan baru AGT ini akan menawarkan platform yang terhubung dengan konsumen pada sebelum, selama dan setelah acara berlangsung.

Dilansir dari Thewrap (23/10), sebuah tweet akan memberitahu pengguna seberapa cepat jantungnya berdenyut sebelum ia mulai memasuki arena konser. Data tersebut memungkinkan pihak penyelenggara untuk memberikan promosi dan hadiah sesuai keadaan yang ada.

Bukan hanya itu, para penghibur di panggung juga akan mengetahui kapan kiranya para penonton akan ke kamar mandi, dan kapan waktu yang tepat bagi mereka untuk beristirahat.

“Perusahaan consumer dan hiburan telah mengumpulkan wawasan selama bertahun-tahun, tetapi sangat sedikit dari klien dan mitra kami memiliki akses ke analisis data yang memungkinkan mereka untuk bertindak tepat dalam memberikan konten yang relevan dan pengalaman yang lebih baik untuk penonton mereka,” ungkap Ariel Emanuel, Co-CEO WME-IMG.

Ia juga menambahkan bahwa kerjasama dengan AGT ini menandai pergeseran sebuah paradigma yang mengakui bahwa teknologi IoT dan ilmu data fundamental akan mengubah cara orang dalam menikmati acara live, serta bagaimana mereka mengkonsumsi berbagi konten yang penting bagi mereka.

Sebagai permulaan, implementasi dari teknologi ini akan dimulai pada kanal olahraga, fashion dan acara kuliner tahun ini. [AK/IF]

China Unicom Terus Ditinggalkan Pelanggannya

0

Jakarta – Penurunan jumlah pelanggan tampaknya tak hanya dialami oleh operator dalam negeri. Di China, China Unicom juga dikabarkan mengalami nasib serupa. Operator seluler terbesar kedua di China ini kehilangan 287.000 pelanggan selulernya bulan lalu.

Jumlah itu turun dari lebih dari setengah juta kehilangan di bulan Agustus dan puncaknya 2,82 juta di bulan Februari. Pertumbuhan basis pelanggan terjadi terakhir kali pada bulan Januari.

Pada akhir September, China Unicom memiliki 287.57 juta pelanggan mobile, turun dari 299 juta pada awal 2015.

Menurut laporan Total Telecom, Jumat (23/10), 172.46 juta dari total pelanggan adalah pelanggan 3G dan 4G, yang naik dari 149 juta pada awal tahun. Namun, perusahaan telekomunikasi yang mengoperasikan layanan 4G penuh lewat teknologi FDD LTE ini enggan membagi angka pasti terkait jumlah pelanggan 4G-nya.

Sebaliknya, sang pesaing utama, China Mobile – yang mampu meluncurkan 4G pada akhir 2013 – memiliki 247.62 juta pelanggan 4G pada akhir kuartal ketiga. Dengan total basis pengguna mobile hampir 823 juta, meningkat lebih dari 16 juta selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Dalam konteks revenue, China Unicom menghasilkan pendapatan sebesar CNY211.9 juta atau sekitar Rp 400 miliar, dalam sembilan bulan pertama tahun ini, turun 1,6% pada periode yang sama tahun 2014. Sementara pendapatan layanan turun 3,8% menjadi CNY179.8 miliar.

Hal yang tak jauh berbeda tampak pada laba perusahaan, yang tergelincir sebesar 22,6% menjadi CNY8.18 miliar.

Reformasi PPN di China, dalam hal ini disebut-sebut menjadi pemicu terpukulnya industri telekomunikasi di negeri tirai bambu itu. Paling tidak selama beberapa kuartal terakhir.

China Unicom mengatakan bahwa kebijakan data mobile yang baru-baru ini diumumkan akan berdampak pada angka di Q4.