spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1695

3 Faktor Penting Data Center Untuk IoT Ready

0

Telko.id – Tahun 2020, berdasarkan data dari perusahaan analis Gartner, akan ada lebih dari 26 miliar perangkat yang saling terhubung. Termasuk juga wearable technology, peralatan elektronik di rumah-rumah, dan banyak lagi. Hal ini akan sangat mempengaruhi pasar data center, karena penerapan IoT akan menghasilkan sejumlah besar data yang perlu diproses dan dianalisis secara real time. Untuk itu banyak perusahaan membutuhkan solusi agar tetap mampu mengikuti perubahan tersebut.

Besarnya koneksi jaringan dan jumlah perangkat elektronik yang saling terhubung menciptakan permintaan yang lebih tinggi untuk kapasitas data center. Namun, hal ini menimbulkan tantangan khusus bagi data center, terutama di bidang infrastruktur, keamanan, kapasitas data, manajemen storage, server dan jaringan data center. Oleh karena itu, untuk dapat secara proaktif memenuhi berbagai prioritas bisnis yang terkait dengan IT, pemilik dan pengelola data center harus melihat lebih jauh manajemen kapasitas data center mereka.

“Ada tiga bidang utama yang perlu diperhatikan bagi para perusahaan data center yakni data center yang lebih fleksibel dan agile, teroptimalisasi secara penuh, dan dukungan Data Center Infrastructure Management (DCIM) yang memadai,” ujar Astri R Dharmawan, Business Vice President Schneider Electric IT Indonesia – Malaysia – Brunei menjelaskan.

Pada fokus yang pertama, untuk membangun data center dibutuhkan solusi data center prefabrikasi modular yang akan menghemat waktu secara signifikan. Dengan sistem tersebut, akan sangat mudah dan diandalkan dalam pembangunannya karena sudah dirakit dan diuji di pabrik – dalam kondisi yang sangat terkendali – dibandingkan merakit komponen di lapangan.

Lebih lanjut lagi, fenomena IoT dan big data kini turut mendorong munculnya platform Edge Computing yang mampu mendistribusikan beban data lebih dekat dengan perangkat sehingga mengurangi lambatnya komunikasi data melalui jaringan (latency) hingga 10 kali lipat dibandingkan jika menggunakan jaringan biasa. Data center untuk mendukung edge computing umumnya hadir dalam tiga bentuk yaitu: perangkat gateway atau embedded, Micro Data Center yang terdiri dari 1 hingga 10 rak, serta regional data center.

Selanjutnya, agar data center dapat berjalan optimal, perusahaan juga membutuhkan Data Center Lifecycle Services untuk membantu perusahaan mengantisipasi dan melakukan efisiensi atas kebutuhan energi yang lebih tinggi akibat besarnya jumlah data yang harus diproses. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan assessment terhadap infrastruktur data center yang ada supaya dapat dikumpulkan data mengenai kondisi infrastruktur data center saat ini.

Informasi tersebut dibutuhkan untuk menilai apakah kapasitas yang ada sekarang sudah cukup efisien dan bila ada perubahan kapasitas, seberapa besar penambahan kapasitas yang dibutuhkan. Selain itu, layanan assessment ini juga dapat membantu pelanggan merencanakan kebutuhan infrastruktur IT mereka sampai beberapa tahun ke depan, sesuai dengan rencana pengembangan bisnis ke depan.

Fokus terakhir yang juga sangat penting adalah kehadiran DCIM yang memungkinkan pelanggan untuk melakukan monitoring perangkat di dalam data center agar semua ancaman yang dapat menyebabkan downtime di data center seperti ancaman panas, kebocoran air, kelembaban, api dan lain lain dapat segera dideteksi (real time), bahkan dari jarak jauh.

Mengenai DCIM, Astri mengungkapkan, “Untuk mengintegrasikan seluruh komponen data center dan memudahkan monitoring, software DCIM legendaris dari Schneider Electric, StruxureWare™ menggabungkan berbagai aplikasi software yang sekarang menjadi pemimpin pasar sehingga mempermudah konvergensi sistem.

Solusi ini menghasilkan informasi yang langsung dapat ditindaklanjuti baik itu oleh pengguna yang sudah expert, maupun tim IT dan tim pemeliharaan fasilitas untuk memastikan data center terus beroperasi dengan siaga dan efisien.”

“Melalui berbagai solusi inovatif data center yang kami tawarkan, kami akan terus berkomitmen untuk membantu meningkatkan daya saing pelanggan kami di tengah pertumbuhan IoT, khususnya dalam berdaptasi dengan perubahan teknologi yang sangat dinamis. Semoga acara hari ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan data center yang fleksibel, dapat diandalkan, namun sangat efisien dari segi biaya dan pengoperasian,” tutup Astri. (Icha)

Inovasi Digital Berbasis 4G LTE Jadi Fokus XL di 2016

0

Telko. id – Melanjutkan agenda transformasi yang telah diterapkan sejak tahun lalu, PT XL Axiata (XL) akan fokus pada pengembangan layanan 4G LTE di tahun 2016. Hal ini sejalan dengan salah satu target perusahaan, yaitu menciptakan peluang pertumbuhan bisnis baru (re-invent). Peluang-peluang baru tersebut akan berbasis pada teknologi digital, melalui pemanfaatan layanan internet cepat 4G LTE.

Presiden Direktur XL, Dian Siswarini  mengatakan dalam keterangan resminya, sejumlah rencana telah disiapkan XL, mulai dari penyediaan jaringan 4G LTE yang mumpuni, penyiapan ekosistem yang komplit, hingga menyiapkan sejumlah program yang sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan penggunaan pelanggan atas layanan data yang diharapkan.

“Salah satu program yang kini telah mulai memasyarakat adalah kampanye marketing iinternet on, worries off’ serta ‘4G LTE on, worries off’,” katanya.

Sebagai informasi, agenda transformasi bisnis yang dijalankan oleh XL diimplementasikan melalui strategi 3R yang telah berjalan sejak awal tahun 2015. Strategi 3R ini sendiri meliputi “Revamp, Rise & Reinvent.” Revamp, berarti mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan (dari “volume” ke “value”), strategi distribusi serta meningkatkan profitabilitas produk. Rise, berarti meningkatkan nilai brand XL melalui strategi dual-brand dengan AXIS untuk menyasar segmen pasar yang berbeda. Sementara Reinvent, berarti membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.

Transformasi bisnis ini dilakukan XL untuk merespon dinamika perubahan pasar yang sangat dinamis dan fokus untuk menciptakan nilai-nilai sehingga XL dapat membangun bisnis yang lebih berkelanjutan ke depannya.

Menurut Dian, langkah utamanya adalah  XL harus bisa meyakinkan pelanggan dan masyarakat bahwa layanan internet cepat 4G LTE XL adalah yang paling berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Tentu saja, ini bukan hal yang mudah dan hanya cukup dikatakan, namun harus dibuktikan. Untuk itulah, XL sangat serius menyiapkan semua syarat untuk bisa meyakinkan pelanggan dan masyarakat. Dari capex atau belanja modal kurang dari Rp 7 triliun yang disiapkan untuk 2016 ini, mayoritas dialokasikan untuk mendukung bisnis layanan Data termasuk memuluskan rencana pengembangan 4G LTE.

Langkah selanjutnya adalah, XL akan berusaha mendorong kepemilikan smartphone 4G LTE oleh pelanggan. XL berharap tahun ini pelanggannya yang menggunakan layanan 4G bisa mencapai sekitar 9 juta pelanggan atau tiga kali lipat pelanggan 4G di akhir tahun 2015.

Dengan demikian, akan semakin mudah bagi XL untuk membuktikan sekaligus memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan atas tersedianya layanan internet cepat yang kaya manfaat. Untuk itu, XL akan terus menyelenggarakan program bundling ponsel 4G LTE yang menarik dan mampu menjangkau semua lapisan pelanggan.

Selain itu, XL juga akan terus mendorong dan mempermudah pelanggan untuk mengganti kartu SIM lama dengan SIM 4G LTE. Saat ini lebih dari 3 juta pelanggan XL yang telah menggunakan SIM 4G LTE.

Kemudian, XL akan terus melanjutkan perluasan layanan 4G LTE ke kota-kota dan area yang belum tersentuh internet cepat. Hingga akhir tahun 2016 nanti, XL memiliki target setidaknya sebanyak 85 kota sudah terlayani.

Pengembangan area layanan 4G LTE XL juga akan sejalan dengan program kerjasama XL – Indosat Ooredo dalam berbagi jaringan (network sharing) yang secara efektif telah dilaksanakan sejak Desember 2015 lalu.

Secara teknis, pada tahap awal, kerjasama ini baru sebatas network sharing pada radio access network. Kedua pihak berkomitmen melanjutkan kerjasama ini dengan dukungan Pemerintah dengan harapan kerjasama dapat diperluas menjadi core network sharing yang akan lebih meningkatkan penghematan yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk dapat melayani pelanggan pengguna LTE lebih banyak, tentunya dengan kecepatan data yang tinggi dan pengalaman penggunaan layanan yang lebih baik.

CEO Nokia Tegaskan ‘Comeback’ ke Industri Ponsel

0

Telko.id – Setelah merasakan kejayaan di pasar ponsel, nama besar Nokia sempat tenggelam dan merubah mode bisnisnya dann lebih berfokus sebagai vendor jaringan dan telekomunikasi. Langkah tersebut terbukti ampuh jika melihat banyaknya operator seluler di seluruh dunia yang menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan layanan 4G, VoLTE hingga LTE Advanced dengan Carier Aggregation (CA) nya.

Namun, Nokia juga sempat dikabarkan akan kembali masuk ke pasar ponsel pada 2016 ini. Sayangnya hal tersebut belum diketahui pasti kapan waktu persis nya perusahaan ini akan kembali merambah bisnis ini.

Pada ajang Mobile world Congress (MWC) di Barcelona, Perusahaan asal Finlandia ini kembali menekankan bahwa pihaknya sedang dalam tahap ‘On Progress’ pada rencana untuk menjual smartphone. Hanya saja tidak tahu kapan.

“Kami tidak bisa menyebutkan waktu karena kami tak terburu-buru,” ucap Chief Executive Nokia Rajeev Suri seperti dikutip dari laman Cnet (22/2). Selain itu, Suri juga menyebutkan hal itu bisa terjadi pada tahun 2016 ini atau mungkin bisa lebih lama lagi.

Seperti diketahui, pada 2014 silam, Nokia menjual bisnis device kepada Microsoft sebesar USD7,2 miliar. Sejak itu, ia memperoleh kemabli hak menjual smartphone dengan merek Nokia. Namun, Setelah proses pengakuisisian mereka kembali merilis sebuah tablet dengan OS Android. Sementara itu, pada Juli lalu Nokia memberikan signal bahwa mereka akan kembali memasuki pasar ponsel pada 2016, namun hingga kini mereka belum meluncurkan produk ponsel pintarnya lagi.

Sekedar Informasi, Masa kejayaan Nokia di dunia mobile dimulai pada awal 1990-an dan berlangsung selama 20 tahun dengan device unggulan mereka seperti Nokia 3210 dan 3310 yang sempat menjadi primadona dikala itu. Namun, seiring dengan hadirnya Iphone pada tahn 2007, serta hadirnya primadona baru yang bernama Blackberry, Nokia terkesan lambat dalam bertransformasi sehingga mereka harus dikesampingkan dalam persaingan ponsel pintar hingga saat ini.

Sementara itu, Rajeev Suri baru-baru ini kembali menegaskan, bahwa Nokia ingin menunggu partner yang tepat dan tidak terburu-buru kembali ke pasar mobile. Ia sebelumnya juga mengatakan, bahwa mereka tidak akan membuat ponsel, melainkan akan memberikan linsensi merek Nokia ke produsen.

Nokia percaya bahwa mereka masih memiliki potensi untuk membuat dampak pada dunia smartphone, dan kemungkinan terbesar untuk melakukannya adalah dengan menghadirkan perangkat premium. “Pengakuan merek masih sangat tinggi di semua pasar utama, dan kami pikir itu merupakan model bisnis yang baik,”tukasnya.

Saat ini mungkin Nokia tidak dalam industri Smartphone, namun mereka masih berada dalam lingkaran infrastruktur yang mendukung smartphone. Sejak mengakuisisi perusahaan teknologi Alcatel-Lucent, Nokia telah berfokus untuk membangun jaringan mobile 5G jaringan dan bersiap-siap untuk ‘menyerang’ dunia menggunakan connected device dan bukan tidak mungkin smartphone premium juga menjadi senjata mereka untuk bertahta di ranah 5G.

Baru Juga Terbang, Balon Google Jatuh di Sri Lanka?

0

Telko.id – Setelah beberapa waktu lalu sempat diterbangkan di Sri Lanka, balon Google – yang merupakan bagian dari layanan internet kecepatan tinggi perusahaan yang dikenal sebagai “Proyek Loon” – dikabarkan telah jatuh di sebuah perkebunan teh.

Penduduk desa menemukan sebuah balon dengan peralatan elektronik kempis di tengah kawasan perkebunan teh di Gampola pada Rabu malam. Demikian dilaporkan Phys, Senin (22/2).

“Pekerja di perkebunan teh menemukan itu jatuh di perkebunan. Mereka mengambil potongan-potongan (balon) itu dan membawanya ke stasiun,” ungkap sebuah sember.

Namun, Badan Teknologi Informasi dan Komunikasi Sri Lanka, yang mengkoordinasikan tes tersebut dengan Google, menggambarkan pendaratan balon tersebut sebagai sesuatu yang terkontrol dan terjadwal.

“Balon Google loon mendarat aman di bawah prosedur operasi standar yang ada sebagai bagian dari tes,” ungkap Kepala ICTA, Muhunthan Canagey melalui akun Twitter-nya. Namun, ICTA sendiri menolak untuk berkomentar ketika disinggung mengenai rincian pendaratan.

Seperti diketahui, satu dari tiga balon Google memasuki ruang udara Sri Lanka pada Senin lalu, setelah diluncurkan dari Amerika Selatan. Peluncuran ini merupakan bagian dari rencana bersama antara raksasa internet AS dan Colombo untuk memberikan akses internet kecepatan tinggi yang didukung oleh balon helium.

Pemerintah mengumumkan awal bulan ini bahwa mereka akan mengambil 25 persen saham di perusahaan patungan dengan Google. Sri Lanka tidak menginvestasikan modal apapun, tetapi akan menerima saham sebagai imbalan pengalokasian spektrum untuk proyek tersebut.

Sementara 10 persen sisanya akan ditawarkan kepada penyedia layanan telepon yang ada di pulau itu. Ia menjanjikan untuk memperluas cakupan dan harga yang lebih murah untuk layanan data.

Balon-balon Google sendiri, saat sampai stratosfer, akan dua kali lebih tinggi dari pesawat komersial dan bergerak dengan angin menggunakan algoritma yang memberitahu mereka kemana untuk pergi. Google telah mengatakan bahwa balon-balon itu akan memiliki umur sekitar 180 hari, tetapi dapat didaur ulang.

Saat ini, kurang dari seperempat dari lebih dari 20 juta populasi di Sri Lanka memiliki akses reguler ke Internet. Selain menjadi negara pertama di Asia Selatan yang memperkenalkan ponsel pada tahun 1989, Sri Lanka juga menjadi negara pertama di wilayah tersebut yang mengungkap jaringan 4G dua tahun lalu.

Singapura Akan Lelang Banyak Spektrum di Dua Tahun Ini.

0

Telko.id -Singapore’s Info-Communications Development Authority (IDA) baru-baru ini merilis sebuah kerangka kerja rinci untuk pengalokasi spektrum yang telah diumumkan sebelumnya, sementara itu Fitch Ratings mengatakan kerangka ini akan memudahkan jalan bagi masuknya keempat operator seluler yang berada di negeri ‘Singa’ serta sekaligus mengintensifkan persaingan.

Seperti diketahui, regulator menurunkan harga cadangan untuk 60Mhz dari spektrum yang akan disisihkan untuk operator baru menjadi SGD 35 juta atau setara dengan $ 25 juta, angka ini sejatinya lebih rendah dari SGD40 juta. Regulator juga memberikan dua kali lipat alokasi spektrum di band 2.3Mhz menjadi 40Mhz.

Fitch juga menyebutkan bahwa pihak regulator telah merilis 2x10Mhz di band 900Mhz dan 40Mhz di band 2.3Mhz yang akan diperebutkan oleh ‘pendatang baru’, spektrum 2300 Mhz tentunya akan menjadi percampuran spektrum yang baik untuk cakupan 4G secara luas dan kapasitas yang juga lega.

“Kami melihat adanya keuntungan dari ‘pendatang baru’ ini serta alokasi yang lebih besar dari 900Mhz yang sangat didambakan oleh para operator dibandingkan dengan 10Mhz yang disisihkan untuk masing-masing dari tiga pemain lama,” ucap Rating Agency ini.

Skedar informasi, Singtel saat ini memiliki 2x15MHz dari 900MHz, sementara M1 memiliki 2x10MHz dan StarHub memiliki 2x5MHz di frekuensi yang sama.

Setelah lelang pada frekuensi yang baru ini, lelang spektrum umum akan digelar dan terbuka untuk tiga pemain lama dan setiap operator baru yang muncul dari lelang pertama.Sekedar informasi, sebanyak 235MHz spektrum akan tersedia dalam lelang tahun ini.

Fitch juga mengungkapkan bahwa pengalokasian spektrum 900MHz lebih kecil untuk para peserta yang ada dan tentunya mereka perlu meningkatkan belanja modal selama dua tahun ke depan. Seperti dilansir dari MobileWorldLive (22/2)

Sekedar informasi, IDA juga akan melelang spektrum 700MHz pada kuartal ketiga di tahun ini, namun jumlah yang akan dirilis tidak pasti karena ketersediaan akan tergantung pada migrasi siaran TV analog ke TV digital.

Sementara itu, spektrum 900MHz akan tersedia mulai dari 1 April tahun depan dan pemenang akan memiliki 18 bulan (sampai Oktober 2018) untuk menggelar cakupan nasional. Sebelum jaringan yang sepenuhnya dikerahkan, pendatang baru awalnya kemungkinan akan menggunakan jaringan incumbent untuk menyediakan cakupan yang lebih luas.

Karena IDA tidak mengatur harga grosir pada layanan mobile, pendatang baru akan memiliki beberapa keuntungan biaya sampai spektrum 900MHz sepenuhnya beroperasi, kata Fitch. Dan investasi besar yang diperlukan akan membatasi kemampuannya untuk bersaing secara agresif pada harga dalam dua tahun pertama.

Singtel, dengan aliran pendapatan yang terdiversifikasi hanya 34 persen omset di Singapura, berada di posisi terbaik untuk menghindari persaingan dari pemain baru, sedangkan M1 adalah operator yang paling terkena dampak dari pendatang baru.

Lenovo Kenalkan Layanan Roaming Nirkabel Global

0

Telko.id – Dalam ajang Mobile World Congress yang berlangsung di Barcelona hari ini, Lenovo Group Ltd mengumumkan rencananya untuk meluncurkan layanan nirkabel global untuk perangkat mobile-nya guna memotong biaya roaming pengguna.

Layanan yang disebut Lenovo Connect ini memungkinkan pengguna melakukan perjalanan ke 50 negara dan menggunakan perangkatnya dengan harga lokal untuk Internet mobile, tanpa menginstal kartu SIM baru.

Selama bertahun-tahun, roaming atau biaya tambahan untuk penggunaan layanan telekomunikasi di luar negara asal seseorang telah menjadi sumber kemarahan konsumen, mengingat biaya tagihan telepon yang tinggi setelah kembali dari liburan.

Dilaporkan NDTV, Senin (22/2), Uni Eropa telah setuju untuk menghapuskan biaya roaming mobile di seluruh blok 28-negara pada bulan Juni 2017, mengharuskan operator telekomunikasi untuk memperlakukan semua lalu lintas internet secara sama.

Lenovo mengatakan perusahaan bisa menawarkan layanan melalui mobile virtual network operator (MVNO), yang saat ini memiliki 11 juta pengguna secara global.

MVNO sendiri merupakan operator yang menyewa akses pada jaringan pesaing yang lebih besar dan cenderung untuk menjual data ponsel yang lebih murah, sering tanpa kontrak jangka panjang.

Layanan dari Lenovo ini akan tersedia di China bulan ini pada smartphone LeMeng X3 dan tablet MIIX 700 milik perusahaan. Sementara beberapa pengguna laptop ThinkPad Lenovo di Eropa, Timur Tengah dan Afrika akan dapat mulai menggunakan layanan ini pada kuartal pertama.

Telstra Jadi Operator Berikutnya yang akan Ujicoba 5G di 2018

0

Telko.id – Satu lagi operator seluler yang mengurai rencananya tentang 5G, dan dia adalah Telstra. Perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Australia ini berencana untuk menggelar ujicoba teknologi penerus 4G pada 2018 mendatang, atau bertepatan dengan Commonwealth Games.

Dalam ajang Mobile World Congress yang saat ini tengah berlangsung di Barcelona, Spanyol, Direktur Jaringan Telstra, Mike Wright mengatakan bahwa percobaan ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman tentang bagaimana kinerja hardware radio 5G di lapangan.

Dia mengatakan Telstra tidak berencana untuk mengujicoba perangkat 5G komersial, melainkan lebih ke chipset 5G. Dan perusahaan akan terus menyempurnakan itu ke depannya.

Untuk mewujudkan niatnya ini, Telstra akan menggandeng Ericsson sebagai partner, termasuk mengirim insinyur ke Swedia selama enam bulan untuk berkolaborasi mengenai teknologi gelombang milimeter (mmWave) dalam persiapan untuk uji lapangan 5G di Australia akhir tahun ini.

Telstra juga akan berpartisipasi dalam proses standarisasi 5G untuk memastikan bahwa generasi berikutnya dari teknologi mobile ini memenuhi kebutuhan unik dari Australia, sebuah pasar yang berkembang namun jarang penduduknya.

Selain itu, Telstra juga mengumumkan akan menyebarkan awan telekomunikasi Ericsson, virtualisasi jaringan inti nirkabel dalam kesiapan untuk 5G dan layanan Internet of Things (IoT) yang lebih maju.

“Telstra akan menjadi lead costumer kami dan salah satu perusahaan telekomunikasi pertama di dunia yang akan melakukan virtualisasi pada jaringan intinya,” ungkap Emilio Romeo, bos Ericsson untuk Australia dan Selandia Baru.

Berdasarkan kesepakatan itu, Ericsson akan menyediakan seluruh telekomunikasi cloud yang mencakup fungsi jaringan virtualisasi (NFV) dan software-defined networking (SDN). Demikian dilansir dari Total Telecom, Senin (22/2).

Romeo mengatakan Telstra akan memiliki jaringan tangkas yang sepenuhnya diprogram, yang siap 5G dan mendukung network slicing, di mana jaringan fisik tunggal dibagi dalam beberapa jaringan virtual dengan kapasitas dan cakupan yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu untuk beragam kasus penggunaan.

Penuhi Janji, SK Telecom Hadirkan 5G di MWC

0

Telko.id – SK Telecom akirnya memenuhi janji mereka untuk menunjukkan layanan 5G yang juga diklaim sebagai pertama di dunia. Mereka memamerkan kecepatan internet 20Gbps ini pada ajang Mobile World Congress di Barcelona pekan ini.

Sekedar informasi, platform 5G mereka dapat memberikan kecepatan transmisi data hingga 20 Gbps melalui jaringan, hal ini tentunya memenuhi persyaratan kinerja yang ditetapkan oleh International Telecommunication Union (ITU) untuk generasi berikutnya dari jaringan mobile, ucap perwakilan SK Telecom dalam sebuah pernyataan .

Selain itu, operator asal Korea Selatan ini juga mengatakan bahwa sistem 5G yang dibangun bekerjasama dengan Nokia dan Ericsson, dengan kedua vendor ini menyediakan teknologi yang memberikan kontribusi pada kedua jaringan mereka. Demo ini juga mencakup perangkat prototipe 5G yang dikembangkan bersama dengan Intel.

Selain itu, SK Telecom akan menampilkan kasus penggunaan beragam untuk jaringan 5G, termasuk demo dari gambar hologram 3D untuk mewujudkan komunikasi yang realistis, yang menurut ramalan, teknologi ini akan menyebar luas di era 5G.

Di ajang yang sama, Perusahaan negeri Ginseng ini juga akan mengungkap perangkat prototipe 5G pertama yang akan mendukung komunikasi antara kendaraan serta meng’enabler’ inti kendaraan otonom. Selain itu, mereka juga akan menunjukkan permainan virtual reality yang tentunya melibatkan transmisi data dalam jumlah besar melalui jaringan 5G mereka.

Bukan hanya 5G, pada ajang yang digelar di Barcelona ini, raksasa seluler asal Korea Selatan ini juga memamerkan kemampuan mereka di sektor IOT dengan menunjukan sebuah ekosistem IOT secara end-to-end yang meliputi platform IOT, jaringan dan solusi.

Dilansir dari TelecomAsia (22/2), platform IOT yang mereka sebut sebagai ThingPlug akan diluncurkan pada bulan Juni mendatang. Paltform ini menawarkan lingkungan pengembangan ‘one-stop’ serta beragam fitur aplikasi yang bisa digunakan oleh pengembang, kata SK Telecom.

SK Telecom juga menyebutkan telah mengembangkan jaringan IOT beragam seperti Narrow-Band IOT (NB-IOT), yang memanfaatkan jaringan LTE yang ada, dan Low Power Wide Area (LPWA), serta jaringan eksklusif untuk IOT.

Selain itu, perusahaan akan menunjukkan layanan monitoring sepeda yang beroperasi melalui jaringan LPWA di Mobile World Congress tahun ini. Hal ini sebagai lawan layanan monitoring sepeda yang sudah ada yang menggunakan perangkat IOT terpasang dengan modul 3G, sehingga mengakibatkan biaya yang tinggi dan penggunaan daya baterai yang bermasalah.

Sementara layanan berbasis LPWA SK Telecom secara efektif mencegah pencurian sepeda dengan memungkinkan pelacakan menggunakan daya rendah dari lokasi sepeda. Saat ini, lembaga-lembaga publik di Korea yang mengoperasikan sepeda dalam jumlah besar menunjukkan ketertarikannya dalam layanan ini.

Selain itu, SK Telecom juga akan memperkenalkan layanan IOT mereka yang mirip seperti solusi Smart Home dan terhubung dengan layanan mobil T2C (tablet untuk mobil), mereka mengembangkan solusi ini bersama dengan Renault Samsung Motors.

Sekedar informasi, Renault Samsung Motors telah meluncurkan 25 peralatan yang kompatibel dengan Smart Home yang berbeda di Korea dan segera memperkenalkan perangkat yang dioptimalkan untuk Eropa dan Amerika Utara termasuk wallpad, robot vacuum cleaner, humidifier dan pembersih udara untuk mempromosikan ekspor produk tersebut.

Bharti Airtel Alirkan LTE Advanced di Kerala

0

Telko.id – Setelah berencana untuk menghadirkan layanan VoLTE jaringan 4G mereka, Operator jaringan telekomunikasi Bharti Airtel kini hadir dengan penyebaran layanan teknologi LTE-Advanced (4G +) di Kerala, India.

Dengan penyebaran, yang merupakan bagian dari program investasi senilai Rs 60.000 crore, Airtel telah menjadi operator seluler pertama di India dalam hal penyebaran komersial dari teknologi LTE-Advanced (4G +) dengan Carrier Aggregation di jaringan TDD dan FDD pada jaringan 4G.

Bharti Airtel nantinya akan menawarkan kecepatan data hingga 135 Mbps pada jaringan 4G di Kerala dengan menggunakan teknologi Carrier Aggregation dan menggabungkan kapasitas TDD mereka pada spektrum 2300 MHz serta jaringan FDD di frekuensi 1800 MHz yang mereka miliki.

Sekedar informasi, Nokia merupakan vendor jaringan 4G yang manangani LTE Advanced milik Bharti Airtel di Kerala, India. Seperti dikutip dari laman TelecomLead (22/2).

Sementara itu, CEO Bharti Airtel India, Gopal Vittal mengatakan, “Ini adalah game changer untuk mobile broadband di India dan Airtel telah mempelopori penyebaran 4G di India, kami sangat senang untuk menaikkan patokan inovasi guna memberikan pengalaman kelas dunia untuk pelanggan kami,”ucapnya.

Berbicara mengenai LTE Advanced sendiri, setidaknya sampai dengan kuartal terakhir tahun lalu. Jumlah penyedia teknologi ini telah mencapai 100 jaringan. Tercatat, untuk di Amerika Serikat sendiri telah memiliki tujuh penyedia teknologi ini, diantaranya, AT&T, Sprint, T-Mobile, Verizon Wireless dan RedZone.

Seperti diketahui, Airtel memiliki jaringan 4G terbesar di India dengan layanan aktif di lebih dari 350 kota. Airtel juga menjual layanan 4G kepada pelanggan pada berbagai perangkat pintar termasuk ponsel, dongle, hotspot 4G dan dongle Wi-Fi.

Sementara itu, Reliance Jio Infocomm, Vodafone dan Idea Cellular sedang dalam proses peluncuran jaringan 4G di kota-kota terpilih di India.

Manjakan Pengguna 3G, Digicel Gunakan Solusi NFV

0

Telko.id – Operator jaringan telekomunikasi Karibia Digicel telah menyebarkan solusi Network Functions Virtualization (NFV) untuk jaringan inti mereka. Digicel dibantu oleh vendor jaringan terkemuka yaitu Ericsson untuk mendeploy solusi ini.

Jaringan mobile broadband 3G dari Digicel di Guyana dengan jumlah subscriber mencapai 100.000 pelanggan adalah jaringan Ericsson pertama yang menggunakan solusi NFV di Amerika Latin. Digicel juga akan memanfaatkan teknologi NFV untuk skala jaringan yang lebih besar untuk layanan masa depan dan memungkinkan perampingan dan optimalisasi dari penawaran mereka.

Dilansir dari TelecomLead (22/2), Jaringan 3G terbaru ini akan memungkinkan Digicel untuk menawarkan peningkatan kecepatan serta peningkatan kualitas jaringan dan tentunya meningkatkan pengalaman pelanggan. Ericsson Virtual Evolved Packet Core terintegrasi dengan jaringan asli operator mobile. Sekedar informasi, solusi ini juga mendukung jaringan berbasis 2G, 3G dan tentunya LTE.

Krishna Phillipps, CTO, Digicel Region Karibia, mengatakan,”Kami meminta solusi dan dalam waktu 30 hari Ericsson datang dengan cara yang kreatif bagi kami untuk meningkatkan penawaran kami kepada pelanggan dengan solusi yang selangkah di depan,” ucapnya.

Bukan hanya itu, Phillips juga menyebut bahwa dengan solusi cloud ini, mereka akan terus melakukan investasi yang relatif lebih kecil, namun untuk pengaplikasiannya solusi ini dinilai aman serta mudah dalam mengadopsi layanan baru yang inovatif untuk masa depan.

SDN_ProductsAndSolutions_TA

Sejatinya, saat ini Ericsson buknlah satu-satunya perusahaan yang menawarkan solusi NFV, tercatat VMWare juga melakukan hal yang sama yang diresmikan pada ajang VMworld di Barcelona pada tahun 2015 silam. Solusi dari Mwre ini juga mendukung core mobile dan fungsi IMS.

Sementara itu, solusi Ericsson membawa paket lengkap NFV dan terdiri dari Ericsson Virtual Evolved Packet Core untuk mobile broadband serta Ericsson Cloud Execution Environment and Ericsson Cloud Manager.