spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1640

Telkomsel Tantang Generasi Muda Lahirkan Solusi Smart City dan Pedesaan

Telko.id – Saat ini belum banyak solusi Smart City di Indonesia. Apalagi untuk pedesaan. Itu sebabnya, Telkomsel melanjutkan NextDev 2016 dengan mengusung tema ‘Karya Anak Bangsa untuk Solusi Indonesia’. Tujuannya menantang kawula muda untuk menciptakan aplikasi seluler yang memberikan dampak sosial yang positif, terutama dalam hal pengembangan Kota Pintar (Smart City) dan daerah pedesaan.

“Sebagai operator seluler terdepan di Tanah Air, kami memiliki tanggungjawab untuk memajukan Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi. Salah satunya dengan mewadahi potensi generasi muda yang memanfaatkan teknologi secara tepat guna untuk berkreasi menghasilkan aplikasi seluler yang mampu mengatasi masalah di masyarakat. The NextDev hadir untuk mendorong kontribusi positif generasi muda, di mana aplikasi seluler yang dihasilkan akan mempermudah aktivitas seluruh elemen masyarakat,” ujar Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel menjelaskan.

Lebih lanjut, Ririek menyatakan bahwa pada penyelenggaraan kedua kali ini, Telkomsel akan memberi acknowledgement khusus untuk memotivasi pengembangan aplikasi di pedesaan. Hal ini disebabkan karena masalah perkotaan memiliki keterkaitan yang erat dengan masalah pedesaan. Dengan demikian, diharapkan konsep Smart City sebaiknya juga mampu mengakomodasi masalah di pedesaan untuk menciptakan dampak yang lebih holistik bagi masyarakat.

Melalui The NextDev, Telkomsel berupaya membangun ekosistem pengembangan digital Indonesia yang berkesinambungan yang ditentukan oleh Smart Innovation,Smart Community, dan Smart Solution. Sebagai Smart Innovation, The NextDev akan memberikan dampak positif dengan pemecahan masalah di Indonesia secara kreatif. Sebagai Smart Community, The NextDev akan menjadi roda penggerak masyarakat Indonesia dalam melakukan inovasi di bidang teknologi aplikasi. Sebagai Smart Solution, The NextDev akan menghasilkan teknologi aplikasi yang mampu menyelesaikan masalah perkotaan dan pedesaan di Indonesia.

Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama berkontribusi secara aktif memanfaatkan teknologi untuk melahirkan solusi yang memberikan dampak sosial yang positif, sehingga penerapan Smart City di berbagai daerah di Indonesia dapat dipercepat,” jelas Ririek.

Ada pun empat pilar utama yang mendorong percepatan terciptanya konsep penataan Smart City adalahSmart Economy, Smart Governance, Smart Environment, dan Smart Living. Smart Economy akan mendorong roda perekonomian kota secara berkesinambungan. Smart Governance akan mempermudah pengelolaan kota yang terintegrasi dan saling bersinergi. Smart Environment akan menciptakan lingkungan kota yang bersih dan asri. Sementera Smart Living akan menyediakan kemudahan dan kenyamanan hidup di kota.

Dalam kompetisi The NextDev 2016, terdapat sembilan sub tema yang memiliki fokus tersendiri sebagai dasar pengembangan solusi. Kesembilan sub tema yang bisa dipilih oleh peserta adalah agrikultur, kemaritiman, usaha kecil dan menengah (UKM), pemerintahan, energi, pariwisata, kesehatan, pendidikan, dan transportasi.

Persyaratan untuk bisa mengikuti kompetisi The NextDev tahun ini sama dengan tahun lalu, yakni Warga Negara Indonesia (WNI) berusia 18 hingga 30 tahun. Peserta dapat mendaftar secara individu atau tim (maksimal tiga orang). Mekanisme pendaftaran lebih lanjut akan diinformasikan melalui situs thenextdev.id. Dalam waktu dekat, sosialisasi kompetisi ini akan dilakukan di 20 kota di Indonesia, mulai dari Banda Aceh hingga Ambon.

The NextDev mengajak kawula muda untuk mewujudkan imajinasi dan ide mereka tentang Smart Citydan menjadi bagian dari program untuk membentuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Di akhir kompetisi, sebanyak 20 tim akan terpilih menjadi finalis. Para finalis akan memperoleh pelatihan dan pendampingan secara intensif dari beberapa pakar pada saat bootcamp untuk mengembangkan technical maupun soft skills, mulai dari teknik melakukan coding, marketing skills, hingga communications skills.

Ada sisi prestisius dalam The NextDev 2016, karena di samping karya mereka akan bermanfaat bagi orang banyak, tiga tim terbaik juga akan mendapatkan berbagai hadiah menarik yang disebut dengan 6M, yakni Market Access (akses pasar), Marketing (publisitas), Mentoring (pelatihan dan pendampingan),Management Trip (study visit ke pelaku industri telekomunikasi di luar negeri), Money (uang tunai), danMonetizing (peluang besar untuk memperoleh pendapatan melalui kolaborasi dengan stakeholder terkait).

Pada tahun 2015, The NextDev telah berhasil menarik minat generasi muda Indonesia. Sempat menjaditrending topic di media sosial Indonesia, The NextDev juga berhasil menghadirkan peserta dengan jumlah yang selalu melebihi target di 10 kota tempat pelaksanaan roadshow The NextDev. Tingginya minat peserta dalam kegiatan roadshow juga diikuti dengan tingginya jumlah submission, di mana hingga akhir periode terkumpul lebih dari 500 ide. Ratusan ide tersebut telah diseleksi menjadi 20 tim dengan ide aplikasi yang dianggap paling sesuai dengan visi Smart City Indonesia. 20 tim tersebut telah diberikan edukasi, pelatihan, serta dipertemukan dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintahan dan investor dengan tujuan mengangkat ide aplikasi mereka sehingga menjadi solusi Indonesia yang sesungguhnya. (Icha)

Inilah Storage ‘Murah’ dari EMC

0

Telko.id – EMC baru saja mengumumkan lini storage terbaru mereka yakni EMC Unity, sebuah sistem penyimpanan yang menawarkan ruang penyimpanan file dan block yang ramah biaya. Sekadar informasi, sistem penyimpanan ini menargetkan pasar departemen TI berskala kecil dan menengah.

Seperti diketahui, Storage ini menawarkan manajemen proaktif seperti cloud dan monitor melalui tampilan interface HTML5, yang bertugas untuk mengarahkan pengguna saat melakukan operasional harian.

Sistem ini juga diyakini telah terintegrasi dengan ekosistem VMware dan Microsoft sebagai opsi manajemen pihak ketiga.

“EMC Unity menawarkan data center modern yang mudah dan kinerja all-flash dalam satu paket harga yang terjangkau. Dirancang khusus untuk mendapat kinerja all-flash media secara maksimal, EMC menjadikannya lebih mudah dan lebih terjangkau untuk UKM dan enterprise dalam memodernisasi data center mereka,” ujar Senior Vice President and General Manager, Mid-Range Solutions, Core Technologies Division at EMC, Jeff Boudreau, pada keterangan rilis yang diterima Telko.id (10/5).

EMC Unity juga menawarkan fitur Proactive Assist baru, yang memberikan pengguna kendali TI, visibilitas dan manajemen otomatis dari sistem tersebut. Pengguna juga memungkinkan untuk mengawasi data pada sistem ini melalui EMC MyService 360, yakni sebuah layanan online terbaru dari EMC yang menghadirkan visibilitas secara real-time.

Lebih lanjut, EMC Unity juga dilengkapi dengan pilihan penggunaan, yakni Purpose-Built yang diperuntukan sebagai dasar dari flash data center, Software-Defined, yang berisi fitur pengelolaan data sebagai alat virtual, serta Converged yang didukung oleh konfigurasi VCE Vblock dan VxBlock System 350.

Lantas, berapa harganya? EMC membanderol sistem ini dalam dua konfigurasi dengan kapasitas hingga 80TB, yaitu all-flash dengan harga dari USD18.000, serta konfigurasi Hybrid array seharga kurang dari USD10.000. Solusi ini cukup membantu para pelaku UKM atau untuk beralih ke tren digitalisasi dengan sistem penyimpanan yang ramah kantong dari EMC ini.

Demi Kualitas Pelanggan, Go-Jek dan Blue Bird Akhirnya Kerjasama

0

Telko.id – Go-Jek, salah satu aplikasi on-demand terbesar di tanah air berencana untuk membentuk kemitraan strategis dengan PT Blue Bird Tbk guna meraih pangsa pasar yang lebih besar di sektor ride-sharing.

Keputusan ini hadir setelah protes besar-besaran yang dilakukan para supir dari operator taksi besar yang ada, seperti Blue Bird dan Express. Para supir ini meminta pemerintah untuk memblokir aplikasi ride-sharing, mengatakan bahwa mereka merupakan transportasi yang ilegal.

Sigit Priawan Djokosoetono, Wakil Direktur Bue Bird, seperti dilansir Dealstreetasia, Selasa (10/5), mengatakan bahwa rincian kemitraan ini masih dalam pembahasan dan akan diluncurkan dalam waktu dekat. Namun baik Blue Bird maupun GoJek percaya bahwa kolaborasi ini akan mempercepat revolusi digital Indonesia dan mampu meningkatkan kualitas pelanggan keduanya.

“Kemitraan Blue Bird dan Go-Jek akan mencakup sektor teknologi, pembayaran, dan promosi, menjadikannya sebagai entitas yang berpengaruh di sektor ini. Mungkin juga menyebabkan Blue Bird memperkenalkan tarif adaptif bukan taximeters seperti saat ini,” tulis kedunya dalam sebuah pernyataan.

Saat ini, Go-Jek telah menjadi salah satu aplikasi berbasis ride-sharing ternesar di Indonesia. Aplikasi ini telah diunduh lebih dari 11 juta kali dan memiliki lebih dari 200.000 sepeda motor pada jaringannya.

Sementara Blue Bird merupakan perusahaan taksi dan transportasi terbesar di Indonesia. Selain taksi, perusahaan juga mengoperasikan bus dan memiliki operasi logistik.

Susul Vodafone dan Telstra, Giliran Optus Luncurkan VoLTE

0

Telko.id – Optus jadi operator terakhir di Australia yang memperkenalkan layanan VoLTE – Voice over LTE – yang memungkinkan pelanggan untuk membuat dan menerima panggilan melalui jaringan kecepatan tinggi 4G Plus. Layanan ini memungkinkan ponsel untuk tak lagi beralih antara 3G dan 4G saat pengguna melakukan panggilan.

Sebelumnya, Telstra juga telah lebih dulu meluncurkan VoLTE, kemudian disusul Vodafone pada bulan Desember dan kini Optus.

Menurut laporan Gizmodo, Senin (9/5), peluncuran ini dimulai di kota-kota besar di Australia, dan sejauh ini hanya akan mendukung dua perangkat, yakni Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge. VoLTE memungkinkan kita melakukan panggilan melalui jaringan 4G, yang sebelumnya hanya mendukung transfer data.

“VoLTE menyediakan pelanggan sejumlah manfaat termasuk panggilan suara berkualitas definisi tinggi, sambungan panggilan lebih cepat dan kemampuan bagi pelanggan untuk multitask pada perangkat saat browsing dan membuat panggilan melalui koneksi 4G,” kata Dennis Wong, Managing Director Networks Optus.

Sementara peningkatan kualitas panggilan adalah poin utama dalam layanan VoLTE, Optus percaya itu akan menjadi yang paling berguna bagi mereka yang ingin terus menggunakan perangkatnya saat sedang membuat panggilan, karena mereka tidak akan kehilangan koneksi 4G saat tetap mengobrol.

“Kita semua sedang menerima panggilan ketika kita harus cepat mencari alamat restoran atau mengunduh file dari email,” kata Wong. “Dengan VoLTE, ini semua akan jauh lebih cepat dan lebih mudah karena Anda akan tetap memiliki koneksi 4G.”

Peluncuran ini akan dimulai dari pelanggan pasca bayar dan SMB di Sydney, Melbourne, Brisbane, Adelaide, Perth dan Canberra. Kompatibilitas dengan perangkat lain selain Samsung S7 pun akan segera menyusul, dan Optus bermaksud untuk terus memperluas jejak VoLTE di wilayah Australia.

Lewat Millenials Apprenticeship, XL Siap Jaring Talenta Muda

0

Telko.id – PT XL Axiata Tbk (XL) meluncurkan Program XL Millennial Apprenticeship guna menjaring lulusan perguruan tinggi yang memiliki potensi besar untuk berkarya di Industri Telekomunikasi dan Digital.

Diungkapkan Chief of Corporate Affairs Officer XL, Eka B. Danuwirana dalam acara peluncuran di Jakarta, Senin (9/5), generasi Millennials di sini adalah generasi yang berada di era digital dan mampu beradaptasi dengan cepat. Generasi ini membutuhkan lingkungan yang tepat untuk mengembangkan kemampuan mereka dan tumbuh dengan cara berkontribusi sesuai dengan keahliannya.

“XL membutuhkan mereka dalam menghadapi tantangan ke depan, dan melalui program ini kami menawarkan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan karir bersama kami,” katanya.

Melalui program Millennials ini, yang memang diselenggarakan untuk menghadapi pertumbuhan era digital, XL ingin menjaring talenta-talenta yang berasal dari generasi digital juga mengisi posisi karyawan XL di masa mendatang.

“Lulusan program ini akan menjadi prioritas recruitment karyawan di XL,” tambah Eka.

Mulai digulirkan pada Juli 2016, program Millenials ini terbuka bagi anak-anak muda Indonesia yang telah lulus tingkat sarjana (S1). Khususnya mereka yang lulus dari perguruan tinggi berakrditasi A atau universitas swasta berkualitas baik.

Program Millenials akan berlangsung 1 tahun atau 12 bulan untuk setiap angkatan. XL akan menerima sedikitnya 50 orang untuk setiap angkatan, yang akan dibuka 2 kali dalam setahun. Mereka yang diterima mengikuti program ini akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja di XL.

“XL percaya, bahwa dengan membangun generasi muda kita juga bisa membangun negeri ini,” pungkas Eka.

Selain mendapatkan materi program belajar mengenai leadership skill, generic skill, kemampuan presentation dan komunikasi, serta functional skill melalui leader dan unit di mana dia ditempatkan, melalui program Millenials ini talenta-talenta tersebut juga akan mendapatkan coaching dari atasannya, terlibat dalam kegiatan-kegiatan/project XL dan mendapatkan uang saku.

XL Future Leader

Saat ini, XL telah memiliki program XL Future Leader yang menjadi basis bagi penyelenggaraan program Millenials, yaitu program pengembangan anak-anak muda berprestasi yang dikelola XL bersama KSE. Program yang dikenal dengan nama Scholarship Camp ini ditujukan untuk mahasiswa tahun terakhir selama 12 bulan dengan pembekalan dana pendidikan yang diberikan setiap bulan dan pengembangan soft skill dengan pertemuan selama 3 kali camp dalam 12 bulan.

Selain itu, XL juga telah memiliki program XL Future Leaders berbasis kurikulum Global Thinking. Para lulusan dari program ini telah terbukti mampu memulasi karir dengan baik berbekal pengetahuan dan keahlian yang didapatkan melalui program XL Future Leaders.

Vodafone Inggris Bebaskan Biaya Roaming di 40 Negara

0

Telko.id – Vodafone UK telah menjadi operator selular terbaru di Eropa yang memungkinkan pelanggan untuk bepergian ke luar negeri tanpa membayar biaya roaming.

Langkah ini diambil menyusul rencana Komisi Eropa untuk menghapuskan biaya roaming. Vodafone mengatakan kini perusahaan akan menawarkan roaming inklusif di 40 destinasi, termasuk Turki, enam pulau Karibia dan Swiss.

Menurut Vodafone, tawaran itu berlaku untuk bundel 12 bulan dan 24 bulan Vodafone Red dan Red Value, dan termasuk panggilan telepon tak terbatas, teks dan pesan gambar, dan tunjangan data bulanan hingga 4 GB. Harga mulai dari £18 atau sekitar Rp350 ribu untuk 500 MB roaming inklusif dari total data keseluruhan 2 GB, sementara paket dengan data roaming 4 GB dan total data 12 GB adalah £32 atau Rp600 ribu.

Isu roaming telah menjadi masalah yang mendesak di Eropa dan harus diselesaikan oleh operator selulernya, karena mereka perlu memastikan loyalitas pengguna dengan memberikan penawaran menarik menjelang penghapusan biaya roaming di Uni Eropa pertengahan Juni 2017 mendatang.

Di Inggris, selain Vodafone UK, ada juga Tesco Mobile, yang juga akan menghapus biaya roaming tambahan musim panas ini, dan 3 UK.

3 UK telah menawarkan layanan Feel Like Home untuk layanan roamingnya beberapa waktu lalu, dan memberikan data maksimum 12 GB untuk penggunaan roaming. Roaming inklusif juga disediakan oleh operator seperti Free Mobile di Perancis dan A1 Telekom Austria, dan banyak lagi.

Vodafone UK mengklaim beberapa keunggulan dari penawarannya jika dibandingkan dengan para pesaing, seperti fakta bahwa ini menawarkan roaming 4G di 32 destinasi di Eropa dan 93 di seluruh dunia. Dikatakan pula, layanan ini tidak menguras kecepatan data saat roaming. Demikian dilaporkan Total Telecom, Senin (9/5).

Perusahaan menambahkan, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80% semua kunjungan ke luar negeri yang dilakukan oleh pelanggan bulanannya berada dalam zona roaming inklusif baru.

Gandeng Red Hat, Telefonica Perkuat Aplikasi Mobile

Telko.id – Perusahaan telco multinasional Telefonica telah menandatangani perjanjian global dengan vendor perangkat lunak enterprise open source Red Hat untuk menggunakan Mobile Application Platform sebagai platform referensi untuk Telefónica Business Solutions.

Dilaporkan Telecoms (9/5), Red Hat Mobile Application Platform resmi diluncurkan tahun lalu, menggabungkan teknologi dari akuisisi sebelumnya FeedHenry, namun Telefonica telah bekerjasama dengan Red Hat pada perusahaan Group Enterprise Manage Mobility proposisi sejak 2012.

Sekadar informasi, kemitraan ini dirancang untuk mengimprovisasi kemampuan Telefonica guna membantu pelanggan enterprise dengan transformasi digital mereka dan aplikasi khusus perusahaan.

“Keputusan Telefonica untuk mendirikan Red Hat Mobile Application Platform sebagai platform referensi untuk pengembangan mobile sejalan dengan strategi kami untuk menyebarkan multitenant, solusi multi-operator yang didasarkan pada standar terbuka,” kata Juan Manuel Moreno, Direktur Telefonica Bisnis Solutions’Cloud. Ia menambahkan, Tujuan mereka adalah untuk membantu memperluas ekosistem dalam pengembang aplikasi, untuk menggunakan kembali kode dan mendorong kerja sama yang lebih besar antara operator Telefonica di seluruh dunia.

“Mobile semakin menemukan tempatnya sebagai katalis untuk transformasi digital dalam perusahaan, sebagai organisasi kami berusaha untuk kembali membayangkan dan menghidupkan proses bisnis mereka untuk lebih efektif melibatkan karyawan dan pelanggan mereka,” ujar Cathal McGloin, VP Platform Mobile di Red Hat. Ia menambahkan, “Telefonica terus memimpin jalan sebagai operator seluler di pasar ini dan kami sangat gembira untuk menjadi bagian dari perjalanan mereka.”

Seperti diketahui, Telefonica sangat kuat di Amerika Latin di mana peluang B2B untuk operator mungkin lebih besar daripada di Eropa. Bermitra dengan Red Hat bisa menjadi cara yang efisien untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.

CBN Jadi Operator Keempat China?

Telko.id – CBN bisa bersaing dengan China Mobile, China Telecom dan China Unicom setelah pemerintah China menghadiahi mereka lisensi telekomunikasi untuk penyiaran di China.

China Broadcasting Network (CBN) menjadi operator telekomunikasi keempat di negeri Tirai Bambu setelah memenangkan lisensi dari pemerintah pada minggu ini.

Dilaporkan TotalTelecom (9/5), Ministry of Industry and Information Technology (MIIT) mengatakan pada situs web-nya bahwa mereka telah memberikan lisensi layanan telekomunikasi dasar ke penyiaran milik negara untuk mempromosikan apa yang China.org digambarkan sebagai “konvergensi tiga jaringan”, dengan China menganjurkan proyek yang bertujuan untuk penggabungan telekomunikasi, televisi dan layanan internet menjadi satu jaringan.

MIIT mengungkapkan beberapa rincian lainnya, seperti berkomentar bahwa CBN hanya berwenang untuk memberikan layanan infrastruktur transmisi data internet dan telekomunikasi dalam negeri saja.

Sekadae informasi, China Mobile, China Telecom dan China Unicom saat ini mendominasi pasar lokal Cina. China Mobile juga merupakan operator seluler terbesar di dunia, dengan melaporkan basis pelanggan seluler mereka  pada angka 833.850.000 pada akhir Maret lalu.

China Telecom sendiri melaporkan basis pelanggan keseluruhan sebanyak 202.640.000 pengguna ponsel pada akhir Maret tahun ini. Sementara China Unicom telah berjuang untuk mempertahankan pertumbuhan pelanggan, namun sebelumnya mengatakan, pihaknya akan menambah 6,61 juta pelanggan seluler di Q1, membalikkan kerugian pelanggan kuartalan itu yang diposting pada tahun lalu. Perusahaan telko ini kembali ke pertumbuhan basis pelanggan seluler bulanan pada bulan Januari dan pada akhir Februari, dengan memiliki 257.800.000 pelanggan.

Sayangnya, Analis tidak melihat bahwa CBN memiliki dampak besar pada bisnis tiga pesaingnya, setidaknya dalam waktu dekat. Pasalnya, tiga raksasa telko China tersebut telah memiliki basis kekuatan yang begitu besar dan dominan.

“Kami tidak berpikir CBN akan menjadi ancaman besar bagi operator telekomunikasi yang ada dalam waktu dekat, kecuali CBN dapat mengatasi kemacetan keuangan sendiri dan menyelesaikan proses televisi nasional dan konsolidasi jaringan penyiaran,” tulis analis Nomura Leping Huang dalam sebuah catatan penelitian, seperti tertulis pada reuters.

Reuters menambahkan bahwa Huang mengharapkan perusahaan untuk menghabiskan CNY20 miliar atau setara dengan € 2,7 miliar di telekomunikasi tahun ini, yang setara dengan 5% dari total pengeluaran China di sektor ini.

Hadirnya CBN manjadi operator keempat China, sejatinya akan memberikan sebuah persaingan. Meskipun tidak cukup berpengaruh besar, namun akan memberikan banyak pilihan bagi masyarakat dalam menggunakan layanan dan solusi yang mereka butuhkan, akankah ada promosi tarif? Kita tunggu saja.

Ericsson Pimpin Pasar Telecom Outsourcing Services

0

Telko.id – IHS Technology mengatakan bahwa Ericsson terus memimpin pasar layanan telekomunikasi global outsourcing pada tahun 2015.

Dilaporkan TelecomLead (8/5), pasar layanan telekomunikasi Outsourcing naik 3 persen menjadi USD 69 miliar pada 2015, menurut Stephane Teral, direktur riset senior, infrastruktur dan operator ekonomi seluler, IHS Teknologi.

Ericsson tetap memimpin di ranah telekomunikasi Outsourcing untuk pendapatan pangsa pasar pada tahun 2015, diikuti oleh Huawei, HPE, IBM dan Nokia Networks.

Ericsson dan Huawei melaporkan pertumbuhan pendapatan dua digit dalam managed services pada tahun 2015, sementara IBM dan HPE melihat pendapatan menurun.

Ericsson mengatakan, mereka menyediakan layanan yang dikelola untuk jaringan yang melayani lebih dari 1 miliar pelanggan.

Ericsson telah menghasilkan pendapatan SEK 81,7 miliar dari Professional Services, SEK 31,8 miliar dari Managed Services dan SEK 26,3 miliar dari bisnis Jaringan Rollout pada tahun 2015.

Pembuat jaringan telekomunikasi asal Stockholm ini mencatatkan bahwa pertumbuhan penjualan di segmen Global Services terutama didorong oleh pertumbuhan dalam Sistem Integrasi dan Managed Services sedangkan penjualan Jaringan menurun.

Ericsson sendiri memiliki 66.000 layanan profesional pada 31 Desember 2015, dibandingkan dengan pada 30 September 2015 mereka hanya memiliki 65.000 layanan. Jumlah karyawan Ericsson sendiri adalah 116.281 karyawan pada tanggal 31 Desember 2015.

Sementara itu, telecom network maintenance, membangun jaringan, perencanaan dan desain berhasil mempengaruhi sekitar 52 persen dari pendapatan operator outsourcing dalam 2015.

Layanan pendapatan termasuk keberhasilan operasi, pemeliharaan jaringan dan perencanaan jaringan serta desain-diperkirakan akan tumbuh pada CAGR sebesar 3 persen di tahun 2015 hingga 2020, didorong oleh kolaborasi antara operation outsourcing and radio access network (RAN) sharing.

Laporan IHS melacak pendapatan vendor  berasal dari layanan yang mereka berikan kepada pelanggan operator telekomunikasi mereka. Laporan ini merupakan trek kedua pasar outsourcing jaringan secara keseluruhan serta segmen layanan yang dikelola.

Sedangkan, pasar telekomunikasi jasa outsourcing diproyeksikan akan mencapai USD 76 miliar pada tahun 2020, tumbuh pada compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2 persen.

Pertumbuhan pasar jasa outsourcing telekomunikasi akan didorong oleh penawaran outsourcing jaringan selular di berbagai operator seluler yang mencoba untuk menjaga Opex mereka di bawah kontrol dengan menghapus tugas non-inti dan fokus pada teknologi informasi dan komunikasi bisnis (ICT) pengalaman pelanggan, serta transformasi jaringan yang memerlukan penggabungan IT dan tim jaringan telekomunikasi.

Di APAC, Industri OTT Akan Meningkat Dalam 3 Tahun Kedepan, Benarkah?

0

Telko.id – Meskipun menjadi sebuah tantangan, namun pasar premium OTT di kawasan Asia Pasifik berada di jalur yang tepat untuk mencatat pertumbuhan yang cepat pada 2019, menurut sebuah studi baru dari Vindicia dan Ooyala.

Dilaporkan TelecomAsia (9/5), Temuan menunjukkan bahwa pertumbuhan akan berada di sekitar angka USD 85 juta dari tahun 2015 menjadi USD 230 juta di Australia pada tahun 2019 mendatang. Sementara untuk di Indonesia, pertumbuhan terjadi mulai dari USD 7 juta menjadi USD 40 juta dan dari USD 8 juta menjadi USD 45 juta di Thailand pada periode tahun yang sama.

Penyedia layanan lokal akan memiliki porsi yang signifikan dari pasar dan akan mendominasi pasar di Indonesia dan Thailand, sementara Netflix akan menjadi pemain dominan di Australia.

Dilakukan penelitian dan strategi konsultasi MTM, yang juga studi tertutup lebih dari 80 responden dari tiga pasar, termasuk berbagai profesional industri senior, tersedia perspektif mereka tentang tren pasar saat ini dan masa depan serta perkembangannya.

Penelitian ini menyoroti tiga tantangan utama untuk ekspansi pasar premium OTT. Pertama pada infrastruktur broadband, mengenai tantangan infrastruktur broadband dan akses terbatas ke layanan fixed-line yanh terjangkau menjadi hambatan yang signifikan untuk pertumbuhan.

Di Australia, kecepatan koneksi internet rata-rata berada di angka 8.2Mbps, atau sekitar setengahnya dari Inggris dan Amerika Serikat. Thailand sendiri memiliki rata-rata yang sama, sekitar 9.2Mbps, tetapi hanya 9% dari konsumen berlangganan. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut penelitian ini, di Tanah Air, hanya ada 1% penetrasi broadband dengan kecepatan rata-rata 3.9Mbps. Peserta melihat kawasan APAC sebagai pasar untuk mobile broadband.

Kedua, pada lokalisasi konten. Meskipun daya tarik konten internasional, responden percaya pemrograman bahasa lokal adalah penting untuk proliferasi layanan OTT premium di Indonesia dan Thailand. Mereka mengharapkan persaingan yang ketat antara penyedia TV berbayar lokal lebih memiliki lisensi dari perpustakaan konten lokal yang ada.

Dan ketiga, faktor Netflix. Sementara kehadiran Netflix akan mendorong perluasan pasar OTT pada umumnya, konsumen akan berjuang dengan Netflix, satu kualitas layanan diharapkan akan cocok untuk semua kalangan. Karena itu, akan ada masa ketidakpastian sebagai konsumen memilih antara Netflixmandiri dan persembahan lain dari penyedia konten lokal, yang multi-platform dan paket bundling yang pada akhirnya dapat membuktikan bahwa layanan mereka lebih menarik.

“Dari 12 sampai 24 bulan ke depan kurang berfungsi sebagai ujian apakah premium OTT akan lepas landas, tetapi lebih sebagai ukuran bagaimana hal itu akan menembus selera populer,” kata Bryta Schulz, SVP Vindicia tentang pemasaran dari layanan OTT ini.