spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1639

Studi: Remaja Lebih Sering Kehilangan Smartphone daripada Orang Dewasa

Telko.id – Siapa bilang orang tua lebih ceroboh dibanding mereka yang lebih muda? Buktinya, penelitian menyebut bahwa remaja lebih sering kehilangan perangkat daripada orang dewasa.

Tahun lalu saja, satu dari empat pengguna internet yang berusia remaja kehilangan perangkat mobile (17%) atau perangkat mobile mereka dicuri (13%), dimana setiap remaja ketiga yang perangkatnya hilang atau dicuri juga kehilangan akses terhadap akun online mereka, atau bahkan menderita kehilangan data-data pribadi sebagai akibat hilang atau dicurinya perangkat tersebut.

Sementara itu, secara keseluruhan satu dari tujuh pengguna internet (14%) mengalami kehilangan atau pencurian perangkat mobile. Angka ini mengalami peningkatan menjadi 26% untuk pengguna di bawah usia 24 tahun. Dari pengguna umur 16 hingga 24 tahun yang terkena, 83% mengatakan mereka menderita konsekuensi buruk setelah kejadian itu, sedikit lebih tinggi dari rata-rata keseluruhan 77%.

Sepertiga (32%) dari remaja berusia 16-24 tahun mengalami peretasan terhadap akun online mereka sebagai dampak kehilangan atau pencurian perangkat (sementara rata-rata keseluruhan 27%). Satu dari empat menderita kerugian permanen terhadap foto-foto pribadi dan video yang berharga (25%), bersamaan dengan bocornya informasi pribadi yang sensitif (24%).

Secara keseluruhan, seperlima dari pengguna internet akan lebih disiplin ketika berada di tempat kerja setelah perangkat mereka hilang atau dicuri, karena di dalam perangkat tersebut terdapat data-data pekerjaan (22%). Selain itu, pengguna kelima akan menyadari bahwa rincian keuangan yang tersimpan pada perangkat telah disalahgunakan (21%).

Ketika pengguna mengalami kehilangan atau pencurian, maka untuk melindungi diri mereka ke depannya, hanya empat dari sepuluh yang memblokir perangkat melalui operator seluler atau melaporkan kejadian tersebut ke polisi, dan hanya 29% yang menghapus data-data di perangkat dari jarak jauh atau bahkan mencoba untuk melacaknya menggunakan perangkat lunak ‘find my device’ (15%).

“Saat ini, perangkat mobile telah menjadi pusat kehidupan kita. Mereka seperti teman yang dengan mudah dapat kita bawa kemana-mana. Sebagian besar dari kita menyimpan informasi sensitif dan pribadi di dalamnya, baik itu berupa foto-foto keluarga, rincian perbankan online, pesan e-mail pribadi atau password untuk mengakses kehidupan kita sehari-hari,” Evgeny Guryanov, Product Manager di Kaspersky Lab mengomentari temuan ini.

Namun, sangat mudah bagi perangkat mobile, yang ketika hilang atau dicuri menjadi senjata digital (digital frenemies) yang menyerang balik kita. Kehilangan atau pencurian perangkat bukan semata-mata masalah ketidaknyamanan tetapi adanya pelanggaran terhadap privasi dan identitas Anda.

Oleh karena itu sangat penting untuk, setidaknya, melindungi password, mengenkripsi semua data-data yang sensitif, serta rutin melakukan pembaharuan aplikasi keamanan mobile.

“Menggunakan fitur anti-pencurian, sebagai bagian yang lebih luas dari solusi keamanan, untuk memblokir pihak ketiga, membantu menemukan perangkat dan apabila diperlukan membersihkan data-data pribadi di dalamnya, dapat sangat berguna kedepannya dalam melindungi pengguna, bahkan setelah mengalami kehilangan atau pencurian perangkat mobile,” ungkap Evgeny Guryanov lagi.

Kaspersky Internet Security for Android, dalam hal ini membantu mengurangi risiko bagi pengguna perangkat mobile khususnya Android. Fitur perlindungan anti-pencurian, dikombinasikan dengan fitur-fitur kuat lainnya seperti anti-malware, perlindungan privasi dan web, dapat meningkatkan keamanan data pengguna; juga menawarkan privasi bahkan ketika terjadi kehilangan atau pencurian perangkat mobile.

Ada MVNO Baru Di Singapura, Siapakah?

0

Telko.id – Sebuah penyedia 4G MVNO yang baru telah meluncur di Singapura yang bertujuan untuk memberikan konsumen cara baru untuk berinteraksi dan mengkonsumsi jasa telekomunikasi.

Perusahaan MVNO yang bernama Circles.Life ini akan menargetkan konsumen dari segmen ‘data savvy’ di Singapura. operator akan menggunakan infrastruktur M1 di bawah model MVNO yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Virgin Mobile dengan Singtel ketika perusahaan memasuki pasar pada tahun 2001 silam.

“Teknologi jaringan rigid di masa lalu tidak memberikan MVNOs fleksibilitas dalam penawaran layanan. Mereka tidak mampu untuk melacak penggunaan data dan pola pembelian pelanggan serta sulit untuk merespon kebutuhan pelanggan dengan cepat. Sementara itu, pendekatan kami cukup unik karena kami mengambil keuntungan dari teknologi terbaru untuk membangun generasi berikutnya dengan layanan dari jaringan 4G seluler yang sepenuhnya digital,” ujar Abhishek Gupta Circles.Life co-founder and director, seperti dilansir dari laman TelecomAsia (11/5).

Gupta menambahkan bahwa sebagai MVNO, perusahaan dapat bekerja terhadap penggunaan yang sangat efisien dari sumber daya mereka dan memprioritaskan inovasi untuk memberikan layanan yang lebih baik dan pengalaman yang lebih kaya kepada pelanggan.

Sementara itu, Circles.Life co-founder Rameez Ansar menambahkan bahwa sebagai insentif kepada pelanggan, penyedia layanan ini juga akan membagikan ‘free booster’ secara berkala untuk paket data plan. Mereka menententukan hal ini berdasarkan panjang kontrak dan faktor lainnya.

Bukan hanya itu, menggunakan platform digital yang dirancang oleh perusahaan, Circles.Life akan memungkinkan konsumen untuk memilih bundel yang mereka inginkan. Basic plan tersedia dengan harga S$ 28 per bulan dengan 3GB data seluler, 100 menit waktu bicara, dan data bonus yang berkisar mulai dari 0.5GB hingga 4GB ketika pelanggan menggunakan aplikasi perusahaan atau melakukan tindakan seperti mengajak teman-teman untuk mendaftar.

Aplikasi yang bernama CirclesCare ini juga memberikan pelanggan sebuah dashboard pribadi untuk memungkinkan mereka dalam men-tweak rencana mereka seperti top up data seluler atau membeli talk time. Ini akan tercermin dalam siklus penagihan berikutnya, yang mengikuti kalender bulan.

Pengguna juga mendapatkan beberapa bonus lainnya seperti, bebas roaming, dan unlimited data pada Whatsapp.

Pendaftaran Circles.Life dimulai pada tanggal 10 Mei kemarin dan menawarkan sign-up bonus baru seperti potongan biaya pendaftaran hingga S$ 4, kartu SIM gratis, pengiriman gratis, dan nomor bebas port atau 80% nomor hoki.

Indosat Ooredoo Raih Laba Rp.217,2 Miliar Di Kuartal 1 2016

0

Telko.id – Indosat Ooredoo mengawali tahun 2016 dengan mencatat laba bersih Rp217,2 miliar di kuartal I 2016, setelah sebelumnya mengalami kerugian Rp455,55 miliar di periode yang sama 2015.

Pertumbuhan tersebut dipicu oleh layanan data, dimana pertumbuhan trafik data sebesar 52,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan mencatat pertumbuhan untuk pendapatan sebesar 11,8% terhadap periode yang sama tahun sebelumnya, dengan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp6,8 triliun untuk triwulan pertama 2016.

Pertumbuhan pendapatan ini didukung oleh pendapatan Selular yang meningkat sebesar 15,8% pada triwulan pertama 2016, utamanya disebabkan peningkatan pendapatan Data, SMS, Telepon dan VAS yang diimbangi dengan penurunan dari pendapatan interkoneksi.

Jumlah pelanggan selular pada akhir triwulan pertama 2016 mencapai 69,8 juta pelanggan, meningkat 3,3 juta pelanggan dibandingkan triwulan pertama 2015 karena kampanye akuisisi yang agresif setelah persepsi kualitas jaringan meningkat. Penambahan pelanggan utamanya didominasi oleh pengguna data.

Selain itu, EBITDA juga tumbuh 13,7% menjadi Rp2,9 triliun (TW1 2015: Rp2,6 triliun), dengan marjin EBITDA sebesar 43,5%. Beban mengalami peningkatan sebesar 6,7% menjadi Rp5,9 triliun (TW1 2015: Rp5,6 triliun). Pendapatan selular, data tetap (MIDI) dan telepon tetap masing-masing memberikan kontribusi sebesar 82%, 14%, dan 4% terhadap pendapatan konsolidasian Perusahaan.

Alexander Rusli, President Director and CEO Indosat mengatakan, “Setelah melalui tahun 2015 dengan hasil yang sangat baik, kita sangat optimis dengan pencapaian tahun 2016 yang mulai terlihat dalam triwulan pertama ini. Walaupun industri di triwulan pertama ini secara musimam memang sedikit melemah, namun hal ini tidak melemahkan semangat kita untuk tetap menjadi yang terbaik. Kita akan jalankan strategi dengan segenap kekuatan untuk memenangkan pertempuran.”

Khusus Pendapatan Data Tetap (MIDI) meningkat sebesar 1,0% dibandingkan triwulan pertama 2015, utamanya disebabkan adanya peningkatan kapasitas fixed internet. Dan Pendapatan Telepon Tetap (Telekomunikasi Tetap) turun sebesar 21,4% dibandingkan triwulan pertama 2015 yang disebabkan turunnya trafik dan menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dólar Amerika Serikat. (Icha)

 

XL Axiata dan Indosat Ooredoo Buat Usaha Patungan

0

Telko.id – Berita mengagetkan datang dari 2 operator besar di Indonesia. Sinergi awal yang hanya bekerja sama untuk saling memanfaatkan jaringan atau network sharing MORAN (Multi Operator Radio Access Network), kini ditingkatkan lagi menjadi pembentukan usaha patungan. Perusahaan patungan itu adalah One Indonesia Synergy.

Struktur permodalan dari One Indonesia Synergy ini adalah Modal Dasar Rp.10.002.000.000, Modal ditempatkan Rp.2.502.000.000 dan Modal disetor sebesar Rp.2.502.000.000.

Perusahaan ini merupakan hasil patungan dengan sharing 50% untuk masing-masing operator. Di mana, XL Axiata dan Indosat Ooredoo masing-masing memiliki jumlah saham yang sama yakni sebanyak 1.251 lembar dengan harga per lembar sahamnya sebesar Rp.1.000.000. Informasi ini berdasarkan dari informasi keterbukaan pasar modal yang disampaikan oleh XL Axiata dan ditandatangani oleh Dian Siswarini, Presiden Direktur XL Axiata. Sumber dana untuk aksi korporasi ini, baik XL maupun Indosat Ooredoo menyatakan berasal dari kas internal.

Pembentukan perusahaan patungan ini diharapkan dapat memberikan jasa konsultasi untuk kolaborasi jaringan di masa mendatang. Perusahaan ini juga dibentuk oleh kedua perusahaan di bawah badan hukum yang terpisah dan dijalanan oleh para professional untuk kepentingan terbaik dari para stakehoders.

Sayang, detail tujuan dari pembentukan perusahaan ini masih belum jelas. Bisa jadi akan ada network sharing yang lebih jauh lagi. Jika benar tujuannya seperti itu maka dengan adanya One Indonesia Synergy ini akan memberikan dampak efisiensi yang sangat signifikan terhadap industri telekomunikasi di Indonesia.

Pasalnya, investasi untuk pembangunan jaringan, misalnya, dapat dihemat. Tidak perlu setiap operator melakukan belanja asset. Cukup salah satu operator saja dan nanti nya akan digunakan secara bersama-sama. Jika XL Axiata tahun ini menyiapkan capital expenditure atau Capex sebanyak Rp.7 Triliun dan Indosat Ooredoo yang menyediakan Capex sekitar Rp.6 Triliun sampai Rp.7 Triliun maka bisa jadi Capex kedua operator tersebut tidak perlu sampai sebesar itu. Bisa jadi tinggal setengah nya saja.

Langkah yang dilakukan oleh XL dan Indosat ini, tentu akan membuat para vendor jaringan ‘kehilangan’ pasar. Yang asalnya, dua operator yang ‘belanja’, kini hanya satu saja. (Icha)

 

 

F5 Networks Ungkap 5 Ancaman Siber Paling Umum

0

Telko,id – Sejak awal kehadiran teknologi digital di dalam lingkungan bisnis, kriminal telah berusaha keras untuk mengeksploitasi hal tersebut demi keuntungan mereka. Dari sebatas menyebarkan email scam secara acak hingga melancarkan serangan canggih kepada suatu target. Aktivitas kriminal ini telah sukses menimbulkan kerugian hingga miliaran dolar AS setiap tahunnya di seluruh dunia.

Menurut Kabareskrim, total kerugian akibat serangan malware adl Rp126 miliar atau USD 9.1 juta. Kerugian ini lebih besar dibanding kerugian yang ditimbulkan dari kejahatan perampokan nasabah bank.

Kondisi seperti ini menjadi lebih mengkhawatirkan lantaran bisnis sekarang ini semakin bergantung dengan teknologi digital, yang memicu sejumlah kejahatan di dunia maya. Institusi Perbankan, seperti dikatakan F5 Networks, dalam hal ini masih menjadi target utama penyerangan, dan itu tak jarang dilakukan dalam hitungan menit.

“Saat ini hampir dua pertiga (atau 60 persen) serangan dapat membobol sistem IT suatu organisasi dalam hitungan menit atau detik,” kata F5 Networks.

Beberapa ancaman siber yang paling umum meliputi crimeware, web applications attack, poin os sale (POS) attacks, insider compromise, dan denial of service (DDoS) attacks.

Crimeware/Malware
Dinamis, canggih dan oportunistik. Malware, atau phising, adalah hal yang paling sering dimanfaatkan oleh kriminal di seluruh dunia untuk mendapatkan akses ke sisitem dan data-data rahasia. Di tahun 2014 saja, 27 juta pengguna menjadi target dari 22.9 juta serangan yang memanfaatkan malware finansial.

Web Application Attacks
Menggunakan kredensial dan informasi curian, serangan ini mampu menargetkan celah-celah keamanan di dalam aplikasi we, terutama di dalam situs e-commerce dan perbankan. Biasanya pelanggan diarahkan ke sebuah situs web palsu. Jika pengguna memasukkan data mereka ke situs tersebut, maka informasi tersebut (yang bisa berujung pada pencurian uang) dapat dengan mudah diakses oleh penjahat. Sejumlah ahli menemukan fakta bahwa ada 360 juta kredensial curian yang dijual secara online.

Poin of Sale (POS) Attacks
Seiring dengan penerangan chip dan pin pada kartu pembayaran, card fraud (penipuan yang memanfaatkan kartu pembayaran) semakin berkurang. Namun, para penjahat tidak hilang akal dan kini menargetkan server yang menjalankan aplikasi-aplikasi POS. Dengan memanfaatkan serangan bruteforce serta algoritma dan botnet yang canggih, para penjahat berusha keras mencuri berbagai data transaksi pembayaran milik korban lalu menjualnya secara online.

Insider Compromise
Atau sering disebut dengan ancaman internal, semakin banyak terjadi dengan semakin terhubungnya dunia. Pasalnya, kriminal juga menargetkan karyawan dan mitra-mitra yang memiliki akses ke dalam sistem suatu organisasi dan lebih buruknya lagi, dalam beberapa kasus orang dalam pun ikut berperan serta dalam hal tersebut.

Denial of Service (DDoS) Attacks
Semakin banyak pelaku kriminal yang menyukai teknik yang memanfaatkan arus trafik dalam jumlah besar untuk membuat sistem jaringan kewalahan. Jenis serangan ini menjadi semakin umum dimanfaatkan oleh penjahat siber dan penggunaan teknik ini mengalami peningkatan hingga 149% pada kuartal keempat 2015.

E-commerce & Transaksi Online Picu Lebih Banyak Serangan Siber

0

Telko.id – Perkembangan teknologi digital – dalam hal ini yang melibatkan aplikasi – tak ubahnya dua sisi mata pisau. Di satu sisi menguntungkan, karena mendorong inovasi dan pertumbuhan data yang besar, di sisi lain merugikan, karena secara tidak langsung menciptakan peningkatan eksponensial pada serangan. Hal-hal seperti mata-mata siber, crimeware, web fraud, serangan DOS dan POS intrusion pun menjadi sesuatu yang tak terhindarkan dan harus segera ditanggulangi.

F5 Networks, dalam hal ini hadir dengan layanan bertajuk F5 WebSafe dan MobileSafe, yang merupakan bagian dari Solusi Web Fraud Protection milik perusahaan. Solusi ini sendiri ditujukan untuk melindungi kepercayaan pengguna layanan dengan cara memberikan pengamanan terhadap berbagai aplikasi finansial, e-commerce, dan mobile terhadap ancaman fraud yang semakin canggih, dan pastinya merugikan.

Menurut data Kabareskrim saja, total kerugian akibat serangan malware mencapai Rp126 miliar atau USD 9.1 juta. Kerugian ini lebih besar dibanding kerugian yang ditimbulkan dari kejahatan perampokan nasabah bank.

“Bayangkan dengan menjamurnya e-commerce dan transaksi online seperti sekarang ini, ancaman terhadap keamanan akan semakin meningkat,” ungkap Andre Iswanto, Manager Field System Engineer F5 Networks di jakarta, Selasa (10/5).

Selain meningkatkan keamanan, solusi dari F5 ini juga memungkinkan perusahaan menjaga pengalaman pengguna dalam memanfaatkan aplikasi. Pasalnya, pengguna tidak dilibatkan secara langsung dalam proses peningkatan keamanan. Dengan begitu, mereka tidak diganggu oleh berbagai aktivitas tambahan yang dapat berpengaruh buruk terhadap pengalaman dan tingkat kepuasan mereka dalam menggunakan aplikasi.

“Jadi tidak perlu lagi menginstal apa-apa, karena itu sudah dilakukan oleh perusahaan,” tambah Andre.

Websafe memungkinkan perusahaan melindungi pengguna layanan online mereka dari berbagai macam serangan malware dan online fraud berbasis web yang secara khusus menargetkan para pengguna aplikasi situs web.

Layanan ini mampu mengenali berbagai teknik web fraud, usaha untuk meneruskan trafik pengguna ke suatu situs tertentu, dan berbagai pola malware lainnya, sehingga memberikan kemampuan bagi perusahaan untuk mendeteksi ancaman yang ada, memberikan peringatan dan perlindungan kepada pengguna mereka terhadap berbagai jenis malware, phising, fraud yang menargetkan end-user, dalam rangka mengurangi pencurian identitas, transaksi fraud, dan tindakan pengambil alihan akun.

Sementara MobileSafe memungkinkan institusi finansial untuk menetralkan ancaman yang terdapat di dalam perangkat mobil milik pengguna tanpa mengharuskan pemilik perangkat untuk menginstal/melakukan sesuatu. Layanan ini dapat diterapkan secara terpisah maupun dikombinasikan dengan WebSafe untuk menghasilkan sistem keamanan yang lebih lengkap.

MobileSafe mengeliminasi pencurian identitas yang memanfaatkan perangkat mobile pengguna sebagai celahnya, dan mencegah terjadinya serangan lainnya, seperti mobile phising, Trojan, dan Pharming secara real-time.

Hadir Di Indonesia, Perisai Tidak Pasang Target Tinggi

0

Telko.id – Platform Antivirus asal Malaysia yang baru saja dirilis hari ini di pasar Indonesia yakni Perisai, tidak ingin muluk-muluk dalam menjaring pengguna di Tanah Air.

Hal ini terlihat dari jumlah target yang mereka usung di tahun perdana mereka yang hanya menargetkan 250 ribu user saja di pasar Indonesia. Hal ini mengingat persaingan di pasar antivirus Indonesia yang telah dihuni oleh para pemain lama yang tentunya telah menguasai market.

Adalah Raynald S.M. selaku Managing Director dari 1Mesin Teknologi Indonesia yang juga merupakan developer dari Perisai Mobile Security, yang mengungkapkan, “Setidaknya dalam satu tahun kita di Indonesia, kita berharap memiliki 250 ribu user disini, meskipun partner kami menargetkan angka yang lebih besar,” ujarnya disela-sela peluncuran Perisai Mobile Security, di Jakarta (10/5).

Untuk merealisasikan hal tersebut, mereka juga menggandeng Wiko sebagai vendor smartphone yang sudah lebih dulu menjajakan kaki di Indonesia. Wiko sendiri juga mengharapkan kedepannya platform ini akan langsung terinstal pada ponsel baru Wiko yang akan datang.

Selain dari kerjasama dengan vendor Smartphone, Perisai juga akan menjalin kerjasama dengan salah satu operator di Indonesia. Meski belum diumumkan secara resmi, namun Raynald menjawab bahwa mereka akan bekerjasama dengan Hutchison 3 Indonesia. Dengan jumlah pengguna mereka yang mencapai 55,5 juta ini, diharapkan juga akan menambah jumlah pendownload dari platform antivirus Perisai.

Sekadar informasi, sampai dengan saat ini saja Perisai telah digunakan di beberapa negara seperti di kawasan Eropa, Timur Tengah serta Afrika. Sampai dengan saat ini jumlah pengguna mereka mencapai 45 ribu user yang berasal dari segmen enterprise.

Meskipun tidak mau mengungkapkan strategi dalam penetrasi ke pasar Indonesia, namun Raynald menjamin bahwa strategi tersebut berbeda dengan yang mereka lakukn di negara lain. Selain itu, disinggung mengenai peluang menyasar ranah pemerintah, Raynald mengungkapkan masih belum berfikir kearah sana.

Gandeng Wiko, Antivirus Malaysia Ini Jajaki Indonesia

0

Telko.id – Perisai yang merupakan sebuah platform antivirus asal negeri jiran Malaysia mencoba ekspansi bisnisnya di Tanah Air dengan menggandeng Wiko sebagai partner distributor mereka disini.

Sekadar informasi, Perisai sendiri menruakan sebuah antivirus yang di develope oleh PT. 1Mesin Teknologi Indonesia yang berkantor di Indonesia. Perisai juga pada awalnya hanya bermain untuk segmen korporasi di berbagai negara di Eropa, Timur Tengah serta Afrika.

Adalah Raynald S.M. selaku Managing Director dari 1Mesin Teknologi Indonesia yang mengungkapkan bahwa ini merupakan even perdana mereka di Indonesia, dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan lebih kepada masyarakat umum dan pasar enterprise Indonesia, ditengah persaingan dengan para pemain lain yang telah lebih dulu tumbuh dan besar.

“Ini merupakan event pertama kami di Indonesia, sebenarnya fokus kami adalah unuk memperkenalkan perisai di Indonesia dan kalau kita berhasil di pasar Indonesia, maka kita akan berhasil di pasar global, karena di Indonesia pengguna internet sangat banyak,” ujarnya, pada saat peluncuran platform antivirus ini di Jakarta (10/5).

Seperti dijelaskan di awal, Perisai tadinya bermain di pasar enterprise. Namun, berkaca dari penetrasi pengguna mobile yang semakin berkembang, Perisai pun menghadirkan solusi Mobile Security untuk merangkul pengguna mobile.

Sebagai partner dalam peluncuran perdana ini, Dwi Lingga Jaya, selaku CEO dari Wiko Indonesia mengungkapkan, ” Saat ini tercatat sebanyak 3625 korban virus di setiap IP adress dan di setiap menit ada 20 user yang terkena virus, dan itu menjadi salah satu alasan dari kami sebagai vendor smartphone untuk menjaga keamanan para pengguna mobile dan dengan kerjasama ini diharapkan dapat memberikan sebuah perlindungan bagi pelanggan Wiko ” tuturnya.

Lingga juga menambahkan, bahwa kedepannya Perisai Mobile Security mungkin akan tersedia secara preloaded pada smartphoe Wiko, namun Ia mengungkapkan jika pengguna mobile juga bisa mengunduh antivirus ini di playstore.

Sekadar informasi, Perisai Mobile Security tidak hanya meiliki fitur antivirus dan internet security saja, pasanya mereka juga menyediakan   beberapa fitur dari antara lain, Cooler Perangkat yang dapat mendinginkan suhu device ketika sedang bekerja dengan berat. Hadir juga fitur Cleaning Junk yang juga dapat membersihkan sampah file, Perisai juga mampu meningkatkan memori perangkat untuk mempercepat aktivitas perangkat si penguna.

Selain itu, beberapa fiitur unggulan seperti CPU Increase, App manager, Call & Teks Filter serta Lock apps juga tersedia pada versi grtisnya. Sementara fitur tambahan seperti ekripsi file, cloud hosting serta managemen data terpusat akan di dapatkan oleh pengguna premium mereka. Mengenai harga, meski tak menyebutkan jumlah passtinya, namun pihak Perisai mengklaim jika antivirus merek memiliki harga terendah kedua di pasaran saat ini dan cukup affordable untuk pelanggan di Indonesia.

Telstra Perkuat Backbone di Asia

0

Telko.id – Telstra mengumumkan akan membangun rute fiber darat antara Taiwan dan Hong Kong, jaringan cincin serat di Korea Selatan, dan kabel bawah laut yang menghubungkan jaringan di Asia untuk India dan Timur Tengah, serta mengamankan kapasitas baru sistem kabel penghubung Asia dengan Amerika Serikat.

Langkah strategis ini diumumkan sebagai bagian dari investasi berkelanjutan Telstra dalam sistem 36,000km jaringan kabel yang menghubungkan China, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Filipina, yang diperoleh sebagai bagian dari pembelian Pacnet sebesar $697.000.000 pada bulan Desember 2014.

Fiber network di darat yang dibangun oleh Telstra di selat Luzon,Taiwan merupakan wilayah rawan bencana, tidak seperti jaringan fiber lainnya yang sudah terbentang dari Taipei dan Hong Kong, yang berarti kemungkinan layanan terganggu tidak terlalu tinggi. Dan, fiber milik Telstra akan terbentang dibawah laut pada daerah tersebut.

“Jaringan dual-serat baru ini diaktifkan sebagai bagian dari Telstra Optical Transport Network,” kata Darrin Webb, Direktur Eksekutif International Operasi dan Pelayanan Telstra menjelaskan seperti di kutip dari Zdnet.

Webb juga menambahkan bahwa jalur yang dibuat oleh Telstra ini merupakan rute terpendek dan tercepat yang tersedia di pasar antara Taipei, Kaoshiung, dan Hong Kong, dengan risiko yang lebih rendah dari gangguan dibandingkan dengan melewati Selat Luzon.

Penyedia telekomunikasi juga akan membangun sebuah fiber ing baru yang menghubungkan titik-titik saat ini kehadiran (PoP) di Korea Selatan, menyediakan delapan rute interkoneksi 100Gbps dalam dan luar negeri.

Korea “ring topology” fibre network akan memungkinkan lebih banyak keandalan dan pilihan redundansi di seluruh jaringan, juga menghubungkan ke kabel bawah laut tambahan.

“Bay of Bengal Gateway (BBG) 100Gbps sistem kabel bawah laut, terdiri dari tiga pasang serat, yang terpasang sekitar 8,000km panjang dan akan menghubungkan Singapura, Malaysia, India, Sri Lanka, Oman, dan Uni Emirat Arab” ujar Webb menambahkan.

“BBG dirancang untuk memberikan fasilitas yang sangat upgradable dengan mengadopsi state-of-the-art teknologi 100Gbps, yang berarti pelanggan kami dapat mengakses salah satu rute tercepat yang tersedia antara Singapura dan Timur Tengah,” kata Webb.

Setelah BBG dan kabel bawah laut Eropa India Gateway (EIG) digabungkan, pelanggan Telstra akan dapat langsung terhubung dari Asia ke Eropa.

Terakhir, Telstra telah memperoleh kapasitas pada sistem trans-Pasifik, kabel bawah laut sepanjang 10 ribu km yang baru dan akan menghubungkan “Lebih cepat” antara Jepang dengan pantai barat Amerika Serikat. Di mana, kabel bawah laut tersebut terdiri dari enam pasang serat, yang menggunakan teknologi gelombang 10Gbps.

“Sistem kabel ini menyediakan rute berkapasitas tinggi dari Jepang ke Amerika Serikat, dan mendukung pengembangan lebih lanjut dari kemampuan PoP baru Telstra di Seattle, yang memungkinkan kami untuk memberikan layanan yang fleksibel, kapasitas tinggi antar daerah ini menggunakan solusi software-defined networking Telstra , “kata Webb.

Layanan baru ini diluncurkan dalam menanggapi penyerapan layanan data yang sangat tinggi. “Kita sudah memiliki dan mengoperasikan jaringan terbesar subsea intra-Asia, yang mewakili sekitar 30 persen dari total kapasitas aktif,” kata Webb menambahkan

Lebih lanjut, Webb juga menambahkan bahwa peningkatan ini memperpanjang kemampuan Telstra dan akan mendukung penyediaan teknologi terkemukanya, seperti Telstra PEN software-defined networking dan awan, keamanan, dan layanan komunikasi terpadu.

Maret lalu, Telstra juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk membangun kapasitas tinggi kabel bawah laut antara Perth ke Singapura bersama Singtel dan SubPartners.

Kabel, bernama APX-Barat, akan dibangun sepanjang 4,500km panjang, dengan dua pasang serat yang menyediakan minimal 10 Terabits per kapasitas dan dua arah transmisi data. Ini akan menggantikan lambat kecepatan SEA-ME-WE 3 (SMW3) kabel, yang saat ini membawa lalu lintas data antara kedua negara.

Ini adalah upaya kedua di membangun APX-Barat. Pada awal pembangunannya Telstra menandatangani MoU dengan SubPartners untuk kapasitas pada kabel bawah laut lebih dari tiga tahun yang lalu, pada bulan Maret 2013.

Telstra akan memulai pembangunan APX-Barat pada akhir Juli, diharapkan selesai pada tahun 2018. (Icha)