spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1575

Gelar Demo Live, Ericsson dan Telstra Tembus Kecepatan 979 Mbps

0

Telko.id – Ericsson dan Telstra telah mengumumkan pencapaiannya dalam uji coba LTE-A. Menurut laporan Telcomasia, Selasa (13/9), kedua perusahaan sukses menembus kecepatan downlink 979Mbps dalam demonstrasi menggunakan perangkat tunggal di jaringan seluler end-to-end live.

Menggunakan kombinasi carrier aggregasi LTE Advanced, 64 QAM uplink, 256 QAM downlink dan teknologi MIMO 4×4, perusahaan mencapai kecepatan downlink tersebut menggunakan tes kecepatan UDP dan 883Mbps OTA. kecepatan uplink mencapai 129Mbps.

“Kami semakin dekat untuk memberikan kecepatan download komersial 1Gbps di jaringan kami. Ini akan menghadirkan baik kecepatan dan kapasitas di luar ruangan, bersama dengan cakupan yang lebih luas dan kinerja dalam ruangan,” kata Managing Director Group Ericsson untuk Jaringan, Mike Wright.

Mike menjelaskan, pairing kecepatan data yang lebih tinggi pada downlink dan uplink merupakan tonggak penting dalam pengiriman berkelanjutan dari pengalaman data yang utama. “Tes kami juga menyoroti kemampuan teknik bersama yang kami bawa ke suatu campuran kompleks teknologi software dan hardware baru dalam kondisi akhir di dunia nyata,” imbuh Mike.

Sementara itu, head of radio project management Ericsson, Thomas Noren menambahkan bahwa pemimpin operator seperti Telstra, terus mendorong batas-batas standar LTE, memanfaatkan Carrier aggregasi LTE Advanced, teknologi MIMO 4×4 dan modulasi yang lebih tinggi dengan QAM 64 dan 256, untuk memastikan jaringan mereka siap untuk memenuhi pertumbuhan lalu lintas data yang berkelanjutan dan kinerja tinggi harapan pelanggan.

Softbank Siap Gelar LPWA di Jepang Untuk Dukung IoT

0

Telko.id – SoftBank mengatakan bahwa operator di Jepang ini sudah siap untuk untuk menggelar jaringan Low Power Wide Area atau LPWA pada tahun ini. Teknologi yang digunakan LoRaWAN yang bekerjasama dengan Actility. Sebuah perusahaan yang menjadi pemimpin global untuk infrastruktur dan platform LPWA. Langkah ini dilakukan untuk mendorong terbentuknya bisnis IoT di Jepang.

SoftBank sendiri mengatakan minatnya untuk melakukan pendekatan dan mengintegrasikan secara vertikal pasar IOT dengan menyediakan solusi IOT yang lengkap menggunakan LoRaWAN, termasuk perangkat, BTS, platform jaringan IOT, dan semua layanan yang dibutuhkan untuk menerapkan solusi ini, termasuk konsultasi, seperti yang dilansir dari Telecom TV.

Ke depan SoftBank akan menargetkan manajemen fasilitas komersial. Mulai dari bangunan cerdas, peralatan pemantauan dan remote control serta pelacakan di gudang. Selain itu juga pembacaan otomatis metering listrik dan lain sebagainya. Bahkan seluruh potensi IoT yang ada. Jadi, dengan menggunakan LoRaWAN berbagai hal yang tentang teknologi radio ke depan, termasuk juga LTE Selular dapat diakomodir.

Softbank juga mengatakan bahwa, ke depan, juga akan merencanakan mengembangkan layanan IOT menggunakan teknologi LTE Cat-M1 dan NB-IOT.

Tahun ini SoftBank sangat sibuk karena baru saja melakukan pembelian chip desainer ARM dan juga antusias dengan kehadiran IoT. Hal ini menjadi masuk akal karena untuk memasuki era IoT maka perlu langkah yang tepat. Tahun ini juga, Softbank menggelar 100 BTS MIMO besar-besaran di pra-5G bergerak. Softbank memang ingin menjadi pemain utama di Jepang yang sudah menggelar pra 5G.

Bagi Actility, Hon Hai Precision Industry dan Semtech Corporation, kerjasama dengan Softbank ini juga menambah daftar panjang portfolio yang pernah dilakukan. Setelah beberapa waktu lalu, perusahaan ini juga sudah bekerjasama dengan operator jaringan broadcast di Finlandia, Digita untuk mengaktifkan jaringan Lora secara nasional menggunakan jaringan tiang Digita di Finlandia. (Icha)

Satelit di Frekuensi C-Band Paling Cocok Untuk Indonesia

0

Telko.id – Telekomunikasi broadband memang sudah menjadi rancangan pemerintah terutama Kementrian Komunikasi dan Informatika Indonesia. Kini sudah berjalan proyek Palapa Ring. Selanjutnya, Indonesia berencana untuk memiliki satelit sendiri dan akan memanfaatkan frekuensi C-Band.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Farida Dwi Cahyarini dalam Pembukaan International Satellite Symposium 2016 and Workshop on The Efficient Use of The Orbit/Spectrum Resource di Legian, Badung, Bali.

“Kami percaya bahwa salah satu frekuensi pada satelit, yaitu frekuensi C-Band, adalah  yang paling cocok dan intensif digunakan oleh Indonesia. Banyak negara lain yang terletak di dekat khatulistiwa dengan kelembaban tinggi dan redaman hujan juga mengembangkan (komunikasi satelit). Negara-negara itu menggunakan frekuensi C-Band yang dapat menjadi infrastruktur telekomunikasi, khususnya untuk daerah yang kurang terlayani,” jelasnya.

Salah satu alasan telekomunikasi setelit ini dibutuhkan oleh Indonesia karena wilayah bumi pertiwi ini yang berada di kawasan ring of fire. Rangkaian gunung berapi aktif dipadu dengan lautan dengan potensi tsunami yang ada di Indonesia potensial terjadi bencana alam sewaktu-waktu.

Farida menambahkan Indonesia sudah punya pengalaman dengan satelit sejak 1976, ketika Indonesia meluncurkan satelit pertama PALAPA A-1. Hingga kini, satelit sangat penting bagi Indonesia, terutama untuk membangun infrastruktur broadband di daerah terlayani dan belum terlayani.

Selanjutnya Farida Dwi Cahyarini memamaparkan upaya Pemerintah Indonesia menjangkau wilayah Indonesia yang belum terlayani dengan jaringan telekomunikasi. Jalur telekomunikasi dibangun melalui serat optik dan kabel teresterial sebagai infrastruktur broadband yang disebut sebagai Palapa Ring.

“Palapa Ring adalah jaringan nasional yang akan menjadi tulang punggung Indonesia. Ini teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan tujuh pulau utama, 33 provinsi, dan 460 kabupaten dengan jumlah 13.000 km serat optik. Palapa Ring dan jaringan satelit secara bersamaan akan mencakupi layanan telekomunikasi broadband di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Pemerataan broadband di seluruh wilayah Indonesia tersebut akan dimanfaatkan guna tujuan ekonomi. Jaringan broadband dapat dimanfaatkan mengembangkan potensi ekonomi digital. “Saat ini Indonesia memiliki 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna ponsel pintar. Kami beranggapan bahwa ini merupakan potensi nilai ekonomi, di mana Indonesia harus mengembangkan e-commerce dan bisnis aplikasi digital,” tuturnya.

Chief of Space Service Departement (SSD), Radiocommunication Bureau, International Telecommunication Union (ITU), Yvon Henri menyatakan satelit mempunyai peran yang semakin penting dalam kehidupan sehari-hari dengan menyediakan cakupan di mana-mana. “Baik untuk penyaluran program televisi dan penyiaran, jaringan seluler infrastruktur backhaul, global positioning dan navigasi, meteorologi dan pemantauan sumber daya bumi, akses internet dan telekomunikasi di daerah terpencil atau dalam situasi darurat, dan komunikasi keselamatan,” paparnya.

Yvon Hendri mengatakan bahwa simposium ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh setiap pemangku kepentingan dan industri. ”Jangan ragu untuk menggunakan kesempatan simposium sebagai platform dan kesempatan untuk jaringan antara para pemangku kepentingan di industri. Hasil dari simposium ini juga dapat menjadi pembuka jalan untuk mengatasi masalah dan menjadi acuan untuk merencanakan langkah selanjutnya di masa depan. Termasuk rencana kegiatan ITU, yang akan mempromosikan dan memperkuat industri di semua tingkatan yaitu dari kebijakan dan tingkat regulasi untuk pasar, persaingan, dan bisnis,” tandasnya. (Icha)

SK Telecom Resmi Komersialkan SDRAN

0

Telko.id – SK Telecom telah mengimplementasikan apa yang disebutnya sebagai Software-Defined RAN pertama di dunia, atau dikenal juga sebagai cloud RAN, pada jaringan komersial. Perusahaan menggandeng Nokia untuk mengerjakan proyek ini, menggunakanAirScale Cloud RAN miliknya.

SDRAN sendiri, seperti diketahui, memungkinkan fungsi base station tradisional untuk diimplementasikan pada server IT untuk tujuan umum dan dijalankan sebagai mesin virtual. Arsitektur SDRAN termasuk pemisahan fungsional dari protokol dalam pengolahan baseband. Ini menurunkan sebagian fungsi DU (Digital Unit) menjadi RRU (Remote Radio Unit), yang memungkinkan peningkatan lalu lintas secara lebih efektif dan penerapan beberapa skenario konektivitas secara efisien tanpa tambahan investasi langsung di transportasi atau kapasitas baseband.

Sebelumnya, antarmuka yang dipilih digunakan untuk transmisi data antara DU dan RRU, tetapi dengan SDRAN baru, antarmuka berbasis Ethernet DU-RU yang lebih banyak digunakan dioptimalkan untuk lingkungan komunikasi dan digunakan untuk konfigurasi jaringan yang lebih efisien, kata SK Telecom.

Antarmuka ini juga menangani penundaan sinyal dengan baik, sehingga ketika terjadi penundaan, ini akan menyesuaikan waktu transmisi data dan mencegah perlambatan kecepatan transmisi. Dengan demikian, pelanggan mendapatkan keuntungan dari kualitas data yang lebih baik.

Mengingat jaringan diimplementasikan oleh perangkat lunak, lebih mudah dan lebih cepat untuk menambahkan fungsi jaringan baru. Selain itu, SDRAN akan dapat menawarkan berbagai layanan pihak ketiga, menggunakan MEC (Mobile Edge Computing) untuk menyediakan layanan komunikasi lokal.

Dilaporkan Telecompaper, Selasa (13/9), operator mulai mengerjakan RAN virtual pada tahun 2013 dan melakukan uji lapangan tahun lalu. SK telecom mengatakan berada di trek-nya untuk jaringan LTE yang sepenuhnya tervirtualisasi dan akan menggunakan kemajuan ini untuk mengembangkan arsitektur jaringan 5G-nya.

Kembangkan Bisnis, Virgin Media Akuisisi Perusahaan Wifi

0

Telko.id – Perusahaan asal U.K. yakni Virgin Media telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi bisnis penyedia infrastruktur Arqiva Wi-Fi.

Dilaporkan RCRWirelles (12/9), Arqiva Wi-Fi telah mengoperasikam lebih dari 31.000 titik akses di 6.500 lokasi di seluruh Inggris, termasuk bank, restoran dan hotel. Menurut ketentuan kesepakatan, lebih dari 100 karyawan Arqiva akan mentransfer ke Virgin Media Bisnis.

Virgin Media saat ini menyediakan layanan untuk 250 stasiun bawah tanah di London, dengan sekitar 500.000 perangkat yang terhubung setiap hari.

“Jutaan rumah dan bisnis di seluruh Inggris sudah mengandalkan Virgin Media untuk ultrafast broadband. Dengan melengkapi tawaran kami yang ada dengan perolehan salah satu penyedia Wifi publik terbesar dan terbaik di Inggris, kita akan dapat memperluas konektivitas berkualitas tinggi yang sama di luar ruangan, ujar “Peter Kelly, managing director Virgin Media Bisnis.

“Kami telah membuat investasi yang signifikan dalam Wifi selama beberapa tahun terakhir yang menghasilkan platform terukur dan kuat bagi pelanggan, dan saya sangat percaya bahwa Virgin Media akan menjadi pemilik besar dari bisnis Wi-Fi,” kata CEO Arquiva, Simon Beresford-Wylie.

Ia menambahkan, Di bawah kepemimpinan yang baru ini, bisnis mereka akan ditempatkan dengan baik untuk tumbuh dan meraih pangsa pasar.

Sementara itu, sebagai bagian dari kesepakatan dengan Virgin Media, Arqiva telah menandatangani kemitraan eksklusif untuk memberikan solusi dalam ruangan untuk pelanggan Wi-Fi Virgin Media dan pelanggan Virgin Media Bisnis. Kedua perusahaan juga telah menandatangani perjanjian jangka panjang untuk terus menggunakan layanan Wi-Fi publik di berbagai konsesi jalan Arqiva ini.

Perjanjian baru ini juga akan memungkinkan kedua perusahaan untuk memanfaatkan kekuatan masing-masing dalam memberikan solusi yang inovatif dan menarik untuk pelanggan di mana kebutuhan kapasitas dan cakupan yang semakin meningkat.

Arquiva sendiri memiliki lisensi eksklusif untuk menggunakan furnitur jalan kota di 12 distrik dan menawarkan layanan Wi-Fi di 34 bandara di seluruh Inggris Raya Perusahaan ini juga menyediakan solusi smart metering.

Pasar OTT Global Tembus Rp 88 Triliun Pada 2021

0

Telko.id – Menurut laporan terbaru dari TechSci Research, yang berjudul “Global Over The Top (OTT) Market By Content Type, By Platform, By Deployment Model, By Service Type, By User Type, By Revenue Model, By End User, By Region, Competition Forecast and Opportunities, 2011-2021”, pasar OTT global diproyeksikan akan melampaui US$ 67 miliar atau sekitar Rp 88 Triliun pada 2021.

Pencapaian ini dipicu oleh meningkatnya adopsi konten media online di berbagai platform seperti perangkat pintar, laptop, TV pintar, dan lain-lain; meningkatnya basis pengguna smartphone & tablet, pertumbuhan permintaan untuk layanan pesan instan, dan layanan internet berbasis suara dan video calling. Selain itu, meningkatnya kecenderungan pelanggan terhadap audio dan video online, meningkatnya adopsi komputasi awan, ditambah dengan perluasan basis pengguna game ponline diharapkan bisa lebih mendorong pertumbuhan di pasar OTT global dalam tahun-tahun mendatang.

Pertumbuhan pasar komputasi awan global, yang diperkirakan akan meningkat dari US$ 255 miliar pada tahun 2015 menjadi US$ 466 miliar pada 2021, juga diharapkan memiliki dampak positif pada pasar OTT global selama lima tahun ke depan.

Dilaporkan PRN, Selasa (13/9), Amerika Utara akan mendominasi pasar OTT global pada tahun 2015, dan daerah tersebut diharapkan dapat mempertahankan dominasinya hingga 2021. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya basis pengguna internet dan mobile internet di wilayah itu, meningkatnya penetrasi internet, meningkatnya pasar game online, ditambah dengan meningkatnya permintaan untuk VoIP, web conferencing, pertukaran konten online, dan lain-lain, oleh individu, UKM serta perusahaan besar.

[Baca juga Link Net: Pertumbuhan Industri OTT di Indonesia akan Terus Meningkat]

Smartphone dan tablet menyumbang pangsa pasar terbesar di berbagai platform di pasar OTT global di tahun 2015. Smartphone & Tablet juga diperkirakan akan mengumpulkan pangsa terbesar di tahun-tahun mendatang, karena meningkatnya jumlah aplikasi yang tersedia untuk di-download, tren menonton video online dan mendengarkan radio internet yang berkembang, serta meningkatnya infrastruktur jaringan broadband.

Basis pengguna smartphone dan tablet global sendiri diproyeksikan meningkat dari 1,86 miliar dan 1 miliar orang pada tahun 2015, menjadi masing-masing 3,11 miliar dan 1,72 miliar pada 2021.

Jack Ma Jajaki Indonesia, Ini Jawaban Bos Mataharimall.com

0

Telko.id – Usul agarJack Ma menjadi anggota steering committee ekonomi yang berasal dari Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara cukup membuat geger publik beberapa hari kebelakang. Kehadiran Bos Alibaba ini menuai berbagai komentar, mulai dari sambutan baik hingga rasa kekahawatiran akan invasi dari e-commerce Asing di pasar Indonesia.

Menurut CEO Mataharimall.com, saat ditemui di kantor mereka pada Jumat (9/9) mengatakan bahwa peran sekaliber Ma diperlukan untuk mengangkat industri e-commerce Indonesia ke lanskap internasional.

“Pemerintah mau industri ini semakin mature, menurut saya kita bisa belajar banyak darinya (Jack Ma) agar pertumbuhan e-commerce lebih cepat,” ujar Pria yang dulu pernah bekerja di e-commerce Asing tersebut.

Sekadar informasi, Alibaba Holdings pada 12 April lalu membeli sebagian besar saham Lazada yang merupakan salah satu pemain e-commerce besar di Indonesia.

Hal ini yang menyebabkan Wenas berharap semua pelaku industri ekonomi digital yang terlibat di dalamnya bisa lebih objektif tanpa adanya keberpihakan.

“Ya mungkin harus waspada saja, jangan sampai ada conflict of interest. Pemerintah juga harus aware, selebihnya kita akan dukung terus,” harap Wenas.

Seperti diketahui, pertemuan Rudiantara dengan Jack Ma di Hangzhou, China beberapa waktu lalu membahas rencana pemberdayaan Unit Kecil Menengah (UKM) agar dapat bersaing di pasar China dan global.

Rudiantara berargumen nama besar Jack Ma dalam dunia e-commerce dapat menular ke industri di Indonesia. Sementara itu, ambisi Menkominfo mengibarkan bendera e-commerce dalam negeri ke pasar global wujud dari target pemerintah pada 2020.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai kemungkinan hadirnya pemain asing lain di pasar e-commerce Indonesia, Wenas mencoba menjawab dengna nada optimis. Ia berujar, pasar Indonesia tengah berada dalam posisi yang sangat menarik di mata internasional.

Dikabarkan, Selain Ma pemain asing lain seperti Amazon yang dikepalai oleh Jeff Bezos juga disebut akan masuk Indonesia.

“Kami di sini masih sangat muda, bukan jadi takut tapi justru semakin semangat. Harus bersaing dengan mereka (pemain asing) ya kapan lagi?” Tandas Wenas.

Ia kemudian memberi gambaran, sebagai anak usaha dari Lippo Group, bukan hal baru dalam bersaing dengan pemain asing.

Contohnya Matahari Department Store yang sampai saat ini bertahan di tengah ‘gempuran’ pemain asing seperti Debenhams, Aeon, dan Sogo.

“Berguru dengan sister company Lippo yang lain, kami jadi tahu bahwa satu hal yang harus diingat adalah terus fokus ke pelanggan,” kata Hadi.

Dari situ, Ia yakin bahwa MatahariMall.com akan terus fokus pada pengembangan layanan yang bisa memuaskan pelanggan seperti produk yang ditawarkan, jenis layanan, hingga soal harga.

“Setelah melakukan yang terbaik untuk pelanggan, then we have the chance to win. Kalau pelanggan tetap bersama kami, para merchant juga akan setia bersama kami.” Tutup Wenas.

Perusahaan Ini Akan Hubungkan Backbone di Tiga Negara Asean

0

Telko.id – Sebuah perusahaan kabel bawah laut baru yakni SEAX telah mengontrak Huawei Marine Networks untuk menyebarkan sistem kabel sepanjang 250km yang menghubungkan Malaysia, Singapura dan Indonesia.

Super Sea Cable Networks (SEAX) telah menugaskan pembangunan kabel SEAX-1, yang akan menghubungkan Mersing di pesisir timur Semenanjung Malaysia dengan Changi di Singapura dan di Batam yang mewakili Indonesia.

Pembangunan sistem 24-fiber-pair ini diharapkan akan selesai pada akhir tahun depan. Sementara Fokus pasar SEAX akan menjadi operator grosir di pasar negara berkembang, termasuk operator Tier 1, Tier 2 dan Tier 3  yang ingin memiliki layanan namun tidak mengoperasikan sistem kabel.

Sekadar informasi, rencana lima tahun SEAX adalah menargetkan beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam dan Myanmar selain Malaysia dan Indonesia.

Perusahaan ini memiliki fasilitas lisensi operator berbasis di Singapura, sebuah perusahaan afiliasi di Indonesia dan bermitra dengan penyedia infrastruktur telekomunikasi Sacofa di Malaysia.

“SEAX-1 melewati salah satu wilayah tersibuk di kawasan Asia Pasifik, di mana kebutuhan bandwidth meningkat secara eksponensial,” kata CEO SEAX Joseph Lim seperti dilansir dari TelecomAsia (13/9).

“Kami percaya sistem kabel bawah laut yang baru akan meringankan tekanan bandwidth pada infrastruktur yang ada dan terus memberikan wilayah ini dengan kecepatan tinggi, konektivitas yang handal yang akan cepat-melacak pertumbuhan.” tambahnya.

Indonesia sendiri melalui PT Telkom telah mengontrak NEC untuk membangun sistem kabel penghubung untuk enam pulau besar di Nusantara dengan negara Singapura.

Sistem Kabel Gateway Global Indonesia akan menghubungkan pulau-pulau seperti Sumatera, Batam, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Nantinya, kabel akan menghubungkan ke Singapura dan menyediakan konektivitas langsung dengan dua kabel bawah laut internasional yang masing-masing mendarat di Eropa dan Amerika Serikat.

Asia Sumbang Pelanggan LTE Terbanyak di Dunia ?

0

Telko.id – Jumlah pelanggan LTE global saat ini telah mencapai 1,45 miliar subscriber pada akhir kuartal kedua tahun ini, setelah penambahan bersih sebesar 160,3 juta koneksi LTE pada Q2, seperti dilaporkan RCRWirelles (12/9).

Menurut laporan terakhir dari General Services Administration, sekira 19,5% dari basis mobile global terhubung ke sistem LTE pada akhir Juni silam.

Sementara itu, Laporan GSA juga mengungkapkan bahwa lebih dari 684 juta pelanggan LTE di seluruh dunia yang diperoleh selama 12 bulan terakhir, atau setara dengan pertumbuhan tahunan sebesar 89%.

“GSA saat ini memprediksi bahwa jumlah pelanggan LTE dan LTE Advanced di seluruh dunia akan melewati jumlah total untuk 3G / WCDMA-HSPA secara global pada 2019,” ujar Alan Hadden, VP dari GSA.

Sementara itu, Kawasan Asia memiliki 853 juta pelanggan LTE pada akhir kuartal kedua, atau mencapai pangsa pasar global dengan 57,7%. Sedangkan China berhasil melewati angka 591 juta pelanggan LTE pada akhir Juni, setelah menambahkan sebesar 80.300.000 pelanggan di Q2.

Lebih lanjut, Amerika Utara menduduki peringkat kedua dalam hal pasar LTE terbesar dengan 268,4 juta pelanggan dan 18,5% dari total global.

Untuk kawasan Eropa sendiri menambahkan total 20,5 juta pelanggan LTE pada kuartal kedua, yang berakhir pada Juni dengan pangsa pasar global sebesar 14,1%.

Amerika Latin dan Karibia menambahkan 13,3 juta pelanggan LTE di Q2 dan total mengoleksi 81,9 juta pelanggan 4G LTE, sementara wilayah Timur Tengah memiliki lebih dari 50 juta pelanggan LTE pada akhir periode. Di Afrika, pelanggan LTE mencapai lebih dari 10 juta pada akhir kuartal kedua.

Laporan GSA juga mengungkapkan bahwa total 521 operator telah secara komersial meluncurkan LTE atau layanan LTE-Advanced di 170 negara. Mereka memperkirakan akan ada setidaknya 560 jaringan LTE lagi yang diluncurkan secara komersial pada akhir tahun ini.

Lebih dari 28% dari operator LTE telah  meluncurkan layanan LTE-Advanced secara komersial. Beberapa operator LTE juga telah meluncurkan teknologi Pro LTE-Advanced, menurut GSA.

Proses Akusisi EMC Corp Oleh Dell Baru Selesai

0

Telko.id – Dell Technologies hari ini mengumumkan bahwa proses akuisisi EMC Corporation baru selesai. Dengan adanya akuisisi ini, Dell berharap dapat menciptakan bisnis grup yang unik yang menyediakan infrastruktur penting untuk perusahaan dalam membangun bisnis digital di masa mendatang, mentransformasikan TI dan melindungi aset paling berharganya yakni informasi. Nilai pasar dari penggabungan dua perusahaan ini senilai USD 74 milliar.

Pada saat proses transaksi ditutup pada tanggal 7 September 2016, pemegang saham EMC menerima USD24,05 per lembar saham dalam bentuk tunai, selain tracking stock yang terkait dengan kepemilikan EMC di bisnis VMware. Berdasarkan perkiraan jumlah saham EMC yang diterbitkan, pemilik saham EMC menerima 0,11146 saham dari tracking stock baru (NYSE: DVMT) untuk setiap saham EMC. Nilai dari tracking stock bervariasi dari harga pasar VMware dengan melihat karakteristik yang berbeda dan hak dari kedua saham tersebut.

Dengan adanya merger ini maka portofolio Dell semakin lengkap terutama dalam memecahkan masalah yang sulit bagi pelanggan industri yang berkembang pesat. Mulai dari masalah hybrid cloud, software-defined data center, infrastruktur terkonvergensi, plaform sebagai layanan (platform-as-a-service), analisa data, mobilitas dan keamanan cyber.

“Kami berada di awal revolusi industri berikutnya, Dunia kita menjadi lebih pintar dan semakin terhubung setiap menitnya dan pada akhirnya akan saling terhubung dengan Internet of Things yang luas, dan membuka jalan bagi pelanggan kami untuk melakukan hal-hal luar biasa.Ini adalah alasan kami menciptakan Dell Technologies. Kami memiliki produk, layanan, SDM dan skala global untuk menjadi katalis bagi perubahan dan memandu pelanggan, baik dari bisnis skala besar dan kecil, dalam perjalanan digital mereka,” ujar Micheal Dell, Chairman dan CEO Dell Technologies menjelaskan.

Selanjutnya, yang akan dilakukan oleh Dell Technologies adalah menggabungkan kekuatan Dell dalam strategi go-to-market dengan pelanggan bisnis skala kecil dan menengah dan kekuatan EMC dengan perusahaan besar berskala enterprise. Dengan demikian, diharapkan akan menjadi pemimpin pasar di banyak area paling penting dan berkembang pesat dengan pasar teknologi informasi bernilai USD2 triliun, termasuk posisi sebagai “Pemimpin” dalam 20 Gartner Magic Quadrants dan portofolio lebih dari 20.000 hak paten dan aplikasi. (Icha)