Telko.id – Lintasarta melalui Cloudeka menggandeng Komunitas OpenClaw untuk mempercepat adopsi Agentic AI di Indonesia.
Kolaborasi ini terwujud dalam OpenClaw Meetup Jakarta #4 yang berhasil menarik lebih dari 500 pendaftar, menandakan tingginya minat industri terhadap implementasi AI.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pemanfaatan AI di Indonesia telah bergerak melampaui tahap eksplorasi. Kini, fokus mulai beralih menuju implementasi nyata untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan bisnis yang lebih cerdas.
Komunitas OpenClaw sendiri telah menjadi ruang kolaborasi bagi para praktisi AI, developer, startup, hingga pemimpin teknologi. Mereka berbagi pengalaman membangun dan mengoperasikan AI Agents di lingkungan produksi, mencakup topik seperti AI automation, multi-agent systems, hingga implementasi untuk berbagai kebutuhan industri.
Gidion Suranta Barus, Chief Cloud Officer Lintasarta, menekankan bahwa adopsi Agentic AI membutuhkan fondasi digital yang kuat.
“Agentic AI menjadi salah satu evolusi paling penting dalam perjalanan transformasi digital. Namun keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh teknologi AI itu sendiri, melainkan oleh kesiapan fondasi digital yang menopangnya,” ujarnya.
Lintasarta memperkuat Intelligent Core sebagai fondasi yang mengintegrasikan konektivitas, cloud, cybersecurity, dan AI. Ekosistem ini dirancang untuk mendukung kebutuhan industri secara aman, terintegrasi, dan siap pakai. Langkah ini sejalan dengan proyeksi Gartner yang memperkirakan 33% aplikasi enterprise akan mengadopsi Agentic AI pada 2028.
Sebagai AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison Group, Lintasarta menghadirkan prinsip Sovereign, Integrated, dan Seamless Experience. Intelligent Core memungkinkan organisasi membangun solusi AI di atas infrastruktur yang berdaulat dan sesuai kebutuhan bisnis. Komitmen ini juga diwujudkan melalui gerakan AI Merdeka.
Gerakan AI Merdeka mencakup Laskar AI yang mencetak talenta digital serta Semesta AI yang memberdayakan startup. Melalui inisiatif ini, Lintasarta menghubungkan talenta, teknologi, dan kebutuhan industri untuk membangun ekosistem AI Indonesia yang berdaulat, inklusif, dan berkelanjutan.
Perwakilan Komunitas OpenClaw, Sofian Hadiwijaya, menyampaikan apresiasi atas dukungan Lintasarta. “AI Agents memiliki potensi besar untuk mentransformasi cara organisasi bekerja. Namun untuk mewujudkannya dibutuhkan ruang kolaborasi yang memungkinkan komunitas, industri, dan penyedia teknologi saling berbagi pengetahuan,” ujarnya.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong terbentuknya ekosistem AI yang berdaulat dan inklusif. Lintasarta ingin memastikan pemanfaatan AI di Indonesia tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi produktivitas dan daya saing nasional.
Perkembangan Agentic AI juga diikuti oleh pemain besar lainnya. Telkom meluncurkan Agentic AI melalui BigBox untuk mempercepat transformasi industri. Sementara itu, era baru belanja online mulai mengandalkan AI untuk menggantikan kolom pencarian tradisional.
Dalam jangka panjang, proyeksi Gartner menunjukkan bahwa pada 2028 sekitar 15% keputusan operasional sehari-hari akan dijalankan secara otonom oleh AI Agents. Perubahan ini menandai lahirnya era baru autonomous enterprise yang akan mengubah cara organisasi beroperasi dan menciptakan nilai bisnis.
Lintasarta menegaskan bahwa percepatan adopsi AI tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara komunitas teknologi, penyedia infrastruktur, pengembang solusi, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Kolaborasi dengan OpenClaw menjadi bukti nyata komitmen tersebut.
Ke depannya, Lintasarta akan terus memperkuat perannya sebagai AI Factory yang menghubungkan berbagai elemen ekosistem. Dengan Intelligent Core dan gerakan AI Merdeka, perusahaan siap mendukung organisasi mengadopsi AI secara lebih cepat, aman, dan terukur. (Icha)


