spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 27

Huawei Kembangkan Pura X Versi Non-Folding dengan Layar Lebar

0

Telko.id – Huawei dikabarkan tengah mengerjakan varian perangkat baru yang cukup unik dalam peta persaingan smartphone global. Berdasarkan informasi terbaru yang beredar, raksasa teknologi tersebut sedang mengembangkan versi non-folding atau tidak dapat dilipat dari Huawei Pura X.

Perangkat ini disebut-sebut akan mengusung karakteristik fisik yang tidak biasa, yakni penggunaan rasio aspek layar yang lebar.

Langkah ini menandakan eksperimen berani dari Huawei untuk menghadirkan faktor bentuk (form factor) yang berbeda di pasaran.

Jika biasanya seri dengan akhiran “X” pada lini produk Huawei identik dengan mekanisme layar lipat seperti pada seri Mate X, kehadiran versi non-folding ini menawarkan proposisi nilai yang berbeda.

Pengguna berpotensi mendapatkan area layar seluas perangkat lipat yang sedang terbuka, namun dalam bentuk candybar solid tanpa engsel.

Informasi mengenai pengembangan perangkat ini masih sangat terbatas, namun fokus utama terletak pada desain layarnya.

Dengan mengadopsi rasio aspek yang lebar, smartphone ini kemungkinan besar ditujukan untuk produktivitas tinggi dan pengalaman multimedia yang lebih imersif tanpa perlu khawatir akan durabilitas layar lipat.

Konsep ini mengingatkan pada pendekatan desain yang memprioritaskan “screen real estate” maksimal dalam satu genggaman tangan.

Konsep Layar Lebar pada Pura X

Keputusan untuk membuat versi non-folding dari sebuah perangkat yang sejatinya didesain sebagai ponsel lipat (atau memiliki DNA ponsel lipat) adalah strategi yang menarik.

Huawei Pura X versi ini diprediksi akan mempertahankan dimensi lebar yang biasanya ditemukan pada ponsel lipat saat mode tidak terlipat, namun dijadikan permanen dalam bentuk batang.

Hal ini memberikan keuntungan berupa ketahanan fisik yang lebih baik karena absennya komponen bergerak seperti engsel.

Rasio aspek lebar yang menjadi sorotan utama dalam bocoran ini mengindikasikan bahwa perangkat tersebut akan lebih pendek namun lebih lebar dibandingkan smartphone konvensional pada umumnya.

Desain seperti ini sangat ideal untuk menampilkan dokumen, spreadsheet, atau menikmati konten video tanpa pemangkasan (cropping) yang berlebihan.

Bagi pengguna yang menyukai ukuran layar tablet mini namun menginginkan perangkat yang masih bisa masuk ke saku, konsep ini menjadi solusi alternatif.

Selain itu, penggunaan nama “Pura” yang disematkan pada model ini menegaskan posisi perangkat dalam ekosistem high-end Huawei. Seperti diketahui, seri Pura (sebelumnya seri P) dikenal dengan keunggulan fotografi dan desain estetis.

Integrasi elemen desain “X” ke dalam lini Pura, namun tanpa mekanisme lipat, menunjukkan adanya peleburan fitur antara gaya modis seri Pura dan produktivitas seri Mate/X.

Di pasar Indonesia sendiri, antusiasme terhadap produk Huawei masih tinggi, terutama setelah peluncuran seri Harga Pura 80 yang kompetitif. Kehadiran perangkat dengan form factor unik seperti Pura X non-folding ini tentu akan menambah variasi pilihan bagi konsumen yang mencari perangkat premium dengan identitas visual yang kuat.

Potensi Pasar dan Fungsionalitas

Pengembangan Huawei Pura X dengan layar lebar non-folding ini bisa jadi merupakan respons terhadap segmen pasar yang menginginkan layar besar namun skeptis terhadap keawetan layar lipat.

Layar lebar memungkinkan antarmuka pengguna (UI) yang lebih kaya, seperti kemampuan split-screen yang lebih nyaman atau tampilan keyboard virtual yang lebih luas untuk mengetik.

Meskipun belum ada detail spesifikasi teknis mengenai prosesor atau kamera yang akan digunakan, besar kemungkinan perangkat ini akan mewarisi teknologi kamera canggih khas seri Pura.

Kombinasi antara layar lebar untuk viewfinder dan sensor kamera superior bisa menjadikan perangkat ini alat konten kreasi yang mumpuni. Hal ini sejalan dengan apa yang ditawarkan pada Sensor Kamera di model Pro terbaru mereka.

Belum ada konfirmasi resmi mengenai kapan perangkat ini akan diluncurkan atau apakah akan tersedia secara global. Namun, kabar mengenai pengerjaan proyek ini menunjukkan bahwa Huawei terus berinovasi mencari celah pasar yang belum tergarap maksimal oleh kompetitor.

Perangkat dengan rasio aspek lebar non-standar memang jarang ditemui, namun memiliki basis penggemar tersendiri di kalangan power user.

Langkah Huawei ini patut dipantau, mengingat rekam jejak perusahaan dalam menghadirkan inovasi perangkat keras yang seringkali menjadi tren di industri.

Jika Pura X versi non-folding ini benar-benar terealisasi, ia akan mengisi celah unik antara smartphone tradisional dan tablet kompak, menawarkan pengalaman visual yang luas dengan durabilitas perangkat konvensional. (Icha)

Laba Indosat Tembus Double-Digit, Pendapatan 2025 Capai Rp56,5 Triliun

0

Telko.id – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) resmi mengumumkan pencapaian finansial yang impresif untuk tahun buku 2025.

Emiten telekomunikasi ini berhasil membukukan total pendapatan sebesar Rp56,5 triliun, yang mencerminkan pertumbuhan bisnis berkelanjutan di tengah persaingan industri yang ketat.

Kinerja positif ini turut ditandai dengan lonjakan laba bersih sebesar 12,2% secara year-on-year (YoY), mempertegas posisi perusahaan dalam menjaga profitabilitas yang sehat.

Memasuki tahun 2026, Indosat membawa momentum solid dari kuartal terakhir tahun sebelumnya. Pada periode kuartal IV-2025, perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9% secara kuartalan (quarter-on-quarter) menjadi Rp15,36 triliun.

Angka ini menjadi indikator kuat bahwa strategi perusahaan dalam mengarungi dinamika industri telekomunikasi berjalan efektif.

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari fokus perusahaan pada eksekusi strategi yang disiplin.

Menurutnya, Indosat menutup tahun 2025 dengan fundamental yang semakin kokoh untuk melaju kencang di tahun 2026.

“Kami menutup tahun 2025 dengan momentum yang kuat, mencapai panduan kinerja yang telah ditetapkan, serta mengakhiri tahun dengan fondasi yang solid untuk melaju ke 2026. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan pendapatan yang kuat, peningkatan profitabilitas, dan kinerja laba bersih yang solid,” ujar Vikram dalam keterangan resminya di Jakarta.

Kinerja keuangan yang mentereng ini juga terlihat dari pos laba yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik induk. Pada kuartal terakhir 2025, pos ini melonjak drastis sebesar 53,5% secara kuartalan dan 12,2% secara tahunan menjadi Rp5,5 triliun.

Capaian ini menunjukkan efisiensi operasional yang terus membaik seiring dengan upaya perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, termasuk sejarah perusahaan yang rutin Bagikan Dividen kepada para investor.

Selain itu, EBITDA perusahaan tercatat meningkat 12% menjadi Rp26,6 triliun. Pertumbuhan EBITDA yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan ini menegaskan kesehatan fundamental keuangan Indosat serta kedisiplinan manajemen dalam pengelolaan biaya.

Transformasi AI Dorong ARPU

Salah satu sorotan utama dalam laporan kinerja Indosat 2025 adalah peningkatan Average Revenue Per User (ARPU) yang progresif. Indosat mencatat ARPU menyentuh angka Rp44 ribu, sebuah pencapaian yang didorong oleh strategi personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Pemanfaatan teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk menawarkan layanan yang lebih relevan dengan kebutuhan spesifik setiap pelanggan.

Langkah ini sejalan dengan visi besar perusahaan yang terus memperkuat Komitmen AI dalam setiap lini operasionalnya. Vikram menambahkan bahwa pertumbuhan ARPU ini merupakan hasil dari penguatan jaringan serta fokus konsisten dalam menghadirkan pengalaman pelanggan yang luar biasa.

Dalam upaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan pelanggan, Indosat juga telah mengimplementasikan inovasi berfokus pada pelanggan seperti fitur AI-powered 360 Scam and Spam Protection.

Solusi keamanan berbasis platform agentic canggih ini dirancang untuk melindungi pelanggan dari ancaman penipuan dan pesan sampah di berbagai kanal digital, yang sekaligus membangun kepercayaan digital di ekosistem Indosat.

Transformasi menjadi perusahaan berbasis AI (AI Native TechCo) terus dipercepat melalui investasi berkelanjutan pada infrastruktur digital.

Hal ini termasuk langkah strategis perusahaan dalam menerbitkan Obligasi Indosat untuk memperkuat struktur permodalan guna mendukung ekspansi jaringan dan teknologi.

Ekspansi Layanan Home Broadband

Merespons tingginya kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas digital untuk bekerja, belajar, dan berbisnis, Indosat terus memperluas jangkauan layanan Fixed Wireless Access (FWA). Melalui brand HiFi Air, Indosat menghadirkan solusi internet rumah yang andal untuk mendukung gaya hidup digital yang terus berkembang.

Hingga akhir tahun 2025, layanan 5G dan HiFi Air telah tersedia di 24 kota di seluruh Indonesia. Ekspansi agresif ini membuahkan hasil positif, di mana Indosat berhasil menutup tahun dengan basis pelanggan Home Broadband (HBB) mencapai sekitar 400.000 pelanggan.

Berbagai inisiatif strategis ini merupakan bagian dari integrasi kecerdasan artifisial dengan kapabilitas jaringan canggih. Tujuannya adalah menghadirkan konektivitas yang lebih cerdas, adaptif, dan berorientasi pada manusia.

Dengan fondasi keuangan yang kuat dan operasional berbasis data, Indosat Ooredoo Hutchison optimistis dapat terus menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan serta memberdayakan Indonesia melalui ekosistem digital yang tangguh dan inklusif. (Icha)

Apple Rilis iOS 26.3, Tawarkan Kemudahan Pindah ke Android

0

Telko.id – Apple secara resmi telah merilis pembaruan sistem operasi terbaru mereka, yakni iOS 26.3 dan iPadOS 26.3 untuk pengguna global.

Dalam pembaruan kali ini, raksasa teknologi asal Cupertino tersebut membawa perubahan yang cukup mengejutkan, yakni dukungan fitur yang dirancang khusus untuk mempermudah proses migrasi pengguna ke perangkat berbasis Android.

Peluncuran iOS 26.3 ini menandai langkah strategis baru bagi Apple dalam hal interoperabilitas antar sistem operasi. Jika sebelumnya ekosistem iOS dikenal sangat tertutup dan sulit ditinggalkan, pembaruan ini memberikan fleksibilitas lebih bagi konsumen yang ingin beralih platform tanpa harus kehilangan data penting mereka.

Dukungan serupa juga dihadirkan pada iPadOS 26.3, memastikan pengalaman transisi yang mulus tidak hanya bagi pengguna iPhone, tetapi juga pengguna tablet iPad.

Langkah ini tentu memancing berbagai reaksi dari pengamat industri teknologi. Keputusan untuk mempermudah jalan keluar dari ekosistem Apple dianggap sebagai respons terhadap dinamika pasar yang menuntut keterbukaan akses data bagi konsumen.

Pengguna kini memiliki opsi lebih leluasa untuk menentukan perangkat yang ingin mereka gunakan tanpa merasa terkunci dalam satu merek tertentu.

Dukungan Migrasi yang Lebih Luas

Fitur migrasi yang disematkan dalam iOS 26.3 dan iPadOS 26.3 ini memungkinkan transfer data yang lebih komprehensif. Pengguna yang berniat mengganti perangkat mereka ke ekosistem kompetitor kini dapat memindahkan aset digital mereka dengan hambatan yang lebih minim.

Hal ini sejalan dengan tren industri di mana Migrasi Data antar platform menjadi isu krusial bagi kenyamanan konsumen.

Sebelumnya, perpindahan dari iOS ke Android sering kali menjadi proses yang rumit dan memakan waktu. Pengguna kerap menghadapi kesulitan dalam memindahkan kontak, foto, hingga riwayat percakapan.

Dengan pembaruan ini, Apple tampaknya ingin memastikan bahwa meskipun pengguna memilih untuk meninggalkan produk mereka, pengalaman pengguna tetap menjadi prioritas utama hingga tahap akhir penggunaan perangkat.

Di sisi lain, ekosistem Android sendiri terus berbenah untuk menyambut pengguna baru. Google terus mengembangkan Platform Android agar semakin ramah bagi mereka yang baru beralih.

Sinergi antara kemudahan melepas data dari iOS dan kesiapan Android menerima data tersebut akan menciptakan iklim kompetisi perangkat yang lebih sehat dan berfokus pada kualitas fitur.

Dampak Bagi Pasar Smartphone

Kemudahan migrasi ini diprediksi akan mengubah peta persaingan pasar ponsel pintar. Pengguna yang selama ini bertahan menggunakan iPhone karena takut kehilangan data, kini memiliki keberanian untuk mencoba perangkat lain.

Hal ini bisa menjadi peluang besar bagi produsen smartphone berbasis Android, termasuk merek-merek yang menyasar segmen menengah dan premium.

Di Indonesia sendiri, persaingan antar vendor semakin ketat. Bahkan, merek lokal seperti Advan terus berinovasi untuk merebut hati konsumen.

Upaya produsen Ponsel Lokal untuk meningkatkan kualitas perangkat mereka kini bisa mendapatkan momentum positif dengan adanya kemudahan migrasi dari sistem operasi iOS.

Fleksibilitas ini juga berdampak pada industri aplikasi dan hiburan digital. Pengembang aplikasi kini bisa lebih optimis bahwa pengguna mereka dapat tetap menikmati layanan di berbagai perangkat.

Sebagai contoh, ketersediaan Game Mobile populer di kedua platform memastikan bahwa progres permainan dan pembelian dalam aplikasi tetap relevan, terlepas dari perangkat apa yang digunakan konsumen.

Tantangan Teknis yang Masih Ada

Meskipun Apple telah membuka pintu migrasi melalui iOS 26.3, proses perpindahan data antar sistem operasi yang berbeda arsitektur tidak selamanya berjalan tanpa celah.

Pengguna tetap disarankan untuk melakukan pencadangan (backup) data secara manual sebelum memulai proses transfer untuk menghindari risiko kehilangan informasi penting.

Belajar dari berbagai kasus migrasi layanan digital sebelumnya, seringkali muncul isu tak terduga saat sistem baru diterapkan.

Masalah seperti Kendala Teknis pada server atau inkompatibilitas format file tertentu masih mungkin terjadi. Oleh karena itu, langkah Apple dalam merilis fitur ini kemungkinan akan diikuti dengan serangkaian panduan teknis atau pembaruan minor untuk menambal celah yang mungkin ditemukan oleh pengguna awal.

Rilisnya iOS 26.3 dan iPadOS 26.3 ini menegaskan posisi Apple yang mulai melunak terhadap eksklusivitas ekosistemnya. Bagi konsumen, ini adalah kabar baik yang menjanjikan kebebasan lebih dalam memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka tanpa tersandera oleh kesulitan teknis perpindahan data. (Icha)

Infinix Note 60 Series Dikabarkan Beralih ke Chipset Snapdragon

0

Telko.id – Infinix tampaknya sedang mempersiapkan strategi baru yang cukup signifikan untuk lini produk kelas menengah mereka. Berdasarkan informasi yang beredar, seri Infinix Note 60 mendatang dilaporkan akan meninggalkan tradisi penggunaan chipset MediaTek dan beralih menggunakan prosesor besutan Qualcomm, yakni Snapdragon.

Langkah ini menjadi sorotan utama mengingat lini Note dari Infinix selama ini sangat identik dengan penggunaan chipset seri Helio maupun Dimensity.

Kabar mengenai penggunaan platform Snapdragon pada Infinix Note 60 series ini memicu berbagai spekulasi positif di kalangan pengamat teknologi maupun penggemar gadget.

Perubahan pemasok chipset ini dinilai sebagai upaya strategis Infinix untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan persepsi kualitas produk mereka di segmen yang sangat kompetitif. Penggunaan prosesor Snapdragon sering kali diasosiasikan dengan optimalisasi aplikasi yang lebih matang serta efisiensi daya yang lebih baik.

Pergeseran ini tentu menjadi angin segar bagi konsumen yang selama ini mendambakan variasi pada perangkat Infinix.

Meskipun belum ada rincian spesifik mengenai tipe Snapdragon seri apa yang akan digunakan, konfirmasi mengenai perpindahan kubu dari MediaTek ke Qualcomm ini saja sudah cukup untuk menempatkan Infinix Note 60 series sebagai salah satu perangkat yang patut dinantikan kehadirannya di pasar global maupun Indonesia.

Transformasi Strategi Dapur Pacu Infinix

Keputusan untuk menyematkan otak pemrosesan dari Qualcomm pada seri Note terbaru menandai babak baru dalam evolusi produk Infinix. Selama beberapa tahun terakhir, seri Note dikenal sebagai perangkat yang menawarkan layar besar dan performa mumpuni dengan harga terjangkau, yang sebagian besar ditenagai oleh chipset MediaTek.

Sebagai contoh, generasi sebelumnya seperti Infinix Note 10 dan varian Pro-nya sangat mengandalkan seri Helio G untuk memberikan performa gaming yang stabil di kelasnya.

Namun, transisi ke Snapdragon pada Note 60 series menjanjikan potensi peningkatan di berbagai sektor. Chipset Snapdragon dikenal memiliki Image Signal Processor (ISP) yang kuat, yang berpotensi meningkatkan kualitas fotografi dan videografi secara signifikan.

Hal ini sejalan dengan tren pasar saat ini di mana kemampuan kamera menjadi salah satu faktor penentu utama bagi konsumen dalam membeli smartphone baru.

Selain itu, dukungan komunitas pengembang terhadap chipset Snapdragon cenderung lebih besar.

Ini membuka peluang bagi pengguna yang gemar melakukan kustomisasi perangkat atau menggunakan aplikasi kamera pihak ketiga seperti Google Camera (GCam) untuk mendapatkan hasil foto yang lebih optimal dibandingkan aplikasi bawaan.

Dampak pada Ekosistem dan Keamanan

Langkah Infinix untuk mengadopsi teknologi baru tidak hanya terbatas pada perangkat keras. Perusahaan ini juga terus berinovasi dalam aspek keamanan perangkat lunak.

Baru-baru ini, terdapat inisiatif strategis di mana Solusi Keamanan berbasis AI mulai diintegrasikan ke dalam ekosistem smartphone mereka. Dengan hadirnya chipset Snapdragon yang umumnya memiliki unit pemrosesan AI yang canggih, integrasi fitur keamanan siber ini diharapkan dapat berjalan lebih mulus dan responsif pada Note 60 series.

Kombinasi antara perangkat keras yang reliabel dan sistem keamanan yang ditingkatkan akan menjadikan seri ini tidak hanya menarik bagi gamer atau pengguna multimedia, tetapi juga bagi pengguna profesional yang membutuhkan perangkat aman untuk produktivitas sehari-hari.

Ini adalah langkah logis bagi Infinix untuk naik kelas dan menantang dominasi brand lain yang sudah lebih dulu mapan di segmen menengah atas.

Posisi di Tengah Kompetisi Pasar

Pasar smartphone kelas menengah saat ini sedang mengalami saturasi dengan banyaknya pilihan yang tersedia. Peluncuran produk-produk inovatif seperti Infinix Note Edge yang menawarkan desain tipis dengan baterai besar menunjukkan bahwa Infinix tidak ragu untuk bereksperimen dengan form factor dan spesifikasi kunci.

Kehadiran Note 60 series dengan Snapdragon akan melengkapi portofolio tersebut, memberikan opsi bagi pengguna yang memprioritaskan performa chipset di atas segalanya.

Jika melihat ke belakang, kesuksesan Infinix Note 10 Pro membuktikan bahwa pasar merespons positif terhadap perangkat yang memberikan value-for-money tinggi.

Dengan beralih ke Snapdragon, Infinix berpotensi menarik segmen pengguna baru yang sebelumnya mungkin ragu memilih Infinix karena preferensi terhadap merek prosesor tertentu. Ini adalah strategi akuisisi pasar yang cerdas, memanfaatkan reputasi global Qualcomm untuk mendongkrak citra merek Infinix.

Selain itu, langkah ini juga bisa dilihat sebagai respons terhadap pergerakan kompetitor yang juga mulai agresif merilis perangkat dengan spesifikasi tinggi di harga terjangkau.

Seri terbaru yang baru saja dirilis global, seperti Desain Tipis pada seri Hot, menunjukkan konsistensi bahasa desain Infinix. Jika Note 60 series menggabungkan estetika modern tersebut dengan kekuatan Snapdragon, produk ini memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin pasar di kuartal mendatang.

Ekspektasi Konsumen dan Ketersediaan

Antusiasme terhadap kabar ini terlihat cukup tinggi di berbagai forum teknologi. Banyak yang berharap bahwa penggunaan Snapdragon tidak akan melambungkan harga jual perangkat secara drastis.

Infinix selama ini dikenal sebagai “price killer”, dan mempertahankan identitas tersebut sambil meningkatkan spesifikasi inti akan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai tanggal peluncuran pasti dari Infinix Note 60 series. Namun, bocoran mengenai penggunaan chipset ini mengindikasikan bahwa proses pengembangan perangkat sudah berada di tahap lanjut.

Konsumen di Indonesia, yang merupakan salah satu pasar terbesar bagi Infinix, tentu berharap agar seri ini segera masuk resmi tidak lama setelah peluncuran globalnya.

Perubahan haluan ke Snapdragon pada Infinix Note 60 series adalah sebuah pernyataan tegas bahwa Infinix siap berkompetisi di level yang lebih tinggi.

Dengan memadukan reputasi performa Qualcomm dan strategi harga agresif khas Infinix, seri ini diprediksi akan menjadi salah satu highlight penting dalam peta persaingan smartphone tahun ini. (Icha)

Riset Ungkap 1 dari 4 Smartphone Aktif di Dunia Adalah iPhone

0

Telko.id – Data terbaru dari firma riset pasar Counterpoint Research mengungkapkan pencapaian signifikan bagi ekosistem Apple di kancah global. Laporan tersebut mencatat bahwa satu dari setiap empat smartphone yang aktif digunakan di seluruh dunia saat ini adalah iPhone.

Angka ini menandakan dominasi Apple dalam hal basis pengguna aktif (installed base), meskipun persaingan pengiriman unit perangkat keras terus berlangsung ketat dengan berbagai pabrikan Android.

Pencapaian pangsa pasar 25% dari total populasi smartphone aktif ini menegaskan tingginya tingkat retensi pengguna Apple dibandingkan kompetitornya. Counterpoint menyoroti bahwa metrik ini berbeda dengan data pengiriman kuartalan yang sering berfluktuasi.

Basis pengguna aktif mencerminkan jumlah perangkat yang benar-benar beroperasi di tangan konsumen, bukan sekadar jumlah unit yang dikirimkan ke distributor atau toko ritel dalam periode tertentu.

Keberhasilan Apple menguasai seperempat pangsa smartphone aktif global didorong oleh siklus hidup perangkat yang lebih panjang serta dukungan pembaruan perangkat lunak yang konsisten.

Hal ini membuat iPhone model lama tetap relevan dan digunakan oleh konsumen dalam jangka waktu lama, atau beralih tangan melalui pasar sekunder yang sangat hidup. Fenomena ini menjaga ekosistem iOS tetap tumbuh stabil di tengah dinamika industri seluler yang kompetitif.

Dominasi Basis Pengguna Aktif

Data yang dipaparkan Counterpoint Research memberikan gambaran jelas mengenai loyalitas merek yang kuat di kalangan pengguna Apple. Sementara sistem operasi Android secara kolektif menguasai sisa pangsa pasar sebesar 75%, angka tersebut terpecah ke dalam ratusan merek (OEM) yang berbeda seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, dan lainnya.

Sebaliknya, Apple berdiri sendiri sebagai entitas tunggal yang memegang porsi 25% tersebut, menjadikannya pemain tunggal dengan basis pengguna terbesar.

Kekuatan basis pengguna aktif ini menjadi aset vital bagi Apple dalam mengembangkan bisnis layanan mereka. Dengan semakin banyaknya perangkat yang aktif, potensi pendapatan dari App Store, Apple Music, iCloud, dan layanan berlangganan lainnya semakin besar.

Ini adalah strategi jangka panjang yang membedakan Apple dari banyak pesaing yang lebih fokus pada volume penjualan perangkat keras semata.

Menariknya, pertumbuhan basis pengguna ini juga didukung oleh performa penjualan model-model terbaru. Laporan pasar menunjukkan bahwa seri terbaru Apple terus mendapatkan respons positif.

Hal ini terlihat dari data yang menempatkan iPhone 16 sebagai salah satu kontributor utama dalam menjaga momentum penjualan Apple di berbagai wilayah kunci.

Peran Pasar Sekunder dan Perangkat Refurbished

Salah satu faktor kunci yang memungkinkan Apple mencapai penetrasi 25% adalah ketahanan nilai jual kembali perangkatnya. iPhone dikenal memiliki nilai jual kembali (resale value) yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata ponsel Android.

Hal ini menciptakan pasar sekunder yang kuat, di mana perangkat yang sudah berusia dua atau tiga tahun masih aktif diperjualbelikan dan digunakan oleh pemilik baru.

Strategi Apple untuk mulai masuk secara resmi ke ranah penjualan perangkat rekondisi juga turut memperluas jangkauan pasar mereka ke segmen harga yang lebih terjangkau.

Langkah strategis seperti menghadirkan opsi iPhone Refurbished resmi memberikan akses bagi konsumen dengan anggaran terbatas untuk tetap masuk ke dalam ekosistem iOS, yang pada akhirnya menambah jumlah total pengguna aktif global.

Pasar sekunder ini secara efektif memperpanjang umur pakai setiap unit iPhone. Jika sebuah ponsel Android mungkin dipensiunkan setelah 2-3 tahun pemakaian, sebuah iPhone seringkali berganti pemilik hingga dua atau tiga kali sebelum akhirnya didaur ulang.

Akumulasi dari perangkat lama yang masih beroperasi inilah yang mendongkrak angka active installed base Apple secara signifikan.

Konteks Persaingan Global dan Lokal

Melihat lanskap yang lebih luas, pencapaian Apple ini terjadi di tengah pemulihan industri smartphone secara umum. Data industri menunjukkan adanya tren positif dalam pengiriman dan aktivasi perangkat baru.

Pertumbuhan ini tidak hanya terjadi pada segmen premium, tetapi juga mencerminkan pulihnya daya beli konsumen yang mendorong Pasar Global ke arah yang lebih sehat setelah sempat melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, penetrasi iPhone yang kuat di pasar global juga memberikan dampak tidak langsung terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meskipun pasar lokal masih didominasi oleh perangkat Android di segmen entry-level dan mid-range, aspirasi konsumen untuk memiliki produk Apple terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital.

Analis memproyeksikan bahwa Pasar Indonesia akan terus melihat peningkatan adopsi smartphone premium dalam beberapa tahun ke depan, yang berpotensi memperbesar porsi Apple di tanah air.

Ke depan, Apple tampaknya tidak akan mengendurkan gas. Rumor mengenai inovasi desain dan teknologi pada seri mendatang, seperti iPhone 17, mengindikasikan bahwa perusahaan asal Cupertino ini terus berupaya menarik minat pengguna baru maupun pengguna lama untuk melakukan upgrade.

Inovasi perangkat keras yang dipadukan dengan ekosistem perangkat lunak yang matang menjadi benteng pertahanan utama Apple dalam menjaga rasio 1 banding 4 ini tetap bertahan, atau bahkan meningkat di masa depan.

Data dari Counterpoint ini menjadi indikator penting bagi para pengembang aplikasi, pemasar, dan investor. Tingginya jumlah pengguna aktif iPhone berarti demografi pengguna iOS tetap menjadi target pasar yang sangat lukrat dengan tingkat pengeluaran yang umumnya lebih tinggi dibandingkan pengguna platform lain.

Bagi Apple, tantangan selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan basis pengguna raksasa ini agar tidak beralih ke kompetitor di tengah gempuran inovasi ponsel lipat dan AI dari kubu Android. (Icha)

Google Konfirmasi Android 17 Beta 1 Segera Meluncur ke Publik

0

Telko.id – Google secara resmi memberikan konfirmasi bahwa pembaruan sistem operasi besar berikutnya, Android 17 Beta 1, dijadwalkan untuk segera meluncur.

Kabar ini menjadi sinyal kuat bagi para pengembang aplikasi dan penggemar teknologi yang telah menantikan iterasi terbaru dari ekosistem Android, menandakan dimulainya fase pengujian publik yang lebih luas setelah tahap pratinjau pengembang.

Konfirmasi ini datang langsung dari raksasa teknologi yang berbasis di Mountain View tersebut, menegaskan komitmen mereka untuk menjaga siklus pengembangan perangkat lunak yang konsisten.

Peluncuran versi Beta 1 biasanya menjadi tonggak penting karena sistem operasi mulai beralih dari tahap eksperimental awal menuju bentuk yang lebih stabil untuk diuji coba oleh pengguna umum pada perangkat Google Pixel yang kompatibel.

Meskipun Google belum merinci tanggal pasti ketersediaannya, penggunaan kata “segera” mengindikasikan bahwa file update OTA (Over-The-Air) mungkin akan mendarat dalam hitungan hari atau minggu ke depan.

Langkah ini dinilai strategis untuk memberikan waktu yang cukup bagi ekosistem pengembang dalam menyesuaikan aplikasi mereka dengan API (Application Programming Interface) terbaru yang dibawa oleh sistem operasi ini.

Kehadiran Android 17 Beta 1 ini juga memicu diskusi mengenai arah pengembangan sistem operasi Google di masa depan. Banyak pengamat industri melihat ini sebagai upaya berkelanjutan perusahaan untuk memperkuat integrasi antar perangkat.

Hal ini sejalan dengan rumor mengenai revolusi baru yang mungkin menggabungkan elemen Android dan ChromeOS demi efisiensi yang lebih baik.

Fokus pada Stabilitas dan Pengembang

Dalam siklus rilis Android, versi Beta 1 sering kali menjadi versi pertama yang dianggap cukup aman untuk diunduh oleh pengguna non-pengembang yang ingin mencoba fitur baru lebih awal, meskipun risiko bug masih tetap ada.

Google biasanya memanfaatkan fase ini untuk mengumpulkan umpan balik masif mengenai performa sistem, manajemen baterai, dan kompatibilitas aplikasi pihak ketiga.

Bagi para pengembang game dan aplikasi berat, akses awal ini sangat krusial. Mengingat kompleksitas grafis dan pemrosesan data pada aplikasi modern, memastikan kompatibilitas sejak dini adalah keharusan.

Hal ini mengingatkan pada antusiasme serupa ketika versi beta dari game populer seperti Minecraft Earth diperkenalkan ke platform seluler beberapa tahun silam.

Persaingan di ranah sistem operasi seluler juga menjadi faktor pendorong percepatan rilis ini. Dengan kompetitor utama mereka yang baru saja merilis pembaruan besar, Google perlu memastikan bahwa Android tetap kompetitif dari segi fitur dan keamanan.

Pengguna sering membandingkan kecepatan inovasi antara Android dan Apple iOS 18, sehingga peluncuran Beta 1 ini menjadi momen pembuktian bagi Google untuk menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Antisipasi Pengguna Pixel

Para pengguna perangkat Google Pixel dipastikan akan menjadi yang pertama mendapatkan akses ke pembaruan ini melalui program Android Beta.

Mekanisme pendaftaran biasanya dilakukan melalui situs web resmi Android Beta Program, di mana perangkat yang terdaftar akan menerima notifikasi pembaruan sistem secara otomatis.

Namun, Google selalu menyarankan agar pengguna mencadangkan data penting mereka sebelum melakukan instalasi, mengingat sifat perangkat lunak beta yang belum sepenuhnya final.

Peluncuran yang akan datang ini diharapkan membawa perbaikan pada antarmuka pengguna serta peningkatan privasi yang lebih ketat.

Tren privasi memang sedang menjadi sorotan utama di dunia teknologi, mirip dengan fitur keamanan canggih yang ditawarkan oleh perangkat IoT seperti Xiaomi Smart Camera yang baru saja dirilis ke pasaran.

Dengan konfirmasi resmi dari Google, komunitas teknologi kini tinggal menunggu pengumuman lanjutan mengenai fitur spesifik apa saja yang akan menjadi sorotan utama di Android 17 Beta 1.

Fase pengujian ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan hingga versi stabil final dirilis, yang biasanya dijadwalkan pada paruh kedua tahun ini. (Icha)

Data Pelamar Bocor, Komdigi Nonaktifkan Tiga Pejabat DJID

0

Telko.id – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan tiga pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (DJID).

Keputusan ini diambil menyusul hasil investigasi internal terkait kebocoran data pelamar dalam proses seleksi Pengadaan Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) yang dinilai tidak sesuai prosedur resmi.

Inspektorat Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital mengungkapkan bahwa insiden ini bermula dari proses rekrutmen untuk sembilan posisi tenaga administrasi di Sekretariat DJID yang dilaksanakan pada 12 hingga 15 Januari 2026.

Berdasarkan penelusuran, ditemukan bahwa panitia seleksi tidak menggunakan sistem pengadaan resmi yang telah disediakan kementerian, melainkan menjalankannya secara mandiri.

Inspektur Jenderal Komdigi, Arief Tri Hardiyanto, menegaskan bahwa mekanisme manual tersebut berpotensi merugikan pelamar dan menguntungkan pihak tertentu.

Praktik ini dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan dan akuntabilitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam tata kelola pemerintahan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menegakkan aturan, mirip dengan ketegasan regulasi terkait Ancaman Blokir bagi entitas yang tidak patuh.

Sanksi Disiplin Menanti

Sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital telah menonaktifkan tiga orang yang bertanggung jawab atas kegiatan ini.

Mereka adalah Sekretaris Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (Eselon II), Ketua Tim SDM dan Organisasi (Eselon III), serta seorang staf pelaksana di lingkungan Sekretariat DJID. Penonaktifan ini dilakukan guna mempermudah pemeriksaan lanjutan.

Arief menambahkan bahwa pemeriksaan lebih mendalam sedang dilakukan sebagai dasar penjatuhan sanksi disiplin pegawai. Sanksi tersebut dapat berupa penurunan jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketegasan ini penting untuk menjaga integritas lembaga, sama halnya dengan komitmen kementerian dalam menangani Konten Negatif di ranah digital.

Akibat pelanggaran prosedur ini, proses pengadaan jasa untuk sembilan posisi tenaga administrasi tersebut telah dihentikan total. Inspektorat Jenderal Komdigi memastikan tidak ada toleransi bagi praktik pengadaan yang tidak adil.

Langkah ini diharapkan menjadi peringatan keras agar seluruh proses pengadaan di lingkungan kementerian senantiasa berorientasi pada kepentingan publik dan tata kelola yang bersih, serta menghindari misinformasi atau Penyebaran Hoaks terkait transparansi rekrutmen. (Icha)

ASEAN Foundation Ungkap Kesenjangan Adopsi AI: Siswa Lebih Cepat dari Guru

0

Telko.id – ASEAN Foundation, dengan dukungan penuh dari Google.org, secara resmi meluncurkan laporan ASEAN Digital Outlook dan memaparkan temuan kunci dari riset AI Ready ASEAN di Manila, Filipina, pada 11 Februari 2026.

Peluncuran yang dilakukan dalam acara AI Ready ASEAN: 3rd Regional Policy Convening ini menyoroti fakta krusial mengenai tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara, di mana kecepatan penggunaan teknologi ini oleh masyarakat melaju jauh lebih pesat dibandingkan kesiapan institusi dan regulasi yang menaunginya.

Laporan yang disusun bersama ASEAN Digital Senior Officials’ Meeting (ADGSOM) ini menyajikan gambaran menyeluruh tentang lanskap digital di kawasan tersebut.

Fokus utama laporan mencakup penilaian terhadap kematangan digital, pembangunan infrastruktur, hingga kesiapan institusi dalam menghadapi era kecerdasan buatan.

Temuan ini menjadi sangat relevan mengingat ekonomi digital ASEAN diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan eksponensial, melesat dari USD 300 miliar menjadi USD 1 triliun pada tahun 2030.

Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, menegaskan bahwa fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya ketimpangan kecepatan antara pengguna dan regulator.

“Di seluruh kawasan ASEAN, kita melihat penggunaan AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem kita untuk mengarahkannya,” ujarnya.

Studi ini dirancang untuk menggeser fokus diskusi dari sekadar akses teknologi menuju kesiapan fundamental institusi, pendidik, dan masyarakat dalam mengelola dampak jangka panjangnya.

Ketimpangan Infrastruktur dan Tata Kelola Digital

Laporan ASEAN Digital Outlook memberikan penilaian regional yang komprehensif mengenai kondisi infrastruktur digital, tata kelola, dan keamanan siber di negara-negara anggota.

Meskipun beberapa negara telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memperkuat infrastruktur digital mereka, studi ini menyoroti adanya disparitas atau ketimpangan yang nyata terkait tingkat kematangan digital dan kapasitas institusional antarnegara di kawasan ini.

Kesenjangan ini terlihat jelas pada aspek keterampilan digital, tingkat kepercayaan publik, hingga kesiapan siber. Pendekatan nasional yang bersifat fragmentasi dinilai memiliki keterbatasan dalam menangani isu-isu tersebut secara efektif.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat populasi kawasan ASEAN telah melampaui 660 juta jiwa, dengan hampir sepertiganya merupakan generasi muda di bawah usia 20 tahun yang sangat adaptif terhadap teknologi.

Program AI Ready ASEAN sendiri telah mencatatkan pencapaian signifikan sebagai respons atas tantangan ini. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 5 juta penerima manfaat, melatih 100.000 peserta dalam kecakapan AI tingkat lanjut, serta mencetak lebih dari 3.000 pelatih atau master trainers di seluruh Asia Tenggara. Upaya ini krusial untuk memastikan bahwa Agentic AI dan teknologi terkait dapat diadopsi secara inklusif.

Siswa Indonesia Paling Agresif Mengadopsi AI

Salah satu temuan paling menarik dari riset AI Ready ASEAN adalah evaluasi kesiapan di sektor pendidikan yang melibatkan sepuluh negara anggota.

Riset ini menempatkan siswa, pendidik, dan orang tua sebagai aktor kunci. Data menunjukkan bahwa siswa menjadi kelompok yang paling cepat dan agresif dalam mengadopsi teknologi ini, meninggalkan para pendidik dan orang tua yang masih berjuang dengan literasi digital.

Di Indonesia, tingkat penggunaan AI di kalangan siswa tergolong sangat tinggi. Sebanyak 95,25% responden siswa melaporkan telah menggunakan model AI generatif. Angka ini jauh melampaui tingkat penggunaan di kalangan pendidik yang hanya mencapai 46,20% dan orang tua sebesar 62,19%.

Statistik ini mempertegas adanya kesenjangan penggunaan antar generasi yang cukup lebar dalam ekosistem pendidikan.

Selain itu, riset mencatat bahwa pendidik cenderung lebih lambat dalam mengeksplorasi jenis perangkat AI lainnya, dengan tingkat penggunaan hanya 27,29%, berbanding terbalik dengan siswa yang mencapai 53,25%.

Tren ini sejalan dengan fenomena global di mana Adopsi Galaxy AI dan perangkat serupa semakin diminati generasi muda. Sayangnya, kurang dari separuh pendidik menyatakan bahwa institusi mereka telah menyediakan panduan kebijakan yang memadai, dukungan keamanan siber, ataupun pelatihan terstruktur untuk mengimbangi kecepatan siswa.

Risiko Keamanan dan Urgensi Literasi Etika

Tingginya adopsi teknologi tanpa dibarengi dengan kesiapan literasi dan etika memunculkan risiko baru yang kompleks. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa meningkatnya risiko seperti penipuan daring, penipuan berbasis deepfake, misinformasi, hingga kebocoran data telah mengikis kepercayaan publik terhadap sistem digital.

Ancaman seperti Ancaman Dark AI kini menjadi perhatian serius yang membutuhkan penanganan lintas sektoral.

Marija Ralic, Kepala Google.org Asia Pasifik, menekankan bahwa akses terhadap perangkat semata tidaklah cukup untuk menjamin kesiapan digital.

“Kesiapan yang sesungguhnya menuntut pemahaman tentang cara kerja AI, batasan-batasannya, serta bagaimana teknologi ini dapat digunakan secara etis,” tegas Marija. Ia menambahkan bahwa investasi dalam literasi AI, khususnya bagi komunitas dan pendidik, adalah kunci agar kemajuan teknologi dapat diterjemahkan menjadi peluang inklusif, bukan sekadar statistik ekonomi.

Secara keseluruhan, temuan dari kedua studi ini memberikan sinyal kuat bagi para pemangku kepentingan di ASEAN. Adopsi AI yang melaju lebih cepat daripada kesiapan institusi menuntut adanya kerangka tata kelola yang lebih kuat.

Data dari Laporan AI Agoda dan studi ASEAN Foundation ini diharapkan menjadi referensi utama bagi pengambil kebijakan untuk merancang intervensi yang tepat, memperkuat literasi digital, serta memastikan pertumbuhan ekonomi digital senilai USD 1 triliun pada 2030 dapat dicapai secara aman dan bertanggung jawab. (Icha)

Telkomsel Rilis Paket Bundling Sacred Octagon, Matematika pun Jadi Seru

0

Telko.id – Telkomsel secara resmi mengumumkan kolaborasi strategis bersama Indonesia Artificial Intelligence (INA AI) melalui peluncuran Paket Bundling Telkomsel x Sacred Octagon.

Langkah ini menghadirkan solusi layanan edu-games matematika interaktif yang bertujuan mengubah persepsi belajar numerasi menjadi aktivitas yang menyenangkan dan tidak menakutkan bagi anak-anak, sekaligus memperluas akses pendidikan digital berkualitas di Tanah Air.

Paket bundel ini mencakup akses All Zone Pass di platform Sacred Octagon serta kuota internet yang didukung oleh Jaringan Telkomsel terdepan.

Layanan ini dijadwalkan mulai dapat diakses oleh pelanggan di seluruh Indonesia melalui aplikasi MyTelkomsel pada tanggal 13 Februari 2026 mendatang. Inisiatif ini menjadi jawaban atas kebutuhan orang tua akan metode pembelajaran yang adaptif di era digital.

VP AI & Data Management Telkomsel, Ari S.W. Sibarani, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari aspirasi para orang tua, khususnya para ibu, yang kerap menghadapi tantangan dalam menjaga minat belajar anak di tengah rutinitas harian.

Paket ini dirancang agar anak dapat langsung belajar sambil bermain tanpa perlu mendaftar secara terpisah, karena aksesnya sudah terintegrasi dengan kuota internet.

“Tujuan kami adalah memudahkan orang tua mendampingi belajar di rumah, dengan harga terjangkau dan konektivitas andal. Kami sering dengar dari para ibu, bahwa menjaga rasa ingin tahu anak terhadap matematika sambil menjalani rutinitas harian itu tidak selalu mudah,” ujar Ari S.W. Sibarani.

Content image for article: Telkomsel Rilis Paket Bundling Sacred Octagon, Belajar Matematika Jadi Seru

Metode GASING dan Dukungan AI

Sacred Octagon menawarkan pendekatan unik dengan mengubah konsep matematika menjadi serangkaian misi dan tantangan bertahap.

Konsep ini dirancang agar anak-anak menjadi lebih berani mencoba dan tidak mudah menyerah saat memecahkan masalah. Platform ini telah didukung oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk personalisasi pengalaman belajar.

Salah satu keunggulan utama dari platform ini adalah adaptasi metode GASING (Gampang, Asik, Menyenangkan) yang dikembangkan bersama Prof. Yohanes Surya.

Melalui metode ini, konsep dasar matematika disajikan secara sederhana, sistematis, dan menyenangkan. Pendekatan yang ramah anak ini diharapkan dapat mempermudah peran orang tua dalam mendampingi proses belajar putra-putri mereka di rumah.

Direktur Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Pembina INA AI, Pantro Pander Silitonga, menyoroti pentingnya membangun kepercayaan diri anak sejak dini. Menurutnya, Sacred Octagon dirancang layaknya permainan agar anak dapat menikmati proses pemahaman konsep dasar tanpa rasa takut.

“Sebagai orang tua, kami paham kekhawatiran saat anak mulai menjauh dari matematika karena merasa sulit. Kolaborasi dengan Telkomsel memudahkan keluarga di seluruh Indonesia untuk mendapatkan akses yang terjangkau dan mudah, supaya anak-anak kita bisa tumbuh percaya diri dan siap menghadapi masa depan,” ungkap Pantro.

Harga Paket dan Kuota Data

Untuk mendukung kenyamanan akses, Telkomsel menyediakan berbagai opsi paket yang ramah kantong bagi keluarga. Pelanggan Telkomsel dapat memilih durasi berlangganan sesuai kebutuhan, mulai dari harian hingga tahunan. Setiap pembelian paket sudah termasuk akses All Zone Pass dan kuota internet 4G/5G.

Berikut adalah rincian harga paket bundling yang ditawarkan:

  • Paket 3 Hari: Termasuk All Zone Pass dan kuota 100 MB seharga Rp12.500.
  • Paket 10 Hari: Termasuk All Zone Pass dan kuota 300 MB seharga Rp25.000.
  • Paket 30 Hari: Termasuk All Zone Pass dan kuota 1 GB seharga Rp50.000.
  • Paket 365 Hari: Termasuk All Zone Pass dan kuota 12 GB seharga Rp500.000.

Harga yang kompetitif ini diharapkan dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat, sejalan dengan upaya Telkomsel dalam memperkuat Ekosistem Digital yang inklusif di sektor pendidikan.

Cara Aktivasi di MyTelkomsel

Proses pembelian paket ini dibuat sangat praktis melalui aplikasi MyTelkomsel. Pengguna cukup membuka menu “Beli Paket” dan memilih opsi “Sacred Octagon”. Terdapat fleksibilitas dalam metode berlangganan, di mana pengguna dapat mengatur fitur perpanjangan otomatis.

Untuk pembelian satu kali, pelanggan disarankan menonaktifkan tombol toggle “Subscribe”. Sebaliknya, jika menginginkan layanan berlangganan otomatis, tombol tersebut dapat dibiarkan aktif. Setelah meninjau detail paket dan total pembayaran, pelanggan hanya perlu menekan tombol “Subscribe/Beli” untuk menyelesaikan transaksi.

Informasi lebih lengkap mengenai layanan ini dapat diakses melalui situs resmi Telkomsel atau langsung melalui aplikasi MyTelkomsel mulai tanggal peluncuran. (Icha)

Indosat Gelar Indonesia AI Day for Supply Chain, Ungkap Kunci Efisiensi

0

Telko.id – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) secara resmi menyelenggarakan Indonesia AI Day for Supply Chain di Jakarta pada 11 Februari 2026.

Forum strategis ini dirancang untuk mempertemukan para pemangku kepentingan utama dari sektor transportasi, distribusi, dan logistik guna merespons berbagai tantangan rantai pasok yang kian kompleks di era ekonomi digital saat ini.

Penyelenggaraan acara ini dilatarbelakangi oleh kondisi industri yang kini berada pada titik krusial. Peningkatan volume perdagangan yang signifikan, tuntutan pengiriman yang semakin cepat dari konsumen, serta tekanan berat untuk melakukan efisiensi biaya operasional menjadi pemicu utama.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, tercatat ada sekitar 16.080 perusahaan yang bergerak di bidang pergudangan dan ekspedisi kurir di Indonesia hingga tahun 2024.

Besarnya jumlah pelaku usaha tersebut menunjukkan skala industri yang masif, namun juga membawa kompleksitas tersendiri. Pertumbuhan ini menuntut adanya sistem operasional yang tidak hanya terintegrasi, tetapi juga adaptif dan sepenuhnya berbasis data untuk memenangkan persaingan pasar yang ketat.

Transformasi Digital sebagai Tuas Strategis

Dalam forum tersebut, dipaparkan berbagai tolok ukur industri global yang menunjukkan betapa krusialnya peran teknologi dalam sektor ini. Adopsi digital dan kecerdasan buatan (AI) di sektor supply chain terbukti bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak.

Data menunjukkan bahwa penerapan teknologi ini dapat mendorong peningkatan pendapatan perusahaan sebesar 15 hingga 30 persen.

Angka pertumbuhan pendapatan tersebut dapat dicapai melalui peningkatan keterlibatan (engagement) pelanggan serta penerapan strategi harga yang lebih presisi.

Selain itu, efisiensi operasional dapat ditingkatkan secara signifikan di kisaran 30 hingga 40 persen. Hal ini menjadi solusi ampuh bagi perusahaan yang sedang berjuang menekan biaya overhead tanpa mengorbankan kualitas layanan.

Manfaat lain yang disoroti adalah kemampuan AI dalam manajemen risiko. Penerapan teknologi cerdas diklaim mampu menurunkan risiko pencurian dan kecurangan (fraud) hingga 50 persen.

Di sisi pelayanan, waktu respons terhadap pelanggan juga dapat dipercepat sebesar 40 hingga 50 persen, sebuah metrik vital dalam industri yang sangat mementingkan kecepatan.

Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, memberikan pandangannya mengenai urgensi transformasi ini. Menurutnya, metode konvensional sudah tidak lagi relevan dengan dinamika pasar saat ini.

“Supply chain saat ini tidak lagi bisa mengandalkan proses manual. Aktivitas logistik semakin kompleks, menuntut informasi yang cepat serta mudah dipahami. Pelaku industri juga perlu melihat pergerakan barang dan armada secara real-time agar operasional dapat berjalan lebih rapi sehingga keputusan bisa diambil tepat waktu,” ujar Muhammad Buldansyah.

Ia menambahkan bahwa melihat kebutuhan mendesak tersebut, Indosat secara aktif mendorong pemanfaatan teknologi berbasis AI. Tujuannya adalah agar seluruh proses di bidang logistik dapat saling terhubung, membantu pelaku industri mengelola operasional secara lebih terukur dan efisien.

27 Solusi AI untuk Tantangan Logistik

Sebagai wujud nyata dari komitmennya, Indosat memperkenalkan 27 solusi supply chain berbasis AI dalam acara tersebut.

Solusi-solusi ini dikelompokkan ke dalam enam area utama yang mencakup seluruh aspek operasional logistik, yaitu Always-On Supply Chain Operations, Real-Time Operational Command, Unified Digital Experience, Sustainable Revenue Expansion, Secure & Trusted Critical Infrastructure, serta Predictive & Intelligent Decision Making.

Portofolio solusi yang ditawarkan sangat beragam, mencakup berbagai use case yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Mulai dari penyediaan konektivitas jaringan privat yang stabil, telemetri IoT untuk pemantauan jarak jauh, manajemen armada yang komprehensif, hingga video analytics berbasis AI untuk pengawasan visual otomatis.

Tidak hanya itu, Indosat juga menghadirkan solusi interaksi pelanggan seperti AI chatbot dan ekosistem digital melalui platform omnichannel. Untuk level manajerial dan eksekutif, tersedia layanan advanced analytics serta dashboard decision intelligence yang memudahkan pengambilan keputusan strategis berdasarkan data akurat.

Penerapan di Sektor Transportasi dan Pergudangan

Secara spesifik di sektor transportasi, Indosat menawarkan solusi unggulan seperti Fleet Management, Fleet Vision, Vision AI, dan IoT Telemetry. Rangkaian teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk memantau pergerakan kendaraan secara presisi, mengoptimalkan pemanfaatan aset, serta memantau kinerja pengemudi dan aspek keselamatan secara real-time.

Salah satu dampak paling signifikan dari penerapan teknologi ini adalah pada pemeliharaan armada. Penerapan predictive maintenance berbasis AI terbukti mampu menurunkan unplanned downtime atau waktu henti yang tidak terencana hingga 50 persen. Hal ini sekaligus berdampak positif pada perpanjangan usia pakai kendaraan operasional.

Beralih ke sektor distribusi dan logistik, solusi Cold Chain Monitoring dan Asset Tracking menjadi andalan untuk menjaga kualitas produk.

Teknologi ini memberikan visibilitas penuh terhadap lokasi dan kondisi barang secara real-time, memastikan integritas produk tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen, terutama untuk barang yang sensitif terhadap suhu.

Pada level fasilitas atau pergudangan, pendekatan teknologi semakin canggih dengan hadirnya Smart Facility, Energy Management, dan Connected AGV (Automated Guided Vehicle).

Penggunaan robotika dan otomatisasi gudang berbasis IoT dan AI ini terbukti mempercepat proses fulfillment atau pemenuhan pesanan.

Teknologi ini bekerja layaknya sinergi otomotif dan robotika yang harmonis, menekan biaya operasional gudang, serta meminimalkan risiko keterlambatan pengiriman. Seluruh aktivitas ini dipantau melalui Unified Command Center yang mendukung optimalisasi operasional end-to-end, peningkatan efisiensi energi, serta percepatan alur kerja yang lebih andal.

Membangun Ekosistem Logistik Masa Depan

Seluruh kapabilitas teknis yang ditawarkan Indosat semakin diperkuat dengan lapisan keamanan siber yang mumpuni serta platform pengalaman pelanggan berbasis AI. Hal ini memastikan bahwa transformasi digital yang dilakukan tidak hanya efisien, tetapi juga aman dari ancaman siber yang kian marak.

Melalui gelaran Indonesia AI Day for Supply Chain dan penyediaan portofolio solusi AI serta IoT yang komprehensif, Indosat menegaskan kembali posisinya sebagai enabler teknologi di Indonesia. Perusahaan berkomitmen untuk memberdayakan pelaku industri tanah air agar mampu bertransformasi secara berkelanjutan.

Inisiatif ini sejalan dengan tujuan besar Indosat untuk memberdayakan Indonesia di kancah ekonomi digital.

Dengan adopsi teknologi yang tepat, diharapkan industri logistik nasional tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi biaya dan operasional semata. Lebih jauh lagi, langkah ini diharapkan dapat memperkuat fondasi ekosistem logistik nasional agar lebih tangguh, terhubung, dan siap menghadapi persaingan di tingkat regional maupun global.

Angka-angka dan fakta yang dipaparkan dalam forum ini menegaskan satu hal penting: AI bukan lagi sekadar konsep masa depan yang jauh. Teknologi ini adalah tuas strategis yang harus dimanfaatkan hari ini untuk meningkatkan daya saing industri logistik Indonesia di tengah tantangan zaman. (Icha)