spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 26

Samsung Galaxy A07 5G Resmi Meluncur: Baterai 6000mAh dan Fitur AI, Harga 2 Jutaan

0

Telko.id – Samsung Electronics Indonesia secara resmi memperkenalkan jajaran smartphone terbarunya untuk segmen entry-level, yakni Samsung Galaxy A07 5G. Perangkat ini hadir dengan membawa peningkatan signifikan pada kapasitas daya, konektivitas 5G yang cepat, serta integrasi kecerdasan buatan (AI) yang jarang ditemukan di kelas harganya. Dibanderol dengan harga Rp2 jutaan, ponsel ini dirancang untuk mendukung produktivitas dan hiburan pengguna yang semakin mobile.

Peluncuran ini menjawab kebutuhan pasar akan perangkat terjangkau namun memiliki spesifikasi mumpuni untuk penggunaan jangka panjang. Galaxy A07 5G menonjolkan baterai berkapasitas jumbo 6.000mAh, layar dengan refresh rate tinggi, serta jaminan pembaruan perangkat lunak yang panjang. Sebelumnya, kabar mengenai perangkat ini sempat resmi terdaftar dalam berbagai sertifikasi yang mengindikasikan kehadirannya di pasar tanah air.

MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Annisa Maulina, menyatakan bahwa Galaxy A07 5G ditujukan untuk pengguna yang aktif menikmati konten digital. Menurutnya, kombinasi konektivitas 5G dan baterai besar menjadi nilai jual utama untuk memastikan kenyamanan pengguna dalam beraktivitas seharian tanpa hambatan.

“Mendukung para pengguna yang aktif menikmati konten digital, kami menghadirkan Galaxy A07 5G sebagai smartphone 5G dua jutaan yang menggabungkan konektivitas cepat dengan baterai 6000mAh yang tahan lama, refresh rate layar 120Hz untuk pengalaman visual yang lebih mulus, serta ketahanan IP54 yang siap menemani aktivitas harian,” ujar Annisa melalui keterangan resminya.

Baterai Jumbo untuk Aktivitas Seharian

Salah satu fitur unggulan yang ditawarkan oleh Samsung Galaxy A07 5G adalah kapasitas baterainya yang mencapai 6.000mAh. Samsung mengklaim kapasitas ini 120% lebih besar, memungkinkan pengguna untuk melakukan streaming film, menonton acara TV, hingga menikmati konten favorit sepanjang hari tanpa perlu khawatir kehabisan daya. Tren penggunaan baterai 6000mAh memang sedang marak di segmen ini untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna yang semakin intens.

Content image for article: Samsung Galaxy A07 5G Resmi Meluncur: Baterai 6000mAh dan Fitur AI, Harga 2 Jutaan

Dengan daya tahan yang ditingkatkan, pengguna dapat lebih leluasa menggunakan ponsel untuk berbagai keperluan, mulai dari bekerja hingga hiburan, dengan waktu putar video yang lebih panjang. Hal ini mengurangi frekuensi pengisian daya yang seringkali mengganggu mobilitas pengguna aktif.

Content image for article: Samsung Galaxy A07 5G Resmi Meluncur: Baterai 6000mAh dan Fitur AI, Harga 2 Jutaan

Integrasi AI Canggih di Kelas Entry-Level

Langkah menarik yang diambil Samsung adalah menyematkan fitur kecerdasan buatan (AI) pada perangkat di rentang harga dua jutaan ini. Galaxy A07 5G dilengkapi dengan fitur AI populer seperti Google Gemini dan Circle to Search with Google. Fitur ini biasanya ditemukan pada seri flagship, namun kini dapat dinikmati oleh pengguna seri Galaxy A.

Pengguna dapat mengakses Gemini melalui tombol samping untuk membantu menyelesaikan berbagai tugas, mulai dari mencari ide, menulis, hingga merencanakan aktivitas. Selain itu, terdapat fitur Gemini Live yang memungkinkan interaksi suara secara alami layaknya bercakap-cakap untuk mendapatkan jawaban instan.

Fitur Circle to Search juga hadir untuk mempermudah pencarian informasi. Pengguna cukup melingkari objek pada layar—baik itu gambar, teks, atau video—untuk langsung mendapatkan hasil pencarian tanpa perlu berpindah aplikasi. Kemudahan ini menawarkan pengalaman penggunaan yang intuitif dan efisien.

Layar Imersif dan Performa Responsif

Dari sektor visual, Samsung Galaxy A07 5G mengusung layar berukuran 6,7 inci yang luas. Layar ini didukung oleh refresh rate 120Hz yang menjamin transisi visual lebih halus saat scrolling media sosial atau navigasi menu. Pengalaman menonton juga ditingkatkan dengan fitur High Brightness Mode yang mampu mencapai tingkat kecerahan hingga 800 nits.

Tingkat kecerahan ini memastikan layar tetap terlihat jelas dan cerah meskipun digunakan di luar ruangan di bawah paparan sinar matahari langsung. Hal ini menjadi nilai tambah bagi pengguna yang sering beraktivitas di lapangan atau area outdoor.

Untuk dapur pacu, ponsel ini ditenagai oleh prosesor dengan fabrikasi 6 nm. Chipset ini dirancang untuk memberikan performa yang responsif sekaligus efisiensi daya yang baik, mendukung konektivitas 5G yang super cepat. Kombinasi ini memastikan multitasking berjalan lancar, baik saat membuka aplikasi berat maupun bermain game kasual.

Kamera 50MP dan Fitur Fotografi

Bagi penggemar fotografi mobile, Galaxy A07 5G dibekali konfigurasi dua kamera belakang. Kamera utama memiliki resolusi 50MP (Wide) yang mampu menghasilkan foto tajam dan jernih dengan detail yang kaya. Pemrosesan gambar yang canggih membantu menyeimbangkan cahaya dan bayangan untuk hasil optimal di berbagai kondisi pencahayaan.

Kamera utama tersebut didampingi oleh kamera depth 2MP yang berfungsi untuk menciptakan efek bokeh alami pada foto potret. Sementara itu, untuk kebutuhan swafoto dan panggilan video, tersedia kamera depan 8MP yang diklaim mampu menghasilkan tampilan fokus dan minim noise.

Desain Tangguh dan Jaminan Update Panjang

Samsung merancang Galaxy A07 5G dengan mempertimbangkan ketahanan fisik. Perangkat ini telah mengantongi sertifikasi IP54, yang artinya tahan terhadap debu dan cipratan air. Bagian belakang ponsel menggunakan material Glass Fiber Reinforced Polymer yang memberikan perlindungan ekstra terhadap goresan dan benturan ringan.

Meski memiliki baterai besar dan konstruksi tangguh, ponsel ini tetap tampil cukup ramping dengan ketebalan 8,2 mm dan bobot 199 gram. Tersedia dua pilihan warna yang stylish, yakni Black dan Light Violet.

Salah satu keunggulan utama yang ditawarkan Samsung adalah komitmen pembaruan perangkat lunak. Galaxy A07 5G dijanjikan akan mendapatkan enam generasi pembaruan OS dan pembaruan keamanan selama enam tahun. Ini merupakan jaminan yang sangat jarang ditemukan di kelas harga ini, memastikan perangkat tetap aman dan relevan untuk penggunaan jangka panjang.

Ponsel ini sudah menjalankan antarmuka One UI 8.0 yang menawarkan pengalaman intuitif dan opsi personalisasi luas. Keamanan data pengguna juga dijaga ketat oleh Samsung Knox Vault, solusi keamanan hardware yang melindungi informasi sensitif dari upaya peretasan.

Harga dan Ketersediaan

Samsung Galaxy A07 5G mulai tersedia di pasar Indonesia pada tanggal 13 Februari 2026. Konsumen dapat membeli varian RAM 6GB dan penyimpanan internal 128GB dengan harga resmi Rp2.799.000. Harga ini menempatkannya sebagai opsi menarik dibandingkan Samsung Galaxy A07 versi reguler atau model sebelumnya.

Selama periode promo mulai 13 Februari hingga 31 Maret 2026, Samsung menawarkan berbagai keuntungan pembelian, antara lain:

  • Bundling travel adapter 25W.
  • Garansi pabrik selama 2 tahun (extended warranty).
  • Diskon 30% untuk Samsung Care+ (full protection atau crack screen).
  • Kemudahan pembayaran melalui program Finance+.
  • Diskon 10% untuk pembelian Galaxy Buds Core (purchase with purchase).

Kehadiran Galaxy A07 5G menambah ketat persaingan di pasar smartphone 5G terjangkau, memberikan lebih banyak opsi bagi konsumen yang menginginkan teknologi terkini tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

XLSMART Rilis Fitur Baru Sisternet, Perkuat Ruang Aman Digital Perempuan

0

Telko.id – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) secara resmi memperkenalkan wajah baru ekosistem digital mereka melalui peluncuran fitur baru Sisternet pada aplikasi dan situs webnya.

Langkah strategis ini dilakukan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk menciptakan ruang digital yang inklusif, produktif, dan aman bagi perempuan di Indonesia.

Peluncuran yang berlangsung di XLSMART Tower, Jakarta, pada Selasa (10/2) ini menjadi tonggak penting dalam upaya perusahaan telekomunikasi tersebut untuk tidak hanya menyediakan akses internet, tetapi juga solusi sosial.

Melalui inisiatif ini, aplikasi Sisternet kini bertransformasi menjadi platform yang mengintegrasikan pembelajaran, jejaring komunitas, dan perlindungan digital dalam satu wadah yang komprehensif.

Director & Chief Regulatory Officer XLSMART, Merza Fachys, menegaskan bahwa pembaruan ini merupakan bukti nyata komitmen perusahaan dalam memperkuat ruang aman digital.

Menurutnya, akses terhadap literasi dan keterampilan digital harus berjalan beriringan dengan perlindungan yang memadai agar perempuan dapat berpartisipasi secara aktif tanpa rasa takut.

“Peluncuran fitur baru Aplikasi Sisternet merupakan wujud komitmen XLSMART dalam memperkuat ruang aman digital bagi perempuan Indonesia. Kami percaya bahwa akses terhadap literasi dan keterampilan digital harus dibarengi dengan perlindungan yang memadai, agar perempuan dapat berpartisipasi secara aktif, aman, dan berdaya di ekosistem digital nasional,” ujar Merza dalam acara Community Gathering SIS CONNECT.

Merza menambahkan bahwa dengan adanya integrasi fitur-fitur strategis seperti DigiHer dan Ruang Aman Sister, Sisternet kini tidak sekadar menjadi platform pembelajaran biasa. Ekosistem ini dirancang untuk menghubungkan pelatihan, komunitas, dan kanal perlindungan dalam satu aplikasi yang mudah diakses.

Content image for article: XLSMART Rilis Fitur Baru Sisternet, Perkuat Ruang Aman Digital Perempuan

Integrasi DigiHer dan Digital Talent Scholarship

Salah satu pembaruan paling signifikan dalam versi terbaru ini adalah kehadiran fitur DigiHer. Fitur ini terhubung langsung dengan program Digital Talent Scholarship yang dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Integrasi ini memungkinkan pengguna perempuan untuk mengakses berbagai pelatihan keterampilan digital berskala nasional secara langsung melalui aplikasi.

Kepala Badan Pengembangan SDM Kemkomdigi RI, Boni Pudjianto, yang turut hadir dalam peluncuran tersebut, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi ini.

Ia menilai bahwa sinergi antara Sisternet dan Digitalent Mobile adalah langkah konkret untuk menghapus hambatan akses bagi perempuan yang ingin meningkatkan kompetensi diri.

“Kolaborasi melalui integrasi Sisternet dan Digitalent Mobile merupakan komitmen Kemkomdigi dan XLSMART untuk memastikan tidak adanya hambatan akses bagi Perempuan Indonesia untuk naik kelas dalam ekosistem digital nasional, mulai dari literasi digital, re-skilling, dan up-skilling, sertifikasi, hingga mencari peluang kerja,” jelas Boni.

Melalui fitur ini, perempuan Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan daya saing mereka, sehingga mampu menangkap peluang ekonomi yang lebih besar di era digital saat ini. Hal ini sejalan dengan target nasional untuk mencetak 9 juta talenta digital pada tahun 2030.

Ruang Aman Sister dan Layanan SAPA 129

Selain fokus pada peningkatan keterampilan, aspek keamanan menjadi prioritas utama dalam pembaruan kali ini. Fitur Ruang Aman Sister kini mengintegrasikan layanan SAPA 129, sebuah kanal resmi pelaporan kekerasan berbasis gender online yang dikelola oleh KemenPPPA. Kehadiran fitur ini memperkuat posisi Sisternet sebagai ruang aman digital yang terpercaya.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KPPPA RI, Dra. Desy Andriani, menyambut baik inisiatif integrasi ini. Menurutnya, langkah ini secara signifikan memperluas jangkauan layanan pengaduan bagi perempuan melalui platform yang sudah memiliki basis pengguna yang besar.

“Integrasi Lapor SAPA 129 ke Sisternet secara signifikan memperluas jangkauan layanan pengaduan bagi Perempuan melalui satu platform yang sudah banyak digunakan. Ini bukan sekedar penggabungan sistem, melainkan penyatuan ekosistem perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan menuju terwujudnya ruang digital yang aman dan positif bagi Perempuan untuk berkreasi tanpa rasa takut,” ungkap Desy.

Data SPHPN 2024 menunjukkan urgensi dari fitur perlindungan ini, di mana tercatat 7,5% perempuan di Indonesia pernah mengalami Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE).

Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia muda antara 15 hingga 24 tahun. Selain itu, kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) juga tercatat tinggi, mencapai 1.791 kasus pada tahun 2024.

“Kekerasan kini berpindah ke ruang digital yang sering tidak terlihat. Integrasi ini menjadi terobosan penting untuk membuka peluang bagi semua pihak bergerak bersama mengatasi fenomena ‘gunung es’ kekerasan terhadap Perempuan dan anak di Indonesia,” tegas Desy.

Target Jutaan Perempuan Go Digital

Peluncuran aplikasi dan website terbaru ini juga dilatarbelakangi oleh masih lebarnya kesenjangan digital gender di Indonesia. Data menunjukkan gap penggunaan internet mencapai 21 persen, ditambah dengan rendahnya partisipasi perempuan dalam literasi digital.

Melalui Gerakan Digital #1JutaSisterDigital, XLSMART berupaya menjembatani kesenjangan tersebut.

Hingga saat ini, aplikasi Sisternet telah berhasil diunduh oleh lebih dari 1,6 juta pengguna. Dengan pembaruan fitur dan kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat, XLSMART menargetkan angka partisipasi ini meningkat menjadi 2,4 juta perempuan yang go digital hingga akhir tahun 2026.

Keunggulan utama Sisternet dibandingkan platform sejenis terletak pada integrasi langsung dengan program pemerintah dan Kolaborasi KemenPPPA.

Ekosistem pembelajaran, komunitas, dan perlindungan yang terintegrasi dalam satu aplikasi menjadikan Sisternet unik dan memiliki dampak yang luas bagi penggunanya.

Pelanggan XLSMART dan perempuan Indonesia pada umumnya dapat berpartisipasi dalam program ini dengan mengunduh aplikasi Sisternet. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat mengikuti pelatihan keterampilan digital via DigiHer, bergabung dalam kelas edukasi, serta berpartisipasi dalam festival dan kompetisi berbasis komunitas. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peran aktif perempuan dalam ekonomi kreatif dan menciptakan ruang digital yang berkelanjutan. (Icha)

Pasar IoT Indonesia Tembus Rp673 Triliun, Faizal Rochmad Pimpin ASIOTI

0

Telko.id – Industri Internet of Things (IoT) di Tanah Air menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat agresif dengan proyeksi nilai pasar mencapai US$40 miliar atau setara Rp673 triliun pada tahun 2025.

Momentum strategis ini beriringan dengan penetapan Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M.Sc sebagai Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) periode 2026–2029, menggantikan Teguh Prasetya yang telah menyelesaikan masa baktinya.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) III ASIOTI di Jakarta, jumlah perangkat IoT yang beredar di Indonesia diperkirakan mencapai 678 juta unit.

Angka ini diprediksi akan terus melonjak seiring dengan adopsi teknologi digital yang masif di segmen konsumen maupun korporasi.

Ketua ASIOTI periode 2022–2025, Teguh Prasetya, mengungkapkan bahwa industri IoT nasional diproyeksikan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 14,7%.

Potensi peningkatan jumlah perangkat bahkan diperkirakan mampu menembus angka 800 juta unit dalam beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan ini menuntut adanya regulasi yang kuat dan standar teknis yang memadai.

Teguh menegaskan bahwa sejak awal asosiasi berkomitmen mendorong kedaulatan digital. Hal ini dilakukan melalui penyusunan standar SNI IoT, penguatan regulasi IoT, serta penyusunan best practice pemanfaatan teknologi tersebut.

Hingga saat ini, ASIOTI telah berkontribusi dalam mencetak 11.800 engineer IoT bersertifikasi yang diakui secara regional.

Content image for article: Pasar IoT Indonesia Tembus Rp673 Triliun, Faizal Rochmad Pimpin ASIOTI

“Pengembangan solusi IoT nasional menjadi kebutuhan mendesak seiring masifnya pertumbuhan perangkat di Indonesia,” ujar Teguh dalam Munas III ASIOTI yang digelar pada Kamis (12/2/2026).

Ia juga menyoroti bahwa tantangan utama saat ini terletak pada pemerataan jaringan yang belum sepenuhnya menjangkau seluruh pelosok negeri, meskipun upaya pemanfaatan jaringan unlicensed pada frekuensi 433 dan 920 MHz terus digalakkan.

Transformasi Kepemimpinan dan Visi Baru

Dalam agenda Munas III tersebut, Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M.Sc resmi terpilih sebagai nahkoda baru ASIOTI untuk tiga tahun ke depan. Faizal bukanlah sosok baru dalam industri teknologi nasional.

Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur IT & Digital PT Telkom Indonesia, di mana ia memimpin strategi digitalisasi perusahaan serta pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dengan latar belakang pendidikan Master of Science dari University of Saskatchewan, Kanada, dan gelar Doktor dari Universitas Brawijaya, Faizal dinilai memiliki kombinasi kepemimpinan strategis dan kapabilitas teknis yang mumpuni.

Di bawah kepemimpinannya, ASIOTI menargetkan penguatan standardisasi, tata kelola IoT, serta perluasan kolaborasi lintas sektor.

Struktur kepengurusan baru ini juga diperkuat dengan kehadiran Dr. Ir. Ismail, M.T sebagai Dewan Pengawas. Ismail yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), diharapkan dapat memperkuat sinergi antara asosiasi dan pemerintah.

Keberadaannya dinilai krusial untuk memastikan pengembangan IoT berjalan selaras dengan kebijakan nasional, termasuk dalam aspek kedaulatan data dan infrastruktur digital.

Dukungan Pemerintah dan Tantangan Industri

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Reza, dalam sambutannya menyampaikan bahwa negara-negara global kini tengah berlomba memanfaatkan digitalisasi. Indonesia sendiri memiliki nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang mencapai US$130 miliar. Menurutnya, adopsi IoT menjadi faktor kunci dalam mendongkrak daya saing industri nasional.

Namun, Faisol memberikan catatan kritis bahwa Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pasar. Ketergantungan pada impor komponen inti seperti microcontroller dan mikroprosesor masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mencapai kemandirian industri.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, mengingatkan bahwa pengembangan IoT bukan sekadar masalah teknologi.

Aspek tata kelola, mulai dari perizinan investasi, harmonisasi regulasi, hingga kesiapan data center, memegang peranan vital dalam menjamin kecepatan pemrosesan data dan kedaulatan informasi.

Inovasi Konektivitas dan Solusi Cerdas

Dalam sesi talkshow bertema “IoT Indonesia 2026: Dari Konektivitas ke Kecerdasan Kolektif”, General Manager Network Digitalization and Service Innovation Telkomsel, Bowon Baskoro, memaparkan kesiapan infrastruktur operator seluler tersebut.

Telkomsel saat ini mengoperasikan lebih dari 272 ribu BTS, yang terdiri dari 221 ribu BTS 4G dan lebih dari 2.500 BTS 5G.

Bowon menjelaskan bahwa cakupan 4G telah mencapai 97% populasi, sementara fixed coverage mencakup 98% wilayah. Konektivitas 5G secara khusus diarahkan untuk mempercepat adopsi IoT di sektor strategis seperti smart mining, smart warehouse, dan smart manufacturing.

“Melalui jaringan yang andal, latensi rendah, dan skalabilitas tinggi, Telkomsel mendorong implementasi solusi berbasis otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga pemantauan real-time guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri,” ujar Bowon.

Peluang ekspansi dinilai masih sangat besar mengingat penetrasi fixed broadband di Indonesia baru berada di angka 4,82 pelanggan per 100 penduduk.

Dari sisi penyedia solusi, Founder PT Myeco Inovasi Indonesia (myECO), Maulana Derifato A, membagikan keberhasilan implementasi solusi efisiensi energi berbasis AI dan IoT.

Solusi yang mengintegrasikan software, firmware, dan hardware ini telah digunakan oleh lebih dari 55.000 perangkat. Salah satu implementasi sukses di Grup Astra (AGEn) mencatat penghematan biaya operasional hingga Rp368 miliar dan efisiensi energi sebesar 3.136 terajoule.

Sementara itu, Tribe Leader Telkom Regional Solution Antares Telkom Indonesia, Ibnu Alinursafa, menambahkan bahwa pemanfaatan IoT terus meluas ke berbagai use case seperti smart city, pertanian, hingga pelacakan aset. CEO PT Indo Code Technology, Eng Tjong, turut memperkenalkan inovasi sistem peringatan dini bencana dan penghitungan kerumunan orang sebagai bentuk implementasi nyata teknologi ini.

Ancaman Siber Mengintai

Di tengah pesatnya digitalisasi, aspek keamanan menjadi sorotan utama. Sandiman Muda Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Energi dan Sumber Daya Alam BSSN RI, Agus Winarno, mengingatkan bahwa ancaman pelanggaran data dan serangan siber terus meningkat. Potensi kerugian global akibat serangan ini bahkan diprediksi mencapai triliunan dolar AS.

Lonjakan penggunaan cloud dan perangkat terhubung secara langsung memperluas permukaan serangan, termasuk risiko DDoS dan ransomware.

Agus menegaskan bahwa penguatan sistem keamanan, enkripsi data, serta kesiapan SDM adalah syarat mutlak agar percepatan digitalisasi tidak berujung pada risiko kebocoran data yang merugikan.

Peluncuran white paper “Tren Teknologi dan Bisnis TIK Indonesia 2026” dalam acara ini menjadi simbol langkah strategis pengembangan bisnis IoT di Tanah Air.

Dokumen ini diharapkan menjadi panduan bagi para pemangku kepentingan dalam memetakan proyeksi permintaan dan arah bisnis teknologi di masa depan, seiring dengan makin terbukanya peluang AI dan IoT dalam ekosistem digital Indonesia. (Icha)

IM3 SATSPAM+, Lindungi WhatsApp Call Pejuang Ramadan dari Penipuan

0

Telko.id – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand IM3 secara resmi meluncurkan kampanye bertajuk “IM3 SATSPAM+ Amankan Pejuang Ramadan” di Jakarta, pada 12 Februari 2026.

Dalam momentum menyambut bulan suci ini, IM3 menghadirkan inovasi keamanan digital terbaru melalui fitur SATSPAM+ (Satuan Anti Scam dan Spam Plus) yang kini dilengkapi kemampuan perlindungan terhadap panggilan WhatsApp (WhatsApp Call).

Fitur ini diklaim sebagai yang pertama di Indonesia yang mampu mengamankan pengguna dari potensi penipuan melalui kanal komunikasi paling populer tersebut, melengkapi perlindungan SMS dan panggilan telepon reguler yang sudah ada sebelumnya.

Langkah strategis ini diambil Indosat mengingat tingginya lonjakan aktivitas digital masyarakat Indonesia selama bulan Ramadan.

Mulai dari koordinasi mudik, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), belanja kebutuhan Lebaran, hingga penyaluran sedekah digital, semuanya membuat lalu lintas telekomunikasi menjadi sangat padat.

Fitur SATSPAM+ didukung oleh teknologi mutakhir AIvolusi5G, sebuah integrasi antara kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan kekuatan jaringan 5G yang dirancang untuk mendeteksi serta menanggulangi ancaman spam maupun scam secara real-time.

Peningkatan lapisan keamanan ini menjadi krusial di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat yang serba cepat. Dalam situasi yang sibuk, respons pengguna seringkali menjadi lebih spontan dan kurang waspada, menciptakan celah bagi pelaku kejahatan siber.

Berdasarkan data tahun 2025 yang dirilis Indosat, kasus penipuan digital selama periode Ramadan tercatat meningkat drastis hingga 34,7 persen. Fakta yang lebih mengkhawatirkan adalah 89 persen dari kasus tersebut terjadi melalui aplikasi WhatsApp, sementara 64 persen lainnya dilakukan melalui panggilan telepon konvensional.

Teknologi AIvolusi5G untuk Keamanan Maksimal

Fitur SATSPAM+ bekerja dengan mekanisme deteksi otomatis yang memantau pola komunikasi mencurigakan tanpa melanggar privasi pengguna. Dengan dukungan teknologi AIvolusi5G, sistem ini tidak hanya mampu mengenali nomor-nomor yang terindikasi sebagai penipu, tetapi juga memberikan opsi pemblokiran secara langsung.

Hal ini merupakan pengembangan signifikan dari Fitur AI anti-spam yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh Indosat.

Selain kemampuan deteksi dan pemblokiran, SATSPAM+ juga menyediakan laporan harian yang dapat dipersonalisasi oleh pelanggan. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk meninjau kembali aktivitas mencurigakan yang berhasil ditangkal oleh sistem.

Kehadiran inovasi ini mempertegas posisi Indosat yang berambisi menjadi AI North Star di Indonesia, dengan fokus memberdayakan dan melindungi seluruh lapisan masyarakat secara inklusif.

Perlindungan ini dinilai sangat vital, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan masyarakat di daerah terpencil yang kerap menjadi target utama sindikat penipuan digital.

Bilal Kazmi, Director & Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat akan keamanan digital terus meningkat.

“Sejak diluncurkan pada Agustus 2025, aktivasi SATSPAM+ tumbuh hingga 600%, hal ini menunjukkan bahwa perlindungan dari scam dan spam bukan lagi fitur tambahan, tetapi kebutuhan utama. Di Ramadan ini, ketika aktivitas digital meningkat signifikan, kami ingin pelanggan bisa lebih tenang untuk fokus beribadah, bekerja, dan berbagi—tanpa harus khawatir terhadap risiko penipuan digital,” ujar Bilal.

Ragam Pilihan Paket Ramadan SATSPAM+

Untuk memastikan perlindungan ini dapat dinikmati secara luas, IM3 menghadirkan Paket Ramadan SATSPAM+ di mana seluruh pelanggan akan otomatis mendapatkan fitur keamanan ini tanpa biaya tambahan.

Strategi ini memastikan bahwa pengguna tidak perlu melakukan langkah rumit untuk mengamankan komunikasi mereka. Bagi pelanggan yang membutuhkan panduan berlangganan, informasi mengenai Cara Aktivasi Paket dapat diakses melalui berbagai kanal resmi Indosat.

Terdapat beberapa opsi paket unggulan yang ditawarkan selama periode Ramadan ini. Paket pertama menawarkan kuota data sebesar 150GB dengan masa aktif 28 hari seharga Rp150.000.

Opsi kedua memberikan kuota lebih besar, yakni 300GB untuk 28 hari dengan harga Rp200.000. Kedua paket bulanan ini sudah dilengkapi dengan manfaat tambahan berupa 5.000 menit telepon dan SMS ke sesama nomor IM3 dan Tri, serta akses gratis ke layanan streaming Viu atau Vidio Ultimate Mobile yang cocok untuk menemani waktu menunggu berbuka puasa.

Selain paket bulanan, IM3 juga menyediakan opsi paket harian hingga mingguan untuk fleksibilitas yang lebih tinggi. Pilihannya mencakup paket 20GB untuk 3 hari seharga Rp20.000, paket 30GB untuk 5 hari seharga Rp30.000, hingga paket 75GB untuk 10 hari seharga Rp50.000.

Sama seperti paket bulanan, paket jangka pendek ini juga menyertakan bonus 1.000 menit telepon dan SMS ke sesama pengguna IM3 dan Tri.

Privilese Khusus Pelanggan Pascabayar

IM3 juga memberikan perhatian khusus bagi pelanggan layanan pascabayar. Pengguna IM3 Platinum otomatis mendapatkan perlindungan SATSPAM+ sebagai bagian dari layanan premium mereka.

Salah satu keunggulan utama bagi segmen ini adalah manfaat penggunaan kuota utama yang bisa digunakan untuk bebas roaming di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, memudahkan komunikasi bagi mereka yang bepergian selama bulan puasa.

Khusus untuk paket unggulan Platinum 50 yang dibanderol seharga Rp100.000 per bulan dengan kuota 50GB, pelanggan berhak menikmati promo spesial Ramadan.

Promo tersebut berupa penawaran kuota ekstra sebesar 25GB yang bisa didapatkan hanya dengan harga Rp25.000 untuk masa aktif 7 hari. Penawaran ini dirancang untuk mendukung produktivitas tinggi pelanggan premium yang membutuhkan konektivitas tanpa putus.

Kampanye Kreatif dan Roadshow Daerah

Peluncuran kampanye “Amankan Pejuang Ramadan” ini dimeriahkan dengan pendekatan kreatif yang unik di Blok M Hub, Jakarta. Acara peluncuran menampilkan kolaborasi spesial antara musisi Kunto Aji dan konten kreator Agung Karmalogy.

Mereka membawakan ulang lagu legendaris “Ku Jemu” milik Koes Plus yang liriknya diubah dengan sentuhan frasa “kerja keras bagai kuda”. Penampilan ini dilengkapi dengan flash mob bertema Anti Scam & Spam, sebagai simbol apresiasi bagi masyarakat yang tetap bekerja keras dan produktif di tengah ibadah puasa.

Untuk memperluas jangkauan pesan keamanan ini, IM3 juga menggelar rangkaian acara bertajuk “Bookber SATSPAM+”. Kegiatan buka puasa bersama ini dijadwalkan berlangsung di dua kota besar, yakni Makassar pada 7 Maret 2026 dan Palembang pada 13 Maret 2026.

Acara ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi menjadi wadah edukasi dan kebersamaan untuk mengingatkan bahwa di tengah padatnya aktivitas Ramadan, aspek keamanan digital harus tetap menjadi prioritas utama.

Masyarakat dapat memperoleh Paket IM3 Ramadan SATSPAM+ melalui berbagai saluran, termasuk aplikasi myIM3, layanan IM3 Official WhatsApp di nomor 08551000185, akses UMB *888#, serta di berbagai outlet IM3, minimarket, dan platform e-commerce mitra.

Melalui inisiatif ini, IM3 berharap pelanggan tidak hanya mendapatkan koneksi internet yang cepat, tetapi juga rasa aman dan ketenangan dalam menjalani ibadah serta berinteraksi dengan orang-orang terkasih. (Icha)

Indonesia Jadi Sumber Serangan Spam dan Malware Terbesar 2025

0

Telko.id – Laporan terbaru dari AwanPintar.id mengungkap fakta yang mengkhawatirkan bagi ekosistem digital tanah air, di mana Indonesia kini tercatat sebagai sumber serangan spam dan malware terbesar sepanjang tahun 2025.

Lonjakan aktivitas berbahaya ini mengindikasikan bahwa sejumlah besar infrastruktur teknologi informasi (IT) di dalam negeri, mulai dari server perusahaan, komputer pribadi (PC), hingga perangkat Internet of Things (IoT), telah berhasil dikompromi dan dimanfaatkan oleh peretas.

Berdasarkan data yang dirilis dalam laporan “Indonesia Waspada: Ancaman Digital di Indonesia Semester 2 Tahun 2025”, tren serangan siber berada pada level kewaspadaan tinggi.

Tercatat total 234.528.187 serangan terjadi sepanjang semester kedua tahun 2025. Angka ini setara dengan rata-rata 15 serangan siber yang terjadi setiap detiknya di wilayah Indonesia.

Peningkatan volume serangan ini terbilang sangat signifikan, melonjak hingga 75,76% jika dibandingkan dengan semester pertama pada tahun yang sama. Puncak aktivitas berbahaya terpantau pada bulan Desember 2025, di mana jumlah serangan menyentuh angka 90.590.833.

Tingginya angka ini kemungkinan besar dipicu oleh meningkatnya aktivitas Distributed Denial of Service (DDoS) serta eksploitasi terhadap lalu lintas transaksi ekonomi digital selama periode liburan akhir tahun.

Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk melumpuhkan kepercayaan publik terhadap ekosistem digital nasional.

Menurutnya, pelaku serangan siber lokal kini tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, melainkan menunjukkan pola kerja sama yang terorganisir.

“Kondisi ini mencerminkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat edukasi literasi keamanan di seluruh lapisan masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam skema manipulasi yang dibuat oleh pelaku lokal,” ujar Yudhi.

Agresivitas Pembajakan Akses Admin

Salah satu jenis serangan yang mengalami kenaikan tajam adalah Attempted Administrator Privilege Gain. Serangan ini merupakan upaya paksa untuk mencuri hak akses administrator pada sistem operasi Windows.

Tercatat kenaikan sebesar 57,74% dibandingkan semester sebelumnya, yang menandakan bahwa pelaku ancaman kini jauh lebih agresif dalam mengeksploitasi kerentanan pada sistem operasi yang belum mendapatkan pembaruan keamanan (unpatched).

Selain membidik akses admin, kembalinya botnet Mirai juga memberikan kontribusi besar terhadap lonjakan statistik serangan. Botnet Mirai, yang pertama kali terdeteksi pada 2016, kini muncul kembali dengan kemampuan yang lebih canggih sejak semester pertama 2025.

Malware berbasis Linux ini secara aktif menginfeksi berbagai perangkat IoT untuk kemudian dijadikan jaringan “zombie” guna melancarkan 35 serangan siber berskala besar seperti DDoS.

Para penjahat siber juga terdeteksi fokus memanfaatkan pintu belakang atau backdoor untuk merebut kendali tanpa terdeteksi. Dominasi backdoor jenis DoublePulsar yang mencapai angka hampir 100 persen menjadi peringatan keras bagi para pengelola IT.

Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur digital di Indonesia masih sangat rentan terhadap eksploitasi, terutama pada sistem yang usang. Serangan DoublePulsar dikenal sangat berbahaya karena sifatnya yang tersembunyi dan sering kali tidak disadari oleh korban hingga kerusakan telah terjadi.

Indonesia Juara Pengirim Spam Dunia

Dalam kategori spam dan malware, Indonesia menempati posisi yang tidak membanggakan. Laporan tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara pengirim spam terbesar, dengan lonjakan drastis menjadi 56,29% dari total trafik global, naik dari 21,45% pada semester pertama.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak alamat IP publik dan server di Indonesia telah dikuasai peretas untuk dijadikan mesin pengirim spam massal.

Pola serangan spam terlihat dinamis sepanjang tahun. Setelah cukup aktif di kuartal pertama, terjadi ledakan aktivitas spam pada bulan Juli yang mencapai 36,34%.

Lonjakan ini mengindikasikan adanya kampanye spam masif yang secara spesifik menargetkan pengguna di Indonesia. Email spam masih menjadi senjata utama karena biayanya yang murah namun memiliki daya hancur tinggi, terutama melalui skema phishing yang menipu korban.

Sementara itu, distribusi malware menunjukkan pola yang lebih fluktuatif. Serangan sempat meledak di awal tahun, melandai, lalu melonjak kembali pada bulan Juni tepat sebelum ledakan spam terjadi.

Pola ini mengindikasikan strategi penyerang yang mendistribusikan malware lebih awal untuk mempersiapkan infrastruktur botnet sebelum melancarkan serangan spam massal.

Indonesia juga tercatat sebagai pengirim serangan malware terbanyak dengan persentase 61,32%, menegaskan banyaknya perangkat lokal yang telah terinfeksi.

Pergeseran Target Eksploitasi Kerentanan

AwanPintar.id juga mencatat adanya pergeseran taktik dalam mengeksploitasi celah keamanan atau Common Vulnerabilities & Exposures (CVE). Penyerang kini mulai beralih dari kerentanan lama ke protokol jaringan dan infrastruktur vital.

Produk yang banyak digunakan oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) dan konsumen umum pun tak luput dari incaran karena seringkali memiliki pengawasan keamanan yang lemah.

Beberapa eksploitasi yang meroket antara lain adalah CVE-2020-11900, sebuah kerentanan pada tumpukan TCP/IP Treck, yang naik drastis dari 1,39% menjadi 22,97%.

Selain itu, ancaman terhadap CVE-2018-13379 yang menargetkan infrastruktur VPN Fortinet juga mencapai angka 20,12%. Data ini sejalan dengan tren global di mana banyak organisasi menjadi target serangan pada lapisan operasional.

Tren baru lainnya adalah kecepatan aktor ancaman dalam merespons celah keamanan yang baru dipublikasikan. Pada tahun 2025, semakin banyak CVE baru yang langsung dieksploitasi pada bulan yang sama saat dirilis, terutama yang berkaitan dengan perangkat IoT dan sistem komunikasi.

Hal ini menuntut perusahaan untuk lebih proaktif, bahkan mungkin perlu mempertimbangkan solusi AI untuk mendeteksi anomali lebih cepat.

Sebagai langkah mitigasi, AwanPintar.id merekomendasikan perusahaan untuk segera melakukan pembaruan firmware pada perangkat jaringan serta melakukan audit ketat terhadap akses VPN.

Organisasi juga disarankan memprioritaskan penambalan (patching) pada layanan yang terbuka ke publik guna mencegah pencurian kredensial yang sedang marak.

“Ketahanan siber nasional saat ini berada pada titik yang krusial di mana pertahanan pasif saja tidak lagi mencukupi. Industri dan perusahaan perlu mengadopsi budaya keamanan digital yang lebih proaktif dengan menerapkan manajemen kerentanan yang ketat,” pungkas Yudhi.

Upaya pertahanan ini juga bisa diperkuat dengan mempelajari bagaimana teknologi seperti tangkal serangan siber dapat diimplementasikan dalam strategi keamanan modern. (Icha)

Aturan Pemda Tumpang Tindih Hambat Investasi Infrastruktur Telekomunikasi

0

Telko.id – Pelaku usaha mendesak pemerintah untuk segera mengurai berbagai persoalan regulasi di tingkat daerah yang dinilai menghambat percepatan pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional.

Tumpang tindih aturan, biaya retribusi yang tinggi, hingga mekanisme perizinan yang berbeda-beda di setiap wilayah menjadi kendala utama yang membebani operator dalam berinvestasi.

Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), Fariz Azhar Harahap, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai disparitas biaya yang harus ditanggung operator.

Ia mencatat setidaknya terdapat 12 daerah di Indonesia yang mematok biaya sewa lahan untuk kabel serat optik dengan harga yang sangat tinggi, di mana sebagian besar wilayah tersebut berada di provinsi Jawa Timur.

Dalam diskusi Morning Tech yang digelar di Jakarta Selatan, Kamis (12/2), Fariz memberikan contoh konkret mengenai kebijakan di Surabaya. Di kota tersebut, nilai sewa lahan untuk infrastruktur telekomunikasi disamakan dengan nilai dasar komersial.

Padahal, karakteristik pemanfaatan lahannya sangat berbeda dengan properti komersial pada umumnya.

“Di Surabaya misalnya, nilai sewanya disamakan dengan nilai dasar komersil di sana. Contohnya untuk biaya sewa area pembangunan ATM, padahal infrastruktur fiber optic kita ada di bawah tanah, yang sebenarnya di atasnya masih bisa digunakan untuk kegiatan lain,” tegas Fariz saat membedah carut-marut aturan daerah yang menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan layanan telekomunikasi.

Ketidakpastian Biaya Barang Milik Daerah

Selain persoalan tingginya biaya sewa lahan, ketidakpastian dalam penetapan nilai sewa pemanfaatan Barang Milik Daerah (BMD) juga menjadi sorotan utama.

Basis perhitungan yang berbeda-beda di setiap kabupaten dan kota membuat pelaku usaha kesulitan dalam merencanakan nilai investasi jangka panjang. Variasi harga yang muncul antar daerah dinilai tidak masuk akal dan memberatkan.

Fariz mencontohkan perbedaan drastis antara dua wilayah. Untuk infrastruktur yang sama, biaya sewa pemanfaatan BMD di Mojokerto bisa menembus angka Rp13 miliar.

Sementara itu, di Lampung, biaya yang dikenakan berada di angka Rp11 miliar. Angka-angka ini menunjukkan tidak adanya standar baku yang diterapkan secara nasional, meskipun regulasi payung sebenarnya sudah tersedia.

Menurut Fariz, meskipun peraturan pusat sudah ada, implementasi di lapangan sering kali melenceng. Banyak pemerintah daerah yang masih menerapkan retribusi dan mekanisme perizinan penempatan kabel atau fiber optik yang tumpang tindih dan mahal.

Kondisi ini menciptakan iklim usaha yang tidak sehat dan menghambat ekspansi jaringan ke area-area yang membutuhkan konektivitas.

Penurunan Minat Investasi Operator

Dampak dari regulasi yang berbelit ini dikonfirmasi oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Pengembangan Infrastruktur dan Menara Telekomunikasi (Aspimtel), Tagor H. Sihombing. Ia menyatakan bahwa kerumitan aturan serta besarnya biaya sewa dan retribusi yang wajib dibayarkan berdampak langsung pada minat investasi pelaku usaha. Hal ini terlihat dari tren penurunan jumlah pemain di industri menara.

Tagor menyebutkan bahwa jumlah pelaku industri menara saat ini terus menurun jika dibandingkan dengan kondisi 25 tahun silam. Padahal, keberadaan infrastruktur telekomunikasi sangat krusial untuk mendukung ekosistem digital, terutama di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Jika hambatan ini terus berlanjut, pemerataan akses digital akan semakin sulit dicapai.

Ia mendorong adanya perubahan paradigma dari pemerintah daerah dalam memandang kehadiran infrastruktur digital. Pemda diharapkan tidak lagi melihat operator telekomunikasi semata-mata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi, melainkan sebagai mitra strategis yang membawa kemajuan teknologi bagi masyarakat setempat.

“Paradigma melihat ini hanya sebagai bisnis itu harus diubah. Daripada demi mendapatkan retribusi yang akhirnya membatasi pelaku usaha untuk masuk ke daerah itu, lebih baik kita membuka karpet merah sehingga investasi bisa masuk, masyarakatnya di sana juga bisa melek teknologi nantinya,” ujar Tagor.

Ancaman Terhadap Target Nasional 2029

Kritik keras juga datang dari Ketua Umum Perkumpulan Advokat Teknologi Informasi Indonesia (Peratin), Kamilov Sagala. Ia mengingatkan bahwa tulang punggung pembangunan infrastruktur digital di Indonesia sepenuhnya berada di tangan pelaku industri swasta.

Hal ini berbeda dengan pembangunan infrastruktur jalan raya yang masih melibatkan pemerintah secara langsung melalui APBN.

Kamilov memperingatkan, jika persoalan regulasi dan biaya tinggi ini tidak segera diurai, target-target ambisius pemerintah di sektor digital terancam gagal total.

Ia pesimistis target jangkauan jaringan fiber optik sebesar 90 persen per kecamatan pada tahun 2029 dapat tercapai. Demikian pula dengan target peningkatan kecepatan fixed broadband dari rata-rata 32,1 Mbps menuju 100 Mbps pada tahun yang sama.

Demi mencapai keadilan industri, Kamilov menyarankan pembentukan Undang-Undang baru yang spesifik mengatur ekosistem ini agar industri telekomunikasi dapat tumbuh sehat. Menurutnya, pelaku usaha seharusnya diberi penghargaan dan kemudahan, bukan justru ditakut-takuti dengan beban biaya yang tidak masuk akal.

“Sebaiknya segera bikin UU baru yang bisa membangun industri telekomunikasi tumbuh sehat. Beri mereka penghargaan karena pelaku usaha lah yang membangun infrastruktur digital selama ini. Bukan malah memberatkan, menakut-nakuti. Keadilan harus ditegakkan, kepastian hukum harus ditegakkan,” tegas Kamilov.

Pemerintah Cari Jalan Tengah

Merespons keluhan para pelaku usaha, Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mulyadi, mengakui perlunya kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Ia menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh pertumbuhan industri telekomunikasi nasional melalui regulasi yang suportif.

Mulyadi menjelaskan pembagian peran yang saat ini berjalan. Pembangunan infrastruktur digital dalam dua tahun terakhir telah banyak diserahkan kepada pihak swasta, sementara pemerintah lebih memfokuskan sumber daya untuk pembangunan di wilayah 3T. Oleh karena itu, hambatan yang dialami swasta di daerah non-3T harus segera diselesaikan bersama.

“Pembangunan infrastruktur sudah dua tahun ini diserahkan ke swasta, pemerintah tidak lagi membangun infrastruktur digital. Pemerintah fokus di wilayah 3T. Ini harus disadari bersama, karena pembangun infrastruktur digital ini tugas bersama,” ungkap Mulyadi.

Senada dengan Mulyadi, Ketua Tim Fasilitasi Pemanfaatan Bersama Infrastruktur Pasif Ditjen Infrastruktur Digital Komdigi, M. Hilman Fikrianto, menambahkan bahwa penggelaran jaringan harus mengacu pada tiga prinsip utama: transparan, akuntabel, dan efisien. Prinsip ini wajib diterapkan baik oleh pelaku usaha maupun pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan.

Hilman menekankan pentingnya mencari solusi yang menguntungkan semua pihak (win-win solution). Pemerintah pusat saat ini tengah berupaya memfasilitasi dialog untuk menemukan titik temu antara kebutuhan reformasi regulasi di daerah dengan keberlanjutan bisnis operator.

“Kita perlu cari jalan tengah, yang bisa diterima oleh semua pihak, baik oleh industri, operator telekomunikasi, pemda-pemda maupun pemerintah pusat. Ini kita mencari jalan tengahnya,” pungkas Hilman. (Icha)

Alibaba dan ByteDance Rilis Ai Gambar Tandingi Nano Banana

Telko.id – Alibaba dan ByteDance resmi meluncurkan model AI pembuat gambar terbaru sebagai upaya menyaingi dominasi Google Nano Banana di pasar teknologi visual global.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa kompetisi tidak lagi fokus pada model bahasa besar (LLM), melainkan beralih ke pengembangan kecerdasan visual berbasis AI yang semakin kompleks.

Mengutip laporan SCMP, Alibaba memperkenalkan Qwen-Image-2.0 melalui ekosistem Alibaba Cloud, sementara ByteDance merilis Seedream 5.0 dengan peningkatan pada kemampuan pemahaman konteks. Kedua model tersebut diklaim menghadirkan kualitas visual yang lebih tajam serta efisiensi dalam memproses pengguna yang detail.

Qwen-Image-2.0 dirancang mampu mengubah paragraf panjang menjadi slide presentasi profesional secara instan. Alibaba menyebut model ini menjawab persoalan klasik AI pembuat gambar, terutama kesalahan penulisan teks yang sering muncul pada hasil visual.

Baca juga:

Seusai diperkenalkan melalui media sosial resmi perusahaan, model ini disebut mampu menangani kompleks prompt dan menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi layanan digital Alibaba.

Di sisi lain, Seedream 5.0 milik ByteDance menonjolkan aspek penalaran atau logika dalam memahami konteks perintah pengguna. Model tersebut dinilai lebih adaptif terhadap instruksi bertingkat, termasuk kemampuan mentransfer gaya visual dari referensi tertentu ke gambar baru. Seusai diuji coba terbatas pada aplikasi CapCut, teknologi ini menunjukkan peningkatan detail visual melalui sistem pengayaan berbasis AI.

Meski begitu, Google Nano Banana Pro tetap tampil unggul dalam konsistensi detail dan stabilitas keluaran. Dalam sejumlah pengujian independen, model besutan DeepMind itu disebut lebih andal ketika menangani komposisi kompleks dengan banyak elemen visual.

Seusai dibandingkan dari sisi kecepatan pembuatan gambar, Google tetap menjadi pilihan utama dalam alur produksi profesional yang menuntut efisiensi tinggi.

Hingga kini, Alibaba dan ByteDance belum merilis laporan teknis komprehensif terkait benchmark resmi seperti FID maupun CLIP score. Perbandingan kinerja yang beredar masih mengandalkan uji komunitas dan peningkatan publik.

Publik kini menunggu data numerik resmi untuk memastikan siapa yang benar-benar memimpin revolusi AI pembuat gambar di pasar global.

One UI 8.5 Hadir dengan Direct Voicemail di Galaxy

Telko.id – Februari 2026 diprediksi menjadi periode yang dinantikan para penggemar Samsung. Selain kehadiran seri andalan Galaxy S26, perhatian juga tertuju pada sistem operasi terbaru yang akan menopangnya, yakni One UI 8.5.

Berdasarkan update beta terbaru, Samsung tampaknya sedang melakukan polesan terakhir sebelum peluncuran besar-besaran di akhir bulan ini. Update ini membawa fitur yang sudah lama dinanti-nanti pengguna Android yang dapat menyaingi pesaingnya (iOS).

Highlight utama di pembaruan kali ini adalah Direct Voicemail. Fitur ini mirip dengan fitur Live Voicemail di iPhone, One UI 8.5 menghadirkan kemampuan transkripsi pesan suara secara real-time.

Cara kerjanya adalah ketika ada telepon yang masuk, dan dibiarkan masuk ke kotak suara (voicemail), pengguna bisa melihat transkrip teks secara langsung (live) di layar saat penelepon sedang berbicara.

Pengguna dapat langsung memutuskan untuk mengangkat telepon di tengah-tengah rekaman kalau ternyata isinya penting atau darurat. Semua proses ini dilakukan on-device menggunakan AI, jadi privasi percakapan akan tetap aman di dalam HP.

Baca juga:

Di versi Beta 4 ini, Samsung juga melakukan sejumlah perbaikan teknis. Beberapa bug yang sebelumnya dikeluhkan pengguna seri Galaxy S25 kini telah diatasi, di antaranya pergeseran posisi jam di layar kunci serta masalah smartphone yang menyala otomatis meskipun perangkat terhubung ke headset Bluetooth.

Bagi pengguna setia Samsung, khususnya seri Galaxy S25, perangkat ini menjadi prioritas utama dalam distribusi pembaruan One UI 8.5. berdasarkan pantauan Mureks, performa Galaxy S25 Ultra masih tergolong sangat mumpuni untuk menjalankan berbagai fitur kecerdasan buatan dengan kebutuhan komputasi tinggi yang akan dihadirkan dalam One UI 8.5.

Samsung juga telah menyiapkan peta jalan pembaruan untuk sejumlah perangkat Galaxy lainnya. Informasi yang diterima Mureks menyebutkan, pembaruan One UI 8.5 akan digulirkan secara bertahap mulai akhir Februari hingga beberapa bulan kedepan pada tahun 2026.

Gelombang pertama yang dijadwalkan berlangsung akhir Februari hingga Maret 2026, pembaruan ini akan hadir secara bawaan pada Samsung Galaxy S26 Series, serta tersedia untuk Samsung Galaxy S25, S25+, S25 Ultra, dan perangkat layar lipat Samsung Galaxy Z Fold 7 serta Z Flip 7.

Gelombang kedua akan menyusul pada Maret hingga April 2026, menyasar Samsung Galaxy S24 Series serta Samsung Galaxy Fold 6 dan Z Flip 6. Sementara itu, pada gelombang ketiga, Samsung juga berencana menghadirkan One UI 8.5 untuk lini menengah seperti Galaxy A56, A55, serta sejumlah seri mid-range terpilih lainnya.

Gak Pake Snapdragon Terkuat? Bocoran Chipset Xiaomi 18 Bikin Fans Kaget!

0

Telko.id – Selama satu dekade terakhir, nama Xiaomi selalu identik dengan satu formula sederhana namun mematikan: spesifikasi “rata kanan” dengan harga yang masuk akal.

Bagi para penggemar teknologi atau Mi Fans, peluncuran seri angka (number series) dari Xiaomi adalah momen yang dinanti karena biasanya menjanjikan chipset Qualcomm Snapdragon seri 8 terbaru dan terkuat di pasaran.

Tradisi ini telah membangun reputasi Xiaomi sebagai raja performa di segmen flagship yang terjangkau. Namun, apa jadinya jika tradisi suci tersebut dipatahkan pada generasi mendatang?

Kabar mengejutkan baru saja beredar di jagat teknologi yang mungkin akan membuat Anda mengernyitkan dahi. Berdasarkan informasi terbaru yang beredar, Xiaomi 18 dikabarkan tidak akan menggunakan chipset generasi terbaru paling atas dari Qualcomm.

Ini adalah sebuah anomali yang jarang terjadi dalam sejarah peluncuran produk flagship utama Xiaomi. Biasanya, setiap kali Qualcomm merilis prosesor top-tier terbarunya, Xiaomi adalah salah satu pabrikan pertama yang mengadopsinya untuk lini utama mereka.

Pergeseran strategi ini tentu memicu tanda tanya besar di benak para pengamat industri dan konsumen setia. Apakah ini pertanda bahwa Xiaomi mulai mengubah haluan dari sekadar mengejar skor benchmark tertinggi menuju efisiensi biaya, atau ada strategi segmentasi pasar yang lebih dalam?

Transisi ini mengingatkan kita pada bagaimana lini produk lain berevolusi, di mana performa mentah bukan lagi satu-satunya jualan utama. Sebelum kita menghakimi keputusan ini, mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik rumor panas ini.

Pergeseran Strategi Dapur Pacu

Informasi yang menyebutkan bahwa Xiaomi 18 tidak akan mengusung “otak” terkuat dari Qualcomm mengindikasikan adanya perubahan peta persaingan hardware.

Dalam beberapa tahun terakhir, biaya komponen, terutama semikonduktor canggih, terus merangkak naik secara signifikan.

Menggunakan chipset Snapdragon varian tertinggi (misalnya seri “Ultra” atau “Pro” dari generasi tersebut) tentu akan melambungkan harga jual perangkat ke titik yang mungkin kurang kompetitif bagi target pasar Xiaomi.

Langkah ini bisa jadi merupakan upaya Xiaomi untuk menjaga harga varian reguler Xiaomi 18 agar tetap bersahabat. Mungkin Anda ingat bagaimana Xiaomi dulu sangat agresif di segmen performa tinggi, bahkan merilis lini khusus seperti Ponsel Gaming legendaris mereka yang selalu memprioritaskan kecepatan di atas segalanya.

Namun, untuk seri angka reguler, keseimbangan antara harga, performa, dan efisiensi daya kini tampaknya menjadi prioritas yang lebih logis.

Jika rumor ini benar, kemungkinan besar Xiaomi 18 versi standar akan menggunakan chipset yang satu tingkat di bawah varian tertinggi—mungkin versi “s” atau bahkan chipset flagship generasi sebelumnya yang masih sangat mumpuni.

Ini bukan berarti ponsel tersebut akan lambat. Di era sekarang, kesenjangan performa antara chipset nomor satu dan nomor dua seringkali tidak terasa dalam penggunaan sehari-hari, kecuali Anda adalah pengguna ekstrem yang gemar melakukan rendering video berat di ponsel.

Dampak pada Pengalaman Pengguna

Apakah keputusan untuk tidak menggunakan silikon termahal Qualcomm akan merusak pengalaman Anda? Kemungkinan besar tidak. Industri smartphone saat ini telah mencapai titik jenuh performa.

Fokus inovasi telah bergeser dari sekadar kecepatan prosesor menuju integrasi ekosistem dan kecerdasan buatan (AI). Xiaomi sendiri belakangan ini sangat gencar membangun ekosistem yang saling terhubung.

Alih-alih hanya menjual kecepatan, Xiaomi kini menawarkan solusi gaya hidup. Lihat saja bagaimana mereka agresif merilis berbagai Perangkat Pintar untuk melengkapi rumah modern Anda.

Dengan chipset yang sedikit lebih efisien (meski bukan yang terkuat), Xiaomi 18 mungkin justru akan menawarkan daya tahan baterai yang lebih baik dan manajemen panas yang lebih stabil—dua hal yang sering dikeluhkan pada ponsel dengan prosesor super kencang.

Selain itu, Xiaomi selalu memiliki cara unik untuk menjaga loyalitas penggunanya, tidak hanya melalui hardware tetapi juga melalui program komunitas yang menarik.

Misalnya, baru-baru ini mereka menggelar Kompetisi Umrah yang menunjukkan bahwa pendekatan mereka kepada konsumen sangatlah personal dan tidak melulu soal spesifikasi teknis di atas kertas.

Melihat Masa Depan Inovasi Xiaomi

Keputusan untuk (mungkin) “menurunkan” spesifikasi dapur pacu pada model dasar Xiaomi 18 juga bisa dibaca sebagai strategi diferensiasi yang lebih tegas antara model “Vanilla” (biasa), Pro, dan Ultra.

Ada kemungkinan chipset monster dari Qualcomm akan disimpan secara eksklusif untuk varian Xiaomi 18 Ultra, sementara model dasar difokuskan sebagai daily driver yang solid.

Visi jangka panjang Xiaomi memang tidak pernah main-main. Mereka pernah memamerkan konsep gila melalui Smartphone Masa Depan seri MIX Alpha yang membuktikan bahwa mereka mampu berinovasi di luar batas.

Jadi, jika Xiaomi 18 nanti tidak membawa Snapdragon teratas, percayalah bahwa Xiaomi pasti menyematkan nilai jual lain yang tak kalah menarik, entah itu dari sektor kamera, desain, atau kemampuan pengisian daya super cepat.

Penting juga untuk diingat bahwa ekosistem Xiaomi kini mencakup keamanan dan kenyamanan rumah. Integrasi ponsel dengan perangkat seperti Kamera Pintar mereka membutuhkan konektivitas yang stabil dan AI yang cerdas, bukan sekadar raw power.

Oleh karena itu, pemilihan chipset yang lebih seimbang mungkin justru mendukung visi besar “Human x Car x Home” yang sedang mereka bangun.

Pada akhirnya, rumor mengenai absennya chipset teratas Qualcomm di Xiaomi 18 ini mengajarkan kita untuk tidak lagi terpaku pada satu metrik spesifikasi saja. Dunia teknologi terus bergerak dinamis.

Sebuah ponsel pintar di masa depan tidak lagi dinilai dari seberapa tinggi skor AnTuTu-nya, melainkan seberapa baik ia mengerti kebutuhan Anda, seberapa awet baterainya menemani hari sibuk Anda, dan seberapa mulus ia terhubung dengan perangkat lain di sekitar Anda.

Mari kita tunggu konfirmasi resminya, namun satu hal yang pasti: Xiaomi selalu punya kejutan. (Icha)

Bukan Cuma Tren Sesaat! Ini Alasan 2026 Bakal Jadi Era Emas Smartphone Lipat

0

Teko.id – Pernahkah Anda merasa bosan dengan desain ponsel yang begitu-begitu saja dalam satu dekade terakhir? Bentuk kotak pipih yang dominan seolah mencapai titik jenuh, membuat inovasi terasa stagnan.

Namun, kehadiran teknologi layar lipat beberapa tahun belakangan memberikan angin segar, seolah menjanjikan masa depan fiksi ilmiah yang kini berada dalam genggaman.

Pertanyaannya, apakah ini hanya gimmick mahal atau evolusi alami dari perangkat komunikasi kita?

Data terbaru dari Counterpoint Research memberikan gambaran yang cukup mengejutkan sekaligus realistis mengenai industri ini. Sepanjang tahun 2024, pengiriman smartphone lipat global tercatat tumbuh sebesar 23% secara year-on-year (YoY).

Angka ini menunjukkan bahwa minat konsumen sebenarnya ada dan terus tumbuh, didorong oleh pemain besar yang konsisten membanjiri pasar dengan inovasi terbaru mereka.

Namun, para analis melihat adanya sedikit “rem mendadak” menjelang tahun 2025, di mana pertumbuhan diprediksi akan melambat karena berbagai faktor persaingan harga dan strategi pabrikan.

Meski tahun depan mungkin terlihat sedikit lesu, jangan buru-buru memandang sebelah mata. Laporan tersebut justru menyoroti tahun 2026 sebagai titik balik krusial.

Ibarat ketenangan sebelum badai, pasar sedang bersiap untuk lonjakan besar yang akan mengubah peta persaingan teknologi seluler secara drastis.

Transisi ini bukan sekadar soal angka penjualan, melainkan tentang kedewasaan teknologi dan masuknya pemain raksasa yang selama ini masih “malu-malu” untuk terjun ke kolam inovasi layar fleksibel ini.

Transisi Menuju Kedewasaan Pasar

Tahun 2024 menjadi saksi dominasi dua raksasa teknologi, Samsung dan Huawei, yang terus mendorong batas kemampuan perangkat lipat.

Peluncuran produk seperti Samsung Galaxy Z Fold Special Edition dan Huawei Mate X6 menjadi bukti nyata bahwa permintaan pasar masih sangat kuat.

Inovasi yang mereka tawarkan membuat Samsung Smartphone Lipat tetap menjadi tolak ukur utama bagi konsumen yang menginginkan produktivitas tinggi dalam saku mereka.

Namun, Counterpoint mencatat adanya fenomena menarik untuk tahun 2025. Beberapa merek asal Tiongkok, seperti Oppo dan vivo, dilaporkan mulai menahan diri.

Mereka diprediksi akan menunda peluncuran perangkat lipat tipe book-type (lipatan seperti buku) terbaru mereka.

Alasannya cukup pragmatis: tekanan profitabilitas. Persaingan harga yang ketat membuat margin keuntungan menipis, memaksa pabrikan untuk berpikir ulang sebelum membanjiri pasar global dengan model baru, terutama ketika daya beli konsumen di beberapa wilayah belum pulih sepenuhnya.

Kondisi ini menciptakan masa transisi yang unik. Di satu sisi, teknologi semakin matang dengan engsel yang lebih kuat dan layar yang makin minim lipatan.

Di sisi lain, para pemain industri mulai lebih selektif. Ini bukan berarti pasar sedang sekarat, melainkan sedang mencari bentuk keseimbangan baru sebelum melompat ke fase pertumbuhan berikutnya yang lebih agresif.

Faktor “X” di Tahun 2026

Jika 2025 adalah tahun konsolidasi, maka 2026 diprediksi akan menjadi tahun ledakan. Analis senior dari Counterpoint, Jene Park, mengungkapkan bahwa pemicu utamanya adalah potensi masuknya Apple ke dalam gelanggang smartphone lipat.

Selama ini, Apple dikenal sebagai perusahaan yang tidak selalu menjadi yang pertama, tetapi selalu menjadi penyempurna teknologi. Kehadiran iPhone lipat dipercaya akan memberikan validasi mutlak terhadap kategori produk ini di mata konsumen awam.

Masuknya raksasa Cupertino tersebut diprediksi akan memicu efek domino. Pengguna setia ekosistem iOS yang selama ini ragu beralih ke Android demi layar lipat, akhirnya akan memiliki opsi dalam ekosistem mereka sendiri.

Mengingat Smartphone Aktif di dunia didominasi oleh perangkat Apple, konversi sebagian kecil pengguna iPhone ke model lipat saja sudah cukup untuk mengguncang statistik pengiriman global secara masif.

Selain itu, persaingan di tahun 2026 tidak hanya akan berkutat pada form factor, tetapi juga integrasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih mendalam.

Dengan Apple yang berpotensi menjadi Raja Smartphone Global di segmen premium, standar kualitas dan durabilitas perangkat lipat dipastikan akan meningkat pesat, memaksa kompetitor untuk terus berinovasi atau tertinggal.

Proyeksi Jangka Panjang yang Menggila

Optimisme ini didukung oleh data jangka panjang yang solid. Counterpoint memproyeksikan bahwa pengiriman smartphone lipat global akan melampaui angka 130 juta unit pada tahun 2030.

Ini merepresentasikan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 17% antara tahun 2025 hingga 2030. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan smartphone konvensional yang cenderung stagnan.

Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh Apple atau Samsung saja. Merek lain seperti Honor juga terus menunjukkan taringnya dengan desain yang semakin tipis dan elegan, seperti yang terlihat pada seri Honor Magic 8.

Kompetisi yang sehat ini menjamin bahwa harga perangkat lipat perlahan akan menjadi lebih terjangkau, sehingga tidak lagi menjadi barang mewah yang eksklusif bagi kalangan tertentu saja.

Pada akhirnya, masa depan industri seluler tampaknya memang akan “melipat”. Dengan teknologi yang semakin matang dan ekosistem aplikasi yang semakin mendukung tampilan layar besar yang fleksibel, perangkat ini menawarkan solusi hibrida antara ponsel dan tablet yang sulit ditolak.

Bagi Anda yang masih ragu, mungkin tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk mulai melirik dan bersiap mengganti perangkat lama Anda dengan teknologi yang lebih dinamis. (Icha)