spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1705

Pemerintah Korea Uji Coba 5G

0

 

Telko.id – Teknologi 5G saat ini masih dalam diskusi yang sangat dini. Apalagi, ITU (International Telecommunication Union) juga masih belum menentukan standarisasinya untuk 5G ini. Hanya saja, ketika mulai tahun 2020 setelah ITU menentukan standarisasinya maka akan terlambat. Itu sebabnya, banyak pihak yang sudah melakukan pendalaman bahkan pemerintah Korea pada tahun 2016 ini sudah mulai akan menggelar jaringan 5G, walaupun baru untuk keperluan uji coba, seperti yang dilansir oleh Business Korea.

Departemen Science, ICT dan Perencanaan Masa Depan Korea membangun jaringan telekomunikasi 5G pertama di dunia yang bertujuan untuk uji coba di Provinsi Gangwon dan Seoul pada semester kedua tahun ini. Investasi yang ditanamkan sebesar 34 miliar won. Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah dalam band frekuensi tinggi, minimal 6 GHz dapat benar-benar memberikan kecepatan, setidaknya 1 Gbps melalui jaringan telekomunikasi yang sedang digunakan.

Untuk tujuan ini, pada tahap awal, frekuensi dan standar teknis akan disusun. Demikian juga untuk Chips terminal dan BTS akan dikembangkan. Proyek percontohan ini akan selesai pada tahun 2018 melalui investasi 15 miliar won dan masing-masing sekitar 8 miliar won pada tahun 2017 dan 2018.

Pemerintah berencana untuk memasok dua atau tiga dari enam band yakni dari 27 GHz sampai 29,5 GHz, 31,8 GHz sampai 33,4 GHz, 37 GHz sampai 42,5 GHz, 45,5 GHz sampai 50,2 GHz, dari 50,4 GHz sampai 52,6 GHz dan 66 GHz sampai 74 GHz sebagai frekuensi yang disiapkan untuk uji coba. Pada frekuensi Mhz akan digunakan untuk operator selular pada jangka waktu tertentu di semester kedua tahun ini.

Negara dan perusahaan di seluruh dunia memperhatikan langkah dari rencana pemerintah Korea ini. International Telecommunication Union (ITU) memutuskan untuk menyelesaikan point penting 5G di 2020. Jadi saat ini masih dalam tahap awal diskusi untuk 5G ini.

Di sisi lain, beberapa Negara juga masih menemui jalan buntuk untuk mencapai kesepakatan mengenai frekuensi. Amerika Serikat, Korea dan Jepang bersikeras pada standarisasi frekuensi, minimal di 6 GHz digunakan untuk kepentingan layanan mobile broadband. Sedangkan beberapa Negara di Eropa dan Cina mengklaim bahwa standarisasi 6 GHz atau kurang dari itu lebih baik digunakan untuk menjangkau wilayah yang lebih panjang.

Dalam sejarah telekomunikasi, frekuensi 6 GHz belum pernah dimanfaatkan sama sekali. Jadi, menurut pemerintah Korea, Layanan 5G yang dilakukan ini, setidaknya mampu mencapai kecepatan 1Gbps dapat berhasil dan memberikan efek ekonomi yang besar. (Icha)

Terkait Data Pribadi, Cuma 18% Orang Eropa Percaya Operator

0

Telko.id – Fenomena big data tampaknya belum sepenuhnya dianggap sebagai solusi yang baik oleh kebanyakan orang. Tak terkecuali mereka yang berada di negara-negara maju. Di Eropa misalnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh TNS Infratest atas nama Vodafone Institute belum lama ini mengungkap betapa big data masih menjadi tanda tanya tersendiri bagi pengguna.

Menurut studi tersebut, kurang dari sepertiga (32 persen) orang Eropa percaya bahwa big data memiliki keuntungan. Kedua, hanya sekitar 26 persen dari pengguna digital di Eropa percaya bahwa perusahaan menghormati privasi data pribadi mereka, sementara 29 persen diantaranya merasa memiliki kontrol atas informasi yang dikumpulkan tentang mereka.

Terkait jenis perusahaan yang dipercaya orang Eropa menangani data pribadi mereka dengan benar, operator telekomunikasi dipercaya oleh hanya 18 persen responden, sedikit lebih baik di atas perusahaan media sosial, yang mengantongi angka 11 persen, serta penyedia messaging dan perusahaan mesin pencari yang masing-masing dipercaya oleh 14 persen dan 16 persen orang Eropa.

Semantara bank dan lembaga kesehatan yang terpercaya menempati posisi teratas dalam hal menjaga kepercayaan konsumen dengan masing-masing menorehkan angka 36 persen dan 33 persen. Demikian dilaporkan Telecompaper, Kamis (21/1).

Temuan lain yang ikut terungkap dalam laporan mengenai pandangan publik tentang big data dan privasi ini termasuk fakta bahwa 55 responden mengatakan bahwa mereka akan lebih memilih untuk membayar layanan daripada memberikan data pribadi mereka sebagai ganti untuk layanan internet gratis, sementara 53 persen mengatakan bahwa mereka takkan keberatan jika datanya dianalisis untuk membantu mereka ataupun orang lain meningkatkan kesehatannya.

Studi yang dilakukan atas 8000 responden di delapan negara Eropa ini menyimpulkan bahwa pengguna begitu skeptis terhadap fenomena Big Data karena organisasi publik dan swasta gagal untuk menjelaskan secara jelas bagaimana dan mengapa data mereka dianalisis, dan tidak memberi mereka kontrol yang memadai atas bagaimana data mereka sedang digunakan. Terkait hal itu, hanya 20 persen responden mengatakan bahwa mereka tahu di mana dan bagaimana data pribadi mereka dikumpulkan dan disimpan.

 

Kelompok Koalisi AS Minta FCC Agar Lindungi Data Pengguna

0

Telko.id – Sebuah kelompok koalisi di AS baru-baru ini mendesak Komisi Komunikasi Federal (FCC) untuk melakukan sweeping terkait perlindungan privasi kepada pengguna broadband nasional.

Dilansir dari Reuters (21/1), koalisi ini ingin penyedia layanan internet broadband termasuk perusahaan mobile dan telepon rumah, TV kabel dan satelit untuk tunduk pada peraturan privasi ini.

Di antara perusahaan-perusahaan yang akan terpengaruh adalah AT&T Inc, Comcast Corp, Verizon Communications Inc dan Cablevision Systems Corp.

“Peran internet dalam kehidupan sehari-hari konsumen meningkat. Ini berarti diperlukan peningkatan untuk pengawasan,” ungkap sebuah surat yang ditujukan kepada Ketua FCC Tom Wheeler dan ditandatangani oleh para koalisi tersebut.

Sebagai informasi, kelompok koalisi ini diantaranya American Civil Liberties Union, yakni Pusat Digital Demokrasi, Consumer Watchdog Electronic Frontier Foundation, Public Citizen dan 54 kelompok lain.

Koalisi ini mengatakan dalam surat tersebut bahwa penyedia broadband sudah ‘panen’ dalam jumlah besar dalam hal data analitik konsumen untuk digunakan dalam iklan. “Hal ini dapat membuat efek yang mengerikan dan meningkatkan potensi praktik diskriminatif yang berasal dari penggunaan data,” kata surat itu.

Sementara itu, Wheeler mengatakan penyedia layanan broadband harus memastikan bahwa data yang mereka kumpulkan tentang konsumen aman dan tentunya harus ada persetujuan dari konsumen tersebut untuk berpartisipasi dalam riset analitik yang diadakan oleh penyedia broadband.

Pada bulan November lalu, Wheeler mengatakan bahwa FCC akan mengatasi praktik privasi ini dalam beberapa bulan ke depan, dari perusahaan yang menyediakan layanan jaringan dan konsumen harus tahu apa yang sedang dikumpulkan tentang penggunaan internet mereka.

Pada bulan yang sama, FCC menolak petisi dari kelompok Consumer Watchdog untuk menuntut perusahaan internet yang disebut ‘edge provider’ seperti Google, Facebook, YouTube, Pandora, Netflix, dan LinkedIn untuk menghormati permintaan dari konsumen yang tidak ingin terlacak oleh mereka.

Sejatinya, FCC telah berulang kali mengatakan tidak memiliki niat untuk mengatur perusahaan-perusahaan ini bahkan juru bicara FCC menolak mengomentari pengumuman apapun. Seorang juru bicara USTelecom, menolak berkomentar terkait FCC yang belum mengusulkan peraturan privasi.

Langkah ‘kurang berani’ dari FCC selama inilah yang akhirnya membuat kelompok konsumen tersebut berkoalisi untuk terus menekan FCC agar mau bertindak tegas mengenai data pengguna ini. Data pengguna yang seharusnya menjadi privasi pengguna dalam berinternet, justru menjadi sebuah ladang bisnis baru untuk memberikan analisa baru kepada pihak lain agar dapat memberikan iklan yang tertarget.

Rudiantara: Tenaga Pemantau Akun Radikal Akan Ditambah

0

 

Telko.id – Situs-situs teroris itu ‘mati satu tumbuh seribu’. Jadi pemantauannya tidak akan pernah berhenti. Itu sebabnya, pemerintah melalui Kominfo juga membuka layanan pengaduan situs berbau radikalisme melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id.

“Kominfo juga membuak akses bagi penegak keamanan Negara juga untuk dapat menutup akun-akun yang dirasakan memang harus ditutup,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Infromasi Republik Indonesia menjelaskan. Hal ini diambil agar tidak perlu waktu lama untuk melakukan pemblokiran. Hanya saja, tentu ada aturannya dan siapa-siapa saja yang diberikan wewenang tersebut. Itu sebabnya, Kominfo secara terus menerus melakukan pemantauan dan pemblokiran.

Terkadang, akun radikal masih saja muncul, walaupun sebenarnya sudah diblokir. Menurut Rudiantara, hal tersebut dapat terjadi karena, nama akunnya saja yang sama, tetapi si pembuat bukan orang yang sama. Itu sebabnya, akun atau situs radikal itu tidak pernah habis. Muncul lagi, muncul lagi. Bahkan untuk menanggapi masalah ini, Kominfo akan menambah tenaga untuk melakukan pemantauan.

Rudiantara juga menyebutkan bahwa, bisa saja, akun atau situs yang sudah dilaporkan belum ditutup karena diperlukan untuk menggali lagi informasi lebih dalam, sehingga akar nya dapat dibasmi.

Setelah melakukan pengawasan dan menerima laporan dari masyarakat terkait pemilik akun media sosial dan situs yang mendukung aksi pemboman di Jalan MH Thamrin, 14 Januari 2016 kemarin, Kementerian Kominfo memblokir beberapa akun. Akun facebook atas nama Muhammad Subkhan Khalid, Batalion Inghimasi dan Mujahidah Sungai Eufrat sudah diblokir. Ada 11 akun-akun media sosial yang secara jelas mendukung aksi-aksi teror tersebut.

Kominfo sendiri, sampai Desember 2015 sudah menutup 1580 situs. Khusus terkait dengan akun dan video bahrunnaim, sejak Bulan November 2015, Kementerian Kominfo telah menghapusnya sesuai dgn nama : Muhammad Bahrunnaim Anggih Tantomo.
Selain itu, Kominfo juga memblokir akun twitter @kdmedia16 (radikal) dan @globalkdi (radikal). Adapun video-video radikal yg telah diblokir sampai dengan tahun 2015 sebanyak 78 video radikalisme ISIS. (Icha)

Device Wi-Fi Akan Lampaui 15 Miliar di Akhir 2016

0

Telko.id – Wi Fi Alliance mengumumkan Bahwa pengiriman Wi Fi telah Mencapai 12 miliar unit saat ini dan diperkirakan pada akhir 2016 akan mencapai

Berdasarkan jumah perangkat yang sudah terinstal WiFi saat ini sudah lebih dari 6,8 miliar. Hal ini menunjukan bahwa Wi-Fi telah menjadi salah satu teknologi yang paling produktif di seluruh dunia. Untuk mendukung adopsi Wi-Fi ini, Aliansi Wi-Fi memasukan program untuk meningkatkan kinerja dan kapasitas jaringan WiFi dalam roadmap teknologinya di 2016.

Dan akan menyediakan kemampuan unik untuk memenuhi tuntutan konektifitas yang berbeda di berbagai aplikasi dan yang ada di apsar.

“Pertumbuhan industri Wi-Fi Telah disejajarkan dengan pertumbuhan program sertifikasi Wi-Fi Alliance,” kata direktur riset Phil Solis, ABI Research. “Dengan adanya pengiriman device WiFi yang saat ini mencapai 12 miliar dan 3 miliar lagi hingga akhir 2016, akan didominasi oleh perangkat WiFi yang dapat beroperasi di frekuensi 2.4 GHz dan 5 GHz dan akan terus meningkat dari waktu ke waktunya. Fenomena ini tidak menunjukan perlambatan sama sekali”.

“Landasan untuk sukses Wi-Fi adalah seperangkat teknologi inti yang terus berkembang untuk memenuhi tuntutan pasar konektivitas,” kata Edgar Figueroa, presiden dan CEO dari Wi-Fi Alliance. “Teknologi Wi-Fi terus mendapatkan yang lebih baik, dan peningkatan pada kapasitas jaringan, kinerja yang lebih tinggi, dan kemampuan ditingkatkan akan memungkinkan Wi-Fi untuk terus memenuhi kebutuhan yang ada dan negara berkembang, dan terus memberikan yang terbaik mungkin pengalaman pengguna.” (Icha)

Pemerintah Uji Publik Rancangan Permen untuk Maksimalkan Emergency Call 112

0

Telko.id – di luar negeri, jika ada kondisi darurat dengan cepat akan menghubungi 911 secara refleks. Angka yang mudah diingat dan tentu nya akan sangat membantu ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat. Namun, ada Negara-negara lain juga yang menggunakan panggilan 112. Di Indonesia, juga menggunakan emergency call 112.

Untuk memaksimalkan layanan darurat 112, Kementerian Kominfo saat ini sedang melakukan uji publik Rancangan Peraturan Menteri Kominfo mengenai Penyelenggaraan Layanan Panggilan Tunggal Darurat. Rancangan Peraturan Menteri ini sesuai dengan ketentuan Pasal 20 UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang isinya adalah penyelenggara telekomunikasi wajib memberikan prioritas untuk pengiriman, penyaluran, dan penyampaian informasi penting yang terkait keamanan negara, keselamatan jiwa manusia dan harta benda, bencana alam, marabahaya, dan/atau wabah penyakit, sehingga diperlukan pengaturan penyelenggaraan layanan panggilan tunggal darurat untuk penanganan keadaan darurat.

Uji publik ini akan dilakukan dari 20 januari hingga 3 Februari.

Apa saja yang masuk dalam Rancangan Peraturan Menteri ini?

Penanggulangan nomor panggilan darurat 112 untuk layanan panggilan tunggal darurat yang dilaksanakan untuk penanganan keadaan darurat yang meliputi, kebakaran, kerusuhan, kecelakaan, bencana alam, penanganan masalah kesehatan, gangguan keamanan dan ketertiban umum dan/atau keadaan darurat lainnya yang disepakati oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Layanan panggilan tunggal darurat ini akan diselenggarakan secara tingkat daerah dan nasional. Pada tingkat nasional, Kementerian Kominfo menyediakan sistem panggilan darurat di tingkat nasional dengan fungsi sebagai pusat data nasional, sementara di tingkat daerah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Dalam penyelenggaraan layanan panggilan tunggal darurat, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bertugas untuk menyediakan sarana dan/atau prasarana pendukung untuk Pusat Panggilan Darurat. Kemudian melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam tindak lanjut penanganan layanan panggilan tunggal darurat dan melakukan pengawasan pelaksanaan layanan panggilan darurat di daerahnya.

Kementerian Kominfo sendiri akan menyediakan infrastruktur sistem Pusat Panggilan Darurat yang berupa Sistem call center layanan panggilan tunggal darurat dan

Sarana telekomunikasi layanan panggilan tunggal darurat.

Penyelenggara jaringan telekomunikasi (penyelenggara jaringan bergerak seluler, penyelenggara jaringan bergerak satelit, dan penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis circuit-switched) wajib menyambungkan panggilan keadaan darurat yang diterima dari masyarakat ke Pusat Panggilan Darurat, menyediakan jaringan dan infrastruktur yang terhubung dengan Pusat Panggilan Darurat dan menginformasikan lokasi dan nomor telepon pemanggil ke Pusat Panggilan Darurat.

Kementerian Kominfo melakukan evaluasi terhadap kinerja Pusat Panggilan Darurat di daerah dan atau penyelenggara jaringan telekomunikasi untuk meningkatkan layanan Pusat Panggilan Gawat Darurat kepada masyarakat.

Akan ada pengenaan sanksi administratif terhadap penyelenggara jaringan telekomunikasi yang melanggar ketentuan dalam Rancangan Peraturan Menteri ini. (Icha)

 

Manfaatkan Popularitas Internet, eSynchrony Sambangi Indonesia

0

Telko.id – Tingginya penetrasi internet di Indonesia, tak bisa dipungkiri lagi menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah pemain yang berkaitan dengan industri ini. Salah satunya adalah mereka yang bergerak di ranah online dating. Memahami potensi ini, biro jodoh terbesar Asia Tenggara yang berasal dari Singapura Lunch Actually Group pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meluncurkan layanan terbarunya, yakni eSynchrony.

eSynchrony sendiri merupakan platform yang membantu para membernya untuk memilah dan menyetujui siapa saja yang berhak mengakses data pribadinya sebelum mereka bertemu secara langsung. Konsultan dari eSynchrony nantinya akan membantu untuk mengatur waktu pertemuan perdana atau kencan mereka.

Salah satu keunggulan kompetitif yang ditawarkan eSynchrony kepada calon kliennya adalah dari sisi data anggota yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan akun palsu, serta memberikan potensi kecocokan hingga mencapai 70 persen.

“Layanan kami hanya untuk mereka yang benar-benar serius mencari pasangan hidup. Kami meminimalisir sekecil mungkin potensi fake profile. Apalagi nantinya, mereka yang sudah cocok melalui dunia maya akan kami pertemukan dalam kencan nyata. Bisa dibayangkan kalau pertemuan pertama ini tidak didahului dengan proses yang terverifikasi sejak awal,” ungkap Violet Liem, Co-Founder dan CEO Lunch Actually Group, Selasa (19/1).

Dengan 11 tahun pengalaman dalam jasa perjodohan offline melalui Lunch Actually (yang resmi beroperasi di Indonesia sejak akhir tahun 2014), eSynchrony membuat proses pencarian pasangan jauh lebih mudah.

Adanya proses verifikasi data di setiap profil member yang bergabung bersama eSynchrony memberikan jaminan kepada para member bahwa mereka memilki keaslian data profil serta serius ingin mencari pasangan.

Setelah Singapura, Kuala Lumpur, Penang, Hong Kong, dan Bangkok, Jakarta menjadi kota kelima yang menyediakan layanan ini. Bahkan di Singapura sendiri eSynchrony sudah mendapat akreditasi dari SDN dari pemerintah Singapura

“Pengalaman Lunch Actually di berbagai negara selama ini membuat kami menerima banyak masukan untuk menambah layanan baru, agar calon klien kami benar-benar bisa lebih mudah mencari pasangan hidupnya. Kami memadukan antara proses pencarian offline dengan intelligent profiling dalam dunia maya,” tambah Violet Liem.

Nah, lalu bagaimana caranya untuk mendaftar di eSynchrony? Tidak mudah, calon anggota harus melewati 16 tes kompatibiltas. Ini merupakan tes kepribadian yang didesain  untuk mengungkap profil calon member berdasarkan 16 kunci kompatibiltas. Setelah itu, eSynchrony akan menghubungi membernya dan melakukan verifikasi data sekaligus juga bisa untuk berkonsultasi dengan dating consultant. Ketika akun sudah terverifiasi, mereka dapat melihat siapa saja member lain yang memiliki kecocokan dengan mereka berdasarkan kuis yang sudah mereka isi.

Hingga saat ini, ada setidaknya 200 orang telah menjadi member eSynchrony  di Indonesia. Ini merupakan sebuah pencapaian yang baik, mengingat layanan ini sendiri baru diperkenalkan tahun 2015 lalu.

Microsoft Donasikan USD 1 Miliar untuk Layanan Komputasi Awan

0

Telko.id – Sebuah inisiatif baru kembali dibesut oleh Microsoft. Melalui sang CEO, Satya Nadella, raksasa teknologi ini memastikan bahwa komputasi awan Microsoft dapat mendukung kesejahteraan publik. Sebagai bagian dari inisiatif ini, Microsoft Philanthropies yang baru saja terbentuk akan menyumbangkan USD 1 miliar di bidang layanan komputasi awan Microsoft untuk mendukung organisasi nirlaba serta peneliti dari berbagai universitas selama tiga tahun ke depan.

Tiga fokus yang menjadi bagian dalam komitmen ini, yakni memastikan bahwa komputasi awan dapat mendukung kesejahteraan publik luas melalui penyediaan sumber daya komputasi awan tambahan bagi organisasi nirlaba, meningkatkan akses bagi para peneliti dari berbagai universitas, dan membantu memecahkan tantangan terhadap akses internet.

“Microsoft memberdayakan organisasi-organisasi berbasis misi di seluruh dunia melalui donasi terhadap layanan komputasi awan – teknologi paling transformatif dalam generasi kita,” tutur CEO Microsoft, Satya Nadella melalui keterangan resminya, Rabu (20/1).

Ia menambahkan, lebih dari 70.000 organisasi kini akan memiliki akses ke teknologi yang dapat membantu mengatasi tantangan-tantangan sosial terbesar dan pada akhirnya meningkatkan kondisi masyarakat serta mendorong pertumbuhannya.

Komputasi awan telah muncul sebagai sebuah sumber daya penting untuk menggali data secara lebih mendalam dengan cara-cara yang mampu menciptakan wawasan baru sehingga menghasilkan terobosan bukan hanya untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga untuk berbagai tantangan ekonomi dan sosial, serta untuk memberikan layanan yang lebih baik. Hal ini selanjutnya dapat meningkatkan komunikasi dan kemampuan pemecahan masalah, serta membantu organisasi untuk bekerja secara lebih produktif dan efisien.

Pada bulan September 2015 lalu, 193 kepala negara dan para pemimpin dunia lainnya mengadopsi 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang perlu dicapai pada tahun 2030. Agenda ini mencakup beberapa hal seperti mengakhiri kemiskinan, mengakhiri kelaparan, dan memastikan ketersediaan energi yang terjangkau serta dapat diandalkan oleh semua orang – hal-hal yang hanya dapat dicapai dengan memanfaatkan penemuan signifikan serta inovasi teknologi. Skala dan kemampuan komputasi yang diaktifkan oleh sistem komputasi awan akan menjadi penting untuk menemukan solusi bagi beberapa masalah di dunia yang tampaknya belum terpecahkan.

“Kami berkomitmen untuk membantu organisasi nirlaba dan universitas agar dapat menggunakan komputasi awan dalam mengatasi tantangan mendasar manusia,” tambah President Microsoft, Brad Smith. “Salah satu keinginan kami adalah agar Microsoft Philanthropies dapat bermitra dengan kelompok-kelompok ini dan memastikan bahwa komputasi awan mampu menjangkau lebih banyak orang dan melayani kebutuhan masyarakat luas.”

Adapun elemen dari inisiatif baru ini meliputi:

1. Melayani kebutuhan komunitas nirlaba yang beragam.
Sebuah program donasi global yang baru akan membuat layanan komputasi awan Microsoft, termasuk Microsoft Azure, Power BI, CRM Online dan Enterprise Mobility Suite, lebih tersedia untuk organisasi nirlaba melalui Microsoft Philanthropies. Program ini dibangun berdasarkan program lain yang telah sukses dalam menyediakan akses serupa bagi Office 365 untuk organisasi nirlaba. Program nirlaba untuk layanan komputasi awan Microsoft akan mulai diluncurkan pada kisaran Maret-Juni 2016 ini. Microsoft Philanthropies bertujuan untuk melayani 70.000 organisasi nirlaba dalam tiga tahun ke depan dengan layanan komputasi awan Microsoft.

2. Memperluas akses cloud bagi fakultas penelitian di berbagai universitas.
Microsoft Research dan Microsoft Philanthropies akan memperluas penggunaan Microsoft Azure di berbagai program penelitian hingga 50% dengan memberikan tambahan kapasitas penyimpanan Azure dan sumber daya komputasi. Perluasan ini diharapkan dapat membantu fakultas untuk mempercepat penelitian yang berkaitan dengan tantangan-tantangan masa kini. Saat ini, program ini telah menyediakan layanan komputasi awan untuk lebih dari 600 proyek penelitian di enam benua secara gratis.

3. Merangkul komunitas baru dengan konektivitas dan layanan cloud terkini.
Microsoft Philanthropies dan Microsoft Business Development akan mengombinasikan donasi akses untuk layanan cloud Microsoft dengan investasi terhadap teknologi internet berbiaya rendah terkini serta pelatihan komunitas. Melalui kombinasi antara layanan cloud dengan konektivitas serta pelatihan, juga melalui fokus kerjasama antara swasta dengan pemerintah, Microsoft Philanthropies bermaksud untuk mendukung 20 proyek di 15 negara dari berbagai belahan dunia pada pertengahan 2017.

Inilah Prediksi Cloudera Tentang Big Data di Tahun Ini

Telko.id – Kita menyaksikan transformasi besar dalam teknologi informasi (TI) tahun lalu, karena banyak perusahaan ingin jadi lebih efektif dalam mengelola dan memanfaatkan data mereka untuk mengambil keputusan. Fokus pada inisiatif kota pintar yang mendorong tren seperti peningkatan konektivitas, lebih mendorong pentingnya data untuk bisnis, baik besar maupun kecil.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima tim Telko.id,  tahun 2016 kita akan menyaksikan pergeseran yang lebih luas karena data akan lebih terintegrasi ke dalam proses pengambilan keputusan dalam bisnis dan industri. Pengambil keputusan bisnis akan menginginkan inisiatif yang didorong untuk mendapatkan keuntungan kompetitif dan berperan dalam konektivitas dunia.

Hal ini menjadi tak terelakkan bagi sektor bisnis karena budaya data sudah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, aplikasi ponsel pintar yang menganalisis data lalu lintas dan menyarankan rute terbaik pada pengguna di sekitar kota, perangkat pelacak kebugaran yang membantu pengguna memantau dan menjalani gaya hidup yang lebih aktif, dan lain-lain.

Berikut adalah prediksi Cloudera mengenai perkembangan Big Data di tahun 2016.

Dimana bisnis dan teknologi bertabrakan
Lebih dari sebelumnya, perusahaan akan memberi perhatian kepada teknologi dan data untuk memecahkan masalah bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat penggunaan populer dari pelayanan pelanggan holistik untuk membangun aliran pendapatan, mendorong efisiensi dalam produk dan pelayanan, serta mengelola risiko, kepatuhan dan keamanan siber.

Tahun ini, perusahaan akan melihat melebihi teknologi dan melihat nilai bisnis dari penggunaan ini. Mereka akan menyadari arti sebenarnya dari mengubah data menjadi dolar. Sekarang, organisasi akan memperoleh nilai tambah yang lebih besar dengan menyelaraskan data dan teknologi untuk tujuan bisnis.

Modernisasi perusahaan tradisional
Semakin banyak perusahaan tradisional mulai berperilaku seperti perusahaan modern, menjadi lebih terbuka untuk menjadi data-sentris dan informasi-driven. Perusahaan tradisional ini akan mengatasi tantangan dari sistem silo yang berbeda yang sudah lama mereka miliki dengan bantuan dari platform analitis manajemen data modern yang tersedia. Mereka akan terus menjadi perusahaan dengan aplikasi minimum dan proses-sentris, sehingga memiliki keunggulan kompetitif yang lebih tinggi untuk produk atau jasa mereka, terlepas dari skala atau tahap pertumbuhan bisnis mereka.

Data sebagai Keterampilan
Sementara tren untuk memanfaatkan big data untuk informasi telah berkembang dengan cepat di seluruh dunia, kesadaran umum dari nilai yang bisa diambil dari data masih rendah di kawasan Asia Pasifik. Saat ini karena perusahaan di semua pasar semakin banyak menggunakan teknologi untuk mengambil nilai dari big data, jelaslah ini mendorong permintaan akan keterampilan terkait. Dengan demikian, akan terjadi kekurangan profesional di bidang pengelolaan data. Kesenjangan ini hanya dapat diisi dengan pendidikan dan pelatihan—sekolah-sekolah yang akan mengajarkan analisis dan ilmu pengetahuan data, dan perusahaan swasta yang memimpin peningkatan keterampilan profesional. Industri akan bersama-sama menumbuhkan generasi baru profesional IT yang akan mengisi kesenjangan keterampilan bagi pengusaha di bidang tersebut.

Internet of Things
Berbicara mengenai big data, industri manufaktur layak mendapatkan perhatian khusus. Kita telah melihat munculnya Internet of Things (IOT) dalam beberapa tahun terakhir, tetapi di bidang manufaktur, baik untuk kendaraan, ponsel, maupun peralatan rumah tangga, kita akan semakin banyak melihat aplikasi yang dijalankan dengan sensor yang akan memungkinkan pemeliharaan prediktif. Pada akhirnya, hal tersebut dapat menjadi fitur-fitur yang mengirimkan informasi kembali ke produsen produk,  sehingga memungkinkan teknisi untuk memprediksi dan memperbaiki masalah secara cepat atau engineeruntuk mengembangkan produk generasi berikutnya dengan lebih baik. Kita akan melihat evolusi peningkatan kualitas berkat teknologi data.

Industri lain juga akan terus berkembang melalui evolusi data. Institusi kesehatan, misalnya, akan dapat belajar lebih banyak tentang pasien mereka melalui data dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah medis dan menjaga kesehatan pasien dengan cara lebih efektif. IOT akan terus mengubah industri pada tahun 2016.

Kepercayaan pada Open Source
Tahun ini, kepercayaan perusahaan terhadap Open Source semakin meningkat karena ini menjadi komponen IT yang semakin penting. Manajemen dataopen source bersifat fleksibel, terjangkau dan hemat biaya, sehingga ideal untuk perusahaan dengan jumlah data yang besar. Dalam jajak pendapat terbaru untuk pelaku industri, 83 persen responden mengatakan mereka menggunakan Open Sourcesecara terbatas saat ini, dan 91 persen mengatakan mereka telah menggunakan Open Source atau berencana untuk mengadopsi teknologi Open Sourcepada tahun 2020. Hal ini tidak mengherankan karena sistem Open Source telah menjadi lebih aman dengan enkripsi data, otentikasi pengguna atau teknik otorisasi, dan banyak lagi.

Lenovo Sebutkan Posisi Mereka di era IoT

0

Telko.id – Era Internet Of Things di tahun ini sudah mulai memperlihatkan perkembangan. Mulai dari banyaknya alat-alat rumah tangga yang terhubung ke internet seperti ‘smart home’, hingga yang terbaru hadirnya ‘connected car’ yang mulai menjadi buah bibir para konsumen di seluruh Dunia.

Khusus untuk connected car, beberapa produsen mobil terkemuka di dunia sudah mulai memperkenalkan mobil pintar mereka di ajang CES 2016 yang lalu.

Berbicara mengenai era IoT, Lenovo Indonesia mengungkapkan peran serta posisi mereka dalam era terbaru dari dunia internet ini melalui statement Enterprise Segment Director mereka saat peluncuran produk terbaru di Jakarta.

Johny Dermawan, Enterprise Segment Director Lenovo Indonesia mengungkapkan, “Untuk strategi dari Lenovo sendiri, kami cenderung melihat dari segi overall partner bisnis kami yang bermain di IoT dan kami mensupport mereka dengan menghadirkan berbagai produk dari lini enterprise kami,” ucapnya di sela-sela acara peluncuran produk di Jakarta (20/1).

Beberapa produk Lenovo yang mendukung IoT antara lain, server x86 untuk data center, serta deretan PC workstation yang sangat inovatif dari mereka.

Sekedar informasi, sebenarnya saat ini Lenovo tidak memiliki strategi yang spesifik untuk era IoT ini, namun Johny kembali menegaskan bahwa mereka mendukung partner mereka seperti VM Ware dan Microsoft.

“Kami mendukung beberapa partner kami seperti VM Ware dan Microsoft untuk segi software dan kami menyediakan infrastruktur untuk IoT mereka,” ucap Johny.

Lenovo juga kerap mendukung perkembangan konten lokal dengan menyediakan beberapa produk serta bekerjasama dengan partner lokal untuk kemajuan industri ICT di Indonesia.

Terkait hal ini, Johny mengungkapkan “Posisi Lenovo di Indonesia ini terbilang riil dengan menjadikan Indonesia sebagai satu region sendiri dan bukan bagian dari regional Asean yang tentunya menunjukan posisi Indonesia sangat penting bagi bisnis Lenovo,” tuturnya.