spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1686

Apa Kabar Project Loon?

0

Telko.id – Konsep Loon Project milik Google memang memberikan wacana baru untuk mempercepat penetrasi telekomunikasi, terutama di wilayah pinggiran atau pedesaan. Selain jangkauannya luas, untuk mengimplementasikan juga membutuhkan waktu yang pendek.

Bayangkan, untuk menerbangkan balon yang nantinya akan berfungsi sebagai ‘BTS terbang’ terbang itu hanya membutuhkan waktu dibawah 30 menit. Seperti yang sempat diberikan oleh engadget yang menyaksikan penerbangan balon Google ini di Puerto Rico.

Namun, tidak semua Negara serta merta memperbolehkan project loon ini beroperasi. Sederet aturan dan kerjasama yang perlu dipenuhi oleh Google. Mengapa?

Ya, project loon ini akan mempengaruhi para operator yang sudah ada dan tentunya memiliki ijin frekuensi. Hal ini berlaku di semua Negara. Itu sebabnya, jika Google tiba-tiba hadir maka akan ‘mengganggu’ bisnis dari para operator tersebut. Tak pelak, berbagai halangan pun kerap dihadapi oleh Google.

Seperti di Sri Lanka. Pemerintah di sana mengharuskan Google untuk memberikan share pada pemerintah yang nantinya, pemerintah akan memberikannya pada operator. Setidaknya, operator akan mendapatkan share 10%.

Lain lagi dengan di India. Pemerintah di Negara yang memiliki wilayah yang begitu luas dan pertumbuhan telekomunikasinya cukup besar ini, mengharuskan Google untuk memilih operator untuk diajak kerjasama dalam rangka melakukan test loon project ini.

Menurut sumber resmi pemerintahan, seperti yang dikutip dari indian express bahwa Google ingin menguji Project Loon yang mahal di band spektru yang langka juga. Itu sebabnya, Google diminta untuk bermitra dengan operator telekomunikasi yang dapat memenuhi kebutuhan dalam melakukan uji coba.

Jika Google memilih untuk melakukan ujicoba dengan Bharat Sanchar Nigam Limited atau sering disebut dengan BSNL yang merupakan perusahaan telekomunikasi milih pemerintah India dan berkantor pusat di New Delhi, India ini maka perlu melakukan pendekatan untuk menyelesaikan masalah spectrum yang akan digunakan. Lalu, perlu juga diperhatikan masalah keamanannya sampai batas tertentu.

Di Indonesia, implementasi project loon ini juga tidak mudah. Pasalnya, beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara secara tegas mengatakan tidak akan memberikan frekuensi pada Google. Artinya, kerjasama yang sempat ditandatangani oleh tiga operator besar Indonesia di Amerika beberapa waktu lalu.

Namun, dalam perjalannnya, masih banyak yang perlu dilakukan. Bahkan untuk melakukan ujicoba banyak variable yang perlu diperhatikan. Seperti yang dikatakan oleh Alexander Rusli saat menjawab pertanyaan Telko.id. “Jangan dibayangkan test loon project ini simple. Ada ribuan variable dan scenario yang harus di test”.

Telkomsel sudah lebih jelas dalam rangka uji coba Project Loon ini. Di mana dalam siaran press nya sesaat setelah penandatanganan kerjasama, operator plat merah ini sudah menyatakan bahwa uji coba teknis akan menggunakan frekuensi 900 MHz milik Telkomsel, dan berlangsung selama satu tahun di 2016, di lima titik di atas Sumatera, Kalimantan dan Papua Timur.

Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah mengatakan, “Telkomsel melihat Project Loon sebagai salah satu inovasi teknologi terkini yang dapat bermanfaat untuk memperluas penyebaran Internet di daerah-daerah yang sulit terjangkau dan memiliki kerapatan penduduk (densitas) yang rendah. Hal ini diharapkan dapat melengkapi jaringan Telkomsel yang saat ini sudah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia, sehingga lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang dapat menikmati layanan mobile broadband yang berkualitas.”

Ririek menegaskan hadirnya Project Loon saat ini masih sebatas uji coba teknis dan belum ada kesepakatan secara komersial dengan pihak Telkomsel. Uji coba teknis ini pun merupakan kesempatan yang baik bagi Telkomsel untuk meninjau teknologi terbaru Google dalam upaya memberikan layanan Internet ke pelanggan dimanapun mereka berada. Penyediaan mobile broadband sampai ke penjuru tanah air hingga ke pelosok dipercaya akan bermanfaat bagi masyarakat seperti membuka akses pendidikan, budaya dan  peluang ekonomis.

Selama masa uji coba teknis ini, akses Internet melalui Project Loon berada sepenuhnya dalam kontrol Telkomsel melalui infrastruktur backbone yang dimiliki Telkomsel atau Telkom seperti SMPCS (Sulawesi Maluku Papua Cable System).

Balon Project Loon terbang sekitar 20 kilometer di atas permukaan Bumi di bagian stratosfer. Angin di stratosfer telah terstratifikasi secara tetap dan setiap lapis angin memiliki kecepatan dan arah yang bervariasi. Dengan bergerak mengikuti angin, balon-balon dapat diatur untuk membentuk satu jaringan komunikasi yang sangat besar.

Google sendiri berharap dapat mengerahkan balon ini dalam beberapa waktu di tahun 2016 di wilayah Amerika Latin, Afrika Barat dan Asia. (Icha)

Gandeng Unicom, Telefonica Hadirkan Smartphone Murah di Amerika Latin

0

Telko.id – China Unicom dan Spanyol telco Telefonica telah mengumumkan rencana untuk meluncurkan smartphone 4G dengan harga terjangkau dari vendor China yang berbasis di Shanghai yakni Phicomm ke pasar Amerika Latin pada akhir tahun ini.

Sekedar informasi, smartphone yang bernama C630 ditenagai oleh chipset Qualcomm Snapdragon 210, fitur lainnya tentu saja LTE-enabled dengan layar FWVGA 5 inci. Perusahaan tidak mengungkapkan harga dari smartphone ini, namun mereka mengatakan akan tersedia di Amerika Latin pada kuartal kedua tahun ini.

Dalam pernyataan bersama, peluncuran perusahaan mengklaim bahwa peluncuran handset ini merupakan “tonggak” kerjasama strategis dalam Program pengadaan handset global mereka yang diluncurkan pada tahun 2015 lalu, seperti dilaporkan TelecomAsia (2/3).

Telefónica mengatakan kesepakatan distribusi merupakan bagian dari tujuan untuk mempercepat penetrasi perangkat dan layanan 4G pada end user secara lebih terjangkau.

Untuk Unicom, kesepakatan ini nyatanya membantu mereka memperkenalkan mitra smartphone China ke pasar internasional melalui jejak global Telefónica.

Sebagai bagian dari proyek pengadaan bersama yang juga merupakan pertama kalinya ini, Unicom dan Telefonica tahun lalu telah mengakuisisi smartphone 4G ‘murah’ dari Lenovo dan TCL.

Selain itu, Unicom dan Telefónica akan terus memperluas kerjasama mereka dalam kegiatan pengadaan umum untuk kedepannya, mereka juga akan menambah beberapa inisiatif tambahan untuk mendukung bisnis mereka tersebut.

Bank Dunia Bantu Telefonica Bayar Spektrum di Ekuador

0

Telko.id – Upaya Telefonica untuk memuluskan jalannya sebagai pemenang lelang spektrum terjawab sudah. Perusahaan yang berbasis di Spanyol ini telah mendapat pinjaman sebesar USD75 juta dari Bank Dunia – dengan International Finance Corporation (IFC) sebagai penjaminnya – untuk melakukan pembayaran berikutnya, menyusul kemenangan mereka dalam lelang spektrum 4G tahun lalu.

IFC mengumumkan pada hari Senin bahwa pinjaman ini juga akan membantu Otecel, yang beroperasi di bawah merek Movistar, untuk memperluas layanan mobile broadband di negara itu, terutama di daerah tak terlayani.

“Otecel berterima kasih pada IFC untuk keyakinannya sehingga memungkinkan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya kepada negara sehubungan dengan konsesi spektrum 4G LTE,” kata CEO Telefonica Ekuador, José Manuel Casas, dalam sebuah pernyataan.

Otecel dan Claro milik America Movil bersama-sama setuju untuk membayar USD330 juta untuk masing-masing 50 MHz dan 60 MHz spektrum 4G tahun lalu.

Pinjaman ini dirancang untuk membantu Telefonica melunasi pembayaran kedua dari tiga pembayaran yang direncanakan. Pembayaran terakhir akan jatuh menjelang akhir tahun ini.

“Kami bangga bahwa jaringan 4G LTE kami sekarang yang terbesar di Ekuador, mengingat komitmen kami adalah untuk menghadirkan teknologi dan kemungkinan membawa ini kepada lebih banyak orang,” kata Casas seperti dilaporkan Total Telecom, Rabu (2/3).

IFC mengatakan investasi terbaru akan menjadi kunci untuk mendukung ekonomi Ekuador.

“Untuk IFC, mendukung pengembangan sektor telekomunikasi sangat penting untuk mendorong pertumbuhan di negara berkembang,” kata Guillermo Mulville, Kepala tim telekomunikasi IFC untuk Amerika Latin dan Karibia.

Ia menambahkan, sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan 10% dalam cakupan broadband dapat menyebabkan peningkatan 1,5% produk domestik bruto suatu negara.

Otecel Telefonica adalah operator seluler terbesar kedua di Ekuador, yang melayani sekitar 5 juta orang. Sementara Claro mengklaim memiliki lebih dari 8 juta pelanggan pada akhir 2015.

Otoritas Brazil Tangkap Petinggi Facebook Terkait Data WhatsApp

0

Telko.id – Perseteruan antara otoritas berwenang dengan perusahaan teknologi tampaknya tak berhenti hanya di kasus Apple dan FBI. Baru-baru ini, seorang eksekutif Facebook telah ditangkap di Brazil setelah perusahaan gagal untuk bekerja sama dengan perintah pengadilan dalam kasus perdagangan narkoba.

Menurut laporan, wakil presiden Facebook untuk Amerika Latin, Diego Dzodan, dibawa untuk ditanyai di Sao Paulo, sebelum akhirnya ditangkap.

Facebook sendiri menilai tindakan itu terlalu “ekstrim dan tidak proporsional.” Pasalnya perusahaan selalu dan akan bersedia untuk menjawab pertanyaan otoritas Brazil jika dibutuhkan.

Dilansir dari BBC, Rabu (2/3), penangkapan berawal dari kasus yang melibatkan layanan pesan WhatsApp, yang beroperasi secara terpisah dari platform Facebook. Polisi federal di Sao Paulo mengatakan, mereka membawa surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh hakim pidana dari distrik Lagarto, di negara bagian terkecil Brazil, Sergipe. Sebuah pernyataan yang dirilis oleh pasukan itu mengatakan bahwa Facebook telah diperintahkan oleh pengadilan untuk memberikan bukti yang akan membantu penyelidikan “kejahatan terorganisir dan perdagangan narkoba.”

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa pejabat pengadilan di Sergipe juga membenarkan penahanan Diego Dzodan.

Sebuah sumber mengatakan bahwa kantor Facebook di Brazil hanya berurusan dengan penjualan dan mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki akses ke informasi pengguna WhatsApp atau wewenang untuk membuat keputusan atas aplikasi messaging itu.

Masalah privasi telah sering menempatkan Facebook dan raksasa internet lainnya bertentangan dengan aparat penegak hukum Brazil yang mencari bukti dalam kasus pidana, meskipun konfrontasi jarang muncul seperti halnya kasus yang melanda Apple Inc dan FBI belakangan ini.

Pada bulan Desember, seorang hakim Brazil menangguhkan layanan pesan WhatsApp milik Facebook selama sekitar 12 jam setelah perusahaan gagal untuk mematuhi dua perintah pengadilan untuk berbagi informasi dalam kasus pidana. WhatsApp dilaporkan menjadi aplikasi yang paling sering digunakan di Brazil, dengan sekitar 93 juta pengguna.

Pengadilan Brazil belum berhenti menjadikan pejabat teknologi senior sebagai target. Reuters melaporkan, pada tahun 2012, pengadilan di Mato Grosso do Sul memerintahkan penahanan eksekutif senior Google di Brazil setelah perusahaan gagal untuk menghapus video YouTube yang menyerang calon walikota setempat.

Aplikasi SingTel Eror, Data Pengguna Terancam

0

Telko.id – SingTel terpaksa menghentikan sementara fungsi aplikasi mobile mereka setelah kesalahan dari perangkat lunak ini mengakibatkan pengguna melihat informasi pribadi dari akun lain.

Pelanggan yang masuk ke aplikasi My Singtel mampu melihat semua rincian pribadi dari pelanggan yang berbeda, dan memodifikasi data lapangan pada informasi akun untuk menambahkan pesan mereka sendiri.

Beberapa pengguna melaporkan mengalami kesalahan ini di media sosial, dengan sejumlah orang mengungkapkan kekhawatiran bahwa rincian rekening mereka telah dikompromikan.

TelecomAsia (2/3) melaporkan bahwa SingTel akhirnya menangguhkan akses ke aplikasi tersebut, dalam sebuah pernyataan, mereka juga menyebut bahwa kesalahan mengekspos informasi pelanggan hanya mempengaruhi satu akun.

Bukan hanya itu, dalam pernyataan tersebut, pihak SingTel menambahkan bahwa mereka masih berusaha untuk berhubungan dengan dengan pelanggan untuk meminta maaf dan menjelaskan perihal kejadian ini.

Namun, beberapa hari yang lalu, sebagian fungsi dari aplikasi itu telah dikembalikan, namun tidak tersedia fitur tagihan, reward dan fitur e-appointment.

Perusahaan bersikeras bahwa ini adalah insiden yang terisolasi dan memastikan pelanggan bahwa keamanan akun mereka masih terjaga dengan aman.

Blibli.com Tunggu Waktu yang Tepat Untuk IPO

0

Telko.id – CEO Blibli.com Kusumo Martanto tidak menampik adanya keinginan dari perusahaan yang dipimpinnya untuk melantai di bursa. Namun, ia mengaku bahwa hal itu belum akan terjadi dalam waktu dekat.

“Kalau ada kesempatan kenapa tidak. Tapi yang pasti belum dalam waktu dekat. Mungkin 5 tahun lagi sudah siap,” ungkapnya saat ditemui di Mall Kota Kasablanka hari ini, Selasa (1/3).

Kusumo mengurai beberapa alasan terkait belum akan IPO-nya Blibli.com. Salah satunya adalah mengenai tekanan yang umumnya diterima sebuah perusahaan ketika telah listing.

“Kalau perusahaan sudah IPO, dan short-term goal-nya tidak tercapai, itu biasanya akan diberi punish dan itu tidak baik untuk bisnis, bisnis partner maupun kostumer,” tambahnya.

Namun, ia tak menampik bahwa IPO memang bagus. Hanya saja, ia menambahkan, waktunya harus tepat.

Saat ini, Blibli.com menghadirkan lebih dari 40.000 produk pilihan dari 15 kategori yang terdiri dari Handphone & Tablet, Kamera, Komputer & Laptop, Peralatan Elektronik, Fashion Pria, Fashion Wanita, Kesehatan & Kecantikan, Ibu & Anak, Hobi & Olahraga, Otomotif, Kuliner dan Galeri Indonesia.

Jumlah transaksi rata-rata per hari mencapai 10 ribu, dengan smartphone menjadi kategori paling laris. Sementara untuk metode pembayaran, kartu kredit memiliki porsi 30 persen sementara sisanya adalah melalui internet banking

Pertumbuhan bisnis Blibli.com sendiri ditargetkan untuk meningkat lima kali lipat pada tahun ini.

 

Sasar Industri Perhotelan, Alcatel-Lucent Hadirkan Solusi Terbaru

0

Telko.id – Alcatel-Lucent Enterprise (ALE), menghadirkan solusi terbaru yang lrbih menyasar industri pariwisata dan perhotelan. Solusi ini juga sejatinya menawarkan connected experience secara personal bagi para tamu dan wisatawan yang hadir.

Solusi ini juga dapat membantu para pengusaha hotel, kapal pesiar serta pelaku industri lainnya untuk mengurangi biaya infrastruktur dan meningkatkan kinerja operasional dari hotel itu sendiri.

Derrick Lee, Vice President Global dan Vertikal Akun Alcatel-Lucent menyebutkan, “Sampai dengan saat ini, Solusi perhotelan dari kami telah digunakan oleh tiga hotel mewah di Eropa dan satu hotel di Amerika Serikat,” ucapnya ketika media briefing dengan Tim Telko.id (1/3).

Derrick juga menyebutkan, di Indonesia juga sudah tersedia beberapa hotel yang siap bekerjasama dengan mereka seperti Kempinsky, Shangri -La, Four Season Jimbaran dan beberapa hotel mewah lainnya di Indonesia.

Sementara mengenai sistem kerja sendiri, Derrick menjelaskan bahwa nantinya para pengunjung hotel dapat memesan berbagai layanan kamar dari smartphone mereka.

Pengguna juga dapat memesan kamar di salah satu hotel yang telah bekerjasama dengan ALE sebelum mereka tiba di hotel tersebut. Sebagai contoh, apabila pengunjung hendak berpergian ke Paris, ketika masih di Indonesia sejatinya pengunjung bisa memesan kamar dan mengestimasi jam berapa mereka akan tiba dan menggunakan fasilitas hotel tersebut.

Setidaknya terdapat tiga solusi yang ditawarkan oleh ALE untuk setiap hotel seperti, Mobile Guest Softphone, Smart Guest Application Suite serta e-concierge.

Untuk Mobile Guest Softphone, Solusi dari ALE ini menggunakan aplikasi yang nantinya perlu diinstal oleh tamu hotel sehingga tamu bisa menggunakan perangkat pribadi mereka untuk menggunakan fasilitas hotel serta pelayanan kamar melalui smartphone mereka.

Solusi berikutnya adalah Smart Guest Application Suite yang memungkinkan para tamu untuk mengontrol fasilitas yang tersedia di kamar seperti pengaturan pencahayaan, suhu kamar, melakukan tur hotel secara digital serta mengakses layanan kamar lainnya.

Kemudian hadir juga e-concierge yang mana solusi ini menggunakan cloud sebagai landasannya. Ketika tamu hotel telah terhubung ke internet, maka mereka bisa mengakses layanan ini dan memilih berbagai macam layanan kamar. Tamu akan diminta untuk login terlebih dulu yang hanya bisa dilakukan setelah check-in.

Melalui solusi ini, tamu bisa memesan makanan, atau melakukan reservasi di spa langsung melalui perangkat pribadi mereka. Biaya akan ditambahkan secara otomatis ke tagihan saat tamu melakukan check-out.

Pihak ALE juga memberikan kebebasan kepada pihak hotel untuk memilih salah satu atau ketiga solusi ini sekaligus. Sementara mengenai tarif, pihak hotel hanya perlu membayar jumlah okupansi dari hotel tersebut.

Blibli.com dan Standard Chartered Tawarkan Program Menarik

0

Telko.id – Mall online Blibli.com mengumumkan kerjasama strategisnya bersama Standard Chartered Bank hari ini. Lewat kerjasama ini, Blibli akan menawarkan beragam penawaran istimewa dan menarik bagi para pelanggan saat melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit Standard Chartered Bank.

Ditemui dalam konferensi pers yang berlangsung di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa, (1/3), CEO Blibli, Kusumo Martanto mengungkap optimismenya terkait kerjsama dengan Standard Chartered Bank. Menurutnya, Perbankan adalah pilar yang sangat penting untuk menciptakan transaksi jual beli e-commerce, sebagai penyedia solusi pembayaran (payment solution).

“Untuk itu kami optimis bahwa kerjasama ini akan menghasilkan inovasi-inovasi dari sisi payment yang bisa dikembangkan bersama Standard Chartered Bank untuk pembelajaan Blibli.com,” katanya.

Menurut sebuah riset, saat ini nasabah di Indonesia menghabiskan sekitar Rp 5,5 juta per tahun dalam melakukan transaksi via online, dimana 48 persen diantaranya adalah berusia 30-40 tahun dengan pendapatan lebih dari Rp 10 juta per bulan. Riset menunjukkan adanya peningkatan pesat dalam transaksi belanja yang dilakukan secara online dengan menggunakan kartu kredit.

“Sebagai salah satu bank tertua di Indonesia, Standard Chartered menyadari bahwa perbankan harus berevolusi guna memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin mobile. Oleh karena itu, kami terus berinovasi dalam memberikan pengalaman perbankan yang menyenangkan dan kegiatan bertransaksi yang lebih mudah, lebih inovatif, serta lebih intuitif bagi para nasabah,” sambung CEO Standard Chartered Bank Indonesia, Shee Tse Koon.

Ia menambahkan, kerjasama strategis dengan Blibli.com ini juga menjadi bagian dari rencana pengembangan perusahaan secara agresif di Indonesia. Tentunya, disamping kerjasama dengan partner-partner lainnya yang memang bersifat jangka panjang.

“Harapannya dengan kerjasama ini value atau nilai yang dihasilkan akan jauh signifikan dibanding dengan kerjasama biasa,” tambah Ruddy Martono, Head of Segment Standard Chartered Bank.

Mengusung tema #Cermat #CerdasHemat, program menarik yang menjadi bagian dari kerjasama Blibli.com dan Standard Chartered Bank ini mencakup tiga pilar, yaitu Everyday Spending – berupa tambahan diskon 7 persen setiap hari untuk semua produk; kejutan setiap tanggal 5, 15 dan 25 dimana program flash sale yang memberikan harga sangat spesial akan digelar; serta program festival, yang menghadirkan benefit seperti diskon langsung atau cashback.

Selain ketiga program tersebut, Blibli.com juga menggelar program khusus bertajuk Grand Launch yang berlaku sejak hari ini hingga lima hari ke depan (5 Maret 2016), dimana pelanggan dapat menikmati belanja online dengan nilai hanya Rp 50.000, Rp150.000 dan Rp250.000 untuk transaksi antara pukul 10.00-13.00 WIB.

Soal TKDN, Pemerintah Harus Konsisten!

0

Telko.id – Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (AIPTI) meminta pemerintah harus konsisten terhadap peraturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang berlaku bagi perangkat ponsel 4G yang digunakan di Indonesia.

Ketua Umum AIPTI Ali Soebroto mengungkapkan, saat ini kapasitas industri ponsel di Indonesia melebihi 70 juta perangkat per tahun. 50 juta dari perangkat tersebut, kata Ali, diproduksi di bawah naungan asosiasi.

“Kebutuhan ponsel per tahun itu mencapai 70 juta perangkat. Pemerintah beberapa waktu lalu telah melakukan program lokalisasi ponsel yang dipoduksi di Indonesia,” ucap Ali pada konferensi pers terkait Perkembangan Industri Manufaktur Ponsel di Indonesia di Jakarta, (29/2).

Bukan hanya itu, Ali juga menyebut, melalui Permen kominfo No. 27 tahun 2015, ponsel berjaringan 4G LTE dijalankan dengan persyaratan TKDN.

Sekedar informasi, Kementerian Perdagangan yang dipimpin Gita Wiryawan dan Kementerian Perindustrian yang dipimpin MS Hidayat pada 2013 juga pernah membatasi impor ponsel berjaringan 2G dan 3G yang mewajibkan vendor membangun pabrik atau bekerja sama dengan pabrik ponsel. Seharusnya dalam kurun waktu tiga tahun, yakni tahun 2016 semua ponsel 2G dan 3G sudah diproduksi di Indonesia.

Pemerintah juga dinilai cukup ‘lembek’ dan cenderung memberikan kemudahan pada vendor untuk mengimpor barang jadi dan bukan merakit perangkat tersebut di Indonesia.

Pemerintah juga dinilai tidak konsisten dalam menentukan skema yang pas mengenai standarisasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G yang ada di Indonesia.

“Sehingga definisi TKDN untuk ponsel 4G dibuat bertambah kabur, terutama dengan munculnya lima skema tentang rancangan TKDN yang melibatkan perangkat hardware dan software,” ujarnya.

Sekedar informasi, kelima bentuk skema tersebut meliputi, skema 100 persen hardware, skema 100 persen software, kemudian komposisi 75 persen hardware dan 25 persen software, skema rasio rata dimana baik software maupun hardware memiliki masing-masing 50 persen, dan yang terakhir adalah hardware 25 persen serta software 75 persen.

AIPTI juga mendesak pemerintah untuk tidak menerapkan skema yang memberikan kelonggaran kepada vendor dalam mengisi software.

“Kalau hanya software, 100 persen diisi lokal tapi akan kesulitan untuk mengukurnya. Vendor juga tidak perlu mendirikan pabrik di Indonesia. Mereka masih tetap bisa mengimpor sebanyak-banyaknya,” ucap Ali.

AIPTI juga meminta ketegasan pemerintah dalam mengatur TKDN serta para pemain industri ponsel yang hendak masuk ke Indonesia harus tunduk dengan ketegasan pemerintah. Karena ini demi melindungi industri perangkat telematika Indonesia.

Ini dia Progress Proyek Palapa Ring

0

Telko.id – Proyek Palapa Ring di buat dalam rangka mewujudkan percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Di mana sudah ada dua paket proyek ini yang ditentukan pemenang tendernya yakni untuk Paket Barat dan Paket Tengah. Lalu, seperti apa progress dari proyek ini?

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjelaskan bahwa infrastruktur Proyek Palapa Ring yang menggunakan PPP (Public Private Partnership) Availability Payment sudah berjalan. “Prosesnya sudah berjalan, administrasi nyusul karena orientasinya adalah target,” jelasnya dalam sambutan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dan Perjanjian Penjaminan Proyek Palapa Ring untuk Paket Barat.

Hal itu ditegaskan oleh Rudiantara sebagai cara kerja pemerintahan sekarang yang harus lebih cepat. “Ini cara kerja pemerintah sekarang, cepat, Apa yang bisa dilakukan paralel, dilakukan paralel, ga usah nunggu proses yang serial. Serial tetap kita lakukan, administrasi secara formal. Apa yang kita bisa lakukan, kita lakukan,” tegasnya.

Menurut Menkominfo, pelaksanaan Proyek Palapa Ring di kawasan barat dilaksanakan oleh PT Palapa Ring Barat dan PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII). “Sebenarnya untuk Paket Tengah juga sudah dilakukan dan diumumkan tapi karena masalah administrasi jadi nanti ditandatanganinya,” tutur Rudiantara ketika mengawali sambutannya.

Menkominfo menjelaskan bahwa Palapa Ring adalah jaringan-jaringan yang akan dibangun. Dalam peta Palapa Ring, jaringan tersebut terutama yang berwarna ungu dan merah . “Yang warna hijau ini yang relatif sudah dan akan dibangun oleh penyelenggara sekarang tetapi yang ungu dan merah ini secara keuangan tidak feasible tapi secara ekonomi ini harus karena kita harus posisikan Indonesia di kancah internasional dalam konteks digital,” tambahnya.

Posisi Indonesia dalam Lansekap Digital

Rudiantara juga mengutip angka report dari Open Signal pada bulan Februari 2016 mengenai posisi Indonesia dengan negara lain dalam konteks digital. “Amerika download-nya rata-rata 7,6, paling tinggi Jepang 10,48. Indonesia rata-ratadownloadnya 5,4 tapi upload-nya cuma 1,8 mega. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak jelek-jelek banget dibanding Brazil 4,2 dan Thailand 1,8,” paparnya.

Lebih lanjut Chief RA juga mengatakan bahwa, meski layanan broadband Indonesia belum sebagus Singapura namun kondisi itu baik-baik saja. Tapi ke depan kreatifitas orang Indonesia perlu ditingkatkan. “Tapi yang unik rasio antara download dan upload Indonesia relatif paling rendah, hanya sepertiga, artinya orang Indonesia lebih senang download daripada upload yang artinya adalah kreativitas orang Indonesia kurang,” jelasnya.

Menteri Rudiantara membandingkan Jakarta dengan kota-kota negara lain tentang aspek kreatifitasnya. “Jakarta kapasitas downloadnya 7 mega. Kita jauh lebih bagus dibanding Bangkok yang 2,3, New Delhi 1,9, maupun Rio de Janeiro yang cuma 5,6. Demikian juga Kualalumpur 5,9 tapi kembali kalau dihitung antara download dan upload, kita rasionya masih dibawah New Delhi, dibawah Rio dan Kualalumpur, artinya masyarakat disana lebih kreatif,” tuturnya.

Sementara jika dicermati data antarkota di Indonesia, Menkominfo melihat masih ada ketimpangan antara Jakarta dan luar Jakarta. “Data untuk Jakarta download 7 mega. Jawa secara keseluruhan 3,5 mega kemudian Kalimantan 2 mega, Sumatera diatas 2 mega dan Bali 1,5 mega. Jangan dibandingkan dengan Maluku ataupun Papua yang hitungannya masih ratus kilobyte, belum 1 megabyte,” tegasnya.

Ia menyatakan bahwa ketimpangan tersebut yang harus segera diperhatikan oleh Indonesia untuk memastikan bahwa digital itu tidak hanya bertumpu di Jakarta. “Kita mengejar digital economy dalam hal ini e-commerce pada tahun 2020 akan mencapai proyeksinya Rp130 Miliar Dollar,” tambahnya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah untuk terus mendorong dan terus mengimplementasi broadband dengan melibatkan banyak sektor. “Yang membuat ini bisa berjalan adalah proses yang bisa berjalan antara Kementerian Keuangan, Kementerian Kominfo, dan Penjaminan (PT PII). Ini yang menjadikan proses ini menjadi value dari struktur PPP dengan Availability Payment,” paparnya.

Menkominfo mengatakan untuk Paket Timur masih ditunda, pasalnya prosesnya  dilakukan dimasukan di depan seperti perjanjian. Menkominfo menargetkan tahun 2019 semua kabupaten dan kotamadya sudah terhubung dengan broadband.

“Karena ini adalah yang pertama dari semua sektor, semoga ini menjadi role model walau belum sempurna. Mudah-mudahan bisa menjadi nilai tambah dalam hal kita berproses, dalam hal infrastruktur. Mudah-mudahan ini menjadi titik awal untuk membangun infrastruktur di Indonesia,” harapnya. (Icha)