spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1678

‘Si Bungsu ‘ Tri Baru Woro-woro 4G LTE di Ultah ke 9-nya

0

Telko.id – Terlambat? Jika dibandingkan dengan 4 operator lainnya, memang Tri cukup terlambat. Namun, jika dilihat dari ekosistem 4G LTE di Indonesia, Tri memang tidak terlalu terlambat. Pasalnya, ekosistem 4G LTE yang terdiri dari Device, Network dan Application atau DNA ini memang belum terbentuk sempurna. Terlebih dari sisi Device. Yang saat ini masih dianggap belum maksimal penetrasinya. Maklum, harganya masih dianggap terlalu tinggi.

Tepat pada ulang tahun ke sembilannya, Tri baru meluncurkan layanan 4G LTE dengan ‘sedikit’ agresif. Walaupun, masih kurang dibandingkan dengan 4 operator lainnya. Baru di 6 kota saja yang dianggap perlu oleh ‘si bungsu’ ini untuk diaktifkan layanan 4G LTE nya. Bukan karena tidak mau, tapi lebih melihat kebutuhan dari para pelanggannya. Yakni di Batam, Pontianak, Makasar, Jakarta, Bandung dan Denpasar. Layanan 4G LTE ini bekerja di spektrum 1800 Mhz.

Rentang pita lebar yang dimiliki oleh Tri memang tidak banyak. Hanya 10 Mhz saja. Mungkin itu sebabnya, Tri tidak terlalu gembar-gembor jualan 4G LTE pada konsumen Indonesia. Namun hal itu dibantah oleh Randeep Singh Sekhon, Presiden Direktur Hutchinson 3 Indonesia. “Dengan keterbatasan rentang pita lebar spektrum yang dimiliki Tri yaitu 10 Mhz di 1800 Mhz, Tri tetap melanjutkan komitmennya untuk menghadirkan akses internet bagi sebanyak mungkin masyarakat Indonesia,” ujar Randeep menjelaskan.

Dari total 39.054 BTS yang sekarang digunakan untuk melayani pelanggannya yang berjumlah 55.5 juta itu, baru sekitar 1.000 BTS saja yang sudah aktif layanan 4G LTE nya. Sedangkan sisanya, masih digunakan untuk layanan data pada 2G dan 3G.

Dengan adanya layanan 4G LTE ini pun, Tri tidak berharap terlalu banyak untuk bisa menambah jumlah pelanggan baru. “4G LTE akan lebih banyak dipergunakan oleh pelanggan yang switch dari 3G ke 4G,” ujar Muhammad Buldyansyah, Wakil Presiden Direktur Hutchinson 3 Indonesia menjelaskan. Lebih lanjut, Buldyansyah juga mengatakan bahwa penetrasi smartphone 4G di Indonesia saat ini baru 15 – 20%. Jika 30-40% nya atau sekitar 2 – 3 juta menggunakan layanan Tri, itu sudah bagus. Paling tidak akhir tahun 2016 bisa dicapai. Sedangkan, untuk trafik data, paling tidak bisa ada peningkatan sekitar 2 – 3% secara nasional.

Saat ini, Tri mengklaim sudah menjadi nomor 2 secara industri untuk operator dengan trafik data terbesar. Mengalahkan operator 3 operator lain. Namun, sudah berdekatan dengan operator nomor 1 di Indonesia. Dengan jaringan yang di klaim sudah melayani 86% populasi di Indonesia, jaringan Tri ini menghantarkan 1200 – 1300 Terabyte/hari atau 40.000 Terabyte/bulan data. Artinya, sepertiga dari trafik industri ada di jaringan Tri. Itu sebabnya, si bungsu ini berani mengklaim nomor 2. Selain itu, penetrasi pengguna smartphone di jaringan Tri mencapai 80%, diatas dari angka penetrasi industri. (Icha)

Kontribusi FAST Untuk Industri Telekomunikasi

0

Telko.id – FAST yang merupakan sebuah wadah bagi para alumni dari Telkom University, termasuk diantaranya STT Telkom, STMB, STISI dan Politeknik, baik secara langsung maupun tidak langsung telah memajukan industri telko Tanah Air. Dengan menyumbang banyak praktisi bahkan sampai ke pakar Telko, FAST sejatinya memiliki peranan penting dalam pertumbuhan industri telko di Indonesia.

Sekedar informasi, para Alumni mereka juga banyak bekerja di beberapa operator besar di Indonesia. Alumni Telkom University juga tersebar di instansi pemerintahan serta berbagai vendor jaringan.

“Kita punya 32000 member yang tersebar di 32 negara, kebanyakan di Indonesia, sekitar 70 hingga 80%,” ujar Jimmy Agueno, Alumni Telkom University dan Calon Presiden Fast 2016-2020.

Seperti diketahui, para alumni mereka sejatinya sudah termasuk dari golongan middle up. Namun, untuk lulusan baru, mereka bisa dibilang masih kurang settle, karena masih baru, dan tugas FAST untuk menjembatani antara alumni yang sudah settle dengan yang belum settle.

Jimmy menambahkan, peluang di industri Telko itu besar sekali. Hal tersebut terbukti dari mayoritas alumni yang tergabung kedalam FAST bekerja di perusahaan telekomunikasi Indonesia. Bahkan, ada juga yang memiliki usaha di industri ini.

Jimmy juga mengharapkan, kedepannya FAST dapat dijadikan sebagai wadah bagi para alumni baru dan alumni lama yang sudah settle, untuk saling berhubungan dan membuka sebuah peluang baru serta semakin memajukan industri telekomunikasi Indonesia.

“Yang cari kerja susah payah, yang mencari tenaga kerja pun juga susah, maka dari itu harapannya FAST bisa jadi penghubung dan menjembatani antara pencari kerja, pencari tenaga kerja serta para investor,” tambah Jimmy.

Terkait dengan TKDN, Jimmy Augeno juga ingin memanfaatkan potensi yang ada dari para alumni untuk menciptakan banyak produk lokal yang dapat digunakan untuk mendukung industri telko di Indonesia. Sekedar informasi, dari semua fakuktas di Telkom University belum bersinergi sehingga hal ini dirasa sulit. Namun, kedepannya FAST akan mensinergikan fakultas tersebut, yang bertujuan pada akhirnya untuk mendukung perkembangan industri telko di Indonesia.

Ia juga menambahkan, bahwa mereka telah mendapatkan dukungan dari ketua BKPM untuk menciptakan industri telko dalam negeri, dan siap mendatangkan investor dari luar negeri.

“Jika ditanya mengenai sumbangsih FAST selama ini untuk industri telko di Indonesia, tentunya sudah sangat banyak mengingat sebagian besar anggota FAST bekerja di Industri telko,” pungkas Jimmy.

CIGI: Pengguna Internet Bingung Bedakan ‘Security’ dan ‘Privacy’

Telko.id – Sebuah ;embaga riset di Kanada, CIGI (Centre for International Governance and Innovation) belum lama ini menggelar sebuah survei terkait pengasawan dalam berinternet. Menurut lembaga ini, warga biasa lebih nyaman dengan pengawasan pemerintah.

Dalam sebuah survei internasional, yang mengikutsertakan 24.000 responden di 24 negara), CIGI mengklaim lebih dari 70 persen ingin “dark net” ditutup (yang bertumpu pada asumsi bahwa 70 persen dari orang-orang paham dengan apa yang disebut “dark net”).

Sekadar informasi, dark net sendiri merupakan sebuah jaringan overlay yang hanya dapat diakses dengan perangkat lunak, konfigurasi, atau otorisasi khusus, sering menggunakan protokol komunikasi non-standar dan port. Perbedaan besar antara internet biasa dan rarknet adalah, darknet bergerak secara lokal dan benar-benar anonim.

Kekesalan terbesar terhadap darknet ada di Indonesia, India dan Meksiko, dimana 80 persen dari semuanya mengatakan itu harus dihilangkan. Sementara AS dan Australia menyusul di barisan berikut dengan 72 persen.

Pada saat yang sama, rata-rata lebih dari 26 persen pengguna tidak percaya dengan pemerintahnya dalam memantau keseluruhan komunikasi mereka tanpa sepengetahuan mereka.

Di antara penggambaran menakutkan dari dark-web – “gambar pelecehan anak, pembelian narkotika ilegal atau merencanakan pembunuhan”, misalnya – peneliti CIGI, Eric Jardine mengakui bahwa “menutup jaringan anonimitas bukan solusi jangka panjang yang layak, karena mungkin akan terbukti tidak efektif.”

Seperti dilaporkan The Register, Rabu (30/3), hanya 8.47 persen responden, rata-rata, mengatakan bahwa mereka percaya sepenuhnya pada pemerintah mereka. Warga paling yang percaya pada pemerintah mereka berada di Tunisia, dengan angka 27 persen, dan Pakistan, pada angka 21 persen.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak memahami bahwa enkripsi yang tidak bisa dipecahkan melindungi hal-hal seperti perbankan dan belanja online mereka, serta melindungi dari kejahatan: 60 persen orang Amerika dan 63 persen dari total sampel menilai “perusahaan tidak harus mengembangkan teknologi yang melindungi penegak hukum mengakses isi data online pengguna.”

Mengenai akses ke data warga, survei mengatakan 70 persen lebih pengguna berpikir bahwa lembaga harus memiliki akses ke konten warga untuk “alasan keamanan nasional yang sah,” sementara 30 persen-nya tidak setuju.

Meski tentu saja, pemahaman warga tentang apa yang dimaksud alasan “valid”bisa saja sangat bervariasi, dalam daftar negara-negara yang termasuk Australia, Brazil, Kanada, Cina, Mesir, Perancis, Jerman, Inggris, Hong Kong, India, Indonesia , Italia, Jepang, Kenya, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Polandia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Swedia, Tunisia, Turki dan Amerika Serikat.

CIGITidak mengherankan jika warga Turki (45 persen tidak setuju dengan akses pemerintah) dan Brazil (41 persen menolak), misalnya, kurang mempercayai pemerintah mereka ketimbang mereka yang berada di Amerika (31 persen tidak setuju), Prancis (29 persen tidak setuju) atau Australia (25 persen tidak setuju). Pasalnya, responden dari Turki dan Brazil saat ini memang tengah mengalami oposisi yang menggemparkan terhadap pemerintah mereka.

Yang menarik justru apa yang terjadi di negara-negara seperti Korea Selatan, Jerman, Hong Kong dan Jepang, dimana semuanya mencatat lebih dari 40 persen responden menentang akses badan keamanan nasional untuk komunikasi mereka.

Dua Operator Ini Lakukan Ujicoba 5G di Spektrum 28 Ghz

0

Telko.id – Setelah Ketua FCC Tom Wheeler mengisyaratkan pandangannya tentang band kunci 5G pekan lalu, operator di Amerika Serikat langsung mengajukan permohonan pengujian di pita frekuensi 28 GHz.

Kedua operator besar di Amerika Serikat yakni T-Mobile dan Verizon telah mengajukan permintaan untuk otorisasi pengujian sementara untuk menguji teknologi, bandwidth dan rasio uplink/downlink untuk penyebaran.  Verizon akan memulai pengujian mereka di Euless, Texas, dengan melibatkan vendor seperti Ericsson, Intel, Qualcomm dan Samsung. Menurut pengajuan dengan FCC.

“Verizon membutuhkan STA untuk menguji perangkat prototipe yang beroperasi pada 27,5-28,5 GHz, Operasi STA yang diusulkan akan memajukan pemahaman tentang karakteristik spektrum gelombang milimeter (khususnya di band 28 GHz), saluran bandwidth, dan rasio uplink / downlink untuk penyebaran perumahan dan komersial,”ujar perwakilan dari FCC, seperti yang dilaporkan oleh Telecoms (30/3).

Sementara itu, untuk T-Mobile sendiri belum mengungkapkan dengan siapa akan bekerja untuk proyek penelitian. Namun mereka telah menegaskan bahwa mereka berencana memberikan fokus lebih pada propagasi sinyal indoor dan antara bangunan untuk 5G di sekitar kantor pusat dan laboratorium lingkungan di Bellevue, Washington.

“Pertama, T-Mobile akan melakukan tes dalam ruangan di lingkungan yang terkendali dari fasilitas laboratorium Bellevue. “Pengujian ini akan membantu T-Mobile lebih memahami karakteristik transmisi gelombang milimeter untuk komunikasi 5G dalam ruangan. Kedua, T-Mobile akan melakukan tes di markas Bellevue dan di dua lokasi outdoor lainnya di dekatnya. Tes mereka akan memberikan informasi tentang propagasi sinyal antara bangunan dan data penting lainnya yang menginformasikan desain yang lebih luas dari sistem 5G,” seperti dilaporkan Telecoms.

Sekedar informasi, Tom Wheeler menganggap gelombang milimeter frekuensi 28 GHz akan tetap menjadi bagian penting dari pengembangan 5G, dan mengatakan setiap perkembangan yang keluar dari Amerika Serikat akan meningkatkan perkembangan di seluruh dunia.

Meskipun disepakati oleh banyak orang, dan gelombang milimeter akan menjadi teknologi utama yang mendukung 5G, namun tetap memerlukan sebuah tindakan nyata dari semua pihak. Seiring dengan efisiensi spektrum, nyatanya gelombang milimeter hanya menerima 20% suara pada jajak pendapat yang dijalankan oleh Telecoms.com baru-baru ini. Hal ini tentunya menjadikan sebuah pertanyaan, teknologi apa yang paling dibutuhkan untuk 5G.

Apakah keinginan ITU untuk sebuah band gelombang milimeter yang berbeda untuk standardisasi 5G , sementara operator menempatkan upaya untuk lebih menekankan kearah R & D yang hanya akan menguntungkan industri. Kita tunggu saja.

Ketika Keylogger Mengamcam Data Pribadi dan Online Pengguna

0

Telko.id – Meningkatnya tren belanja daring, sebagai dampak kian tingginya penggunaan perangkat mobile, secara tidak langsung memaksa institusi keuangan – dalam hal ini perbankan – untuk selalu mengedepankan aspek keamanan. Hal ini dikarenakan aspek tersebut – keamanan data dan online – menjadi perhatian utama para konsumen dalam bertransaksi online.

“60 persen dari pengguna khawatir mereka mungkin sedang dimata-matai melalui perangkat mereka, termasuk dipantau melalui webcam,” kata Dony Koesmandarin, Territory Channel Manager KLab SEA Indonesia di Jakarta, Selasa (29/3).

Ia pun mengungkap survei terbaru yang dilakukan Kaspersky Lab kepada lebih dari 11.000 konsumen terkait tren belanja online ini. Dimana berdasarkan survei tersebut, ditemukan bahwa lebih dari setengah (58%) responden akan menghindari untuk menggunakan penyedia jasa keuangan yang baru-baru ini mengalami insiden keamanan data.

Sementara 59 persen konsumen mengaku bahwa mereka akan memilih penyedia jasa keuangan atau bertransaksi dengan toko online semata-mata atas dasar langkah-langkah keamanan tambahan yang ditawarkan, untuk melindungi uang serta data-data pribadi yang bersifat sensitif.  Tentu saja, agar tidak dicuri dan digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Dony, ada banyak cara dilakukan peretas untuk untuk bisa mencuri data pribadi seseorang, dalam hal ini pengguna, salah satu cara yang paling simpel adalah dengan menggunakan sebuah software bernama keylogger.

Keylogger atau perekam ketikan sendiri merupakan sebuah perangkat baik perangkat keras atau perangkat lunak yang digunakan untuk memantau penekanan tombol papan ketik. Sebuah perekam ketikan biasanya akan menyimpan hasil pemantauan penekanan tombol papan ketik tersebut ke dalam sebuah berkas cecatat (log file). Beberapa perekam ketikan tertentu bahkan dapat mengirimkan hasil rekamannya ke surel tertentu secara berkala.

“Kalau dulu keylogger ini hanya berbentuk software, kini keylogger bahkan banyak dijual di toko-toko. Bentuknya seperti USB,” ungkapnya.

Dony menjelaskan, ada beberapa cara keylogger dapat menyebar di perangkat pengguna, salah satunya adalah ketika pengguna membuka file yang dilampirkan ke email dan menginstalnya.

“Keylogger dapat diinstal melalui naskah halaman web yang mengeksploitasi kerentanan browser. Program ini akan secara otomatis diluncurkan ketika pengguna mengunjungi situs yang terinfeksi,” imbuhnya.

XL Kini Tinggal Punya ‘Aset’ 4000 Menara

0

Telko.id – Ini kali ke dua XL menjual menaranya. Kali ini yang menjadi pemenang tender penjualan menara ini adalah Protelindo dengan angka Rp. 3,568 triliun. Yang dijual 2.500 menara. Sebelumnya, XL di akhir 2014 juga sudah menjual menaranya sebanyak 3.500 menara dan menghasilkan Rp. 5,6 triliun. Waktu itu, ‘aset’ XL itu dilepas ke Solusi Tunas Pratama (STP).

Angka yang diperoleh XL saat ini terlihat lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya. Padahal, pada 2014 lalu, dolar berada di angka Rp.10.000. Namun, Direktur Finance XL Axiata Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, puas dengan hasil penjualan saat ini. “Waktu itu, penjualan dengan STP tenancy rationya 1.5 kali, sedangkan penjualan pertama mencapai 1.67 kali,” ujar Adlan menjelaskan.

Nah, dengan penjualan menara ke dua ini, kini XL tinggal memiliki 4.000 menara saja dari yang asalnya 10.000 menara. Dengan jumlah menara sendiri yang tidak banyak itu, XL tetap yakin dapat memberikan layanan pada pelanggannya dengan baik. Apalagi, jika dilihat dari industri telekomunikasi saat ini yang persaingannya begitu ketat, memiliki menara sendiri tidak terlalu menguntungkan. Pasalnya, perlu banyak biaya Capex dan Opex yang tinggi. Sedangkan jika sewa, maka hanya biaya Opex saja yang berubah. Sedangkan Capex akan dipergunakan untuk peningkatan kapasitas layanan 4G LTE yang kini menjadi fokus bisnis XL.

Capex XL di tahun 2016 ini dipersiapkan hingga Rp.7 triliun. Angka tersebut semuanya akan dipergunakan untuk memaksimalkan layanan 4G LTE XL pada pelanggannya dan Information Technology (IT).

Dian Siswarini, Direktur Utama XL Axiata pada kesempatan sebelumnya mengatakan bahwa porsi capex untuk LTE dianggarkan sebesar 60% dan sisanya 40% untuk pengembangan IT.

Dari Capex itu juga, jika XL memutuskan untuk ikut lelang frekuensi 2100 MHz akan dipergunakan. “Jika kita menghitung dengan harga lelang yang lalu, maka dengan Capex yang sudah kita tentukan itu masih cukup cash flow kita,” ujar Adlan menjelaskan.

Jadi tidak perlu jual menara lagi. Adlan juga menegaskan bahwa 4.000 menara yang tersisa tidak akan dijual. Lebih lanjut, Adlan menjelaskan bahwa tidak akan menjual lagi menara dengan beberapa alasan. Pertama, menara yang tersisa itu untuk core network, kalau dijual bisa mengganggu konfigurasi jaringan. Kedua, setelah penjualan 2.500 menara ini, fundamental keuangan XL makin membaik.  (Icha)

Tjandra Lianto Cerita Soal TKDN Advan

0

Telko.id – Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) memang menjadi sebuah isu yang belum habis dibahas di Indonesia. Mulai dari vendor smartphone 4G, industri manufaktur dalam negeri hingga pihak regulasi, yakni Kementrian Komunikasi (Kemkominfo), Kementrian Perdagangan (Kemendag) hingga Kementrian Perindustrian (Kemenperin) masih menggodok formula perhitungan terkait TKDN ini.

Seperti diketahui, Pemerintah saat ini juga sedang menggalakan mengenai masuknya unsur software dalam perhitungan TKDN. Jika berkaca dari komentar I Gusti Putu Suryawirawan selaku dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Kementerian Perindustrian yang menyebutkan bahwa hadirnya unsur software dapat memberikan peluang bagi anak Indonesia untuk lebih berkreasi lagi.

“Dengan industri software itu anak-anak Indonesia akan lebih banyak terlibat di dalam industri ponsel ini, dengan adanya software lokal dalam skema TKDN, nantinya akan lebih banyak startup company yg bisa lebih berkreasi,”

Ia juga menambahkan, dalam era Jokowi-JK ini Pemerintah berencana menumbuhkan 1000 startup dalam waktu lima tahun. Dengan hadirnya unsur software ini akan banyak anak-anak Indonesia yang menjadi developer.

Sekedar informasi, Kemenperin telah mengeluarkan lima model skema TKDN bagi para vendor smartphone 4G, baik itu lokal dan multinasional.

Kelima skema ini yakni, skema 100 persen hardware, skema 100 persen software, kemudian komposisi 75 persen hardware dan 25 persen software, skema rasio rata dimana baik software maupun hardware memiliki masing-masing 50 persen, dan yang terakhir adalah hardware 25 persen serta software 75 persen.

Lantas, bagaimana dengan Advan? Vendor lokal yang satu ini memang cukup tertib dalam mengikuti peraturan Pemerintah yang satu ini. Terlihat sampai dengan saat ini mereka masih memenuhi aturan TKDN yakni 20% yang dibebankan oleh Pemerintah kepada vendor smartphone pada tahun ini.

Baca Juga : Ini Tanggapan Regulator Tentang TKDN

                    Soal TKDN, Ini Harapan Lenovo

                    TKDN Memberatkan OnePlus, Benarkah?

“Sampai dengan saat ini jumlah TKDN kita masih sekitar 20% dengan keseluruhannya adalah hardware,” ujar Tjandra Lianto, Marketing Manager Advan.

Disinggung mengenai lima skema TKDN yang dikeluarkan oleh Kemenperin, Tjandra mengungkapkan bahwa mereka lebih menyukai skema 100 persen hardware.

“Kalau kita sih lebih suka di hardware, karena memang basic nya kita sudah investasi di hardware, sehingga kita bisa mengembangkan tingkat komponen lokal kita,” ujarnya kepada tim Telko.id.

Tjandra juga mengunkapkan keinginannya dalam mendapatkan dukungan Pemerintah serta industri yang lain agar hardware mereka bisa lebih baik dan di produksi di Indonesia.

Terkait peningkatan TKDN menjadi 30% di tahun depan, Tjandra menjawab, “Yang pasti kita ingin komponen-komponen kita di ‘provide’ di lokal, seperti kamera, mainboard, dan komponen utama yang lain, “

Sekedar informasi, sampai dengan saat ini komponen utama dari perangkat Advan masih diimpor dari luar negeri dan pabrik mereka hanya melakukan perakitan di Indonesia.

“Kalau komponen utamanya sudah bisa diproduksi di lokal, tentu tingkat TKDN nya akan menjadi lebih besar,” tambah Tjandra.

Berbicara mengenai jumlah produksi dari pabrik mereka, Tjandra menjawab dalam satu bulan mereka mampu memproduksi 500 ribu produk. Tjandra juga mengungkapkan, jikalau pabrik mereka mampu ditingkatkan kapasitasnya hingga 600 ribu perbulan.

Meskipun mengharapkan peningakatan TKDN dari sisi hardware, Advan juga tengah berfokus untuk sisi software mereka.

“Software masih terus kita kembangkan, kita sedang bekerjasama dengan berbagai source di Indonesia serta kita libatkan juga industri yang dapat mendevelope software,” tambah Tjandra.

Advan juga saat ini sedang mendevelope Advan Store, yakni software khusus yang ekslusif untuk pengguna Advan agar mempermudah pengguna Advan dalam mengunduh aplikasi, pasalnya mereka tidak memerlukan akun email untuk mengunduh berbagai aplikasi.

Hadirkan Tablet 4G, Ini Jumlah TKDN Advan

0

Telko.id – Vendor smartphone Lokal yakni Advan, kembali menghadirkan inovasi mereka berbentuk tablet Advan I7. Tablet berukuran tujuh inci ini hadir dengan konektivitas 4G untuk mengakomodir kebutuhan pengguna dalam bekerja dan bermain di jaringan generasi keempat. Selain 4G, Advan juga memberikan fitur unik untuk kesehatan.

Tjandra Lianto, Selaku Marketing Director Advan mengungkapkan, “berdasarkan data dari Nielsen, pada tahun 2015 generasi millenial menyumbang 58 persen dari total penggunaan Internet di Indonesia, “

Tjandra menambahkan, secara rata-rata, diatas 2 jam mata manusia terpapar cahaya biru yang dapat mengganggu kesehatan serta merusak mata. Berkaca dari hal ini, Advan I7 juga dihadirkan dengan fitur eye protection yang dapat memfilter cahaya biru pada tablet.

Eye Protection sendiri merupakan teknologi nano optical film pertama pada tablet. Fitur ini sejatinya bukanlah pada software, melainkan pada layar tablet Advan I7 yang mampu mereduksi sinar biru Advan.

Berbicara mengenai konektivitas 4G nya, Advan I7 hanya mampu mendukung konektivitas 4G FDD. Namun, pada saat peluncurannya tidak terlihat ada nama operator yang membundling layanan mereka dengan tablet ini.

“Sebenarnya kita telah berbicara dengan tiga operator 4G FDD, namun sampai dengan saat ini belum ada yang bekerjasama dengan kami terkait Advan I7, hal positifnya adalah kami bisa membebaskan calon pembeli kami untuk memilih operator 4G mana yang mereka sukai,” ujar Tjandra pada saat Peluncuran Tablet Advan I7 di Jakarta (29/3).

Sementara itu, untuk Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sendiri, Tjandra menyebutkan bahwa sampai dengan saat ini vendor lokal tersebut baru mencapai 20% untuk TKDN.

 Sedikit mengenai spesifikasi, Advan I7 ditenagai oleh prosesor Quadcore dengan kecepatan 1.0 GHz serta dukungan GPU Mali 720 untuk aktivitas multimedia pengguna. Sementara untuk RAM, pada Tablet ini memiliki RAM hanya 1 GB saja, sehingga sangat dihawatirkan ketika bermultitasking.

Bukan hanya itu, dengan dukungan kapasitas baterai yang hanya menyentuh angka 2500 mAh, dirasa belum cukup untuk mengakomodir kebutuhan pada tablet di masa sekarang ini. Pasalnya, untuk smartphone saja, sudah banyak vendor yang menyediakan kapasitas baterai yang cukup besar, mulai dari 3000 mAh hingga 5000 mAh.

Namun, dukungan dari beberapa fitur seperti OTG, Indonesian Voice Typing, serta gesture akan membantu aktivitas para pengguna mereka. Mengenai harga, Advan membanderol Tablet ‘anyar’ mereka pada angka Rp.1.349.000,-

Protelindo, Pembeli 2500 Menara Punya XL

0

Telko.id – Setelah di setujui dalam RUPS lalu, tentang penjualan menara, akhirnya XL menentukan bahwa yang Protelindo yang menjadi pembeli 2500 menaranya. Total nilai pembelian itu sebesar Rp.3.568 Triliun. Pembayaran transaksi seluruhnya dalam bentuk tunai tanpa komponen lain, baik saham maupun pembayaran yang ditangguhkan.

Bersamaan dengan itu, ada penandatangan Perjanjian Induk Sewa Menara sebanyak 2.432 buah. Dimana dalam perjanjian tersebut akan di sewa sebanyak 10 tahun. Dengan harga Rp. 10 juta/tower/tahun. Untuk yang Rp.8 juta/tower/tahun dibayar secara fixed. Sedangkan yang Rp.2 juta/tower/tahun akan disesuaikan dengan inflasi dengan maksimal 7%.

Langkah penjualan menara ini akan menjadi penghematan bagi XL akan belanja modal dan biaya operasioal. Sisanya, tidak akan disewa balik karena memang XL tidak memiliki equipment di area tersebut. Sebagai tambahan informasi, di area tersebut adalah site menara milik Axis dulu. Harga sewa tersebut juga sudah termasuk biaya manage service yang akan dilakukan oleh Protelindo selama watu sewa.

Proses penjualan menara ini diawali dengan penyertaan bagi para peminatnya sebesar Rp. 1.2 miliar. Hal ini dilakukan agar dapat menjaring peminat serius. Terlebih lagi, setelah penyertaan tersebut, perusahaan yang berminat akan diberikan dokumen tentang informasi menara yang dimiliki oleh XL.

“Dengan transaksi ini, Protelindo dapat menggunakan kemampuan neraca keuangannya untuk melakukan pembelian menara. Dilain pihak, XL dapat memonetisasi towernya dengan harga lebih baik. Dengan penambahan 2500 menara ini maka jumlah menara kami meningkat menjadi 15.000 sementara kami tetap dapat menekan tingkat hutang pada level rendah,” ujar Aming Santoso, direktur Utama Protelindo menjelaskan.

Hasil penjualan tower ini akan digunakan oleh XL untuk pembayaran hutang. Termasuk juga hssil dari right issue. Di mana, tahun 2016 ini, total hutang jatuh tempo dari XL sebesar Rp.3.933 triliun, dari total hutang hingga tahun 2022 sebesar Rp.26.953 triliun.

Saat ini, XL masih memiliki 4000 menara lagi. Dan hingga saat ini masih belum ada rencana dijual. “Sisa tower yang kami miliki sebanyak 4000 menara itu, tidak akan kami jual, tetap akan menjadi aset XL,” ujar Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, Direktur and Chief Finance XL menjelaskan (Icha)

TKDN Memberatkan OnePlus, Benarkah?

0

Telko.id – Peraturan TKDN Indonesia yang memiliki lima skema ini ternyata cukup memberatkan OnePlus sebagai produsen smartphone. Hal ini tergambar dari pernyataan Shinta Hawa Thandari, Community Manager OnePlus Indonesia yang menyatakan bahwa peraturan ini cukup membuat OnePlus kesulitan.

Baca Juga : Soal TKDN, Ini Harapan Lenovo

Bertempat di Conclave, Jakarta, Shinta mengungkapkan, “Sebenarnya TKDN itu maksud tujuannya baik untuk lebih ada sumber kerja bareng di Indonesia dengan pabrikan lokal, cuma masalahnya untuk OnePlus yang masih terhitung sebagai startup company apalagi di global kami baru berjalan 2 tahunan, itu pasti akan agak memberatkan, apalagi di Indonesia yang marketnya masih belum banyak dan berbeda dengan merek-merek flagship yang lain yang modalnya sudah banyak,” ujarnya pada saat peluncuran resmi OnePlus X (28/3).

Namun, Shinta menyebutkan bahwa meski memberatkan mereka tetap berusaha menyesuaikan dengan regulasi yang ada dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

Sekedar informasi, sampai dengan saat ini formula perhitungan TKDN di Indonesia juga masih terbilang simpang siur. Formula disini bukanlah ketentuan mengenai 20% di tahun ini dan 30% di tahu depan, melainkan skema dari kandungan 20 dan 30 persen tadi, apakah full software atau hardware.

Sementara itu, Lima Skema perhitungan TKDN yang digulirkan oleh Kemenperin seperti, skema 100 persen hardware, skema 100 persen software, kemudian komposisi 75 persen hardware dan 25 persen software, skema rasio rata dimana baik software maupun hardware memiliki masing-masing 50 persen, dan yang terakhir adalah hardware 25 persen serta software 75 persen.

Disinggung mengenai Skema 100 persen software, yang mana model ini tidak mengharuskan perusahaan berinvestasi dalam jumlah yang sangat besar seperti halnya membangun pabrik. Shinta menyebutkan, “Untuk software sepertinya masih belum final sih ya, cuma jika nanti 100 persen software dimasukan kedalam penghitungan TKDN ya ‘why not’ kita bisa bikin OS Oxygen versi Indonesia,”sebutnya.

Dalam sesi doorstop dengan tim Telko.id, Shinta juga menyebut jika pondasi peraturan di Indonesia masih ab-abu dan belum jelas. “Seperti yang tadi dibilang, bahwa regulasi tuh terus berubah kan, misalkan untuk postel aja kita apply bulan November itu reguasinya sudah berubah lagi, jadi sebenarnya pondasi peraturan di Indonesia masih kaya abu-abu dan masih belum ‘harus kaya gini-gini’,”tambahnya.

Namun, Shinta mengungkapkan jikalau OnePlus selalu berusaha dalam mengikuti semua ketentuan di regulasi Indonesia. “Kita gak pernah menutup diri dan kita selalu membuka atas ide-ide yang baru dan kit selalu mengikuti segala ketentuan regulasi yang ada di Indonesia juga,”

Terkait dengan smartphone terbaru OnePlus x yang hadir di Indonesia dengan jaringan 3G namun mampu berjalan di 4G, Shinta mengklaim bahwa mereka tidak ‘mengakali’ TKDN karena memang mereka menghadirkan smartphone 3G di Indonesia, hanya saja jika para pengguna mereka bisa ‘menyulap’ smartphone tersebut menjadi 4G dan bukan menjadi persoalan untuk OnePlus karena meski di root sekalipun, garansi dari OnePlus tidak akan hangus.