spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1670

Pemerintah India Akan Beri Insentif Bagi Perusahaan Yang Bangun IoT

0

Telkio.id – revenu dari internet of things memang masih belum jelas benar akan seberapa besar. Namun, semua pihak memastikan bahwa pada era itu peluang bisnisnya sangat besar dan tentu diharapkan juga sejalan dengan revenue yang akan diperoleh. India yang demikian besar negaranya melihat bahwa sangat membutuhkan berbagai device untuk saling terhubunga. Untuk itu, dalam rangka mempersiapkan IoT ini, pemerintah India akan mendorong agar semuanya dapat berjalan mulus dan akan memberikan insentif bagi perusahaan pemerintah maupun swasta yang mengembangkan IoT ini.

Setidaknya, saat ini, India akan membangun 10 IoT Hub antara di seluruh wilayah nya. Baik oleh perusahaan pemerintah maupun swasta. Itulah bentuk dukungan yang pemerintah India lakukan menuju transformasi yang dilakukan negara tersebut untuk menjadi Silicon Corridor.

Hub itu sendiri akan dimulai di kota besar terlebih dahulu. Investasi untuk melakukan itu semua dapat berasal dari investasi swasta maupun public private partnership, kerjasama swasta dan pemerintah. Pemerintah India pun berjanji akan memberikan insentif setelah peraturan tentang IoT 2016 – 2020 ini dikeluarkan.

IoT akan menghubungkan antara jaringan secara fisik dengan device dan peralatan elektronik, software, sensor serta lainnya. Selain IT dan elektronik, social mobility, analisa dan cloud juga akan didorong menuju era IoT ini.

Lokasi dari Hub ini sendiri akan ditentukan dalam waktu dekat. Disesuaikan dengan kebutuhan. Dorongan dari pemerintah terutama akan ditujukan investasi di R&D, IoT devices dan manufacturing, software applications Analisa dan lokasi perkantoran. Termasuk juga untuk infratrukturnya,” ujar A. Srinivasa Moorthy, CEO of AP Electronics & IT Agency seperti yang dikutip dari The Hindu.

Pemerintah India pun akan memberikan lahan. Hanya saja, si penerima lahan tersebut harus menciptakan 250 tenaga pekerja untuk setiap acre nya. Jika gagal dan tidak memenuhi syarat maka tidak akan mendapatkan manfaat dari insentif keuangan. Peruntukan lahan tersebut pada investor IoT akan ditentukan oleh Komite Konsultatif Industri IT.

Diantara insentif yang diberikan, salah satunya adalah pemerintah akan menawarkan 10% dari modal dan susidi investasi hingga Di antara membunuh insentif, GO mengatakan pemerintah akan menawarkan 10 persen dari modal dan subsidi investasi hingga Rs.3 crore. Kemudian juga akan membebaskan bea listrik selama lima tahun.

Pemerintah juga telah berjanji akan memberikan penggantian 50 per cent untuk sewa atau dikenakan maksimum Rs.10 lakh untuk waktu tiga tahun, 25 per cent bandwidth/internet hingga Rs.15 lakh selama tiga tahun dan biaya listrik tetap di Re.1 per unit . Perusahaan IoT ini juga akan dibebaskan di bawah AP Pengendalian Pencemaran Undang-Undang. IoT akan diperlakukan sebagai layanan penting. “Kami berharap untuk AP akan berhasil dalam meraih peluang di IoT jika semua janji yang dibuat oleh pemerintah diimplementasikan dengan baik,” ujar Naresh Kumar , wakil presiden IT Park Association Rushikonda. (Icha)

2 Dari 3 Pelanggan Tidak Puas dengan Layanan Internet di Kanada

Telko.id – Tarif lagi-lagi menjadi isu dalam penggunaan internet. Di Kanada misalnya, meskipun semakin banyak orang surfing internet di negara tersebut, bahkan lebih dari sebelumnya, toh tidak menjamin harga layanan bisa lebih murah. Alhasil, hanya satu dari tiga pengguna internet di Kanada yang puas dengan layanannya.

Canadian Radio-television and Telecommunications Commission (CRTC), lewat penelitian terbarunya bahkan menyebut, biaya tinggi mendorong 20 persen ​​dari pengguna internet untuk mengurangi penggunaan internet mereka, meskipun aktivitas online telah menunjukkan peningkatan tajam selama setengah dekade terakhir.

Sementara itu, survei EKOS menemukan bahwa sekitar 33 persen dari warga Kanada puas dengan biaya koneksi internet di rumah mereka dan sekitar jumlah yang sama tidak senang dengan kecepatan dan kehandalan dari layanannya. Kurangnya kapasitas pada penyedia internet Kanada dianggap responsen menjadi salah satu penyebabnya.

Direktur kampanye OpenMedia, Josh Tabish mengatakan bahwa akses Broadband sudah dipandang sebagai layanan penting oleh sebagian besar warga Kanada. Dan fakta bahwa hanya satu dari tiga orang yang puas dengan biaya dan kualitas layanan adalah hal yang sangat disayangkan. Meskipun tidak mengherankan, mengingat penyedia Internet incumbent mendominasi lebih dari 90 persen pasar di Kanada.

“Penelitian demi penelitian menegaskan bahwa Kanada menjadi salah satu negara dengan biaya tertinggi di dunia untuk layanan media,” kata Tabish seperti dilansir Telecomtechnews, Senin (4/4).

Tabish menambahkan, hal ini telah diperjelas dalam pengajuannya ke CRTC atas nama Kanada. Data OECD menegaskan Kanada berada di peringkat 30 dari 34 negara dalam keterjangkauan broadband.

“Saat bicara tentang kecepatan, layanan dengan kecepatan lebih tinggi di negara lain tidak tersedia di sini. Mengapa? Karena pasar layanan Internet kita pada dasarnya adalah sebuah oligopoli dengan pilihan terbatas,” imbuhnya.

Laporan lain dari Commissioner for Complaints for Telecommunications Services (CCTS) mengungkap lebih dari 4500 pengaduan telekomunikasi dari Agustus 2015 hingga Januari 2016 bersama dengan 120 pelanggaran yang dikonfirmasi oleh Wireless Code. Tiga isu teratas adalah informasi yang menyesatkan tentang persyaratan layanan, bersama dengan biaya yang salah dan layanan yang tidak memadai. Bell bersama dengan anak perusahaannya, Virgin menyumbang 42,4 persen dari semua pengaduan yang diterima oleh CCTS.

FCC Tidak Akan ‘Gubris’ Netflix Terkait Kualitas Layanan

0

Telko.id –  Penyedia konten film Netflix dilaporkan menurunkan kualitas video konten miliknya. Terkait hal itu, Federal Communication Commission Amerika Serikat FCC rupanya tak akan menginvestigasi Netflix terkait pengurangan kualitas video yang dialirkan ke jaringan mobile operator seperti AT&T dan Verizon.

Penyedia video mengatakan pekan lalu, ia telah “Throttling” atau mencekik pengiriman streaming video ke sebagian besar operator nirkabel di seluruh dunia, termasuk AT&T dan Verizon selama lebih dari lima tahun. Hal itu dikarenakanoleh  data caps. Namun menurut Chairman FCC Tom Wheeler, tindakan Netflix itu di luar aturan net neutrality FCC, yang diadopsi sejak tahun lalu.

Ia juga menambahkan, FCC tidak mengatur “Egde Providers” atau websites. Pasalnya, fokus mereka lebih kearah jaringan atas layanan yang dikirimkan. Di sisi lain, kasus ini membuat senior executive vice president AT&T Jim Cocconi merasa geram atas tindakan yang dilakukan Netflix tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari mereka.

Sementara respon berbeda ditunjukkan oleh Verizon, yang mengatakan itu bukan throttle atau memanipulasi konten video itu sendiri. “Kami memberikan konten video pada resolusi yang disediakan layanan host, apakah itu Netflix atau penyedia lainnya,” kata juru bicara kepada Wall Street Journal yang dilansir mobileworldlive, Senin (4/4).

Netflix, yang blak-blakan mendukung net neutrality menambahkan, tak membatasi kualitas video untuk dua operator Amerika Serikat lainnya, T-Mobile US dan Sprint, karena secara historis, kedua perusahaan memiliki lebih banyak kebijakan yang bersahabat. Meski begitu, kualitas video berkurang di jaringan T-Mobile US ketika konsumen mengaktifkan layanan video streaming Binge On, yakni sebuah layanan streaming milik T- Mobile.

Kritik terhadap Netflix juga menyebutkan bahwa perusahaan streaming ini seharusnya lebih transparan dalam intervensi ke debat net neutrality FCC, mengingat pendekatan campuran sendiri ke traffic management. Dilaporkan oleh Reuters, executive director dari Advocacy Group Consumer Action, Ken McEldowney mengklaim bahwa Netflix telah melakukan hal yang kurang transparan dengan konsumen, tetapi laporan ini juga membingungkan karena pengaturan Netflix juga memungkinkan pengguna memilih preference mereka sendiri, apakah itu kualitas gambar atau data usage.

“Kebanyakan konsumen yang mengalami masalah video playback cenderung tak menyalahkan penyedia broadband mereka,” tambah McEldowney.

FCC Buat Aturan Perlindungan Data Konsumen

0

Telko.id – Federal Communications Commission (FCC) selakilu pihak regulator di Amerika Serikat mengumumkan sebuah proposal yang melarang ISP untuk mengumpulkan data pengguna tanpa persetujuan. Hal ini ditujukan untuk memastikan privasi pengguna internet broadband.

Proposal FCC jelas menyatakan bahwa ISP dapat mengumpulkan dan berbagi data pengguna setelah mendapatkan persetujuan yang diperlukan dari pengguna broadband tersebut.

Jika proposal tersebut dijadikan  peraturan, itu akan menjadi pukulan besar pada operator jaringan telekomunikasi seperti AT & T, Verizon, Comcast, antara lain. Namun, peraturan tersebut tidak akan mempengaruhi perusahaan media sosial seperti Google, Facebook, Twitter, dan lainnya.

Proposal telekomunikasi ini diusulkan oleh Ketua FCC Tom Wheeler, yang memenangkan persetujuan awal dengan  meminta penyedia broadband untuk mendapatkan persetujuan konsumen, mengungkapkan pengumpulan data, melindungi informasi pribadi dan melaporkan pelanggaran tetapi tidak akan melarang praktik pengumpulan data, seperti dilaporkan oleh TelecomLead (4/4).

“Proposal ini akan memberikan semua konsumen sebuah alat yang dibutuhkan untuk membuat keputusan tentang bagaimana ISP menggunakan dan berbagi data mereka, dan keyakinan bahwa ISP menjaga data pelanggan mereka aman,” kata Wheeler dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Kamis.

Bertentangan dengan kepentingan beberapa pelanggan, penyedia layanan broadband saat ini mengumpulkan data konsumen tanpa persetujuan dan beberapa menggunakan data tersebut untuk iklan bertarget.

Namun, FCC tidak akan memberlakukan aturan privasi tersebut ke ke situs jejaring sosial seperti Twitter, Google atau Facebook.

Berdasarkan aturan tersebut, nantinya penyedia perlu untuk memberitahu konsumen informasi apa yang sedang dikumpulkan, digunakan untuk apa dan kapan akan diberikan ke pengguna. Mereka juga perlu untuk melindungi data di bawah standar keamanan data. Konsumen juga perlu diberitahu mengenai pelanggaran data mereka paling lambat 10 hari setelah ditemukan.

Lembaga pemeringkat Moody Investors Services mengatakan, bahwa  sebelumnya usulan untuk memberlakukan pembatasan privasi di penyedia broadband seperti Verizon Communications, AT & T, Comcast adalah hal yang negatif.

Hal senada juga dilontarkan oleh kelompok advokasi Free Press yang menyambut usulan FCC dan mengatakan komisi harus mempertimbangkan isu-isu lain dalam menetapkan aturan termasuk pay-for-privacy, inspeksi ‘deep-packet’, layanan upselling, kompetisi dan keamanan data.

Sementara itu, The National Cable and Telecommunications Association mendesak FCC untuk mengadopsi pendekatan teknologi netral dengan memberikan perusahaan akses ke informasi yang sama ke pengguna yang sama.

Lain halnya dengan Consumer Watchdog, yang memuji usaha FCC untuk mulai membuat aturan yang akan melindungi privasi pelanggan broadband. Consumer Watchdog mengatakan aturan harus membatasi ISP dari ‘recharge’ data untuk rencana perlindungan data pelanggan.

Mungkin apa yang dilakukan oleh FCC perlu dicontoh oleh Pemerintah Indonesia. Pasalnya, data pribadi konsumen merupakan sebuah hal yang sensitif dan terkesan rahasia.

Inilah Bentuk Kerjasama Sigfox dan Microsoft

0

Telko.id – Sigfox, telah bermitra dengan Microsoft yang terintegrasi dengan Azure IOT Hub untuk kemampuan analisis yang lebih cerdas.

Dianggap oleh banyak orang sebagai enabler besar untuk IOT, analisis data yang akan muncul akan memegang peranan kunci untuk mendrive intelijen ke dalam mesin untuk konektivitas mesin dan otomatisasi jaringan. Sigfox mengklaim integrasi ini akan tersedia untuk semua pelanggan dan menyediakan sarana yang aman untuk mengendalikan perangkat IOT. Sekedar informasi, kolaborasi ini akan memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan manfaat penuh dari kemampuan analisis data milik Microsoft Azure.

Sigfox, yang baru-baru ini mengumumkan kesepakatan luas dengan telco konglomerat Altice, mengatakan kemampuan Azure untuk mengumpulkan, menganalisis dan memvisualisasikan data dalam jumlah besar di berbagai perangkat dan aplikasi. Stuart Lodge, EVP of sales and partners Sigfox, mengatakan bahwa kemitraan merupakan tonggak penting bagi operator yang ingin mengadopsi platform.

“Integrasi dengan Microsoft Azure IOT Hub di Sigfox Cloud merupakan langkah kunci dalam evolusi dari IOT, karena menyediakan pelanggan dengan alternatif yang bagus untuk berinvestasi dengan sumber daya dalam jumlah besar  untuk mengembangkan dan mengelola penyimpanan data dan manajemen sendiri, kami sangat gembira bekerjasama dengan Microsoft sebagai bagian dari ekosistem global kami, dan akan memberdayakan efisiensi pelanggan kami pada alat manajemen aset serta menurunkan biaya mereka.” Tandasnya.

Sementara itu, Microsoft’s corporate VP of developer platform, Steve Guggenheimer, mengatakan bahwa kemitraan akan sangat diperlukan dalam pertumbuhan IOT yang begitu cepat.

“Perkembangan yang cepat dari perangkat yang terhubung dapat meningkatkan tantangan dalam menyatukan sumber data yang berbeda, penanganan skala aliran agregat, dan memastikan berbagai platform dan protokol dapat bekerja sama secara harmonis,” seperti dilaporkan oleh Telecom (4/4).

Ia menambahkan, bahwa Kolaborasi mereka dengan Sigfox akan memungkinkan pelanggan Microsoft Azure IOT untuk lebih mudah mengintegrasikan perangkat yang terhubung ke jaringan Sigfox melalui solusi yang ada.

FAST Luncurkan Aplikasi Untuk Alumni Telkom University

Telko.id – Di era yang serba digital memang menuntut setiap manusia untuk berinovasi dan berubah guna menyesuaikan zaman. Kemajuan teknologi juga nyatanya sangat membantu segala macam aktifitas manusia, terutama untuk berinteraksi baik itu dengan keluarga, rekan kerja ataupun komunitas.

Kemajuan teknologi ini juga ternyata dimanfaatkan secara baik oleh FAST, yakni sebuah komunitas para alumni dari Telkom Univesity. Untuk berkomunikasi dan saling berinteraksi sesama anggotanya, FAST menghadirkan sebuah aplikasi yang mampu mempermudah dan mengakomodir kebutuhan komunikasi para penggunanya.

Adalah Jimmy Agueno, selaku calon Presiden FAST periode mendatang yang memberikan sumbangsih nya untuk para anggota FAST melalui aplikasi yang memang dipersembahkan untuk alumni Telkom University. Jimmy sendiri telah melakukan penyerahan aplikasi FAST kepada presiden FAST yakni Henry HC.

Hadirnya FAST Apps sendiri lebih dimaksudkan sebagai media komunikasi bagi seluruh anggota FAST, agar mampu menjangkau semua angggota FAST di setiap wilayah di Indonesia ataupun mereka yang merantau ke luar negeri.

one Commitment 2Sedikit mengenai FAST APPS, aplikasi yang secara khusus dikembangkan untuk alumni Telkom University ini bekerja dengan platform Komune, dimana Komune merupakan platform mobile community yang merupakan hasil karya alumnni Telkom University yang tergabung dalam #OneCommitment Group.

Sampai dengan saat ini aplikasi FAST baru bisa didownload melalui www.kanfast.com mulai hari Senin, 4 April 2016. Tapi kedepannya, aplikasi ini akan tersedia di Google Playstore dan menyusul toko aplikasi lainnya. Lepas dari itu, hadirnya aplikasi ini semakin menegaskan bahwa para developer lokal Indonesia ternyata tidak kalah dengan developer luar negeri.

Jadi Wadah Alumni, FAST Bagi-Bagi Beasiswa

Telko.id – FAST sebagai wadah bagi para Alumni dari Telkom University, nyatanya tidak hanya memberikan manfaat bagi para alumni dan anggotanya saja, melainkan juga bagi para mahasiswa di Telkom University. Hal tersebut tergambar dari bantuan yang diberikan oleh Organisasi Alumni ini kepada dua orang mahasiswa Telkom University yang kurang beruntung.

Sekedar informasi, bantuan ini sejalan dengan program FAST yang membantu sesama almamater Telkom University.

“FAST Memberikan Bantuan kepada 2 mahasiswa Telkom University yg kurang beruntung sebagai salah satu implementasi program FAST yang bisa memberikan manfaat tidak hanya kepada alumni, tetapi jg kepada mahasiswa,” berdasarkan keterangn Pers yang diterima oleh tim Telko.id.

Dalam kesempatan ini, hadir juga Presiden FAST saat ini, Henry HC yang juga memberikan bantuan biaya kuliah kepada 2 mahasiswa Telkom University secara simbolis.

Kedua Mahasiswa yang mendapatkan bantuan dari FAST adalah yasin Nur Kholis, yakni seorang mahasiswa dari fakultas industri kreatif yang berasal dari angkatan 2014. Sementara mahasiswa lain yang mendapatkan bantuan dari FAST adalah Teo Arif Wibowo yakni seorang mahasiswa dari Fakultas Teknik Elektro Telkom University.

Dipiihnya kedua mahasiswa ini juga bukan tanpa alasan. Pasalnya kedua mahasiswa ini terancam tidak bisa melanjutkan kuliah mereka. Selain tu, kedua mahasiswa ini juga dinilai cukup berprestasi dan cukup membanggakan bagi almamater kampus.

Berbicara mengenai program ini, sejatinya program dukungan untuk para mahasiswa ini telah berjalan sejak awal, karena program ini juga merupakan program kerja dari FAST. Pihak FAST juga menyebutkan bahwa kedepannya, program ini akan lebih dioptimalkan lagi dengan lebih banyak penyaluran bantuan kepada para mahasiswa dan juga alumni yang membutuhkan.

Sekedar informasi, FAST sendiri didirikan pada tahun 2007 silam, wadah para alumni Telkom University ini (dulu STT telkom) pertama kali diumumkan secara resmi sebagai Perkumpulan Alumni STT Telkom oleh Ketua STT Telkom kala itu, Bapak Husni Amani dan disaksikan oleh Ketua Yayasan Pendidikan Telkom (YPT) Bapak Herry Kusyaeri dan Direktur Utama PT.Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Bapak Rinaldi Firmansyah. Dengan peluncuran tersebut, disepakati secara bersama-sama bahwa tanggal 24 Maret menjadi ulang tahun dari FAST.

Bukan hanya itu, para Alumni yang juga anggota dari FAST banyak bekerja di beberapa operator besar di Indonesia. Alumni Telkom University juga tersebar di Instansi pemerintahan serta berbagai vendor jaringan.

Huawei Masih Unggul dari Ericsson

0

Telko.id – Raksasa teknologi Cina Huawei terus berada di depan pesaing utama mereka yakni Ericsson. Hal tersebut tergambar dari pendapatan tahunan di bisnis operator untuk tahun 2015.

Huawei menghasilkan $ 35.94 miliar pendapatan atau sekitar 21 persen dari bisnis operator. Dengan penyumbang angka terbanyak serta dukungan oleh penawaran 4G dengan operator jaringan telekomunikasi. Untuk total pendapatan Huawei sendiri pada tahun lalu adalah $ 61 miliar.

Sementara itu, Ericsson sebagai raksasa teknologi asal Swedia, menghasilkan total pendapatan $ 30.38 miliar atau sekira 8 persen.

Ericsson, yang mengumumkan laba tahunannya pada 27 Januari ini, tidak bisa mengambil puncak kepemimpinan dari Huawei dalam hal pendapatan meskipun banyaknya tawaran dan akuisisi yang mereka lakukan di tahun lalu.

Perbandingan pendapatan

Huawei menghasilkan pendapatan $ 36 miliar dari operator. Sementara capaian Ericsson hanya terpaut beberapa angka saja di titik $ 31 miliar pendapatan dari jumlah bisnis operator mereka.

Huawei mengatakan bahwa Carrier, Enterprise, dan Bisnis Consumer Groups menghasilkan $  60. 8 miliar atau sekira 37 persen dalam pendapatan tahunan. Sementara bisnis Enterprise menghasilkan $ 4,3 miliar, seperti dilaporkan oleh TelecomLead (1/4).

Sekedar informasi, Bisnis Enterprise Huawei mengalami pertumbuhan di sektor public safety, keuangan, transportasi, dan energi.

Sedangkan Consumer Groups Huawei melaporkan peningkatan 73 persen dalam pendapatan untuk satuan dollar Amerika Serikat dan berada di angka $19,9 miliar.

Pada tahun 2015, Huawei menginvestasikan sekitar 15 persen dari pendapatan tahunan mereka, yakni sekitar $ 9.2 miliar untuk ranah R&D (Research and Development)

CEO optimis

Sementara itu, jika melihat pernyataan dari kedua CEO mereka,  terlihat nada optimis dikeluarkan oleh kedua CEO vendor ini.

Hans Vestberg, Presiden dan CEO Ericsson mengatakan, “Pada tahun 2015, kami memiliki kemajuan yang baik di semua bidang pertumbuhan yang kami targetkan, dan kami terus berinvestasi dalam rangka membangun kepemimpinan. Pertumbuhan penjualan mencapai lebih dari 20 persen,” ujarnya.

“Kemitraan dengan Cisco, yang diumumkan pada kuartal tersebut, akan memberi kita solusi jaringan end-to-end dengan portofolio IP lengkap. Sebagai hasil dari kemitraan, kami akan memperluas pasar kami dan berharap untuk menghasilkan $ 1 miliar atau lebih dari penjualan tambahan pada tahun 2018. penjualan tambahan diharapkan meningkatkan pendapatan operasional pada tahun 2016 ini,” tutup Vestberg.

Sementara itu, Guo Ping, deputy chairman and rotating CEO of Huawei mengatakan, “Pertumbuhan kami merupakan dampak langsung dari fokus strategis dan investasi besar dalam bisnis inti kami. Selama tiga sampai lima tahun ke depan, kami akan berkonsentrasi pada peningkatan konektivitas, memungkinkan pengembangan industri vertikal, dan mendefinisikan ulang kemampuan jaringan,” ujarnya.

Demikianlah sedikit laporan mengenai dua vendor raksasa ini, bagaimana dengan yang lainnya?

India Segera Beri Lampu Hijau Untuk MVNO

0

Telko.id – Laporan Research and Markets yang mengatakan bahwa MVNO akan menjadi trend di Asia, mengingat skema ini akan sangat cocok untuk diimplementasikan di kawasan negara berkembang, sepertinya mulai menampakkan hasil. Buktinya di India. Negara ini dikabarkan akan segera mengeluarkan lisensi virtual baru untuk perusahaan di negaranya dalam beberapa minggu. Itu artinya, negara ini hanya tinggal menghitung hari sebelum akhirnya memberi lampu hijau pada operator virtual untuk masuk ke sektor mobile.

Menurut laporan surat kabar setempat, Telecom Commision, yang beroperasi di bawah Departemen Telekomunikasi telah menyetujui rekomendasi yang dikeluarkan oleh TRAI, selaku regulator untuk memberi lisensi pada operator jaringan mobile virtual (MVNO).

Mekipun aturan baru ini masih memerlukan persetujuan dari menteri telekomunikasi India, namun diharapkan akan dapat diimplementasikan “dalam beberapa minggu,” ungkap sumber yang sama.

Seperti diketahui, beberapa perusahaan non-telko di India telah memiliki kaki di pasar telekomunikasi. Seperti dijelaskan Economic Times baru-baru ini, retailer Future Group telah memiliki kemitraan dengan Tata Teleservices yang memungkinkannya untuk menawarkan pelanggan airtime gratis dengan belanja mereka. Airtime sendiri, seperti diketahui, merupakan durasi atau lamanya panggilan yang dihitung sejak saat Anda berhasil melakukan panggilan hingga Anda menutup telepon.

Perusahaan ini memiliki sekitar 5 juta pengguna dari skema itu dan melihat peluang besar untuk memperpanjang dengan mendapatkan lisensi MVNO. Seperti dilansir dari Total Telecom, Jumat (1/4), mereka pun berharap akan dapat ‘menarik’ 20 juta pelanggan untuk mendaftar, kata CEO Kishore Biyani.

Dan ada banyak kelompok ritel besar lainnya di negeri ini yang juga bisa mendapatkan keuntungan dari lisensi MVNO baru.

Berdasarkan aturan baru, pemegang lisensi virtual akan dapat menawarkan layanan telekomunikasi yang difasilitasi oleh operator penampungnya, kata Hindustan Times. Mereka juga akan dapat bekerja dengan beberapa operator tuan rumah.

Laporan tersebut mengklaim bahwa MVNO diharapkan dapat membantu operator dalam mengurangi biaya pemasaran dan penjualan mereka, serta berbagi biaya operasional. Hal ini tentunya bisa sangat membantu untuk operator pelat merah India seperti BSNL dan MTNL, yang tertarik untuk mengurangi biaya, namun perlu mendapatkan lisensi terpadu.

Kevin Russell Akan Jadi Bagian dari Telstra

0

Salah satu eksekutif telekomunikasi paling senior di Australia, Kevin Russell, akan bergabung dengan Telstra pada bulan ini sebagai Group Executive Telstra Retail. Dalam peran baru ini, ia akan memimpin perusahaan konsumen, bisnis, toko dan product Function.

Russell menggantikan Karsten Wildberger, yang mengundurkan diri pada Desember lalu untuk kembali ke Eropa.

Wildberger resmi meninggalkan Telstra pada tanggal 31 Maret, dan pengaturan jangka pendek akan diakhiri hingga Russell memulai pekerjaanya pada akhir April mendatang.

Russell, yang saat ini berusia 49 tahun, memiliki kekayaan pengalaman telekomunikasi dan teknologi  di Australia, Amerika Serikat, Eropa, Asia dan Timur Tengah.

Dia telah memegang peran eksekutif untuk SingTel Optus, dengan jabatan terakhir sebagai Country Chief Officer dan CEO Consumer, Australia, serta posisi senior di Hutchison Whampoa Group di Australia dan internasional.

Dilaporkan TelecomAsia (1/4), CEO Telstra Andrew Penn akan membawa keahlian besar untuk peran ritel pada saat yang penting untuk Telstra. Russell juga akan melaporkan hal ini langsung ke Penn.

“Kami sangat menantikan untuk menyambut Kevin untuk tim kepemimpinan Telstra. Dia memiliki track record mengesankan bekerja untuk beberapa perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia dalam berbagai tuntutan pasar, “kata Penn dalam sebuah pernyataan.

“Dia sangat bersemangat bekerja untuk membangun experience pelanggan baru dan yang sudah menjadi konsumen utama serta klien bisnis pada layanan. Dia telah berhasil dalam program utamanya di seluruh Australia dalam hal fix broadband dan mobile berskala nasional, Ia juga dihormati dalam komunitas teknologi lokal,”

Sekedar informasi, Russell berada di SingTel Optus dari Januari 2012 hingga Maret 2014, memegang posisi COO sekaligus CEO Consumer di Australia.
Saat ini Ia menjabat sebagai CEO pada start-up berbasis teknologi di Silicon Valley.