Kategori: Startup

  • Starup Lokal Penyedia Layanan POS Ini Kini Bisa MenerimaPembayaran Digital

    Starup Lokal Penyedia Layanan POS Ini Kini Bisa MenerimaPembayaran Digital

    Telko.id –  Dalam berbagai bisnis, digitalisasi memang sudah keharusan. Itu sebabnya, Moka, sebagai starup lokal penyedia layanan point-of-sale (POS) berbasis cloud mengembangkan layanannya yakni mengintegrasi model pembayaran dengan platform e-payment seperti OVO, T-Cash, dan DANA untuk sediakan akses pembayaran non-tunai.

    “Kerja sama yang terjalin dengan para penyedia layanan e-payment merupakan langkah konkret untuk mendukung bisnis Moka dalam memasuki babak terbaru sebagai pemimpin di industri POS Indonesia,” kata Haryanto Tanjo, CEO dan Co-Founder Moka.

    Haryanto menambahkan “Dengan integrasi ini, kami berkomitmen untuk terus tumbuh dalam memberikan solusi teknologi terbaik bagi seluruh merchant, dan memperluas pelayanan lainnya agar pelaku bisnis dapat tumbuh mengembangkan bisnisnya bersama Moka.

    Saat ini, Moka telah menjangkau lebih dari 10.000 pengguna berbayar di lebih dari 200 kota dan kabupaten, serta berhasil memproses lebih dari 50 juta transaksi, yang setara dengan 600 juta US dollar per tahun.

    Layanan pembayaran e-payment ini diharapkan dapat memobilisasi pelanggan untuk nyaman bertransaksi sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan omzet dan produktivitas usaha para merchant.

    Selain itu, Haryanto Tanjo pun juga menjelaskan bahwa kerja sama yang terjalin dengan para penyedia layanan e-payment adalah bentuk kepedulian Moka dalam membantu mengembangkan gerakan digitalisasi keuangan.

    “Besar harapan kami agar integrasi inovatif ini bisa menjadi solusi bagi pelaku bisnis untuk terus meningkatkan skala bisnisnya. Kami berkomitmen agar selalu memberikan solusi teknologi terbaik bagi seluruh merchant, dan memperluas pelayanan lainnya agar pelaku bisnis dapat tumbuh bersama Moka,” tutur Haryanto.

    Moka telah resmi meluncurkan integrasi pembayaran dengan OVO selaku e-payment platform yang telah memiliki 9,5 juta pengguna di Indonesia. Dengan kerja sama ini, seluruh merchant Moka dapat menerima pembayaran dengan OVO setelah mereka melakukan aktivasi.

    “Kemitraan dengan Moka adalah kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak, di mana dapat membantu kami memperluas jangkauan layanan OVO di gerai fisik serta meningkatkan transaksi.” ujar Adrian Suherman, Presiden Direktur OVO.

    Adrian menambahkan “Selain itu, kami juga memiliki tujuan untuk mendukung para pemilik bisnis dengan memberi akses akan pelanggan berkualitas dan memungkinkan pembayaran elektronik, loyalty points, dan penawaran eksklusif secara lebih mudah.”

    Dalam waktu dekat, aplikasi point-of-sale Moka juga akan berintegrasi dengan pemain besar e-payment lainnya, yaitu TCASH, dengan akses ke lebih dari 20 juta pengguna di 34 provinsi di Indonesia, serta DANA, Dompet Digital Indonesia dengan infrastruktur open platform.

    “Moka ingin mendorong transaksi non-tunai di toko-toko offline agar merchant beserta pelanggannya mendapatkan kenyamanan lebih dalam bertransaksi. Kedepannya, kami ingin bekerja sama dengan lebih banyak pelaku fintech untuk bersama-sama meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.” jelas CTO and Co-Founder Grady Laksmono. (Icha)

     

     

     

  • NextICorn Bakal Fasilitasi 70 Stratup Indonesia Bertemu Investor

    NextICorn Bakal Fasilitasi 70 Stratup Indonesia Bertemu Investor

    Telko.id – Sejumlah perusahaan rintisan (start-up) digital Indonesia akan diperkenalkan dalam The 1st NextICorn International Summit pada tanggal 09 s.d. 10 Mei 2018 mendatang di Nusa Dua, Bali. Forum itu dirancang untuk mengenalkan potensi start-up digital kepada investor global, keterbukaan pemerintah dan kematangan masyarakat dalam kampanye Indonesia sebagai “Digital Paradise”.

    “Kita perkenalkan Indonesia itu sebagai digital paradise, tempatnya bukan cuma bagus tapi government-nya juga sangat welcominguntuk digital initiative ini. Kita masyarakatnya juga sudah matang secara global, mahir pakai fintech, aplikasi, sehingga dapat menciptakan unicorn yang statusnya didapat hanya dengan mengaddress customer di Indonesia,” kata Donald Wihardja, Chief Coordinator of NextICorn Promotion Roadshow Calendar.

    The 1st NextICorn International Summit yang akan diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Centre ini juga menjadi salah satu solusi Pemerintah Republik Indonesia atas beberapa permasalahan yang dialami start-up digital.

    Ajang ini menjadi penting bagi startup Indonesia karena kebanyakan dari merak sekarang berada di Zona Missing Middle atau Series B. Di mana para start-up umumnya mendapat pendanaan di awal, biasa disebut Series Pre-A atau Series A, namun kesulitan dalam mendapatkan pendanaan berikutnya.

    Melalui NextICorn, kami membantu menjembatani mereka yang sudah sampai di titik ini, yang memang susah mendapat pendanaan,” papar Donald.

    Setidak nya, akan ada sekitar 70 start-up yang telah dikurasi berdasarkan kesiapan dalam aspek pendanaan. Proses kurasi dilaksanakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Global Consulting Ernst & Young. Tujuan kurasi untuk membantu start-up menyusun resume singkat dalam satu halaman mengenai gambaran serta model bisnis.

    “Kita telah susun compendium atau booklet yang berisi informasi tentang start-up tersebut sesuai dengan standar kebutuhan investor. Informasi yang disusun dalam compedium tersebut di antaranya model bisnis, kategori, proses, perkembangan terakhir start up tersebut, keadaan keuangan, serta potensi ke depannya,” jelas Lis Sutjiati, Deputy to the Chairman for NextICorn Strategy Formulation Coordination Lis Sutjiati.

    Menurut Lis Sutjiati, dengan kriteria yang telah ditentukan akan dapat diketahu kelas atau tahapan pendanaan masing-masing start-up.  “Untuk masuk program ini bukan hanya karena bagus. Start-up ini akan diminta mengisi berbagai kriteria yang dibutuhkan untuk melakukan assessment oleh EY. Kita bikinin compedium, semacam bookletnya. Nanti akan ketahuan kelasnya. Jadi nanti mereka tidak semuanya berada di tahapan yang sama. Ada yang siap untuk menerima 1 juta, 1 sampai 5 juta, di atas 5 juta,” jelas Lis Sutjiati.

    Beberapa bidang start-up yang akan terlibat dalam 1st NextICorn International Summit antara lain fintech landing; fintech payment; bidang e-commerce; enabler; serta bidang pendidikan. “Kegiatan ini merupakan langkah awal, selanjutnya akan berlangsung kegiatan sejenis untuk mendorong pendanaan start-up digital lain mampu bertumbuh jadi unicorn,” jelas Lis Sutjiati.

    Empat unicorn Indonesia pun akan hadir dan berada dalam satu panggung mendorong kelahiran unicorn baru di Indonesia. Keempat unicorn tersebut adalah Nadiem Makarim, CEO&Founder Go-Jek; Ferry Unardi, CEO & Co-Founder Traveloka; William Tanuwijaya, CEO & Co-Founder Tokopedia; dan Achmad Zaky, CEO & Founder Bukalapak.

    Lis menambahkan “Teman-teman (CEO) Unicorn kita hadir di sini adalah fungsi yang sangat heroik, untuk memperkenalkan Indonesia kepada VCs (pemodal ventura, red.) tersebut. Bagaimana potensi untuk menjadi unicorn di Indonesia sangat besar. Mereka datang untuk mempromosikan di belakangnya adalah saudara-saudara mereka dari Indonesia, ada sekitar 70 start-ups dari Indonesia,”

    “Ini pertama di dunia, ada negara punya program khusus untuk kolaborasi semua ekosistem dunia untuk ketemu VCs dunia. Memang masih panjang jalannya, tapi kalau udah ketemu, akan ada proses dan likely to happen. Ini pemerintah sebagai proses akselerasi agar investor-investor dunia yang bisa menelurkan Unicorn, ketemu dengan start-up Indonesia,” jelas Lis Sutjiati.

    The 1st Next Indonesian Unicorns International Summit dengan tema “Voyage to Indonesia as Digital Paradise” menjadi ajang mempertemukan start-up Indonesia yang berpotensi besar menjadi unicorn dengan investor-investor global, di antaranya Amerika Serikat, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Singapura, dan Australia.

    “Start-up ini sendiri sudah dikurasi, boleh kita bilang most potential, most promisisng start-up. Kita tidak bisa bilang sudah pasti jadi unicorn, tapi mereka adalah the most promising dengan segala kriterianya untuk menjadi calon unicorn ke depan. Ini yang akan kita bawa atau kita tampilkan, hidden germ dari Indonesia sebagai digital paradise,” jelas Lis.

    Menurut Koordinator Event NextICorn, Ridzki Syahputera, penyelenggaraan event kali ini bukan sekadar acara teknologi biasa.

    “Ini sangat unik, karena the purpose of the agenda sangat sharp, sangat straightforward. Kita mencari investasi dari luar negeri untuk investasi ke dalam start-up Indonesia. Itu saja, very simple. Semua orang yang akan datang ke event ini tahu itu,” jelasnya.

    Bahkan secara khusus, ditargetkan Program NextICorn bisa menjadi platform yang bisa diakses oleh calon investor. “Kita harapkan di akhirnya kita bisa bikin platform, bukan cuma untuk event itu tapi juga setelah event ini investornya bisa koordinasi dengan kami untuk ketemu dengan siapa saja yang di Indonesia, sebagai red carpet access di sini ataupun di luar negeri,” katanya. (Icha)

     

     

  • 5 Startup “Gali’ Potensi Kerjasama Dengan Pemda DKI Jakarta

    5 Startup “Gali’ Potensi Kerjasama Dengan Pemda DKI Jakarta

    Telko.id – Untuk membangun sebuah smart city memang dibutuhkan banyak developer. Salah satu nya tentu para startup. Itu sebabnya, lima dari dua belas startup angkatan kedua yang dibina oleh GK – Plug and Play mengunjungi Balaikota untuk menghadap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno pada 7 Maret 2018.

    Kelima startup tersebut adalah Duithape, Gandeng Tangan, Gringgo, Periksa.Id, dan Weston. Pertemuan ini dijadwalkan untuk menggali kolaborasi antara startup GK-Plug and Play dengan program Pemprov DKI Jakarta.

    “Nama Plug and Play sudah tidak asing lagi dan kami sangat mengappreciate rekan-rekan startup yang ingin bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta. Kami menganut sistem City 4.0 yang mengedepankan kolaborasi. Kita akan lihat kemungkinannya untuk dikolaborasikan dengan Smart City atau OKE OCE,” buka Sandiaga Uno dalam pertemuan tersebut.

    Kelima startup ini diketahui memiliki background yang berbeda, mulai dari Duithape dan Gandeng Tangan yang bergerak di bidang Financial Technology (fintech), Gringgo yang menyediakan aplikasi untuk pengelolaan sampah, Periksa.Id di bidang teknologi kesehatan, dan Weston di bidang renewable energy.

    “Saat proses seleksi masuk ke program GK-Plug and Play, bukan hanya business model saja yang kami nilai, tapi juga karakter dan background dari founder startup tersebut hingga cerita di balik terbentuknya startup itu sendiri. Kami berharap startup-startup yang ada di Indonesia benar-benar bisa membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat dengan bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta,” ungkap Wesley Harjono, President Director GK – Plug and Play.

    Dalam pertemuan ini, Wakil Gubernur Sandiaga Uno pun langsung menunjuk beberapa Person in Charge untuk menindaklanjuti kerjasama dengan kelima startup ini, “Akan langsung kita kenalkan dengan pihak terkait. Gandeng Tangan dan Duit Hape akan kita pertemukan dengan OKE OCE. Gringgo juga memiliki potensi kerjasama yang besar dengan Smart City. Periksa ID akan kita perkenalkan ke Depkes untuk melihat potensinya lebih jauh. Weston juga bisa kita undang ke Pulau Seribu untuk memberikan solusi di bidang listrik,” tutur Sandiaga Uno usai mendengarkan perkenalan dari kelima startup tersebut.

    Memiliki program akselerasi yang terencana dengan baik, akselerator asal Silicon Valley ini mengaku optimis startup-startupnya dapat memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat Indonesia. Selain menghubungkan startup dengan regulators, saat ini GK-Plug and Play juga diketahui memiliki empat corporate partners yang siap bekerjasama dengan startupnya yaitu Astra, BNI, BTN, dan Sinar Mas. Bahkan, GK-Plug and Play mengaku telah menyiapkan sejumlah resources dan dana untuk lebih banyak startup.

    “Kami sudah menyiapkan resources mulai dari coworking space, 1:1 mentorship, workshop, seed funding, hingga network yang luas. Bahkan, startup-startup yang tergabung dengan program kami akan kami perkenalkan dengan corporate partners kami untuk mengexplore peluang kerjasama. Registrasi untuk batch ketiga akan kami buka bulan ini. Startup yang tertarik dapat membaca informasi lebih lanjut di media sosial kami ,” tutup Wesley Harjono. (Icha)

     

     

  • Ini Dia Solusi Dari Startup Lokal Supaya Mall Tidak Sepi

    Ini Dia Solusi Dari Startup Lokal Supaya Mall Tidak Sepi

    Telko.id – Dengan semakin tinggi penerimaan masyarakat terdapat digitalisasi, maka mall dan toko retail sudah menunjukan trend transaksi yang menurun. Tren ini yang dilihat oleh startup lokal Gilkor, kemudian memciptakan novasi sistem yang disebut ELYS, atau Engagement Loyalty System.

    Solusi ini ditujukan untuk membantu manajemen mal untuk meningkatkan loyalitas pelanggan dan jumlah pengunjung dengan memonitor apa yang pelanggan inginkan dan bagaimana berinteraksi yang tepat, berdasarkan data pelanggan.

    “Sebelumnya, data pelanggan mal – mal dan perusahaan ritel besar ini terdapat di berbagai tempat dan tidak beraturan,” kata CEO Sinartus Sosrodjojo, salah satu pendiri Gilkor.

    “Sistem kami membantu menarik data yang relevan dan mengkoordinasikannya dengan departemen yang tepat, dengan cara yang lebih sederhana dan hemat biaya. Misalnya, fitur voucher digital kami yang membantu menyederhanakan proses penyebaran kupon sambil memberikan perlindungan terhadap kasus penipuan. Manajemen juga dapat menggunakan sistem ini untuk menetapkan target dan mengidentifikasi area yang harus mereka kembangkan. Semua ini terdapat dalam satu dashboard sederhana yang mudah untuk digunakan dan dimengerti.”

    Indonesia adalah salah satu pasar dengan prospek pertumbuhan konsumen yang paling menjanjikan di dunia. Accenture memproyeksikan  jumlah konsumen di Indonesia akan tumbuh sekitar 30 juta orang pada tahun 2020, dengan kenaikan enam kali lipat nilai pasar barang dan jasa konsumen negara dari $ 1,3 miliar pada tahun 2015 menjadi US$ 7,9 miliar pada tahun 2020.

    Bisnis ritel yang memiliki toko fisik, seperti mall dan retail saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat, terutama karena  pola belanja online konsumen Indonesia yang diperkirakan akan semakin meningkat seiring perkembangan jaringan broadband di seluruh negara. Tidak hanya itu, hiburan digital seperti film dan permainan online telah menyita waktu mereka yang seharusnya bisa dihabiskan untuk berkunjung ke mall dan gerai ritel.

    Gilkor menghadirkan solusi inovasi yang memudahkan interaksi dengan pelanggan sehingga  mall-mall dan ritel besar  mendapatkan kembali pelanggan mereka meskipun menghadapi serangan bisnis online.

    “Satu-satunya cara untuk bersaing dengan sukses di pasar ritel yang ramai adalah dengan mempertahankan dan mengembangkan basis pelanggan dengan cara meningkatkan tingkat interaksi dengan pelanggan,” kata Sinartus Sosrodjojo.

    “Untuk melakukan itu, ritel perlu mengidentifikasi dan memahami kebiasaan pelanggan mereka, untuk dapat menentukan interaksi yang tepat. Mereka harus selalu berhubungan dengan konsumen agar tidak kalah dalam persaingan. Di satu sisi, toko ritel kecil justru pandai dalam melakukan strategi ini. Mereka mengenal pelanggan mereka secara pribadi. Sedangkan Gerai retail dan mall besar, seringkali tidak mengetahui identitas pelanggan mereka. Banyak dari mereka masih menganggap  pengunjung atau pelanggan sebatas angka pada laporan keuangan mereka,” tambahnya.

    Sebagai pilihan klien nya saat ini, Gilkor telah memenangkan beberapa pesaing regional dan internasional, yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Indonesia saat ini mampu menciptakan solusi IT kelas dunia yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik.

    David Hilman, COO PT Agung Sedayu Retail Indonesia mengutarakan “Sistem Gilkor telah membantu kami dalam menyederhanakan analisa  dan  mengumpulkan data pelanggan kami. Sistem ini telah memungkinkan kami untuk  memonitor dan  mengambil langkah yang tepat berdasarkan data pelanggan kami. Dengan kombinasi ini, Gilkor telah sukses menggabungkan berbagai hasil operasional ke dalam satu dashboard yang mudah digunakan  sehingga kami dapat bergerak lebih cepat untuk mencapai target.”

    Saat ini, sistem dari perusahaan startup lokal Gilkor ini telah berhasil dimplementasikan di 4 mall besar di Indonesia: Pacific Place, PIK Avenue, Mall of Indonesia dan Grand Galaxy Park. Pacific Place akan menggunakan sistem online Gilkor pada bulan Februari 2018. Ada 10 potensi klien besar lain yang saat ini sedang dilakukan pendekatan.

    Gilkor pada awalnya didirikan pada tahun 2010 sebagai sistem promo kartu kredit, sejak awal menyadari bahwa bisnis ritel yang memiliki toko fisik akan menghadapi tantangan di masa depan sehingga Gilkor menciptakan suatu solusi. (Icha)

     

     

     

  • Para Startup Banyak Yang Galau Saat Transisi Ke UKM, Kenapa?

    Para Startup Banyak Yang Galau Saat Transisi Ke UKM, Kenapa?

    Telko.id – Berdasarkan data terbaru dari East Ventures, venture capital lokal, terdapat penurunan jumlah bisnis startup sebesar 23%. Meskipun demikian, tren startup dinilai masih akan menguat seiring dengan semakin banyaknya minat investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan-perusahaan startup, asalkan kinerjanya positif.

    Nah di saat startup mulai tumbuh positif dan membesar, mereka akan berubah menjadi UKM. Di saat transisi inilah akan muncul berbagai bentuk krisis identitas. Dari yang awalnya pendirinya terjun langsung dalam segala keputusan, tentunya saat perusahaan semakin besar, dia perlu memberikan kepercayaannya pada timnya.

    Tahap ini merupakan tahapan di mana karakteristik kepemimpinan, yang awalnya merupakan aset bagus, menjadi liabilitas. Melakukan transisi mungkin membutuhkan pergeseran gaya memimpin, tentu tanpa mengorbankan idealisme dan brand, atau bahkan melakukan peran berbeda.

    Bisnis baru bertahan dengan optimisme dan keterlibatan pendirinya. Saat entrepreneur ada di tahap ini, mungkin memiliki prototipe, atau satu dua orang pelanggan, dan masih mencari pasar yang tepat, mereka masuk dalam golongan startup. Di tahap ini, antusiasme kepemimpinan dan kekuatan idelah yang menarik orang-orang dan memajukan mereka. Pendiri juga memainkan berbagai peran, dan cenderung terlibat langsung di tiap aspek operasional sehari-hari.

    Namun akan ada saatnya bisnis ini tumbuh cukup besar sehingga tidak bisa lagi beroperasional seperti sebelumnya. Saat pelanggannya masih beberapa dan perusahaan mengenal basis pelanggan yang cukup besar untuk menelusurinya di cloud, atau saat bisnisnya masih berskala, berarti bisnis tersebut sudah bergeser menjadi UKM.

    Seringkali optimisme dan keinginan untuk mengatur tiap aspek bisnis secara langsung menjadi liabilitas pendiri dan perusahaan. Saat itu, perusahaan perlu menciptakan proses dan prosedur formal. Perusahaan perlu mengatur tenaga kerja yang semakin besar, yang mungkin mencakup kantor-kantor cabang atau bahkan pekerja mobile. Ada terlalu banyak hal yang harus dipikirkan pendiri untuk mengambil keputusan ataupun melibatkan diri dalam operasional.

    Meskipun optimisme tetap harus dijaga, ini saatnya mengembangkan sesuatu untuk menyeimbangkan antusiasme di fase startup. Pemimpin juga perlu mengenai kerapuhan perusahaan sebelum menjadi terlalu besar untuk ditangani, dan bersedia mengambil beberapa keputusan yang sulit. Hal-hal yang dilakukan saat transisi menjadi UKM akan berbuah konsekuensi dua tahun kemudian, saat UKM menjadi enterprise.

    “Teknologi bisa membantu bisnis melakukan transisi tersebut, dan menjaga keoptimisan serta budaya yang efektif,” kata Reggie Bradford, Senior Vice President, Oracle, Startup Ecosystem & Accelerator.

    Bradford menambahkan bahwa pemimpin tidak bisa berkomunikasi dengan pegawainya secara langsung tiap saat, mereka bisa menggunakan channel online untuk menjaga jalur komunikasi di perusahaan, dari atas ke bawah. Meeting melalui konferensi video yang memungkinkan pegawai di tempat berbeda untuk tetap hadir bisa menjaga kekompakan di dalam perusahaan.

    Dengan menggunakan cloud untuk bantu menganalisa data dan mendapatkan wawasan bisa jadi sangat penting di tahap ini. Memiliki informasi melalui cloud memungkinkan pemimpin untuk mengevaluasi pasar, peluang, dan keputusan dengan kepercayaandiri yang lebih besar. Pemimpin akan lebih antuasias dengan bisnisnya jika bisa mengambil keputusan yang solid dan berdasarkan data.

    Lebih penting lagi, transisi ini adalah saatnya pemimpin perlu mengenali kelemahannya sendiri. Hanya sedikit orang yang bisa sukses melakukan transisi dari seorang pendiri startup menjadi CEO perusahaan publik. Kemampuan yang dibutuhkan sangatlah berbeda. Pemimpin perlu menambahkan orang-orang ke dalam tim yang lebih pintar dari pemimpinnya, yang memiliki lebih banyak pengalaman melalui transisi seperti ini.

    Ini semua mungkin tidak mudah untuk dilakukan. Mungkin sulit untuk mundur dari peran seorang pengambil keputusan. Tapi saat menurunkan pengambilan keputusan di perusahaan, mempercayai orang-orang untuk menyelesaikan pekerjaan, dan mempercayakan tim untuk mendukung perusahaan, adalah hal-hal yang bisa mendorong keberhasilan suatu UKM. Mengambil keputusan yang tepat, menggunakan teknologi yang tepat, dan mengakui keterbatasan diri pemimpin, akan menghasilkan budaya dan perusahaan yang bisa sukses untuk waktu yang lama. (Icha)

     

  • Program Next Indonesia Unicorn Kembali Di Buka

    Program Next Indonesia Unicorn Kembali Di Buka

    Telko.id –  Target pemerintah mendigitalkan ekonomi Indonesia pada 2020 antara lain dengan mengadakan beberapa program besar, seperti gerakan 1000 startup dengan valuasi US$ 10 miliar, serta meningkatkan pertumbuhan e-Commerce lokal sebesar 50 persen per tahun dengan nilai US$ 150 miliar.

    Tentu target tersebut harus dibarengi dengan upaya untuk pencapaiannya. Salah satu yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mendorong para startup untuk menjadi unicorn baru di Indonesia. Untuk merangsang terbentuknya unicorn baru tersebut, pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali menggelar program Next Indonesia Unicorn (NEXTICORN).

    Target dari NEXTICORN ini adalah untuk menciptakan marketplace yang lebih terstruktur dan tertata bagi para start-up untuk bertemu investor dalam memperoleh pendanaan.

    “NEXTICORN ini merupakan langkah berikutnya untuk menampilkan Indonesia berikut startup-startup-nya kepada para investor global dan nasional agar startup dapat memperoleh pendanaan (funding), karena pemerintah mengerti permasalahan dalam mendapatkan funding, terutama di zona Missing Middle/Series B. Diharapkan nantinya startup-startup Indonesia dapat tumbuh dan mempunyai value di mata investor nasional dan global sehingga akan lahir unicorn-unicorn berikutnya di Indonesia,” jelas Menteri Kominfo Rudiantara.

    Rudiantara beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sudah memiliki 4 unicorn yakni Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. “Saya yakin lebih dari lima. Kan dulu targetnya lima sampai akhir 2019. Yang 2017 sudah ada empat jadi saya yakin 2019 lebih dari lima,” kata pria yang akrab disapa Chief RA tersebut.

    Program NEXTICORN ini merupakan kerja sama pemerintah dengan Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) dan Ernst & Young. Diharapkan dari kerja sama tersebut, serta dengan partisipasi startup-startup yang hadir, NEXTICORN bisa menjadi sukses di tahun 2018.

    Dengan program NEXTICORN ini, pemerintah akan mendukung adanya Business Matching yang tepat melalui event-event yang mendatangkan Venture Capital baik dari nasional maupun dari luar negeri ke Indonesia, juga dengan membawa startup-startup Indonesia ke event-event di luar negeri yang dihadiri oleh VC. Oleh karena itu partisipasi dari para pelaku startup  sangat penting untuk memanfaatkan peluang yang telah diberikan, sehingga berpartisipasi agar startup-startup di Indonesia dapat menjadi The Next Indonesian Unicorns. Sebelum bertemu dengan investor, para start-up akan dibantu melalui proses kurasi, di mana akan dilakukan pengecekan mulai dari business plan, market validation, hingga sustainability technology dari start-up tersebut.

    Sementara itu Donald Wihardja selaku Chief Coordinator AMVESINDO menyatakan “Dengan NEXTICORN ini, AMVESINDO berharap dapat mempermudah start-up untuk menggalang dana, terutama di level Series B (untuk mendapatkan US$5 juta ke atas) dengan memfasilitasi pertemuan mereka dengan investor, baik lokal maupun international. Untuk itu kami akan hadirkan NEXTICORN di acara-acara terkenal yang terbukti mengumpulkan investor di Indonesia dan di Asia, serta menyiapkan acara Business Meeting dengan start-up di sana.”

    Sebagaimana diketahui AMVESINDO merupakan Asosiasi dari para pemodal Ventura yang menempatkan dananya pada startup-startup di Indonesia. Donald menambahkan “Kami juga mengumpulkan data-data dari start-up, contact info mereka, pitch deck, dan sebagainya, yang dapat diakses investor dengan mudah secara online, ataupun sebagai buku Compendium yang di cetak. Kami harap, dengan Project NEXTICORN, kami bisa mempersembahkan Unicorn-Unicorn Indonesia baru di masa dekat.” (Icha)

     

     

     

     

     

  • Ini Dia Strategi India Sampai Punya 8 Ribu Startup

    Ini Dia Strategi India Sampai Punya 8 Ribu Startup

    Telko.id – India memang terkenal memiliki banyak tenaga ahli dibidang ICT. Terutama ahli dalam hal software. Tak heran juga jika kini startup atau perushaan rintisan di India pun ‘bejibun’. Keberadaan startup ini pun menjadi salah satu ikon bagi perkembangan sebuah negara di era digital.

    “Kami memiliki 8 ribu startup dan menjadi yang terbesar kedua di dunia,” kata Suresh K Reddy, duta besar India untuk ASEAN menjelaskan di India – Asean ICT Expo 2017 (6/12) di Jakarta.

    Suresh K Reddy, Duta Besar India untuk ASEAN

    Apa yang membuat India begitu banyak memiliki startup? Menurut Reddy, yang merangsang perusahaan rintisan ini tumbuh dan berkembang karena adanya infrastruktur digital, dukungan pendidikan sehingga menghasilkan SDM yang memiliki pengetahuan ICT, dukungan keuangan atau investasi, di mana banyak angel investor yang mau mendukung para perusahaan rintisan tersebut. Pemerintah India pun begitu mendukung adanya startup ini. Selain itu, kerumitan atau masalah di level lokal menjadi salah satu alasan tumbuhnya perusahaan perintis.

    “Bahkan, Gojek, solusi yang digunakan di layanan transportasi online di Indonesia menggunakan solusi dari software yang dibangun oleh startup India,” tambahnya.

    Dukungan partnership dengan ASEAN juga ditunjukkan pemerintah India dengan keseriusan tinggi. “Pada Januari mendatang kami mengundang masing-masing 20 entreprenuer digital dari masing-masing negara ASEAN ke India. Mereka dapat bertemu startup India, berbagi pengalaman dan juga tersedia dana investasi untuk membiayai startup-startup tersebut,” tambah Reddy.

    Dalam pandangan Sanjay Nayak, Co Chairman TEPC sekaligus CEO Tejas Network, salah satu keunggulan India adalah mereka memiliki bisa bersaing dari sisi harga dan juga tetap menjaga inovasi sebagai unggulannya. “Meski kami belum tembus ke startup Unicorn tapi perkembangannya sangat baik. Dari awal kami memang menggunakan talenta lebih dari 100 insinyur yang bekerja di perusahaan teknologi di Amerika Serikat balik ke India,” kata Nayak.

    “Kami dapat memberikan solusi dengan harga kompetitif dan tetap update dengan perkembangan teknologi,” tambahnya. (Icha)

     

     

  • Startup Indonesia Terlalu Seragam, Kenapa?

    Startup Indonesia Terlalu Seragam, Kenapa?

    Telko.id – Sayang, Startup di Indonesia cenderung seragam. Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 260 juta penduduk dan menjadi yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Secara ekonomi Indonesia punya PDB hampir US$ 1 trilun di akhir tahun 2016, jumlah ini mengalami peningkatan lumayan tinggi dari tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 860-an miliar dan angka peningkatan itu diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring pertumbuhan kelas menengah di Indonesia.

    Digitalisasi dan adapsi teknologi yang sedang berlangsung di Indonesia pun cukup mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosial masyarakat. Saat ini, layanan telekomunikasi di Indonesia sudah memiliki lebih dari 326 juta pelanggan. Akses internet di Indontesia sudah digunakan lebih dari 132 jutaan pelanggan dengan hampir 70%-nya diakses menggunakan perangkat mobile. Dari jumlah tersebut 5 juta di antara pelanggan internet itu sudah menikmati akses internet cepat melalui teknologi 4G.

    Kondisi ini tak dipungkiri menjadi magnet bagi pelaku bisnis di bidang teknologi atau perusahaan rintisan yang biasa dikenal sebagai startup. Tren startup yang sedang tumbuh membuat tak sedikit pihak yang berbondong-bondong ikut masuk ke dalamnya. Sampai tahun 2016 disebutkan sudah ada sekitar 2.000 startup di Indonesia dengan berbagai kategori produk dan layanan.

    Sayangnya, walaupun infrastruktur digitalisasi sudah dibangun, tetapi penghuni ekosistem startup digital cenderung seragam. Para pendiri maupun pendukung startup terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta lebih memilih untuk menggarap sektor yang jelas ‘hijau’. Kesannya, mereka jadi seperti profit oriented, bukannya menjadi problem solver di tengah masyarakat dengan bermacam-macam permasalahan yang sebenarnya amat potensial jika digarap.

    “Walau tumbuh di semua lini bidang, namun e-commerce dan online marketplace masih mendominasi arus bisnis di industri startup teknologi. Padahal, masih banyak kategori lain yang memerlukan sentuhan teknologi dan memberi peluang lebih besar bagi pelakunya untuk mengembangkan diri,” ujar Denny Mahardy, Founder Technologue.id dalam acara Startup Ngabuburit bertema “Be Startup Make Something People Need”, Senin (5/5, 2017).

    Padahal, lanjut Denny, bila dilihat secara mendalam kondisi geografis Indonesia dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang ke Merauke, dari Miangas sampai ke Rote bisa menjadi masalah sekaligus peluang. Bagi penyedia layanan telekomunikasi misalnya, kehadiran jarak tersebut menjadi peluang bisnis karena layanan yang mereka sediakan sangat diperlukan agar masyarakat bisa berkomunkasi dengan sanak saudaranya di daerah maupun pulau lain.

    Meskipun demikian, penyediaan layanan telekomunikasi di seluruh daerah di Indonesia bukan perkara mudah, banyak tantangan yang harus dituntaskan operator sebelum layanannya tersedia. Hal yang sama juga perlu dihadapi para pelaku bisnis lain ketika membentuk pasar baru, termasuk startup.

    “Kalau dilihat masalah publik di Indonesia sangat banyak dan variatif. Nah, dari sinilah Technologue.id ingin mengajak para peminat sekaligus pelaku industry startup supaya mau mencermati kondisi sosial di Indonesia lebih dalam. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan supaya lahir produk dan layanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Ke depannya, diharapkan pihak-pihak yang berkecimpung di ranah ini bisa lebih inovatif sembari tetap menjawab tantangan industri, tandas Denny.

    Hal yang sama juga dirasakan oleh akselerator asal Silicon Valley, Plug and Play. Akseslerator yang belum lama ini membuka kantor di Indonesia tersebut telah bekerja sama dengan Gan Kapital, Plug and Play hadir membawa misi untuk membangun suatu ekosistem yang dapat mendukung perkembangan startup digital di Indonesia.

    Melalui program akselerasi yang diadopsi dari kantor pusat Plug and Play di Silicon Valley, Plug and Play Indonesia siap memberikan berbagai dukungan untuk startup terpilih, mulai dari finansial, bimbingan ahli dari berbagai bidang, logistik seperti ruang kerja dan bantuan hukum, dan yang tidak kalah penting yaitu hubungan ke korporasi yang diharapkan dapat bermitra dengan startup.

    “Plug and Play Indonesia siap membantu startup dari berbagai bidang dengan teknologi yang mampu menjawab permasalahan di masyarakat masa kini, seperti contohnya saja kami memilih Otospektor, platform yang memudahkan masyarakat melakukan proses jual beli kendaraan bekas dengan lebih terjamin, atau seperti Karta yang menyediakan pilihan terjangkau bagi usaha kecil dan menengah yang ingin beriklan” ujar Bapak Wesley Harjono selaku Presiden Direktur Plug and Play Indonesia.

    “Pada akhirnya, Plug and Play Indonesia ingin menjadi fasilitator yang melahirkan terobosan di masyarakat,” tambah Wesley. (Icha)

     

     

  • Ayopop Ambisi Jadi One-Stop Platform Pembayaran Tagihan

    Ayopop Ambisi Jadi One-Stop Platform Pembayaran Tagihan

    Telko.id – Pada era digital seperti sekarang ini, kemudahan dalam berbagai kebutuhan menjadi idaman masyarakat. Termasuk kemudahan dalam melakukan pembayaran tagihan. Ke ATM? Kalau ada cara yang lebih mudah kenapa tidak? Seperti yang ditawarkan oleh Ayopop.

    Setelah satu tahun diluncurkan di Indonesia, aplikasi pembayaran tagihan online Ayopop telah tumbuh secara signifikan. Aplikasi yang dibuat untuk pasar Indonesia ini membantu siapapun membayar semua tagihan bulanan mereka dimana pun hanya melalui smartphone, tanpa harus repot antre ataupun mencari convenience store.

    Dalam 12 bulan terakhir, perusahaan ini telah bertumbuh dari hanya dua anggota co-founder menjadi tim yang terdiri dari lebih dari 30 orang, dan kini menawarkan lebih dari 15 produk pada aplikasi mobilenya. Diantaranya pembayaran BPJS Kesehatan, Listrik Prepaid & Postpaid, Tagihan PDAM, pembayaran tagihan Internet, TV cable dan lainnya.

    Ayopop pun memfasilitasi ribuan transaksi per hari, dimana pengguna di Indonesia memiliki pengalaman membayar tagihan dari awal hingga tuntas dengan proses yang mulus tanpa hambatan.

    “Pada ulang tahun pertama ini kami ingin lebih banyak orang mengenal Ayopop dan menggunakan aplikasi ini supaya mereka lebih mudah membayar tagihan-tagihan dan membeli kebutuhan utilitas mereka. Untuk itu kami menggelar AyoPesta,” tutur Tommy Yuwono, Head of Commercial Division Ayopop Teknologi Indonesia.

    Tommy juga menambahkan bahwa “Tujuan lain diadakannya AyoPesta tentu saja untuk meningkatkan transaksi secara signifikan. Kami akan membagikan Diskon menarik bagi penggunanya untuk pembayaran tagihan, isi pulsa, paket data, dan token listrik.

    Ayopop juga akan membebaskan biaya admin selama AyoPesta untuk pembelian pulsa token listrik di aplikasi tersebut. “Saya rasa ini akan menjadi penawaran token listrik paling murah yang ada di pasaran saat ini,” tambah Tommy.

    Untuk berpartisipasi dalam AyoPesta dan mendapatkan penawaran spesial ini, pengguna hanya perlu mengunduh aplikasi Ayopop di smartphone. Aplikasi ini tersedia baik di ponsel Android maupun iOS secara gratis.

    Sejak pertama kali diluncurkan setahun lalu, basis pengguna aplikasi ini terus berkembang. Ayopop telah diapresiasi rating bintang lima oleh lebih dari 1.850 pengguna Android dan iOS di Indonesia. Masyarakat telah mengenal Ayopop sebagai aplikasi yang dapat dipercaya dan user-friendly untuk membantu mereka isi pulsa, token listrik, paket data, dan membayar tagihan.

    Salah satu kemudahannya, mereka bisa menggunakan Ayopop kapanpun mereka butuhkan, bahkan saat tengah malam ketika pergi ke ATM bisa jadi sangat berbahaya.

    Founder Ayopop Jakob Rost mengatakan, “Ayopop berambisi menjadi one-stop platform yang dapat membantu masyarakat melakukan pembayaran tagihan, mulai dari mengecek tagihan hingga melakukan pembayaran tagihan mereka kapan saja.

    Selama periode pembayaran tagihan, Ayopop akan mengirimkan pengingat otomatis beserta dengan tanggal jatuh tempo dan jumlah tagihan, sehingga pengguna dapat menghindari denda keterlambatan yang dikenakan operator terkait. Hal ini tentu saja membuat pengelolaan keuangan menjadi sangat mudah bagi Pengguna.”

    Ayopop juga menyediakan fitur Cek Tagihan supaya pengguna dapat mengetahui jumlah tagihan mereka secara instan dengan tampilan yang tidak membingungkan. Fitur ini memberi tahu pengguna berapa tagihan yang harus dibayar untuk nomor pascabayar, listrik, internet, tv cable, ataupun tagihan air mereka.

    Untuk memudahkan pembayaran berbagai macam tagihan, aplikasi ini sudah mengintegrasikan berbagai bentuk pembayaran. Pengguna dapat melakukan melakukan pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, transfer melalui bank-bank terkemuka, bahkan e-cash (uang tunai elektronik).

    Lebih dari itu, pengguna Ayopop pun dimanjakan dukungan layanan chat (obrolan) yang terdapat di dalam aplikasi selama 24 jam sehari, 365 hari setahun terkait pertanyaan seputar produk dan tagihan mereka.

    “Di Perayaan ulang tahun pertama ini, Kami memiliki harapan yang besar bahwa Ayopop dapat tumbuh lebih cepat dan lebih besar untuk membantu masyarakat Indonesia dalam membayar tagihan secara digital,” kata Tommy. (Icha)

  • Cari Tempat Nge- Gym? Pakai Aplikasi Fitnesia Saja

    Cari Tempat Nge- Gym? Pakai Aplikasi Fitnesia Saja

    Telko.id – Perkembangan teknologi kini dapat mempermudah konsumen untuk memilih aktivitas sesuai kebutuhan masing-masing hanya dengan menggunakan apilikasi. Dengan pilihan merchant yang tersebar di daerah Jabodetabek, Fitnesia memberikan pilihan kepada pengguna untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

    Cukup dengan mendownload aplikasi di App Store dan Google Play atau membuka website resmi Fitnesia www.fitnesia.com dimana sudah tersedia jadwal aktivitas dari berbagai kategori yang dapat disesuaikan dengan waktu dan wilayah yang diinginkan oleh pengguna.

    “Dengan Fitnesia pengguna dapat bebas fitness dan olahraga dimana saja tanpa perlu membayar membership, bahkan dapat melakukan reservasi untuk salon, spa, dan wahana tanpa harus menelepon terlebih dahulu kepada merchant yang diinginkan. Dan pengguna juga akan mendapatkan diskon 30-70% dibandingkan datang langsung ketempat,” kata Bobby Simon, CEO dari Fitnesia.

    Bobby juga menambahkan bahwa “Fitnesia saat ini merupakan jaringan gym, studio, salon, spa, dan wahana terbesar di Indonesia dengan ratusan partner. Ke depan, Fitnesia juga akan menambahkan produk lain seperti makanan, akses ke club hiburan, kelas seni, kelas memasak dan produk-produk lainnya untuk melengkapi servis yang diberikan”.

    Dengan aplikasi Fitnesia, konsumen hanya perlu melakukan tiga tahap untuk menemukan aktivitas favoritnya dengan mencari akses semua gym, studio, fasilitas olahraga, spa, massage,dan salon terbaik. Kemudian pesan aktivitas yang cocok dan hemat hingga 70%, lalu nikmati dengan datang dan lakukan aktivitas.

    Fitnesia membagi beberapa kategori aktivitas yang ditawarkan seperti Yoga & Pilates, Gym, Sport, Martial Arts, Dance, Functional Strength, Spa, Massage, Brows & Lashes, Leisure, Nails, HairRemoval, Hair, Facial, Slimming, dan Foot Reflexiology yang akan mempermudah konsumen untukmenentukan pilihan aktivitas yang sesuai dengan kebutuhannya.

    Untuk memanfaatkan Fitnesia, hanya perlu melakukan Top Up Credit sebelum melakukan pemesana aktivitas. Top Up dilakukan dengan menggunakan beberapa alternatif pembayaran seperti menggunakan kartu kredit visa atau mastercard, doku wallet, mandiri clickpay, danamon online banking, IB Muamalat, Bank / ATM Transfer, dan Mini Market seperti Afamart, Alfamidi, Alfaexpress, Lawson, dan Dan-dan. (Icha)