Kategori: Startup

  • Peringati Hari jadi, BDV gelar Bandung Digital Ecosystem Day

    Peringati Hari jadi, BDV gelar Bandung Digital Ecosystem Day

    Telko.id – Bandung Digital Valley (BDV) merayakan hari jadi mereka yang keempat pada tanggal 20 Desember. BDV sendiri berdiri dan berkontribusi pada tumbuhnya industri kreatif digital di Indonesia. Kontribusi yang diberikan oleh BDV sebagai Inkubator Bisnis dan Co-Working Space kepada pertumbuhan industri tentunya tidak terlepas dari kerjasama yang sangat baik dengan elemen ekosistem lain, diantaranya komunitas digital, co-working space & inkubator bisnis lain, startup digital dan institusi pendidikan.

    Untuk itu, dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-4 BDV mengadakan Expo “Bandung Digital Ecosystem Day” yang akan diikuti oleh berbagai elemen ekosistem digital Bandung diantaranya 10 Komunitas Digital, 6 Co-Working Space & Inkubator serta 20 Startup Digital.

    Berdasarkan keterangan pers yang kami terima, kegiatan ini terbuka untuk umum dan diselenggarakan di area Bandung Digital Valley, Gedung Menara IDEC Lantai 4, Jl. Gegerkalong Hilir No. 49 Bandung, pada hari Jumat 18 Desember 2015 pukul 14.00 – 17.00. Dengan mengunjungi Expo ini, pengunjung khususnya mahasiswa, pelaku startup maupun talenta bidang digital dapat mengetahui ekosistem bisnis digital di Bandung dan bagaimana masing-masing elemen ekosistem tersebut dapat mendukung pengembangan karir dan bisnis mereka di bidang digital.

    “Bandung adalah cluster penting di industri digital Indonesia, dengan didukung oleh sejumlah perguruan tinggi berkualitas, Bandung telah melahirkan banyak startup yang telah sukses di skala nasional maupun yang sangat berpotensi untuk berkembang di masa yang akan datang dan itulah alasan mengapa BDV sebagai Inkubator pertama Telkom didirikan di Bandung yang berkolaborasi dengan MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Digital Indonesia)” ujar Indra Purnama, Direktur Eksekutif BDV.

    BDV diresmikan pada tanggal 20 Desember 2011, sebagai co-working space dan inkubator bisnis untuk startup digital tanah air. Tercatat lebih dari 40 startup digital telah mengikuti program inkubasi di BDV sejak tahun 2012. Selain startup yang diinkubasi, BDV juga memiliki lebih dari 3000 member yang selain dapat memanfaatkan fasilitas co-working space di BDV juga dapat mengikuti event-event untuk mengembangkan pengetahuan bisnis dan keterampilan teknis mereka.

    Indra menambahkan, “Dalam usianya yang menginjak 4 tahun, kami sangat senang bahwa BDV bekerjasama dengan elemen-elemen ekosistem yang lain, yaitu co-working space, institusi pendidikan, incubator dan komunitas, telah berkontribusi bagi pertumbuhan industri digital di Indonesia,”

    Pada acara Bandung Digital Ecosystem Day, selain expo komunitas, startup, coworking-space dan incubator, juga akan diselenggarakan talk show mengangkat perjalanan usaha dari sejumlah pendiri startup yang berhasil.

    Dengan demikian diharapkan dengan penyelenggaraan acara ini semakin banyak lagi talenta yang terinspirasi untuk berkiprah di industri digital Indonesia dan menghasilkan produk digital yang memiliki potensi bisnis yang baik di skala nasional maupun internasional, serta terjalinnya sinergi yang lebih baik lagi diantara pelaku dan elemen ekosistem digital untuk mempercepat pertumbuhan industri digital tanah air.

  • Indigo Buka Pendaftaran Startup Batch II

    Indigo Buka Pendaftaran Startup Batch II

    Jakarta – Setelah sukses dengan program indigo Incubator dan indigo Accelerator pada awal 2015 lalu, indigo kembali membuka penerimaan startup pada batch II di tahun 2015 ini.

    Berbeda dengan program sebelumnya, dimana penerimaan dan seleksi Program Indigo Incubator dan Program Accelerator dilakukan terpisah, mulai Batch II dan ke depan seleksi startup dilakukan secara bersama oleh Telkom Group yang terdiri dari Telkom Innovation & Design Center (IDeC), Divisi Digital Business (DDB), PT. Metra Digital Investama (MDI).

    Sebagai informasi, Telkom memberi kesempatan bagi para startup untuk merealisasikan karya kreatif mereka melalui program indigo ini. Baik yang masih dalam bentuk ide, produk yang sudah memiliki pengguna, bisnis yang sudah mendatangkan pendapatan, serta bisnis yang membutuhkan akselerasi dan pendanaan lebih lanjut.

    Khusus untuk Batch II 2015 panitia tidak lagi menerima karya inovasi yang masih dalam tahap Ide. Karya yang akan diterima hanya untuk kategori Innovative product dan Innovative Business.

    Indigo Batch II diluncurkan pada 13 Oktober silam. Sementara untuk registrasi, para startup akan diberikan rentan waktu mulai dari tanggal 15-28 Oktober 2015.

    Untuk seleksi on desk, akan diadakan pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 4 November 2015 dan untuk pitching final pada periode 7-12 November 2015.

    Untuk kali ini, ada 4 kategori yang dihadirkan bagi para startup, diantaranya Mobile & Personal Ecosystem, Home Ecosystem, SME Ecosystem, Smart City, Goverment and Public Service.

    Sementara itu, Startup yang terpilih akan mendapat dukungan program inkubasi selama 7 bulan sampai dengan 18 bulan tergantung tahapannya serta mendapatkan berbagai fasilitas seperti, workspace, funding, mentoring, dan akses pasar melalui channel pemasaran Telkom Group.

    Pendanaan yang akan diberikan melalui program ini adalah mulai dari Rp 120 juta sampai dengan Rp 2 miliar untuk share saham mulai 6% hingga 25% per startup, ditambah dengan kesempatan untuk memperoleh fasilitas kerja yang nyaman dan dinamis di Bandung Digital Valley, Jogja Digital Valley, dan Jakarta Digital Valley.

  • Dari Silicon Valley, Pria Asal Surabaya Ini Ciptakan Aplikasi Kencan Online

    Dari Silicon Valley, Pria Asal Surabaya Ini Ciptakan Aplikasi Kencan Online

    Jakarta – Menjamurnya aplikasi kencan online di luar sana, tampaknya tak menjadi alasan bagi duo entrepreneur asal Silicon Valley – Jim Yang dan Min Gyung Kang – untuk mengendurkan niatnya dalam menghadirkan aplikasi serupa. Buktinya, dengan alasan membantu kaum profesional muda yang senantiasa disibukkan oleh pekerjaan, hingga bahkan tak memiliki waktu untuk pergi kencan, keduanya menciptakan Gather.

    Gather sendiri merupakan sebuah layanan pencari jodoh berbasis awan, yang ditujukan untuk membantu masyarakat Jakarta menjalin hubungan asmara. Uniknya, aplikasi ini memiliki sebuah fitur canggih yang hanya dapat digunakan oleh pengguna di Jakarta. Kunci utamanya ialah akun Facebook pengguna.

    Dengan Gather, masyarakat Indonesia dapat dijodohkan dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran teman Facebook mereka, termasuk lingkaran tingkat kedua dan ketiga, misalnya teman dari teman.

    Cara penggunaan Gather juga terbilang mudah. Pengguna cukup masuk ke akun Facebook, sebelum akhirnya mulai mencari calon pasangan. Mereka dapat melihat informasi singkat pengguna lainnya yang diambil dari Facebook seperti foto profil, pekerjaan, serta kesamaan hobi dan teman.

    Setelah itu, pengguna dapat memilih untuk menyukai atau tidak menyukai seseorang. Apabila keduanya saling menyukai, mereka akan dapat melihat profil masing-masing dan mulai berkirim pesan di dalam aplikasi. Sebagai alternatif, pengguna juga dapat mengirimkan balon virtual untuk menunjukkan ketertarikan mereka kepada pengguna lain.

    Nah, jika Anda mulai berpikir bahwa ini sedikit banyak menyerupai Tinder, sepertinya itu tidak sepenuhnya salah. Meskipun, Gather sendiri memposisikan dirinya sebagai antitesis dari aplikasi tersebut, yang memiliki reputasi menjodohkan pengguna dengan orang asing. Dengan Gather, pengguna dapat berhubungan dengan teman dari teman mereka.

    Fitur ini sangat berguna dimana pengguna – khususnya bagi wanita – bisa merasa lebih aman dan nyaman saat mereka bisa mendapatkan referensi tentang pasangannya di Gather dari teman sebelum melakukan pertemuan.

    Selain itu, Gather juga menyediakan analisa berdasarkan lokasi. Melalui fitur ini, pengguna dapat mencari pasangan berdasarkan rutinitas perjalanan mereka di Jakarta. Misalnya, apabila dua pengguna Gather bertemu saat menaiki busway, keduanya bisa saling terhubung di Gather. Fitur ini terbilang unik mengingat aplikasinya juga memberitahu kedua pengguna dimana dan kapan mereka berpapasan di dunia nyata.

    Menurut Jim Yang, pria asal Surabaya yang menjadi Co-Founder sekaligus CEO Gather, ada banyak sekali yang bisa disimpulkan dari lokasi.

    “Sebagai contoh, apabila Anda bertemu dengan seseorang di sebuah konser atau festival, Anda sudah bisa membuat perkiraan tentang kepribadian orang itu,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/10).

    Sebagai informasi, Jim sendiri merupakan seorang kelahiran Surabaya, yang mengungsi ke Amerika Serikat pada tahun 1998, setelah malang melintang sebagai entrepreneur di Indonesia. Ketika ekonomi Amerika Serikat mengalami penurunan drastis pada tahun 2004, Jim mengambil ancang-ancang dan mendirikan solusi manajemen identitas bernama Identyx, yang kemudian dijual ke perusahaan penyedia open source software yang terdaftar di bursa saham bernama Red Hat pada tahun 2008.

    Sejak saat itu, Jim menjadi seorang angel investor dan advisor untuk sejumlah startup. Salah satu investasinya yang paling terkenal ialah di Refinery29, sebuah media fashion yang sekarang memiliki valuasi sekitar Rp 4,1 triliun. Jim juga memegang posisi sebagai advisor di Founder Dating, sebuah jejaring sosial untuk entrepreneur. Disana ia bertemu dengan Gyung Kang, salah satu anggota yang populer di dalam website. Saat itu Gyung Kang juga sedang mencari ide besar selanjutnya di Silicon Valley. Kesamaan visi kemudian membawa keduanya menghasilkan Gather.

    Saat ini, Gather telah tersedia dan dapat diunduh secara gratis di platform iOS, sementara untuk versi Android, akan segera menyusul. Aplikasi Gather juga tersedia dalam bahasa Indonesia.

  • BULP Suarakan Aspirasi Pengguna Sebagai Konsumen

    BULP Suarakan Aspirasi Pengguna Sebagai Konsumen

    Jakarta – Perubahan pola pikir dan kecenderungan menggunakan internet memicu munculnya banyak Start up yang bergerak dan memanfaatkan industri IT sebagai dasar dari bisnis mereka, tak terkecuali di Indonesia.

    BULP, dalam hal ini hanyalah satu dari banyak contoh yang bisa kita temukan. Perusahaan ini adalah perusahaan yang menjadikan dirinya sebagai wadah bagi para konsumen untuk menyuarakan pesan mereka. Dalam hal ini terkait pelayanan dari perusahaan-perusahaan penyedia layanan seperti provider internet ataupun makanan siap saji.

    Arie Nasution, CEO BULP mengungkapkan, butuh waktu kurang lebih satu tahun baginya hingga akhirnya dapat secara resmi memperkenalkan aplikasi ini.

    “Aplikasi ini bertujuan untuk menjembatani antara pihak perusahaan dan konsumen untuk memberikan aspirasi yang positif dan komperhensif,” ungkapnya dalam acara peluncuran yang berlangsung di Conclave, Jakarta, Selasa (29/9).

    Melalui BULP, masyarakat tidak hanya bisa menyampaikan kritikan saja, tetapi juga saran, pujian dan juga hal positif lainnya kepada perusahaan yang dituju.

    Beberapa fitur pun dihadirkan di aplikasi ini, misalnya saja share, mee too dan fedback.

    Pengguna juga akan medapatkan reward atau penghargaan dari saran dan kritikan yang dilontarkannya. Selain juga akan mendapatkan poin yang bisa ditukarkan dengan berbagai marchendise, seperti T-Shirt, Tiket Nonton, Voucher Pulsa dan lain-lain.

    Untuk interface perusahaan, BULP memiliki real time analitic pada dashboard-nya, yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai data insight dari konsmen. Hal ini tentunya akan membuat perusahaan tersebut dapat berimprovisasi untuk meningkatkan pelayanan mereka serta memberikan penyelesaian atas masalah yang dihadapi, sebelum pada akhirnya akan membantu para konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang baik.

    Gratis dan Tak Perlu Instal                                                                          

    Aplikasi yang ditawarkan BULP ini sendiri secara tidak langsung menjadi jawaban atas segala macam permasalahan pelayanan yang ada di masyarakat saat ini. Pihak perusahaan yang bergabung juga akan sangat diuntungkan mengingat data insight pengguna yang dihadirkan dapat membantu mereka dalam menyebarkan promo dan juga dapat mengkategorikan para pengguna.

    Menurut riset dari BULP, 96 % pengguna yang tidak puas dengan pelayanan masyarakat lebih memilih diam dan 91% diantara nya lebih memilih tidak menggunakan jasa perusahaan tersebut.

    Berkaca dari riset ini, hadirnya aplikasi BULP menjadi sebuah jawaban atas permasalahan tersebut. Pasalnya para pengguna yang menggunakan aplikasi ini diminta memberikan keluhan atau saran dan pujian mereka kepada salah satu perusahaan penyedia layanan jasa dan pengguna tersebut akan mendapatkan sebuah reward dari komentar yang mereka berikan.

    Setiap perusahaan yang menggunakan jasa mereka juga tidak perlu menginstal aplikasi apapun, karena dashboard mereka akan berbentuk web dan bukan aplikasi. Bagi perusahaan yang ingin bergabung, pihak BULP akan menggratiskan pembayaran sampai dengan akhir tahun ini.

    Perlu dicatat, yang diberikan kepada perusahaan adalah data analitik dan data demografi dan bukan data diri si penggunanya.

    Public Cloud Sebagai Server

    Dikarenakan ini adalah sebuah start up yang juga baru melakukan soft launch pada Januari tahun ini, Bulp masih menggunakan public cloud sebagai server mereka. Salah satu alasannya adalah karena investasi publlic cloud cukup terjangkau, apalagi untuk pendatang baru seperti mereka.

    Namun, tentunya mereka menjamin keamanan dari data para pengguna, dimana mereka menyewa VPS dari perusahaan data center di Singapura dan menjamin keamanan dari data mereka. [AK/IF]

  • Indigo Incubator, Wadah Bagi Para Startup Temukan Jati Diri

    Indigo Incubator, Wadah Bagi Para Startup Temukan Jati Diri

    Tahun ini banyak startup-startup yang bermunculan. Banyak juga para investor yang tidak segan-segan menginvestasikan dana mereka untuk perkembangan para startup tadi. PT. Telkom Tbk, selaku perusahaan Telekomunikasi terbesar di Indonesia mencoba merangkul dan membuka potensi para startup di Indonesia dalam rangka menjalankan program CSR mereka.

    Startup sendiri merupakan perusahaan rintisan baru. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

    Melalui Indigo Incubator, PT. Telkom Tbk mencari dan menggali serta mengembangkan jati diri para startup yang disaring di beberapa wilayah di Indonesia. Indigo incubator sendiri merupakan program apresiasi kepada startup/entrepreneur yang dinilai berhasil membuat ide, produk, maupun bisnis digital inovatif yang diinginkan pelanggan (right product), serta mendorong tumbuhnya digitalpreneur baru dalam industri digital.

    Indigo incubator telah menggelar roadshow di 8 kota besar di Indonesia,yakni Bandung, Surabaya, Medan, Jogjakarta, Malang, Makassar, Balikpapan dan Denpasar serta kickoff pada tahun ini dimulai di Jakarta . Sementara untuk lokasi inkubasi, Indigo membagi lokasi inkubasi di tiga tempat yakni berada di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

    Pada tahap inkubasi tahun ini, Indigo telah  memilih 14 startup dan membagi mereka di tiga kota tersebut. Berikut daftar para startup serta lokasi inkubasinya :

    Bandung Digital Valley (BDV) diisi oleh 6 Tim :

    • Amtiss
    • Venuekita
    • Pershoenalize
    • Modegi
    • PasarLaut
    • EduShare

    Jogja Digital Valley (JDV) diisi oleh 4 Tim :

    • Layerfarm
    • GoPos
    • DecaDeco
    • Pora

    Jakarta Digital Valley (JakDV) diikuti oleh 4 Tim :

    • Amrse
    • Privyget
    • Goers
    • AppAja

    Para startup mulai inkubasi pada tanggal 27 Juli 2015 setelah libur Idul Fitri. Hari pertama para startup langsung diisi dengan kegiatan mentoring langsung dengan para mentornya masing-masing. Saat ini para startup dalam fase melakukan produk validasi. Ini akan berlangsung kurang lebih selama 3 bulan kedepan. Sebelumnya para startup diberikan tugas untuk memilih metrics dan mulai membuat prototyping produknya.

    Pada tanggal 31 Juli 2015 para startup melakukan morning glory pertama. Morning Glory merupakan sesi saring yang diikuti oleh seluruh startup. Setiap startup mempresentasikan singkat mengenai produk, revenue model, metrics yang dipilih dan currect condition (terkait produk dan tractionnya). Sementara para mentor dan startup yang lainnya memberikan masukan. Morning Glory berlangsung setiap hari jumat disetiap minggu dan dilakukan di ke-3 lokasi inkubasi.

    Masa inkubasi akan berlangsung hingga bulan November mendatang, pada masa inkubasi para startup akan mendapatkan funding sebesar  250 juta rupiah. Pada tahap ini juga para startup mendapatkan mentoring serta akan di berikan masukan untuk mengembangkan aplikasi mereka.

    Sampai tiba bulan desember, para startup akan bertemu dengan para investor untuk mendemonstrasikan program dan aplikasi yang mereka ciptakan selama masa inkubasi pada saat demo day.

  • 13 Startup Bersaing di Ajang Techventure Startup Internasional Challenge 2015

    13 Startup Bersaing di Ajang Techventure Startup Internasional Challenge 2015

    Jakarta – Tahun ini, total 13 startup akan berlomba di ajang Techventure Internasional Startup Challenge untuk memperebutkan hadiah uang sebesar S$ 50.000 serta ruang inkubasi.

    Pada ajang kali ini hadir juga 7 startup Singapura seperti, EdgeBotix Pte Ltd, Igloohome, Innovfusion Pte Ltd, Intraix Pte Ltd, Nodis Pte Ltd, Sypher Labs dan Tip Biosystems Pte Ltd.

    Sebagai informasi, Innovfusion sebuah perusahaan perangkat medis Singapura memenangkan Singapura Startup Challenge pada 14 Juli 2015 lalu dan berhak menerima hadiah uang tunai sebesar S$ 30.000 serta mengamankan satu tempat untuk bersaing di Techventure Internasional Startup kali ini.

    Perusahaan tersebut mengembangkan sistem infus medis menggunakan pompa jarum suntik dengan algoritma untuk mengantisipasi rasa sakit pasien dan menghilangkan nyeri ketika melahirkan.

    Sementara itu, finalis dari startup Singapura yang lain yakni Intraix Pte Ltd menggunakan Smart Meters, Smart Plugs and Smart Sensors untuk memberikan modul optimasi yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi rumah tangga.

    Startup lainnya yang berjuang di ajang ini adalah Alphaopen, CarbonTRACK, EasyShip, Family Traveller, Pinticks and Theia yang kesemuanya berasal dari Rusia, Australia, Hong Kong, Inggris, Turki dan Taiwan, CarbonTRACK, akan mempresentasikan platform manajemen energi yang mengelola energi di lingkungan perumahan dan komersial, dengan aplikasi spesifik untuk rumah, energi terbarukan, Big Data dan Internet of Things.

    Techventure sendiri merupakan sebuah wadah untuk technopreneur global dan investor di Asia Tenggara untuk bertemu. Dengan jumlah investor lebih dari 50, baik yang berasal dari global maupun lokal, serta lebih dari 160 startup dan 1.000 peserta.

    Aki Nakamura, Managing Director, Intellectual Capital Management mengatakan, “Perusahaan saya adalah sebuah perusahaan konsultan inovasi yang membantu MNC Sales di Jepang, pasar Jepang besar, sudah jenuh, dan perusahaan-perusahaan Jepang membutuhkan jalan yang berbeda untuk tumbuh; dan Asia Tenggara, setelah China, adalah pilihan yang tepat dalam hal itu. “

    Kegiatan ini akan diselenggarakan pada 21-22 September 2015 di Marina Bay Sands, Techventure mempertemukan para investor dengan startup melalui pertemuan yang difasilitasi dan ditargetkan pada hari kedua. Kemudia presentasi dari startups kepada investor akan diatur dan diharapkan akan diadaka sesi investor berpresentasi.

    Acara ini akan menampilkan lebih dari 100 startup lokal dan global yang inovatif dari beragam bidang teknologi. [AK/IF]