Kategori: Startup

  • Ini Dia Layanan Streaming Tanpa Kuota Internet Buatan Anak Bangsa

    Ini Dia Layanan Streaming Tanpa Kuota Internet Buatan Anak Bangsa

    Telko.id – Dalam melakukan perjalanan jauh, baik dengan bis atau kereta api bagi para traveler dan commuter, kebosanan menjadi salah satu kendala yang sering dialami banyak orang. Terlebih lagi jika akses internet yang terbatas membuat perjalanan semakin membosankan.

    Anda tidak bisa membuka social media dan apalagi harus men-download file streaming video dan musik yang membutuhkan akses data besar. Karenanya solusi yang dapat memberikan kemudahan akses streaming konten hiburan saat perjalanan plus bebas kuota ini lah yang menjadi alasan HaloHola, startup besutan anak muda Indonesia ini, hadir agar perjalanan jauh Anda tidak lagi membosankan.

    “Kami menemukan sebuah masalah yang cukup unik berdasarkan pengalaman melakukan perjalanan di Indonesia menggunakan layanan transportasi yang belum dilengkapi koneksi internet dan kebosanan saat dalam perjalanan jauh,” ujar Jaka Putranto, Founder HaloHola menjelaskan.

    Itu sebabnya, HaloHola meluncurkan layanan onboard entertainment streaming ini. HaloHola memungkinkan para pengguna untuk dapat menikmati berbagai jenis hiburan melalui gadget pribadi di tempat tertentu yang tidak terdapat koneksi internet (blankspot) seperti di kereta api dan stasiun. Adapun konten hiburan yang disediakan HaloHola diantaranya video, game, majalah, artikel, dan musik.

    HaloHola dapat mendukung semua perangkat dan tidak perlu mendownload aplikasi terlebih dahulu. Cara kerjanya, HaloHola ini akan terkoneksi oleh sebuah device yang memancarkan sinyal WiFi. Kemudian WiFi tersebut akan terkoneksi oleh smartphone ataupun gadget lain yang akan digunakan dalam menikmati layanan HaloHola.

    Cukup terhubung dengan WiFi HaloHola, maka konten hiburan dapat dinikmati oleh para pengguna. Dibandingkan layanan streaming lainnya, konten hiburan HaloHola dapat dinikmati dengan lancar tanpa buffering dan juga bebas kuota.

    “Kami memberikan fasilitas bebas kuota kepada para penumpang untuk menonton video, mendengarkan musik, bermain games, membaca koran dan majalah digital yang langsung dapat diakses di gadget masing-masing sepanjang perjalanan,” tegas Jaka.

    Guna memberikan konten hiburan kepada masyarakat saat melakukan perjalanan jauh menggunakan sarana transportasi, HaloHola telah melakukan kerjasama dengan Kereta Api Indonesia atau KAI. Dengan demikian, HaloHola dapat menghadirkan beragam hiburan gratis kepada para penumpang kereta api melalui perangkat mereka sendiri sehingga dapat menghilangkan kejenuhan pada saat melakukan perjalanan.

    Selain KAI, HaloHola juga dalam proses bermitra dengan bandara-bandara utama di Indonesia, dan perusahaan-perusahaan transportasi lainnya.

    “Respon dari para pengguna sangat lah baik dimana kami telah mendapatkan 12.000 users hanya dalam waktu 4 minggu dan tumbuh pesat, dengan respon baik yang kami terima dari pihak pengelola transportasi dan juga penumpangnya. Karena itu kami sedang mempersiapkan seed fund raising untuk ekspansi ke perusahaan- perusahaan transportasi lainnya agar dapat cepat menangkap market share yang besar.” Tambah Jaka memaparkan.

    HaloHola sendiri adalah salah satu startup yang masuk dalam dalam program akselerasi dari GnB Accelerator Batch Kedua. Program GnB Accelerator sendiri merupakan program akselerasi kerjasama antara Fenox VC dan Infocom Corporation. Program yang berjalan selama tiga bulan ini menawarkan mentorship (bimbingan), support (dukungan), training (pelatihan), dan funding (pendanaan). (Icha)

     

  • WGS Hub Siap Cetak 2.5 juta Developer di 2020

    WGS Hub Siap Cetak 2.5 juta Developer di 2020

    Telko.id – Sinar Mas Land, salah satu pengembang di Indonesia begitu giat membangun ekosistem digital di BSD City. Setidaknya, group ini menyediakan dana sebesar 300 jutaUS$ atau sekitar Rp.7 Triliun untuk pengembangan ekosistem tersebut.

    Berkenaan dengan rencana tersebut, salah satu proyek yang dikerjakan, Sinar Mas Land bekerja sama dengan GeeksFarm dan Sarden Global Service membuat digital hub yang diberi nama WGS hub. Harapannya, WGS Hub ini menjadi sebuah ‘market place’ untuk berbagai kebutuhan digitalisasi.

    “WGS hub ini akan menjadi solusi bagi para pebisnis dalam bidang teknologi yang biasanya menghadapi masalah dalam mencari apps developer, maupun software house yang berkualitas,” ujar Donny Raharjo, Managing Director President Office Sinar Mas Land menjelaskan saat meresmikan WGS Hub di BSD City.

    Dengan adanya WGS Hub ini, para pebisnis yang ingin masuk ke dunia digital dapat terbantu. Bahkan, GeeksFarm dapat menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan dan berkualitas. Dalam digital hub ini akan menjadi kawasan yang khusus dikembangkan bagi para pengembang industri teknologi digital. Mulai dari perusahaan startup, technology leader, hingga komunitas digital lainnya. Digital hub ini juga diperuntukkan bagi research, ilmuwan STEM (Science, Technology, Engineer dan Math) serta inovator dibidang Smart System dan technology.

    Rencananya, WGS Hub akan hadir juga diberbagai kota besar di Indonesia. Seperti di Surabaya, Semarang dan Medan. “Kami juga akan bangun di luar negeri sehingga mampu mempercepat perkembangan teknologi informasi dikalangan bisnis seluruh Indonesia bahkan mampu menciptakan lapangan kerja dan bisa eksport kemampuan IT Indonesia ke luar negeri,” kata Ikin Wirawan, Chairman & Founder Walden Global Service.

    Ikin juga menambahkan bahwa “Target dari WGS Hub ini adalah mampu menciptakan 2.5 juta developer program. Dengan rincian, setiap WGS Hub mampu mencetak 50 ribu developer. Rencananya, WGS Hub ini akan dibangun hingga 50 lokasi di Indonesia maupun luar negeri”.

    Kawasan Digital Hub yang menempati area seluas 25,86 Ha ini terletak di bagian selatan Green Office Park, BSD City. Di mana kawasan ini didedikasikan sebagai ‘Silicon Valley’ Indonesia. (Icha)

  • Oracle Buka Lagi Program Startup Accelerator Demi Kemajukan Inovasi

    Oracle Buka Lagi Program Startup Accelerator Demi Kemajukan Inovasi

    Telko.id – Oracle kembali membuka pendaftaran program Startup Cloud Accelerator. Inisiatif ini bertujuan agar inovasi berbasis cloud di seluruh dunia tumbuh dan berkembang dengan membuka beberapa pusat baru di Bristol, Delhi-NCR, Mumbai, Paris, Sao Paulo, Singapura, dan Tel Aviv.

    Program ini menyediakan mentoring selama enam bulan oleh para ahli teknis dan bisnis, teknologi canggih, co-working space, akses ke pelanggan, mitra, dan investor Oracle, serta kredit Oracle Cloud tanpa biaya. Program ini juga menyediakan jaringan startup global yang terus berkembang.

    Berakar dari jiwa kewirausahaan, Oracle yakin dengan mendukung penemuan dan kewirausahaan di antara perusahaan baru, mampu memajukan inovasi teknologi.

    “Setelah peluncuran yang sukses di Bangalore, India, kami berkomitmen membangun ekosistem yang mendukung untuk para startup di seluruh dunia,” kata Thomas Kurian, President of Product Development, Oracle.

    Thomas pun menambahkan bahwa “Cloud memungkinkan terciptanya inovasi yang luar biasa di seluruh aspek bisnis dan berbagai industri. Kami ingin mendukung revolusi teknologi yang ditenagai oleh cloud ini.”

    Dengan platform cloud yang modern, dioptimalkan untuk kinerja tinggi, I/O yang tinggi, dan ketersediaan yang tinggi, serta layanan cloud yang mendalam, Oracle mendemokratisasi teknologi kelas enterprise untuk mendukung startup. Stack cloud dari Oracle menyediakan pengembang startup dengan membangun block agar mereka dapat segera menggunakannya saat sedang memperluas bisnis mereka.

    Dengan rekam jejak yang mengglobal, Oracle memberikan lebih dari 50 layanan cloud terintegrasi untuk mendukung perusahaan, baik kecil, menengah, atau pun besar.

    Program ini, yang pertama kali diluncurkan di Bangalore pada bulan April 2016, menarik berbagai pendaftar dari ratusan perusahaan, dan banyak peserta yang pernah mengalami kesuksesan.

    “Selama lima hingga 10 tahun ke depan ini akan terjadi inovasi dan pertumbuhan yang akan mendorong ide-ide bisnis yang didorong oleh cloud,” kata Bradford.

    Bradford menambahkan bahwa “Oracle mengerti bahwa startup adalah jantung dari inovasi, dan melalui program ini, kami bertujuan untuk memberikan akses kepada startup menuju sumber daya dan dukungan saat mereka membutuhkannya.”

    Oracle Startup Cloud Accelerator terbuka untuk startup teknologi pemula atau yang berbasis teknologi. Pendaftaran dibuka di tahun 2017 di masing-masing tujuh negara hub tersebut. Startup yang tertarik bisa mendaftar untuk menerima lebih banyak informasi di www.oracle.com/startup. (Icha)

  • Aplikasi Parkiran Ini Yang Ada Asuransi nya

    Aplikasi Parkiran Ini Yang Ada Asuransi nya

    Telko.id – Dinamika permasalahan parkir terus bergulir dengan masalah yang datang silih berganti. Mulai dari jumlah kendaraan yang meningkat pesat dan lahan parkir yang terbatas, hingga yang terbaru adalah menjamurnya parkir liar para ojek dan taksi online dipinggir jalan.

    Beragam solusi pun coba dilakukan pemerintah dengan membagi zona parkir beragam tarif, hingga tindakan tegas bagi para pelanggar parkir di jalanan mulai dari cabut pentil, derek, bahkan angkut kendaraan oleh dinas perhubungan setempat.

    “Sudah banyak penindakan mulai dari cabut pentil hinga angkut kendaraan, tapi saya berhadap harus ada solusi, karena penindakan harus dikurangi sebagai wujud ketertiban yang lebih baik. Manajemen parkir ini harus dilakukan dengan baik. Perlu ada kesatuan paham antara pihak pengelola lahan parkir, penyedia layanan seperti ‘Parkiran’ dengan Dishub,” kata Marulitua Sijabat, Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dinas Perhubungan DKI Jakarta menjelaskan.

    “Memang, aplikasi ini bukan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah, tapi solusi untuk menyelesaikan masalah perparkiran. Ini masukan untuk Dishub. Pemerintah punya objektif supaya bisa kerja sama bareng untuk pembatasan kemacetan. Jangan sampai mematahkan seperti meningkatkan tarif parkir agar pengendara berkurang. Di sisi lain suplai mobil terus bertambah,” papar Lis sutjiati, Staf khusus Menkominfo.

    Dengan kondisi tersebut maka muncullah ide untuk membuat aplikasi startup bernama ‘Parkiran’. Aplikasi ini menjadi solusi baru bagi para pengendara yang ingin memarkirkan kendaraannya dengan aman dan nyaman berkat fitur asuransi yang melindungi keamanan kendaraan, harga parkir yang jelas, kemudahan pembayaran dengan sistem cash dan P Pay, hingga transparansi retribusi dan pajak yang harus disetorkan kepada negara.

    Selain pengendara, para mitra yang menyediakan lahan parkir juga ikut kebagian manfaatnya. Karena dapat dipastikan mitra yang bergabung bersama aplikasi ‘Parkiran’mendapatkan nilai tambah dari lahan tidur yang dimiliki.

    “Semua mitra kami tertarik dengan program yang kami miliki. Salah satunya memberikan asuransi terhadap kendaraan yang parkir. Kami pun mengedukasi mereka untuk memberikan fasilitas tambahan seperti toilet, musholla, warung makan, wifi gratis, cucian motor dan helm agar memiliki nilai tambah bagi calon pengguna jasa layanan parkir. Mitra yg mempunyai fasilitas, Anda tinggal gunakan parkiran dan bisa one stop service sesuai dengan kebutuhan Anda. Mitra kami boleh rumahan tapi bukan murahan,” papar Hatta Afkar, CEO and Founder PARKIRAN menjelaskan.

    Saat ini sudah ada 25 mitra yang tersebar di Jabodetabek, 15 diantaranya sudah online. Dari 25 mitra tersebut, ‘Parkiran’ telah mendapat jatah 25% dari rata-rata kapasitas 100 untuk motor dan rata-rata lima untuk mobil yang disediakan mitra. Ke depannya, ‘Parkiran’ berkomitmen untuk memperluas mitra parkir dengan target 25 parkiran baru tiap bulannya.

    “Untuk jatah parkir, saya ingin mengubah pola berpikir masyarakat yang tadinya konvensional bisa meningkatkan pendapatannya dengan pendekatan digital lewat aplikasi ini,” sambung Hatta.

    Bagi pengendara yang menggunakan aplikasi ‘Parkiran’ ini sebenarnya cukup sederhana. Anda bisa mencari lahan parkir yang tersedia dengan layanan peta realtime di dalam aplikasi. Cakupan wilayahnya bisa diatur untuk lahan parkir terdekat atau sesuai dengan pencarian lahan parkir yang diinginkan.

    Setelah itu, Anda bisa melakukan reservasi atau check in di lahan parkir tersebut. Bila melakukan reservasi Anda akan mendapat tiket berupa QR code yang nantinya akan discan oleh juru parkir atau pemilik lahan parkir atau mitra ‘Parkiran’. Kapasitas dan ketersediaan parkiran akan terlihat secara real time dalam aplikasi
    Besaran atau biaya parkir sudah ditentukan di awal.

    Jadi, Anda tidak akan bingung berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa parkir di tempat yang dituju. Soal pembayaran bisa dilakukan secara cash maupun lewat fitur dompet digital P Pay yang tersedia di dalam aplikasi.

    Untuk saat ini aplikasi Parkiran saat ini baru tersedia untuk perangkat berbasis Android. Sementara untuk iOS baru akan tersedia Februari mendatang. (Icha)

  • 4 Startup Ini Dibimbing Tri Selama 2 Tahun

    4 Startup Ini Dibimbing Tri Selama 2 Tahun

    Telko.id – Hutchinson 3 Indonesia memilih 4 ide bisnis terbaik dari program Festival #Ambisiku yang sudah berlangsung dari 16 September hingga 9 Oktober 2016 lalu di tiga kota. Yang terpilih adalah Mengundang.co dari Bandung, SellBuyTime dari Jakarta, WI4GO dari Yogyakarta dan SoKu.id dari Solo.

    Ke empat pemilik ide bisnis ini terpilih dari 225 proposal ide yang masuk selama program Festival #Ambisiku. Dan rencananya akan masuk dalam Boot Camp selama 4 hari. Dalam Boot Camp ini, para pemilik ide akan dibimbing untuk menyusun rencana bisnis dalam kurun waktu 2 tahun. Dilengkapi dengan SWOT analysis atau strength, weakness, opportunities dan threats. Setelah itu harus mempresentasikan pada direksi Tri yang nantinya akan menentukan konsep dan format dukungan yang akan diberikan Tri pada para pemilik ide tersebut.

    “Bentuknya seperti apa? Masih belum tahu. Pada tahap awal ini baru akan membuat rencana pengembangan bisnis hingga 2 tahun. Setelah itu baru akan diberikan bantuan. Bentuknya bisa macam-macam. Seperti funding, networking, hingga resource lain yang dimiliki Tri dan bisa dipakai mereka,” ujar Wahyudin Adikusumah, Human Resources Director Tri menjelaskan.

    Saat ini, memang generasi sekarang memiliki keuntungan dalam berbisnis dibandingkan dengan generasi sebelumnya karena tersedia berbagai teknologi yang dapat digunakan sebagai sarana pedukung.

    “Namun ternyata, hal tersebut tidak cukup kuat mendorong para generasi muda untuk berwirausaha. “Bahkan data pemerintah tahun 2016 menunjukan bahwa dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa, jumlah wirausahawan belum mencapai target ideal sebesar 2%,” kata Wahyudin.

    Wahyudin pun menambahkan bahwa dengan adanya program Festival #Ambisiku ini dapat menjadi salah satu jalan bagi generasi muda untuk berani melangkiah berwirausaha. Hal ini juga menjadi komitmen Tri untuk pemberdayaan anak muda Indonesia yang akan terus berlanjut di tahun 2017. (Icha)

  • Ini Dia Starup Asli Indonesia Yang Mampu Menganalisa Data

    Ini Dia Starup Asli Indonesia Yang Mampu Menganalisa Data

    Telko.id – Masuk ke dunia digital memang sangat dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Namun jangan sampai salah langkah yang akan menjadi boomerang kehancuran. Untuk itu, Anda dapat gunakan Kazee. Startup yang mengembangkan platform untuk melakukan analisis berbagai media seperti social media, forum, media berita, dan media online lainnya. Kazee berasal dari kata bahasa Indonesia yaitu kata “kaji” yang bermakna analisis, memahami atau mengetahui lebih lanjut.

    Kazee adalah startup asli Indonesia yang sebelumnya bernama CHARM (Customer Handling, Analytic and Relationship Management) yang merupakan salah satu startup terbaik program Lintasarta Appcelerate 2016 yang diadakan oleh Lintasarta dan LPIK ITB. CHARM telah melakukan re-branding melalui soft launching menjadi Kazee pada 13 Desember 2016 lalu.

    Kazee ini digandeng oleh Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) dengan tujuan untuk memperkenalkan platform media analytics kepada pelaku bisnis baik B2B maupun Pemerintah. Saat ini, Kazee telah digunakan oleh beberapa perusahaan baik BUMN, swasta dan pemerintah kota untuk uji coba.

    “Kazee dengan motonya media analytics is easy bermaksud untuk membantu perusahaan melakukan analisis berbagai media dengan lebih mudah dan murah,” ujar Ariya, Founder Kazee menjelaskan.

    Hal ini juga yang membuat Kazee siap bersaing dengan berbagai perusahaan media analytics lainnya di Indonesia maupun di kancah global. Ariya menekankan bahwa Kazee hadir untuk melakukan disrupsi pasar media analytics di Indonesia dengan model bisnis media analytics as a service yang pertama di Indonesia, yaitu layanan berlangganan analisis media sesuai kebutuhan. Keunggulan yang ditawarkan Kazee adalah perusahaan dapat menentukan sendiri harga dan fitur yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan.

    “Kami bangga karena Kazee merupakan karya anak bangsa salah satu pemenang Appcelerate 2016, memberikan solusi analytics data untuk kebutuhan di industri,” ujar Teddy Sis Herdianto, Strategy & Business Development General Manager Lintasarta menjelaskan.

    “Kerjasama antara perusahaan rintisan, Lintasarta dan LPIK ITB ini, merupakan salah wujud kontribusi Lintasarta terhadap program pemerintah dalam memajukan ICT di Indonesia”, ujar Teddy menambahkan.

    Kazee saat ini masih terus dikembangkan dan telah tersedia aplikasi Kazee versi mobile untuk Android. Kedepannya Kazee akan mengembangkan aplikasi mobile versi iOS dan siap untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang bermain di pasar Big Data Analytics. (Icha)

  • Uber Sepakat Merger Dengan Didi ChuXing Senilai $35 Miliar

    Uber Sepakat Merger Dengan Didi ChuXing Senilai $35 Miliar

    Telko.id – Bisnis Uber banyak ditolak oleh berbagai negara karena dianggap mengganggu bisnis taxi tradisional. Namun, di Cina, Uber Technologies Inc punya strategi lain. Aksi korporasi yang diambil adalah merger dengan perusahaan transportasi yang terkenal di negara Bambu tersebut yakni Didi ChungXing.

    Valuasi dari aksi merger ini mencapai $ 35 miliar. Uber di Cina ini akan memberikan share saham pada investornya, Uber, Baidu Inc yang berbasis di San Francisco sebesar 20% pada perusahaan yang baru dibentuk tersebut. Uber pun. di Cina ini masih akan menggunakan aplikasi sendiri.

    Didi sudah menginvestasikan $1 miliar di Uber atau nilai valuasinya sebesar $68 miliar. Sayang. untuk masalah investasi ini, baik Uber maupun Didi belum ada yang memberikan komentarnya.

    “Sebagai pengusaha, saya telah belajar bahwa menjadi sukses adalah dengan mendengarkan Anda sendiri serta mengikuti hati Anda,” ujat Travis Kalanick, CEO Uber, menulis dalam sebuah posting blog yang diperoleh Bloomberg.

    Kalanick juga menambahkan bahwa Uber dan Didi ChuXing berinvestasi miliaran dolar di Cina dan kedua perusahaan belum menghasilkan keuntungan di sana. Untuk mendapatkan profit, satu-satunya cara dalah membangun bisnis berkelanjutan yang dapat melayani pengendara, driver Uber serta masyarakat kota dalam jangka panjang.

    Di sisi lain, pemerintah China baru saja mengeluarkan aturan baru pekan lalu yang melegalkan layanan transportasi seperti uang dilakukan oleh Uber dan Didi. Hal ini membuat, prospek dari kedua perusahaan yang merger pun lebih baik.

    Langkah yang dilakukan Uber ini menjadi solusi ketidakpuasan para investornya dan minta Uber untuk menjual aset nya di China. Selain itu, merger juga menjadi jalan keluar bagi Fiber dan Dodi yang terus menerus bersaing dan menghabiskan dana yang tidak sedikit.

    Uber pernah menyebutkan bahwa telah kehilangan lebih dari $ 2 miliar di negeri ini. Pada semester pertama 2015, Uber boleh saja untung di pasar negara maju. Tapi ternyata tidak cukup beruntung di Cina. (Icha)

  • Genjot Pelaku Startup Dengan Program Tiket.Codes

    Genjot Pelaku Startup Dengan Program Tiket.Codes

    Telko.id – Tiket.com selaku situs pemesanan tiket online mecoba mendukung program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital dengan menggelar kegiatan tiket.Codes.

    Berdasarkan keterangan pers yang diterima tim telko.id, Tiket.com berbagi pengetahuan tentang apa itu API (Application Programming Interface) dan bagaimana memanfaatkan API sehingga menjadi ladang bisnis baru bagi para web developer teknologi di Indonesia.

    “Di Indonesia belum banyak developer yang memanfaatkan API dari Tiket.com untuk membuat sebuah inovasi bisnis. Dari sini kami berharap akan tumbuh entrepreneur-entrepreneur baru yang bisa menghadirkan terobosan inovasi di Indonesia bersama Tiket.com” ujar Natali  Ardianto selaku CTO Tiket.com.

    Natali berujar, mengatakan acara ini bertujuan untuk membuka wawasan para developer dan sharing session bagaimana mengembangkan produk bisnis menggunakan API Tiket.com.

    Sejatinya, Tiket.Codes sendiri berkonsep mini talkshow yang menghadirkan pembicara-pembicara yang telah memilki pengalaman langsung mengenai pengembangan bisnis melalui afiliasi API. Selanjutnya dilanjutkan dengan sharing session oleh Marcella Einsteins dari Indonesia Flight, sebuah layanan aplikasi pemesanan tiket pesawat yang juga menggunakan system partner afiliasi melalui API Tiket.com dan sudah menghasilkan omzet ratusan milyar.

    Kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini sekaligus untuk membangun hubungan baik antar sesama web developer independen ataupun pelaku industri IT startup, sehingga pada akhirnya dapat bersinergi dalam membangun Indonesia yang lebih baik melalui inovasi-inovasi baru melalui internet.

    Sampai batas akhir waktu pendaftaran, jumlah pendaftar sudah melebihi target peserta, karena terbatasnya tempat, maka panitia akhirnya memilih 50 orang peserta terpilih untuk bisa mendapatkan undangan menghadiri gathering Tiket.Codes.

    Berkaca dari animo peserta yang tinggi, Tiket.Codes akan menjadi kegiatan rutin yang akan dilakukan oleh Tiket.com. Tidak hanya di Jakarta, Tiket.com juga akan menggelar acara serupa di beberapa kota di Indonesia.

    “Kami juga ingin merangkul calon-calon developer luar kota untuk bisa mengenal API lebih dalam dan bisa memanfaatkan API yang ada di Tiket.com. Acara ini juga merupakan wujud dari Tiket.com untuk mendukung program dari Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menginisiasi Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital pada tahun 2020 yang diharapkan dapat turut memajukan perekonomian Indonesia melalui bisnis digital kreatif,” tukas Natali.

  • 30 Aplikasi Solusi Desa Broadband Terpadu Siap Bertanding

    30 Aplikasi Solusi Desa Broadband Terpadu Siap Bertanding

    Telko.id – Dari statistik yang dihimpun, di Indonesia terdapat 74.094 desa, dengan 26% di antaranya, atau sekitar 19.386 desa merupakan kategori tertinggal dan lokasi prioritas (lokpri). Sedangkan 43% di antara desa tertinggal tersebut, atau sejumlah 8.447 desa merupakan desa tertinggal dengan akses sinyal telekomunikasi yang sudah baik.

    Kondisi tersebut diharapkan dapat dimaksimalkan untuk mengakselerasi perkembangan ekonomi desa dengan pendekatan digital sehingga mempercepat tercapainya kesejahteraan desa. Itu sebabnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika menjalankan program Solusi desa Broadband Terpadu yang mengajak para inovator muda di Indonesia untuk menghasilkan aplikasi digital tepat guna yang mampu membantu percepatan pembangunan desa tertinggal di seluruh pelosok negeri.

    Beberapa masalah dasar yang menjadi sasaran adalah seputar mata pencaharian, akses layanan kesehatan, layanan keselamatan dan layanan kenyamanan. Dan, aplikasi tersebut akan diimplementasikan didaerah pertanian, perikanan dan pedalaman.

    “Peralihan dari aktivitas ekonomi tradisional ke aktivitas ekonomi digital dipastikan selain akan meningkatkan kecepatan transaksi ekonomi juga akan meningkatkan efisiensi proses ekonomi. Oleh sebab itu masyarakat harus sesegera mungkin dikondisikan untuk menyambut era ekonomi digital tersebut,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sambutan pada saat peluncuran program ini.

    Saat ini, sudah ada 30 aplikasi dari peserta terbaik yang lolos tahap Penjurian Solusi Desa Broadband Terpadu, setelah melalui tahapan pengumpulan ide-ide untuk menemukan solusi desa broadband terpadu.

    Sampai akhir masa pendaftaran, tercatat ada 238 Solusi Desa Broadband Terpadu yang masuk.

    Setelah melalui tahapan penjurian yang ketat selama 2 minggu, juri SDBT tgl 11 Juni 2016 mengumumkan 30 nama peserta yang lolos.

    Tim Juri yang melakukan seleksi merupakan para ahli di bidang Total Sulution, Application Ecosystem, Rural Expert, Application Architecture, Fisheries Expert, Agriculture Expert dan ICT Community Engagement. Penjurian dibagi dalam 3 kategori yaitu kategori nelayan, petani dan desa pedalaman.

    Dari 3 kategori tersebut, peserta yang lolos kategori Nelayan terdapat 9 tim, kategori pedalaman 6 orang dan kategori petani 15 peserta. Tim yang lolos berasal dari berbagai Propinsi di Indonesia, seperti perwakilan Kab Jeneponto, Kota Medan, Prov Sumatera Selatan dan lainnya.

    Berikut 30 Tim yang terpilih:

    Desa Pedalaman

    1. Hukaku (Hutanku Kantorku)
    2. Nusantara Beta Studio
    3. Postmo-care
    4. SES
    5. SOS DESAKU
    6. X-Igent

    Desa Petani

    1. 8 Village, Petani
    2. BISO
    3. E-TaniPintar
    4. igrow
    5. iKiosk
    6. Jejaringnet
    7. KulDesaK
    8. Layer Farm
    9. lelanik.tk
    10. MyAgri Mobile Learning for Farming
    11. Panen.id
    12. Second Vision Corp
    13. SILAT MEDAN IT
    14. Situbondo Smart
    15. SmartVillage

    Desa Nelayan

    1. 8 Village, Nelayan
    2. AngsuCorp
    3. e-Fishery
    4. ePustaka/ Mfish
    5. JukuTech Sahabat Pulau
    6. Senusa ID
    7. SINGA LAUT
    8. Smart Fisherman
    9. Smart-Fhisery

    Selanjutnya, tim yang sudah lolos seleksi akan mengikuti workshop dan diberikan gambaran tentang lokasi pilot program implementasi SDBT yakni di Desa Meskom (Riau), Desa Panca Karsa (Gorontalo), dan Kelurahan Fatukbot (NTT). Setelah itu akan diberikan waktu untuk melakukan penyempurnaan ide dan pengembangan aplikasi yang telah dibuatnya. Usai itu, akan masuk boothcamp untuk mendapatkan mentoring. Baru dilanjutkan dengan pembuatan prototype yang akan dipresentasikan pada saat final pada awal Juli mendatang. (Icha)

  • Start-Up Kelase Asal Indonesia Dapat Bantuan Dana Dari Microsoft

    Start-Up Kelase Asal Indonesia Dapat Bantuan Dana Dari Microsoft

    Telko.id – Tidak dapat dipungkiri, namanya internet di Indonesia masih belum merata. Masih banyak wilayah yang belum terjangkau oleh akses internet ini. Walau demikian, Kelase sebagai start-up mencoba untuk fokus memberikan kemudahan bagi sekolah-sekolah di area terluar Indonesia untuk mendapatkan pembelajaran secara online. Hal itu yang membuat Microsoft akhirnya memilih Kelase dalam programnya Affordable Access Initiatives untuk memberikan bantuan dana.

    Program Affordable Access Initiatives ini sendiri memberikan bantuan dana bagi para start-up di berbagai Negara. Dan untuk di Indonesia yang terpilih adalah Kelase. Dimana, start-up ini menyediakan platform di bidang pendidikan. Bantuan dana ini akan dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan penerima untuk membantu pengembangan dan penerapan internet yang terjangkau bagi lingkungan dan komunitas.

    Setiap perusahaan yang mendapatkan bantuan akan menerima tambahan sarana BizSpark seperti software gratis, layanan, dan bantuan teknologi untuk meningkatkan kualitas dari hardware, aplikasi, konektivitas serta power solutions.

    “Pemberian dana dari Microsoft akan sangat membantu mengembangkan program kami yaituKelase Blended Learning dimana kami hendak menyiapkan end-to-end solution untuk sekolah-sekolah di area terluar Indonesia dalam melakukan pembelajaran secara online. Kami ingin memperluas jangkauan platform kami agar dapat digunakan oleh seluruh sekolah dan organisasi pendidikan di Indonesia,” ujar Winastwan Gora, Chief Operating Officer dari Kelase.

    1

    Platform yang disediakan Kelase merupakan layanan online untuk belajar yang dapat diakses melalui pendaftaran pada laman Kelase. Sekolah-sekolah dapat mengunggah pelajaran-pelajaran yang mereka gunakan untuk diakses secara internal sehingga bahan pelajaran dapat tersimpan secara online dan dapat diunduh kembali untuk digunakan secara offline. (Icha)