Kategori: Startup

  • Telkomsel dan Feedloop Kolaborasi Akselerasikan Ekosistem Startup

    Telkomsel dan Feedloop Kolaborasi Akselerasikan Ekosistem Startup

    Telko.id – Telkomsel dan Feedloop kolaborasi menghadirkan solusi SaaS (software as a service) yang dapat dimanfaatkan oleh sektor UKM, untuk mengakselerasi transformasi digital sektor UKM Indonesia sehingga dapat lebih adaptif, berdaya dan tumbuh berkelanjutan.

    Kesepakatan kolaborasi tersebut ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak yang disaksikan langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir yang dilakukan bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan BUMN Startup Day pada (26/9) di Jakarta.

    Terjalinnya kolaborasi ini merupakan wujud nyata komitmen Telkomsel yang terus mendorong pemberdayaan inovator lokal, terutama startup potensial untuk terus tumbuh melalui pemanfaatan dan pengoptimalan ekosistem, aset, dan kompetensi yang dimiliki Telkomsel.

    “Pengembangan SaaS untuk kalangan UKM sangat dibutuhkan saat ini mengingat masih banyaknya pelaku usaha di sektor tersebut yang belum go digital,” kata Hanang Setiohargo, Vice President Enterprise Product Management Telkomsel.

    Terbatasnya pengetahuan dan kemampuan talenta UKM terhadap teknologi digital masih menjadi problematika yang harus dapat kita cari solusinya bersama. Telkomsel melihat bahwa penerapan SaaS menjadi salah satu solusi yang paling relevan karena memungkinkan siapa saja dapat membuat atau membangun platform-nya sendiri tanpa perlu melakukan instalasi server bahkan belajar bahasa pemrograman.

    Peluang inilah yang ingin Telkomsel optimalkan melalui kolaborasi yang terjalin dengan Feedloop sebagai startup yang bergerak di bidang SaaS.

    Melalui kolaborasi ini, Telkomsel dan Feedloop tak hanya akan berfokus dalam pengembangan SaaS, melainkan juga meliputi pengembangan produk business to business (B2B) kedua perusahaan yang lebih luas guna memenuhi setiap kebutuhan segmen UKM.

    Seiring dengan terjalinnya sinergi ini, Telkomsel dan Feedloop akan mengoptimalkan aset ekosistem digital yang dimiliki untuk membuka lebih banyak peluang dengan menghadirkan solusi digital inovatif khususnya dalam mengakselerasi transformasi digital sektor UKM Indonesia sehingga dapat lebih adaptif, berdaya dan tumbuh berkelanjutan.

    Feedloop adalah salah satu portofolio TMI yang fokus dalam menjawab permasalahan bagaimana UKM Indonesia dapat menjalankan usahanya lebih produktif, melalui solusi digital yang tepat guna, cepat, dan agile.

    “Feedloop dengan solusi low code-nya, kami percaya memiliki potensi yang sangat besar, ditunjang dengan kolaborasi bersama Telkomsel diharapkan dapat bersama-sama membawa percepatan digitalisasi pada sektor UKM,” ujar Mia Melinda, CEO Telkomsel Mitra Inovasi.

    “Feedloop telah berinvestasi besar dalam mengembangkan platform no-code yang dapat mempercepat proses pembuatan aplikasi internal maupun customer-facing hingga 10 kali lebih cepat,” kata Ahmad Rizqi Meydiarso, CEO dan Co-Founder Feedloop.

    Misi Feedloop sendiri adalah untuk dapat merealisasikan pemerataan akses digital dan demokratisasi teknologi software untuk semua kalangan, kami mengembangkan platform no-code ini untuk usaha kecil dan menengah, sehingga mereka dapat membuat software berkualitas sesuai kebutuhan dengan harga yang terjangkau dan cepat.

    “Kami berharap kolaborasi dengan Telkomsel ini dapat mengakselerasi proses implementasi dari misi kami dalam melakukan pemerataan akses digital di Indonesia,” ujar Ahmad menambahkan.

    Sebagai upaya keberlanjutan dalam mendorong pemberdayaan startup Tanah Air, Telkomsel turut memberikan dukungan langsung pada perhelatan BUMN Startup Day dengan ambil bagian pada tiga program utamanya, yaitu Business Matching, Investor Pitching, dan Conference.

    Melalui program-program tersebut, Telkomsel menjadi salah satu dari 22 perusahaan BUMN yang diberi kesempatan untuk memilih dan menentukan startupstartup yang dinilai berpotensi tumbuh di Indonesia, memandu startup-startup tersebut untuk menemukan potensi dan peluang terbaik, hingga membantu meningkatkan kapabilitas digital dengan membuka peluang pemanfaatan aset ekosistem digital Telkomsel melalui kolaborasi strategis.

    BUMN Startup Day menjadi salah satu kegiatan penting yang perlu Telkomsel dukung sepenuhnya karena menjadi momentum dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, yakni antara startup Indonesia, Kementerian BUMN beserta perusahaan-perusahaan di bawahnya.

    Melalui pertemuan tersebut, Telkomsel yang merupakan bagian dari perusahaan BUMN TelkomGroup berkesempatan menjalin kolaborasi bersama startup Tanah Air untuk memberikan solusi end-to-end di berbagai sektor industri. Salah satunya melalui INDICO, anak usaha Telkomsel yang fokus di bisnis digital, yang didukung pemerintah untuk bisa hadir sebagai agregator digital dan akses pasar para kreator lokal.

    “Kami pun berharap, berbagai upaya yang kami lakukan ini dapat memberikan dampak pada penguatan ekonomi digital nasional melalui kepemimpinan teknologi terdepan,” ungkap Hanang.

    Telkomsel sendiri memiliki komitmen dalam memperkuat ekosistem digital nasional secara inklusif dan berkelanjutan.

    Operator ini akan terus bergerak maju mengakselerasi pertumbuhan inovator lokal melalui berbagai langkah sistematis dan menyeluruh, yang meliputi dukungan penguatan fundamental melalui penyelenggaraan program inkubasi, membuka peluang kerjasama strategis, hingga melalui investment strategic. (Icha)

  • Jababeka Silicon Valley, “The Next Silicon Valley” di Indonesia

    Jababeka Silicon Valley, “The Next Silicon Valley” di Indonesia

    Telko.id – Jababek siap bangun Jababeka Silicon Valley. Untuk niat nya ini, Jababeka pun secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang menggandeng BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), BISA AI (PT Bisa Artifisial Indonesia) dan Indogen Capital.

    Jababeka Silicon Valley ini merupakan suatu pengembangan kawasan pusat inovasi dan bisnis modern terpadu berbasis teknologi terbesar dan diyakini sebagai “The Next Silicon Valley” di Indonesia.

    Salah satu objektifnya adalah untuk mengakselerasi pertumbuhan Startup yang memberikan dampak terhadap perkembangan industry 4.0 dan society 5.0 di tanah air.

    Penandatanganan MoU dilakukan pada Kamis, 21 Juli 2022, bertempat di Menara Batavia, Jakarta Pusat. Pengesahan kerjasama ini dibuka oleh Tjahjadi Rahardja selaku Direktur utama Jababeka Infrastruktur dan dihadiri oleh Agung Wicaksono selaku Direktur Jababeka Infrastruktur, R. Hendrian M.Sc selaku Plt. Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional, M. Octaviano Pratama selaku Direktur Utama PT Bisa Artifisial Indonesia dan Chandra Firmanto selaku Managing Partner Indogen Capital.

    Dalam sambutannya, Tjahjadi menyatakan “Untuk mewujudkan Indonesia 4.0., Jababeka berkomitmen untuk menciptakan lingkungan serta ekosistem yang mendukung, agar seluruh stakeholders dapat memanfaatkan teknologi dengan berkelanjutan dan efisien”.

    Dalam hal ini, keterlibatan BRIN, Indogen Capital, dan BISA AI menjadi langkah strategis untuk memfasilitasi pelaku industri agar tergabung dalam lingkungan yang tak hanya tech-savvy, namun juga kreatif dan kolaboratif.

    Sementara itu, Agung Wicaksono selaku Direktur Jababeka Infrastruktur mengungkap kerjasama ini dilaksanakan sejalan dengan visi perusahaan dalam pengembangan proyek Jababeka Silicon Valley sebagai kawasan pusat inovasi dan bisnis modern yang akan menjadi rumah bagi perusahaan rintisan (startup) di Indonesia yang akan memberikan solusi bagi pelaku industri serta masyarakat secara luas.

    Melalui kerjasama dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Jababeka akan memfasilitasi kebutuhan riset dan data atas kebutuhan Startup dan industri di kawasan tersebut.

    “Untuk menjadikan proyek ini sebagai the next Silicon Valley di Indonesia, salah satu langkah yang kami lakukan adalah bekerjasama dengan BRIN. Hal ini menjadi bentuk stimulus bagi Startup serta perusahaan di sekitar kawasan Jababeka agar mampu melahirkan inovasi-inovasi baru berbasis riset dan data”, ujar Agung.

    Hal ini disambut baik oleh R. Hendrian M.Sc selaku Plt. Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional “Dalam rangka kerja sama dengan Jababeka, harapan kami dapat memberikan dukungan untuk peningkatan aktifitas dan pemanfaatan hasil riset dan inovasi, khususnya pada Startup dan industri yang ada di Jababeka. Dimana, BRIN saat ini memiliki 12 organisasi riset dan 85 pusat riset yang bisa bersinergi.”

    Selain itu, Hendrian menambahkan BRIN memiliki program-program yang bisa dimanfaatkan bersama untuk mendukung program ini seperti e-katalog inovasi, super tax deduction serta program pendanaan yang bersifat kompetitif dengan berkolaborasi bersama periset BRIN, seperti Program Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR), Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), dan program lainnya. Ketentuan dan Informasi lebih lanjut bisa diakses di laman https://pendanaan-risnov.brin.go.id.

    Untuk mewujudkan the next Silicon Valley di Indonesia, Indogen Capital dipercaya menjadi penasehat utama PT. Jababeka.Tbk perihal investasi yang ditujukan kepada Startup potensial di Indonesia dan Asia Tenggara. Berbasis di Indonesia, Indogen Capital merupakan Venture Capital terkemuka di Asia Tenggara dan sebagai satu-satunya Venture Capital resmi untuk JETRO (Japanese External Trade Organization) dan KOTRA (Korea Trade-Investment Promotion Agency).

    Chandra Firmanto selaku Managing Partner Indogen Capital menyampaikan, “Di tengah derasnya pertumbuhan Startup tanah air, maka diperlukan Venture Capital untuk membantu menghubungkan Startup yang sudah memiliki traksi baik dengan korporasi-korporasi di Indonesia. Indogen hadir untuk membantu startup agar dapat bekerjasama dan membantu bisnis mereka dengan korporasi baik di Indonesia dan Asia Tenggara. Hingga saat ini, hampir seluruh Startup dalam payung Indogen dapat berhasil mewujudkan traksi yang optimal, ujar Chandra

    Jababeka juga akan mengadakan program Hackathon di tahun 2022, dimana Startup yang berpartisipasi pada program tersebut akan mengikuti serangkaian proses mulai dari mentoring, kompetisi, demo day, hingga program inkubasi. Selama proses tersebut, Startup dapat menggunakan fasilitas FABLAB Jababeka dan secara intensif akan dibina oleh BISA AI Academy.

    Menanggapi hal tersebut, M. Octaviano Pratama selaku Direktur Utama PT Bisa Artifisial Indonesia menuturkan ruang lingkup BISA AI dalam mendukung program ini “100 Startup yang terjalin dalam program Hackathon tersebut tak hanya kami tantang untuk menghasilkan inovasi yang paling solutif dan potensial bagi permasalahan industri yang ada, namun juga dilatih untuk menghasilkan traction dan revenue melalui berbagai pelatihan dan pendampingan intensif.

    Bisa AI Academy saat ini menjadi mitra pelaksanaan Kampus Merdeka program Magang dan Studi Independen Bersertifikat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sebanyak lebih dari 1000 mahasiswa bergabung di program ini untuk dapat membangun Startup digital selaras dengan program yang direncanakan oleh Jababeka. Nantinya mahasiswa akan mendapatkan wadah kegiatan Startup digital yang telah disiapkan.

    Perlu diketahui, bahwa BISA AI merupakan platform edutech pembelajaran digital memiliki fokus pembelajaran pada kecerdasan artifisial dan subset-nya seperti Data Science, Data Engineering, NLP, Machine Learning, dan bidang keilmuan lainnya yang mendukung akselerasi masyarakat 5.0.

    Selain mendapatkan mentorship dari BISA AI, Startup binaan nantinya juga memperoleh kesempatan untuk dapat bekerjasama dengan 2000 tenant nasional dan multinasional yang berada di kawasan Jababeka serta fasilitas lainnya.

    Langkah strategis Jababeka bersama ketiga mitra yaitu BRIN, Indogen Capital, dan BISA AI ini dipercaya menjadi langkah awal untuk mewujudkan visi proyek Jababeka Silicon Valley sebagai kawasan inovasi dan bisnis terpadu yang tak hanya identik akan fasilitas cutting edge technology yang dapat diutilisasi, namun juga menjadi kawasan yang nyaman dan ideal untuk menstimulus gagasan- gagasan baru dengan ekosistem yang terintegrasi dan lengkap.

    Jababeka juga akan terus menginisiasi kerjasama baru bersama mitra lintas sektoral lainnya untuk mendukung terwujudnya Jababeka Silicon Valley menuju masyarakat 5.0.  (Icha)

  • Agar Startup Digital Bisa Bertahan, Ini Pesan Menkominfo

    Agar Startup Digital Bisa Bertahan, Ini Pesan Menkominfo

    Telko.id – Salah satu tantangan pelaku startup digital saat ini berkaitan dengan keberlanjutan bisnis. Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate menyatakan pelaku startup digital perlu memperhatikan tiga aspek tata kelola agar perusahaan tidak mengalami masalah. 

    Menurutnya, Pemerintah juga menyiapkan pendampingan agar ekosistem startup digital tetap tumbuh dan berkembang.

    “Ketiga aspek itu yakni prinsip usaha atau product dan service, skema pembiayaan, dan manajemen.  Jadi tiga aspek itu kalau tidak dikelola dengan baik, maka perusahaan akan mengalami masalah,” ujarnya dalam Dialog Economic Challenges Metro TV: Gelembung Startup Pecah? dari Jakarta Barat, Selasa (14/06/2022) malam.

    Menurut Menteri Johnny, penerapan prinsip usaha merupakan kunci keberlanjutan usaha di semua sektor. “Kalau soal PHK itu terjadi di semua jenis usaha yang tidak dipersiapkan dengan baik, apakah itu startup digital atau startup nondigital, sama saja. Karena apa?  Prinsip-prinsip usaha, kan harus menyiapkan product maupun service-nya dengan betul, punya skema pembiayaan yang memadai apakah itu ekuitas atau kombinasi dan debt person-nya (hutang), serta para sponsor (founders) dengan manajemen,”jelasnya. 

    Menkominfo menyatakan ketika perusahaan mengalami masalah, penyelesaian pertama yang paling mudah dilakukan dengan layoff atau pengurangan karyawan.

    “Padahal, prinsip karyawan itu ya bukan aset lagi melainkan capital untuk suatu usaha. Makanya isu layoff ini begitu sensitif di saat sekarang. Apalagi isu layoff dikaitkan dengan startup bubble (gelembung startup),“ tuturnya.

    Menurut Johnny, Pemerintah bersama dengan operator telekomunikasi tengah giat membangun infastruktur digital di level hulu atau upstream.  Hal itu ditujukan agar masyarakat bisa mengoptimalkan ruang digital.

    “Justru saat ini giat-giatnya melaksanakan deployment ICT Infrastructure upstream. Tujuannya untuk mengajak masyarakat digital onboarding dalam rangka memanfaatkan downstream digital space,” tandasnya.

    Menkominfo menegaskan keberadaan pelaku startup digital dalam ekosistem digital downstream. Dengan pembangunan infrastruktur digital peluang ekonomi digital akan berkembang dengan baik.

    “Dimana startup digital berada? Di digital downstream. Nah pada saat kita membangun infrastruktur TIK dengan berusaha untuk membangun downstream digital kita. Saat potensi digital economy kita yang begitu besar, maka disinilah perlu tata kelola dengan baik. Kalau Pemerintah yang pasti mengurus regulasi, tetapi yang paling penting itu dari para founders-nya untuk melihat services dan product yang dihasilkan itu relevan atau tidak,” jelasnya.

    Johnny menekankan agar aspek product dan services lebih diperhatikan. Selanjutnya, perusahaan akan bisa menciptakan pembiayaan cadangan, termasuk capital venture dan sponsor dan manajemen.

    “Jika product maupun services-nya bagus, maka perusahaan itu bisa menciptakan financing backup (pembiayaan cadangan). Termasuk melalui capital venture dan sponsornya itu sendiri, serta manajemennya. Tiga aspek itu yang bisa berhadapan dengan munculnya startup yang banyak,” tuturnya.

    Pendampingan

    Saat ini Indonesia menjadi negara dalam urutan ke-enam dunia untuk negara terbanyak memiliki startup digital. Oleh karena itu, Pemerintah berupaya mengembangkan ekosistem yang memudahkan investasi agar tumbuh lebih banyak ntuk menopang perkembangan ekosistem digital. “Indonesia ini nomor 6 jumlah startup di dunia, ada 2.380 startup digital,” tandas Johnny. 

    Berkaitan dengan langkah untuk merespons fenomena banyaknya perampingan perusahaan startup di Indonesia sekarang, Menkominfo menyatakan hal itu lebih tepat ditanyakan kepada Menteri Perdagangan karena terkait e-Commerce. “Lebih tepat ditanyakan kepada Menteri Perdagangan karena terkait e-Commerce atau bertanya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal fintech,” ujarnya. 

    Johnny menekankan pembahasan startup digital secara prinsip berkaitan dengan technology company. “Begitu ngomong technology company, jangan kita lihat yang besar-besar saja, justru kita perlu menggalangnya dengan membangun inovasi dan kreativitas putra-putri Indonesia,” tandasnya.

    Oleh karena itu, Menkominfo menilai arti penting pendampingan idea generation dari founders startup digital. “Mereka ini bukan businessman. Mereka punya gagasan atau ide yang bagus, punya alur pikir teknologi yang baik. Hal yang dibutuhkan para founders adalah teknologinya, funding (pembiayaan), dan management. Pendampingan itu yang harus diberikan agar bertumbuh dan berkembang,” jelasnya.

    Saat ini, Pemerintah hadir untuk menjaga perusahaan startup digital agar tidak mengalami collapse sebelum waktunya. Menurut Menteri Johnny, startup digital yang memiliki potensi berkembang akan didampingi dan dibina dengan istilah scale up

    Scale up itu mudah saja disebut, tetapi levelling-nya banyak. Sampai ada misalnya dibangun dari pertama dan selalu capital expenditure akan keluar terus karena butuh pengembangannya sampai kepada capital venture masuk, apakah stop? Tidak juga, perusahaan startup akan berkembang sampai nanti betul-betul giant financing backup-nya itu masuk baru nanti kategorinya besar,” jelasnya.

    Johnny juga menyatakan saat capital venture masuk ke startup digital, maka manajemen capital venture akan turut serta dalam startup digital. Oleh karena itu, pilihan produk dan pendampingan memiliki arti penting. 

    “Pemerintah bersama dunia usaha memberikan pendampingan mulai dari yang kecil-kecil yakni generasi milenial Indonesia, dengan harapan startup digital dapat berkembang,” tuturnya.

    Johnny juga mengingatkan agar semua pihak bisa mendukung tumbuhnya ide startup digital di kalangan milenial. 

    “Pemerintah mendorongnya untuk mengembangkan ide tersebut. Ketika tidak bisa berkembang, idenya berganti dan belum ada cost apa-apa untuk dia dan ini dibilang tadi di awal nanti akan terjadi PHK, ya dia bekerja di banyak tempat kok dari satu tempat untuk banyak produk. Jadi bila produk yang satu gagal, masih ada produk yang lainnya lagi. Ini yang harus kita tumbuhkan,” ungkapnya.

    Menurut nya, jalan startup digital berkembang menjadi unicorn atau decacorn tidak selalu mudah. Bahkan dari pengalaman beberapa startup digital, untuk bisa decacorn di Indonesia akan melalui proses merger dan akuisisi. 

    “Karena sendirian belum bisa. Tidak, ideanya dari mereka tetapi yang mengembangkannya itu ekosistem termasuk banking dan financial system di dalamnya. Jadi idenya untuk dikembangkan harus sesuai dengan segmentasi pasar yang ingin dimasuki,” tandasnya. 

    Johnny meyakini peluang itu akan selalu ada karena besarnya potensi ekonomi digital nasional. Oleh karena itu, Menkominfo mengajak semua pihak mendorong pengembangan ekosistem digital nasional.

    “Potensi digital economy Indonesia ini kan 40% dari Digital Economy ASEAN dan punya punya valuasi prognosis sekitar USD315 Miliar pada tahun 2030 mendatang. Market digital ekonomi kita besar, jangan takut dan khawatir. Marilah kita kembangkan ini,” ajaknya.

    Dalam dialog itu hadir pula Sekjen Amvesindo, Eddi Danusaputro; Head of Public Policy dan External Communications Indonesia Digital Association, Rama Mamuaya; dan pakar bisnis, Yuswohady. (Icha)

  • Ini 5 Startup Yang lolos Tinc Batch 7

    Ini 5 Startup Yang lolos Tinc Batch 7

    Telko.id – Telkomsel Innovation Center (Tinc) Batch 7 baru saja mengumumkan lima startup terbaik yang berhasil melalui berbagai tahapan seleksi ketat. Tinc Batch 7 ini sudah berlangsung sejak Desember 2021.

    Kelima startup tersebut berkesempatan untuk maju ke tahapan seleksi terakhir sebelum berakselerasi bersama Tinc dan Telkomsel untuk menghadirkan solusi digital yang lebih berdampak, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

    “Penyelenggaraan Tinc merupakan bentuk komitmen Telkomsel sebagai digital ecosystem enabler yang terus berupaya memperkuat ekosistem digital nasional secara inklusif dan berkelanjutan dengan menghadirkan wadah bagi startup lokal untuk dapat berkembang, serta mengoptimalkan berbagai potensi melalui peluang kolaborasi dan pemanfaatan teknologi dan ekosistem Telkomsel,” kata Mahmud Saladin, Vice President Strategic & Explorative Partnership Telkomsel.

    Untuk itu, Tinc sangat selektif dalam menetapkan para startup yang akan menjalin kolaborasi dengan Telkomsel guna memperkuat pemberdayaan inovasi karya anak bangsa yang terukur, terutama yang memiliki potensi untuk mengembangkan solusi digital yang dapat meningkatkan keunggulan produk dan layanan Telkomsel.

    Sebelumnya, di sepanjang Oktober-Desember 2021 terdapat 129 startup yang mendaftar untuk mengikuti program Tinc Batch 7. Untuk bisa sampai ke tahap final, ratusan startup tersebut harus melalui proses seleksi ketat yang mana 50 startup di antaranya berhasil lolos ke tahap video pitch screening, kemudian tersisa 21 startup yang lolos ke tahap interview & demo, 9 startup lolos ke tahap pitchday, hingga akhirnya terpilih 5 startup yang lolos untuk seleksi ke tahap onboarding yang berkesempatan menjalin kolaborasi dengan Telkomsel.

    Adapun seluruh startup yang mendaftar Tinc batch 7 tersebut bergerak di bidang Education (12 startup), Agriculture (7 startup), Software as a service/SaaS (8 startup), Smart City & Environment (6 startup), Logistic & Transportation (7 startup), Healthcare (4 startup), Finance (3 startup), serta Media & Certification (3 startup).

    Untuk dapat terpilih menjadi peserta Tinc, puluhan startup tersebut harus melalui tahap seleksi ketat yang meliputi video pitch screening, interview dan demo, serta pitching day. Setelah terpilih, kelima startup tersebut berkesempatan untuk menjalani proses pengembangan inovasi melalui berbagai program Tinc yang berlangsung selama 5 bulan. Program-program tersebut meliputi startup diagnostic, kolaborasi di ekosistem digital Telkomsel, investor network, mentorship, bootcamp & workshop, demo day, dan potensi untuk mendapatkan funding.

    Mahmud menambahkan, puluhan startup yang telah dinyatakan lolos pada seleksi tahap pertama dipastikan sesuai dengan kriteria dan fokus pengembangan yang sudah ditentukan Tinc Batch 7 sebelumnya, yaitu bergerak di bidang Agritech, Healthcare, Education, Leisure Economy, Logistics & Supply Chain, dan Gaming dengan memanfaatkan teknologi jaringan 5G, Software as a service (SaaS)/Platform as a Service (PaaS), Artificial Intelligence (AI)/Machine Learning, maupun Internet of Things (IoT).

    Kelima startup yang lolos seleksi ini di antaranya Askara Daulat Desa, Fammi, Machine Vision, Tujju, dan Tumbasin. Mereka terbukti mampu mengembangkan inovasi digital sebagai solusi yang lebih berdampak dalam memenuhi kebutuhan masyarakat maupun sektor lintas sektor industri.

    Sejak dihadirkan pada 2018, Tinc adalah program akselerator Telkomsel untuk semua solusi digital dengan mengimplementasikan tiga nilai utama dalam mendukung kemajuan para inovator lokal di setiap batch yang digelar, di antaranya Connect yang membantu menghubungkan startup berpengaruh dengan ekosistem yang tepat untuk tumbuh, Accelerate yang bertujuan mempercepat pertumbuhan startup untuk memastikan kesiapan pasar, dan Grow yang berupaya mengembangkan startup dengan menjalin kolaborasi melalui pemanfaatan Ekosistem Digital Telkomsel untuk kepentingan komersialisasi dan scaling up.

    Pada batch ke-7 ini, Tinc juga telah menggandeng Google Cloud, Meta, AWS, dan Xendit sebagai mitra strategis yang diharapkan dapat mendukung pengembangan startups yang mengikuti program Tinc.

    “Tinc sebagai program corporate accelerator dari Telkomsel akan terus bergerak maju untuk mendampingi dan mengakselerasi para inovator lokal untuk menciptakan lebih banyak lagi solusi digital yang tepat guna dan memiliki dampak sosial positif bagi masyarakat,” ujar Mahmud.

    Untuk itu, Tinc turut mendorong hadirnya solusi digital yang mampu menyentuh lintas sektor industri guna mengakselerasi transformasi bisnis untuk memperkuat ekonomi digital nasional. Hal tersebut sejalan dengan semangat Telkomsel yang akan terus memaksimalkan potensinya melalui pemanfaatan teknologi digital terdepan yang dapat membuka berbagai peluang untuk kemajuan bangsa Indonesia. (Icha)

  • Lummo, Startup Indonesia Dapat Kucuran Dana Dari Jeff Bezos

    Lummo, Startup Indonesia Dapat Kucuran Dana Dari Jeff Bezos

    Telko.id – Lummo, startup Indonesia penyedia solusi layanan perangkat lunak penghubung bisnis dengan pelanggan (Direct to Consumer – D2C, software-as-a-service – SaaS) baru saja mendapatkan kucuran dana dari Jeff Bezos.

    Jeff Bezos sendiri melalui kantor pengelolaan aset pribadinya, Bezos Expedition, mengikuti putaran investasi Seri C terbaru senilai US$80 juta di Lummo yang dipimpin oleh Tiger Global dan Sequoia Capital India. Keikutsertaan Bezos dalam seri pendanaan ini bertujuan memperkuat ambisi Lummo untuk mempercepat pertumbuhan bisnis pengusaha dan pemilik merek di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara.

    Jeff Bezos dikenal secara global sebagai pelopor dunia e-commerce dan komitmennya terhadap layanan pelanggan, yang merupakan pedoman utama baginya menuju kesuksesan pertumbuhan bisnis jangka panjang.

    Model D2C Lummo selaras dengan komitmen tersebut karena menawarkan peluang kepada pengusaha dan pemilik merek (brand) untuk membangun bisnis kompetitif jangka panjang. Dengan menciptakan hubungan pelanggan yang kuat, tanpa pihak ketiga, para pengusaha dapat meningkatkan bisnisnya dan memberikan nilai tambah kepada pelanggan mereka.

    “Kami bangga mendapatkan dukungan Jeff Bezos di putaran investasi Seri C ini, di saat bersamaan kami juga tengah memprioritaskan pertumbuhan eksponensial pada bisnis kami secara jangka panjang.  Investasi ini semakin memperkuat upaya Lummo untuk mengembangkan solusi D2C demi memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada para pemilik usaha di Indonesia, mempercepat pertumbuhan bisnis mereka, serta memaksimalkan efisiensi operasional dengan memanfaatkan solusi SaaS Lummo,” kata Krishnan Menon, CEO dan Pendiri Lummo.

    Krishnan menambahkan bahwa “Dukungan skala ini menggarisbawahi keyakinan kami bahwa Indonesia dan Asia Tenggara adalah tujuan yang tepat bagi para investor teknologi.”

    Sektor Internet Asia Tenggara terus berkembang pesat, dengan Indonesia sebagai pasar utama. Menurut laporan Google Temasek tahun 2020, gross merchandise value (GMV) – atau total pembelian online – ekonomi internet Asia Tenggara akan mencapai lebih dari US$ 300 miliar pada tahun 2025, dengan Indonesia diperkirakan mencapai US$ 124 miliar dari US$44 miliar saat ini.

    Sayangnya, inklusi digital dan keuangan masih mengalami kesenjangan, yang semakin diperburuk oleh pandemi. Partisipasi para inovator dan startup muda sangat dibutuhkan untuk mengatasi tantangan ini, dengan cara memanfaatkan potensi mereka demi membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi negara.

    Pendekatan D2C sebagai keunggulan kompetitif Lummo telah diakui oleh berbagai pelaku usaha dan pemilik merek karena telah memberikan dampak berkelanjutan bagi pengembangan bisnis mereka. Selain itu, solusi D2C juga membuka lebih banyak potensi bisnis bagi usaha kecil dan menengah di tengah persaingan bisnis online yang menantang.

    Berbekal pengalaman mendalam tentang market di Indonesia, Lummo optimis dapat menciptakan solusi teknologi yang mampu memecahkan tantangan bisnis yang dihadapi para pengusaha.

    LummoSHOP

    LummoSHOP yang merupakan produk unggulan Lummo, memberikan akses pada pelaku usaha dan pemilik merek untuk menganalisa dan menargetkan pelanggan untuk kembali melakukan pembelian melalui catatan dan riwayat pembelian pelanggan. Fitur lainnya termasuk chat commerce, integrasi katalog, custom domain dan situs web khusus, manajemen multi-platform, fitur yang dipersonalisasi untuk branding bisnis, dan lain-lain.

    Dengan fitur manajemen multi-platform, pelaku usaha dan pemilik merek (brand) dapat menggunakan solusi perangkat lunak ini sebagai pusat operasional bisnis online yang memungkinkan mereka mengelola semua pesanan pelanggan dari berbagai platform belanja. Solusi ini juga membantu mereka membuat situs web resmi, serta membangun identitas merek (brand) mereka sendiri.

    “Kami melihat pengusaha Indonesia sangat berambisi dan berorientasi pada pertumbuhan bisnis, serta fokus membangun merek lokal mereka sendiri. Maka, kami mengembangkan LummoSHOP sebagai penerang bagi para pengusaha dan pemilik merek melalui solusi layanan perangkat lunak yang menghubungkan bisnis dengan pelanggannya (SaaS stack D2C), guna mempercepat pertumbuhan bisnis mereka. Model bisnis ini sangat mapan terbukti  dari GMV LummoSHOP yang tumbuh sebelas kali lipat dari Desember 2020 hingga Desember 2021,” tutup Krishnan.

    Desember lalu, LummoSHOP atau yang sebelumnya dikenal sebagai TOKKO, berhasil memenangkan Google Play Users Choice Award 2022 kategori “Aplikasi Pilihan Pengguna”, yang membuktikan bahwa solusi Lummo untuk membantu pengembangan bisnis pelaku usaha telah diterima dengan baik oleh para penggunanya. (Icha)

  • Telkomsel Bentuk PT. Telkomsel Ekosistem Digital, Ini Target nya!

    Telkomsel Bentuk PT. Telkomsel Ekosistem Digital, Ini Target nya!

    Telko.id – Telkomsel membentuk Telkomsel Ekosistem Digital sebagai anak perusahaan. Namun, perusahaan bentukan baru ini juga akan menjadi Holding company yang menaungi beberapa anak perusahaan dari emerging portfolio bisnis vertikal Telkomsel di bidang sektor digital, dengan mengoptimalkan pemanfaatan sinergi seluruh keunggulan ekosistem aset yang dimiliki Telkomsel.

    Telkomsel Ekosistem Digital ini juga ditujukan untuk membuka peluang serta mempermudah inovasi pemanfaatan teknologi digital terkini yang akan memperkuat ekosistem digital Indonesia, dan mengantar Indonesia menjadi digital powerhouse di Asia Tenggara.

    “Telkomsel ingin terus memberikan manfaat kepada masyarakat dengan mengoptimalkan kapabilitas digital trifecta (digital connectivity, digital platform dan digital service) yang dimiliki untuk mendorong perluasan portofolio bisnis di berbagai sektor, terutama yang dapat memperkuat perekonomian digital nasional,” ungkap Hendri Mulya Syam, Direktur Utama Telkomsel menjelaskan.

    Ia pun menambahkan, “untuk itu, sebagai holding company, kami berharap Telkomsel Ekosistem Digital dapat mendorong lebih banyak solusi karya talenta digital lokal serta membuka peluang kolaborasi bersama para pelaku bisnis dan perusahaan digital terdepan, meningkatkan potensi talenta digital anak bangsa, sehingga dapat semakin mematangkan kemandirian digital Indonesia.”

    Pada tahap awal, perusahaan bentukan baru ini akan bergerak di bawah kepemimpinan Andi Kritianto sebagai Chief Exceutive Officer (CEO), Andry Firdiansyah sebagai Chief Financial Officer (CFO) dan Chief Human Resource Officer (CHRO), dan Luthfi K. Arif sebagai Chief Technology Officer (CTO). Telkomsel Ekosistem Digital juga akan segera mengumumkan brand name yang ke depannya akan digunakan sebagai identitas bisnis.

    “Hadirnya Telkomsel Ekosistem Digital merupakan langkah besar yang sekaligus menandai fase baru bagi perjalanan transformasi Telkomsel sebagai perusahaan digital,” ujar Andi Kritianto sebagai Chief Exceutive Officer (CEO) Telkomsel Ekosistem Digital menjelaskan.

    Kehadirannya pun, menurut Andi akan menjadi bagian dari upaya Telkomsel dalam menghadirkan ragam solusi digital yang lebih luas dan mampu memberikan manfaat  bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Perusahaan baru ini akan mengoptimalkan keunggulan aset dan kapabilitas yang berada di ekosistem Telkomsel di segala aspek, untuk dapat mengeksplorasi berbagai potensi sehingga mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi digital nasional serta  menjadikan Indonesia sebagai digital power house di Asia Tenggara.”

    Mendorong pengembangan di gelombang pertama, perusahaan baru ini akan fokus pada tiga sektor industri digital, yakni edu-tech, health-tech dan gaming. Ketiga lini bisnis tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong perekonomian digital nasional dan akan menjadi bagian dari emerging portofolio bisnis digital Telkomsel yang ke depannya memiliki potensi untuk scale-up.

    Dalam waktu dekat ini, Telkomsel juga berencana akan melakukan pemekaran usaha melalui pemisahan keseluruhan bisnis aplikasi Kuncie dan Fita untuk dialihkan kepada Telkomsel Ekosistem Digital guna memperkuat penetrasi bisnis vertikal, masing-masing di sector edu-tech dan health-tech.

    Sedangkan untuk sector gaming, Telkomsel juga telah mengalihkan kontrak usaha patungan kepada perusahaan baru ini untuk kemudian mendirikan perusahaan Joint Venture (JV) yang memiliki fokus bisnis sebagai perusahaan penerbit (publisher) gaming guna meningkatkan kompetensi dan kapabilitas di vertikal bisnis Telkomsel di industry games.

    Hendri lebih lanjut menambahkan, Indonesia kini telah menjadi salah satu negara dengan penetrasi ekonomi digital yang terus tumbuh positif setiap tahunnya, dimana transaksi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 124 miliar pada tahun 2025. Mengutip studi yang dilakukan Google, Temasek, dan Bain & Co., sekira 41,9% dari total transaksi ekonomi digital Asia Tenggara berasal dari Indonesia.

    Nilai ekonomi digital Indonesia sendiri pada 2020 telah mencapai 44 Miliar USD, tumbuh 11% dibandingkan 2019, dan memiliki kontribusi sebesar 9,5% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan pertumbuhan pengguna layanan data Telkomsel selama tiga tahun terakhir.

    Hingga kuartal ketiga 2021, Telkomsel mencatatkan pertumbuhan pendapatan dari bisnis digital sebesar 6% (YoY), dan berkontribusi pada pendapatan perusahaan, yang kini telah mencapai lebih dari 77,5% dari total pendapatan perusahaan.

    “Dengan gaya hidup digital masyarakat yang terus berkembang pesat, kami melihat adanya potensi yang besar dalam pertumbuhan platform dan layanan digital untuk dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna demi kemajuan bangsa,” kata Hendri.

    Ia pun berharap, perusahaan baru ini dapat menjalankan perannya memperkuat Telkomsel sebagai digital ecosystem enabler, melalui optimalisasi kapabilitas ekosistem layanan digital yang dimiliki, guna mewujudkan visi Indonesia menjadi salah satu negara ekonomi digital terbesar di dunia. (Icha)

  • Darwinbox Dapat Kucuran US$72 Juta, Apa Targetnya?

    Darwinbox Dapat Kucuran US$72 Juta, Apa Targetnya?

    Telko.id – Darwinbox, platform teknologi SDM (Sumber Daya Manusia) mendapatkan pendanaan sebesar US$72 juta sehingga meningkatkan posisinya menjadi unicorn karena mencapai valuasi lebih dari US$1 miliar. Pendanaan tersebut diperoleh dari beberapa investor tetap dan dipimpin oleh Technology Crossover Ventures (TCV).

    Investor tetap itu terdiri dari Salesforce Ventures, Sequoia, Lightspeed, SCB 10X, JGDEV, Endiya Partners, dan 3One4Capital.

    Sejak penggalangan dana terakhir dari Salesforce Ventures 12 bulan yang lalu, Darwinbox telah bertumbuh sebesar 300% di Indonesia. Perusahaan tersebut memperkirakan untuk bertumbuh lebih besar lagi tahun ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah permintaan untuk solusi-solusi digital di tempat kerja pasca pandemi.

    Didirikan pada akhir tahun 2015, platform Human Capital Management (HCM) berbasis cloud milik Darwinbox melayani kebutuhan SDM di seluruh siklus hidup pengelolaan karyawan. Produk mutakhir mereka mendukung SDM digital bagi lebih dari 1,5 juta karyawan dari 650+ perusahaan di seluruh dunia.

    Termasuk sekelompok perusahaan terkemuka dan perusahaan yang berkembang pesat di Indonesia seperti Tokopedia, Kopi Kenangan, Mitra Adiperkasa, Indorama, Chandra Asri (Barito Pacific Group), Sari Roti (Salim Group), Protelindo (Djarum Group), Pyridam Farma, Gunung Raja Paksi (GRP), Astra Life, Bina Karya Prima, dan STP Tower. Mereka juga melayani brand global terkemuka seperti Nivea, Starbucks, Dominos, T-Systems, AXA, Tokio, Cigna, dan lain-lain.

    Saat ini, Darwinbox adalah perusahaan termuda dan satu-satunya yang berasal dari Asia di Gartner’s Magic Quadrant for HCM yang melayani 1000+ perusahaan karyawan. Darwinbox juga mendapat peringkat tertinggi (4.8) secara global di Peer Insights, platform ulasan pelanggan Gartner; menyaingi raksasa global seperti SAP, Oracle, dan Workday – sebuah pencapaian yang mereka raih dengan teknologi inovatif, pemahaman mendalam akan konteks pasar, pengalaman pengguna yang intuitif, dan daya tarik pelanggan yang luar biasa.

    “Kami senang melakukan investasi kepada para pendiri visioner yang secara fundamental dapat mentransformasi industri besar dengan produk yang hebat,” kata Gopi Vaddi, General Partner di TCV. 

    TCV dikenal dengan investasi mereka pada beberapa brand teknologi yang bersifat disruptif seperti Netflix, Facebook, Spotify, Airbnb, GoDaddy, dan Zillow.

    “Selama dua tahun terakhir, produk kami telah dikenal luas pada di dunia kerja; yang juga terus berubah karena perusahaan harus memikirkan kembali bagaimana mereka dapat menarik, mempertahankan, dan mengelola karyawan mereka,” kata Jayant Paleti, Co-Founder Darwinbox.

    Pendanaan baru kali ini mendukung rencana ekspansi global Darwinbox dan mempercepat inovasi platform, memperkuat internal, serta memperkuat kehadiran di berbagai sektor pasar. Darwinbox bertujuan untuk berinvestasi secara agresif dan mengembangkan kantor mereka di Jakarta sehingga memiliki lebih dari 100 anggota tim selama enam bulan ke depan.

    “Berinvestasi pada teknologi pengelolaan SDM adalah strategi vital untuk kesuksesan perusahaan. Kemampuan Darwinbox untuk membangun solusi yang cepat, inovatif, dan mudah serta mengerti akan kebutuhan penggunanya membuat mereka dipercaya oleh berbagai perusahaan terkemuka,” tambah Jessica Neal, mantan Chief Talent Officer di Netflix dan Venture Partner di TCV.

    Tahun 2021 merupakan salah satu tahun paling menantang dan penting dalam menentukan masa depan cara karyawan bekerja. Konsep “remote working” dan “hybrid working” sudah seringkali diterapkan di seluruh dunia, serta banyaknya kasus pemutusan hubungan kerja mempengaruhi banyak perusahaan dan memaksa mereka untuk memikirkan ulang strategi pengelolaan SDM mereka.

    Hasilnya adalah pergeseran tiga sampai lima tahun lebih awal dalam pengadopsian pengelolaan karyawan berbasis digital. Darwinbox bergerak dan berada di pusat perubahan tersebut.

    Mengenai strategi investasi produk mereka, Chaitanya Peddi, Product Head dan salah satu co-founderDarwinbox menjelaskan – “Membangun produk yang cepat dan dapat memberikan pengalaman karyawan yang luar biasa adalah faktor utama yang menentukan kesuksesan bagi pengguna Darwinbox. Kami akan terus berinvestasi dalam teknologi baru dan inovatif untuk memberikan pengalaman yang mudah bagi karyawan yang bekerja dari mana saja.” (Icha)

  • Tren Pendanaan Startup 2020-2021, Jumlahnya Turun, Tapi?

    Tren Pendanaan Startup 2020-2021, Jumlahnya Turun, Tapi?

    Telko.id – Tren Pendanaan Startup 2020-2021, jumlahnya turun. Namun, kondisi ini disebut oleh Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) sebenarnya, bukan disebabkan penurunan minat, melainkan akibat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia maupun dunia.

    Terbukti, startup Indonesia masih mendapatkan pendanaan di tengah pandemi, tetapi jumlahnya memang mengalami penurunan.

    “Sampai kuartal III/2020 jumlah pendanaan startup di Indonesia mencapai US$1,9 miliar atau Rp26,6 triliun dengan jumlah transaksi sebanyak 52 startup,” ujar William Gozali, Wakil Ketua I Amvesindo, dalam webinar Mengupas Dinamika dan Tren Pendanaan Startup 2020-2021, Senin (2/11/2020).

    Dia pun merinci bahwa perusahaan rintisan berbasis finansial teknologi (fintech) menduduki peringkat pertama dengan jumlah transaksi sebanyak 8 startup, Edutech dengan 6 jumlah transaksi, Software as a service (SaaS) dengan 6 transaksi. Kemudian dilanjutkan dengan lima transaksi pendanaan di kategori new retail, serta empat untuk masing-masing kategori logistik dan e-commerce.

    William juga menyebutkan bahwa Kopi Kenangan menjadi salah satu startup yang memperoleh pendanaan baru cukup besar pada 2020 dengan investasi pada Mei 2020 sebesar US$109 juta.

    Selanjutnya, Kargo Technologies menerima pendanaan US$31 juta, GudangAda sebesar US$25,4 juta, Investree US$23,5 juta, Koinworks US$20 juta, dan Shipper US$20 juta.

    Startup yang memperoleh dana, menurut nya mampu menunjukkan potensi mengubah lansekap industri di new normal, memberikan nilai tambah, serta menyelesaikan masalah yang dihadapi pelanggan dan konsumen.

    Bahkan sampai akhir tahun ini atau kuartal IV 2020, William Gozali menaksir kucuran dana pada startup bisa menyentuh angka US$2 miliar. Pasalnya, hingga kuartal III/2020 pendanaan terhadap bisnis startup masih menunjukkan pertumbuhan positif.

    Bagaimana dengan tren pendanaan tahun depan? William mengatakan ada beberapa kategori startup dengan peluang pertumbuhan besar pada 2021. Tiga diantaranya adalah kategori beauty, social commerce, dan food-tech.

    “Ada ruang besar untuk tumbuh dan memiliki peran penting,” katanya.

    Selain itu, juga ada sejumlah kategori selama pandemi yang diperkirakan dapat terus memanfaatkan momentum kebiasaan baru. Sektor-sektor tersebut adalah e-health, edutech, e-logistics, dan e-grocery. (Icha)

  • ALODOKTER Dapat Suntikan Dana 33 Juta Dolar AS

    ALODOKTER Dapat Suntikan Dana 33 Juta Dolar AS

    Telko.id – Aplikasi yang berkaitan dengan kesehatan diprediksikan akan tumbuh pesat dan berpotensi menjadi unicorn baru. Salah satunya adalah ALODOKTER yang baru saja menerima investasi seri C senilai 33 juta dolar AS yang diberikan oleh Sequis Life dan partisipasi dari Philips, Heritas Capital, Hera Capital, Dayli Partners, dan lainnya. Investor yang sudah ada seperti Softbank Ventures Asia dan Golden Gate Ventures masih turut berpartisipasi dalam pendanaan seri ini.

    “Sistem kesehatan di Indonesia telah mengalami perubahan signifikan dalam 10 tahun terakhir, dan lebih terbuka terhadap inovasi digital dibandingkan sistem kesehatan di negara yang sudah maju. Indonesia menjadi salah satu negara terdepan dalam mengadaptasi sistem kesehatan digital. Itu salah satu faktor utama yang membuat ALODOKTER berkembang super pesat sejak pertama kali diluncurkan”, ujar Nathanael Faibis – CEO ALODOKTER.

    Sekarang, ALODOKTER sudah dimanfaatkan oleh lebih dari 20 juta pengguna aktif setiap bulannya.

    Pasien menggunakan ALODOKTER untuk chat dengan dokter, booking dokter, mengakses artikel kesehatan, dan mengelola asuransi kesehatan mereka. ALODOKTER memiliki jaringan kerjasama terpercaya dengan lebih dari 20.000 dokter dan 1.000 rumah sakit serta klinik.

    “Menemukan informasi medis yang akurat, dokter yang tepat, dan pembiayaan medis yang tepat bisa sangat menyulitkan bagi banyak keluarga di Indonesia. ALODOKTER pun menjadi solusi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Suci Arumsari – Co Founder dan Director ALODOKTER.

    Dalam penggunaan dana yang diperoleh, ALODOKTER akan mengunakan untuk memperluas jaringan kerjasama dengan rumah sakit dan mengembangkan layanan asuransi.

    Berdasarkan data yang ada, pasar asuransi kesehatan swasta Indonesia sebagian besar masih belum tergarap. Penetrasinya masih kurang dari 2%. Sepuluh kali lebih rendah dari negara tetangganya, Malaysia. Sebagian besar keluarga kelas menengah Indonesia masih berisiko tinggi mengalami kebangkrutan karena tagihan medis yang tidak terduga.

    Kondisi tersebut yang juga membuat penjualan asuransi ALODOKTER atau disebut juga “Proteksi ALODOKTER” dapat meroket 15x selama 6 bulan terakhir karena pengguna menemukan produk asuransi yang simpel dan terjangkau.

    Melalui “Proteksi ALODOKTER” ini, pemegang polis dapat berlangganan, membayar, dan melakukan proses klaim langsung melalui aplikasi. Mereka juga dapat mengakses serangkaian fitur premium, seperti konsultasi unlimited dengan dokter spesialis dan layanan rumah sakit terbaik. (Icha)

     

     

  • Ada 55 Peserta Lolos Tahapan Seleksi Program Dayamaya

    Ada 55 Peserta Lolos Tahapan Seleksi Program Dayamaya

    Telko.id – Sebanyak 55 peserta dari 1.019 pendaftar dinyatakan lolos seleksi dalam program Dayamaya. Mereka berasal dari 34 provinsi se-Indonesia yang mengikuti seleksi yang dilakukan secara online melalui portal penggerak.dayamaya.id dan ditutup pada 30 September 2019 lalu.

    Langkah berikutnya, ke 55 pendaftar yang lolos seleksi tersebut akan mengikuti tahapan selanjutnya melalui seleksi wawancara pada tanggal 6-10 Oktober 2019 untuk memilih inovasi yang akan masuk ke tahap interview oleh tim kurasi.

    Adapun, tim seleksi terdiri atas perwakilan BAKTI, serta expert yang menjadi bagian dari tim kurasi yaitu terdiri dari perwakilan Asosiasi Fintech Indonesia, Asosiasi e-commerce Indonesia, akademisi, pemerintahan, venture capital dan startup unicorn.

    Setelah itu terpilih 30 inovasi yang akan diberikan fasilitas berupa barang/jasa senilai 100 hingga 300 juta rupiah. Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk pengembangan SDM, eksekusi riset pasar, infrastruktur teknologi, hingga sosialisasi dan pemasaran.

    Dayamaya merupakan inisiatif BAKTI dan pemerintah dengan visi mendukung pengembangan ekosistem ekonomi digital Indonesia terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) bagi kesejahteraan masyarakat, dengan semangat gotong royong bersama para stakeholder strategis, seperti startup, serta Usaha Menengah Kecil, dan Mikro (UMKM) digital.

    Program ini mengusung semangat gotong royong antara BAKTI, pemerintah dan stakeholder strategis, untuk menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Melalui Dayamaya, BAKTI mengajak pelaku e-commerce dan UKM digital untuk bersinergi dalam mengembangkan potensi.

    Selain itu, program Dayamaya juga dimaksudkan untuk menjalankan amanah Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Roadmap e-Commerce) Tahun 2017-2019.

    Fokus utama dari program ini adalah memastikan solusi yang dibuat oleh startup dan komunitas ini memang menjawab permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Maka dari itu, Dayamaya akan memfasilitasi startup dan komunitas terpilih untuk melakukan riset lapangan langsung ke daerah 3T yang dituju. (Icha)