Kategori: Startup

  • Hai, 7 Startup Sektor Pariwisata Ini Siap Naik kelas Lho!

    Hai, 7 Startup Sektor Pariwisata Ini Siap Naik kelas Lho!

    Telko.id – Industri Pariwisata di Indonesia, kini memang sedang naik daun. Jadi wajar juga banyak startup yang ikut terjun meramaikan dunia pariwisata di Indonesia. Melihat gempita nya industri ini, Digitaraya dan tiket.com, berkolaborasi, ikut turun tangan untuk membantu startup sektor pariwisata untuk Naik Kelas.

    Dari puluhan startup yang mendaftar dari berbagai negara di Asia, sebanyak 17 startup dikurasi untuk mengikuti sesi wawancara final. Pada tahap terakhir, 7 startup dari Indonesia, Thailand, Vietnam, dan India, terpilih mengikuti program akselerasi di Jakarta.

    Industri pariwisata di Indonesia sendiri memiliki potensi yang cukup besar. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menargetkan sebanyak 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara hingga akhir tahun 2019. Banyak inisiatif yang telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya melalui penetapan 10 destinasi pariwisata sebagai Bali baru.

    “tiket.com sangat senang bisa bekerja sama dengan Digitaraya untuk mencetak startup sektor pariwisata yang baru. tiket.com berharap dengan adanya kerja sama ini mampu mendorong industri pariwisata lebih maju dan berkembang dengan kreatifitas layanan yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat,” ungkap Gaery Undarsa, Co-founder & Chief Marketing Officer tiket.com.

    Program akselerasi ini dimulai dengan bootcamp pada tanggal 12-14 Agustus 2019 yang diantaranya membahas potensi dan strategi terkait industri pariwisata Indonesia bersama para mentor. Beberapa nama yang turut hadir sebagai mentor dalam program ini, antara lain, Waizly Darwin (Kementerian Pariwisata Indonesia), Jowynne Khor (Google), George Hendrata, Gaery Undarsa, Ronald Liem, Dimas Surya (tiket.com), Riaz Hyder (UBS), dan masih banyak lainnya.

    Demo Day yang merupakan bagian dari program akselerasi tersebut dilaksanakan pada hari ini, Kamis, 15 Agustus 2019 dan akan dihadiri oleh investor (venture capital) dan berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan ini akan dilanjutkan sekaligus ditutup dengan sesi networking dan private meeting pada keesokan harinya, Jumat, 16 Agustus 2019.

    “Kami berkomitmen untuk terus menghubungkan startup Indonesia dengan pemain global. Bersama tiket.com, kami berharap program akselerasi ini dapat ikut berkontribusi mendorong industri pariwisata Indonesia lebih dikenal dunia,” kata Nicole Yap, Managing Director Digitaraya.

    Adapun startup yang terpilih dari Indonesia adalah Bobobox, startup kapsul hotel dengan teknologi modular pertama di Indonesia danFrame A Trip, platform yang menghubungkan wisatawan dengan fotografer lokalprofessional di 300 kota di seluruh dunia.

    Sedangkan diluar Indonesia, yang terpilih adalah Hungry Hub (Thailand), reservasi online untuk restoran ala carte dengan konsep fixed price;Local Alike (Thailand), marketplace pengalaman perjalanan yang terkurasi bersama komunitas lokal;Luxstay (Vietnam), platform penyewaan properti liburan jangka pendek yang terbesar di Vietnam; ScoutMyTrip (India), platform perencanaan road trip dan pembuatan itinerary dan Zipevent (Thailand), platform manajemen dan pemasaran event all-in-one. (Icha)

     

     

  • Keren, Mendaur ulang Ponsel Buat Melindungi Hutan Sumatera

    Keren, Mendaur ulang Ponsel Buat Melindungi Hutan Sumatera

    Telko.id -Huawei Indonesia baru saja mengumumkan kolaborasi dengan Rainforest Connection (RFCx), sebuah startup yang mengubah ponsel daur ulang menjadi perangkat pendengaran bertenaga surya untuk memantau dan melindungi daerah terpencil di hutan hujan.

    Kolaborasi dilakukan untuk melindungi hutan hujan di Pulau Sumatera dengan mengembangkan platform inovatif sebagai alat pengumpulan data, layanan penyimpanan, dan analisis data yang akurat tentang kondisi hutan.

    Melalui kolaborasi ini, Huawei menghadirkan teknologi pendukung, termasuk menggunakan smartphone yang dimasukkan ke dalam sistem untuk menangkap suara kegiatan hutan hujan serta menggunakan teknologi Huawei AI (Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan) agar dapat lebih memahami suara binatang di dalam hutan hujan. Teknologi-teknologi tersebut nantinya dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh beberapa spesies yang terancam punah.

    Kolaborasi Huawei dengan RFCx berawal dari temuan besar Topher White tentang bagaimana ia dan timnya mendaur ulang ponsel lama untuk membantu melindungi hutan hujan dari penebangan liar, yang kemudian penemuan itu diperkenalkan melalui acara TedTalk pada 2014. Tidak lama setelah itu, Huawei menghubungi Topher untuk membicarakan kolaborasi lebih lanjut.

    Tak disangka, selama ini RFCx juga telah menggunakan sebagian besar ponsel daur ulang Huawei karena daya tahannya yang dapat bertahan hingga 2 tahun. Tentunya hal ini sangat mengesankan dalam melindungi hutan hujan. Hingga saat ini, teknologi ini telah digunakan di 10 negara di 5 benua, termasuk Sumatera yang hutan hujannya telah dilindungi lebih dari 2000 km2.

    Lo Khing Seng, Deputy Country Director, Huawei Device Indonesia menjelaskan, “Bersama dengan RFCx, kami ingin memberdayakan masyarakat lokal untuk melindungi hutan hujan menggunakan perangkat Huawei dan teknologi AI. Hal ini adalah bagian dari kontribusi kami untuk menciptakan kelestarian lingkungan melalui teknologi yang kami sajikan. Kolaborasi ini tentu sejalan dengan inisiatif TECH4ALL kami yaitu mendorong inklusi digital dan orang-orang akan tetap terhubung satu sama lain.”

    Dalam kolaborasi untuk melindungi hutan hujan di kawasan Muara Labuh, Sumatera Barat, RFCx menciptakan sistem pemantauan audio bertenaga surya yang disebut Guardian. Sistem Guardian menggunakan ponsel Huawei lama sebagai inti dari sistem mereka.

    The Guardian, dilengkapi dengan telepon bekas Huawei, kemudian menangkap suara hutan hujan, termasuk suara gergaji mesin untuk pemburuan liar, api, atau kegiatan berbahaya lainnya. Didukung oleh Huawei Cloud dan menara telekomunikasi, suara akan diterima secara real-time oleh polisi hutan yang bertanggung jawab di lapangan terdekat agar melaporkan kejadian tersebut ke penegak hukum setempat.

    Huawei dan RFCx juga mengembangkan model algoritma cerdas yang lebih akurat yang dibuat dari layanan kecerdasan buatan canggih Huawei (HUAWEI CLOUD AI) dan alat yang disebut dengan ModelArts.

    Pengembangan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebisingan gergaji mesin dan suara truk yang lebih akurat. Selain itu, Huawei membantu RFCx membangun model kecerdasan buatan yang dapat mendeteksi dan menganalisis suara spesies yang terancam punah, salah satunya orangutan.

    Model tersebut akan membantu polisi hutan melindungi spesies yang terancam punah melalui penyediaan informasi tentang habitat mereka, tanda-tanda ancaman, hingga kebiasaan hidup mereka.

    Selama proyek berlangsung, tim RFCx mengunjungi beberapa desa atau disebut juga nagari, antara lain Nagari Sirukam, Nagari Pakan Rabaa Timur, Nagari Pakan Rabaa, dan Nagari Pasir Talang Timur.

    Dalam kunjungan tersebut, mereka bertemu dengan masyarakat setempat untuk memperkenalkan dan melatih mereka tentang bagaimana menggunakan sistem Guardian di hutan hujan yang ada di sekitar mereka. Respon dari masyarakat nagari sangatlah positif, meskipun ada sedikit kesulitan dalam mengenalkan teknologi baru karena tidak semuanya akrab teknologi digital.

    Berkat sistem dan aplikasi Guardian, salah satu desa berhasil mendapatkan satu peringatan pembalakan liar yang terjadi di hutan hujan sehingga mereka dapat langsung melaporkannya ke penegak hukum setempat.

    “Konservasi hutan hujan sangatlah menantang karena ada banyak hal yang bisa terjadi, termasuk perburuan liar, pembalakan liar, pembakaran, dan banyak lagi. Dengan teknologi yang didukung oleh perangkat Huawei dan AI Cloud, kami berharap tidak hanya masyarakat sekitar saja yang dapat kami berdayakan namun juga orang-orang di kota-kota lain seperti Jakarta, untuk dapat mendengar suara hutan hujan serta mendeteksi dan memberikan tanggapan segera jika sesuatu yang berbahaya terjadi,” kata Topher White, Chief Executive Officer dan Pendiri Rainforest Connection (RFCx). (Icha)

     

     

  • Ini Kata Kepala BKPM Terkait 4 Unicorn Indonesia Yang Diakui Singapura

    Ini Kata Kepala BKPM Terkait 4 Unicorn Indonesia Yang Diakui Singapura

    Telko.id – Berdasarkan riset dari Google dan Temasek, 4 Unicorn yang digadang-gadang oleh pemerintah ternyata diakui oleh Singapura. 4 Unicorn tersebut adalah Tokopedia, Traveloka, Gojek dan Bukalapak. Lho kok bisa?

    Hal tersebut mencuat ketika riset oleh Google dan Temasek menyebutkan bahwa keempat unicorn tersebut diklaim oleh Singapura. Indonesia nol alias tidak punya sama sekali.

    Tentu hal itu disesalkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong. “Padahal, keempat Unicorn yang diklaim oleh Singapura itu jelas-jelas berasal dari Indonesia. “Di laporannya disebutkan Indonesia ada nol dan Singapura empat (Unicorn), itu sangat lucu,” cetusnya, seperti dikutip dari kompas.com.

    Thomas menjelaskan, alasan mengapa perusahaan Unicorn asal Indonesia itu diakui oleh Singapura adalah karena induk perusahaannya berada di Singapura. Pasalnya, induk perusahaan yang bercokol di Singapura ini memiliki saham besar di keempat Unicorn Indonesia tersebut.

    “Perusahaan asal Singapura itu menunjuk vendor yang ada di Indonesia. Artinya jika unicorn Indonesia mendapatkan suntikan dana maka masuknya harus melalui Singapura. Dan seringkali masuknya itu bukan dalam bentuk investasi tapi oleh induk Unicorn Singapura, langsung bayar ke vendor atau supplier Indonesia,” jelasnya.

    Lantas bagaimana sebenarnya?

    Berdasarkan report dari CB Insight, Singapura tercatat hanya memiliki dua unicorn, yaitu Grab dan Trax. CB Insights adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang riset industri startup, dan mengklaim memakai mesin analitik data mumpuni untuk memproses data.

    CB Insights mencatat, Grab memiliki valuasi sebesar US$ 14,3 miliar. Unicorn di bidang transportasi ini mendapatkan suntikan modal dari investor GGV Capital, Vertex Venture Holdings, dan Softbank Group.

    Berikutnya Trax memiliki valuasi sebesar US$ 1,3 miliar. Unicorn ini bergerak di bidang manajemen data dan analitik yang mendapatkan suntikan modal dari investor Hopu Investment Management, Boyu Capital, dan DC Thomson Ventures.

    CB Insights mengakui Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak sebagai unicorn dari Indonesia. Gojek tercatat memiliki valuasi US$ 10 miliar yang dapat suntikan modal dari Formation Group, Sequoia Capital India, Warburg Pincus.

    Berikutnya Tokopedia bervaluasi US$ 7 miliar yang mendapat suntikan modal dari SoftBank Group, Alibaba Group, dan Sequoia Capital India. Lalu Traveloka bervaluasi US$ 2 miliar yang dapat suntikan modal dari Global Founders Capital, East Ventures, dan Expedia Inc.

    Terakhir adalah Bukalapak dengan valuasi US$ 1 miliar yang dapat suntikan modal dari 500 Startups, Batavia Incubator, dan Emtek Group. (Icha)

     

  • Kominfo Kembali Buka Pendaftaran Gerakan Nasional 1000 Startup Digital

    Kominfo Kembali Buka Pendaftaran Gerakan Nasional 1000 Startup Digital

    Telko.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), telah membuka pendaftaran program pembinaan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital hingga akhir tahun ini. Ayo semua milenials daftar dan bergabung melalui https://participant.1000startupdigital.id/

    “Selama 3 tahun perjalanan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, telah memberikan kesempatan bagi puluhan ribu anak Indonesia untuk mendapat wadah untukmerealisasikan mimpi besar mereka melalui solusi digital, di tahun ini Gerakan Nasional 1000 Startup Digital hadir dengan strategi, tahapan dan fitur-fitur yang berbeda dari sebelumnya. Dengan penampilan baru kita akan rilis Ignite the Nation, Kobarkan Bangsa! Membangun Bangsa Dengan Mimpi! Mimpi Besar yang merupakan solusi bangsa dan dunia!” jelas Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan.

    Gerakan penampilan baru ini membawa konsep untuk perluasan skala dan peningkatan kualitas pengembangan startup digital, termasuk mengajak kementerian dan lembaga lain serta mitra lokal. Tak hanya itu, kurikulum program pun telah direvisi dengan fokus pada inkubasi. Selain itu, portofolio dan kualitas mentod akan ditingkatkan dan terjadwal dengan baik, menurut Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang Ekonomi Digital, Lis Sutjiati

    “Gerakan ini bukan sekolah, tapi merupakan upaya untuk menciptakan ekosistem ekonomi digital. Apalagi di Indonesia masih banyak peluang untuk membuat solusi dari permasalahan sehari-hari sampai masalah kota dan bangsa; mulai dari pertanian,pendidikan, kesehatan dll,” ungkap Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang Ekonomi Digital.

    Untuk itu, program pembinaan ini pun bersifat inklusif. Seluruh individu berusia usia 18-40 tahun yang memiliki niat dan semangat membangun usaha digital dapat mendaftarkan diri mereka.

    Untuk gelombang pendaftaran 2019 ini, dalam 3 hari pertama pendaftaran telah ada sekitar 4.000 pendaftar untuk mengikuti Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Dilaksanakan secara intensif di 10 kota dengan kurun waktu 6 bulan, dengan konsep pembinaan yang menyeluruh, termasuk di dalamnya pembekalan materi, networking, konsultasi terkait bisnis model dan strategi produk marketing, serta inkubasi yang merupakan sesi mentoring mendalam.

    Pengembangan sumber daya industri digital menjadi bekal bagi Indonesia untuk bisa lebih bersaing secara global.

    Lebih lanjut, secara umum pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo, Dalam pidato pertamanya sebagai presiden terpilih pada Pilpres 2019 yang bertajuk Visi Indonesia, Presiden Joko Widodo menjelaskan komitmen pemerintah untuk mengidentifikasi, memfasilitasi, serta memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi talenta-talenta Indonesia.

    Di era baru ini, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital kembali didukung oleh berbagai institusi pemerintahan, masyarakat dan komunitas termasuk Kumpul yang terpilih menjadi koordinator nasional.

    Faye Alund, CEO Kumpul menjelaskan, “Kami sangat mengapresiasi KEMKOMINFO untuk kepercayaannya kepada Kumpul sebagai koordinator nasional program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.Kumpul sebagai platform pembelajaran bersama yang memberdayakan coworking space, bertujuan untuk membangun ekosistem yang fokus pada pertumbuhan wirausaha. Melalui Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, kami berharap dapat menghadirkan jaringan kewirausahaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.” (Icha)

     

     

     

  • Tenang, Kominfo Janji Stratup Aplikasi Umrah Digital Tidak Akan Ganggu Bisnis Travel

    Tenang, Kominfo Janji Stratup Aplikasi Umrah Digital Tidak Akan Ganggu Bisnis Travel

    Telko.id – Pada kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara ke Arab Saudi, salah satu agendanya adalah menandatangani memorandum of understanding (MoU) kolaborasi digital dengan pemerintah Arab Saudi. Dimana, kedua negara menyepakati untuk mengembangkan secara bersama startup Aplikasi umrah digital.

    Rudiantara juga memastikan bahwa pengembangan startup aplikasi umrah digital tersebut tidak akan mengganggu bisnis biro travel yang selama ini sudah berjalan. Hal ini disampaikannya dalam sesi press conference usai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) kolaborasi di Riyadh, minggu lalu, seperti dilansir dari keterangan tertulis Kominfo.

    “Situasinya sama saja dengan biro travel yang dulu ada, sekarang juga masih ada ketika bisnisnya bergeser ke ranah online. Hanya saja sekarang menjadi merchant-nya Traveloka dan platform lainnya. Jadi tergantung pasarnya, ada pasar yang retail, ada yang non-retail. Tidak perlu khawatir,” ujar Rudiantara.

    Kekhawatiran ini juga dijawab oleh co-founder Tokopedia, Leontinus Alpha Edison yang menegaskan bahwa kehadiran Tokopedia adalah untuk memberikan solusi yang end to end dengan mengumpulkan permasalahan terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan visi misi Tokopedia yang ingin melakukan pemerataan pengusaha digital.

    “Tokopedia sejak awal selalu berpartner dengan berbagai pihak karena kita ingin maju bersama. Kita ingin membangun jembatan, bukan dinding penghalang,” tegas Leontinus.

    Dalam implementasinya, Tokopedia akan bekerja bersama-sama dengan Traveloka melalui jalur maupun Government to Government (G to G) maupun Business to Business (B to B) dengan pebisnis online di Arab Saudi. Pengembangan Umrah Digital akan fokus pada tiga aspek yang bisa diefisiensikan dengan mengimplementasikan teknologi dan membangun partnership dengan pihak lain.

    “Kita akan mengembangkan pengalaman mulai dari pre-departure atau persiapan di Indonesia, kemudian saat mereka tiba di sini (Arab Saudi), dan setelah selesai umrah,” tambah Leontinus.

    Umrah digital ini bisa menjadi pilihan alternatif biro travel yang memberikan jaminan keamaan dan kenyamanan. Masyarakat tidak perlu ragu karena pengelolaannya transparan dan bisa dipantau secara online. Selama ini tantangan pengelolaan umrah dengan minat jamaah yang besar adalah masih adanya biro travel yang tidak bertanggung jawab dan melakukan penipuan. Inilah salah satu hal yang ingin diantisipasi pemerintah melalui pengembangan Kolaborasi Digital Indonesia-Arab Saudi.

    “Nanti akan ada fintech-nya untuk pendanaan, ada logistiknya untuk mengantar barang. Itulah mengapa semua harus terintegrasi,” ujar Rudiantara menambahkan.

    Harapannya, keberadaan startup ini semakin memudahkan jamaah Indonesia yang ingin melakukan perjalanan umrah termasuk pengurusan akomodasi, pemilihan fasilitas hingga pengurusan visa.

    Integrasi sistem mulai dari keuangan, perjalanan, hingga pengiriman barang akan menciptakan transparansi tata kelola umrah yang menguntungkan jamaah Indonesia sekaligus mendorong terciptanya kompetisi yang sehat antar biro travel umrah dalam menyediakan layanan yang maksimal bagi jamaah.

    Prototipe Umrah Digital Mulai Disiapkan

    Pengembangan startup umrah digital menjadi fokus pertama realisasi MoU kolaborasi digital Indonesia-Arab Saudi. Beberapa tahapan mulai dilakukan dua unicorn Indonesia, yaitu Tokopedia dan Traveloka, termasuk penyiapan prototipe-nya.

    Kolaborasi Indonesia-Arab Saudi dalam mewujudkan startup aplikasi umrah ini juga membahas beberapa hal mulai dari bentuk kerjasama dan model investasi, rencana pengembangan produk, layanan untuk solusi umrah, hingga kemungkinan adanya pemberdayaan, pengembangan dan keterlibatan di sektor UKM.

    “Kita harus dorong sektor swasta, peran pemerintah bukan sebagai regulator, tetapi memfasilitasi, membuka jalan, bahkan mengakselerasi. Jangan sampai Indonesia menjadi pasar terus,” tegas Menteri Rudiantara, seraya menyampaikan tingginya potensi umrah jamaah asal Indonesia yang pada tahun 2018 saja mencapai 1 juta orang.

    Bagi pemerintah Arab Saudi, pengembangan startup akan menguatkan diversifikasi ekonomi demi percepatan pencapaian visi Arab Saudi 2030. Salah satunya dengan menciptakan ruang inovasi dan investasi generasi muda Arab Saudi serta meningkatkan kompetensi di bidang industri digital yang melibatkan sektor UKM. Sementara bagi Indonesia, aplikasi ini bisa mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi digital.

    “Jadi sebenarnya benefitnya juga untuk Indonesia, untuk unicorn Indonesia, pebisnis asal Indonesia, dan untuk masyarakat Indonesia,” pungkas Menteri Kominfo. (Icha)

     

     

     

  • BKPM Inisiasi ‘Kopdar’ Startup Dengan Angel Investor

    BKPM Inisiasi ‘Kopdar’ Startup Dengan Angel Investor

    Telko.id – Untuk mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2020, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia menyelenggarakan Regional Investment Forum (RIF) sebagai ajang promosi investasi tahunan pada 11 Maret 2019. Ajang ini diharapkan menjadi meeting point bagi para investor, pelaku bisnis startup, pemerintah daerah dan stakeholders terkait lainnya, sehingga perkembangan industri ini memiliki dampak yang maksimal bagi investasi Indonesia.

    Tahun ini, tema RIF yang diusung adalah “Indonesia’s Digital Drive: Utilizing Digital Technology in Developing Regional and Tourism Investment Opportunities”. Tema ini sesuai dengan perkembangan industri digital yang cukup signifikan beberapa tahun terakhir.

    Hingga Februari 2019, jumlah startup di Indonesia mencapai 2.070 startup dengan pertumbuhan tertinggi di tiga sektor yaitu ­on-demand services, financial technology (fintech) dan e-commerce.  Tingginya angka pertumbuhan startup ini mendorong BKPM untuk mengubah konsep RIF tahun ini menjadi berbeda, yaitu mengundang para perusahaan rintisan (startup). Setidaknya, ada 250 startup yang hadir dalam perhelatan ini.

    “Perkembangan industri startup yang cukup cepat ini harus segera direspon oleh pemerintah, terutama BKPM sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi pelayanan dan pelaksanaan penanaman modal,” ungkap Thomas Trikasih Lembong, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

    Jika melihat dari dari APJII, pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta atau 54% dari total populasi dengan jumlah pemilik smartphone dan mobile internet mencapai 90 juta (statista).

    Riset Google dan Temasek juga menyebutkan market size ekonomi digital Indonesia juga mencapai USD 27 miliar dan berpotensi menjadi USD 100 miliar pada tahun 2025. Dari aliran investasi asing per tahun di level USD 20-25 miliar, diperkirakan 10% disumbang dari sektor ekonomi digital.

    “Tujuan pelaksanaan kegiatan RIF adalah untuk mempromosikan peluang investasi Indonesia khususnya bidang ekonomi digital dan pariwisata. Jadi kami fokus membuka jalur komunikasi antara pemerintah daerah, calon investor, dan startup di bidang tersebut. Harapannya, investasi di bidang ekonomi digital dan pariwisata juga bisa naik secara signifikan,” ungkap Farah Ratnadewi Indriani, Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal.

    BKPM juga mengundang beberapa pembicara dalam event ini, di antaranya Menteri Komunikasi dan Informatika, Staf Khusus Bidang Teknologi Informasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Wakil Gubernur Jawa Timur, serta Vice President Media and Digital Telkom.

    Di samping itu, hadir sebagai narasumber dari pelaku bisnis dan investor antara lain Co-Founder Nalagenetics, Founding Partner of Kejora Ventures, serta Founder Sale Stock (Sorabel). Dalam sesi digital startup pitching, BKPM menghadirkan panelist yang terdiri dari NextICorn, Kejora Ventures, MDI Ventures, dan East Ventures. (Icha)

  • GO-JEK Dorong UMKM Naik Kelas Lewat ‘GO-JEK Wirausaha’

    GO-JEK Dorong UMKM Naik Kelas Lewat ‘GO-JEK Wirausaha’

    Telko.id – Digitalisasi merupakah salah satu alternatif untuk UMKM naik kelas.  Setidaknya dapat mengakselerasi usaha nya ke pasar yang lebih luas lagi dengan lebih efektif. Sayangnya, dengan skala kecil menengah ini, upaya digitalisasi tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu juga ‘bantuan’ dari pengusaha besar untuk membentuk ekosistem yang bersahabat dengan pengusaha kecil menengah. Seperti yang dilakukan oleh GO-JEK. Perusahaan rintisan ini menggelar kegiatan GO-JEK Wirausaha di Purwokerto.

    Target dari event ini adalah membantu para pengusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Purwokerto supaya bisa meningkatkan skala bisnisnya usaha dan memperluas pasar mereka melalui teknologi.

    “Sejak GO-JEK hadir di Purwokerto tahun 2017, kami berkomitmen meningkatkan perekonomian di Purwokerto. Komitmen ini kami wujudkan melalui akses bagi para pekerja sektor informal dan UMKM untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan perluasan pasar. Melalui program GO-JEK Wirausaha, kami memperkuat komitmen tersebut dengan memberikan pelatihan, bukan hanya bagi para UMKM namun juga para calon wirausaha mandiri agar mereka bisa lebih maju lagi,” kata Delly Nugraha – SVP Central Region GO-JEK menjelaskan.

    Acara yang digelar di Oemah Daun Cafe & Resto, Purwokerto bersama Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) dan Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Satria Banyumas ini disambut antusias oleh UMKM. Setidaknya ada 200 pengusaha UMKM menghadiri nya.

    GO-JEK Wirausaha adalah program pelatihan berbisnis yang diberikan oleh GO-JEK kepada pelaku industri UMKM dalam bentuk kelas tatap muka. Purwokerto menjadi kota ketiga setelah Kota Depok dan Kota Tangerang Selatan. Dengan pelatihan di Purwokerto ini, maka sudah terdapat hampir 400 pelaku UMKM se-Indonesia yang sudah mengikuti program GO-JEK Wirausaha sehingga menjadi #WirausahaNaikKelas.

    Materi yang diajarkan di GO-JEK Wirausaha mulai dari perencanaan bisnis hingga mengelola keuangan yang baik sebagai fundamental membangun bisnis.

    “Mereka yang ingin memulai usaha banyak terkendala dengan berbagai macam halangan, terutama mentalitas dan kemampuan dasar berbisnis. Oleh karena itu disini mereka akan belajar untuk berani dan cerdas dalam memulai bisnis.” tambah Delly.

    Selain belajar bersama tentang kemampuan fundamental dalam berbisnis, peserta pelatihan yang sudah memiliki bisnis dapat langsung mendaftarkan usahanya ke dalam platform GO-FOOD dan GO-PAY. Hal ini agar para pelaku UMKM bisa langsung memasarkan, menjual, dan mengembangkan usahanya secara digital.

    Berdasarkan riset yang diterbitkan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) pada tahun 2017 menemukan bahwa GO-JEK telah berkontribusi sebesar Rp 1.7 triliun per tahun untuk perekonomian Indonesia melalui penghasilan mitra UMKM. Para mitra UMKM ini pun mengalami peningkatan volume penjualan sebesar tiga kali lipat setelah mereka bergabung di GO-FOOD.

    Program ini pun tentu menjadi ‘angin’ segar bagi para UMKM di Purwokerto. Tak heran, Bupati Banyumas, Achmad Husein pun menyambut baik inisiatif GO-JEK untuk membantu UMKM di Purwokerto meningkatkan skala bisnisnya.

    Pernyataan serupa diamini oleh Ketua II Induk Koperasi An-Nisa Muslimat NU (Inkopan MNU), Dara Eriza Iswari. “Kami melihat ilmu yang diberikan sangat bermanfaat dan besar harapan Kami kegiatan ini dapat direspon positif juga oleh Primkopan (Primer Koperasi An-Nisa) khususnya Pengurus Cabang Muslimat NU Banyumas”, kata Dara. (Icha)

  • ‘Gemerlap’ nya Startup Indonesia

    ‘Gemerlap’ nya Startup Indonesia

    Telko.id – Pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara dan menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada dengan valuasi bisnis USD 10 miliar pada tahun 2020.

    Mungkin ada orang yang ‘mencibir’ dengan target pemeritah itu. Tapi jangan salah, Indonesia ini memiliki potensi yang luar biasa. Bayang kan saja, dua tahun lalu, orang yang berbelanja online baru 7,4 juta jiwa dengan transaksi Rp 48 triliun. Tahun lalu, angka itu naik menjadi 11 juta dengan total transaksi Rp 68 triliun. Meski belum diketahui persisnya, taksiran total transaksi tahun ini mencapai Rp 95,48 triliun.

    Nyatanya, perkembangan ekonomi digital melampaui daya ramal manusia. Praktik e-commercedalam bentuk iklan jual-beli, retail, hingga mal online menanjak cepat. Tahun ini, nilai transaksinya diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail. Transaksi melalui teknologi finansial atau fintechmenyentuh Rp 252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Sedangkan e-travel, yang diwakili bisnis mobilitas dan perjalanan, menyumbang Rp 105,798 triliun pada tahun ini.

    Bahkan Tempo memprediksikan pada 2020 yang akan datang, valuasi bisnis digital akan mencapai  Rp 135,364 triliun. Dengan Prediksi Nilai Transaksi 2020 sebesar Rp 1.759 triliun.

    Angka-angka itu baru dari perdagangan online atau e-commerce. Tak aneh bila perkembangan perusahaan rintisan berbasis digital alias startup menarik perhatian pemerintah. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara masih ingat, dua tahun lalu, ia tanpa pikir panjang menyebut bakal ada lima unicorn di Indonesia pada 2019. “Waktu itu saya ditanya petinggi-petinggi perusahaan modal ventura di Silicon Valley, Amerika Serikat,” kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa waktu lalu. “Saya jawab saja lima. Gak tau dari mana.”

    Untuk mencapai target itu memang Indonesia, dalam hal ini pemerintah perlu banyak ‘campur tangan’. Ekosistem yang dibuat agar mendukung pertumbuhan tersebut. Itu sebabnya, pemerintah pun membuat berbagai inisiatif.

    “Kami memiliki ribuan startup yang telah melalui proses inkubasi dan akselerasi. Target kami di tahun depan, setidaknya kami sudah memiliki 5 unicorn. Jadi itulah mengapa pemerintah bertindak sebagai match-maker, bukan hanya pemerintah, tetapi juga dengan ekosistem dengan orang-orang di dalamnya, misalnya bersama dengan pendiri unicorn itu sendiri,” paparnya. 

    Setidaknya, saat ini ada empat dukungan yang sudah dilakukan oleh pemerintah. Pertama, pemerintah itu sudah diwujudkan dalam reformasi kebijakan dan sudah ada 16 paket kebijakan ekonomi sejak tahun 2015. Kedua, saat ini  pemerintah tengah gencar membangun infrastruktur. Ketiga, pemerintah juga telah melakukan reformasi fiskal bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Dan keempat, Indonesia melakukan reformasi hukum bagi kemudahan berusaha dan investasi.

    “Saat ini waktu yang tepat karena, pertama, reformasi regulasi, kemudian pembangunan infrstruktur paling gencar dilakukan dalam sejarah Indonesia, reformasi fiskal dan hukum untuk kemudahan berusaha dan investasi,” ujar Rudiantara pada pembukaan Konvensi Internasional Next Indonesia Unicorn (NextIcorn): Digital Paradises Weekend.

    Rudiantara pun optimis Indonesia menjadi negara yang tepat buat para investor menanamkan modal. Menurut Data dari Asia Business Outlook Survey 2017, The Economist Corporate Network 2017, Indonesia juga ternyata berada diposisi ke-3 dalam kesediaan investor menambahkan investasi setelah Tiongkok dan India. Kondisi seperti itu  akan membuat keyakinan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

    Konvensi Internasional NextIcorn

    Insiasi lain yang dibuat oleh pemerintah adalah menggelar Konvensi Internasional NextIcorn. Targetnya adalah mempertemukan mempertemukan perusahaan berbasis teknologi atau start up digital potensial dan terkurasi di Indonesia dengan venture capital global.

    “KIta menyediakan platform yang dapat mempertemukan perusahaan berbasis teknologi atau start up digital potensial dan terkurasi di Indonesia dengan venture capital global. Tujuannya mempersingkat proses berinvestasi dengan menyediakan investor yang serius dari seluruh dunia dengan start-up Indonesia agar mudah menjadi unicorn,” jelas Rudiantara.

    Di mana, pada NextICorn konvensi kali secara eksklusif mengundang para investor paling terkemuka dari pasar-pasar utama di seluruh dunia untuk berinteraksi dengan para pengusaha terkemuka Indonesia, investor teknologi lokal, dan perwakilan pemerintah di Bali.

    Event ini terbukti ampuh. Pasalnya, pada NextICorn yang terakhir diadakan pada Mei 2018 lalu telah berhasil menciptakan permintaan lebih dari 2.000 permintaan pertemuan antara investor dan perusahaan yang dikurasi.

    “Di mana 1.035 pertemuan berhasil difasilitasi hanya dalam waktu 1,5 hari. Kami telah mencatat 294 tindak lanjut sejak acara tersebut dengan beberapa yang telah diubah menjadi transaksi,” jelas Rudiantara.

    Kali ini tercatat lebih dari 125 investor dan pemodal ventura hadir di event ini, dengan jumlah pertemuan yang diajukan mencapai lebih dari 3200 pertemuan. Lebih tinggi dibandingkan dengan pertemua sebelumnya. Tentu harapannya, tindak lanjut dari pertemuan tersebut juga berubah jadi transaksi.

    Menariknya, NexICorn International Convention 2018 ini dihadiri oleh Top-Tier pemodal ventura dan investor global. Panitia begitu selektif hingga yang bukan Principle dan Partner ditolak!.

    “Kita tidak terima kalau bukan Principle dan Partner. Gaungnya startup Indonesia sudah membuat VC dunia mau hadir datang langsung ke sini,” ungkap Lis Sutjiati, Deputy to the Chairman for NextICorn Strategy Formulation Coordination.

    Jadi yang hadir untuk melakukan pertemuan setingkat dengan para startup adalah tingkat partner dan principle.

    Namun, startup di Indonesia juga dipersiapkan agar memang layak bertemu dengan para calon partner maupun principle.

    “Di Kominfo sendiri saya lihat sebagai pengamat juga memainkan perannya sudah sangat tepat. Kalau kita tempatkan posisi sebagai investor, ada banyak banget yang bikin startup. Harus ada proses kurasi untuk menemukan potensinya, seperti yang kita jalankan di Nexticorn ini. Jadi sebagai investor, cari startup tuh setengah mati di Indonesia. Dari sudut pandang startup juga sama, sangat-sangat buta. Program ini biar perusahaan punya brosur (compendium) yang bisa mudah dicerna, jadi proposalnya bisa paling atas di mejanya investor,” jelas Daniel Brand Ambassador NextICorn juga juga sebagai pengamat startup.

    Indonesia ‘Surga’ nya Investor

    Berdasarkan pengamatan Kementerian Komunikasi dan Informastika yang disampaikan oleh Menteri Kominfo Rudiantara optimistis Indonesia ada lima faktor yang menjadi penarik minat investasi di Indonesia.

    Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir relatif stabil. Kedua, Indonesia memiliki kepercayaan yang tinggi dari para investor untuk berinvestasi. Ketiga,terjadi peningkatan signifikan dalam lingkungan peraturan seperti kemudahan berusaha. Keempat,  indonesia memiliki prospek sebagai negara ekonomi terbesar ke-5 di dunia tahun 2030.

    “Kelima, di tahun 2030 juga Indonesia akan menembus angka 135 juta kelas konsumen. Terakhir, ditahun 2030 Indonesia memiliki 180 juta penduduk usia produktif,” tuturnya.

    The Next Unicorn: HealthTech dan EduTech

    Indonesia dengan jumlah penduduk dan penetrasi internet yang tinggi memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital. Apalagi terdapat Dua sektor yang memiliki potensi besar yaitu basis pendidikan atau edutech dan kesehatan atau healthtech. 

    “Dua sektor tersebut memiliki potensi untuk digarap oleh startup digital dan modal ventura karena dana pemerintah yang digelontorkan ke sektor tersebut sangat besar,” ungkap Rudiantara.

    Potensi sektor pendidikan menurut Rudiantara sangat besar, jika dibandingkan dengan APBN angkanya bisa mencapai Rp10 Triliun. “Apalagi untuk menjadi startup unicorn, kuncinya ada di pendidikan. Dalam APBN, 20% harus dialokasikan ke sektor ini. Tahun ini, anggaran pendidikan sekitar Rp 400 triliun. Dari angka itu, jika pendapatan yang diraih hanya 2%, nilainya sudah mencapai Rp 10 triliun,” paparnya.

    Selain sektor pendidikan, menurut Menteri Kominfo, undang-undang juga mewajibkan pemerintah mengalokasikan APBN sebesar 5% ke sektor kesehatan. Dengan Rp 100 triliun anggaran pemerintah untuk kesehatan, maka jika 2% yang didapat, nilainya sudah Rp 2 triliun. ”It’s a big value, ” jelasnya.

    Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital, Menteri Rudiantara mengaku, pemerintah akan terus mengurangi fungsi regulator dan lebih menonjolkan fungsi fasilitator dan akselerator.

    “Less of a regulator, more of a facilitator, even more of an accelerator,” katanya.

    Dengan dukungan oleh pemerintah itu, Rudiantara yakin, Bali akan menjadi acuan pengembangan ekonomi digital selain Beijing (China), Bangalore (India), dan Silicon Valey (AS). (Icha)

     

     

     

  • Pasar ok, Startup Pariwisata pun Semakin Sexy Buat Investor

    Pasar ok, Startup Pariwisata pun Semakin Sexy Buat Investor

    Telko.id – Generasi milenial, kini memiliki obsesi untuk banyak traveling. Baik keluar negeri maupun dalam negeri. Satu yang tidak boleh ketinggalan saat traveling adalah kemudahan dalam akses internet. Maklum, generasi ini kehidupannya sudah sangat digital. Jika, travel dalam negeri saja mungkin tidak banyak masalah. Tapi keluar keluar negeri atau outbound travelers, akses internet terkadang jadi kendala. Itu sebabnya, PassPod menyediakan modem wifi 4G bagi outbound travelers, yang berada di bawah bendera Yelooo Integra Datanet.

    Menurut laporan Mastercard Future of Outbound Travel in Asia Pacific (2016 to 2021), Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan outbound travel terbesar di Asia, yaitu sebesar 8,6% per tahun, setelah Myanmar sebesar 10,6%, dan Vietnam 9,5%.

    Berbagai destinasi wisata di Asia juga masih menjadi tujuan favorit dari peningkatan angka outbound travel Indonesia ini. Japan National Tourism Organization bahkan melaporkan bahwa pada tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia yang bepergian ke Jepang mencapai 352.330 orang, didominasi kunjungan untuk berwisata sebanyak 291.532 orang. Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang meningkat hampir 8 kali lipat dibandingkan angka pada tahun 2007 yang hanya sebanyak 38.430 orang.

    Keduanya menilai Indonesia memiliki prospek pertumbuhan outbound travel yang cerah seiring dengan masih rendahnya rasio pengeluaran untuk bepergian ke luar negeri dibandingkan pengeluaran rumah tangga, yaitu hanya 10%.

    “Jumlah penduduk Indonesia yang berwisata ke luar negeri diperkirakan mencapai 7 juta orang pada 2016 dan tumbuh rata-rata 8,6% per tahun menjadi 10,6 juta orang pada 2021. Rasio pengeluaran untuk outbound travel juga bakal naik menjadi 15,4% dalam 3 tahun mendatang,” ungkap Desmond dan Yuwa dalam laporan tersebut.

    Perkembangan teknologi menjadi kunci dari pertumbuhan outbound travel di Asia, khususnya Indonesia. Dari teknologi, harga layanan transportasi semakin terjangkau dengan kehadiran pesawat dengan ukuran yang lebih besar dan efisien.

    Selain itu, perkembangan internet yang pesat telah mendorong pertumbuhan outbound travel, terutama di kalangan generasi milenial yang melek teknologi. Di Indonesia sendiri, menurut riset tersebut, penetrasi pengguna internet yang memanfaatkan jasa travel online masih rendah sehingga tingkat pertumbuhannya di masa mendatang diperkirakan akan tetap tinggi.

    Kemajuan teknologi dan pertumbuhan outbound travel ini membuat Indonesia dilirik oleh penanam modal. Contohnya pada tahun lalu, perusahaan travel asal Jepang JTB Corporation mengakuisisi 30% saham Panorama Tours Indonesia milik Panorama Sentrawisata senilai Rp370 miliar.

    Analis OCBC Sekuritas Inav Haria Chandra dalam risetnya menyebutkan, aksi ini akan mendorong penetrasi Panorama Tours di segmen outbound travel ke Jepang. Dari data Kementerian Pariwisata, investasi di sektor pariwisata mengalami pertumbuhan 31% menjadi US$1,7 miliar. Adapun, pada kuartal pertama tahun ini, investasi di sektor ini mencapai US$500 juta.

    Tidak hanya pasar outbound, inbound travel juga menjadi pendorong investasi di sektor pariwisata. Pengembangan pariwisata nasional pun diarahkan ke pemanfaatan teknologi digital. Untuk itu, dalam berbagai kesempatan, Menteri Pariwisata Arief Yahya terus mendorong kehadiran startup atau perusahaan rintisan di sektor pariwisata.

    Sejalan dengan hal di atas, telah lahir banyak startup di bidang pariwisata. Mulai dari yang fokus menyediakan kebutuhan wisatawan dalam fase persiapan travelling, sampai kebutuhan wisatawan saat berada di destinasi wisata.

    Menurut Managing Partner – Ideosource VC Edward Ismawan Chamdani, pertumbuhan bisnis traveling memberikan angin segar bagi pengusaha startup di Indonesia. Edward menambahkan, tren bisnis startup yang fokus pada kebutuhan travel ini sangat menjanjikan, khususnya jika dilihat dari kalangan milenial yang menjadikan traveling sebagai gaya hidup.

    Secara kompetisi, kolaborasi juga bisa menjadi pilihan bagi pelaku startup. Pemain horizontal dengan layanan paling lengkap bisa berkolaborasi dengan pemain niche agar tercipta layanan one-stop transaction portal. “Inisiatif yang kreatif semacam ini sangat menarik, terutama bagi para investor,” sambung Edward.

    Kondisi pasar yang sangat kondusif itu membuat Passpod pun ‘pede’ untuk bisa masuk ke pasar saham. Rencana nya, initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham perdana di pasar modal nasional, setelah bergabung dengan IDX Incubator—yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia—pada Februari 2018.

    IDX Incubator, menurut Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida, merupakan lembaga yang didirikan pada awal 2017 untuk memberikan pembekalan sekaligus solusi bagi startup yang ingin mencari permodalan di pasar modal. Keputusan untuk melantai di bursa juga merupakan strategi Passpod untuk bisa go-regional.

    Menurut CEO Passpod Hiro Whardana, salah satu syarat untuk ekspansi ke negara lain adalah memiliki partner local di masing-masing negara.

    “IPO menjadi strategi kami untuk membangun kredibilitas di mata partner lokal negara lain. Harapannya, setelah mengantongi titel perusahaan publik di Indonesia, proses go regional Passpod akan lebih mudah,” tutur Hiro.

    Apalagi, Passpod, sebagai penyedia modem 4G di Indonesia yang berdiri sejak bulan Januari 2017 ini memang punya niat untuk bisa diakses ke lebih dari 68 negara di dunia seperti AS, Singapura, Hongkong, Thailand, Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah.

    Passpod digadang-gadang akan menjadi startup pertama hasil pembekalan IDX Incubator yang go public. Setelah IPO, ada beberapa layanan yang akan disediakan Passpod di masa mendatang—selain peminjaman modem wifi—yaitu antara lain menyediakan tiket event, itinerary builder, e-commerce, asuransi perjalanan, dan lain sebagainya.

    “Melalui beragam fitur di atas, Passpod akan memberikan servis lengkap bagi wisatawan selama mereka dalam perjalanan karena area inilah yang belum banyak digarap pemain serupa,” tambah Hiro.

    Selain fokus pada kebutuhan wisatawan outbound, Passpod juga akan menyasar segmen inbound dengan target pasar para pelancong mancanegara yang akan berkunjung ke Indonesia. Untuk mencapai tujuan itu, perseroan telah mendapatkan sertifikasi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) Postel A & B dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Informatika. Dengan izin ini, Passpod akan lebih leluasa untuk menggarap pasar inbound maupun outbound yang potensi pertumbuhannya masih sangat besar di masa mendatang. (Icha)

     

  • Keren! 40 Peraturan Bakal Jadi 1 Buat Permudah Investor Danai Startup

    Keren! 40 Peraturan Bakal Jadi 1 Buat Permudah Investor Danai Startup

    Telko.id – Namanya juga Startup, tentu untuk mandiri secara financial bukan persoalan mudah. Itu sebabnya, membutuhkan angel investor untuk membantu sehingga akhir nya dapat tumbuh dan berkembang menjadi besar.

    Namun, dengan adanya rentetan peraturan di Indonesia, maka invetasi untuk startup menjadi terhambat. Tak pelak, pemerintah pun bermaksud untuk mempermudah pendanaan dari luar negeri bagi startup lokal.

    We welcome you to invest in Indonesia. Dalam hal regulasi, Indonesia salah satu negara yang para start-upnya tidak harus punya izin dari kementerian, cuma harus registrasi. Karena sektor ini sangat dinamis, jika diimplementasikan heavy regulation, sebelum tinta tanda tangan di dokumen perizinannya kering, dinamikanya sudah berubah,” jelas Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam peluncuran EV Growth:  Indonesia Digital Day di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, Senin (21/05/2018).

    Rudiantara menambahkan, bahwa Kementerian yang dipimpinnya sedang menyiapkan proses penghapusan 40 aturan setingkat menteri untuk disederhanakan menjadi 1 aturan. “Sekarang saya masih persiapkan perubahan aturannya, tahun ini akan dihapuskan 40 aturan setingkat menteri untuk diganti jadi 1 aturan saja,” paparnya.

    Dalam pandangan Menteri Kominfo, penyederhanaan regulasi merupakan bentuk dukungan pemerintah agar Indeks Kemudahan Berbisnis di Indonesia dapat meningkat pesat. Indeks tersebut dikeluarkan oleh Bank Dunia sebagai alat ukur kemudahan untuk melakukan proses bisnis di suatu negara.

    “Ini cara pemerintah Indonesia menyederhanakan seluruh proses regulasi. Bukan hanya di Kominfo saja, tapi semua Kementerian sekarang seperti ini. Agar posisi Indonesia setidaknya dari sisi the ease of doing business akan meningkat secara signifikan,” jelasnya.

    Dalam acara yang  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan ada empat kriteria untuk berinvestasi di Indonesia. “Pertama yaitu bisnisnya harus berkelanjutan dari sisi lingkungan. Ini sangat penting bagi kami, karena kami tidak mau Anda membawa teknologi tingkat dua (2nd class technology) ke Indonesia,” tegas Menko Luhut.

    Kriteria berikutnya menurut Menteri Luhut adalah harus mempekerjakan tenaga kerja lokal, serta dapat memberi nilai tambah bagi industri dan sumber daya alam Indonesia. “Harus ada manfaatnya, baik dalam proses upstream maupun downstream,” paparnya.

    Kriteria terakhir, lanjutnya, adalah mentransfer teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar namun memiliki orang yang menguasai teknologi tersebut. “Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar bagi teknologi terbaru, harus ada yang ahli dan menguasai teknologi tersebut,” ungkapnya. (Icha)