Kategori: TREND&TECHNOLOGY

  • Singapore Airlines Adopsi Starlink di Pesawat

    Singapore Airlines Adopsi Starlink di Pesawat

    Telko.id – Industri penerbangan memasuki fase baru konektivitas setelah Singapore Airlines mengumumkan adopsi layanan internet satelit Starlink untuk armada pesawatnya.

    Selama ini, konektivitas dalam penerbangan sering menjadi titik lemah pengalaman penumpang, terutama dalam hal kecepatan dan stabilitas.

    Dengan teknologi satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO), Starlink menawarkan pendekatan berbeda yang memungkinkan koneksi lebih cepat dan latensi lebih rendah dibandingkan sistem satelit konvensional.

    Hal ini membuka peluang baru bagi aktivitas digital di dalam pesawat, mulai dari streaming hingga pekerjaan berbasis data.

    Melalui integrasi ini, penumpang nantinya dapat menikmati koneksi internet berkecepatan tinggi yang lebih stabil selama penerbangan, bahkan sejak pesawat lepas landas hingga mendarat (gate-to-gate).

    Berbeda dengan sistem lama yang biasanya hanya aktif di ketinggian tertentu, Starlink memungkinkan koneksi tetap aktif sepanjang perjalanan, sehingga pengalaman online di pesawat semakin mendekati penggunaan internet di darat.

    Baca Juga:

    Singapore Airlines sendiri telah lebih dulu menawarkan Wi Fi gratis di seluruh armadanya, sehingga integrasi Starlink menjadi langkah lanjutan untuk mempertahankan posisi kompetitif.

    “Konektivitas yang cepat dan lancar saat ini merupakan bagian penting dari pengalaman perjalanan,” kata Yeoh Phee Teik dalam keterangannya dikutip, Senin (4/5/2026).

    “Starlink akan membawa ini ke tingkat selanjutnya dengan menghadirkan konektivitas berkecepatan tinggi generasi berikutnya, memungkinkan pelanggan untuk tetap terhibur, terhubung, dan produktif sepanjang perjalanan mereka, dengan pengalaman yang lebih lancar dan mulus dari lepas landas hingga mendarat,” tambahnya.

    Langkah Singapore Airlines ini juga menunjukkan tren global di industri penerbangan, di mana semakin banyak maskapai mulai mengadopsi teknologi Starlink untuk meningkatkan layanan digital di dalam kabin.

    Beberapa maskapai besar dunia bahkan sudah lebih dulu mengimplementasikan sistem serupa, menjadikan konektivitas internet sebagai bagian penting dari pengalaman terbang modern.

    Kehadiran teknologi ini berpotensi mengubah cara bepergian dengan pesawat. Aktivitas seperti bekerja, streaming, atau berkomunikasi secara real-time kini bisa dilakukan tanpa hambatan berarti selama penerbangan.

    Dengan kata lain, batas antara “online di darat” dan “offline di udara” mulai semakin kabur, seiring berkembangnya teknologi satelit generasi baru.

  • Claude Kini Terhubung ke Software Kreatif, Permudah Buat Design

    Claude Kini Terhubung ke Software Kreatif, Permudah Buat Design

    Telko.id – Perkembangan AI generatif kembali melangkah jauh setelah Claude, model AI dari Anthropic, kini terintegrasi langsung ke berbagai software kreatif populer seperti Adobe Creative Cloud dan Blender.

    Langkah ini membuat Claude tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga bisa mengakses aplikasi, mengambil data, dan menjalankan tindakan di layanan yang terhubung.

    Pembaruan ini penting karena mengarah pada peran Claude sebagai asisten kreatif yang lebih praktis di alur kerja sehari-hari.

    Bagi pengguna kreatif, nilai utamanya ada pada kemampuan untuk memangkas tugas berulang dan mengurangi pekerjaan manual yang sering memakan waktu.

    Melalui sistem yang disebut connector, Claude dapat terhubung dengan berbagai tools kreatif dan menjalankan perintah berbasis bahasa alami.

    Baca Juga:

    Artinya, pengguna cukup mengetik instruksi seperti “edit warna foto”, “buat animasi sederhana”, atau “ubah model 3D”, dan AI akan membantu mengeksekusinya langsung di software terkait.

    Pendekatan ini membuat proses kreatif yang sebelumnya kompleks menjadi jauh lebih cepat dan mudah diakses, bahkan bagi pengguna non-teknis.

    Di jajaran yang diumumkan, connector untuk Adobe menjadi salah satu yang paling menonjol. Integrasi ini memungkinkan Claude menarik informasi dari aplikasi Creative Cloud seperti Adobe Photoshop, Adobe Premiere Pro, dan Adobe Express untuk membantu pembuatan gambar, video, dan desain langsung dari lingkungan Claude.

    Di ekosistem Adobe, Claude bisa terhubung dengan berbagai aplikasi seperti Photoshop, Illustrator, hingga Premiere, memungkinkan pengguna mengedit gambar, membuat desain, atau memproses video dengan bantuan AI secara langsung.

    Sementara di Blender, integrasi ini memungkinkan AI membantu membuat script Python, memodifikasi objek 3D, hingga melakukan analisis scene secara otomatis — sesuatu yang biasanya membutuhkan keahlian teknis tinggi.

    Ekspansi ini hadir hanya beberapa minggu setelah Anthropic memperkenalkan Claude Design. Produk itu memungkinkan pengguna membuat konten visual cukup dengan menjelaskan kebutuhan mereka dalam bahasa sehari-hari.

    Claude Design sendiri difokuskan untuk menghasilkan prototipe, presentasi, dan visual pemasaran dari prompt teks sederhana.

    Alih-alih membuka aplikasi desain lalu menyusun tata letak elemen demi elemen, pengguna bisa meminta draf awal dan mendapat hasil dalam hitungan detik.

    Lebih dari sekadar otomatisasi, kemampuan ini menandai perubahan besar dalam cara kerja kreatif.

    AI kini tidak hanya menjadi alat bantu brainstorming, tetapi mulai berperan sebagai asisten produksi yang bisa menjalankan alur kerja dari awal hingga akhir.

    Bahkan, Claude juga dapat menghubungkan berbagai software sekaligus dalam satu proses kerja, misalnya membuat desain di Adobe lalu langsung mengolahnya menjadi model 3D atau konten lain di platform berbeda.

    Meski demikian, pengembang menegaskan bahwa AI seperti Claude tidak dimaksudkan untuk menggantikan kreativitas manusia.

    Sebaliknya, teknologi ini dirancang untuk mengurangi pekerjaan repetitif dan mempercepat proses produksi, sehingga kreator bisa lebih fokus pada ide dan konsep.

  • Strava Tambah Fitur Terapi Fisik untuk Pemulihan Cedera

    Strava Tambah Fitur Terapi Fisik untuk Pemulihan Cedera

    Telko.id – Strava, platform kebugaran global dengan lebih dari 195 juta pengguna, resmi meluncurkan fitur baru yang memungkinkan pengguna mencatat sesi terapi fisik.

    Langkah ini menjadikan pemulihan cedera sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan kebugaran yang tercatat secara digital.

    Fitur Terapi Fisik hadir melengkapi lebih dari 50 jenis aktivitas yang tersedia di Strava. Pengguna kini bisa mencatat sesi rehabilitasi untuk berbagai olahraga seperti lari, bersepeda, berjalan, dan berenang secara langsung di aplikasi.

    Strava ingin memastikan fase pemulihan tidak lagi menjadi titik buta dalam pelacakan kebugaran penggunanya.

    “Keseimbangan antara aktivitas, pemulihan, dan rehabilitasi telah menjadi bagian dari Strava untuk membantu pengguna tetap termotivasi dengan aman. Proses pemulihan dari cedera bisa terasa berat, bahkan lebih menantang,” ujar Matt Salazar, Chief Product Officer Strava dalam pernyataan resmi.

    Ia menambahkan, dengan hadirnya fitur ini, pengguna bisa tetap merasa dihargai meski sedang dalam masa pemulihan.

    “Kami ingin memastikan seluruh fitur Strava, yang membantu pengguna membangun kebiasaan dan meningkatkan motivasi, juga relevan dalam fase pemulihan ini, karena bangkit dari cedera sama pentingnya dengan mencetak rekor pribadi baru,” jelasnya.

    Selain Terapi Fisik, Strava juga memperbarui integrasi dengan aplikasi Recover Athletics yang menyediakan latihan mobilitas, kekuatan, dan daya tahan.

    Ada pula tag aktivitas Recovery yang memudahkan pengguna membedakan antara sesi latihan intens dan aktivitas pemulihan ringan.

    Langkah Strava ini menarik jika dibandingkan dengan ekosistem kebugaran lainnya. Sebagai perbandingan, DeepMind Bisa Deteksi kondisi medis secara dini, sementara Strava kini fokus pada pemulihan cedera penggunanya.

    Melengkapi Ekosistem Kebugaran

    Cedera dan pemulihan selama ini menjadi aspek yang kerap terabaikan dalam aplikasi pelacak kebugaran. Padahal, bagi atlet amatir maupun profesional, masa pemulihan sama krusialnya dengan sesi latihan. Strava mencoba mengisi celah ini dengan pendekatan yang lebih terstruktur.

    Fitur Terapi Fisik memungkinkan pengguna mencatat progres dari sesi ke sesi, mirip seperti mencatat jarak lari atau kecepatan bersepeda. Dengan begitu, pengguna bisa melihat perkembangan pemulihan mereka secara data-driven.

    Integrasi dengan Recover Athletics semakin memperkuat posisi Strava sebagai platform yang tidak hanya melacak performa, tetapi juga mendukung keberlanjutan gaya hidup aktif.

    Latihan mobilitas dan kekuatan yang disediakan oleh aplikasi mitra itu bisa langsung diakses dan dicatat di Strava.

    Tag aktivitas Recovery juga memberikan fleksibilitas lebih. Pengguna bisa memberi label pada aktivitas ringan seperti jalan santai atau stretching sebagai bagian dari program pemulihan, bukan sekadar latihan biasa.

    Bagi pengguna yang serius menjaga kebugaran, fitur ini bisa menjadi alat yang berguna untuk memastikan mereka tidak memaksakan diri terlalu keras. Strava ingin membangun kebiasaan sehat jangka panjang, bukan sekadar mengejar rekor.

    Implikasi bagi Pengguna Aktif

    Dengan lebih dari 195 juta pengguna di 185 negara, penambahan fitur ini berpotensi mengubah cara orang memandang pemulihan. Banyak pengguna yang selama ini hanya mencatat latihan intensif, sementara sesi terapi fisik atau pemulihan tidak tercatat sama sekali.

    Strava ingin mengubah paradigma itu. Dengan mencatat sesi terapi fisik, pengguna bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang perjalanan kebugaran mereka. Ini termasuk kapan mereka cedera, bagaimana proses pemulihannya, dan kapan mereka siap kembali ke latihan normal.

    Matt Salazar menekankan bahwa fitur ini dirancang untuk memberi ruang bagi pengguna yang sedang dalam masa pemulihan.

    “Pengguna dapat berkata, ‘Saya hadir hari ini, saya menjalani prosesnya, dan saya terus membuat kemajuan,’” katanya.

    Bagi komunitas Strava, fitur ini membuka peluang baru untuk saling mendukung. Pengguna bisa membagikan sesi terapi fisik mereka dan mendapatkan dorongan dari sesama anggota komunitas, sama seperti saat mereka berbagi pencapaian lari atau bersepeda.

    Ke depan, Strava diperkirakan akan terus mengembangkan fitur terkait pemulihan. Dengan basis pengguna yang besar, platform ini memiliki potensi untuk menjadi pusat data kebugaran yang paling komprehensif, termasuk aspek rehabilitasi yang selama ini kurang terlayani.

    Bagi pengguna yang ingin memulai, fitur Terapi Fisik sudah tersedia di aplikasi Strava versi terbaru. Pengguna cukup memilih jenis aktivitas “Terapi Fisik” saat mencatat sesi, dan data akan tersimpan seperti aktivitas lainnya. (Icha)

  • Tournameet Sukses Gelar Padel Bihalal 2026, Pererat Kolaborasi Lintas Industri

    Tournameet Sukses Gelar Padel Bihalal 2026, Pererat Kolaborasi Lintas Industri

    Telko.id – Tournameet, inisiatif dari Technologue.id, Genzone.id, dan Telko.id, sukses menyelenggarakan turnamen padel bertajuk Padel Bihalal 2026.

    Acara yang berlangsung pada Sabtu (25/4) di Padel Corner Kemang 27 ini diikuti oleh berbagai kalangan profesional dari lintas industri, mulai dari media, brand, hingga PR agency.

    Padel Bihalal 2026 hadir di tengah tren padel yang semakin populer sebagai gaya hidup masyarakat urban di Jakarta. Olahraga ini tidak hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga ajang bersosialisasi. Momentum halal bihalal pun dipilih untuk memperkuat silaturahmi antar pelaku industri.

    Ketua Pelaksana Padel Bihalal 2026, Denny Mahardy, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mempererat hubungan lintas sektor.

    Content image for article: Tournameet Sukses Gelar Padel Bihalal 2026, Pererat Kolaborasi Lintas Industri

    “Saya menggagas acara ini untuk teman-teman di industri seperti media bukan hanya media teknologi, tetapi juga otomotif, lifestyle, hingga game, untuk berkumpul halal bihalal di lapangan padel. Tujuannya supaya kita bisa memperluas kolaborasi kita agar tetap bisa bertahan di masa sulit,” ujarnya.

    Sebelum pertandingan dimulai, seluruh pemain menjalani tes kesehatan, termasuk cek tekanan darah dan suhu tubuh. Semua peserta dinyatakan aman dan siap bertanding. Turnamen ini terbagi dalam dua kategori, yaitu Pro dan Social, yang berlangsung kompetitif dengan atmosfer penuh semangat.

    Content image for article: Tournameet Sukses Gelar Padel Bihalal 2026, Pererat Kolaborasi Lintas Industri

    Setelah melewati babak-babak sengit, berikut daftar pemenang Padel Bihalal 2026:

    Kategori Pro

    • Juara 1: Team Delapan & Senyata
    • Juara 2: Forgame 1
    • Juara 3: Forwot 3

    Kategori Social

    • Juara 1: Olahraga 1
    • Juara 2: KOL 2 (Jabber – Denny)
    • Juara 3: KOL 1 (Mikhail – Divy)

    Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Sponsor utama meliputi ASUS, Telkom Indonesia, dan MODENA. Dukungan juga datang dari KlikPR, XLSMART, Udari, CBN, Burson, Komunikasee, Team Delapan & Senyata, platform PINTU, serta Padel Corner Kemang 27.

    Inisiatif Tournameet sebelumnya telah sukses menggelar acara serupa di tahun 2024, seperti Kompetisi Golf yang juga menjalin relasi antar industri. Melalui Padel Bihalal 2026, kolaborasi lintas sektor kembali diperkuat dengan semangat kebersamaan.

    Acara ini menjadi bukti bahwa olahraga dapat menjadi jembatan untuk memperluas jejaring profesional. Dengan antusiasme peserta yang tinggi, Padel Bihalal 2026 berhasil menciptakan suasana kompetitif namun tetap santai. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang.

  • Friendster Bangkit Lagi, Kini Bisa Diakses di Perangkat iOS

    Friendster Bangkit Lagi, Kini Bisa Diakses di Perangkat iOS

    Telko.id – Media sosial legendaris Friendster dikabarkan kembali hadir setelah lama “mati”, dan kini sudah bisa diakses oleh pengguna iPhone di Indonesia melalui App Store.

    Kebangkitan ini menjadi momen nostalgia bagi pengguna lama, sekaligus menandai arah baru platform yang tidak lagi mengikuti konsep media sosial modern seperti sekarang.

    Dalam sebuah postingan blog pada Senin (27/4), Mike Carson, seorang programmer komputer yang berbasis di Philadelphia, mengatakan bahwa ia telah membeli domain Friendster dan mengamankan hak merek dagang Friendster tahun lalu. Kini, ia meluncurkan aplikasi Friendster khusus iOS.

    Melansir dari CNN pada Kamis (30/4/2026), aplikasi ini sudah tersedia untuk pengguna berusia 13 tahun keatas. Aplikasi yang hanya berukuran 5,9MB yang dikembangkan oleh Friendster Labs Inc. tersebut kini berada di nomor 52 charts social networking App Store.

    Baca Juga:

    Berbeda dari versi lamanya, Friendster kini hadir dengan pendekatan yang jauh lebih sederhana. Aplikasi ini memiliki ukuran ringan dan hanya menyediakan fitur inti seperti feed, chat, dan notifikasi.

    Tidak ada iklan maupun algoritma yang mengatur konten, sehingga pengguna hanya melihat postingan dari teman mereka tanpa campur tangan sistem rekomendasi seperti di media sosial lain.

    Perubahan paling mencolok terletak pada cara berteman. Friendster versi terbaru mengusung konsep interaksi dunia nyata, di mana pengguna harus bertemu secara fisik dan “mengetuk” ponsel satu sama lain untuk menambahkan teman.

    Artinya, koneksi sosial tidak bisa dilakukan hanya lewat pencarian atau permintaan pertemanan online seperti biasanya.

    Tidak hanya itu, Friendster juga menghapus fitur yang identik dengan media sosial modern, seperti jumlah followers atau popularitas akun.

    Bahkan, hubungan pertemanan bisa “melemah” jika pengguna jarang berinteraksi secara langsung di dunia nyata, menunjukkan bahwa platform ini ingin mendorong koneksi sosial yang lebih autentik.

    Kembalinya Friendster menunjukkan adanya upaya menghadirkan alternatif dari media sosial saat ini yang penuh algoritma, iklan, dan konten viral. Alih-alih mengejar engagement digital, platform ini justru mencoba mengembalikan fungsi awal media sosial sebagai sarana membangun hubungan nyata antar manusia.

    Jika tren ini berkembang, bukan tidak mungkin akan muncul gelombang baru media sosial yang lebih sederhana dan berfokus pada interaksi nyata, bukan sekadar aktivitas online.

  • WhatsApp Siapkan Cloud Sendiri untuk Backup Chat

    WhatsApp Siapkan Cloud Sendiri untuk Backup Chat

    Telko.id – WhatsApp tengah mengembangkan cara baru untuk mencadangkan chat dengan menghadirkan layanan cloud miliknya sendiri, sehingga pengguna tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Google Drive atau iCloud.

    Selama ini, pengguna Android bisa mencadangkan chat WhatsApp mereka ke Goolge Drive, sedangkan pengguna iPhone bisa mencadangkannya ke iCloud.

    Pengguna harus mengelola penyimpanannya dengan baik karena backup chat WhatsApp harus digabung dengan data dari aplikasi lainnya, sehingga cepat memenuhi kapasitas penyimpanan gratis dan sering memaksa pengguna membeli tambahan ruang.

    Hal ini bisa menyulitkan pengguna, terutama jika mereka sudah mencapai batas penyimpanan gratis dan tidak ingin membeli lebih banyak ruang penyimpanan. Untungnya,

    WhatsApp sedang menjajaki sistem penyimpanan independen sehingga pengguna tidak perlu mengandalkan Google Drive atau iCloud lagi.

    Baca Juga:

    Fitur ini dirancang untuk membantu pengguna menghemat ruang penyimpanan di layanan cloud pihak ketiga yang selama ini digunakan untuk backup chat.

    Dengan solusi baru ini, WhatsApp ingin memberikan alternatif yang lebih fleksibel dan mandiri.

    Melansir dari WABetaInfo, WhatsApp akan memberi opsi kepada pengguna untuk memilih lokasi penyimpanan cadangan, apakah tetap menggunakan layanan lama atau beralih ke cloud internal milik WhatsApp.

    Jika memilih opsi baru ini, pengguna kabarnya akan mendapatkan penyimpanan gratis sekitar 2GB, dengan kemungkinan tersedia paket berbayar hingga 50GB untuk kebutuhan yang lebih besar dengan biaya sekitar US$0,99 per bulan.

    Opsi ini bisa bermanfaat bagi pengguna yang menyimpan banyak file foto dan video dalam jumlah besar dan merasa penyimpanan 2GB masih terlalu kecil.

    Mengutip dari GSM Arena, Kamis (30/4/2026), pengguna yang memilih mencadangkan datanya di penyimpanan cloud WhatsApp wajib memasang kunci enkripsi end-to-end untuk menjaga keamanannya.

    Pengguna bisa memilih antara tiga metode penguncian yaitu passkey, password tradisional, atau kunci enkripsi 64-digit.

    Fitur ini berpotensi menjadi solusi praktis, terutama bagi yang sering kehabisan ruang Google Drive atau iCloud.

    Dengan adanya opsi penyimpanan mandiri, proses backup chat bisa menjadi lebih ringan dan tidak lagi membebani kuota cloud utama. Namun untuk saat ini, fitur tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum diketahui kapan akan dirilis secara luas.

  • IndoTelko Forum 2026: AI dan 5G Jadi Tulang Punggung Digitalisasi

    IndoTelko Forum 2026: AI dan 5G Jadi Tulang Punggung Digitalisasi

    Telko.id – IndoTelko Group kembali menggelar IndoTelko Forum di Jakarta pada Rabu (29/4/2026).

    Mengusung tema peran 5G dan AI dalam mempercepat ekonomi digital Indonesia, forum ini menegaskan bahwa sinergi kedua teknologi tersebut telah menjadi fasilitator utama untuk memperkuat daya saing nasional.

    Transformasi digital Indonesia memasuki fase krusial. Kemajuan pesat di bidang 5G dan AI mendorong percepatan digitalisasi di berbagai sektor.

    Hal ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Dalam konteks ini, 5G berperan sebagai infrastruktur kunci dengan konektivitas ultra-cepat, latensi rendah, dan kapasitas besar.

    Co-founder Indotelko Group, Setia Gunawan, menekankan urgensi kolaborasi multistakeholder. “Permintaan terhadap AI meningkat sangat cepat, dan tanpa dukungan Layanan 5G yang kuat, Indonesia berisiko tertinggal dalam memanfaatkan peluang ini. Melalui IndoTelko Forum, kami membuka dialog multistakeholder untuk menyatukan langkah dalam menjawab tantangan dan memaksimalkan peluang 5G, sehingga Indonesia dapat meraih manfaat optimal dan mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045,” kata Setia.

    Peran Strategis 5G dan AI

    Survei Ericsson ConsumerLab menunjukkan bahwa meningkatnya adopsi AI turut mendorong kebutuhan akan jaringan yang andal. Hal ini menempatkan 5G dalam dua peran strategis: mengakomodasi lonjakan volume data dan kebutuhan uplink, serta menjadi infrastruktur kritikal nasional. Integrasi 5G dan AI membuka peluang inovasi di sektor industri, kesehatan, pendidikan, dan layanan publik.

    Direktur Jenderal Infrastruktur Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital, Wayan Toni Supriyanto, menegaskan transformasi digital merupakan pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

    “Transformasi digital juga membutuhkan kerangka kebijakan dan regulasi yang adaptif. Pemerintah berkomitmen menghadirkan kebijakan yang tidak hanya menjaga tata kelola, tapi juga mendorong inovasi dan investasi. Arah kebijakan Komdigi mencakup percepatan pengembangan teknologi melalui optimalisasi spektrum, penyusunan tata kelola yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, penguatan perlindungan data pribadi, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif bagi pembangunan infrastruktur digital,” jelas Wayan.

    Content image for article: IndoTelko Forum 2026: AI dan 5G Jadi Tulang Punggung Digitalisasi

    President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menambahkan, “5G akan menjadi fondasi digital yang krusial bagi terwujudnya visi Indonesia Emas 2045, sekaligus infrastruktur strategis yang memungkinkan teknologi AI berkembang dalam skala besar. Di Indonesia, 5G diproyeksikan berkontribusi hingga US$41 miliar terhadap PDB nasional pada periode 2024 hingga 2030 melalui berbagai inovasi yang lahir dari platform ini. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, mempercepat penggelaran jaringan 5G Standalone (SA) menjadi langkah penting untuk mendukung lonjakan penggunaan data seluler dan muatan kerja AI yang terus bertumbuh pada berbagai sektor industri.”

    Percepatan Jaringan 5G Jadi Keharusan Strategis

    Diskusi IndoTelko Forum 2026 menegaskan bahwa percepatan penggelaran jaringan 5G saat ini sudah menjadi keharusan strategis. Langkah ini penting untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam revolusi AI global.

    Infrastruktur 5G yang cerdas, aman, dan tangguh akan menjadi pilar utama yang memungkinkan skalabilitas inovasi di berbagai sektor industri.

    Forum ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, operator, dan penyedia teknologi. Fondasi Digital yang kuat diperlukan agar Indonesia dapat meraih manfaat optimal dari era digital. Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

    Dengan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, integrasi AI dan 5G diyakini mampu menjadi tulang punggung digitalisasi Indonesia.

    Forum ini menjadi bukti nyata bahwa dialog dan kolaborasi adalah kunci untuk menjawab tantangan dan memaksimalkan peluang di era transformasi digital. (Icha)

  • Spyware Baru Intai Pengguna WhatsApp, Bajak Akun Diam-Diam

    Spyware Baru Intai Pengguna WhatsApp, Bajak Akun Diam-Diam

    Telko.id – Pengguna WhatsApp diminta waspada terhadap kemunculan spyware baru bernama Morpheus yang mampu membajak akun secara diam-diam.

    Peneliti keamanan siber menemukan kampanye spyware baru yang dapat memanfaatkan update aplikasi Android palsu untuk menanamkan software mata-mata di perangkat target.

    Morpheus ini disebut sebagai spyware ‘murah’ karena mengandalkan mekanisme infeksi yang sangat sederhana, yaitu dengan memperdaya target agar menginstal spyware sendiri tanpa memancing kecurigaan.

    Mengutip dari TechCrunch, Rabu (29/4/2026), dalam kasus spyware Morpheus, peneliti mengatakan otoritas Italia mendapatkan bantuan dari operator seluler target, yang dengan sengaja memblokir koneksi internet di perangkat target.

    Setelah itu, operator akan mengirimkan SMS kepada target yang isinya menyuruh calon korban untuk menginstal sebuah aplikasi yang diklaim dapat memperbarui ponsel dan menyelesaikan masalah konektivitas.

    Begitu selesai diinstal, spyware akan menyalahgunakan fitur aksesibilitas di perangkat Android, sehingga spyware ini dapat membaca data yang ditampilkan di layar ponsel sekaligus berinteraksi dengan aplikasi lainnya.

    Spyware ini dirancang untuk mengakses semua jenis informasi yang ada di perangkat.

    Baca Juga:


    Spyware ini kemudian melakukan pembaruan palsu, menampilkan layar reboot di ponsel, serta memalsukan halaman login WhatsApp dan meminta target untuk memberikan data biometriknya untuk membuktikan identitasnya.

    Tanpa sepengetahuan target, data biometrik tersebut memberikan spyware akses penuh ke akun WhatsApp dengan menambahkan perangkat ke akun tersebut.

    Yang membuatnya berbahaya, Morpheus tidak hanya mencuri password, tetapi juga bisa memanfaatkan data biometrik atau proses verifikasi untuk menambahkan perangkat baru ke akun korban. Dengan cara ini, pelaku bisa mendapatkan akses penuh ke akun WhatsApp tanpa disadari pengguna.

    Langkah pencegahan paling penting adalah tidak sembarangan mengunduh aplikasi atau update di luar sumber resmi, serta selalu memastikan pembaruan hanya dilakukan melalui Play Store atau App Store. Selain itu, mengaktifkan verifikasi dua langkah juga dapat membantu melindungi akun dari akses ilegal.

    Kasus ini menunjukkan tren baru dalam dunia keamanan siber: serangan tidak selalu datang dari celah teknologi, tetapi justru dari kelengahan pengguna.

    Bahkan aplikasi dengan sistem keamanan tinggi seperti WhatsApp tetap bisa disusupi jika pengguna tertipu oleh aplikasi palsu.

  • Diblokir Pemerintah China, Meta Gagal Akuisisi Startup AI Manus

    Diblokir Pemerintah China, Meta Gagal Akuisisi Startup AI Manus

    Telko.id – Ambisi Meta Platforms untuk memperkuat posisinya di bidang kecerdasan buatan mengalami hambatan besar setelah pemerintah China memblokir akuisisi startup AI Manus AI senilai sekitar US$ 2 miliar.

    Keputusan ini diambil oleh regulator China yang menilai transaksi tersebut tidak sesuai dengan aturan investasi asing di sektor teknologi strategis.

    Meta mengumumkan akuisisi Manus pada Desember 2025. Namun, Komisi Pengembangan dan Reformasi Nasional China (NDRC) baru saja memerintahkan agar akuisisi tersebut dibatalkan.

    Dalam sebuah pernyataan resmi, badan perencanaan ekonomi China mengatakan keputusan untuk melarang investasi asing di Manus dibuat sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, dan meminta semua pihak yang terlibat untuk membatalkan transaksi akuisisi.

    Meta ingin memanfaatkan teknologi Manus untuk memperkuat pengembangan AI agent, yaitu sistem AI yang mampu menjalankan tugas kompleks secara mandiri seperti riset, coding, hingga analisis data.

    Baca Juga:

    Namun, meskipun Manus telah memindahkan basis operasinya ke Singapura, pemerintah China tetap menganggap perusahaan tersebut sebagai bagian dari ekosistem teknologi domestik yang perlu dilindungi.

    Pemblokiran ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan teknologi antara China dan Amerika Serikat. Kedua negara sama-sama memperketat aturan terkait investasi dan transfer teknologi, terutama di bidang AI yang kini dianggap sebagai sektor strategis.

    China sendiri berupaya mencegah teknologi dan talenta AI lokal berpindah ke perusahaan asing, sementara AS juga membatasi investasi ke perusahaan AI China.

    Kasus ini juga menyoroti praktik yang dikenal sebagai “Singapore-washing”, di mana perusahaan asal China memindahkan kantor pusat ke negara lain untuk menghindari regulasi ketat dan menghindari perhatian dari pemerintah China dan AS.

    Namun langkah tersebut ternyata tidak sepenuhnya efektif, karena regulator China tetap bisa melakukan intervensi jika teknologi atau sumber daya manusia perusahaan dianggap berasal dari dalam negeri.

    Mengutip dari CNBC, Rabu (29/4/2026), Manus sendiri didirikan di China sebelum pindah ke Singapura. Startup ini mengembangkan agen AI yang dapat menyelesaikan tugas rumit seperti riset pasar, coding, dan analisis data.

    Ketika Meta mengakuisisi Manus tahun lalu, perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini mengatakan upaya ini merupakan bagian dari langkahnya untuk mempercepat inovasi AI untuk bisnis dan mengintegrasikan otomatisasi di produknya, termasuk Meta AI.

    Namun pada bulan Januari, Kementerian Perdagangan China mengatakan keputusan untuk mereka akan menyelidiki apakah akuisisi tersebut sudah sesuai dengan undang-undang dan regulasi terkait kontrol ekspor, ekspor dan impor teknologi, serta investasi luar negeri.

    Ke depan, situasi seperti ini berpotensi membuat kolaborasi internasional di bidang AI menjadi lebih rumit. Perusahaan teknologi kemungkinan harus lebih berhati-hati dalam melakukan akuisisi atau investasi, terutama jika melibatkan teknologi yang dianggap sensitif oleh pemerintah suatu negara.

  • OpenSignal: Peta Pasar Broadband Indonesia, Siapa Terbaik?

    OpenSignal: Peta Pasar Broadband Indonesia, Siapa Terbaik?

    Telko.id – Laporan terbaru OpenSignal mengungkap peta persaingan layanan broadband tetap di Indonesia.

    Meski Telkomsel melalui IndiHome masih mendominasi, sejumlah operator mulai menunjukkan taringnya dengan menawarkan layanan berbasis serat optik dan teknologi baru.

    Laporan yang menganalisis data pengguna selama 90 hari sejak 1 Januari 2026 ini membandingkan delapan penyedia layanan internet (ISP) fixed-line utama.

    Mereka adalah Biznet Home, CBN, Icon Plus, IndiHome, Indosat HiFi, MyRepublic, Oxygen.id, dan XL Home. Analisis mencakup lima indikator utama: Konsistensi Kualitas, kecepatan Unduh, kecepatan Unggah, Pengalaman Video, dan Pengalaman Keandalan.

    “Pasar broadband tetap di Indonesia masih sangat terkonsentrasi, dengan Telkomsel sebagai operator incumbent yang menguasai sebagian besar koneksi broadband tetap,” tulis OpenSignal dalam laporannya.

    Melalui merek IndiHome dan Orbit, Telkomsel mempertahankan jangkauan wilayah dan cakupan populasi terluas.

    Namun, penyedia layanan yang lebih kecil terus berkembang. Penetrasi broadband di Indonesia perlahan meningkat, mencapai hampir 25% per Desember 2025.

    Artinya, masih ada ruang signifikan untuk ekspansi. Pasar juga bergeser cepat ke arah serat optik, yang kini mencakup lebih dari 90% koneksi broadband tetap. Sementara itu, xDSL dan kabel terus kehilangan pangsa pasar.

    Keterjangkauan dan aksesibilitas masih menjadi hambatan utama. Hal ini mendorong inisiatif dari sektor publik dan swasta untuk memperluas jangkauan.

    Salah satu contohnya adalah Internet untuk Rakyat, yang menyediakan layanan 100 Mbps dengan biaya terjangkau.

    Surge dan MyRepublic, yang berhasil memperoleh lisensi regional di frekuensi 1,4 GHz, kini bersiap meluncurkan layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA).

    Surge telah meluncurkan layanannya dengan kecepatan hingga 100 Mbps seharga Rp100.000 per bulan, termasuk kuota data tak terbatas dan modem gratis.

    MyRepublic juga meluncurkan layanan 5G FWA-nya dengan merek MyRepublic Air, dimulai dari Jakarta dan menargetkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara.

    Seiring rencana peluncuran 5G FWA dan merger dengan Moratelindo yang memiliki merek Oxygen.id, MyRepublic berupaya mempercepat ekspansi nasional.

    Sementara itu, Telkomsel berencana mengkonsolidasikan aset serat optik milik BUMN, termasuk Icon Plus, untuk memperkuat InfraNexia sebagai pusat bisnis infrastruktur serat optik.

    Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan masih menjadi kendala penyebaran jaringan broadband kabel tetap, terutama di pedesaan.

    Hal ini membuka peluang bagi teknologi alternatif. Penyedia layanan satelit seperti Starlink semakin populer, menarik pengguna di daerah pedesaan dan perkotaan.

    Lintasarta, anak perusahaan Indosat Ooredoo Hutchison, melaporkan pertumbuhan lebih dari lima kali lipat dalam implementasi Starlink pada 2025.

    OpenSignal mengukur pengalaman nyata pengguna broadband kabel, terlepas dari paket yang dibeli. Karakteristik paket seperti tingkatan kecepatan atau batas data sangat bervariasi antar penyedia. Pengukuran ini menangkap pengalaman dunia nyata, termasuk pengaruh router yang digunakan.

    Laporan ini memberikan gambaran jelas tentang peta persaingan broadband di Indonesia. Dengan penetrasi yang masih rendah dan pergeseran ke serat optik, persaingan diprediksi akan semakin ketat. Kehadiran Starlink Diserbu pengguna menambah dinamika baru di pasar.

    Sementara itu, inisiatif pemerintah seperti Peta Jalan IPv6 diharapkan dapat mendukung perkembangan infrastruktur digital nasional. Di sisi lain, pertumbuhan pasar IoT yang mencapai Rp673 triliun juga menjadi pendorong investasi di sektor konektivitas.

    Para pengamat menilai, keberhasilan operator kecil seperti Surge dan MyRepublic dalam mengadopsi teknologi 5G FWA bisa menjadi game changer. Mereka menawarkan alternatif yang lebih murah dan mudah diakses dibandingkan jaringan kabel tradisional. Hal ini penting untuk menjangkau wilayah yang selama ini sulit dilayani oleh operator besar.

    Dengan segala dinamika ini, konsumen Indonesia diuntungkan dengan semakin banyaknya pilihan layanan broadband berkualitas. Persaingan harga dan inovasi layanan diprediksi akan terus berlanjut, seiring dengan upaya semua pihak untuk meningkatkan penetrasi internet di tanah air. (Icha)