Telko.id – Proyek Satelit SATRIA atau Satelit Republik Indonesia adalah salah satu cara pemerintah untuk memenuhi kebutuhan konektivitas digita di Indonesia. HSBC sebagai bagian pun menjadikan proyek ini sebagai program strategis nya.
Hal ini diungkapkan oleh Riko Tasmaya. Managing Director and Head of Global Banking HSBC. “Proyek Satelit SATRIA ini menjadi salah satu program strategis HSBC karena secara global pun kami fokus pada infrastruktur. Apalagi ini proyek yang memiliki dampak yang luar biasa bagi Indonesia dan juga memiliki sosial financing,” ungkap nya menjelaskan.
François de Maricourt, President Director PT Bank HSBC Indonesia menjelaskan, “Permintaan terhadap integrasi data akan terus meningkat selama pandemi dan kedepannya. Untuk itu, melalui dukungan jaringan global serta keahlian HSBC dalam strukturisasi pembiayaan, kami berkomitmen untuk membantu membuka akses bagi sekolah, fasilitas publik serta masyarakat di daerah tertinggal untuk bisa terhubung dan tumbuh, khususnya melalui SATRIA, yang kami yakini akan berperan penting dalam memperkuat konektivitas digital Indonesia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Infrastruktur Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Bambang Noegroho, François de Maricourt, President Director PT Bank HSBC Indonesia, Adi Rahman Adiwoso, President Director, PT Pasifik Satelit Nusantara, Riko Tasmaya. Managing Director and Head of Global Banking HSBC.
Dalam proyek satelit SATRIA ini merupakan satelit multifungsi nasional pertama yang diselenggarakan melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Dan, HSBC memanfaatkan jaringan globalnya dalam menghadirkan solusi perbankan yang terintegrasi untuk mendukung kesuksesan proyek satelit SATRIA, termasuk advisory, arranging, hedging, trade finance, dan layanan account & agency.
Sebagai satu-satunya Financial Advisor dan Sole Social Structuring Bank untuk proyek SATRIA, HSBC memimpin strukturisasi pembiayaan multi-tranche yang terdiri dari kredit dengan jaminan BPIfrance yang dibiayai oleh HSBC, Santander dan Korea Development Bank, serta kredit komersial tanpa jaminan yang dibiayai oleh Asian Infrastructure Investment Bank dan Korea Development Bank.
Adapun capital expenditure proyek ini sebesar USD 545 juta atau setara dengan Rp 7,68 triliun, yang terdiri dari porsi ekuitas sebesar USD 114 juta atau setara Rp1,61 triliun dan porsi pinjaman sebesar USD 431 juta atau sekitar Rp 6,07 triliun.
Pinjaman ini didanai oleh sindikasi BPI France dan didukung oleh Banco Santander, HSBC Continental Europe, dan The Korea Development Bank (KDB). Porsi pinjaman komersial didanai oleh KDB dan bersama dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Melalui proses tender yang sangat kompetitif, Konsorsium Pasifik Satelit Nusantara (PSN) telah ditunjuk untuk membangun, memiliki, dan mengoperasikan satelit broadband dalam proyek satelit SATRIA.
“Di era digital saat ini, penguatan dan perluasan konektivitas digital akan sangat meningkatkan akses pendidikan serta pelayanan kesehatan yang berkualitas, sekaligus menurunkan tingkat kesenjangan ekonomi dan infrastruktur, yang menjadi bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia.
Dengan adanya proyek SATRIA, kami berharap PSN dapat membantu ribuan sekolah serta fasilitas pelayanan publik, juga membuka akses internet yang setara bagi jutaan masyarakat dari Sabang hingga Merauke,” jelas Adi Rahman Adiwoso, President Director, PT Pasifik Satelit Nusantara.
Rencananya proyek Satelit SATRIA ini nantinya akan digunakan oleh pemerintah melalui BAKTI Kominfo untuk memberikan fasilitas internet pada 150.000 titik layanan publik tersebut terdiri dari 3.700 fasilitas kesehatan, 93.900 sekolah/pesantren, 47.900 kantor desa/kelurahan, dan 4.500 titik layanan publik lainnya.
Total keseluruhan dari kapasitas transmisi satelit sebesar 150 Gbps, maka setiap titik akan mendapatkan kapasitas dengan kecepatan sebesar 1 Mbp.
Satelit Satria-1 ini berjenis High Throughput Satellite (HTS) akan diproduksi perancang dan pabrikan asal Prancis, Thales Alenia Space. Adapun, peluncurannya, satelit Satria-1 akan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX diterbangkan di Cape Canaveral, Florida, AS, pada 2023 mendatang. (Icha)
Telko.id – BAKTI Kominfo dan operator seluler bagi-bagi tugas untuk bisa menyediakan konektivitas internet dan telekomunikasi di area 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal). Kolaborasi ini sangat diperlukan karena Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) membangun jaringan belum sampai melayani masyarakat langsung. Perlu bantuan operator selular.
Semua itu dilakukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan layanan yang berkualitas, terjangkau, dan terjamin keberlangsungannya. BAKTI Kominfo juga harus memastikan tidak ada satupun yang tertinggal ketika proses transformasi digital berjalan di Tanah Air. Dan ini merupakan salah satu langkah dari lima langkah percepatan transformasi digital yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.
Jadi tugas BAKTI Kominfo adalah menyediakan lahan untuk infrastruktur BTS 4G, kemudian membangun infrastruktur BTS 4G. Apa yang dibangun itu akan dikuasai dan dimiliki oleh Bakti Kominfo. Selanjutnya, bertugas juga untuk memelihara dan mengoperasikan BTS 4G. Selain itu juga membiayai pembangunan, pemeliharaan, dan pengoperasian BTS 4G. Terakhir adalah melakukan pengintegrasian POI BAKTI dan Operator seluler.
Operator seluler sendiri memiliki tugas untuk mengadakan infrastruktur tambahan layanan 4G, memelihara dan mengoperasikan layanan 4G, melakukan aktivitas pemasaran dan branding, menetapkan tarif layanan 4G sesuai ketentuan yang berlaku, melakukan distribusi dan penjualan layanan 4G dan membiayai seluruh aktivitas operasi dan pemeliharaan layanan 4G.
“Dengan kerjasama antara BAKTI Kominfo dan Operator seluler itu maka masyarakat juga terjamin dalam mendapatkan layanan konektivitas internet dan telekomunikasi, sehingga bisa memanfaatkannya. Baik untuk menunjang pekerjaan, melakukan pembelajaran secara jarak jauh atau kegiatan lain yang membutuhkan koneksi internet,” ujar Dhia Anugrah Febriansa, Direktur Infrastruktur BAKTI dalam Webinar Penyelenggaraan Layanan Seluler pada BTS 4G di Wilayah 3T dalam Rangka Transformasi Digital, Jumat 11 Juni 2021.
Kerjasama Bakti Kominfo dan Operator Seluler ini dilakukan dengan skema KSO (Kerjasama Operasional) dengan dasar hukumnya adalah Berdasarkan PMK 129/2020 pasal 1(42) tentang Pedoman Pengelolaan BLU yang isinya, “KSO adalah pendayagunaan aset BLU dan/atau aset milik pihak lain dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi BLU, melalui suatu kerja sama antara BLU dengan pihak lain yang dituangkan dalam perjanjian KSO”.
Ada pula persyaratan bisnis, di mana operator seluler bisa menyewa menara BTS yang telah dibangun untuk slot jaringan telekomunikasi. Mengingat model kerja sama ini dapat meringankan operator dalam pembangunan infrastruktur menara.
“Karena BAKTI selaku Badan Layanan Umum (BLU) melakukan KSO, maka yang namanya sewa dan sharing itu adalah salah satu model kerja sama bisnis yang nanti akan kami masukan sebagai satu syarat,” ujar Dhia menambahkan.
Saat ini, proses penetapan KSO ini masih berjalan. “Jadi kalau tidak meleset, jadwalnya itu di akhir bulan Juli kami mengakhiri proses seleksinya atau selambat-lambatnya di bulan Agustus, karena diharapkan di akhir 2021, sudah ada infrastruktur yang selesai dibangun sehingga bisa segera dioperasikan oleh operator untuk segera menyediakan layanan,” ujar Dhia.
Namun, selain persyaratan administrasi, ada juga persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh mitra KSO nantinya. “Jadi selain persyaratan administrasi yang tentunya di dalamnya ada persyaratan keuangan dan juga kemampuan dalam menerapkannya, juga ada persyaratan teknis, seperti core network yang mereka sediakan,” ungkap Dhia menambahkan.
Oh iya, satu lagi kerjasama yang diperlukan adalah dengan pemerintah daerah. Pasalnya, Pemda lah yang memiliki lahan. Skema nya bisa pinjam pakai lahan dengan Pemerintah Kabupaten/Kota mengacu pada Permendagri 19/2016. Atau bisa juga dengan pertimbangan khusus untuk menggunakan kawasan tertentu seperti hutan lindung, cagar alam, dan tanah adat.
Nah, dengan kerja sama yang baik antara BAKTI Kominfo dan operator seluler serta dengan pemda maka niatan pemerintah untuk bisa melayani masyarakat dengan menyediakan akses internet dan telekomunikasi tanpa kecuali bisa tercapai.
Jika target BAKTI Kominfo dalam membangun 7.904 BTS 4G di desa wilayah 3T selama kurun waktu tahun 2021—2022 ini maka wilayah 3T ini akan turut andil dalam perekonomian digital Indonesia.
Dimana, tahun 2030 nanti diharapkan dapat tumbuh 8 kali lipat dari Rp 632 triliun menjadi Rp 4.531 triliun di 2030. Dengan proyeksi tersebut, berarti ekonomi digital diperkirakan akan berkontribusi sebesar 18,87 persen dari GDP Indonesia yang senilai Rp 24.000 triliun pada 2030. (Icha)
Telko.id – HyperScale Data Center milik Telkom, saat ini hampir memasuki tahap akhir untuk campus 1 ditandai dengan Topping-off yang baru saja dilakukan oleh Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah, didampingi Direktur Network & IT Solution Telkom Herlan Wijanarko dan Direktur Wholesale & International Service Telkom Bogi Witjaksono, Rabu (9/7).
Rencananya, finalisasi pembangunan fasilitas berstandar internasional dengan sertifikasi 3 dan 4 ini akan menjadikan kapasitas pengumpulan dan pengolahan data di Indonesia semakin meningkat.
Penyelesaian pembangunan tahap pertama Telkom HDC sesuai target yang telah ditentukan sejak awal.
Dalam sambutannya di acara penutupan atap tersebut, Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah berkata bahwa pembangunan Telkom HDC menunjukkan semangat TelkomGroup untuk terus tumbuh, berinovasi, dan menjadi perusahaan terdepan dalam bisnis pusat data serta digital telco.
Setelah beroperasi nanti, Telkom HDC akan menjadi salah satu data center berkapasitas terbesar di Indonesia.
“Kehadiran Telkom HyperScale Data Center menunjukkan besarnya kapasitas Telkom untuk menjadi perusahaan digital telco terdepan di Indonesia dan dunia. Ini juga menjadi milestone penting bagi Telkom untuk menjadi pemain utama pada domain digital platform, sejalan dengan langkah transformasi dan visi Telkom menjadi digital telco”, ujar Ririek.
Ririek menambahkan, dengan fokus pada peluang untuk mencari tenant baik pemain lokal, regional, hingga internasional, pembangunan Telkom Hyperscale Data Center harus mengakselerasi bisnis platform digital sebagai enabler berbagai layanan dan solusi ICT untuk global player, dan korporasi dari berbagai sektor seperti finance & banking, government, private sector, manufacturing, content provider, dan global cloud provider.
Komplek Telkom HDC dibangun dengan konsep ECO (Evolve, Connected, & Origin). Gedung ini memiliki desain anyaman yang menyimbolkan semangat Telkom untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi, demi menciptakan pengalaman digital terbaik bagi masyarakat.
Direktur Network & IT Solution Telkom Herlan Wijanarko berkata, Telkom HDC memiliki banyak kelebihan sebagai komplek pusat data. Pertama, fasilitas ini terhubung dengan seluruh jaringan milik TelkomGroup. Ini membuat cakupan kerja pusat data ini menjadi yang terluas di Indonesia.
Kedua, Telkom HDC memiliki fasilitas penunjang berskala internasional, carrier neutral, dan multi services untuk jaringan provider lain. Hal ini memungkinkan Telkom HDC menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha di berbagai sektor seperti keuangan, manufaktur, dan penyedia layanan komputasi awan, baik domestik maupun asing.
Kehadiran Telkom Hyperscale Data Center melengkapi fasilitas pusat data yang dimiliki Telkom sekaligus semakin mengukuhkan dan mempertahankan posisinya sebagai market leader bisnis data center. Telkom telah memiliki 26 data center yang terdiri dari 5 data center internasional, 18 neuCentrIX serta 3 data center tier 3 dan 4.
Dengan adanya dukungan data center yang tersebar di banyak lokasi dan terhubung dengan jaringan broadband, maka Telkom siap dan mampu untuk mengakomodasi kebutuhan mendatang, seperti kehadiran 5G, teknologi edge blockchain dan kebutuhan masa depan lainnya. Ini tentunya menjadi competitive advantage pusat data yang dimiliki Telkom untuk bersaing di bisnis digital platform.
Posisi Telkom sebagai perusahaan terdepan yang menjalankan bisnis pusat data di Indonesia juga semakin kuat dengan selesainya pembangunan Telkom HDC. Kapasitas pusat data yang besar dan luas cakupannya memperkuat kemampuan Telkom untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan telekomunikasi dan digital masyarakat, pelaku bisnis, serta pemerintah.
Telkom HyperScale Data Center dibangun di atas lahan seluas 65 ribu meter persegi, berkapasitas total hingga 10.000 rack, dan daya listrik sekitar 75 MW. Karena mengusung konsep green data center, Telkom HDC akan menjadi pusat data yang dalam operasionalnya minim menghasilkan emisi gas karbondioksida. Hal ini terjadi karena Telkom akan memanfaatkan sejumlah pembangkit listrik tenaga gas serta solar panel untuk menjadi sumber listrik area umum dan kantor.
Sebagai catatan, komitmen TelkomGroup dalam bisnis pusat data telah terbukti sejak beberapa tahun lalu. Sejak 2015, Telkom selalu menjadi perusahaan pertama yang mendapatkan sertifikasi bertaraf international (Uptime Sertifikasi Tier 3 & Tier 4) dan Sertifikasi Uptime TCOS untuk Uptime Sertifikasi Operasional satu-satunya di Indonesia.
“Kami yakin keberadaan Telkom HyperScale Data Center dapat berdampak besar terhadap upaya meningkatkan jumlah korporasi yang go digital dan berdaya saing di era digital seperti sekarang. Hal ini juga meneguhkan posisi Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi dan penyedia layanan digital terdepan di Indonesia,” ujar Ririek menutup. (Icha)
Telko.id – Telkomsel Awards 2021, sebuah ajang puncak penghargaan yang diberikan pada insan yang telah banyak menginspirasi melalui karya dan prestasi. Penyerahan penghargaan ini akan dihadirkan oleh Telkomsel dalam rangka 26 tahun melayani Indonesia, akan diselenggarakan pada 18 Juni 2021 di ICE BSD, Tangerang Selatan.
“Telkomsel memberikan apresiasi kepada para insan yang telah banyak menginspirasi melalui karya dan prestasi dengan menghadirkan Telkomsel Awards 2021. Semoga apresiasi yang diberikan oleh Telkomsel ini dapat menjadi bara semangat yang baru bagi siapa pun agar ke depannya dapat konsisten berkontribusi memberikan hal positif bagi bangsa,” ungkap Abdullah Fahmi, Vice President Brand and Marketing Communications Telkomsel menjelaskan.
Pada ajang Telkomsel Awards 2021, operator ini akan memberikan apresiasi kepada para musisi, para pemain film yang berakting pada konten original MAXstream, dan tim e-Sports yang akan terbagi ke dalam 8 kategori nominasi untuk diberikan penghargaan.
Terdapat empat kategori nominasi untuk musik, di antaranya Favorite Song, Favorite Male Singer, Favorite Female Singer, Favorite Group/Duo. Kemudian terdapat tiga kategori nominasi untuk pemain film original MAXstream, di antaranya Favorite MAXstream Content, Favorite Male MAXstream Talent, Favorite Female MAXstream. Sementara itu, satu nominasi tersisa akan diperebutkan oleh tim e-Sports Indonesia untuk nominasi Favorite e-Sports Team.
Untuk pemilihan nominasi, seperti pada kategori musik didasarkan pada beberapa aspek penilaian, seperti kualitas, popularitas social media engagement, radio airtime, dan dampak yang dihasilkan dari karya-karya para musisi. Kemudian untuk kategori MAXstream, penilaiannya dilakukan melalui Lembaga Survei Saiful Mujani Research & Consulting dengan mengambil sample dan menganalisis data pelanggan MAXstream di beberapa kota besar di Indonesia.
Nantinya para pemenang yang berhak mendapatkan apresiasi tertinggi dari Telkomsel ini dipilih langsung oleh masyarakat melalui mekanisme vote yang dibuka pada 11 Juni 2021 dan akan ditutup pada 18 Juni 2021. Vote dilakukan melalui media sosial dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Telkomsel.
Malam kemeriahan Telkomsel Awards 2021 akan ditayangkan live secara eksklusif di aplikasi MAXstream dan channel YouTube Telkomsel pada 18 Juni 2021, pukul 19.00 WIB.
“Telkomsel berharap, ajang Telkomsel Awards 2021 ini bisa menjadi salah satu kegiatan yang dapat membuka peluang lebih luas bagi talenta kreatif di seluruh Indonesia untuk dapat lebih produktif ke depannya,” sahut Fahmi menambahkan.
Ia pun berharap pesan utama yang ingin disampaikan melalui Telkomsel Awards 2021 dapat diterima dan dirasakan dengan baik oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahwa Telkomsel akan selalu hadir bagi siapa pun yang ingin terus bergerak maju melalui karya-karya yang dapat menginspirasi dan khususnya memberikan impact secara luas bagi kemajuan bangsa. (Icha)
Telko.id – Ini rahasia XL Satu Fiber, layanan konvergensi selular dan fiber yang baru saja diluncurkan oleh XL Axiata. Layanan seperti ini belum ada yang melakukannya di Indonesia walaupun sebenarnya bisa. Lalu kenapa operator ini berani melakukannya?
Menurut Lead of Product XL Home, Roy Wisnu Wibowo, sebenarnya layanan konvergensi di Indonesia telah dilakukan di beberapa industry. Seperti di industri telekomunikasi, industri TI, dan industri media. “Dan banyak sekali hal-hal yang mendorong konvergensi, seperti dorongan pasar, teknologi, dan ekonomi,” kata Lead of Product XL Home, Roy Wisnu Wibowo dalam acara yang dilaksanakan secara daring, Selasa (8/6).
Saat melakukan Konvergensi, Roy mengungkapkan rahasia XL Satu Fiber yang dilakukan XL ini. Ia mengatakan bahwa akan ada keuntungan yang didapat, baik dari pihak konsumen dan juga dari provider. Dan ternyata, cukup banyak keunggulannya.
“Kalau kita lihat dari industri secara umum, benefitnya hampir sama. Dari sisi customer adalah adanya kemudahan dalam penggunaan dan pembayaran, lalu value for money, serta kebebasan dan fleksibilitas dalam memilih apa yang mereka inginkan,” paparnya.
“Dan dari sisi provider kita mendapatkan efisiensi teknologi, lebih mudah melacak subscriber management, lebih banyak engagement dengan para pengguna, dapat membuat regulasi yang lebih baik, dan memiliki privasi yang lebih baik,” lanjutnya.
Itu sebabnya, operator ini pun menggabungkan XL Home dan XL Prabayar menjadi XL Satu Fiber. Pengguna akan tetap mendapatkan harga yang kompetitif dengan pilihan paket yang lebih baik.
Sebagai informasi, XL Axiata sendiri sangat agresif dalam membangun fiber optic. Pada tahun 2021, XL Axiata menargetkan dapat melakukan fiberisasi pada 9.000 sites atau menara telekomunikasinya. Diakhir tahun 2020, XL Axiata telah melakukan fiberisasi pada 10.500 sites yang tersebar di seluruh Indonesia. Secara total akan ada sekitar 19.000 sites yang telah terfiberisasi pada tahun 2021.
Selain untuk mempersiapkan untuk layanan 5G, fiberisasi ini juga memberikan manfaat lain bagi XL Axiata, yakni dapat melayani pelanggan di perumahan melalui XL Home. Dan, selain itu juga dapat memberikan layanan konvergensi seperti XL Satu Fiber ini. Dengan demikian operator ini menjadi lebih efisien dalam mengelola teknologi yang dimilikinya.
Namun, untuk memberikan layanan konvergensi tersebut, XL bukan hanya bangun fiber optic saja, untuk menelurkan layanan XL Satu Fiber ini, XL juga melakukan penyesuaian billing system, Micro Service, sampai support system lainnya.
Bahkan untuk memperkuat layanan XL Satu Fiber ini, XL Axiata pun berkolaborasi dengan perusahaan penyedia jaringan fiber optic FiberStar. Dan saat ini penetrasi nya sudah 36% di jaringan sendiri atau 17-18% secara over all –jaringan sendiri maupun mitra sehingga peluang untuk terus menggenjot layanan ini pun sangat besar.
XL pun optimis, layanan ini bakal diserap pasar dengan baik karena baru beberapa minggu saja, penambahan pelanggan XL Satu Fiber lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan XL Home pada hari biasa. Bisa mencapai 14.1%.
Walaupun, XL sudah memiliki jaringan fiber optic dibanyak daerah, tetapi untuk XL Satu Fiber baru dapat dirasakan oleh masyarakat yang berada di wilayah Jabodetabek, Yogyakarta, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Banjarmasin, Banjarbaru, Medan, Palembang, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. (Icha)
Telko.id – SheHacks 2021, baru saja diluncurkan oleh Indosat Ooredoo. Program strategi berkelanjutan atau CSR ini diperuntukan bagi para perempuan Indonesia dalam menggunakan untuk menjawab tantangan ketidaksetaraan gender.
SheHacks 2021 diluncurkan pada acara yang diselenggarakan oleh Indosat Ooredoo dan dihadiri oleh pemimpin wanita terkemuka: Tri Rismaharini, Menteri Sosial Republik Indonesia; Angkie Yudistia, Staf Ahli Milenial Presiden Republik Indonesia; H.E. Fawziya E. Al-Sulaiti, Duta Besar Negara Qatar untuk Republik Indonesia; dan Dwi Faiz, Kepala Program UN Women Indonesia.
“Dalam dekade terakhir, kehidupan perempuan Indonesia telah meningkat secara signifikan, tetapi masih ada ketidaksetaraan gender yang signifikan dalam banyak aspek kehidupan. Pemberdayaan perempuan dengan meningkatkan kapasitas ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital telah lama menjadi prioritas Indosat Ooredoo,” ujar Ahmad Al-Neama, President Director & CEO Indosat Ooredoo mengungkapkan alasan digelarnya program SheHacks 2021 ini.
SheHacks sendiri sudah dilakukan oleh Indosat Ooredoo sejak tahun 2020 dan kini diperluas lagi dengan memberikan bimbingan dan pelatihan kepada perempuan Indonesia untuk mengembangkan solusi digital dalam mengatasi beberapa permasalahan nyata yang mereka hadapi.
Indosat Ooredoo melihat peluang besar yang belum dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan gender melalui kekuatan teknologi. Diinisiasi pada tahun 2020, SheHacks bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan inovasi di kalangan perempuan Indonesia sehingga mereka dapat meretas masalah mereka menjadi terobosan kreatif untuk menjawab tantangan sosial dan ekonomi yang mereka hadapi saat ini.
Dalam acara peluncuran H.E. Fawziya E. Al-Sulaiti, Duta Besar Negara Qatar untuk Republik Indonesia, menggarisbawahi kuatnya hubungan kedua negara; Negara Qatar dan Republik Indonesia, yang telah melahirkan potensi-potensi yang luar biasa dan peluang-peluang besar seperti ini.
“SheHacks adalah program inovatif yang dapat membantu wanita untuk mempertajam keterampilan mereka dan memperbesar kapasitas mereka.” Ibu H.E Al-Sulaiti menambahkan, “Saya berharap program ini dapat memberdayakan lebih banyak perempuan Indonesia di masa depan karena perempuan perlu mendidik diri mereka sendiri dalam konsep dan teknologi baru.”
SheHacks tahun ini akan fokus mengatasi ketidaksetaraan di tiga bidang utama: ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Secara khusus, program ini bertujuan untuk: meningkatkan kontribusi ekonomi perempuan dengan menumbuhkan kewirausahaan; meningkatkan akses perempuan ke pendidikan, dan: meningkatkan akses perempuan ke layanan kesehatan.
SheHacks 2021 bertujuan untuk menjangkau lebih dari seribu perempuan Indonesia sebagai peserta dan melibatkan berbagai komunitas pemberdayaan perempuan lainnya di seluruh Indonesia.
“Melalui program berkelanjutan ini, Indosat Ooredoo akan terus membantu lulusan SheHacks dalam mengubah inovasi mereka menjadi solusi nyata, bekerja sama dengan Pemerintah dan organisasi global seperti UNDP, UN Women, dan GSMA Connected Women. Kami berharap SheHacks menjadi titik awal untuk mengurangi kesenjangan gender dan terus menciptakan dampak yang lebih besar untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia,” tutup Ahmad.
Untuk mengikuti SheHacks 2021, peserta dapat mendaftar dan mengirimkan proposal program mereka mulai 9 Juni hingga 9 Juli 2021. Semua perempuan Indonesia di bawah 40 tahun diperbolehkan mengikuti kompetisi dalam tim yang terdiri dari maksimal 3 anggota. Finalis terpilih akan diberikan keistimewaan untuk mendapatkan pendampingan yang lebih mendalam dan pemenang akan diumumkan pada Agustus 2021.
Terakhir, para pemenang akan melalui buddy program selama 4 bulan di mana mereka akan terhubung dengan pemangku kepentingan yang tepat untuk mengaktualisasikan solusi mereka. Untuk mendaftar dan informasi lengkap SheHacks 2021 dapat diakses di https://shehacks.id/.
Mengatasi ketidaksetaraan gender di Indonesia
Kehidupan perempuan Indonesia saat ini telah meningkat dibandingkan sebelumnya. Semakin banyak perempuan mengambil peran penting di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Namun, masih banyak tantangan ketidaksetaraan gender yang dihadapi perempuan Indonesia, terutama di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Hingga saat ini, perempuan Indonesia masih mengalami tantangan ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan laki-laki. Sebuah studi yang diterbitkan baru-baru ini oleh World Economic Forum menunjukkan bahwa hanya 56% perempuan Indonesia yang berpartisipasi dalam angkatan kerja dibandingkan dengan 84,1% laki-laki.
Seiring dengan kesenjangan tingkat partisipasi angkatan kerja, juga terjadi kesenjangan upah yang signifikan antara keduanya hingga 22%. Global Gender Gap Report 2021 juga menempatkan Indonesia di peringkat ke-99 dari 156 negara dalam hal partisipasi dan peluang ekonomi – sebuah penurunan signifikan dari tahun 2020, di mana Indonesia berada di peringkat ke-85 dari 153 negara.
Selanjutnya, kesetaraan gender merupakan faktor penting dalam mencapai pertumbuhan sosial, politik, dan ekonomi yang berkelanjutan, mengingat hampir 50% penduduk Indonesia adalah perempuan.
Hal ini juga merupakan komitmen yang disepakati oleh negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals (UN SDGs) nomor 5, yaitu ‘Achieving gender equality and empowerment all women and girls’. (Icha)
Telko.id – Kabel Laut Biak-Jayapura Putus, sudah terjadi sejak tanggal 30 April 2021 lalu. Tepat nya pada pukul 19.40 WIB atau pukul 21.40 WIT. Sampai saat ini, pemulihan terhadap gangguan itu terus dilakukan oleh Telkom agar bisa pulih seperti sediakala. Namun, saat ini pun, jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut tidak Black Out Total.
Memang diakui oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate bahwa putusnya kabel laut tersebut berdampak pada total trafik dari normal sistem komunikasi di seluruh Papua sekitar 154 Gbps dari total traffic di Papua sebesar 464 Gbps, atau yang terdampak hanya sepertiga dari total traffic.
“Saya perlu tekankan ini karena ada kesan seolah-olah putusnya kabel tersebut mengakibatkan total black out di Papua, tidak betul. Yang betul terdampak pada 154 dari total 464 Gbps,” tegasnya dalam Konferensi Pers di Ruang Media Center Kantor Kementerian Kominfo, Senin, Jakarta (07/06/2021).
Johnny menjelaskan area atau daerah yang terdampak gangguan di Papua berada pada 4 titik. “Yaitu Kota Jayapura, Abepura, Sentani, dan Sarmi. Bukan di seluruh Papua,” tandasnya.
Gangguang tersebut terjadi karena faktor utama nya adalah faktor alam. Tepatnya pada posisi 280 kilometer dari kota Biak dengan kedalaman 4.050 meter di bawah permukaan laut (Mdpl). Hal ini pun diakui oleh Johnny bahwa bukan yang pertama kali. Putusnya Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) diwilayah ini sudah terjadi lima kali.
“Empat kejadian sebelumnya diakibatkan oleh faktor alam, dan satu akibat dari alat bantu penangkapan ikan. Sehingga, dapat kami simpulkan sementara sebelum nanti keputusan atau evaluasi akhir disampaikan kepada media, yaitu potensi diakibatkan oleh faktor alam,” ungkap Johnny.
Siapkan untuk PON Papua
Guna mengatasi dan menanggulangi kejadian tersebut, Menteri Johnny menegaskan Kementerian Kominfo telah melakukan koordinasi secara terus menerus dengan Telkom dalam upaya penanganan dan pemulihan jaringan di wilayah terdampak.
“Berdasarkan informasi yang kami peroleh, kapasitas backup yang tersedia seluruhnya sebesar 4,7 Gbps. Sekali lagi, yang terdampak 154 kapasitas backup seluruhnya 4,7 Gbps,” tandasnya.
Adapun kapasitas 4,7 Gbps itu ditunjang dari pemanfaatan link satelit sebesar 2.662 Mbps, radio long haul Palapa Ring Timur 500 Mbps atau setengah Gbps, dan radio long haul Sarmi-Biak 1,6 Mbps atau 1,6 Gbps. Sedangkan untuk mengamankan kualitas link pada saat proses penyambungan, PT Telkom juga menyediakan backup link, khususnya untuk wilayah Manokwari dan Biak sebesar 40 Gbps melalui Palapa Ring Timur.
“Dengan demikian, harusnya kita pahami bahwa gangguan akibat terputusnya fiber optik itu 154 Gbps dan tersedia hanya 4,7 standby atau backup kapasitas. Sehingga belum memungkinkan pemulihan menyeluruh layanan telekomunikasi di wilayah 4 titik tersebut tekanannya di dasar laut,” jelas Johnny.
Ia menambahkan bahwa untuk menanggulangi dan mengatasi gangguan telekomunikasi di kawasan itu, membutuhkan peralatan khusus yaitu penggelaran kabel melalui kapal.
“Sementara Indonesia hanya memiliki 4 kapal yang memungkinkan mampu melakukan penggelaran kabel bawah laut. Dua diantaranya tidak berfungsi, satu sedang melakukan overhaul dan maintenance, dan hanya tersisa satu kapal, dan saat ini satu kapal itulah yang digunakan oleh Telkom untuk menggelar, mengangkat kabel yang terputus, dan menyambung kabelnya, dilakukan di wilayah timur ke arah barat,” tuturnya.
Johnny berharap pemulihan layanan atau selesainya penyambungan kabel bawah laut itu dapat dilakukan secepatnya. Meskipun pada awal bulan Mei lalu, Kementerian Kominfo telah menyampaikan perkiraan sekitar minggu pertama bulan Mei.
“Semalam saya dapat kabar dari Telkom yang mengatakan bahwa, seharusnya semalam sudah bisa diselesaikan. Namun, lagi-lagi terjadi cuaca yang buruk di laut di sekitar wilayah terputusnya kabel. Sehingga, operasi pemulihannya masih membutuhkan waktu,” jelasnya.
Oleh karena itu, Johnny berharap Telkom dapat menyelesaikan persoalan tersebut paling lambat dalam kurun waktu satu minggu kedepan. “Setidaknya di bulan ini pemulihan operasi ke kapasitas semula bisa dilakukan,” harapnya.
Walau demikian, Telkom Indonesia sebetulnya telah menyiapkan rute-rute backup. Namun, akibat kondisi alam, permasalahan yang sama kembali terjadi. “Kalau dilihat gambar ini di peta, maka di wilayah itu sudah beberapa kali terjadi kabel terputus, disambung kembali putus lagi, disambung kembali putus lagi,” jelasnya.
Bahkan, sebagai langkah mitigasi, PT Telkom telah menyiapkan rute di wilayah utara, yaitu dari Biak sampai sekitar Sorong sepanjang lebih dari 1.100 kilo meter kabel atau 1.141 km panjang kabel bawah laut. Rute itu telah dimulai pembangunannya sejak tahun 2020, dan diharapkan selesai pada kuartal pertama tahun 2022.
“Jadi nanti di Papua ada 3 rute mencakup rute selatan, rute tengah dan rute utara. Sehingga ada transmisi data dari wilayah barat ke Papua dan dari Papua ke wilayah barat Indonesia,” jelasnya.
Pemulihan kabel laut tersebut juga nantinya memberikan dukungan telekomunikasi pada saat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) tetap dapat dilakukan dengan baik. Sebab, proses pemulihannya sendiri sudah selesai dan akan ada koordinasi lintas operator seluler dengan kementerian Kominfo dalam rangka memberikan dukungan tersedianya bandwidth yang cukup untuk penyelenggaraan PON di Papua.
“Kami harapkan agar penggelaran fiber optik ini bisa selesai sehingga dukungan untuk transmisi data ke dan dari Papua bisa berlangsung dengan baik. Di saat yang bersamaan, pembangunan the last mile, BTS (Base Transceiver Station) oleh Kominfo di Papua akan dilakukan di tahun 2021 dan 2022 nanti untuk keseluruhan wilayah Papua. Kami berharap, bahwa sekitar 5000 BTS dapat digelar di Papua dan siap untuk melayani masyarakat di akhir tahun 2022 nanti,” tandasnya.
Langkah Mitigasi
Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah menjelaskan kendala teknis terputusnya kabel laut ruas Biak-Jayapuran. Menurutnya, pihaknya telah menyediakan backup secara bertahap untuk mengatasi masalah tersebut.
“Sebenarnya backup kita sediakan bertahap, karena yang namanya satelit kapasitasnya tidak sebesar fiber optik, sehingga tidak mungkin backup-nya ini menggunakan satelit dan microwave bisa sebesar yang aslinya, 154 (Gbps) tadi,” ujar Ririek.
Menurutnya, backup yang telah disiapkan itu masih untuk mengaktifkan layanan voice (suara) yang langsung tercover pada tanggal 30 April lalu sekitar pukul 22.30 WIB.
“Selanjutnya, kita upaya menambah kapasitas backup dengan mengaktifkan lagi di satelit maupun di microwave dan juga ada fiber optik. Sehingga pada tanggal 17 Mei itu menjadi 4,7 gigabyte, seluruh layanan sebetulnya sudah recover tapi kapasitas atau speed belum kembali normal karena keterbatasan kapasitas backup yang hanya 4,7 giga,” jelasnya.
Mengenai kapal yang digunakan untuk proses penyambungan kembali kabel bawa laut mengalami keterlambatan, Dirut Telkom menyatakan, sejak SKKL ruas Biak-Jayapura itu terputus pada tanggal 30 April, kapal baru bisa beroperasi di awal Juni.
“Antara tanggal 1 sampai 18 Mei, kami melakukan pengurusan dan persiapan kapal yang juga harus berangkat dari titik awal keberadaannya menuju Makassar. Karena di Makassar lah kita tempat menyimpan untuk sper kabelnya, termasuk penyiapan awak dan sebagainya,” ujarnya.
Kemudian, tim diberangkatkan menuju Makassar dan kemudian setelah menyiapkan berbagai kebutuhan, kapal diberangkatkan pada tanggal 19 Mei menuju Jayapura. “Jadi baru sampai di Jayapura akhir Mei, kemudian akhir Mei sampai hari ini adalah proses penyiapan untuk penyambungannya,” imbuhnya.
Upaya Telkom Percepat Revovery
Sebagai upaya untuk pemulihan layanan di Jayapura sebagai dampak putusnya kabel laut Sumatera Maluku Papua Cable System (SMPCS), Telkom telah memberangkatkan Cableship DNEX Pacific Link (DPL) yang akan melakukan penyambungan kabel laut SMPCS ruas Biak-Jayapura.
Kabel laut SMPCS ini putus pada kedalaman 4.050 meter pada ruas Biak-Jayapura yang mengakibatkan terganggunya layanan di Jayapura dan sekitarnya.
Kapal DPL merupakan kapal yang dirancang khusus untuk kebutuhan penggelaran dan pebaikan kabel laut. Kapal yang memiliki berat hingga 7.000 ton ini dilengkapi dengan teknologi terbaik seperti Dynamic Positioning 2 (DP2) untuk sistem otomatisasi dengan full redundance, Remote Operated Vehicles (ROV), dan plough. Kapal memiliki kemampuan operasi hingga kedalaman 10-6.000 meter dan dapat berlayar nonstop hingga 60 hari.
Kapal DPL telah berada di lokasi titik putus sejak 30 Mei 2021 pukul 23:21 WITA dan telah melakukan analisis terhadap kondisi arus, kontur laut, dan pola pelayaran. Saat ini kapal sedang melakukan penarikan kabel arah Biak/Sorong, yang kemudian akan dilanjutkan untuk arah Jayapura.
Kabel laut SMPCS menggunakan teknologi repeater dikarenakan jarak yang cukup jauh sehingga memerlukan tegangan tinggi. Saat proses penyambungan kabel nantinya, diperlukan pemadaman repeater namun tidak berdampak pada layanan karena sistem backup sudah disiapkan.
Untuk menjamin kualitas layanan, khususnya bagi pelanggan di Biak dan Manokwari, Telkom telah menyiapkan backup link yang dapat memenuhi kebutuhan layanan dalam kondisi normal, di mana rata-rata trafik untuk link ruas Biak-Manokwari-Sorong mencapai 40 Gbps dengan waktu puncak terjadi pada pukul 20:00 hingga 22:00, sementara di waktu lainnya total trafik berada di bawah 40Gbps.
Untuk itu Telkom telah menyediakan backup menggunakan ruas Palapa Ring Timur Biak-Manokwari-Sorong dan Nabire-Timika masing-masing 2×10 Gbps, sehingga total mencapai 40 Gbps. (Icha)
Telko.id – Konsep Shop-In-Shop atau SIS merupakan konsep baru yang dilakukan oleh Indosat Ooredoo agar lebih dekat dengan para pelanggan. Bukan apa-apa, pada masa pandemic seperti sekarang ini, tentu para pelanggan pun akan mengurangi kegiatannya di luar rumah. Kalau pun perlu, ya akan mencari yang jarak nya dekat.
Nah, konsep Shop-In-Shop ini sebagai cara Indosat Ooredoo untuk semakin memperluas jangkauan gerai pelayanannya melalui kerja sama strategis dengan Erajaya. Konsep SIS tersebut memungkinkan masyarakat mendapatkan layanan telekomunikasi Indosat Ooredoo di gerai Erafone di seluruh Indonesia selain di gerai Indosat Ooredoo.
Titik pelayanan Indosat Ooredoo menjadi semakin dekat dengan lokasi tempat tinggal pelanggannya, memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat Indonesia.
“Sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, Indosat Ooredoo selalu memperlakukan pelanggannya sebagai sahabat. Untuk itu kami senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan telekomunikasi digital mereka terutama di masa pandemi ini. Saat ini masih banyak pelanggan yang perlu beraktivitas di luar rumah untuk mengunjungi gerai Indosat Ooredoo guna mendapatkan pelayanan. Maka dari itu kami menambah titik pelayanan dengan menggandeng Erajaya sebagai mitra strategis,” ungkap Ritesh Kumar Singh, Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo.
Ritesh pun menambahkan, “Jadi pelanggan kami kini memiliki banyak pilihan lokasi untuk mendapatkan informasi atau membeli produk kami secara langsung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.”
“Kami bangga dapat kembali bersinergi bersama Indosat Ooredoo di tahun ini dalam memberikan solusi akan kebutuhan telekomunikasi digital, yaitu dengan menghadirkan konsep Shop-in-Shop (SIS) Indosat Ooredoo di jaringan ritel Erafone. Hadirnya konsep ini akan mempermudah pelanggan mendapatkan informasi, layanan, dan pembelian produk Indosat di lokasi gerai Erafone. Ini selaras dengan komitmen kami untuk menghadirkan konsep ritel yang memiliki penawaran produk dengan ekosistem yang berkesinambungan serta di bangun dengan fondasi smart retail,“ ungkap Joy Wahjudi, Vice President Director Erajaya.
Saat ini, gerai Erafone dengan konsep Shop-In-Shop Indosat Ooredoo ini telah beroperasi di beberapa provinsi seperti Jabotabek, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Selanjutnya gerai tersebut secara bertahap akan tersedia di kota Bandung, Tuban, Padang Sidempuan, Pontianak, Samarinda, dan segera menyusul di kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia.
Pelanggan yang mengunjungi gerai SIS akan mendapatkan penawaran pembelian ponsel dengan bundling gratis paket pascabayar hingga 12 bulan. Selain itu, pelanggan juga bisa berlangganan paket pascabayar dengan diskon hingga 50%.
Sementara itu di gerai Indosat Ooredoo sendiri terdapat berbagai penawaran menarik program cashback dan pembelian nomor cantik. Bahkan selama masa pandemi ini pelanggan bisa membeli paket pascabayar dari rumah dengan pengantaran gratis kartu perdana ke alamat pelanggan. Dalam operasionalnya, seluruh pusat layanan pelanggan Indosat Ooredoo telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk memutus penyebaran COVID-19 di Indonesia. (Icha)
Telko.id – Transformasi Digital Indonesia sangat dianggap serius oleh pemerintah. Pasalnya, saat ini dari total 12.548 desa dan kelurahan atau sekitar 15% dari total keseluruh desa dan kelurahan di Indonesia belum mendapatkan akses layanan 4G.
Sebelumnya, menurut Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi, dari 83.218 desa dan kelurahan di Indonesia 12.458 desa dan kelurahan yang belum terjangkau sinyal 4G pada rencana sebelumnya baru akan bisa diselesaikan pada 2032. Tapi dengan rencana yang baru, pembangunan Base Transceiver Station (BTS) 4G yang ditargetkan merata dengan waktu 10 tahun lebih awal dibanding rencana sebelumnya.
Kementerian Kominfo untuk menuntaskan target nya itu menerapkan dua skema pembangunan.
“Kami membaginya ke dalam dua skema pembangunan, skema yang pertama pembangunan BTS untuk desa dan kelurahan itu dikelompokkan untuk daerah 3T dan daerah non 3T. Untuk daerah non 3T berjumlah 3.435 desa dan kelurahan, sedangkan untuk daerah 3T berjumlah 9.113 desa dan kelurahan,” ujarnya.
Dedy merinci, bahwa pembangunan untuk 9.113 desa dan kelurahan di wilayah 3T direncanakan selesai sampai akhir 2022. “Perlu digarisbawahi bahwa untuk 9.113 desa dan kelurahan tersebut di daerah 3T, infrastruktur telekomunikasi akan dibangun oleh BLU (Badan Layanan Umum) BAKTI Kominfo, bersama dengan operasionalnya akan dilakukan oleh operator seluler,” tandasnya.
Menurut nya juga, pembangunan infrastruktur telekomunikasi di daerah 3T difokuskan dan dipercepat untuk mendukung dan memperkecil disparitas internet atau layanan internet di Indonesia. Ini juga sebagai bukti transformasi digital Indonesia sangat dianggap serius oleh pemerintah.
“Karena kita ingin mempercepat penggunaan internet yang positif dan produktif di daerah 3T di Indonesia, yang selama ini memang belum terjangkau akses internet yang memadai atau akses internet 4G,” tegasnya.
Disamping penyelesaian pembangunan BTS 4G, Jubir Kementerian Kominfo juga menyatakan keseriusan dalam melakukan percepatan komersialisasi jaringan telekomunikasi 5G.
“Tetapi ini kita lakukan secara bersamaan, secara simultan. Untuk deployment 5G kita lakukan, kemudian untuk pemerataan jangkauan 4G tetap juga kita lakukan. Karena keduanya saling melengkapi, demikian pula untuk daerah 3T,” tandasnya.
Dengan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang secara masif dilakukan tersebut, maka masyarakat Indonesia, khususnya di daerah 3T hingga akhir tahun 2022 nanti sudah bisa menikmati sinyal 4G.
Harapannya, adanya jaringan broadband tersebut maka kegiatan-kegiatan yang positif, yang produktif, diantaranya adalah pengembangan ekonomi digital, misalnya dengan melakukan on boarding UMKM, bisa dilakukan. Transformasi digital Indonesia pun bisa berjalan sesuai dengan yang direncanakan pemerintah. (Icha)
Telko.id – BAKTI cari mitra KSO yang tangguh saat ini. Pasalnya, ketika infrastruktur yang akan selesai pada tahun 2021 dan 2022 nanti, harus ada yang memanfaatkan. Dan mitra ini lah nanti nya yang akan melayani masyarakat untuk memaksimalkan jaringan yang sudah dibangun tersebut.
Namun, BAKTI cari mitra KSO (kerja sama operasi) bukan asal mitra saja yang dicari. Pasalnya, pemerintah membutukan mitra yang andal serta kompeten. Itu sebabnya, BAKTI Kominfo pun melakukan mekanisme seleksi yang akuntabel dan transparan.
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latif menyatakan, BAKTI cari mitra KSO itu sebagai langkah lanjutan memastikan tersedianya suplai sinyal 4G di 7.904 desa dan kelurahan di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal).
“BAKTI Kominfo saat ini sedang melalui proses penetapan kerja sama operasi dengan perusahan operator seluler yang memiliki lisensi di Indonesia. Seleksi penyedia layanan seluler untuk BTS 4G di wilayah 3T ini tidak kalah pentingnya dari pembangunan infrastruktur itu sendiri. Kualitas layanan seluler yang menjangkau hingga pelosok nusantara menjadi ujung tombak hajat besar percepatan transformasi digital nasional,” jelasnya dalam Konferensi Pers Penyelenggaraan Layanan Seluler pada BTS 4G di Wilayah 3T, dari Media Center Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (28/05/2021).
Menurut nya, proses penetapan KSO itu merupakan bagian dari tugas Kementerian Kominfo untuk memastikan hak masyarakat Indonesia mendapatkan layanan yang berkualitas, terjangkau, dan terjamin keberlangsungannya. “Dan juga memastikan tidak ada satu orang pun yang tertinggal ketika proses transformasi digital berjalan di republik ini,” tandasnya.
“Dalam skema KSO ini, BAKTI Kominfo bertanggung jawab melakukan pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur BTS 4G, termasuk di dalamnya menyediakan lahan. Sementara, mitra operator seluler bertanggung jawab menyediakan layanan 4G kepada pelanggan, termasuk di dalamnya melakukan operasi dan pemeliharaan jaringan 4G secara keseluruhan,” jelasnya.
Penyelenggaraan KSO ini pun memiliki dasar hukum pelaksanaan yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 129 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU), dan Peraturan Direktur Utama BAKTI Kominfo Nomor 8 Tahun 2020 tentang Kerja Sama Operasional Pemanfaatan Aset BAKTI Kominfo dan Aset Pihak Lain di Lingkungan BLU BAKTI Kominfo.
Penting nya Mitra yang Andal serta Kompeten
Bagi pemerintah, mitra yang andal serta kompeten ini sangat penting. Pertama, dana yang digunakan untuk pembangunan BTS di 3T dilakukan dengan sumber pembiayaan APBN yang bersumber dari rupiah murni dan PNBP Kominfo Non-BLU.
Dan infrstruktur atau BTS yang dibangun pun tidak sedikit. BTS 4G yang akan dibangun di total 7.904 lokasi wilayah 3T.
“Pembangunan ini dilakukan dalam dua tahap, di mana 4.200 desa kelurahan dilakukan pada tahun 2021 ini, dan dilanjutkan 3.704 dilakukan di tahun 2022. Sehingga harapannya setelah proyek ini selesai, seluruh wilayah desa dan kelurahan di wilayah 3T dapat mengakses sinyal 4G untuk mendapatkan layanan internet,” jelasnya.
Ke dua adalah setidaknya 5.204 dari total lokasi berada di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat atau sekitar 65% pekerjaannya. Di mana, sama-sama kita ketahui, di kedua wilayah tersebut tidak seperti di daerah lain. Baik pulau Jawa, pulau Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.
Jadi tak heran kan, kalau pemerintah membutuhkan mitra KSO yang andal dan kompeten. Apalagi, pembangunan infrastruktur tersebut sudah menjadi komitmen serius pemerintah untuk menghubungkan tanpa terkecuali, menyediakan pelayanan yang merata dan inklusif untuk seluruh rakyat Indonesia.
Sebelumnya, BAKTI Kominfo juga telah menyelanggarakan penandatanganan lima paket proyek kontrak payung dengan para penyedia infrastruktur terpilih. Tepat nya pada 26 Februari 2021 lalu.
“Kegiatan ini turut disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dari Istana Negara. Selanjutnya, kami pun sudah menggelar kick-off meeting implementasi infrastruktur dan model bisnis BTS 4G bersama Menteri Kominfo beserta jajarannya di Denpasar, Bali, tanggal 25 Maret 2021 lalu,” ungkapnya.
Lalu, pada tanggal 23 April 2021 di Desa Kelanga, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Menteri Kominfo telah melakukan prosesi peletakan batu pertama yang menandai dimulainya rangkaian pembangunan masif 7.904 BTS 4G di wilayah 3T.
Namun, BAKTI Kominfo sendiri bukan hanya memiliki proyek BTS 4G saja. Ada tugas lain yakni menyediakan infrastruktur telekomunikasi dan pemberdayaan ekosistem digital.
Di antaranya melalui penyediaan Akses Internet atau Wi-Fi gratis di titik pelayanan public, pemanfaatan jaringan kabel serat optik Palapa Ring, serta satelit multi-fungsi (SMF) SATRIA 1 yang kini sedang dalam tahap konstruksi. (Icha)