Kategori: Operator

  • Demi Penuhi Kebutuhan Satelit Menkominfo Niat Gandeng Perusahaan AS

    Demi Penuhi Kebutuhan Satelit Menkominfo Niat Gandeng Perusahaan AS

    Telko.id – Demi penuhi kebutuhan satelit, Menkominfo berniat gandeng perusahaan AS. Hal ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate usai bertemu dengan perwakilan Maxar asal Amerika Serikat, Jakarta, Senin (24/05/2021).

    “Kami juga mendiskusikan terkait dengan kebutuhan satelit Indonesia sampai dengan 10 tahun kedepan, di mana tadi kami menyampaikan bahwa Indonesia sebagai salah satu di negara ASEAN yang membutuhkan banyak sekali kapasitas satelit,” jelasnya.

    Menurut Johnny, Indonesia setidaknya membutuhkan 1 terabyte per second (TBps) untuk pemerataan layanan telekomunikasi dan akan meningkat ke depan.

    Dalam pertemuan tersebut, Johnny menyebutkan bahwa banyak mendiskusikan hal terkait dengan pengalaman Maxar yang telah menyediakan tiga satelit untuk keperluan satelit Indonesia, diantaranya satelit BRI, satelit Merah Putih dan satelit Nusantara.

    “Kita baru saja selesai dengan negosiasi dan sedang dalam proses produksi High Throughput Satelite SATRIA-1. Setelah itu, masih banyak kebutuhan satelit untuk pemenuhan kebutuhan telekomunikasi kita, baik untuk electronic government maupun kebutuhan komunikasi lainnya,” tandasnya.

    Menkominfo menyatakan, kebutuhan satelit Indonesia cukup banyak untuk backup. Sebab, satelit tidak mungkin tanpa backup. Karenanya Maxar dengan pengalaman yang panjang dan relasi serta jaringan yang kuat, ingin terus mengembangkan bisnis dan memenuhi kebutuhan satelit Indonesia. 

    “Tentunya kami menyambut baik dan ingin terus membangun relasi yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan hubungan ekonomi bilateral Indonesia dan Amerika Serikat, yang tentu harus diterjemahkan secara tepat oleh pelaku-pelaku usaha, dunia bisnis baik businessman dan industri di Amerika Serikat maupun businessman dan industri yang ada di Indonesia,” ujarnya. 

    Alih Teknologi dan SDM

    Dalam pertemuan itu, Johnny juga menjelaskan bahwa pada pertemuan tersebut membahas juga potensi pemanfaatan transfer teknologi serta peningkatan kualitas SDM Indonesia di bidang satelit dan di bidang telekomunikasi. Pembahasan juga mengenai potensi pemanfaatan lokal komponen dan lokal konten atau yang dikenal dengan TKDN.

    “Ini kami diskusikan dan kami harapkan tentu pertemuan ini akan bisa nanti kita kembangkan dalam langkah-langkah yang lebih konkrit untuk memenuhi kebutuhan Indoensia, sekaligus membangun relasi dan kerja sama ekonomi yang lebih erat antara Indonesia dan Amerika Serikat, antara Kominfo dan perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat,” jelasnya.

    Menkominfo menegaskan kerja sama di bidang teknologi telekomunikasi dan satelit yang berlangsung dengan negara-negara mitra termasuk Amerika Serikat, memilki tujuan agar Indonesia mampu meningkatkan internet link ratio dan memperkecil disparitas internet antarwilayah.

    “Ini untuk kepentingan penyelenggaraan elektronic government, untuk kepentingan digital ekonomi, untuk kepentingan smart city, digital health, digital education dan aplikasi-aplikasi digital lainnya masa kini dan masa depan,” tandasnya.

    Charge d’affaires atau Deputy Chief of Mission Keduataan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Heather Variava mengapresiasi pertemuan itu. Apalagi dalam pertemuan juga dibahas mengenai prospek ekonomi digital dan masa depan Indonesia itu merupakan komitmen dari pemerintah amerika serikat dan ekosistemnya.

    “Itu juga contoh komitmen perusahaan Amerika Serikat terkait dengan Indonesia dan bagaimana kita mau bermitra dengan Indonesia untuk mempromosikan ekonomi Indonesia,” imbuhnya.

    Dalam konferensi pers yang berlangsung virtual, Menteri Johnny didampingi Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika; Ismail, Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi; Anang Latif. Adapun perwakilan Maxar antara lain Senior Vice President, Space Capture Maxar Robert Curbeam, dan Vice PresidentBusiness Development, Commercial Space Capture Maxar Darly Mossman. (Icha)

  • Layanan Data Meningkat 49% Selama Libur Hari Raya Idul Fitri

    Layanan Data Meningkat 49% Selama Libur Hari Raya Idul Fitri

    Telko.id – Layanan data meningkat selama libut Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Hal ini memang sudah diprediksikan. Kenaikan traffic telekomunikasi mencapai 49% dibandingkan tahun sebelumnya. 

    “Layanan data meningkat sampai dengan 39,7 petabyte atau tumbuh hampir 49% lebih besar dibandingkan Lebaran tahun lalu. Ini tentu semakin sadarnya masyarakat di mana pemanfaatan ruang digital menjadi pilihan yang utama ya kita bersilaturahmi,” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam Halal bihalal Lebaran Digital Keren yang berlangsung tatap muka terbatas dan virtual dari Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Senin (17/05/2021).

    Ia pun mengapresiasi semua ekosistem baik operator seluler penyelenggara teknologi digital dan lembaga lain. Menurutnya, selama masa libur hari raya Idul Fitri silaturahmi masyarakat dapat terus terjalin dan terjaga melalui pemanfaatan teknologi digital.

    “Bersama rekan-rekan dari operator selular memahami betul bagaimana peningkatan trafik. Persiapan untuk memungkinkan masyarakat Indonesia itu bisa bersilaturahmi dan berlebaran secara digital kali ini itu dilakukan dengan baik. Saya tidak mendengar keluhan keluhan berarti ya dari masyarakat terkait dengan pemanfaatan bandwidth di infrastruktur digital nasional,” tandasnya.

    Meski demikian, Menkominfo mengakui adanya kendala gangguan layanan telekomunikasi data di kawasan Papua. “Kecuali yang terjadi di Papua, karena putusnya kabel bawah laut di utara Jayapura dalam di kedalaman lebih dari 4.000 meter yang saat ini sedang dilakukan pemulihan transmisi data dari Indonesia Barat menuju Indonesia Timur demikian sebaliknya,” tuturnya.

    Johnny berharap penyelesaian jaringan kabel bawah laut serat optik di utara Jayapura tersebut dapat selesai di bulan Juni 2021.

    “Kita sama-sama ketahui bahwa kendala penanganan kabel optik bawah laut yang putus di utara Jayapura di kedalaman 4000 meter dengan tekanan 400 bar lebih tentu tidak mungkin dilakukan secara manual karenanya dibutuhkan dibutuhkan alat khusus untuk mengangkat dan melakukan penyambungannya kembali,” ungkapnya. 

    Tingkatkan Kolaborasi

    Selama ramadan di masa pandemi Covid 19, Menkominfo menyatakan masyarakat telah bermigrasi ke ruang digital. Menurutnya,  menjadi tugas Kementerian Kominfo untuk  untuk memastikan layanan yang prima terhadap masyarakat agar sukses menjalani transformasi ke dunia digital.

    “Satu hal yang harus kita garis bawahi Kementerian kominfo garis bawahi bahwa masyarakat telah bermigrasi ke ruang digital. Tugas kita seluruh insan-insan Kominfo untuk memastikan layanan yang prima terhadap masyarakat. Untuk menyiapkan layanan yang memadai. Amanah yang kita pegang untuk mengelola alokasi anggaran negara demi mempercepat pemerataan infrastruktur digital di seluruh pelosok nusantara,” ujarnya.

    Pada kesempatan yang sama, Johnny juga memaparkan beberapa program strategis yang sudah berlangsung selama 5 bulan terakhir ini. “Saat ini memasuki kuartal kedua, ada proyek infrastruktur di seluruh wilayah tanah air, di wilayah 3T. Kita  juga sedang mempersiapkan untuk membangun pusat data nasional dalam rangka mendukung elektronik government untuk mendukung satu data Indonesia,” paparnya. 

    Selain itu, Menkominfo juga memaparkan upaya membangun juga Pusat Monitoring Telekomunikasi agar memenuhi kebutuhan masyarakat akan bandwith layanan telekomunikasi yang memadai. “Di bawah koordinasi Pak Dirjen PPI agar kita bisa mengatur sehingga lebih memadai lebih seimbangnya antara demand dan supply bandwidth bagi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

    Tak hanya itu, Menteri Johnny juga menyatakan tahun ini Kementerian Kominfo juga melakukan pelatihan digital melibatkan lebih dari 12,4 juta rakyat untuk membangun talenta digital. “Agar menghargai antarmasyarakat, agar menghasilkan talenta digital yang memadai untuk mengisi ruang digital yang lebih bermanfaat bagi kita sekalian,” paparnya. (Icha)

  • BAKTI Tancap Gas, Bangun 7904 BTS sampai  2022

    BAKTI Tancap Gas, Bangun 7904 BTS sampai 2022

    Telko.id – BAKTI tancap gas, bakal bangun 7904 BTS sampai akhir 2022. Lokasi pembangunannya bukan tempat yang mudah. Pasalnya, BTS tersebut harus terpasang di wilayah 3T atau daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Semua itu demi pemerataan akses internet di Indonesia.

    Wilayah 3T ini memang tidak menarik bagi para operator. Selain memang biaya pembangunan nya sangat besar karena sulit nya menjangkau lokasi, secara bisnis juga tidak menguntungkan. Itu sebabnya, peran BAKTI Kominfo ini menjadi penting dalam pemerataan akses internet di Indonesia.

    “Dengan adanya akses internet yang lebih merata maka diharapkan digital ekonomi Indonesia pun terjadi peningkatan. Setidaknya sampai pada tahun 2022 mendatang dapat terjadi peningkatan sampai 47%,” ungkap Fadhilah Mathar, Direktur Sumber Daya dan Administrasi BAKTI Kementerian Kominfo menjelaskan dalam webinar dengan tema “Konektivitas Telekomunikasi dalam Membangun Roadmap Indonesia Digital”, Selasa (27/06/2020).

    Langkah BAKTI bangun BTS ini juga akan menunjang digitalisasi 6 sekotr strategis di 22 kawasan di indonesia. Sesuai juga dengan target pemerintah di 2024 mendatang. Ke enam sektor itu adalah Sektor pertanian, pariwisata, Logistik, Maritim, Pendidikan dan Kesehatan.

    Semua BTS yang akan dibangun oleh BAKTI ini berteknologi 4G. Ini ada alasannya. Menurut Fadhilah Mathar atau akrab dipanggil Ibu Indah ini, jaringan 4G ini menjadi standar untuk bisa mengakses berbagai platform yang dibutuhkan untuk mendorong ekonomi digital hingga ke pelosok Indonesia.

    Nah, sebelum itu, pemerintah juga sudah membuat aturan terkait ketersediaan HP atau smartphone. Di mana, pemerintah membuat regulasi tentang TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) untuk HP 4G. Dengan demikian harga nya lebih affordable dan terjangkau sehingga diharapkan dapat terjangkau oleh masyarakat Indonesia. Termasuk untuk masyarakat di wilayah 3T.

    Tantangan Membangun BTS di 3T

    Dalam BAKTI bangun BTS di daerah 3T ini sangat-sangat tidak mudah. Baik dalam pasokan listrik, bahan bakar, sampai transport untuk membawa peralatan sampai tujuan hingga berdiri dan bisa digunakan oleh masyarakat sekitar. Dan itu tidak berhenti sampai disitu. Setelah dibangun pun, perlu ada dukungan pemerintah daerah, TNI, Polri dan pihak lainnya agar selama pembangunan dan saat BTS berdiri agar tetap aman.

    Masalah lain juga yang menjadi perhatian adalah lokasi. Setidak nya, untuk membangun sebuah BTS dibutuhkan luas lahan 20×20 meter. Ini yang perlu disiapkan oleh pemerintah daerah sebagai lahan pinjam pakai. Jadi dukungan pemda ini sangat penting agar pemerataan akses internet ini dapat terjadi di Indonesia.

    Ginanjar, Direktur Marketing dan Solution LINTASARTA pada webinar itu juga sempat bercerita bahwa untuk membawa peralatan ke lokasi harus dilakukan dengan penuh perjuangan. “Terkadang alat yang diperlukan harus dikirim menggunakan pesawat terbang. Namun, karena besar nya alat, harus dilakukan dua, tiga kali penerbangan. Atau karena akses jalan masih belum bagus, peralatan yang diperlukan di tarik menggunakan kerbau,” ungkap Gilang menceritakan suka duka membangun BTS di daerah 3T.

    Namun, karena Lintasart sudah memiliki pengalaman, target yang dibebankan pada perusahaan ini dapat berjalan dengan baik. Misi complies!

    Pembiayaan Bangun BTS di wilayah 3T

    Dulu, BAKTI mendapatkan dana untuk membangun BTS di wilayah 3T melalui dana Universal Service Obligation (USO) dari para operator. Sekarang, BAKTI mendapatkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    Menurut Fadhilah, ada dana rata-rata sebesar Rp.17 triliun setiap tahun dari APBN yang dialokasikan untuk membangun infrastruktru di wilayah-wilayah non komersial. Termasuk wilayah 3T.

    Dalam pembangunan 7904 BTS tersebut, BAKTI atau Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi ini tidak sendirian. Ada beberapa partner yang digandeng dan dibagi dalam 5 paket.

    Sebagai informasi untuk paket 1 dan 2 untuk pembangunan BTS 4G yang akan dilakukan oleh konsorsium yang terdiri dari Fiberhome, Telkom Infra, dan Multitrans Data. Yang akan meliputi wilayah Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Maluku atau disebut wilayah non-Papua.

    Lalu, dilanjutkan lagi dengan paket 3, 4 dan 5 untuk wilayah Papua. Untuk wilayah ini, ada Lintasarta yang digandeng oleh BAKTI. Setidaknya ada  1795 BTS yang akan dibangun di wilayah Timur Indonesia ini oleh Lintasarta dari 7904 BTS yang menjadi target BAKTI.

    Kontrak Paket 1 dan Paket 2 telah ditandatangani pada 29 Januari 2021 antara Fiberhome, Telkom Infra, dan Multitrans Data dengan BAKTI Kominfo. Total nilai kontrak tersebut sebesar Rp9,5 triliun. 

    Sedangkan kontrak Paket 3, 4, dan 5 yang akan dikerjakan oleh konsorsium PT Aplikanusa Lintasarta, Huawei, dan PT SEI untuk Paket 3, serta IBS dan ZTE untuk Paket 4 dan Paket 5 total nilai kontraknya sebesar Rp18,8 triliun. (Icha)

  • Ini 4 Lokasi Pusat Data Nasional Yang Dipilih Pemerintah

    Ini 4 Lokasi Pusat Data Nasional Yang Dipilih Pemerintah

    Telko.id – Pusat Data Nasional akan segera dibangun oleh pemerintah. Rencananya akan dibangun di Bekasi Provinsi Jawa Barat, Batam Provinsi Kepualauan Riau, Ibu Kota Negara Baru di Provinsi Kalimantan Timur dan Labuan Bajo di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Dalam menetapkan lokasi pembangunan Pusat Data Nasional tidak hanya dilandasi pertimbangan aspek teknis dan keamanan saja. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan salah satu yang menjadi perhatian adalah aspek geostrategis.

    Pusat Data nasional yang berada di Bekasi sendiri, dalam rencananya akan selesai pada tahun 2023 mendatang. Sedangkan Batam dipilih karena memiliki infrastruktur yang dibutuhkan. Seperti infrastruktur serat optik, pasokan listrik dan air serta jalur langsung ke tulang punggung internet global. Rencananya akan mulai dibangun pada tahun 2022 dan akan selesai pada tahun 2025.

    Pemerintah juga memilih alternative pendirian Pusat Data Nasional di Labuan Bajo. Alasannya karena di wilayah tersebut terdapat jaringan serat optic wilayah selatan yang menghubungkan kawasan Indonesia Barat, Tengah dan Timur.

    “Jadi disamping pertimbangan-pertimbangan teknis yang disampaikan, tentu kita juga akan melihat titik-titik geostrategis, seperti misalnya salah satu di Batam,” ujarnya saat meninjau rencana lahan lokasi pembangunan Pusat Data Nasional di Kawasan Barelang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Jum’at (23/04/2021).

    Menurut Johnny, pertimbangan geostrategis akan dilakukan analisa, karena hal tersebut berkaitan dengan cross-border data flow, atau mengalirnya data lintas batas negara. “Sehingga perlu mempertimbangkan plus dan minusnya. Selain itu, Kementerian Kominfo juga mempertimbangan aspek kawasan dalam rangka efisiensi flow data nasional,” tegasnya. 

    Menteri Johnny merinci spesifikasi teknis Pusat Data Nasional yang akan dibangun dengan processor sebanyak 42 ribu cors dan kapasitas storage 72 petabyte.

    “Jadi Pusat Data Government Cloud tier 4 standar global, prosesor 42 ribu cors  dan kapasitas 72 petabyte atau hampir empat atau lima kali lipat dari jumlah kapasitas yang kita sudah gunakan saat ini. Karenanya nanti seluruh data nasional dalam rangka Government Cloud itu ada di sini,” jelasnya. 

    Dukung Satu Data Indonesia

    Menkominfo menjelaskan sesuai amanat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Keputusan Presiden dan arahan Presiden Joko Widodo, Indonesia sudah seharusnya mempunyai Satu Data Indonesia. “Dalam kaitan dengan hal tersebut, pemerintah mengambil langkah untuk membangun Government Cloud atau Pusat Data Pemerintah,” paparnya.

    Langkah itu diambil karena jumlah Pusat Data Pemerintah di Indonesia saat ini tidak sedikit dan dinilai tidak efisien. Menurut Johnny, total data baik di pemerintah pusat dan pemerintah daerah berjumlah 2.700 pusat data dan hanya sekitar 3% yang memenuhi global standar. 

    “Hal itu berdampak pada sulitnya melakukan satu data melalui berbagai metode dan metodologi. Baik itu data cleansing, data cleaning, data dan interoperabilitas yang mengakibatkan kesulitan kita mempunyai satu data nasional dalam mengambil kebijakan-kebijakan publik, dalam merancang pembangunan yang berperspektif masa depan yang akurat,” jelasnya.

    Menurut nya langkah pemerintah untuk membangun pusat data nasional sudah tepat, karena pada satu titik tidak bisa balik lagi kecuali melanjutkan dan menyesuaikan untuk menghasilkan government cloud atau Pusat Data Pemerintah.

    “Saat ini untuk pelayanan pemerintahan pusat dan daerah Indonesia menggunakan 24.700 aplikasi yang belum tentu semuanya efektif dan efisien, yang mengakibatkan belanja negara yang terlalu besar dialokasikan untuk membiayai pusat data yang begitu banyak, dan hanya sedikit yang memenuhi standart global,” ungkapnya.

    Selain itu, aplikasi yang begitu banyak dan tidak terkoordinasi berdampak pada efisiensi yang sangat besar. “Karenanya harus kita lakukan membangun Pusat Data Nasional dan mempunyai Satu Super Aplikasi dalam rangka penyelenggaraan pemerintah,” tandas Menteri Johnny

    Menkominfo berharap kepada para mitra, pemerintah daerah di seluruh Indonesia, dan tentu kementerian dan lembaga di tingkat pusat agar pada saat akan dibangunnya satu Super Aplikasi dapat digunakan secara bersama-sama.  Menteri Johnny juga mengajak seluruh elemen terkait untuk meninggalkan semua belanja yang tidak efisien yang selama ini dilakukan. 

    “Karena yang pasti bahwa pusat data yang akan kita bangun adalah pusat data tier 4 itu pusat data dengan standar Global tertinggi di dunia, ini menurut standar-standar pusat data,” harapnya.

    Dalam peninjauan lahan rencana lokasi pembangunan Pusat Data Nasional, Menkominfo didampingi oleh Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif, dan Direktur Layanan Aplikasi Pemerintah Bambang Dwi Anggono. (Icha)

  • Kominfo Bangun 17 BTS di Kabupaten Natuna Berteknologi 4G

    Kominfo Bangun 17 BTS di Kabupaten Natuna Berteknologi 4G

    Telko.id – Kominfo Bangun 17 BTS di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo dengan sumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) .

    Mengawali pembangunan ini, Menteri Komunikasi dan informatika Johnny G. Plate melakukan peletakan batu pertama (ground breaking). Pada kesempatan tersebut, Menkominfo menegaskan akan terus melakukan identifikasi wilayah blankspot untuk menjamin pemerataan akses jaringan 4G.

    “Di Kabupaten Natuna sendiri akan dibangun 17 Base Transceiver Station untuk 17 desa, yang didukung nanti dengan kehadiran signal cepat 4G,” ujarnya dalam kunjungan kerja di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (22/04/2021).

    Johnny menjelaskan Kominfo bangun BTS sebanyak 16 unit yang berada di 12 desa di Kabupaten Kepulauan Riau, 5 BTS di desa yang berada di Kabupaten Bintan dan di Kabupaten Karimun dibangun 1 BTS untuk satu desa. Meskipun demikian, pihaknya akan terus melakukan identifikasi wilayah Blakspot yang masih ada. 

    “(Pembangunan BTS) Itu belum cukup karena masih banyak wilayah yang blankspot, wilayah-wilayah blankspot yang menjadi identifikasi ini dilakukan melalui proses digitalisasi dari instrumen peralatan yang ada di Jakarta, di Kominfo dan operator seluler,” jelasnya.

    Mengenai pembangunan infrastruktur TIK tahun 2021, Menkominfo menyatakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Kominfo akan membangun 4.200 BTS di seluruh wilayah 3T di Indonesia yang dilakukan dalam 5 paket.

    “Hari ini paket 1 dan paket 2 dibawah konsorsiun fiberhome bersama rekan-rekan konsorsium members. Tentu perlu dilakukan,” tandasnya.

    Lebih lanjut, Johnny menjelaskan pihaknya terus melakukan verifikasi lapangan dan akan dilakukan review desain dan final desain untuk menentukan titik-titik lokasi dan pilihan teknologi yang tepat sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.

    “Tujuan kunjungan saya kali ini dan ini kunjungan pertama saya ke Pulau Natuna, sudah beberapa kali ke Provinsi Riau, kali ini dengan dua tujuan setidaknya yang pertama dalam kaitan dengan peletakan batu pertama, awal pembangunan Base Transceiver Station untuk wilayah 3T,” jelasnya.

    Selama melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Natuna, Menkominfo Johnny G. Plate didampingi Direktur Utama BAKTI Anang Latif, Direktur Infrastruktur BAKTI Bambang Noegroho, Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Ansar Ahmad, dan Bupati Kepulauan Natuna Abdul Hamid Rizal.

    Sebagai informasi, pemerintah melalui BAKTI, akan membangun BTS yang akan dibagi ke dalam lima paket, dengan rincian sebagai berikut:

    ● Paket 1 sebanyak 1.364 desa/kelurahan yang meliputi Area 1 Sumatera (132), Area 2 Nusa Tenggara (456), dan Area 3 Kalimantan (776)

    ● Paket 2 sebanyak 1.336 desa/kelurahan yang meliputi Area 4 Sulawesi (536) dan Area 5 Maluku (800)

    ● Paket 3 sebanyak 1.795 desa/kelurahan yang meliputi Area 6 Papua Barat (824), Area 7 Papua Bagian Tengah Barat (971)

    ● Paket 4 sebanyak 1.879 desa/kelurahan yang mencakup Area 8 Papua Bagian Tengah Utara (1.819)

    ● Paket 5 sebanyak 1.590 desa/kelurahan yang mencakup Area 9 Papua Bagian Timur Selatan (1.590)

    (Icha)

  • Telenor dan Axiata Rencanakan Merger Operasi Jadi Celcom Digi

    Telenor dan Axiata Rencanakan Merger Operasi Jadi Celcom Digi

    Telko.id – Setelah sempat batal melakukan merger, Telenor dan Axiata kini berencana akan merger operasi Malaysia Celcom dan Digi. Jika kesepakatan definitif tercapai, operator akan memiliki kepemilikan yang sama masing-masing 33,1 persen di perusahaan hasil merger, dengan sisanya terdaftar di pasar saham lokal.

    Merger Telenor dan Axiata ini diharapkan dapat memberi peningkatan skala dan kemampuan keuangan untuk memimpin pasar Malaysia, sekaligus menghasilkan sinergi yang signifikan. Kedua belah pihak sepakat untuk menunjuk Izzaddin Idris sebagai ketua, Jorgen Arentz Rostrup sebagai wakil ketua, Idham Nawawi sebagai CEO dan Albern Murty sebagai wakil CEO dari perusahaan hasil merger, yang akan diberi nama Celcom Digi.

    Jika digabungkan, Telenor dan Axiata akan memiliki sekitar 19 juta pelanggan dan pendapatan tahunan sebesar MYR 12,4 miliar atau sekitar Rp43.6 Triliun. Sedangkan Ebitda sebelum sinergi diperkirakan mencapai MYR 5,7 miliar atau sekitar Rp20 Triliun.

    Penggabungan ini akan dilakukan dengan cara Digi menerbitkan saham baru ke Axiata. Telenor telah setuju untuk membayar Axiata sekitar MYR 2 miliar atau sekitar Rp.7 Triliun untuk memastikan mereka memiliki saham yang sama dalam usaha tersebut.

    Axiata mengatakan sekitar MYR 1,7 miliar atau sekitar Rp.6 Triliun  akan datang dari Digi sebagai hutang baru dan saldo MYR 300 juta atau sekitar Rp.1 Triliun dari Telenor.

    Axiata mengatakan kepentingan nasional akan dilindungi, karena itu dan pemegang saham institusional utama Malaysia akan memiliki lebih dari 51 persen perusahaan hasil merger. Axiata juga memiliki hak untuk mencalonkan Pimpinan dan CEO awal, yang keduanya berasal dari Celcom.

    Perusahaan bertujuan untuk mencapai kesepakatan akhir pada kuartal kedua 2021 setelah uji tuntas. Transaksi tetap tunduk pada persetujuan dewan Digi dan pemegang saham Celcom, penerimaan persetujuan regulator dan syarat dan ketentuan adat lainnya.

    Telenor dan Axiata sebelumnya mencoba menggabungkan semua operasi mereka di Asia. Namun, setelah beberapa bulan negosiasi pada 2019, mereka tidak dapat mencapai kesepakatan akhir.

    Telenor dan Axiata sebelumnya mencoba menggabungkan semua operasi mereka di Asia. Namun, setelah beberapa bulan negosiasi pada 2019, mereka tidak dapat mencapai kesepakatan akhir.

    Sebelumnya pada 2019 lalu, kedua perusahaan ini juga pernah melakukan penjajakan untuk merger. Penjajakan yang sudah dilakukan selama 4 bulan itu, terpaksa harus batal pada September 2019.

    Dalam keterangan resminya, Telenor menyebutkan bahwa Axiata Group Berhad dan Telenor Group telah sepakat mengakhiri dikusi aset telekomunikasi dan infrastruktur mereka di Asia. Alasanya karena beberapa kompleksitas yang terlibat dalam Proposed Transaction. (Icha)

  • Pemerintah Pastikan Satelit SATRIA Meluncur 2023

    Pemerintah Pastikan Satelit SATRIA Meluncur 2023

    Telko.id Radio Regulations Board (RBB) International Telecommunication Union (ITU) akhir nya menyetujui proposal permohonan perpanjangan masa waktu penggunaan filing PSN-146E yang akan digunakan oleh Satelit Republik Indonesia I (SATRIA I). 

    Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan perpanjangan filling  Indonesia tidak mengubah jadwal peluncuran dan Commercial Operation Date (COD) pada Q4-2023.

    “Berkat doa, upaya, dan ikhtiar kerja bersama, permohonan perpanjangan masa laku filing satelit ini disetujui oleh Radio Regulations Board. Hasil permohonan tersebut juga dipublikasikan di website International Telecommunication Union tanggal 31 Maret 2021,” jelas nya dalam Konferensi Pers Keberhasilan Indonesia Mengamankan Slot Orbit 146 Bujur Timur untuk Satelit SMF Satria pada RRB-ITU dari Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (06/04/2021).

    Menurut Johnny, surat persetujuan juga telah dikirimkan Director of the Radiocommunication Bureau (Direktur BR) kepada Administrasi Telekomunikasi Indonesia pada tanggal 1 April 2021.

    “Indonesia diberikan jangka waktu 7 (tujuh) bulan untuk perpanjangan izin filing orbit ini, yaitu sampai dengan 31 Oktober 2023. Hal ini sejalan dengan dukungan dari pabrikan satelit SATRIA, Thales Alenia Space,” paparnya. 

    Menkominfo Johnny menegaskan perpanjangan filing Indonesia tidak mengubah jadwal peluncuran dan Commercial Operation Date (COD) pada Q4 2023. Perpanjangan filing selama 7 (tujuh) bulan ini dapat menghindari biaya tambahan sebesar kurang lebih USD9 juta (Rp130 miliar).

    “Proses produksi proyek SATRIA telah dimulai sejak ditandatangani Preliminary Working Agreement (PWA) antara Konsorsium PSN (PT SNT) dengan Thales Alenia Space pada tanggal 3 September 2020 lalu,” jelasnya. 

    Dukungan Multistakeholders

    Dalam Sidang Radio Regulations Board (RBB) International Telecommunication Union (ITU) yang berlangsung secara daring dari tanggal 22 s.d. 26 Maret 2021, Delegasi Republik Indonesia mengajukan proposal permohonan. 

    “Permohonan ini merupakan tindak lanjut dari sidang sebelumnya pada bulan Oktober 2020,” ungkap Johnny.

    Menurutnya, dalam persiapan sidang pada akhir Maret 2021 lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa, BAKTI, serta PT PSN selaku operator satelit pengguna filing satelit. 

    “Persiapan dimulai sejak bulan Januari  sampai dengan awal Maret 2021, dengan melakukan pertemuan intensif bersama pihak-pihak tersebut sebanyak 5 (lima) kali untuk mematangkan proposal serta dokumen pendukung permohonan yang akan disampaikan pada sidang ini,” tuturnya.

    Proyek SATRIA I merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategi Nasional.

    Proyek ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kapasitas satelit Indonesia, guna menyediakan akses internet pada 150.000 titik layanan publik. Karenanya, penting untuk dilakukan berbagai upaya demi suksesnya peluncuran SATRIA I ini. (Icha)

  • Facebook Bangun Dua Proyek Kabel Bawah Laut, Echo dan Bifrost

    Facebook Bangun Dua Proyek Kabel Bawah Laut, Echo dan Bifrost

    Telko.id – Facebook bangun dua proyek kabel bawah laut yang diberi nama Echo dan Bifrost. Kabel bawah laut itu akan menguhubungkan Singapura, Indonesia, dan Amerika Utara. Proyek ini akan menjadi kabel jaringan trans-pasifik pertama, yang melalui rute baru melintasi Laut Jawa.

    Kehadiran dari dua proyek tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas trans-pasifik secara keseluruhan hingga 70 persen.

    “Dinamakan Echo dan Bifrost, itu akan menjadi dua kabel pertama yang melalui rute baru yang beragam melintasi Laut Jawa dan akan meningkatkan 70% lebih kapasitas bawah laut secara keseluruhan di trans-pasifik yang akan menghubungkan kawasan Asia Pasific dan Amerika Utara,” ujar Wakil Presiden Jaringan Investasi Facebook, Kevin Salvadori, seperti dilansir dari Reuters, Senin (29/3/2021).

    Ia juga menjanjikan bahwa kedua proyek kabel bawah laut ini akan menyediakan akses internet yang cepat kepada lebih banyak orang.

    Menurut Facebook, pandemi Covid-19 telah meningkatkan kebutuhan terhadap akses internet.

    Internet telah membuat banyak orang di seluruh dunia tetap terhubung saat harus menjaga jarak, melanjutkan pendidikan, menjaga kesehatan, dan melakukan pekerjaan secara produktif.

    Di kawasan Asia Pasifik, permintaan untuk 4G, 5G, dan akses broadband meningkat pesat.

    Echo dan Bifrost akan mendukung pertumbuhan lebih lanjut bagi ratusan juta orang dan mendukung jutaan bisnis.

    “Kami juga memahami bahwa ekonomi berkembang pesat ketika ada internet yang dapat diakses secara luas untuk sektor usaha,” katanya.

    Facebook melanjutkan, investasi ini memberikan peluang untuk meningkatkan konektivitas pada Indonesia bagian tengah dan timur, memberikan kapasitas yang lebih besar, dan keandalan yang lebih baik untuk infrastruktur telekomunikasi berskala internasional di Indonesia.

    “Kami sangat senang dapat bermitra dengan perusahaan Indonesia seperti Telin dan XL Axiata, serta Keppel yang berbasis di Singapura, dalam proyek ini,” tambahnya.

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi proyek Facebook ini.

    Diharapkan, proyek tersebut dapat membantu kebutuhan internet masyarakat Indonesia.

    “Ke depannya ingin kabel-kabel fiber optik itu langsung dari Jakarta ke final destination, ini akan mendukung pengembangan Peta Jalan Digital Indonesia, meningkatkan literasi digital warga negara, meningkatkan konektivitas di seluruh wilayah kepulauan Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai hub digital di kawasan,” katanya.

    “Kabel bawah laut akan berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menciptakan ekosistem internet yang lebih terbuka dan inklusif,” pungkas Luhut.

    Proyek Bifrost

    Untuk proyek kabel bawah laut Bifrost ini, Facebook bekerjasama dengan Keppel Telecommunications & Transportation Limited (Keppel T&T), melalui anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, Keppel Midgard Holdings Pte. Ltd. (KMH), anak perusahaan Facebook Inc. (Facebook) dan PT. Telekomunikasi Indonesia International (Telin), anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

    Sistem Kabel Bifrost, sistem kabel bawah laut pertama di dunia yang secara langsung menghubungkan Singapura, Filipina, Guam, dan pantai barat Amerika Utara melalui Indonesia yang melewati Laut Jawa dan Laut Sulawesi. Diharapkan selesai pada tahun 2024 dan mencakup lebih dari 15.000 km.

    Saat ditugaskan penuh, Sistem Kabel Bifrost kinerja tinggi yang dipasangkan dengan banyak serat juga akan menjadi kabel transmisi kecepatan tinggi berkapasitas terbesar di seluruh Samudra Pasifik.

    Sistem kabel Bifrost akan menggabungkan peralatan transmisi kapal selam optik canggih, yang menguntungkan pemerintah dan bisnis di kawasan itu, termasuk operator cloud, operator telekomunikasi, penyedia jaringan, penyedia over-the-top (OTT), pusat data, pemerintah, perusahaan, dan konsumen dengan menawarkan harga yang kompetitif dan ketahanan kapasitas.

    Proyek Echo

    Untuk proyek Echo, Facebook melalui Alphabet Google menggandeng XL Axiata. Proyek ini nanti nya akan menjadi yang pertama menghubungkan Singapura langsung ke AS, dengan pemberhentian di Indonesia dan Guam dalam perjalanan ke Eureka, California. Rencananya akan selesai pada tahun 2023, setahun lebih dahulu dibandingkan dengan proyek Bifrost.

    Pembangun 2 proyek kabel bawah laut ini juga dapat menjadi solusi atas permintaan bandwidth data global yang terus meningkat bahkan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, peningkatan adopsi cloud, pertumbuhan eksponensial dalam penggunaan perangkat seluler, dan penyebaran 5G, lonjakan permintaan bandwidth yang lebih besar menyoroti dampak kritis kabel bawah laut terhadap konektivitas global.

    Selain itu, terdapat peningkatan permintaan untuk kapasitas lebih melalui kawasan Pasifik karena signifikansi dan pertumbuhan pasar Asia. Di Asia Pasifik sendiri, menurut Cisco Annual Internet Report (2018 – 2023), jumlah pengguna internet diperkirakan mencapai 3,1 miliar pengguna pada 2023, dari 2,1 miliar pengguna pada 2018.

    Sistem kabel terbuka ini akan memenuhi kebutuhan konektivitas yang berkembang di kawasan Asia Tenggara dengan menyediakan tidak hanya konektivitas langsung tanpa batas ke Amerika Utara, dan latensi rendah, tetapi juga keragaman jaringan.

    Bagi Facebook, proyek ini masuk dalam investasi sebelumnya di Indonesia, salah satu pasar terbesar Facebook.

    Pada 2020 lalu, Facebook mengatakan akan menggelar 3.000 km serat optik untuk menghubungkan lebih dari 1.000 titik jaringan di Bali, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Jika pemasangan selesai, kabel fiber tesebut akan menyediakan layanan akses internet cepat ke lebih dari 10 juta orang di Indonesia.

    Selain itu, Facebook juga bekerja sama dengan BaliTower, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi dan infrastruktur di Indonesia untuk menyediakan layanan WiFi yang cepat dan terjangkau.

    Facebook juga mengembangkan teknologi bernama Terragraph, teknologi nirkabel yang dirancang untuk memenuhi permintaan akses internet berkecepatan tinggi di lingkungan perkotaan dan pinggiran kota.

    Sebelumnya, Facebook bermitra dengan Alita, perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi di Indonesia, untuk membangun jaringan fiber sepanjang 3.000 km di 20 kota di Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. (Icha)

  • 158 Daerah Terpencil Di Jawa Barat Bakal Bisa Akses Internet!

    158 Daerah Terpencil Di Jawa Barat Bakal Bisa Akses Internet!

    Telko.id – Akhirnya, ada 158 desa terpencil di wilayah Jawa Barat dapat akses internet, seperti konten-konten edukasi, serta dalam mengoptimalkan tingginya potensi ekonomi digital di  daerah tersebut.

    Hal ini merupakan hasil dari proyek Desa Pintar yang dipelopori oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) bertujuan untuk menjembatani kesenjangan digital, serta membuka akses beragam layanan bagi warga masyarakat pedesaan di Indonesia, seperti layanan e-government maupun layanan-layanan penting lainnya.

    Yang mengerjakan adalah Dwi Tunggal Putra (DTP) dengan SES Networks. Melalui perjanjian yang disusun dalam skema multitahun ini, kapasitas throughput tinggi yang dihasilkan oleh satelit SES-12 akan dimanfaatkan oleh DTP guna mendukung proyek Desa Pintar Kementerian Komunikasi dan Informatika dan memenuhi kewajiban layanan universal (universal service obligation – USO) pemerintah.

    SES Networks sendiri saat ini telah menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan proyek kapasitas melalui sewa oleh BAKTI menggunakan SES-12 ground station di Indonesia.

    Dari survei berskala nasional yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) terungkap bahwa meskipun penetrasi internet secara nasional telah meningkat secara signifikan, namun masih terdapat kendala terkait belum meratanya akses internet antara wilayah perkotaan dengan pedesaan, apalagi masih terdapat lebih dari 12.000 wilayah pedesaan yang belum tersentuh oleh teknologi 4G.

    Di sisi lain, menurut sebuah laporan yang diketengahkan oleh Google, Temasek and Bain, Indonesia saat ini merupakan negara dengan perekonomian digital terbesar di Asia Tenggara dan kondisi ini diprediksikan akan meningkat hingga tiga kali lipat di tahun 2025.

    Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat sebagian besar didorong oleh adanya peningkatan infrastruktur internet selama sepuluh tahun terakhir ditambah dengan makin menggeliatnya pertumbuhan perusahaan-perusahaan teknologi baru yang inovatif, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat akan akses internet dalam mendukung kegiatan bersosialisasi dan mengakses hiburan.

    Dengan menjembatani kesenjangan digital antara kawasan perkotaan dengan  pedesaan, diharapkan akan turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital sekaligus mendorong terwujudnya keadilan ekonomi bagi masyarakat pedesaan di seluruh Indonesia.

    “Konektivitas satelit sangat krusial perannya dalam menghadirkan akses internet bagi warga di wilayah pedesaan maupun kota-kota kecil di daerah terpencil Indonesia. DTP berkomitmen dalam menjembatani kesenjangan digital melalui penyediaan akses internet berkualitas tinggi bagi kelompok masyarakat tersebut, sehingga mereka kini bisa menikmati layanan-layanan pemerintah yang penting, seperti e-government, e-health, dan e-learning, serta beragam layanan lainnya. SES-12 menjadi pilihan bagi DTP berkat beragam keunggulan yang dimilikinya, seperti ketersediaan kapasitas throughput dan gateway operasional yang tinggi,” tutur Edi Sugianto, Chief Commercial Officer DTP.

    Edi Sugianto melanjutkan, “SES Networks sudah diakui reputasinya berkat kepiawaiannya di bidang layanan konektivitas satelit serta memiliki armada satelit dengan zona jangkauan primer di kawasan kita. Hal inilah yang menjadi pertimbangan kami dalam menjalin kemitraan dalam menghadirkan konektivitas hingga ke pelosok dan dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat tersebut. Kami berharap bahwa kemitraan yang kami jalin bersama SES dapat terus mendukung terwujudnya transformasi digital bagi masyarakat yang membutuhkan di seluruh pelosok tanah air, berkat hadirnya konektivitas ini.”

    “Menghadirkan layanan konektivitas konten yang handal melalui satelit bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah terpencil yang kurang terlayani di seluruh dunia merupakan tugas utama kami,” kata Harsh Verma, Regional Director of Sales untuk SES Networks Asia.

    “Di negara seluas Indonesia yang memiliki 17.000-an pulau dibutuhkan biaya yang besar untuk menghubungkan daerah-daerah hingga ke pelosok-pelosok, apalagi jika melalui infrastruktur darat. Selain memiliki jangkauan luas, satelit juga menawarkan beragam keunggulan lainnya, seperti lebih hemat biaya, aman, dan cepat untuk menghubungkan masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok tanah air. Kami sangat antusias dapat bekerja sama dengan DTP dalam proyek ini dan kami berharap pula bahwa kemitraan ini dapat turut meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal melalui tersedianya konektivitas yang lebih baik,” ungkapnya menambahkan.

    DTP mengontrak kapasitas substansial pada SES-12, sebuah satelit throughput tinggi (high throughput satellite – HTS) yang tangguh dan mengorbit di geostasioner (GEO), yaitu orbit geosinkron yang berada tepat di atas ekuator. SES-12 menjangkau hingga ke Timur Tengah dan Asia Pasifik dan dilengkapi 72 spot beam pengguna dengan throughput tinggi, serta enam beam regional.

    SES-12 dikembangkan secara khusus untuk mendukung aplikasi-aplikasi yang sarat dengan data, sebagai solusi hemat biaya yang mendukung di bidang penyiaran, operator konten, operator jaringan seluler, penyedia layanan internet, perusahaan, serta para pelanggan yang bergerak di bidang kemaritiman, penerbangan, hingga pemerintahan. (Icha)

  • Pemerintah Perkuat Akses Internet di NTB Dukung Pariwisata dan UMKM

    Pemerintah Perkuat Akses Internet di NTB Dukung Pariwisata dan UMKM

    Telko.id – Perkuat akses internet, kali ini pemerintah melakukan untuk wilayah Nusa Tenggara Barat khususnya di wilayah Mandalika. Target nya, untuk mendukung dan meningkatkan layanan di destinasi wisata serta pengembangan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

    “Kominfo sudah bangun 3 BTS tambahan di sana (kawasan pariwisata Mandalika NTB), sudah menyiapkan 78 titik-titik akses internet gratis yang langsung ke satelit,” ujar Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika menjelaskan dalam acara Karya Kreatif Indonesia 2021: Eksotisme Lombok Seri 1 yang berlangsung virtual dari Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta, Rabu (03/03/2021).

    Selain menghadirkan dukungan infrastruktur digital dengan perkuat akses internet, Kementerian Kominfo pun terus menggerakkan hampir semua operator seluler yang telah beroperasi di daerah strategis kepariwisataan Provinsi NTB.

    Menurut Johnny, Indonesia telah mampu beradaptasi dengan ekosistem teknologi komunikasi dan informasi. Oleh karena itu, Kementerian Kominfo hadir memberikan dukungan berupa perkuat akses internet bagi pariwisata dan UMKM.

    “Kegiatan virtual ini saja sudah memberikan gambaran bahwa Indonesia itu sangat adaptif dan sangat agility (adaptasi dengan teknologi komunikasi dan informatika), jelas sekali Kalau kita bisa memanfaatkan teknologi digital dan khusus untuk Mandalika NTB dan sekitarnya,” jelasnya. 

    Ditambahkan juga oleh Johnny bahwa dukungan penyediaan eksosistem digital merupakan sisi hulu, sehingga pemerintah juga ingin mendorong dari sisi hilir. “Nah hilirnya saya patut juga garisbawahi dan mendukung penuh Gubernur BI melalui aplikasi QRIS (QR Code Indonesian Standard),” jelasnya

    Menurut Menteri Kominfo aplikasi QRIS dari Bank Indonesia merupakan aplikasi terpusat untuk sistem pembayaran yang sangat membantu penjual, pembeli, produsen, merchant di seluruh Indonesia termasuk Provinsi NTB. Oleh karena itu, Ia mengajak semua pihak untuk memanfaatkan aplikasi tersebut melalui ruang digital yang lebih baik.

    “Saya juga tentu mendorong OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk membangun capital fencer untuk mendorong financial technology, untuk mendukung UMKM dan produksi-produksi technopark-nya NTB,” tandasnya.

    Kementerian Kominfo juga mendukung peningkatan sumber daya manusia di provinsi NTB melalui pendidikan vokasi maupun training atau pelatihan untuk pembangunan pariwisata. “Khususnya yang terkait dengan pemanfaatan ruang digital dalam rangka on boarding UMKM,”ujar Johnny.

    Melalui pembukaan Karya Kreatif Indonesia 2021 itu, Jhonny dengan bangga menggunakan tenunan khas NTB yang menurutnya sebagai bukti kekayaan kearifan lokal di Indonesia, “Saya juga mau buktikan betapa hebatnya local excellent yang ada di NTB, saya pakai tenunan hasil karya tangan tangan hebat di Nusa Tenggara Barat,” imbuhnya.

    Pembukaan Karya Kreatif Indonesia 2021: Eksotisme Lombok Seri 1 diawali dengan sambutan dari Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki, Menteri Kominfo Johnny G. Plate, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

    Selanjutnya, sambutan sekaligus arahan disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Bandjaitan dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Icha)