Telko.id – Tata Electronics, salah satu mitra manufaktur terbesar Apple di India, menginformasi telah mengalami insiden keamanan siber yang menyerang sebagian sistem internal perusahaan.
Meski operasional pabrik disebut tetap berjalan normal, sejumlah peneliti keamanan menemukan indikasi bahwa data sensitif milik pelanggan perusahaan, termasuk Apple dan Tesla, kemungkinan telah bocor ke internet.
Mengtip dari laporan BleepingComputer, juru bicara Tata Electronics mengatakan perusahaan mendeteksi insiden keamanan siber tersebut beberapa pekan lalu dan segera mengaktifkan protokol respon darurat.
“Beberapa minggu lalu, Tata Electronics mengidentifikasi insiden keamanan siber pada sebagian sistem kami. Protokol respons kami segera dijalankan dan insiden ini tidak berdampak pada operasional bisnis kami, yang tetap berjalan normal,” kata perwakilan perusahaan, dikutip Kamis (25/6/2026).
Menurut laporan Reuters, beberapa dokumen yang bocor bahkan memiliki label “proprietary” dan “trade secret”. Diantara file yang ditemukan terdapat dokumen spesifikasi komponen iPhone, standar inspeksi kualitas manufaktur, hingga dokumen yang berkaitad dengan proyek kendaraan Tesla.
Namun hingga saat ini belum ada bukti bahwa sistem Apple atau Tesla diretas secara langsung. Kebocoran diduga berasal dari lingkungan Tata Electronics sebagai pemasok dan mitra manufaktur kedua perusahaan tersebut.
Baca Juga:
- Malware Rokarolla Serang 217 Aplikasi Bank dan Kripto
- Indonesia Hadapi 170 Serangan Siber Per Detik, Ini Strategi Lindungi UMKM
Kelompok peretas bernama World Leaks mengklaim berhasil mencuri lebih dari 200.000 file dengan total ukuran sekitar 630 GB dari sistem Tata Electronics.
Data yang dipublikasikan di dark web tersebut disebut mencakup skema komponen internal, desain papan sirkuit cetak (PCB), spesifikasi material, hingga berkas software development kit (SDK) yang berkaitan dengan proses produksi perangkat Apple.
Kelompok tersebut sebelumnya juga dikaitkan dengan sejumlah insiden besar. Produsen komputer Dell mengonfirmasi pelanggaran keamanan yang melibatkan kelompok itu pada Juli 2025.
Selain itu, perusahaan pakaian olahraga Nike juga meluncurkan investigasi setelah World Leaks mengklaim mencuri sekitar 1,4 terabyte data perusahaan pada Januari 2026.
World Leaks sendiri dikenal sebagai penerus atau rebranding dari kelompok ransomware Hunters International yang menghentikan operasinya pada Juli 2025.
Berbeda dengan model ransomware tradisional yang mengenkripsi data korban, World Leaks beroperasi sebagai kelompok pemerasan berbasis pencurian data dengan ancaman publikasi informasi sensitif.
Insiden ini menjadi sorotan karena Tata Electronics memegang peran penting dalam rantai pasok teknologi global.
Bagi industri teknologi, serangan terhadap Tata Electronics menjadi pengingat bahwa keamanan rantai pasok digital kini sama pentingnya dengan keamanan sistem internal perusahaan.


