Telko.id – Sea, raksasa teknologi milik miliarder Singapura Forrest Li, akan menjadi perusahaan pertama di Asia Tenggara yang mengadopsi platform komputasi AI generasi berikutnya dari Nvidia, Vera Rubin, mengutip dari detikINET yang mengutip VN Express.
Sea, perusahaan berbasis Singapura yang menaungi Shopee, Garena, dan Monee, tidak mengungkap berapa banyak sistem yang rencananya akan dikerahkan ataupun nilai investasinya, namun langkah ini menegaskan dorongan Sea menjadi bisnis AI native, di mana teknologi AI semakin banyak digunakan di ketiga operasi utamanya.
Vera Rubin, Penerus Platform Blackwell
Vera Rubin merupakan platform AI generasi terbaru Nvidia, penerus dari lini Blackwell, dengan sistem pertamanya baru mulai dikirimkan pada paruh kedua 2026. Pengumuman kerja sama ini disampaikan di sela gelaran Nvidia AI Day Singapura, bersamaan dengan sejumlah proyek AI lain yang digarap Nvidia bersama perusahaan, lembaga publik, dan pusat riset di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:
- Node 14A Intel Dilirik Apple dan Nvidia, Ini Alasannya
- CEO Nvidia, Jensen Huang Tolak Wacana Regulasi Baru bagi AI
Sea sendiri bukan pemain baru di ekosistem Nvidia — perusahaan ini telah membeli akselerator Nvidia pertamanya pada 2018 untuk tim machine learning-nya, berinvestasi di setiap generasi sejak arsitektur Volta, dan tercatat sebagai pelanggan pertama di Asia Tenggara untuk sistem Nvidia DGX A100.
Penerapan AI di Tiga Lini Bisnis Sea
Di unit gaming Garena, karyawan telah membangun lebih dari 1.300 chatbot dan agen AI, serta mengembangkan rekan AI yang mampu memahami dan merespons pemain secara real time. Sementara itu, Shopee memanfaatkan AI untuk membantu penjual membuat daftar produk serta meningkatkan penemuan produk dan keterlibatan pelanggan, dengan tool pembuat konten berbasis AI yang disebut berkontribusi pada peningkatan konversi pembelian sebesar 14 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Di sisi layanan keuangan, Monee menggunakan AI untuk mendeteksi penipuan dan menilai risiko kredit penggunanya.
Strategi “Five-Layer AI Kueh Lapis”
Senior Director of Partnerships and Strategy Sea, Li Kuangli, menggambarkan strategi AI perusahaannya sebagai “five-layer AI kueh lapis”, meminjam analogi “lapisan kue lima tingkat” yang kerap digunakan CEO Nvidia Jensen Huang untuk menjelaskan industri AI, namun diadaptasi dengan nama kue lapis khas kawasan Asia Tenggara, sebagaimana dikutip dari Computer Weekly.
“Karena kami adalah perusahaan asal Singapura dan menganggap Asia Tenggara sebagai rumah kami, kami mengadaptasi kue AI lima lapis ini menjadi sesuatu yang lebih familiar bagi lidah lokal,” ujarnya. Sea disebut menjalankan hampir seluruh lapisan teknologi AI-nya sendiri, kecuali bagian chip, menjadikannya perusahaan yang benar-benar “full-stack” dalam ekosistem AI.
Ambisi Kapitalisasi Pasar USD 1 Triliun
Sea juga telah mendirikan AI Centre of Excellence di Singapura pada April 2026 untuk mengembangkan kemampuan AI dan menciptakan berbagai peran baru di sejumlah bidang. Dalam sebuah memo kepada karyawan pada Oktober 2025, CEO Sea, Forrest Li, menyebut bahwa AI dapat membantu perusahaannya mencapai kapitalisasi pasar hingga USD 1 triliun, menjadikan adopsi Vera Rubin sebagai salah satu langkah strategis dalam mewujudkan ambisi besar tersebut.


