Telko.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, menolak seruan agar pemerintah membuat regulasi baru untuk mengatur teknologi kecerdasan buatan yang berkembang semakin pesat, melansir dari Kompas pada Kamis, 17 September 2026. Menurutnya, regulasi baru untuk AI tidak diperlukan.
Huang menyampaikan pandangannya dalam konferensi Dreamforce 2026 yang digelar Salesforce di San Francisco, Amerika Serikat, pada Selasa, 15 September 2026, sekaligus dalam sebuah wawancara dengan Jim Cramer di tengah sengitnya perdebatan mengenai keamanan AI, sebagaimana dikutip dari CNBC.
Keselamatan AI Dianggap Masalah Rekayasa, Bukan Hukum
Meski sepakat bahwa masalah keamanan AI harus ditangani secara serius, Huang menilai perusahaan AI seharusnya mampu menyelesaikan tantangan tersebut secara mandiri lewat pendekatan teknis. “Gagasan bahwa kita butuh undang-undang baru, aturan antitrust baru, atau regulasi baru hanya agar perusahaan-perusahaan ini bisa menjalankan fungsi rekayasa dasar dan menguji produknya dengan benar sebelum dirilis itu sama sekali tidak perlu,” kata Huang. Ia menambahkan bahwa saat ini sudah ada banyak undang-undang dan regulasi yang mengatur keandalan serta fungsi sebuah produk.
Baca Juga:
- Zankore by Indosat Bangun Infrastruktur AI 100 MW Didukung NVIDIA
- Nvidia Segera Setop Dukungan Driver Game Windows 10
“Keselamatan adalah masalah rekayasa, bukan masalah hukum,” tegasnya, sebagaimana dikutip dari TechCrunch. Huang juga tidak sepakat dengan anggapan bahwa AI merupakan bentuk pikiran asing atau alien mind yang sulit dipahami manusia, dan menegaskan bahwa kecerdasan buatan tetap merupakan peranti lunak yang berjalan di atas sistem komputasi buatan manusia sehingga masih bisa dirancang, diuji, dan dikendalikan.
Sejalan dengan Sikap Trump, Berseberangan dengan Amodei
Sikap Huang ini sejalan dengan pendekatan hands-off Presiden Donald Trump terhadap regulasi AI. Huang bahkan sempat menegaskan langsung kepada Trump bahwa Nvidia “tidak akan membiarkan perlambatan AI terjadi.” Posisi ini justru berseberangan dengan seruan yang sebelumnya disuarakan CEO Anthropic Dario Amodei, yang meminta industri memperlambat laju pengembangan AI demi keselamatan, dan telah mendapat dukungan dari Elon Musk maupun Sam Altman.
Huang menempatkan proses engineering, pengujian, dan keputusan perusahaan sebagai mekanisme utama untuk menentukan kelayakan sebuah produk AI, sekaligus meyakini mekanisme pasar sudah memberikan insentif bagi perusahaan untuk tidak meluncurkan produk yang belum aman.
Kritik terhadap Pendekatan Serahkan-ke-Industri
Sikap Huang ini turut disampaikan dalam kutipan lain: “Kita tidak membutuhkan peraturan baru. Kita hanya perlu perusahaan untuk memutuskan kapan harus berlari secepat mungkin. Jadi, berlarilah secepat mungkin. Jika Anda merasa pada titik waktu tertentu perusahaan kehilangan kendali, atau produknya tidak akan aman, berhentilah sejenak dan pastikan Anda melakukannya dengan benar,” paparnya.
Meski demikian, pendekatan laissez-faire alias biarkan-industri-mengatur-diri-sendiri ini menuai sorotan dari berbagai pihak, mengingat sektor teknologi kerap mencatatkan rekam jejak kegagalan produk yang berdampak fatal, mulai dari insiden pemadaman perangkat lunak berskala global hingga gugatan hukum terkait dampak kesehatan mental pengguna, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah industri benar-benar mampu mengawasi dirinya sendiri tanpa campur tangan regulator eksternal.


