Telko.id – PT Infra Fiber Teknologi (IFT) melalui platform RAIA Grid, perusahaan infrastruktur digital hasil kolaborasi Arsari Group dan PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison), berencana membangun fasilitas perakitan GPU (GPU assembly) di Indonesia.
Fasilitas tersebut ditargetkan memulai produksi perdana pada Desember 2026 dengan kapasitas penuh 140–150 unit GPU per bulan mulai Januari 2027.
Yang perlu digarisbawahi, proyek ini merupakan fasilitas perakitan GPU, bukan pabrik yang memproduksi chip GPU atau wafer semikonduktor dari tahap awal. Komponen GPU akan dirakit menjadi perangkat yang siap digunakan untuk kebutuhan pusat data dan komputasi AI.
Deputy CEO & COO Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa IFT ingin membawa kemampuan manufaktur dan assembly teknologi ke Indonesia. Perusahaan tidak ingin hanya bermain di bisnis kabel fiber optik, tetapi juga masuk ke manufaktur perangkat keras yang mendukung perkembangan AI.
Saat ini perusahaan masih menyiapkan lokasi fasilitas di kawasan sekitar Jakarta dengan strategi menggunakan bangunan yang sudah tersedia.
Investasi US$22 Juta untuk Perakitan GPU
Untuk proyek manufaktur komponen semikonduktor tersebut, RAIA Grid menyiapkan belanja modal (capex) sekitar US$22 juta atau sekitar Rp389,6 miliar. Nilai tersebut merupakan investasi yang disebut untuk pengembangan komponen semikonduktor/GPU assembly, bukan total investasi seluruh bisnis RAIA Grid.
RAIA Grid juga sedang menyiapkan proyek infrastruktur lain, termasuk kabel bawah laut dengan investasi panel pertama mencapai sekitar US$192 juta atau Rp3,4 triliun.
Dengan demikian, nilai investasi yang telah diungkap untuk dua proyek tersebut mencapai sekitar Rp3,8 triliun. Namun, RAIA Grid belum mengungkap total keseluruhan investasi platform tersebut.
Director of Finance RAIA Grid, Hendra Purnama, mengatakan renovasi fasilitas diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 2,5–3 bulan. Dengan model tersebut, perusahaan menargetkan fasilitas sudah siap untuk melakukan produksi perdana pada Desember 2026.
Target Produksi dan Kebutuhan Pasar
Setelah produksi perdana pada Desember 2026, fasilitas tersebut ditargetkan mencapai kapasitas penuh mulai Januari 2027. Kapasitas yang dibidik mencapai sekitar 140–150 unit GPU per bulan.
Artinya, jika kapasitas 150 unit per bulan dapat dipertahankan sepanjang satu tahun, secara teoritis fasilitas tersebut dapat menangani sekitar 1.800 unit GPU per tahun.
RAIA Grid menyebut produk yang dirakit akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pusat data di berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan juga mengklaim sudah memiliki kontrak pembelian hingga lima tahun ke depan untuk produk yang dihasilkan fasilitas tersebut.
Sejumlah laporan media menyebut fasilitas tersebut akan menangani GPU NVIDIA kelas data center, tetapi terdapat perbedaan penyebutan model dalam laporan awal, antara lain H300 dan B300/Blackwell Ultra.
Untuk saat ini lebih aman menyebut proyek tersebut sebagai GPU assembly NVIDIA untuk kebutuhan AI dan data center, tanpa mengunci satu model tertentu sampai RAIA Grid atau NVIDIA memberikan konfirmasi spesifikasi produk secara resmi.
Pertumbuhan AI membuat kebutuhan GPU data center meningkat tajam. GPU menjadi komponen penting untuk menjalankan beban kerja AI, termasuk pelatihan dan inferensi model AI berskala besar.
Selama ini, sebagian kebutuhan GPU di kawasan Asia masih mengandalkan pasokan dari pusat manufaktur dan rantai pasok regional, termasuk Malaysia dan Amerika Serikat.
RAIA Grid melihat peluang untuk membawa sebagian aktivitas assembly tersebut ke Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan domestik, keberadaan fasilitas perakitan di dalam negeri diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi lebih banyak pemain rantai pasok semikonduktor dan teknologi AI global.
Dari Fiber ke AI Infrastructure
RAIA Grid baru saja resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur digital yang menggabungkan jaringan fiber, konektivitas, komputasi, data, dan AI.
Platform tersebut memiliki akses terhadap infrastruktur fiber sepanjang lebih dari 86.000 kilometer di Indonesia.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk menghubungkan berbagai elemen ekosistem digital, mulai dari pusat data, penyedia cloud, operator telekomunikasi, perusahaan, infrastruktur AI, hingga jaringan antardata center.
Masuknya RAIA Grid ke GPU assembly memperlihatkan perubahan arah bisnis IFT. Perusahaan tidak lagi hanya membangun digital superhighway melalui jaringan fiber, tetapi juga mencoba masuk ke sisi komputasi yang menjadi mesin utama perkembangan AI.
Model yang dibangun cukup terintegrasi: fiber menyediakan konektivitas, submarine cable memperluas koneksi internasional, data center menyediakan fasilitas komputasi, sementara GPU menjadi mesin pemrosesan AI.
Jika eksekusi berjalan sesuai rencana, fasilitas GPU tersebut dapat menjadi salah satu langkah awal Indonesia untuk meningkatkan kemampuan assembly hardware AI di dalam negeri.
Namun, perlu dicatat bahwa investasi US$22 juta tersebut bukan investasi untuk membangun pabrik chip GPU secara penuh. Tahap yang diumumkan saat ini adalah perakitan GPU. Kemampuan memproduksi chip semikonduktor dari wafer hingga GPU jadi merupakan tahap manufaktur yang jauh lebih kompleks dan membutuhkan investasi serta ekosistem berbeda.
Langkah RAIA Grid ini sejalan dengan upaya membangun ekosistem AI yang lebih mandiri. Sebelumnya, Indosat juga aktif mendorong pengembangan AI di berbagai sektor. Sementara itu, kebutuhan perangkat dengan kecerdasan buatan juga semakin meluas, termasuk di segmen smartphone AI yang terus berkembang.
Aryo Djojohadikusumo menegaskan bahwa ambisi perusahaan bukan sekadar membangun konektivitas, tetapi juga menghadirkan komponen infrastruktur digital di Indonesia.
Dengan target produksi perdana Desember 2026 dan kapasitas penuh 140–150 unit per bulan mulai Januari 2027, proyek RAIA Grid akan menjadi salah satu perkembangan yang menarik untuk dipantau dalam upaya Indonesia membangun ekosistem AI dan infrastruktur digital nasional.


