spot_img
Latest Phone

Garmin dan PBESI Siapkan Timnas Menuju Asian Games 2026

Telko.id - Garmin melalui divisi ekosistem B2B, Garmin Health,...

POCO F9 Series Siap Meluncur 1 September, Ini Keunggulannya!

Telko.id - POCO siap memperkenalkan lini terbarunya, POCO F9...

POCO X8 Pro Series Siap Libas Semua Genre Game Berat

Telko.id - POCO X8 Pro Series resmi diposisikan sebagai...

Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Latihan Sesuai Kondisi Tubuh

Telko.id - Samsung resmi menghadirkan Galaxy Watch Ultra2 dan...

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

ARTIKEL TERKAIT

RAIA Grid Siapkan Investasi US$190 Juta Bangun Kabel Laut

Telko.id – RAIA Grid melalui PT Infra Fiber Teknologi (IFT) mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran pada infrastruktur konektivitas digital Indonesia.

Setelah berhasil mengoperasikan jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 86.000 kilometer, perusahaan kini menyiapkan pembangunan jaringan fiber submarine atau kabel bawah laut dengan investasi tahap pertama sekitar US$190 juta, setara sekitar Rp3,02 triliun.

Rencana strategis ini menjadi bagian dari ambisi RAIA Grid membangun “jalan tol digital” berkapasitas tinggi yang menghubungkan berbagai pusat data, penyedia cloud, hyperscaler, operator telekomunikasi hingga pelanggan korporasi di Indonesia.

Director of Finance RAIA Grid, Hendra Purnama, mengungkapkan bahwa perusahaan menyiapkan dua proyek besar dalam pengembangan infrastruktur teknologi.

Selain investasi sekitar US$22 juta untuk proyek manufaktur dan perakitan GPU, RAIA Grid mengalokasikan US$190 juta untuk pengembangan infrastruktur subsea pada fase pertama.

Meski demikian, RAIA Grid belum mengungkapkan secara rinci berapa kilometer kabel yang akan dibangun, titik landing station, maupun daftar rute yang menjadi prioritas dalam fase pertama.

Angka US$190 juta yang diumumkan saat ini merupakan nilai investasi tahap awal, bukan total investasi seluruh proyek kabel bawah laut RAIA Grid.

Proyeksi Operasional Kabel Laut RAIA Grid

Pengembangan jaringan submarine cable membutuhkan waktu yang relatif panjang. Berdasarkan keterangan manajemen, proyek tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 2,5 tahun hingga jaringan dapat terhubung dan beroperasi penuh.

Dengan proyek yang mulai dipersiapkan pada 2026, maka secara indikatif jaringan tersebut dapat ditargetkan memasuki tahap operasional sekitar 2028–2029.

Proses tersebut bergantung pada desain, survei laut, perizinan, pembangunan landing station, pemasangan kabel hingga integrasi dengan jaringan terrestrial. RAIA Grid sendiri belum mengumumkan tanggal commercial operation date (COD) secara resmi.

Rencana ini tentu menarik untuk dicermati, terutama karena Telko.id sebelumnya juga memberitakan proyek SKKL senilai US$350 juta yang digarap pemain lain. Keduanya menunjukkan geliat investasi infrastruktur bawah laut di Indonesia yang semakin kompetitif.

Integrasi dengan Jaringan Fiber Terrestrial

Rencana submarine cable ini tidak berdiri sendiri. RAIA Grid ingin mengintegrasikannya dengan jaringan fiber terrestrial yang sudah dikelola IFT. Saat ini, IFT mengoperasikan lebih dari 86.000 km jaringan fiber yang mencakup backbone, kabel bawah laut domestik dan jaringan akses.

Infrastruktur tersebut menjadi fondasi bagi model bisnis open-access RAIA Grid. Melalui jaringan tersebut, RAIA Grid membidik konektivitas untuk operator telekomunikasi, data center, cloud provider, hyperscaler, perusahaan dan pelanggan enterprise, infrastruktur 5G, FTTH, serta koneksi antardata center.

Kabel submarine yang sedang disiapkan akan menjadi perpanjangan dari jaringan fiber nasional, bukan proyek yang berdiri sendiri.

Pendekatan ini sejalan dengan tren industri, seperti yang terlihat pada pendaratan kabel laut NCC di Batam yang juga memperkuat konektivitas domestik.

Menghubungkan Indonesia dengan Dunia

Presiden Direktur RAIA Grid, Hendri Mulya Syam, menyebut visi perusahaan adalah membangun jalan tol digital yang menghubungkan ekosistem digital Indonesia, mulai dari satu pusat data ke pusat data lainnya hingga menghubungkan Indonesia dengan dunia.

Kabel bawah laut memungkinkan kapasitas data yang jauh lebih besar dibandingkan mengandalkan jaringan terrestrial atau satelit untuk konektivitas antarpulau dan internasional.

IFT sendiri menjadikan submarine fiber sebagai salah satu layanan utamanya untuk konektivitas antarpulau dan domestik dengan kapasitas tinggi, latensi rendah dan tingkat keandalan yang ditargetkan tinggi.

Langkah RAIA Grid ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai hub digital regional, sejalan dengan upaya NeutraDC memperkuat Indonesia sebagai AI hub yang pernah dilaporkan Telko.id sebelumnya.

Menopang Ekosistem AI Indonesia

RAIA Grid tidak hanya membangun jaringan fiber, tetapi mencoba mengintegrasikan tiga lapisan infrastruktur sekaligus, yakni konektivitas, komputasi dan AI. Di sisi konektivitas, perusahaan memiliki jaringan fiber 86.000 km dan menyiapkan proyek submarine cable.

Di sisi komputasi, RAIA Grid menyiapkan fasilitas perakitan GPU dengan investasi sekitar US$22 juta. Produksi perdana ditargetkan pada Desember 2026, dengan kapasitas penuh sekitar 140–150 GPU per bulan mulai Januari 2027. Rencana ini pernah diulas Telko.id dalam laporan tentang pabrik GPU RAIA Grid.

Sementara di sisi digital, RAIA Grid mengembangkan platform yang mengintegrasikan Machine Learning, AI dan Agentic AI untuk perencanaan jaringan, prediksi permintaan, optimalisasi rute fiber, pemeliharaan prediktif serta otomatisasi operasional.

Dengan pendekatan tersebut, submarine cable menjadi bagian penting dari infrastruktur yang dibutuhkan untuk membawa trafik data dari pusat komputasi ke berbagai wilayah Indonesia.

Dampak bagi Industri Telekomunikasi

Jika terealisasi, investasi US$190 juta ini berpotensi memperkuat persaingan di bisnis infrastruktur digital Indonesia. Model open-access yang digunakan RAIA Grid memungkinkan jaringan tersebut tidak hanya digunakan oleh satu operator. Infrastruktur dapat ditawarkan kepada operator telekomunikasi, data center, cloud provider, hyperscaler maupun perusahaan.

Model ini juga sejalan dengan posisi IFT sebagai platform fiber digital independen. Perusahaan dibentuk melalui kemitraan Indosat Ooredoo Hutchison dan Arsari Group untuk mengelola jaringan fiber dan memperluas bisnis wholesale connectivity di Indonesia.

Bagi industri data center dan AI, keberadaan jaringan berkapasitas besar menjadi semakin penting karena kebutuhan pertukaran data dan komputasi terus meningkat.

Tantangan Eksekusi Proyek

Meski investasi US$190 juta tergolong besar, tantangan proyek submarine cable bukan hanya soal pendanaan. RAIA Grid harus menyelesaikan berbagai tahapan mulai dari survei dasar laut, penentuan rute, perizinan, pembangunan landing station, pengadaan kabel, pemasangan, pengujian hingga integrasi dengan jaringan darat.

Indonesia memiliki karakter geografis yang kompleks. Kabel harus melewati wilayah kepulauan dengan kondisi dasar laut dan risiko geologis yang berbeda-beda. Keberhasilan proyek akan sangat bergantung pada pemilihan rute, desain redundansi jaringan serta kemampuan mengintegrasikan kabel laut dengan backbone fiber yang sudah dimiliki.

Pengalaman pemeliharaan infrastruktur bawah laut di Indonesia menunjukkan pentingnya perencanaan matang. Telko.id sebelumnya melaporkan upaya restorasi kabel laut Palapa Ring yang menjadi pelajaran berharga bagi pengelola jaringan baru.

Membangun Superhighway Digital Indonesia

Dengan investasi awal US$190 juta atau sekitar Rp3 triliun, proyek fiber submarine RAIA Grid menjadi salah satu komponen penting dalam ambisi perusahaan membangun infrastruktur digital berkapasitas tinggi di Indonesia.

Target akhirnya bukan sekadar menyediakan kabel bawah laut, melainkan membangun ekosistem infrastruktur AI end-to-end yang menggabungkan jaringan fiber, submarine cable, data center, GPU dan platform berbasis AI.

Jika jadwal sekitar 2,5 tahun dapat dipenuhi, jaringan tersebut berpotensi mulai memberikan kontribusi pada konektivitas digital Indonesia sekitar 2028–2029.

Namun, RAIA Grid masih perlu mengumumkan detail rute, panjang kabel, lokasi landing station, kapasitas sistem dan jadwal COD untuk memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai proyek ini.

US$190 juta merupakan investasi fase pertama, sementara skala investasi dan pengembangan jaringan RAIA Grid dalam jangka panjang masih berpotensi bertambah seiring kebutuhan data center, cloud dan AI di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU