Tag: Kabel Laut

  • Kabel Laut Pukpuk, Telkom Hubungkan Indonesia-Papua Nugini

    Kabel Laut Pukpuk, Telkom Hubungkan Indonesia-Papua Nugini

    Telko.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), resmi mengoperasikan Sistem Kabel Laut Pukpuk (Puk-Puk 1).

    Proyek kolaborasi dengan PNG DataCo ini diresmikan di Telkom Witel Jayapura, Papua, pada Jumat (8/5). Infrastruktur ini menjadi jembatan digital pertama yang langsung menghubungkan Indonesia dengan Papua Nugini.

    Peresmian dihadiri oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Angga Raka Prabowo, Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini, Direktur Wholesale and International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Wakil Konsulat Papua Nugini di Jayapura Leon Galemo, dan Gubernur Kepala Daerah Papua yang diwakili L. Christian Sohilait. Acara ini juga disaksikan oleh Plt. CEO Telin Kharisma dan CEO PNG DataCo Paul Komboi.

    Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Angga Raka Prabowo, dalam sambutannya menekankan pentingnya percepatan transformasi digital.

    “Program kerja prioritas nasional menekankan pentingnya percepatan transformasi digital dalam pemerataan pembangunan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa konektivitas harus dibangun secara merata dan berkelanjutan agar Kawasan Timur Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam ekosistem ekonomi digital.

    Angga juga memberikan apresiasi kepada TelkomGroup. “Pukpuk Cable yang dibangun oleh TelkomGroup menjadi bagian penting dalam menciptakan pemerataan konektivitas yang lebih andal, resilien, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di Indonesia Timur, Papua Nugini, maupun seluruh penjuru negeri,” pungkasnya.

    Sistem kabel laut Pukpuk merupakan kabel lintas batas (cross-border) pertama di kawasan Asia-Pasifik yang menghubungkan jaringan Indonesia dengan Papua Nugini secara langsung. Landing station di Jayapura yang dioperasikan oleh Telin menjadi gerbang konektivitas menuju Kumul Telkom Holdings milik Papua Nugini.

    Kapasitas dari kabel internasional SEA-US akan dialirkan ke provinsi-provinsi terpencil di Papua Nugini melalui Vanimo.

    Kehadiran kabel ini membuat Jayapura kini memiliki dua jalur konektivitas internasional yang mandiri. Jalur pertama menghubungkan wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua. Jalur kedua—yang baru diresmikan—menghubungkan Vanimo, Papua Nugini, ke Jayapura, kemudian tersambung ke Manado hingga Los Angeles (LA), Amerika Serikat melalui kabel SEA-US.

    Adanya jalur alternatif ini menjadikan infrastruktur digital Papua lebih tangguh karena memiliki diversity route yang menjamin kelangsungan layanan.

    Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan komitmen perusahaan. “Dengan Pukpuk, TelkomGroup tidak hanya memperkuat infrastruktur digital di Papua, tetapi juga membuktikan bahwa Indonesia Timur adalah bagian integral dari ekosistem konektivitas global,” ujar Dian.

    Content image for article: TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk Hubungkan Indonesia-Papua Nugini
    Content image for article: TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk Hubungkan Indonesia-Papua Nugini

    Ia berharap inisiatif ini dapat memperkuat konektivitas Indonesia Timur serta membuka peluang kolaborasi digital di tingkat regional maupun global.

    Telin memainkan peran sentral dalam proyek ini, mulai dari perencanaan hingga komersialisasi. Fasilitas landing station di Jayapura menjadi simpul kritis yang menghubungkan kapasitas kabel internasional SEA-US dengan jaringan nasional Papua.

    Telin juga bertindak sebagai mitra strategis PNG DataCo untuk memastikan kualitas layanan dan keandalan sistem kabel lintas negara ini.

    CEO PNG DataCo Paul Komboi menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, kedekatan geografis antara Indonesia dan Papua Nugini sudah seharusnya diiringi dengan konektivitas digital yang kuat.

    Ia menilai kabel laut Pukpuk bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan awal dari penguatan hubungan dan integrasi digital yang lebih erat antara kedua negara.

    Proyek ini sejalan dengan upaya TelkomGroup memperkuat jaringan di Papua. Sebelumnya, Telkom melalui Telkomsat juga menargetkan internet cepat di 1.000 lokasi di Indonesia Timur.

    “Kabel Pukpuk adalah bukti nyata bahwa TelkomGroup melalui Telin mampu menjembatani kesenjangan digital antar negara. Kami bangga menjadi bagian dari sejarah konektivitas kawasan Asia-Pasifik dan berkomitmen untuk terus menghadirkan infrastruktur digital berkelas dunia demi masa depan yang lebih terhubung,” tutup Dian.

    Dengan hadirnya kabel laut Pukpuk, Jayapura kini menjadi pusat konektivitas Papua yang siap mendukung pertumbuhan ekonomi digital kawasan.

    Infrastruktur ini juga membuka koridor konektivitas baru menuju Asia-Pasifik, memperkuat hubungan bilateral, dan mendorong perluasan akses digital di wilayah perbatasan.

    Ke depannya, kolaborasi antara Telin dan PNG DataCo diharapkan dapat membuka peluang pengembangan konektivitas lebih lanjut di kawasan. (Icha)

  • Telkom Bangun Kabel Laut Hubungkan Indonesia ke Timur Tengah

    Telkom Bangun Kabel Laut Hubungkan Indonesia ke Timur Tengah

    Telko.id e&, Telecom Egypt, Telin selaku anak usaha Telkom, dan operator besar asal India telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) baru untuk membentuk konsorsium dengan tujuan mengembangkan Proyek Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) ICE IV.

    Sistem Data Center (DC) ke DC ini akan menghadirkan rute unik yang menghubungkan wilayah Intra Asia ke India dan Timur Tengah.

    Membentang sepanjang 11.000 km, sistem baru tersebut akan menggunakan teknologi kabel terbuka terbaru dan subsea ROADMs untuk menghubungkan Indonesia dan Singapura ke India, Oman, Mesir, dan Uni Emirat Arab.

    Proyek ICE IV akan mengadopsi rute yang benar-benar baru melalui Selat Sunda dan menjadi kabel internasional pertama yang mendarat di Kochi, India dalam beberapa dekade; menawarkan rute alternatif yang resilient dan gerbang internasional baru.

    Baca juga : Telkom Siap Luncurkan Satelit Baru Februari Mendatang

    Ekstensi darat yang sedang dipertimbangkan juga mencakup koneksi antara Timur Tengah dan Mesir, serta antara Kochi dan Chennai, yang membuat Proyek ICE IV ini unik. Proyek ICE IV ditargetkan siap beroperasi pada kuartal keempat tahun 2027.

    Dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan permintaan, bersamaan dengan kelangkaan inventaris, telah membuat pasar bandwidth global berkembang dan menjadi pendorong utama pembangunan SKKL baru.

    Seiring perkembangan konektivitas SKKL, desain PoP ke PoP menetapkan standar baru, di mana arsitektur ini melayani kebutuhan penyedia konten dan konsumen data besar dengan lebih baik.

    Proyek ICE IV akan mengadopsi prinsip-prinsip ini untuk menyediakan konektivitas yang mulus, bandwidth yang besar, dan keberagaman keamanan jaringan.

    Milestone besar untuk proyek ini terjadi saat event Capacity Middle East yang bergengsi di mana MoU ditandatangani oleh top manajemen dari empat perusahaan terkemuka; Nabil Baccouche – Group Chief Carrier & Wholesale Officer di e&, Seif Mounib – Vice President of International and Wholesale di Telecom Egypt, Budi Satria Dharma Purba – Chief Executive Officer (CEO) di Telin, dan operator India.

    Momen penandatanganan ini menunjukkan komitmen semua pihak untuk berinvestasi dan mengembangkan pasar bandwidth global guna melayani pelanggan lebih baik.

    “Melalui Proyek ICE IV, kami mendefinisikan ulang peta konektivitas, mendekatkan benua lebih dari sebelumnya, dan membuka akses bandwidth untuk miliaran orang,” kata Nabil Baccouche, e& Group Chief Carrier and Wholesale Officer.

    Dengan komitmen tersebut, Baccouche menyebutkan membuat perusahaannya menjadikan SmartHub sebagai lokasi pilihan neutral carrier hub terbesar, Proyek ICE IV akan mempercepat konektivitas.

    “Sistem DC ke DC yang baru akan memungkinkan kami meningkatkan kemampuan dan kapasitas global lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan yang terus berkembang dari pelanggan di seluruh Eropa, Timur Tengah, Afrika, Asia, dan Amerika,” ujar Baccouche menambahkan.

    Semenjak evolusi serat optik subsea lebih dari 30 tahun yang lalu, Telecom Egypt telah menjadi bagian penting untuk mendukung pembangunan proyek SKKL, khususnya yang menghubungkan Asia Tenggara ke Eropa.

    “Rute khusus ini dianggap sebagai infrastruktur inti yang menghubungkan benua terbesar, dan salah satu rute SKKL utama yang terus berkembang,” kata Mohamed Nasr, Managing Director dan CEO di Telecom Egypt mengomentari.

    Mohamed Nasr pun menambahkan bahwa menjadi anggota pendiri “ICE IV” adalah bukti dari keyakinan mereka akan pentingnya infrastruktur vital ini.

    “Kami menyediakan akses terbuka untuk lebih dari 20 kabel SKKL yang mendarat di Mesir dengan infrastruktur transit internasional yang unik dan berstandar tinggi yang akan menjadi bagian dari desain yang telah direncanakan,” ujar Mohamed Nasr menambahkan.

    Selain itu, Proyek ICE IV akan memungkinkan kami memperluas jangkauan dan diversifikasi lebih lanjut bagi portofolio infrastruktur SKKL kami untuk secara cepat mengatasi permintaan konektivitas global yang terus tumbuh.

    “Pelanggan saat ini menuntut pengalaman terbaik yang mendorong provider untuk berinovasi dan membangun jaringan dengan latensi yang rendah pada rute yang beragam dan unik. Hal tersebut mendorong Telin untuk menjadikan Indonesia sebagai hub masa depan di kawasan Indo-Pasifik,” ujar Budi Satria Dharma Purba, CEO Telin.

    Menurut Budi, langkah strategis ini dapat menciptakan peluang baru untuk semua sistem kabel ICE dengan mengintegrasikannya dengan negara-negara dan sistem yang relevan. Indonesian Cable Express pun akan menjadi jembatan.

    “Inisiatif Telin dalam proyek ICE memastikan struktur biaya yang efisien dan implementasi yang lebih cepat. Proyek ICE melibatkan 7 sistem kabel terpisah yang menghubungkan Indonesia ke semua pasar potensial,” sahut Budi menambahkan.

    Selama 5 tahun mendatang, pembangunan akan dimulai, masing-masing sesuai dengan 4 prinsip dasar: Akses DC ke DC, Latensi Ultra Rendah, Landings yang Berbeda, dan Rute Unik. (Icha)

  • XL Axiata Perkenalkan SKKL BaSICS di Batam dan Pontianak

    XL Axiata Perkenalkan SKKL BaSICS di Batam dan Pontianak

    Telko.id – XL Axiata Business Solutions (XLABS) mengenalkan Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut (SKKL) Batam Sarawak International Cable System (BaSICS) kepada pelaku usaha di Batam dan Pontianak, Kalimantan Barat, belum lama ini.

    Hadir dalam acara ini Chief Enterprise Business Officer XL Axiata, Feby Sallyanto, Chief Corporate Affairs XL Axiata, Marwan O. Baasir, Group Head Wholesale and Reseller XL Axiata, Alwin Syahriadi, Executive Director IRIX Sdn. Bhd, Sng Wei Kai, dan CEO IRIX Sdn. Bhd, Jonathan Smith.

    Keberadaan SKKL BaSICS ini merupakan solusi dari XL Axiata melalui XLABS sebagai mitra layanan ICT terpercaya bagi para pelaku usaha di kedua area tersebut untuk bisa lebih mengembangkan lagi bisnis mereka.

    Terutama usaha berbasis layanan digital yang membutuhkan akses lebih luas dan jaringan international yang baru, yang juga memiliki sejumlah keunggulan, yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh para pelaku usaha di Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat, khususnya dan umumnya di Sumatera serta Kalimantan.

    Baca juga : XL Axiata Perkuat Infrastruktur Internet Cepat di IKN

    SKKL BaSICS memberikan koneksi internet melalui SKKL antara Sumatera – Batam – Kalimantan – Sulawesi dengan performancy dan latency yang lebih cepat. SKKL ini juga menjadi alternative gateway international bagi jaringan internet Indonesia untuk terhubung langsung ke luar negeri yaitu menuju Kuching di Sarawak dan Hongkong.

    Selain aman dari jalur gempa, SKKL ini juga menambah keragaman alternatif koneksi ke beberapa POP/HUB di Asia, yang juga akan akan mendukung kebutuhan jaringan internet berkualitas tinggi untuk Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur.

    Workshop dan Innovation update yang diadakan di Batam dan Pontianak dihadiri oleh ISP dan Digital Partner yang membutuhkan jaringan domestik dan international. Beberapa materi workshop yang disampaikan mengenai infrastruktur, kapasitas dan kualitas jaringan.

    Jaringan koneksi  yang baru untuk dometik dan international, International POP Kuching dan Hongkong. Koneksi antara pulau pulau besar Indonesia di Sumatera dan Kalimantan. Dukungan atas pelaku usaha internet dan digitalisasi. Sejak mulai dioperasikan pada 1 Juni 2022.

    XL Axiata mengambil langkah strategis dengan membangun proyek SKKL BaSIC dengan menghubungkan Batam di Indonesia dan Kuching di Malaysia yang selanjutnya terhubung melalui kabel darat ke Pontianak di Kalimantan Barat.

    Sesuai dengan komitmen XL Axiata menyediakan infrastruktur untuk akses internet global yang lebih baik. Dengan demikian, keberadaan kabel bawah laut yang baru ini juga menjadi bagian dari upaya XL Axiata mendukung visi pemerintah dalam mendorong pemanfaatan teknologi digital oleh masyarakat Indonesia melalui jaringan yang internet cepat yang berkualitas tinggi.

    Pembangunan kabel dimulai pada tahun 2021, dapat digunakan pada tanggal 1 Juni 2022 dan sudah terkoneksi penuh ke Pontianak di akhir tahun 2023 ini. Dalam implementasi nya, XL Axiata berkerjasama dengan partner di Sarawak, Malaysia yaitu PT. Telecommunication Sdn Bhd (IRIX). 

    SKKL BaSIC membentang lebih dari 700 km. SKKL BaSIC ini akan mengaktifkan  mencapai kapasitas maksimum 48 Tera. 

    Manajemen XL Axiata yakin jaringan dengan kapasitas besar dan relatif aman dari jalur gempa ini akan cukup menarik secara komersial seiring dengan pesatnya pertumbuhan trafik data saat ini dan di masa mendatang. Keberadaan SKKL BaSICS ini memberikan dampak langsung pada kualitas layanan internet bagi pelanggan dan pelaku usaha. (Icha)

  • Kabel Laut Biak-Jayapura Putus, Telkom Percepat Upaya Recovery

    Kabel Laut Biak-Jayapura Putus, Telkom Percepat Upaya Recovery

    Telko.id – Kabel Laut Biak-Jayapura Putus, sudah terjadi sejak tanggal 30 April 2021 lalu. Tepat nya pada pukul 19.40 WIB atau pukul 21.40 WIT. Sampai saat ini, pemulihan terhadap gangguan itu terus dilakukan oleh Telkom agar bisa pulih seperti sediakala. Namun, saat ini pun, jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut tidak Black Out Total.

    Memang diakui oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate bahwa putusnya kabel laut tersebut berdampak pada total trafik dari normal sistem komunikasi di seluruh Papua sekitar 154 Gbps dari total traffic di Papua sebesar 464 Gbps, atau yang terdampak hanya sepertiga dari total traffic.

    “Saya perlu tekankan ini karena ada kesan seolah-olah putusnya kabel tersebut mengakibatkan total black out di Papua, tidak betul. Yang betul terdampak pada 154 dari total 464 Gbps,” tegasnya dalam Konferensi Pers di Ruang Media Center Kantor Kementerian Kominfo, Senin, Jakarta (07/06/2021).

    Johnny menjelaskan area atau daerah yang terdampak gangguan di Papua berada pada 4 titik. “Yaitu Kota Jayapura, Abepura, Sentani, dan Sarmi. Bukan di seluruh Papua,” tandasnya.

    Gangguang tersebut terjadi karena faktor utama nya adalah faktor alam. Tepatnya pada posisi 280 kilometer dari kota Biak dengan kedalaman 4.050 meter di bawah permukaan laut (Mdpl). Hal ini pun diakui oleh Johnny bahwa bukan yang pertama kali. Putusnya Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) diwilayah ini sudah terjadi lima kali.

    “Empat kejadian sebelumnya diakibatkan oleh faktor alam, dan satu akibat dari alat bantu penangkapan ikan. Sehingga, dapat kami simpulkan sementara sebelum nanti keputusan atau evaluasi akhir disampaikan kepada media, yaitu potensi diakibatkan oleh faktor alam,” ungkap Johnny.

    Siapkan untuk PON Papua

    Guna mengatasi dan menanggulangi kejadian tersebut, Menteri Johnny menegaskan Kementerian Kominfo telah melakukan koordinasi secara terus menerus dengan Telkom dalam upaya penanganan dan pemulihan jaringan di wilayah terdampak.

    “Berdasarkan informasi yang kami peroleh, kapasitas backup yang tersedia seluruhnya sebesar 4,7 Gbps. Sekali lagi, yang terdampak 154 kapasitas backup seluruhnya 4,7 Gbps,” tandasnya.

    Adapun kapasitas 4,7 Gbps itu ditunjang dari pemanfaatan link satelit sebesar 2.662 Mbps, radio long haul Palapa Ring Timur 500 Mbps atau setengah Gbps, dan radio long haul Sarmi-Biak 1,6 Mbps atau 1,6 Gbps. Sedangkan untuk mengamankan kualitas link pada saat proses penyambungan, PT Telkom juga menyediakan backup link, khususnya untuk wilayah Manokwari dan Biak sebesar 40 Gbps melalui Palapa Ring Timur.

    “Dengan demikian, harusnya kita pahami bahwa gangguan akibat terputusnya fiber optik itu 154 Gbps dan tersedia hanya 4,7 standby atau backup kapasitas. Sehingga belum memungkinkan pemulihan menyeluruh layanan telekomunikasi di wilayah 4 titik tersebut tekanannya di dasar laut,” jelas Johnny.

    Ia menambahkan bahwa untuk menanggulangi dan mengatasi gangguan telekomunikasi di kawasan itu, membutuhkan peralatan khusus  yaitu penggelaran kabel melalui kapal.

    “Sementara Indonesia hanya memiliki 4 kapal yang memungkinkan mampu melakukan penggelaran kabel bawah laut. Dua diantaranya tidak berfungsi, satu sedang melakukan overhaul dan maintenance, dan hanya tersisa satu kapal, dan saat ini satu kapal itulah yang digunakan oleh Telkom untuk menggelar, mengangkat kabel yang terputus, dan menyambung kabelnya, dilakukan di wilayah timur ke arah barat,” tuturnya.

    Johnny berharap pemulihan layanan atau selesainya penyambungan kabel bawah laut itu dapat dilakukan secepatnya. Meskipun pada awal bulan Mei lalu, Kementerian Kominfo telah menyampaikan perkiraan sekitar minggu pertama bulan Mei. 

    “Semalam saya dapat kabar dari Telkom yang mengatakan bahwa, seharusnya semalam sudah bisa diselesaikan. Namun, lagi-lagi terjadi  cuaca yang buruk di laut di sekitar wilayah terputusnya kabel. Sehingga, operasi pemulihannya masih membutuhkan waktu,” jelasnya.

    Oleh karena itu, Johnny berharap Telkom dapat menyelesaikan persoalan tersebut paling lambat dalam kurun waktu satu minggu kedepan. “Setidaknya di bulan ini pemulihan operasi ke kapasitas semula bisa dilakukan,” harapnya.

    Walau demikian, Telkom Indonesia sebetulnya telah menyiapkan rute-rute backup. Namun, akibat kondisi alam, permasalahan yang sama kembali terjadi. “Kalau dilihat gambar ini di peta, maka di wilayah itu sudah beberapa kali terjadi kabel terputus, disambung kembali putus lagi, disambung kembali putus lagi,” jelasnya.

    Bahkan, sebagai langkah mitigasi, PT Telkom telah menyiapkan rute di wilayah utara, yaitu dari Biak sampai sekitar Sorong sepanjang lebih dari 1.100 kilo meter kabel atau 1.141 km panjang kabel bawah laut. Rute itu telah dimulai pembangunannya sejak tahun 2020, dan diharapkan selesai pada kuartal pertama tahun 2022.

    “Jadi nanti di Papua ada 3 rute mencakup rute selatan, rute tengah dan rute utara. Sehingga ada transmisi data dari wilayah barat ke Papua dan dari Papua ke wilayah barat Indonesia,” jelasnya.

    Pemulihan kabel laut tersebut juga nantinya memberikan dukungan telekomunikasi pada saat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) tetap dapat dilakukan dengan baik. Sebab, proses pemulihannya sendiri sudah selesai dan akan ada koordinasi lintas operator seluler dengan kementerian Kominfo dalam rangka memberikan dukungan tersedianya bandwidth yang cukup untuk penyelenggaraan PON di Papua. 

    “Kami harapkan agar penggelaran fiber optik ini bisa selesai sehingga dukungan untuk transmisi data ke dan dari Papua bisa berlangsung dengan baik. Di saat yang bersamaan, pembangunan the last mile, BTS (Base Transceiver Station) oleh Kominfo di Papua akan dilakukan di tahun 2021 dan 2022 nanti untuk keseluruhan wilayah Papua. Kami berharap, bahwa sekitar 5000 BTS dapat digelar di Papua dan siap untuk melayani masyarakat di akhir tahun 2022 nanti,” tandasnya.

    Langkah Mitigasi

    Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah menjelaskan kendala teknis terputusnya kabel laut ruas Biak-Jayapuran. Menurutnya, pihaknya telah menyediakan backup secara bertahap untuk mengatasi masalah tersebut.

    “Sebenarnya backup kita sediakan bertahap, karena yang namanya satelit kapasitasnya tidak sebesar fiber optik, sehingga tidak mungkin backup-nya ini menggunakan satelit dan microwave bisa sebesar yang aslinya, 154 (Gbps) tadi,” ujar Ririek.

    Menurutnya, backup yang telah disiapkan itu masih untuk mengaktifkan layanan voice (suara) yang langsung tercover pada tanggal 30 April lalu sekitar pukul 22.30 WIB.

    “Selanjutnya, kita upaya menambah kapasitas backup dengan mengaktifkan lagi di satelit maupun di microwave dan juga ada fiber optik. Sehingga pada tanggal 17 Mei itu menjadi 4,7 gigabyte, seluruh layanan sebetulnya sudah recover tapi kapasitas atau speed belum kembali normal karena keterbatasan kapasitas backup yang hanya 4,7 giga,” jelasnya.

    Mengenai kapal yang digunakan untuk proses penyambungan kembali kabel bawa laut mengalami keterlambatan, Dirut Telkom menyatakan, sejak SKKL ruas Biak-Jayapura itu terputus pada tanggal 30 April, kapal baru bisa beroperasi di awal Juni.

    “Antara tanggal 1 sampai 18 Mei, kami melakukan pengurusan dan persiapan kapal yang juga harus berangkat dari titik awal keberadaannya menuju Makassar. Karena di Makassar lah kita tempat menyimpan untuk sper kabelnya, termasuk penyiapan awak dan sebagainya,” ujarnya.

    Kemudian, tim diberangkatkan menuju Makassar dan kemudian setelah menyiapkan berbagai kebutuhan, kapal diberangkatkan pada tanggal 19 Mei menuju Jayapura. “Jadi baru sampai di Jayapura akhir Mei, kemudian akhir Mei sampai hari ini adalah proses penyiapan untuk penyambungannya,” imbuhnya.

    Upaya Telkom Percepat Revovery

    Sebagai upaya untuk pemulihan layanan di Jayapura sebagai dampak putusnya kabel laut Sumatera Maluku Papua Cable System (SMPCS), Telkom telah memberangkatkan Cableship DNEX Pacific Link (DPL) yang akan melakukan penyambungan kabel laut SMPCS ruas Biak-Jayapura.

    Kabel laut SMPCS ini putus pada kedalaman 4.050 meter pada ruas Biak-Jayapura yang mengakibatkan terganggunya layanan di Jayapura dan sekitarnya.

    Kapal DPL merupakan kapal yang dirancang khusus untuk kebutuhan penggelaran dan pebaikan kabel laut. Kapal yang memiliki berat hingga 7.000 ton ini dilengkapi dengan teknologi terbaik seperti Dynamic Positioning 2 (DP2) untuk sistem otomatisasi dengan full redundance, Remote Operated Vehicles (ROV), dan plough. Kapal memiliki kemampuan operasi hingga kedalaman 10-6.000 meter dan dapat berlayar nonstop hingga 60 hari.

    Kapal DPL telah berada di lokasi titik putus sejak 30 Mei 2021 pukul 23:21 WITA dan telah melakukan analisis terhadap kondisi arus, kontur laut, dan pola pelayaran. Saat ini kapal sedang melakukan penarikan kabel arah Biak/Sorong, yang kemudian akan dilanjutkan untuk arah Jayapura.

    Kabel laut SMPCS menggunakan teknologi repeater dikarenakan jarak yang cukup jauh sehingga memerlukan tegangan tinggi. Saat proses penyambungan kabel nantinya, diperlukan pemadaman repeater namun tidak berdampak pada layanan karena sistem backup sudah disiapkan.

    Untuk menjamin kualitas layanan, khususnya bagi pelanggan di Biak dan Manokwari, Telkom telah menyiapkan backup link yang dapat memenuhi kebutuhan layanan dalam kondisi normal, di mana rata-rata trafik  untuk  link ruas Biak-Manokwari-Sorong mencapai 40 Gbps dengan waktu puncak terjadi pada pukul 20:00 hingga 22:00, sementara di waktu lainnya total trafik berada di bawah 40Gbps.

    Untuk itu Telkom telah menyediakan backup menggunakan ruas Palapa Ring Timur Biak-Manokwari-Sorong dan Nabire-Timika masing-masing 2×10 Gbps, sehingga total mencapai 40 Gbps. (Icha)