Telko.id – Industri smartphone global tengah menghadapi ironi besar pada 2026. Di tengah melonjaknya kebutuhan komputasi dan memori dunia akibat kecerdasan buatan (AI), konsumen justru menerima kabar sebaliknya: harga perangkat semakin mahal, pilihan smartphone murah menyempit, dan spesifikasi pada sejumlah segmen mulai dipangkas.
Vendor smartphone tidak berada dalam posisi nyaman. Harga komponen memori seperti DRAM dan NAND Flash melonjak tajam, sementara produsen chip memprioritaskan kapasitas untuk server dan infrastruktur AI yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Di sisi lain, konsumen juga tidak punya banyak alasan untuk tersenyum. Kenaikan biaya produksi diteruskan ke harga jual, tetapi pada kelas harga tertentu vendor justru mengurangi kapasitas RAM atau penyimpanan, menggunakan komponen display lebih murah, atau memperpanjang penggunaan platform chipset generasi sebelumnya.
Akibatnya, pasar smartphone global mengalami kontraksi. Menurut data final IDC yang diperbarui 28 Agustus 2026, pengiriman smartphone global pada kuartal II 2026 turun 7,4% secara tahunan menjadi 276,3 juta unit.
Ini merupakan kuartal kedua berturut-turut ketika pasar mengalami penurunan. IDC kini memperkirakan pengiriman smartphone sepanjang 2026 anjlok 16,7%, sementara harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) justru melonjak 27,6% menjadi US$581. Industri menghadapi situasi yang tidak biasa: unit terjual turun tajam, tetapi harga rata-rata naik.
Kondisi ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun. Krisis memori telah menekan pasar sejak kuartal pertama, dan proyeksi awal tentang penurunan pasar smartphone kini menjadi kenyataan yang lebih dalam dari perkiraan.
Krisis smartphone 2026 sebenarnya adalah krisis memori
Akar masalahnya bukan sekadar konsumen menunda membeli HP baru. Masalah yang lebih dalam terjadi di rantai pasok semikonduktor. Ledakan investasi AI membuat permintaan terhadap memori berkapasitas tinggi untuk data center meningkat sangat cepat.
Produsen memori juga mengalokasikan kapasitas lebih besar untuk HBM dan memori server, sementara pasokan memori konvensional yang digunakan smartphone menjadi lebih ketat.
IDC sebelumnya memperingatkan bahwa kekurangan memori global akan mengubah pasar smartphone dan PC pada 2026. Kapasitas produksi DRAM dan NAND diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan tren historis, masing-masing sekitar 16% dan 17% pada 2026.
Inilah yang kemudian menciptakan efek domino: AI membutuhkan memori, kapasitas bergeser ke produk bernilai tinggi, pasokan untuk perangkat konsumen mengetat, harga DRAM/NAND naik, biaya produksi smartphone naik, vendor menaikkan harga atau memangkas spesifikasi, konsumen menunda pembelian, dan pengiriman smartphone turun.
TrendForce mencatat tekanan yang sangat besar pada mobile DRAM. Pada kuartal II 2026, harga rata-rata solusi LPDDR4X diperkirakan melonjak setidaknya 70–75% secara kuartalan, sementara LPDDR5X naik sekitar 78–83% QoQ.
Memasuki kuartal III, kenaikannya mulai melambat, tetapi belum berarti krisis selesai. TrendForce memperkirakan harga mobile DRAM masih naik sekitar 8–13% QoQ pada 3Q26. Untuk DRAM secara umum, harga kontrak diproyeksikan naik 13–18% QoQ, sedangkan NAND Flash naik 10–15% QoQ.
Vendor terjepit dan konsumen dirugikan
Vendor smartphone terjepit dari dua arah. Jika harga tidak dinaikkan, margin tergerus. Jika harga dinaikkan, konsumen bisa menunda pembelian. Jika kapasitas RAM dan storage dipertahankan, biaya bill of materials semakin tinggi. Jika spesifikasi dipangkas, daya tarik produk turun.
Omdia memberikan gambaran betapa ekstremnya tekanan tersebut. Pada kuartal I 2026, biaya memori sudah menyumbang hampir 60% dari total BOM smartphone di bawah US$400. Untuk smartphone di bawah US$99, porsinya bahkan lebih dari 64%.
IDC menggunakan metodologi berbeda dan memberikan angka yang lebih agresif: biaya memori disebut telah naik hampir 300% dibandingkan setahun sebelumnya dan menyumbang lebih dari 65% BOM smartphone kelas bawah.
Perbedaan angka tersebut perlu dibaca sebagai perbedaan metodologi riset, bukan kontradiksi. Pesan besarnya sama: memori telah berubah dari sekadar salah satu komponen menjadi faktor biaya yang sangat dominan pada perangkat murah.
Secara historis, setiap generasi smartphone biasanya menawarkan lebih banyak RAM, storage lebih besar, kamera lebih baik, chipset lebih kencang, dan layar lebih canggih dengan harga yang relatif sama. Pola tersebut mulai retak.
Omdia menemukan bahwa kapasitas memori global smartphone memang masih meningkat karena perangkat premium terus mendapatkan upgrade. Pada kuartal I 2026, rata-rata smartphone global memiliki 8,3 GB DRAM dan 279 GB NAND storage, masing-masing naik dari 7,8 GB dan 253 GB setahun sebelumnya.
Namun angka global tersebut menyembunyikan persoalan penting. Smartphone premium naik kelas, sementara smartphone murah justru mundur. Omdia menyebut smartphone kelas rendah dan menengah mulai membekukan kapasitas memori pada level generasi sebelumnya atau menghilangkan varian dengan kapasitas lebih besar yang sebelumnya tersedia.
Akibatnya, rata-rata kapasitas DRAM untuk smartphone di bawah US$400 justru turun dibandingkan tahun sebelumnya. Kapasitas NAND pada kelas budget dan mid-range juga mengalami penurunan. Ini adalah bentuk specification rollback yang penting untuk dicermati: konsumen bisa membayar lebih mahal, tetapi belum tentu mendapatkan RAM dan storage lebih besar.
Pemangkasan spesifikasi tidak berhenti di RAM dan storage. Omdia mencatat vendor mulai mencari ruang penghematan pada komponen lain. Pada model kelas lebih tinggi, vendor dapat kembali menggunakan panel LTPS OLED pada sebagian perangkat yang sebelumnya menggunakan LTPO, menghemat sekitar US$3–US$5 per unit.
Pada kamera, vendor memiliki opsi menggunakan sensor gambar lebih kecil atau mengurangi jumlah kamera. Sementara pada chipset, vendor dapat memperpanjang penggunaan platform generasi sebelumnya, berpotensi memangkas biaya sekitar 30–40% pada komponen SoC tertentu.
Jadi, istilah “spesifikasi turun” perlu dipahami secara lebih luas. Bukan berarti semua smartphone baru tiba-tiba memiliki kamera buruk atau chipset lama. Yang terjadi adalah laju peningkatan spesifikasi mulai diperlambat, terutama pada segmen yang konsumennya paling sensitif terhadap harga.
Baca Juga:
Smartphone murah menjadi korban terbesar
Segmen di bawah US$400 adalah medan perang yang paling brutal. Omdia memperkirakan pengiriman smartphone di bawah US$400 akan turun lebih dari 22% sepanjang 2026. Sebaliknya, smartphone di atas US$400 diperkirakan tumbuh sekitar 5,7%. Inilah yang menyebabkan pasar smartphone semakin terpolarisasi.
Konsumen kelas atas masih membeli karena memiliki daya beli lebih kuat, sementara konsumen kelas bawah menghadapi pilihan yang semakin buruk: membayar lebih mahal untuk spesifikasi yang sama, membeli perangkat dengan RAM atau storage lebih rendah, memilih chipset generasi sebelumnya, menunggu harga turun, atau mempertahankan smartphone lama lebih lama.
Data pasar akhirnya menunjukkan konsekuensinya. IDC mencatat pengiriman smartphone global pada 2Q26 sebesar 276,3 juta unit, turun 7,4% YoY dari 298,3 juta unit pada 2Q25. Omdia mencatat angka yang sedikit berbeda, yakni 272 juta unit, turun 6% YoY. Counterpoint pada estimasi awal bahkan memperkirakan penurunan sekitar 11% pada 2Q26, yang menjadikan kuartal tersebut sebagai periode terendah untuk kuartal II sejak 2013.
Apa pun lembaga riset yang digunakan, kesimpulannya konsisten: pasar smartphone 2026 sedang jatuh karena kombinasi harga komponen yang tinggi, keterbatasan pasokan, dan konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.
Menariknya, tidak semua vendor mengalami nasib sama. Menurut IDC, Samsung mengirimkan 62,7 juta smartphone pada 2Q26 dan tumbuh 8,1% YoY, sementara Apple mengirimkan 55,7 juta unit dan tumbuh 14,9%. Sebaliknya, Xiaomi turun 26,4% menjadi 31,2 juta unit.
Omdia juga melihat pola yang serupa: Samsung dan Apple berhasil meningkatkan pangsa pasar ketika segmen mass market mengalami tekanan. Samsung mencapai 22% pangsa pasar dan Apple 20% pada 2Q26.
Ini bukan kebetulan. Perusahaan besar memiliki beberapa keunggulan: skala pembelian yang memberi daya tawar lebih besar terhadap pemasok, portofolio premium yang memberi ruang menyerap kenaikan biaya, kekuatan merek di segmen premium yang relatif tidak sensitif terhadap kenaikan harga, serta rantai pasok yang lebih baik untuk mengamankan komponen ketika pasar sedang ketat. Dengan kata lain, krisis memori justru berpotensi mempercepat konsolidasi industri smartphone.
Xiaomi merasakan dampaknya dan Indonesia ikut tertekan
Salah satu contoh paling jelas datang dari Xiaomi. Pada kuartal II 2026, Xiaomi mencatat pendapatan smartphone turun 7,5% menjadi 42,1 miliar yuan. Pengiriman smartphone turun sekitar 26% menjadi 31,2 juta unit, sementara margin kotor bisnis smartphone turun menjadi 8,5% dari 11,5% setahun sebelumnya.
Xiaomi menyebut kenaikan biaya komponen, khususnya memori, menekan margin. Dampaknya terasa kuat karena lebih dari separuh smartphone Xiaomi berada di bawah harga US$200. Pendapatan Xiaomi yang turun ini memperlihatkan persoalan ekonomi yang sangat sederhana: semakin murah smartphone yang dijual, semakin sulit vendor menyerap kenaikan harga komponen.
Indonesia justru merupakan pasar yang sangat sensitif terhadap persoalan tersebut karena sebagian besar volume smartphone berada di segmen harga yang lebih terjangkau. Pada kuartal I 2026, pengiriman smartphone Indonesia mencapai sekitar 7,2 juta unit menurut Omdia, tetapi turun 17% YoY.
Omdia menyebut Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara pada periode tersebut sekaligus negara dengan penurunan absolut paling besar.
Penyebabnya antara lain normalisasi inventori kanal, konsumen yang berhati-hati, tekanan harga, musim Ramadan yang lebih lemah dari perkiraan, dan kenaikan harga retail.
Counterpoint mencatat penurunan Indonesia sebesar 9% YoY pada 1Q26, dengan kenaikan harga smartphone akibat krisis pasokan memori menjadi salah satu faktor yang membuat konsumen menunda upgrade.
Padahal kondisi Indonesia sebelumnya cukup positif. IDC mencatat pasar smartphone Indonesia tumbuh 15,5% YoY menjadi hampir 40 juta unit pada 2024. Proyeksi pasar smartphone Indonesia untuk 2026 pun sempat dibuat sebelum krisis memori memburuk. Artinya, perubahan yang terjadi pada 2026 bukan sekadar persoalan pasar yang memang sudah jenuh, melainkan ada tekanan biaya baru yang datang dari sisi pasokan.
Bagi operator telekomunikasi Indonesia, dampaknya juga perlu diperhatikan. Smartphone merupakan salah satu kendaraan utama untuk mendorong adopsi 4G, 5G, layanan data, aplikasi digital, dan ekosistem mobile. Jika siklus penggantian perangkat semakin panjang, pertumbuhan konsumsi data memang tidak otomatis berhenti.
Namun adopsi fitur baru dan perangkat yang lebih mampu menjalankan aplikasi AI, 5G, gaming, dan layanan digital kelas berat dapat melambat.
Omdia bahkan memperingatkan bahwa tekanan harga perangkat dapat memengaruhi strategi subsidi perangkat operator, termasuk kemungkinan kontrak yang lebih panjang, uang muka lebih tinggi, dan cicilan bulanan yang meningkat.
Era baru industri smartphone
Ada satu perubahan psikologis yang mungkin paling penting. Dulu, konsumen bertanya: “Dengan harga Rp3 juta, HP apa yang paling bagus?” Kini pertanyaannya semakin berubah menjadi: “Dengan harga yang sama, apa yang masih bisa saya dapatkan?”
Jika harga smartphone naik tetapi spesifikasi meningkat, konsumen masih dapat menerima kenaikan tersebut sebagai upgrade. Namun jika harga naik sementara RAM, storage, chipset, layar, atau kamera tidak meningkat—bahkan berkurang—persepsi konsumen berubah menjadi value for money yang memburuk. Dan ketika konsumen merasa nilai yang didapat tidak sebanding dengan harga, keputusan paling rasional adalah menunda upgrade.
Ada sedikit kabar baik: laju kenaikan harga memori mulai melambat. TrendForce memperkirakan harga DRAM konvensional naik 13–18% QoQ dan NAND 10–15% QoQ pada 3Q26, lebih moderat dibandingkan lonjakan sebelumnya.
Namun TrendForce juga menegaskan bahwa harga tetap berada pada level sangat tinggi dan konsumen sudah mendekati batas kemampuan membayar. Bahkan proyeksi 2027 belum sepenuhnya nyaman. TrendForce memperkirakan permintaan DRAM dari server AI masih akan menjaga pasar dalam kondisi ketat, sementara kapasitas produsen tetap harus bersaing antara produk server, HBM, dan perangkat konsumen.
Krisis 2026 mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai tahun ketika penjualan smartphone turun, tetapi juga sebagai titik balik struktur industri. Selama bertahun-tahun, persaingan smartphone didorong oleh prinsip sederhana: lebih banyak RAM, storage lebih besar, kamera lebih banyak, chipset lebih cepat, layar lebih bagus—dengan harga yang sama.
Model tersebut sulit dipertahankan ketika biaya memori meningkat tajam. Maka strategi vendor berubah: smartphone murah semakin dikurangi, smartphone premium semakin penting, spesifikasi pada kelas bawah dibekukan atau dipangkas, dan harga jual dinaikkan.
Pada akhirnya, konsumen bukan hanya menghadapi smartphone yang lebih mahal. Mereka menghadapi kemungkinan bahwa smartphone murah dengan spesifikasi tinggi seperti yang mereka kenal selama satu dekade terakhir memang sedang menuju akhir era. Dan ironi terbesar dari semuanya adalah ini: AI yang seharusnya membuat smartphone semakin pintar justru ikut membuat smartphone biasa semakin mahal.
Jika tren memori dan biaya komponen berlanjut, pertanyaan terbesar industri smartphone bukan lagi “berapa banyak HP yang bisa kita jual?”, melainkan “berapa banyak konsumen yang masih bersedia membayar harga baru untuk spesifikasi yang semakin sulit ditingkatkan?”


