Telko.id – Xiaomi melaporkan pendapatan bisnis smartphone-nya turun sekitar 7,5% year-on-year pada kuartal kedua 2026, menjadi RMB 42,1 miliar. Penurunan ini terjadi karena perusahaan secara aktif memangkas penjualan model entry-level untuk mengatasi lonjakan biaya komponen memori yang terus meningkat.
Keputusan strategis ini memang berdampak pada volume pengiriman unit yang merosot cukup dalam. Namun, Xiaomi menilai langkah ini perlu diambil demi menjaga kesehatan margin di tengah tekanan harga komponen yang sedang berlangsung di industri.
Margin Kotor Tergerus Biaya Komponen
Salah satu faktor utama di balik penurunan pendapatan ini adalah melonjaknya harga memori dan chip. Tekanan biaya tersebut secara langsung menggerus profitabilitas lini bisnis ponsel Xiaomi. Margin kotor (gross margin) smartphone turun dari 11,5% menjadi 8,5% dalam periode yang sama.
Kenaikan biaya produksi ini bukan hanya dialami Xiaomi, tetapi juga menjadi tantangan umum bagi para produsen ponsel global. Kondisi serupa juga pernah berdampak pada pemain lain di industri, seperti yang terlihat pada penjualan Huawei yang sempat tertekan.
Volume Turun, Harga Jual Naik
Volume pengiriman unit Xiaomi pada kuartal ini tercatat turun sekitar 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan signifikan ini merupakan konsekuensi langsung dari perubahan strategi perusahaan yang kini lebih memprioritaskan produk kelas atas dibandingkan mengejar volume penjualan.
Meski volume menurun, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) mengalami kenaikan. Kenaikan ASP ini membantu meredam dampak penurunan pendapatan yang lebih dalam, sekaligus menunjukkan pergeseran posisi Xiaomi ke segmen pasar yang lebih premium.
Segmen EV Tumbuh Signifikan
Di tengah pelemahan bisnis ponsel, segmen kendaraan listrik (EV) Xiaomi justru menunjukkan pertumbuhan yang solid. Selama periode yang sama, divisi EV berhasil membukukan pendapatan sekitar RMB 23,9 miliar hingga 24,9 miliar.
Pertumbuhan segmen EV ini menjadi penyeimbang yang penting bagi kinerja keuangan Xiaomi secara keseluruhan. Sebelumnya, perusahaan juga mencatatkan kinerja EV yang kuat dengan YU7 yang menjadi seri terlaris.
Strategi diversifikasi ke kendaraan listrik tampaknya mulai membuahkan hasil. Meski bisnis utama masih bertumpu pada smartphone, kontribusi EV yang terus meningkat memberikan sumber pendapatan alternatif yang menjanjikan bagi perusahaan asal China tersebut.
Kondisi pasar smartphone global sendiri memang sedang tidak menentu. Data industri menunjukkan pengiriman smartphone global sempat mengalami penurunan signifikan, sementara persaingan antar merek semakin ketat dengan Apple yang menyiapkan lima model iPhone baru untuk merebut pangsa pasar.
Keputusan Xiaomi untuk mengurangi porsi penjualan model murah merupakan respons rasional terhadap realitas biaya produksi yang meningkat. Dengan memfokuskan diri pada produk dengan harga jual lebih tinggi, perusahaan berharap dapat mempertahankan profitabilitas meskipun volume penjualan berkurang.
Ke depan, kemampuan Xiaomi dalam mengelola biaya komponen dan menyeimbangkan portofolio produknya akan menjadi kunci. Perusahaan juga perlu terus mengembangkan segmen EV yang kini menjadi motor pertumbuhan baru di luar bisnis smartphone tradisionalnya.


