Telko.id – OpenAI menilai kemampuan menulis kode saja tidak lagi cukup bagi pengembang perangkat lunak di era kecerdasan buatan (AI).
Seiring semakin canggihnya AI dalam menghasilkan kode, peran developer diperkirakan akan bergeser dari sekedar membuat program menjadi mengarahkan, mengevaluasi, dan memastikan solusi yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Menurut Gabriel Chua, DX Engineer OpenAI, perkembangan AI kini telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya AI lebih banyak berfungsi sebagai alat pelengkap penulisan kode (autocomplete), kini teknologi tersebut mulai mampu menerima tugas yang lebih kompleks dan menyelesaikannya secara mandiri.
“Pergeseran ini sebenarnya sudah berlangsung. Kita sedang beralih dari AI sebagai sekadar pengisi teks otomatis (autocomplete), menuju era AI yang mampu menerima tugas spesifik dan menuntaskannya,” ujar Gabriel kepada detikINET, Minggu (19/7/2026).
OpenAI menilai developer masa depan perlu memiliki kemampuan yang lebih luas, termasuk memahami kebutuhan pengguna, memecahkan masalah, serta merancang solusi yang tepat dengan memanfaatkan bantuan AI.
Kehadiran AI bukan untuk menggantikan programmer, melainkan membantu meningkatkan produktivitas dan mempercepat proses pengembangan perangkat lunak.
Baca Juga:
- OpenAI Rilis GPT-Live, ChatGPT Voice Kini Lebih Natural
- Meta Klaim AI Watermelon Hampir Setara Model OpenAI
“Developer yang andal tidak menerima hasil kerja AI begitu saja. Mereka tahu apa yang harus diminta, bagaimana memecah alur kerja, apa yang layak dibangun, dan kapan hasilnya siap diluncurkan,” katanya.
Ia melihat hubungan antara developer dan AI juga akan berubah. Jika sebelumnya AI berperan sebagai copilot yang membantu proses coding, ke depan AI akan menjadi collaborator atau rekan kerja yang mampu menangani sebagian pekerjaan teknis, tetapi tetap berada di bawah kendali manusia.
“Oleh karena itu, saya melihat hubungan ini pun berkembang: dari copilot, menjadi collaborator, tetapi tetap berada di bawah kendali penuh manusia,” ujarnya.
Menurut Gabriel, developer tetap bertanggung jawab meninjau, menguji, serta memahami konsekuensi dari kode yang dihasilkan AI. Karena itu, fondasi teknis seperti memahami sistem, debugging, keamanan, data, dan arsitektur perangkat lunak masih menjadi keterampilan penting.
Di saat yang sama, developer juga dituntut mampu memberikan konteks kepada AI, mengevaluasi hasil pekerjaannya, serta menentukan kapan sebuah produk siap dirilis.
“Fondasi teknis tetap penting: memahami sistem, debugging, keamanan, data, arsitektur, dan cara kerja perangkat lunak. Namun, developer juga perlu mampu merumuskan masalah dengan jelas, memberikan konteks kepada agen AI, mengevaluasi hasil kerja teknologi tersebut, serta menentukan kapan produk siap diluncurkan,” jelas Gabriel.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa transformasi AI tidak hanya mengubah produk teknologi, tetapi juga mengubah produk teknologi, tetapi juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan oleh tenaga kerja di sektor digital.
Ke depan, kemampuan bekerja bersama AI diperkirakan akan menjadi bagian penting dari profesi pengembang perangkat lunak.


