spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

ARTIKEL TERKAIT

Indonet Perkuat Jaringan Fiber dan Data Center untuk Dukung AI

Telko.id – Indonet, penyedia layanan konektivitas dan data center di Indonesia, terus memperkuat infrastruktur jaringannya untuk mendukung percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), cloud computing, dan ekonomi digital nasional.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui pembangunan jaringan fiber optik bawah tanah berkapasitas besar dan pengembangan ekosistem data center yang terintegrasi.

Dalam sebuah diskusi baru-baru ini, jajaran manajemen Indonet memaparkan sejumlah inisiatif kunci yang tengah dijalankan. Fokus utama adalah pada peningkatan kapasitas, keandalan, dan jangkauan jaringan, terutama untuk menghubungkan pusat-pusat data yang terus bermunculan di kawasan timur Jakarta seperti Bekasi, Cikarang, dan Karawang.

“Kita melihat ke depan permintaan dari fiber connections akan meningkat. Satu kabel yang kita gunakan sudah menggunakan teknologi underground dengan kapasitas 576 core, dan dalam satu rute kita tanam lebih dari satu kabel, sehingga totalnya bisa lebih dari 1000 core,” jelas Donauly Situmorang, Presiden Direktur Indonet.

Kapasitas besar ini memungkinkan Indonet menjawab kebutuhan konektivitas antar data center dengan harga yang lebih kompetitif.

Teknologi HDD untuk Keandalan Jangka Panjang

Salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan jaringan fiber optik di perkotaan adalah gangguan dari aktivitas penggalian utilitas lain.

Untuk mengatasinya, Indonet mengadopsi teknik Horizontal Directional Drilling (HDD) yang memungkinkan kabel ditanam pada kedalaman 1,5 hingga 2 meter. Ini jauh lebih dalam dibandingkan standar umum yang hanya 30-50 cm.

“Harapannya semakin dalam kita gali, semakin minim potensi gangguan dari aktivitas penggalian kabel PLN atau kabel lainnya di Jakarta. Kami juga punya tim patroli untuk melakukan pengawasan di titik-titik yang rawan aktivitas,” tambahnya.

Dengan teknik ini, risiko putusnya kabel akibat proyek pemerintah atau pembangunan saluran air bisa diminimalkan secara signifikan.

Selain kedalaman, keandalan juga dijaga melalui desain jaringan dengan diverse routing. Untuk menghubungkan satu data center, Indonet membangun minimal tiga rute yang berbeda.

“Kalau ada satu rute putus, dua rute lainnya masih standby untuk membackup semua traffic. Ini adalah bentuk proteksi terhadap insiden yang tidak bisa kita kontrol,” jelas tim teknis Indonet.

Ekosistem Data Center CGK Campus 500 MW

Penguatan jaringan ini juga mendukung pengembangan ekosistem data center di Indonesia, termasuk CGK Campus berkapasitas 500 MW di Bekasi yang tengah dikembangkan oleh Digital Edge Indonesia.

Bersama-sama, platform konektivitas Indonet dan platform data center Digital Edge menghadirkan ekosistem infrastruktur digital yang terintegrasi untuk mendukung percepatan pertumbuhan AI, cloud, dan ekonomi digital Indonesia.

Total investasi yang dibutuhkan untuk proyek CGK Campus mencapai 4,5 miliar USD. Pembangunan tahap awal ditargetkan rampung pada 2028 hingga 2029.

“Jumlah capex yang sangat besar, deployment-nya tergantung antisipasi permintaan dari customer. Kami tidak mau terlalu early karena akan membebani biaya bunga, tapi juga tidak mau terlambat karena akan direbut kompetitor,” ungkap Donauly.

Persaingan di industri data center kian ketat. Banyak pemain baru, termasuk dari luar negeri, yang mulai membangun data center di area timur Jakarta.

“Semua orang membangun di Cikarang dan Karawang, walaupun dengan sisa land bank dan power yang terbatas. Ini menjadi tantangan tersendiri,” tambahnya. Oleh karena itu, timing pembangunan menjadi krusial agar tidak terlalu awal maupun terlambat.

Strategi bisnis Indonet juga mengantisipasi kebutuhan jangka panjang. “Kami sudah memiliki beberapa customer, baik dari sisi hyperscale maupun enterprise. Tapi pembangunan ini tidak semata-mata didorong oleh kontrak jangka panjang. Kami juga mengantisipasi kebutuhan di luar kontrak existing agar bisa terus survive dalam bisnis ini,” jelas Donauly menambahkan.

Delisting dari Bursa untuk Kelincahan Bisnis

Dalam langkah strategis lainnya, Indonet telah memutuskan untuk melakukan delisting dari bursa efek. Keputusan ini telah mendapatkan persetujuan RUPS pada akhir April lalu dan persetujuan OJK pada 23-24 Juni 2024. Periode tender offer berlangsung dari 25 Juni hingga 24 Juli 2024.

“Delisting akan memberikan manfaat bagi grup kami dalam sisi kelincahan. Kami memerlukan integrasi yang seamless dengan platform Digital Edge yang ada di 9 negara. Sebagai listed company, kami harus men-disclose banyak hal. Dengan 92,1% saham dimiliki oleh Digital Age, delisting dinilai lebih banyak faedahnya,” ungkap manajemen.

Dengan delisting, Indonet bisa lebih cepat mengeksekusi strategi tanpa harus melalui mekanisme RUPS yang panjang.

“Kami bisa lebih lincah, lebih cepat, dan tidak perlu menurunkan persimpulan atau mendukung listing. Ini juga menjadi kesempatan baik bagi publik dan retail shareholders untuk mendapatkan akses dengan harga yang menarik,” tutupnya.

Langkah Indonet ini sejalan dengan tren penguatan ekosistem AI di Indonesia. Beberapa perusahaan lain juga tengah membangun fondasi serupa, seperti yang dilakukan oleh XLSMART dan Telkom dalam memperkuat ekosistem digital nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU