Telko.id – Indonet resmi mengoperasikan jalur fiber optik bawah tanah ketiga yang membentang dari pusat Jakarta menuju kawasan industri dan data center di Bekasi hingga Karawang.
Jalur sepanjang lebih dari 80 kilometer dengan kapasitas 2 x 576 core fiber ini merupakan bagian dari pengembangan koridor timur perusahaan yang dikenal sebagai East Route.
Setelah dua jalur sebelumnya beroperasi sejak tahun 2025, pengoperasian jalur ketiga ini menandai babak baru dalam penguatan infrastruktur konektivitas nasional.
Dengan tambahan ini, total jaringan fiber optik Indonet kini mencapai sekitar 850 kilometer, mencatat kenaikan signifikan sebesar 141 persen dibandingkan sebelum tahun 2024.
Perusahaan menjadi salah satu penyedia infrastruktur digital pertama di Indonesia yang membangun koridor fiber optik sepenuhnya di bawah tanah untuk menghubungkan pusat Jakarta dengan kawasan industri dan data center di Bekasi hingga Karawang.
Selain itu, Indonet juga meningkatkan kapasitas backbone network menjadi 100 Gbps demi mendukung kebutuhan konektivitas di kawasan industri.
Langkah ini sejalan dengan ekspansi jaringan perusahaan ke berbagai pusat pertumbuhan industri, termasuk Kawasan Industri Mitra Karawang (KIM).
“Indonesia sedang memasuki fase baru pembangunan infrastruktur digital. Investasi pada data center, cloud, dan AI akan terus meningkat, namun nilai dari investasi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh konektivitas yang sama kuatnya. Karena itu, kami terus berinvestasi membangun jaringan fiber optik bawah tanah dan infrastruktur interkoneksi data center yang andal, sehingga pelanggan dapat bertumbuh dengan kepastian tanpa dibatasi oleh keterbatasan infrastruktur,” ujar Donauly Situmorang, Presiden Direktur Indonet.
Konektivitas yang andal dengan bandwidth tinggi, latensi rendah, dan tingkat ketersediaan tinggi menjadi kebutuhan yang semakin mendesak seiring berkembangnya ekosistem data center di Indonesia.
Dalam kondisi tersebut, infrastruktur interkoneksi data center menjadi fondasi penting untuk memastikan pertukaran data antar data center berlangsung cepat dan aman guna mendukung keberlangsungan operasional bisnis.
Baca Juga:
Keunggulan Fiber Optik Bawah Tanah
Investasi pada fiber optik bawah tanah tidak hanya meningkatkan keandalan konektivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan infrastruktur secara keseluruhan. Dibandingkan jaringan fiber udara, fiber optik bawah tanah memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap berbagai risiko operasional.
Hal ini memungkinkan Indonet menghadirkan layanan yang lebih stabil untuk kebutuhan bisnis mission-critical, seperti disaster recovery dan AI workloads yang membutuhkan performa jaringan secara konsisten.
Agus Ariyanto, Direktur Operasional Indonet, menjelaskan bahwa pengoperasian jalur fiber optik bawah tanah merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
“Kami memilih untuk terus mengembangkan jaringan fiber optik bawah tanah karena infrastruktur ini menawarkan tingkat keandalan yang lebih tinggi dibandingkan jaringan fiber udara. Seluruh jaringan dibangun di bawah tanah dengan kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter, sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap berbagai risiko eksternal, seperti cuaca ekstrem maupun aktivitas konstruksi. Hal ini memungkinkan kami menghadirkan konektivitas yang lebih stabil, memperkuat redundansi jaringan dan memastikan layanan tetap andal untuk mendukung kebutuhan konektivitas yang bersifat mission-critical,” ujar Agus.
Pertumbuhan Pasar Data Center
Berdasarkan data Indonesia Data Center – Market Share Analysis, Industry Trends & Statistics, Growth Forecasts (2026-2031) dari Globe Newswire, Indonesia menjadi salah satu pasar data center dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Seiring meningkatnya investasi hyperscaler, cloud provider, dan enterprise, nilai pasar data center Indonesia diproyeksikan tumbuh dari sekitar USD 1,83 miliar pada 2026 menjadi USD 3,48 miliar pada 2031, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 13,71 persen.
Pertumbuhan tersebut turut mendorong meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur konektivitas yang mampu menghubungkan berbagai fasilitas data center secara cepat, aman, dan andal.
Yudie Haryanto, Direktur Sales & Marketing Indonet, mengatakan bahwa pesatnya pertumbuhan ekosistem data center di Indonesia harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur konektivitas yang mampu mendukung kebutuhan bisnis yang semakin kompleks.
“Saat ini pertumbuhan data center tidak hanya berarti bertambahnya kapasitas komputasi, tetapi juga meningkatnya kebutuhan akan konektivitas yang mampu menghubungkan data center secara cepat, aman, dan berkelanjutan. Kualitas interkoneksi menjadi faktor penting untuk menjaga performa aplikasi, memastikan kontinuitas layanan, serta mendukung pertukaran data dengan latensi yang rendah. Melalui pengembangan jaringan fiber optik bawah tanah dan peningkatan kapasitas backbone network, Indonet hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan infrastruktur konektivitas yang andal, scalable, dan siap mendukung pertumbuhan bisnis pelanggan saat ini,” kata Yudie.
Penguatan jaringan ini juga mendukung pengembangan ekosistem data center di Indonesia, termasuk CGK Campus berkapasitas 500 MW di Bekasi yang tengah dikembangkan oleh Digital Edge Indonesia. Bersama-sama, platform konektivitas Indonet dan platform data center Digital Edge menghadirkan ekosistem infrastruktur digital yang terintegrasi untuk mendukung percepatan pertumbuhan AI, cloud, dan ekonomi digital Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Indonet yang juga tercermin dalam ekspansi data center dan penguatan jaringan secara berkelanjutan.
Dengan beroperasinya jalur ketiga East Route, Indonet tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemain utama infrastruktur digital, tetapi juga memberikan kapasitas yang lebih besar untuk ekspansi layanan sekaligus memperkuat konektivitas antar data center bagi pelanggan yang membutuhkan high availability dan kontinuitas bisnis. Langkah ini sejalan dengan upaya perusahaan untuk terus berinvestasi pada infrastruktur fiber optik dan konektivitas data center, termasuk melalui kemitraan strategis seperti kredit Rp 5,5 triliun dari BCA untuk mempercepat pengembangan infrastruktur digital di Indonesia.


