spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

ARTIKEL TERKAIT

GSMA Dorong RI Siapkan Spektrum 6G, Ini Kunci Daya Saing Digital

Telko.id – Global System for Mobile Communications Association (GSMA) mendorong Indonesia untuk segera menyusun strategi jangka panjang alokasi spektrum frekuensi, khususnya untuk menyambut era jaringan 6G yang diperkirakan mulai bergulir pada dekade 2030-an.

Yishen Chan, Director of Spectrum Policy & Regulatory Affairs (APAC) GSMA, menekankan bahwa spektrum pita tengah (mid-band) merupakan fondasi utama yang akan menentukan kualitas layanan 5G dan kesiapan transisi ke 6G di masa depan.

Dalam pemaparannya di sebuah forum industri, Yishen mengungkapkan bahwa adopsi 5G di Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Salah satu penyebab utamanya adalah ketersediaan spektrum yang masih terbatas.

“Spektrum yang telah dikaitkan dan ditandatangani oleh pengendali mobile di Indonesia sedikit di belakang dari negara-negara Asia lain,” ujarnya. Padahal, konsumsi data per pengguna di Indonesia tergolong sangat tinggi, hampir dua kali lipat rata-rata Asia Tenggara, menunjukkan potensi pasar yang besar.

Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 450 MHz spektrum untuk layanan mobile di pita bawah dan tengah. Dengan adanya proses lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz, jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 700 MHz. Namun, Yishen menilai angka itu masih perlu ditingkatkan, terutama untuk spektrum pita tengah (mid-band) seperti 3,5 GHz yang menjadi tulang punggung kapasitas dan kecepatan 5G.

“Band di tengah-tengah adalah bagian yang sangat penting. Itu akan menentukan kualitas 5G lebih baik, dan di masa depan, 6G,” tegasnya.

GSMA memproyeksikan bahwa lalu lintas data mobile akan terus tumbuh signifikan. Dalam 5-10 tahun ke depan, pertumbuhan tahunan diperkirakan masih berada di kisaran 10-20%, namun dari basis yang sudah besar, angka tersebut tetap menghasilkan lonjakan trafik yang masif.

Oleh karena itu, ketersediaan spektrum yang memadai menjadi krusial untuk menghindari konstrain kapasitas, terutama di kota-kota padat seperti Jakarta.

Yishen juga memaparkan temuan menarik bahwa kualitas jaringan yang lebih baik mendorong peningkatan penggunaan data.

“Dengan jaringan 5G yang menawarkan keuntungan jauh lebih tinggi, orang-orang selalu menggunakan lebih banyak karena mereka mendapatkan pengalaman yang lebih baik,” jelasnya.

Hal ini menegaskan bahwa investasi pada spektrum tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga merangsang pertumbuhan ekosistem digital secara keseluruhan.

Visi 6G dan Kebutuhan Spektrum Masa Depan

Menurut laporan GSMA yang dirilis akhir tahun lalu, jaringan 6G diperkirakan akan mulai diperkenalkan secara global pada pertengahan tahun 2030-an.

Negara-negara seperti China, Jepang, Korea, dan Amerika Serikat diproyeksikan menjadi pionir. Teknologi 6G tidak hanya akan meningkatkan kecepatan, tetapi juga membuka kasus penggunaan baru seperti integrasi sensor dan komunikasi (sensing), komunikasi holografis, dan digital twin real-time yang didukung kecerdasan buatan (AI).

Untuk mendukung generasi baru ini, kebutuhan spektrum akan meningkat drastis. GSMA memperkirakan setiap operator membutuhkan sekitar 2-400 MHz spektrum kontinu per operator di era 6G, meningkat 4-5 kali lipat dari generasi sebelumnya.

Pita frekuensi 6 GHz (6.4-7.1 GHz) diidentifikasi sebagai pita utama (pioneer band) yang sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Keputusan di World Radiocommunication Conference (WRC) 2027 mendatang akan menjadi momen krusial dalam menentukan alokasi global pita ini.

Yishen mencontohkan beberapa negara di kawasan Asia yang sudah bergerak maju. India telah mengalokasikan 700 MHz di pita 6 GHz untuk IMT (International Mobile Telecommunications). China juga telah menetapkan pita 6 GHz untuk IMT dan sedang melakukan uji coba. Eropa pun telah memutuskan pita 6 GHz sebagai jalur utama untuk layanan 6G.

“Ada banyak perkembangan untuk pita 6 GHz untuk IMT. Saatnya berpikir tentang perencanaan jangka panjang ini adalah sekarang,” imbaunya.

GSMA secara konsisten mendorong pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk segera memulai perencanaan spektrum jangka panjang.

Organisasi ini menilai bahwa alokasi spektrum 6 GHz secara penuh untuk layanan mobile berlisensi akan memberikan manfaat sosial-ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan opsi tanpa lisensi (unlicensed) seperti Wi-Fi.

Analisis GSMA menunjukkan bahwa manfaat ekonomi dari opsi mobile berlisensi bisa mencapai 7 kali lebih tinggi, karena jaringan mobile lebih mampu membangun kapasitas jangka panjang yang dibutuhkan.

Meskipun Wi-Fi memiliki ruang spektrum yang luas di pita 2.4 GHz, 5 GHz, dan sebagian 6 GHz, Yishen mencatat bahwa adopsi teknologi Wi-Fi 6 dan 7 di Indonesia masih sangat rendah. Lebih dari 90% perangkat Wi-Fi di Indonesia masih menggunakan teknologi lawas (Wi-Fi 4 dan 5).

“Jaringan Wi-Fi sudah memiliki ruang yang cukup untuk berkembang. Mobile memiliki jaringan kurang dari setengahnya di Indonesia,” ujarnya, menekankan pentingnya keseimbangan alokasi spektrum untuk memaksimalkan potensi konektivitas nasional.

Laporan GSMA juga menyoroti peran penting AI dalam evolusi jaringan 6G. Di satu sisi, AI akan mendorong lahirnya aplikasi-aplikasi baru yang haus data, seperti video dan konten generatif, sehingga meningkatkan kebutuhan spektrum.

Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk mengelola jaringan secara lebih efisien, mengoptimalkan penggunaan spektrum, dan menghemat energi.

“AI akan meningkatkan efisiensi jaringan mobile, tapi pada saat yang sama, AI juga akan menghasilkan banyak aplikasi baru yang mengembangkan data dan kebutuhan trafik,” jelas Yishen.

Dengan populasi muda yang besar dan pertumbuhan data yang eksplosif, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital global. Namun, peluang ini hanya bisa diraih jika didukung oleh infrastruktur spektrum yang memadai dan visioner. Keputusan yang diambil hari ini mengenai alokasi spektrum, terutama pita 6 GHz, akan sangat menentukan daya saing digital Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

GSMA menekankan bahwa momentum perencanaan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Pengembangan ekosistem perangkat 6G diperkirakan akan dimulai tahun depan dan terus menguat dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia didorong untuk mulai menyusun peta jalan (roadmap) spektrum nasional yang komprehensif untuk menyambut era 6G.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren industri, Anda dapat membaca artikel tentang pengguna mobile dan perkembangan kabel bawah laut di kawasan Asia Pasifik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU