Telko.id – Asosiasi Media Teknologi Indonesia (AMATI) resmi merilis riset komprehensif yang mengungkap peran krusial media di era Kecerdasan Buatan (AI).
Riset yang dirilis bertepatan dengan deklarasi pendirian AMATI pada 20 Mei 2026 ini menegaskan bahwa AI tidak mematikan peran media, melainkan menjadikannya infrastruktur pembentuk realitas yang direproduksi hingga jutaan kali.
Temuan utama riset ini menunjukkan adanya pergeseran fundamental dalam lanskap kehumasan. Praktik Media Monitoring tradisional dinilai sudah tidak lagi mencukupi.
Pasalnya, sistem Media Intelligence modern kini mampu membedah satu artikel berita menjadi 24 titik data intelijen yang terbagi dalam tiga lapisan utama: Analisis Utama, Deteksi Krisis, dan Intelijen Kompetitif.
Riset AMATI didasarkan pada pengolahan data nyata. Melalui pemrosesan AI, tim peneliti menganalisis 1.503 artikel dari 15 media massa selama periode 30 hari. Artikel-artikel tersebut menyoroti 12 merek teknologi terkemuka di Indonesia.
Dari ribuan artikel yang diproses, dihasilkan lebih dari 36.072 titik data yang siap diagregasi, dibandingkan, dan ditindaklanjuti oleh pemilik merek.
“Liputan media hari ini akan menjadi jawaban AI di hari esok, dan pada akhirnya akan menjadi fondasi kepercayaan publik di lusa hari,” kata Hamzah, Pimpinan Redaksi Telset dalam presentasi di acara diskusi dan deklarasi AMATI di Jakarta.
Salah satu temuan paling krusial dari riset ini adalah perubahan perilaku audiens yang kini lebih sering bertanya langsung kepada AI dibandingkan membaca artikel.
Namun, riset membuktikan bahwa AI tidak memiliki opini sendiri. Setiap jawaban AI bersumber dari jurnalisme yang ditulis dan diterbitkan oleh media.
Studi kasus konkret dalam riset ini membedah narasi ‘Kecerdasan Buatan’ di ranah ponsel pintar. Riset menemukan bahwa merek Samsung secara dominan menguasai 64% narasi terkait AI di media massa Indonesia.
Akibat dominasi pemberitaan ini, narasi tersebut mengendap ke dalam model AI. Hasilnya, saat ditanya mengenai “HP dengan fitur AI terbaik”, tiga platform AI terbesar (Claude, Gemini, dan ChatGPT) secara serempak memberikan rekomendasi produk Samsung seperti Galaxy S24 Ultra.
Fenomena ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh liputan media terhadap output AI. Untuk memahami lebih dalam tentang strategi Samsung dalam mengadopsi AI, Anda bisa membaca artikel kami tentang Samsung Unpacked 2026 yang memamerkan Galaxy AI terbaru.
Merespons temuan ini, AMATI memperingatkan para praktisi komunikasi agar segera meninggalkan metrik Share of Voice (SOV). Metrik volume tersebut terbukti gagal mengukur kualitas dan pengaruh narasi.
Tools monitoring konvensional saat ini bekerja secara pasif, hanya merekam apa yang sudah terjadi dan menyerahkan laporan yang terlambat hingga 30 hari.
Sebagai gantinya, riset AMATI merekomendasikan penggunaan lima lapisan intelijen yang tidak dapat dijawab oleh SOV tradisional. Pertama, Narrative Health untuk mengetahui framing narasi mana yang memenangkan simpati publik.
Kedua, Belief Mapping untuk memetakan apa yang dipercaya publik berdasarkan pola berulang dari ratusan artikel. Ketiga, Predictive Signal untuk mendeteksi sinyal mikro pergeseran framing secara dini. Keempat, AI Presence untuk mengukur narasi yang dibangun AI tentang suatu merek. Kelima, Decision Intelligence yang menyajikan rekomendasi strategis siap eksekusi secara real-time.
Baca Juga:
Peluncuran riset dan deklarasi AMATI ini sejalan dengan agenda panel diskusi “Managing Corporate Reputation: Effective Communication and Public Engagement Strategies to Counter Disinformation” yang digelar pada 20 Mei 2026. Acara ini didukung oleh Telkom Indonesia, Advo, dan Samsung.
AMATI merupakan asosiasi baru yang didirikan oleh pimpinan enam media teknologi utama: Technologue, TeknoBuzz, Telset, Telko ID, Selular, dan Hybrid.co.id. Asosiasi ini berkomitmen menjadi kompas strategis yang menjamin kredibilitas informasi, keamanan merek, serta adaptasi teknologi yang etis di tengah gempuran kebisingan digital.

Bagi korporasi, riset ini memberikan pesan yang jelas. Di lanskap media yang bergerak secepat AI, Media Intelligence bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan syarat utama untuk bertahan hidup. Praktisi komunikasi dituntut untuk mengubah peran mereka menjadi “pengelola makna” yang mampu mengelola narasi secara cerdas dan adaptif.
Perubahan ini juga memengaruhi strategi komunikasi merek. Pemilik merek tidak bisa lagi mengandalkan kliping berita tradisional. Mereka perlu beralih ke sistem intelijen yang mampu memonitor bagaimana narasi mereka terbentuk, bagaimana publik memercayainya, dan bagaimana AI mereproduksinya.
Implikasinya, perusahaan harus berinvestasi pada teknologi dan sumber daya manusia yang mampu mengelola data intelijen ini. Ini bukan hanya soal efisiensi, melainkan soal kelangsungan reputasi merek di era di mana opini publik dibentuk oleh algoritma. (Icha)


