Telko.id – Asosiasi Media Teknologi Indonesia (AMATI) resmi dideklarasikan di Jakarta, Kamis (22/5/2026). Bersamaan dengan deklarasi, AMATI menggelar diskusi panel strategis bertajuk “Managing Communication in the AI Era: Strengthening Media’s Role as a Strategic Partners for Brand/Corporate”.
Acara ini mempertemukan praktisi Public Relations (PR), pimpinan redaksi, dan perwakilan merek teknologi untuk membahas perubahan lanskap komunikasi akibat kecerdasan buatan (AI) dan disrupsi digital.
Diskusi yang didukung oleh Telkom Indonesia, Advo, dan Samsung ini menyoroti peran krusial media arus utama di tengah gempuran AI. Temuan riset AMATI menjadi salah satu sorotan utama. Riset tersebut mengungkapkan bahwa audiens kini lebih sering bertanya langsung ke AI dibandingkan membaca artikel.
Namun, riset ini membuktikan bahwa AI tidak memiliki opini sendiri; setiap jawaban AI bersumber dari jurnalisme yang ditulis dan diterbitkan oleh media.
“Liputan media hari ini akan menjadi jawaban AI di hari esok, dan pada akhirnya akan menjadi fondasi kepercayaan publik di lusa hari,” kata Hamzah, Pemimpin Redaksi Telset, dalam presentasinya.

Baca Juga:
Riset Ungkap Dominasi Narasi di Media Massa
Salah satu temuan paling menarik dari riset AMATI adalah studi kasus tentang narasi kecerdasan buatan di ranah ponsel pintar. Riset menemukan bahwa merek Samsung secara dominan menguasai 64% narasi terkait AI di media massa Indonesia.
Akibat dari dominasi pemberitaan ini, narasi tersebut mengendap ke dalam model AI. Hasilnya, saat ditanya mengenai “HP dengan fitur AI terbaik”, tiga platform AI terbesar—Claude, Gemini, dan ChatGPT—secara serempak memberikan jawaban yang sama: merekomendasikan produk Samsung seperti Galaxy S24 Ultra.
Temuan ini menegaskan bahwa media massa memiliki peran vital dalam membentuk persepsi publik, termasuk persepsi yang diadopsi oleh mesin AI. Hal ini menjadi peluang emas bagi brand untuk membangun reputasi jangka panjang melalui pemberitaan yang kredibel.
Era Konvergensi dan Kerancuan Definisi KOL
Mengawali diskusi, Bambang Moegono, Founding Board Member Strategic Asia Marketing Alliance Indonesia (SAMA), menyoroti paparan riset AMATI mengenai ledakan data dan pergeseran pola komunikasi. Bambang menyebut masa ini sebagai “era konvergensi”, di mana ancaman terhadap reputasi brand bisa datang dari mana saja, bahkan dari perilaku staf internal perusahaan yang kemudian diamplifikasi oleh publik di media sosial.

Bambang juga memberikan kritik tajam mengenai kerancuan industri dalam memahami konsep Key Opinion Leader (KOL).
“Sekarang banyak sekali yang didefinisikan sebagai KOL tapi dia hanya punya kekuatan untuk buzzing, jadi rancu ya antara KOL dengan buzzer sebenarnya,” tegasnya.
Ia mengingatkan kembali esensi dasar KOL: “Yang KOL adalah satu entah itu person entah itu lembaga tapi expert dan menguasai bidangnya yang mampu menghadirkan pesan yang kredibel, bereputasi dan didasari oleh expertise,” jelasnya.
Krisis Korporasi: Media sebagai Pembangun Reputasi
Berbicara mengenai manajemen krisis, Uday Rayana, Pemimpin Redaksi Selular sekaligus moderator diskusi, mengingatkan kembali beberapa studi kasus krisis besar yang pernah menimpa korporasi.

Ia menegaskan bahwa pada titik krisis yang mengancam keberlangsungan bisnis, perusahaan tidak bisa menyandarkan nasibnya pada influencer, melainkan harus kembali kepada media.
“Reputasi itu kan jujur saja kalau kami sebagai media masih melihat reputasi itu di-build oleh media bukan oleh influencer faktanya,” ungkap Uday.
Ia menjelaskan bahwa peran influencer lebih condong pada dorongan konversi penjualan sesaat atau product oriented, sementara fondasi kepercayaan publik hanya bisa dibentuk melalui validasi jurnalistik di media.
Pandangan ini diamini oleh Bambang. Ia menekankan bahwa dalam situasi krisis, media massa tidak menerima bayaran untuk memutarbalikkan fakta, sehingga posisinya sangat kuat untuk membangun trust di mata publik.
“Media tetap menjadi satu aktor utama, satu aktor terpenting dalam situasi apapun termasuk dalam crisis sebagai partner dari teman-teman komunikasi sebagai partner validasi,” kata Bambang.
Lebih jauh, ia menambahkan, “Publik akan melihat bahwa apa yang disampaikan oleh media adalah informasi yang memang terpercaya. Berbeda dengan akun-akun yang memang paid itu ya ibaratnya memang diposisikan sebagai buzzer.”
AI Mensintesis Berita: Peluang Emas bagi Media
Terkait ancaman AI, para panelis sepakat bahwa sintesis berita oleh AI bukanlah akhir dari media massa, melainkan peluang baru.
AI dinilai tidak akan gegabah mengambil referensi dari akun-akun media sosial yang tidak kredibel karena hal itu akan menghancurkan reputasi mesin AI itu sendiri. Oleh karena itu, AI akan selalu bergantung pada karya jurnalistik media terpercaya.
Diskusi juga berlangsung interaktif dengan para hadirin yang juga pelaku industri mengemukakan pendapatnya. Kesamaan persepsi yang muncul adalah bahwa media konvensional saat ini memegang peran ganda yang krusial bagi sebuah brand.
Di satu sisi, media menjadi penyuplai kebenaran bagi mesin AI masa kini dan masa depan. Di sisi lain, media tetap menjadi benteng pertahanan dan mitra validasi yang paling diandalkan saat perusahaan menghadapi potensi krisis dari kebisingan media sosial.
Menutup diskusi, Bambang memberikan pandangan optimis kepada rekan-rekan media yang tergabung dalam AMATI untuk tidak gamang dan terus berinovasi memanfaatkan AI sebagai alat pembaca profil audiens.

“Era AI saya rasa tidak akan membunuh media kalau bisa mengoptimalkan secara optimal. Justru di era inilah teman-teman media bisa mencari solusi agar kembali lagi memegang hegemoni pendistribusian media kepada publik,” pungkasnya.
Deklarasi AMATI: Empat Komitmen Utama
Bersamaan dengan acara diskusi, AMATI menggelar acara deklarasi pendirian asosiasi. Didirikan untuk merespon perkembangan terkini seperti era transformasi digital dengan perkembangan AI yang masif serta dinamika media sosial, AMATI berkomitmen menjadi kompas strategis di tengah banjir informasi.
Pendirian AMATI bertumpu pada empat komitmen utama untuk mengamankan masa depan jurnalisme teknologi di Indonesia. Pertama, menjadi pilar kredibilitas dengan menjaga integritas jurnalistik di atas kepentingan algoritma. Kedua, menjamin keamanan merek (brand safety) dengan menyediakan ekosistem media yang sehat bagi mitra strategis.
Ketiga, adaptasi teknologi yang etis dengan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab tanpa mengorbankan kualitas intelektual. Keempat, membangun ekosistem digital nasional dengan menjadi mitra strategis pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat.
Acara diskusi ini menjadi tonggak baru dalam industri. AMATI sendiri akan secara rutin menggelar diskusi strategis yang relevan dengan kondisi terkini.
Bagi korporasi yang ingin membangun reputasi berkelanjutan, bermitra dengan media profesional menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan, terutama di era di mana setiap konten hari ini bisa menjadi jawaban AI di masa depan.


