spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...
Beranda blog Halaman 1731

Keluhan Warga Australia Pada Industri Telko Turun 13 Persen

0

Telko.id – Sebuah laporan terbaru yang merinci jumlah keluhan terhadap jaringan tetap, mobile dan internet diterima Telecommunications Industry Ombudsman (TIO) balum lama ini, sebagai proporsi jasa telekomunikasi dalam operasi (SIO). Di sini, ditunjukkan bahwa ada penurunan hampir 13 persen secara keseluruhan dalam hal keluhan.

Dalam laporan Telecommunications Complaints In Context – sebuah laporan kuartalan yang diterbitkan bersama-sama oleh TIO dan Communications Alliance – diketahui bahwa total keluhan per 10.000 SIO untuk semua perusahaan telekomunikasi yang berpartisipasi adalah 4,8 di kuartal Desember 2015. Hal ini menunjukkan penurunan dari 12,7 persen dibandingkan Juli-September 2015.

Amaysim menduduki posisi teratas dengan hanya 0,7 keluhan per 10.000 SIO – turun 22 per sejak kuartal sebelumnya, dan enam kali lebih baik dari rata-rata industri.

Di bawah Amaysim, ada perusahaan telekomunikasi Australia lainnya, yakni Pivotel, yang menerima 0,8 keluhan per 10.000 SIO.

Telstra dan Vodafone mencatat hasil terbaik mereka sejak September 2013, dengan masing-masing mencatat 4,9 dan 3,5 keluhan per 10.000 SIO.

Optus melihat hasil terbaiknya dalam hampir setahun, menerima 5,9 keluhan per 10.000 SIO pada Oktober-Desember 2015. Hasil ini hanya sedikit lebih tinggi daripada periode yang sama tahun sebelumnya (5,4).

“Peningkatan berkelanjutan dalam kinerja pelayanan pelanggan antara perusahaan yang berpartisipasi, konsisten dengan penurunan yang secara signifikan terjadi dalam keluhan ke TIO selama tiga tahun terakhir,” CEO Communications Alliance, John Stanton, menggarisbawahi.

Telecommunication Industry Acting Ombudsman, Diane Carmody mengatakan “Peningkatan berkelanjutan di antara penyedia layanan ini adalah berita baik bagi konsumen.”

Laporan Complains in Context pertama mempublikasikan data dari Juli hingga September 2013. Pada saat itu, ada 7,9 TIO keluhan per 10.000 SIO untuk semua penyedia yang berpartisipasi. Demikian dilaporkan Gizmodo Australia, Selasa (9/2).

Ternyata, Wi-Fi di Gedung Putih Pun Sama Menjengkelkannya

0

Telko.id – Sebagian dari Anda mungkin berpikir, negara sehebat Amerika Serikat yang menjadi basis dari sejumlah raksasa internet dunia pasti akan memiliki kualitas internet di atas rata-rata. Paling tidak, lebih baik dibanding beberapa negara lainnya, termasuk kita yang ada di Indonesia. Tapi, tahukah Anda bahwa anggapan itu ternyata tidak benar? Lepas dari kecepatan LTE negara super power ini yang menduduki peringkat 55 dunia, Wi-Fi di kebanyakan rumah di AS juga tak bisa dibilang istimewa, tak terkecuali yang ada di Gedung Putih.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Presiden Obama baru-baru ini, dimana ia mengungkapkan bahwa Wi-Fi di Gedung Putih sama tidak istimewanya dengan Wi-Fi yang ada di rumah-rumah kebanyakan. Beberapa alasan pun diungkap sang presiden terkait kecepatan yang tidak semestinya ini. Salah satunya terkait fakta bahwa Gedung Putih adalah sebuah bangunan tua.

“Karena ini merupakan bangunan tua, maka ada banyak dead spot dimana Wi-Fi tidak bekerja,” katanya.

Obama juga mengatakan bahwa keluarganya juga merasa tidak senang dengan Wi-Fi yang lelet tersebut.

“Anak-anak kadang-kadang merasa jengkel dengan itu,” tambah Michelle Obama seperti dilansir dari Ubergizmo, Selasa (9/2).

Bisa dimengerti mengapa Gedung Putih memiliki jenis Wi-Fi yang menjengkelkan, karena ini memang benar-benar sebuah bangunan tua, tetapi mengingat ini adalah kediaman orang nomor satu di negara yang diklaim memiliki teknologi paling maju di dunia, isu seperti ini harusnya tidak bisa dibiarkan dan harus segera diatasi. Benarkan Mr Obama?

Tahun 2020, pasar Router Inti Akan Meningkat tajam

Telko.id – Jumlah permintaan dari penyedia layanan pasar router inti diperkirakan akan meningkat menjadi $ 3,4 miliar pada tahun 2020 mendatang, dengan pengiriman port 100 GE memacu pertumbuhan, menurut Dell’Oro Group.

Penyebaran dari port 100 GE yang signifikan ini didorong oleh peningkatan lalu lintas IP dan ketersediaan kapasitas line cards yang lebih tinggi. Sementara itu, harga dari 100 GE menurun secara signifikan pada tahun 2015 karena adanya pergeseran campuran dalam jenis router untuk 100 port GE yang terpasang.

Alam Tamboli, analis senior di Dell’Oro Group, mengatakan: “Sebelumnya, 100 GE terutama diinstal pada router inti high-end dan sekarang lebih sedang diinstal pada router yang relatif lebih rendah dari router sebelumnya,” seperti dikutip dari TelecomLead (9/2).

Bukan hanya itu, laporan ini juga menyebutkan bahwa optik canggih di CFP2 dan CPAK telah diturunkan harganya pada port 100 GE dan akan menyebabkan penurunan pada harga jual 100 GE dengan harga per bit ditransmisikan di bawah 10 GE pada tahun 2018 mendatang.

Sementara itu, industri telekomunikasi global mengharapkan bahwa port 100 GE akan bergeser dari penyebaran backbone inti dan menjadi penyebaran inti metro, hal ini juga ikut mendorong permintaan pasar dengan patokan harga untuk produk ini menjadi lebih terjangkau.

Dell’Oro Group sebelumnya juga meramalkan bahwa pasar Mobile Backhaul Transportasi, yang terdiri dari sistem backhaul nirkabel dan serat / tembaga, akan mendorong pertumbuhan sebesar $ 5,3 miliar per tahun selama lima tahun ke depan sebagai kenaikan jangka pendek dalam peralatan backhaul nirkabel akan memberikan energi ke pasar peralatan transmisi Microwave.

Kemudian, Small cell backhaul akan memberikan kontribusi sekitar 25 persen dari pendapatan Mobile Backhaul Transportasi pada tahun 2020. Permintaan untuk Microwave Transmission transceiver radio yang biasa digunakan dalam sejumlah aplikasi termasuk radio mobile juga diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan rata-rata 8 persen hingga tahun 2020.

Panggilan VoLte Bisa Berkali Lipat Dari Voice 2G?

Telko.id – Jumlah panggilan melalui VoLte bisa empat sampai lima kali lebih tinggi dari panggilan pada 2G atau 3G, hal tersebut seperti yang diungkapkan pada penelitian oleh Amdocs.

Namun, kualitas layanan VoLTE kemungkinan akan kurang stabil dibandingkan dengan layanan suara tradisional seperti 2G dan 3G.

Dilansir dari Telecom lead (9/2), Laporan tersebut mengatakan ada kebutuhan bagi tiap operator telekomunikasi untuk pertimbangan dalam hal mengoptimalkan radio akses jaringan (RAN) mereka.

Penelitian tentang VoLTE ini didasarkan pada analisis di lebih dari 25 juta koneksi suara dan data yang dihasilkan oleh 80 operator jaringan yang berbeda di seluruh dunia dalam 12 bulan terakhir.

Sementara itu, volume penggunaan data mobile tumbuh sekitar 60 persen secara year-on-year. Dengan hanya 5 sampai 15 persen lalu lintas Wi-Fi melalui perangkat mobile yang mampu secara akurat digambarkan sebagai Wi-Fi offload, selain itu, penyedia layanan harus menyediakan lebih banyak lalu lintas dari jaringan selular ke jaringan Wi-Fi.

Selama lonjakan traffik, pengguna dalam ruangan menghadapi peningkatan sebanyak 25 persen dalam masalah jaringan dibandingkan dengan pengguna di luar ruangan. Operator telekomunikasi secara efektif dapat menargetkan upaya optimalisasi jaringan di daerah-daerah masalah ini untuk memberikan kualitas pengalaman jaringan yang konsisten kepada pengguna mereka.

Riset ini juga menyebutkan bahwa SMS masih menjadi aplikasi pembunuh dengan rata-rata 70 persen dari penonton di acara konser atau acara olahraga mengirimkan setidaknya satu pesan teks selama acara berlangsung, tentunya hal ini dapat menyebabkan lonjakan pada penggunaan jaringan. Hal ini juga menjadikan kebutuhan untuk mengelola kapasitas jaringan selama acara, dengan sel jaringan sekitar lokasi acara ini membawa sekitar 50 persen lalu lintas lebih dari sel-sel di dalam stadion. Sementara itu, roaming internasional juga meng-upload hampir 50 persen lebih banyak data sementara pada event tersebut ketimbang non-roaming.

Terlepas dari kenyataan bahwa roaming internasional dapat menawarkan operator telekomunikasi pendapatan lebih besar dari penggunaan berbasis lokal, pengalaman jaringan mereka juga bisa menurun dan sampai 25 persen lebih buruk.

Lalu, apa solusi yang disarankan oleh Amdocs? Ann Hatchell, kepala pemasaran jaringan di Amdocs, mengatakan, dengan memanfaatkan software RAN, penyedia layanan mendapatkan efisiensi operasional dan meningkatkan kelincahan layanan dengan pendekatan vendor secara netral dan terpusat. Hal ini memungkinkan perusahaan telekomunikasi untuk mengoptimalkan kualitas pengalaman, bahkan pada saat terjadi “kemacetan” jaringan.

Amdocs sendiri merupakan perusahaan IT yang berfokus pada layanan billing system dan CRM asal Israel. Perusahaaan IT ini juga sempat membuat heboh Indonesia ketika mereka menjalin kerjasama dengan Telkomsel. Seperti diketahui, saat itu Indonesia tidak memiliki hubungan bilateral dengan Israel.

Mengandung Ad Fraud, Google Hapus Banyak Aplikasi di Play Store

Telko.id – Google akhirnya kembali menghapus lebih dari 200 aplikasi yang tersedia di Play Store. Dihapusnya aplikasi tersebut dikarenakan adanya skema penipuan berbasis aplikasi mobile yang dioperasikan melalui MoPub.

Sekedar informasi, MoPub merupakan platform iklan mobile yang dimiliki oleh Twitter. Aplikasi tersebut dapat menghasilkan pemasukan lebih dari $ 250 ribu pada setiap harinya melalui penipuan iklan.

Peneliti di perusahaan keamanan Sentrant Security yang menginvestigasi skema aplikasi mobile ad fraud ini mengidentifikasi sebanyak 247 aplikasi yang mengandung ad fraud. Aplikasi tersebut tersedia untuk diunduh di Google Play Store seperti dilansir dari laman IBTimes (9/2).

Diperkirakan, aplikasi ad fraud ini telah ter-install sebanyak 282.998 hingga 1.193.665 kali oleh pengguna. Sementara itu pihak Sentrant telah memberitahu Google untuk menghapus aplikasi penipu tersebut dari Play Store.

“Dalam reaksi untuk komunikasi kami dengan Google, semua aplikasi telah dihapus dari Play Store. Namun, aplikasi yang telah terpasang di perangkat pengguna tidak akan menginfeksi karena pengguna perlu melakukan uninstall aplikasi oleh mereka sendiri,” jelas Hadi Shiravi, Co-Founder of Sentrant Security.

Ia mengatakan, aplikasi ad fraud ini merupakan skema yang canggih aplikasi ini juga menargetkan aplikasi mobile di ratusan ribu perangkat. Kabarnya, skema iklan penipuan ini dikembangkan dan dioperasikan oleh perusahaan aplikasi mobile, Academ Media.

SolidFire Resmi Jadi Bagian NetApp

0

Telko.id – Setelah melalui proses yang cukup panjang, NetApp atau sebelumnya dikenal dengan nama Network Appliance, akhirnya resmi mengakuisisi SolidFire. SolidFire sendiri merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyimpanan all-flash yang didirikan pada 2010.

Diakui CEO NetApp, George Kurian dalam keterangan resminya, akuisisi ini akan menguntungkan pelanggan saat ini maupun yang akan datang dengan keinginan mendapatkan manfaat dari penyedia cloud webscale untuk data center mereka sendiri.

“SolidFire menggabungkan kinerja serta nilai ekonomis dari all-flash storage dengan arsitektur webscale yang secara radikal menyederhanakan operasi data center dan memungkinkan penerapan cepat dari aplikasi baru,” katanya.

Hal senada diutarakan Chief Executve SolidFire, Dave Wright. Menurutnya SolidFire dan NetApp memiliki kultur yang mendalam secara teknis serta pelanggan-sentris yang fokus pada inovasi untuk memberikan pelanggan kelebihan kompetitif. 

Kini, pelanggan memiliki akses portofolio all-flash terluas di industri untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam hal kecepatan, skala dan layanan data. Seiring berjalannya waktu, produk SolidFire akan menjadi bagian dari strategi Data Fabric NetApp, memberikan pengelolaan data secara seamless untuk flash, disk maupun cloud.

Gandeng Qualcomm, Deutsche Telekom Ujicoba LTE LAA

Telko.id – Qualcomm dan operator Jerman Deutsche Telekom mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan apa yang mereka sebut sebagai ujicoba pertama “over-the-air” di dunia yakni akses LTE license-Assisted Access (LAA).

Selama uji coba yang dilakukan tahun lalu, perusahaan menggunakan alat uji LAA yang dikembangkan oleh Qualcomm Research untuk memvalidasi teknologi ini.

Dilansir dari Telecom Asia, Deutsche Telekom menyediakan spektrum LTE berlisensi sebagai jangkar ditambah dengan spektrum tak berlisensi di band 5-GHz.

Dari hasil demonstrasi jaringan menunjukkan penambahan cakupan LAA dan peningkatan kapasitas jaringan memanfaatkan spektrum tak berlisensi dibandingkan dengan Wi-Fi.

Screenshot_2016-02-07-10-08-49_1

Sekedar informasi, alat uji coba LAA yang digunakan dalam percobaan tersebut sesuai dengan rilis pembangunan dari 3GPP yang memenuhi 13 standar saat ini dan dirancang untuk memenuhi peraturan band berlisensi global yang termasuk batas hunian channel dan fitur listen-before-talk.

CTO Qualcomm Matt Grob berkomentar bahwa ujicoba ini merupakan tonggak penting yang menunjukkan bagaimana dunia teknologi LAA akan segera memberikan manfaat yang meningkat untuk kebutuhan pengguna.

Sementara itu, pengembangan teknologi yang menyediakan jaringan LTE di frekuensi unlicensed menggunakan milik Steamin APAC sebagai cara operator untuk memenuhi lonjakan permintaan untuk lalu lintas data.

5 Trend Keamanan Identitas di 2016

Telko.id – Pada era Internet of Things, banyak data yang ‘seliweran’ di dunia maya dan ‘berlabuh’ di berbagai perangkat. Tentu, tidak mudah untuk melakukan pengamanan agar identitas diri pun terjaga. Jika disimpulkan, ada 5 trend keamanan identitas yang akan terjadi pada 2016 ini.

“Berdasarkan pengalaman HID Global, perusahaan akan semakin menginginkan keamanan identitas yang komprehensif untuk para pelanggan atau penggunanya. Hal ini menjadi dasar terbentuknya solusi yang lebih fleksibel dan sesuai dalam era baru identitas digital yang saling terhubung dan Internet of Things,” ujar Stefan Widing, Presiden dan CEO HID Global.

Kelima  trend yang dilihat oleh HID Global, sebagai perusahaan solusi keamanan identitas yang akan terjadi pada 2016 ini  berdasarkan pada pemahaman terhadap para pelanggan dari berbagai bidang, dan dengan berbagai percobaan serta penyebarluasan solusi-solusi mutakhir yang dimiliki perusahaan dengan bekerja sama dengan beberapa mitra dan perusahaan end-user di seluruh dunia.

Adapun, trend 2016 yang dimiliki oleh HID Global lebih terfokus kepada pengalaman pengguna yang lebih mobile dan terhubung, serta perbaikan yang berkelanjutan terkait perlindungan hak pribadi konsumen dan layanan terbaik.

Tren #1: “Memobilisasi” keamanan akan menjadikannya lebih luas dan personal

Gaya hidup identitas baru yang lebih aman akan tercipta dalam lingkup perangkat mobile yang telah ada saat ini. Fitur masuk ke komputer dan jaringan serta akses Driver License dan aplikasi lainnya akan terhubung dengan fungsi keamanan pada ponsel, tablet dan laptop. Begitupun dengan perangkat wearable dan ponsel yang terhubung dengan RFID untuk menambah keamanan dan kepercayaan terhadap IoT.

Tren #2: Keamanan akan lebih terfokus kepada pengalaman pengguna

Langkah ini akan menghilangkan kesenjangan antara perencanaan dan kepatuhan (compliance), serta memastikan bahwa keamanan dapat beradaptasi dibandingkan dengan menentukan kebutuhan para pengguna dan gaya hidup mereka.

Cara lama untuk memberikan otentikasi akan digantikan oleh alternatif lain yang lebih baik.

Tren #3: Aman, identitas yang saling terhubung akan lebih efisien dan inovasi kerja kami adalah belanja dan bermain

Industri ini akan memasuki babak berikutnya dalam identitas terhubung, menggunakan strategi keamanan berlapis yang mencakup biometrik untuk menghubungkan identitas kepada masing-masing pemilik.

Tren #4: Akan ada lebih banyak perhatian pada hak pribadi seiring meningkatnya konektivitas and mobilisasi

Identitas akan lebih diperluas tidak hanya tentang manusia dan identitas pribadi mereka terhadap identitas objek dan otentikasi, tapi juga memperhatikan kebutuhan akan perlindungan informasi pribadi di setiap perangkat, layanan dan aplikasi yang saling terhubung.

Tren #5: Kebijakan keamanan dan praktik terbaik akan sama pentingnya dengan kemajuan teknologi

Industri ini akan lebih terfokus tidak hanya pada apa yang harus disebarluaskan, tapi juga tentang bagaimana (cara menyebarluaskannya) – dari driver license digital pertama di Amerika Serikat hingga sistem manajemen terpadu agar perusahaan-perusahaan dapat lebih holistik dalam memberikan keamanan fasilitas dan informasi. Daripada hanya terfokus kepada cara untuk mencegah pelanggaran, industri juga dapat melakukan yang terbaik untuk mengendalikan apa yang akan terjadi berikutnya, sehingga identitas yang dicuri tidak akan dapat digunakan oleh si pencuri. (Icha)

4 Strategi Mozilla Setelah Hentikan Firefox OS untuk Smartphone

0

 

Telko.id – Untuk mengembangkan operating system memang tidak mudah. Harus selalu ada pengembangan setiap waktu nya. Mozilla akhir nya ‘angkat tangan’ dalam pengembangan operating system Firefox untuk smartphone. Padahal, umur OS ini masih sangat muda.

Sebenarnya, berita ini sudah sempat diumumkan pada awal Desember lalu oleh Ari Jaaksi, Mozilla’s SVP of Connected Devices . Namun, rencana Mozilla ke depan seperti apa untuk Firefox OS ini masih belum jelas. Baru John Bernard. Director, Collaboration, Connected Devices dan George Roter. Head of Core Contributors, Participation menyuarakan secara resmi di https://discourse.mozilla-community.org/t/firefox-os-connected-devices-announcement/6864. Dan link ini pun akan aktif 48 jam untuk menampung berbagai masukan.

Ada 4 point yang disampaikan dalam pernyataan tersebut. Pertama, pengembangan Firefox OS untuk smartphone akan berakhir setelah versi 2.6 rilis. Kedua, pada 29 Maret 2016, Marketplace tidak akan menerima lagi sumbmissions dari Android, Desktop dan Tablet. Semua aplikasi yang tidak mendukung Firefox OS akan dihapus. Sampai Firefox OS akan dilanjutkan kembali pada 2017. Sayang, untuk bulan dan tanggal nya masih belum dijelaskan.

Ketiga, tim Connected Devices sudah melakukan proses inpvasi produk baru. Setidaknya ada tiga produk yang sudah lulus pada ‘gerbang’ pertama. Namun, masih banyak proses pengujian lainnya. Dengan memiliki berbagai macam produk inovasi menjadi pendekatan yang baik untuk maju lebih baik lagi ke depannya. Partisipasi non-staf akan dibuka pada semester pertama tahun ini.

Keempat, program foxfooding akan terus dan akan fokus pada inovasi produk. Bukan hanya meningkatkan pengalaman pada smartphone saja. Mozilla juga akan berharap Sony Z3C foxfooding akan berguna dalam pengembangan ke depan. Tapi Mozilla juga berharap sampai akhir maret sudah terlihat lebih spesifik desain programnya akan seperti apa.

Diakui oleh John Bernard maupun George Roter, keputusan yang diambil ini sangat berarti. Terutama, karena Mozilla berniat untuk lebih mengarahkan energy dan sumber daya yang ada untuk pengembangan IoT. Langkah ini juga ditujukan agar para pengguna memiliki pilihan melalui interoperable dan solusi lainnya. Mozilla akan bertindak sebagai pendukung untuk keamanan dan privasi data penggunanya. (Icha)

XL Ujicoba Layanan VoLTE di Surabaya dan Bali

0

Telko.id – PT XL Axiata Tbk (XL) kian melengkapi ekosistem 4G LTE miliknya. Kali ini dalam bentuk kesiapan mereka menggelar layanan VoLTE (Voice Over LTE) dan RCS (Rich Communication Suite).

Surabaya dan Bali menjadi tempat pertama dimana XL menggelar ujicoba kedua layanan komunikasi tersebut. Ini sekaligus menjadi ujicoba VoLTE pertama di Indonesia yang dilakukan di luar ruangan dan secara live, bukan hanya dalam laboratorium.

Chief Brand & Customer Experience XL, Nicanor V. Santiago III, mengatakan dalam keterangan resminya, Jumat (5/2), “Ujicoba yang kami lakukan ini didasari pertimbangan keinginan kami untuk mampu memberikan layanan panggilan voice dan video yang superior kepada pelanggan. VoLTE sendiri merupakan layanan inovatif untuk voice sebagai hasil dari pengembangan 4G LTE. Sangat perlu bagi XL untuk juga menghadirkan layanan VoLTE ini seiring upaya kami untuk terus melengkapi ekosistem layanan XL 4G LTE. Kami terus berusaha menjadi yang terdepan dalam layanan 4G LTE.”

Ia menambahkan, XL benar-benar telah menyiapkannya secara matang melalui ujicoba yang terus menerus untuk memastikan kualitasnya. Hasilnya sangat baik, dan akan terus dikembangkan untuk penambahan fitur-fitur lainnya.

“Jadi pada dasarnya jika sewaktu-waktu akan diluncurkan, XL sudah siap. Kami juga mengupayakan kesiapan dari sisi handset di market yang memiliki fitur untuk menggunakan VoLTE,” katanya.

Ada banyak manfaat yang ditawarkan oleh VoLTE, bila dibandingkan layanan voice lainnya yang ada saat ini, diantaranya kualitas suara yang sangat jernih (HD voice), hemat daya baterai ponsel, serta talktime yang lebih lama – sekitar 1.5 kali dibandingkan aplikasi VoIP yang lainnya.

Secara teknis, pada VoLTE call set-up juga sangat singkat, yakni hanya perlu 1-2 detik. Sementara pada umumnya layanan nelpon lainnya rata-rata membutuhkan 5-6 detik.

Dari sisi operator, jika dibandingkan dengan UMTS/GSM, maka VoLTE memungkinan operator untuk lebih efisien dalam menggunakan alokasi pita frekuensi yang dimiliki. Dengan demikian, operator bisa melayani lebih banyak pelanggan hingga 2 kali untuk voice call/MHz dibandingkan CS call. Dengan menggunakan VoLTE, pelanggan yang melakukan/menerima layanan telpon juga akan tetap di jaringan LTE, tanpa perlu melakukan “fall back” atau pindah ke jaringan UMTS/GSM terlebih dahulu.

Keunggulan lainnya adalah, apabila saat pelanggan melakukan panggilan di jaringan LTE (VoLTE) dan kemudian pindah ke area yang belum mendapatkan jaringan LTE, maka VoLTE juga memungkinkan pelanggan untuk berpindah dari LTE ke non-LTE, pun demikian sebaliknya, tanpa terputus.

 

Lalu bagaimana dengan RCS?

RCS pada dasarnya tak jauh berbeda dari VoLTE. Mungkin kita bisa menyebut keduanya, serupa tapi tak sama. RCS merupakan layanan komunikasi yang diperkaya dan lebih lengkap, yang beroperasi pada sambungan internet, tanpa tergantung apakah sambungan internet tersebut menggunakan LTE, UMTS, GSM, ataupun WiFi. Layanan ini menggunakan ID nomor telepon seperti halnya pelanggan ponsel seperti biasanya, sehingga tidak memerlukan ID atau nomor telepon baru.

Aplikasi RCS merupakan layanan komunikasi berbasis internet yang memadukan ragam fitur, antara lain seperti messaging, chating, voice call, dan video call dalam satu aplikasi yang mudah digunakan.

Dengan hadirnya kedua teknologi ini, XL berharap dapat terus memberikan layanan panggilan voice dan video yang sangat superior dan lebih kepada pelanggan, dan memberikan pengalaman yang lebih baik dalam pemanfaatan jaringan LTE.

Hingga saat ini, tercatat tidak kurang dari 35 kota yang terlayani oleh 4G LTE XL. Selain bertambah kota, layanan internet cepat ini juga terus meluas secara area di setiap kota. Hal ini memungkinkan dengan terus beroperasinya BTS-BTS 4G yang baru.