spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1725

Telat Hadirkan 4G, Tri Janjikan Tidak Akan Perang Tarif

0

Telko.id – Satu-satunya operator seluler penggelar jaringan 4G yang belum meluncurkan secara resmi layanannya, Hutchison 3, menjanjikan tidak akan melakukan perang tarif antar sesama operator.

Hal itu ditujukan guna memberikan kenyamanan bagi para pelanggan. Pasalnya, seperti diakui Tri, perang tarif dengan paket-paket internet malam dan semacamnya, ujung-ujungnya hanya akan merugikan dan menyulitkan pengguna dalam menikmati layanan 4G tersebut.

Tri juga nantinya akan menghadirkan beberapa pilihan paket, namun Danny Buldansyah, Vice President Director Hutchison 3 Indonesia menyebut tidak akan mengarah kepada perang tarif internet.

“Kita juga gak mau perang tarif dan perang harga, Karena nanti ujungnya konsumen juga yang dirugikan,” katanya.

Danny menyebut nantinya paket data 4G akan berbeda dengan yang ada saat ini. Dimana mereka cenderung menyediakan jaringan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.

“Jadi kita lihat orang sesuai kebutuhannya dengan apa. Kalau kita lihat streaming ya segitu-gitu aja asal tidak buffering dan pengguna tidak perlu tahu mengenai kecepatan internet saat itu,” tambahnya.

Terkait kecepatan layanan, Danny menjelaskan, Tri yang memiliki  5 mhz, hanya akan mencapai 20 Mbps dengan pengguna yang masih kosong.

Disinggung mengenai keterlambatan Tri dalam meluncurkan 4G – khususnya bila dibandingkan dengan empat operator penyelenggara 4G lainnya – Danny menyebut bahwa ini sejatinya sesuai dengan apa yang sudah dijadwalkan Tri sebelumnya, yang memang berencana mengkomersialisasikan 4G pada kuartal pertama tahun depan.

“Sebetulnya dari awal rencana kita di Q1, terus setelah meeting gimana kalau kita majuin ke akhir tahun, namun ternyata setelah diskusi internal yang kami lakukan kami tetap luncurkan pada Q1,” ucap Danny lagi.

Ketersediaan perangkat 4G dan masih sedikitnya pelanggan layanannya ini diakui Danny lagi sebagai alasan mengapa Tri tidak bisa dikatakan terlambat. Terlebih, saat ini Tri juga masih terus berkoordinasi untuk memelihara dan memperkuat jaringan 3G mereka. Seperti diketahui, jaringan 3G merupakan penyokong terbesar pendapatan perusahaan. [ak/if]

Small Cell, Solusi Praktis Untuk “Memacu” Kecepatan Data

0

Jakarta – Saat ini, kecepatan internet dan kemudahan akses data di berbagai negara maju telah mencapai puncaknya. Perkembangan internet ini juga merubah pola fikir pengguna yang lebih tertarik menggunakan jalur internet (data) ketimbang jalur voice.

Perubahan ini tidak berbeda dengan kecenderungan para pengguna di Indonesia. Bahkan saat ini pengguna mobile broadband di Indonesia lebih tinggi ketimbang versi desktop nya. Permasalahan di Negara kita adalah dari kecepatan internet yang masih tergolong loyo dan memiliki cukup banyak blank spot.

Pemerintah bersama dengan para penyedia jaringan telah memperbaiki permasalahan tersebut. Hasil kerja keras mereka pun nampaknya cukup sukses dengan menghasilkan coverage yang jauh lebih banyak ketimbang beberapa tahun kebelakang. Namun, permasalahan internet yang masih lambat pada beberapa titik pun belum terselesaikan. Nah, bagaimanakah solusinya?

Small Cell, adalah salah satu solusi untuk memperbaiki kecepatan dan kualitas jaringan di Negeri Ibu Pertiwi ini. Walaupun saat ini coverage jaringan sudah tergolong baik, namun tidak demikian dengan kapasitas dari jaringan itu sendiri.

Hal ini sejatinya dapat dirasakan di beberapa pusat perbelanjaan, gedung-gedung perkantoran dan juga tempat ramai lainnya. Pada lokasi-lokasi tersebut para pengguna memang sukar mengakses internet walaupun pada bar jaringan di smartphone mereka terlihat cukup banyak sinyal di daerah tersebut.

Pengertian Small Cell

Small Cell sendiri merupakan sebuah perangkat yang tertanam di setiap BTS ataupun antenna pada gedung-gedung perkantoran, dan tempat ramai lainnya. Perangkat ini akan membagi-bagi kapasitas dari jaringan internet di suatu lokasi yang tentunya akan menghasilkan kapasitas yang lebih besar di setiap lokasinya.

20130218-VS_Metro_3_V2_800Small Cell memiliki teknologi yang terhubung dengan core frekuensi yang dimiliki operator yang diusungnya, bukan merupakan perpanjangan sinyal dari BTS. Bahkan small cell tidak akan menginterferensi frekuensi lain karena teknologinya memang dibuat khusus untuk memberikan sinyal langsung kepada user yang dituju.

Dari segi efisiensi, Small Cell juga menawarkan efisiensi karena perangkat ini terintegrasi dengan perangkat lain seperti BTS Indoor ataupun perangkat wifi, ketimbang para operator membangun jaringan konvensional yang baru, yang notabene lebih membutuhkan biaya serta waktu pengerjaan yang jauh lebih lama.

Uniknya, menurut Gunadi Dwi Hantoro, selaku Sekjen perkumpulan Small Cell Indonesia, perangkat ini memungkinkan untuk menggabungkan teknologi FDD dan TDD. Dengan hadirnya LTE yang mengusung kedua teknologi tersebut, bukan tidak mungkin kecepatan internet di Indonesia akan lebiih baik lagi.

Untuk sasarannya sendiri, penyedia Small Cell di Indonesia lebih memfokuskan diri di beberapa kota besar di Indonesia yang memiliki tingkat traffik yang tinggi. Beberapa kota tersebut diantaranya, Jakarta, Bali, Medan, Surabaya, dan Makassar.

Pengimplementasian Small Cell di Indonesia

Untuk di Indonesia, sejatinya belum ada pengimplementasian yang nyata terhadap teknologi ini. Namun di beberapa negara Asia Tenggara, teknologi ini sudah berhasil diimplementasikan. Sebut saja, Singapura, Thailand serta Malaysia tengah mengimplementasikan teknologi ini. Sama halnya dengan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris serta Australia.

Di Indonesia, penetrasi saat ini baru pada tahap inisiasi serta perkenalan kepada publik dan para pemangku kepentingan terkait. Namun, Sekjen Small Cell Indonesia megklaim bahwa para operator seluler telah tertarik dan setuju untuk mengaplikasikan teknologi ini yang tentunya bertujuan untuk memberikan pelayanan yang semakin baik bagi para pelanggan.

Regulasi

Sampai dengan saat ini, belum ada reulasi jelas yang mengatur mengenai teknologi ini. Namun, Taufik Hasan, perwakilan dari BRTI yang ditemui pada saat peresmian Small Cell di Jakarta mengungkapkan, untuk membangun jaringan yang lebih baik tidak ada salah nya bekerjasama dengan Small Cell. Kami juga menghimbau agar para operator ikut bekerjasama dengan Small Cell guna memberikan layanan yang lebih baik dan cakupan yang lebih luas dengan tujuan untuk lebih memanjakan para pengguna.

Bukan hanya itu, jika mengacu pada pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sebelumnya, pemerintah akan mengupayakan segala hal demi kelancaran dan efisiensi pada industri telekomunikasi Indonesia.

Sebagai informasi, perangkat ini juga mendukung infrastructure sharing yang sedang digaungkan oleh Menkominfo dan para operator jaringan di Indonesia.

Nah, kita tunggu saja mengenai pengimplementasian dari peangkat ini kedepannya. Semoga bisa memperbaiki kualitas internet Indonesia dan tentunya lebih efisien. (AK/HZ)

 

Netcom Cetak Rekor Baru untuk Kecepatan LTE, Berapa?

0

Telko.id – Kabar baik datang dari operator asal Norwegia, Netcom. Perusahaan yang tak lain merupakan anak perusahaan dari TeliaSonera itu mengatakan belum lama ini bahwa mereka telah berhasil membuat rekor baru pada jaringan mobile di Oslo. Perusahaan yang menggunakan teknologi LTE Advanced Pro yang dikembangkan bersama Huawei ini mengklaim telah mencapai kecepatan hingga 1 Gbps.

Demonstrasi terbaru ini didasarkan pada BTS outdoor dan kondisi kehidupan nyata. Netcom menggabungkan empat band frekuensi – terdiri dari 800, 1800, 2100, 2600 MHz – untuk memberikan kecepatan tertinggi baru. Huawei mengatakan ujicoba ini merupakan persiapan menuju pengenalan komersial teknologi 4.5G tahun depan.

“Ini merupakan langkah penting menuju 5G, yang akan hadir dalam beberapa tahun ke depan,” kata Jon Christian Hillestad, CTO TeliaSonera Norwegia seperti dilansir Telecoms, Rabu (16/12).

“Kami tidak tahu persis kecepatan seperti apa yang akan dibutuhkan di masa mendatang, tetapi kami tahu bahwa era digitalisasi, dimana Internet of Things akan terus tumbuh, akan menuntut kecepatan yang jauh lebih tinggi. Masa depan akan membutuhkan bandwidth, kecepatan tinggi dan tidak adanya keterlambatan dalam transfer. Kami sedang mempersiapkan untuk menyambut kenyataan itu dengan LTE Advanced Pro,” katanya.

CMO Huawei Wireless Product Line, Yang Chaobin mengatakan bahwa apa yang disaksikan saat ini hanyalah awal dari era komunikasi nirkabel 4.5G, di mana 1Gbps akan menjadi tingkat acuan jaringan broadband mobile baru.

Sebagai informasi, saat ini jaringan 4G Netcom sudah mencakup 95 persen dari populasi di Norwegia dengan kecepatan hingga 80 Mbps. LTE + tersedia untuk sekitar seperlima dari populasi, memberikan kecepatan hingga 300 Mbps. Demikian dilaporkan Telecompaper.

Eropa akan Larang Remaja Akses Internet dan Facebook?

0

Telko.id – Aturan perlindungan data Eropa yang baru akan mengharuskan perusahaan memerlukan izin orang tua untuk menangani data dari mereka yang berusia di bawah 16 tahun, secara efektif memblokir mereka dari media sosial.

Parlemen Eropa rencananya akan melakukan voting terkait aturan baru yang bisa berdampak pada dilarangnya remaja mengakses layanan internet seperti Facebook, media sosial, layanan pesan atau apapun yang memproses data mereka ini, tanpa persetujuan dari orang tua atau orang yang menjadi walinya.

Menurut Guardian, Rabu (16/12), perubahan di menit terakhir dari peraturan perlindungan data Eropa yang baru ini akan melarang perusahaan menangani data pengguna yang berusia 15 tahun atau lebih muda. Secara tidak langsung menaikkan usia legal bagi mereka yang bisa memiliki akses ke dunia digital menjadi 16 dari 13.

Perusahaan yang ingin memungkinkan mereka yang berusia di bawah 16 tahun untuk menggunakan layanannya, termasuk Facebook, snapchat, Whatsapp dan Instagram, harus mendapatkan persetujuan eksplisit dari wali yang bersangkutan.

RUU menyatakan, “Pengolahan data pribadi dari anak di bawah usia 16 tahun hanya akan halal jika dan sejauh persetujuan tersebut diberikan atau disahkan oleh orangtua dari si anak sebagai penanggung jawab.”

Perusahaan seperti Facebook saat ini memungkinkan pengguna dari usia 13 tahun untuk bergabung dengan layanan mereka. Kebijakan mereka ini didasarkan pada usia persetujuan digital yang menjadi 13, seperti yang didefinisikan oleh Children’s Online Privacy Protection Act (Coppa) atau Aksi Perlindungan Privasi Online Anak Amerika Serikat dan hukum yang serupa di Uni Eropa, yang memungkinkan mereka yang berusia di bawah 13 tahun mendapatkan perlindungan privasi ekstra.

Sampai saat ini, draft RUU perlindungan data Eropa, yang memakan waktu empat tahun untuk membuatnya, menetapkan usia 13 tahun sebagai usia digital, mengikuti Coppa.

Perubahan ini ditentang baik oleh perusahaan teknologi maupun ahli keselamatan anak, yang memperingatkan bahwa peningkatan usia dewasa akan membuat sangat sulit bagi remaja di bawah 16 tahun untuk menggunakan media sosial dan sumber daya dan layanan lainnya yang berbasis internet.

“Pindah usia dari 13 ke 16 merupakan perubahan besar dalam kebijakan yang tampaknya belum dikonsultasikan dengan publik,” ungkap Janice Richardson, mantan koordinator jaringan internet aman Eropa dan konsultan ITU.

Ia menambahkan, memindahkan persyaratan untuk izin orang tua dari usia 13 ke usia 16 akan menyulitkan pendidikan orang-orang muda dan kesempatan bersosialisasi dalam sejumlah cara, namun tidak akan memberikan lebih banyak perlindungan.

Mulai 15 Desember, Pelanggan Wajib Lakukan Registrasi SIM Card

0

Telko.id – Mulai hari ini para pelanggan kartu prabayar yang baru harus meregistrasikan kartu prabayar mereka di outlet tempat pembelian. Hal itu ditujukan sebagai tindakan preventif Kominfo dan para pemangku terkait guna mengurangi kejahatan dan penipuan melalui kartu prabayar.

Para operator seluler juga mengaku siap untuk mematuhi regulasi ini. Pasalnya, sudsh banyak penipuan yang terjadi di tengah masyarakat terkait hal ini.

Merza Fachys, Sekjen ATSI mengungkapkan, “Kita menyepakati mulai tanggal 15 Desember untuk penertiban registrasi prabayar dan mulai hari ini 4444 hanya akan bisa digunakan untuk pendaftaran registrasi kartu prabayar oleh si penjual kartu atau outlet,” ungkapnya.

Hal ini sekaligus memberikan tantangan baru, mengingat banyak outlet tradisional yang tidak memiliki perangkat seperti smartphone dan koneksi internet yang cukup baik.

Sanksi juga tentunya akan diberikan oleh Pemerintah kepada para operator sebelum akhirnya akan diturunkan kepada para outlet apabila ada yang melanggar ketertiban ini.

Sejatinya, hal ini dapat menurunkan jumlah pembeli simcard pada gerai-gerai operator. Namun, berkaca dari jumlah kerugian yang ditimbulkan dari penipuan ini, tindakan penertiban kartu sim dirasa perlu agar tidak ada lagi tindakan penipuan.

Bagaimana dari segi operator? Mereka satu suara dalam hal ini dan mematuhi peraturan menteri yang berlaku. Mengenai kemungkinan turunnya jumlah pengguna kartu baru, pihak operator menyatakan siap. Karena ini juga demi kebaikan pengguna.

Untuk lebih lengkapnya, berikut ketentuan pokok yang diatur dalam Permen Kominfo Registrasi:

1.Registrasi merupakan pencatatan identitas pelanggan jasa telekomunikasi oleh penyelenggara jasa telekomunikasi.

2.Pelanggan mempunyai hak menggunakan jasa telekomunikasi setelah memberikan identitasnya secara benar kepada penyelenggara jasa telekomunikasi.

3.Registrasi untuk pelanggan jasa telekomunikasi pasca bayar dilaksanakan sesuai dengan kontrak antara penyelenggara jasa telekomunikasi dengan pelanggan jasa telekomunikasi pasca bayar.

4.Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menerapkan registrasi untuk setiap pelanggan jasa telekomunikasi pra bayar dan memiliki identitas pelanggan dimaksud.

5.Identitas pelanggan yang dibutuhkan untuk keperluan registrasi pelanggan pra bayar sekurang-kurangnya terdiri atas:

5.1. nomor telepon jasa telekomunikasi pra bayar yang digunakan;

5.2. idenlitas yang terdapat pada pada Kartu Tanda Penduduk/Surat Izin Mengemudi/Pasport/Kartu Pelajar, yaitu nomor, nama, tempat/tanggal lahir dan alamat.

6.Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menyediakan alat dan perangkat yang diperlukan untuk keperluan registrasi pelanggan jasa telekomunikasi pra-bayar.

7.Mekanisme registrasi pelanggan jasa telekomunikasi pra bayar dilaksanakan oleh masing-masing penyelenggara jasa telekomunikasi.

8.Penyelenggara jasa telekomunikasi mengaktifkan nomor pelanggan jasa telekomunikasi pra bayar setelah identitas pelanggan jasa telekomunikasi pra bayar diterima dengan benar dan lengkap.

9.Penyelenggara jasa telekomunikasi wajib menonaktifkan nomor pelanggan jasa telekomunikasi pra bayar yang terbukti atau diketahui menggunakan identitas tidak benar.

10.Dalam hal terjadi penonaktifan nomor pelanggan jasa telekomunikasi pra bayar, penyelenggara jasa telekomunikasi tidak mempunyai kewajiban membayar kerugian apapun kepada pelanggan. [ak/if]

Ajukan Visa AS? Siap-siap Diperiksa Akun Media Sosialnya

0

Telko.id – Mendapatkan visa AS sepertinya akan semakin sulit saja sekarang. Pasalnya, negeri paman Sam ini kini tidak hanya mengharuskan pelamar memasukkan nama negaranya saat mengajukan visa, tetapi juga ‘memberi ijin” untuk mengintip akun media sosialnya. Hal ini sebagaimana diatur dalam persyaratan 5939582, yang juga memungkinkan pemerintah Amerika Serikat memeriksa postingan di akun media sosial pelamar.

Menurut Wall Street Journal, Department of Homeland Security AS, yang bertugas menjaga keamanan negara, saat ini merancang sebuah rencana untuk membuat tahap itu menjadi bagian dari aplikasi visa “sebelum orang-orang tertentu diizinkan masuk ke negara itu.”

Homeland Security sudah mulai melihat beberapa postingan pelamar terpilih awal tahun ini sebagai bagian dari program percontohan, tapi badan ini menjadi lebih serius setelah pihak berwenang menemukan bahwa mereka kecolongan dan tidak melihat posting media sosial salah satu penembak San Bernardino yang pro-jihad. Wanita itu lolos tiga pemeriksaan latar belakang selama proses aplikasi visa ketika dia pindah dari Pakistan ke AS.

Saat ini, rincian mengenai program baru Homeland Security ini masih sedikit, karena pemerintah tidak mau mengungkapkan bagaimana menemukan dan mengidentifikasi postingan yang dianggap sebagai ancaman.

Namun seperti diungkapkan WSJ, tidak sepenuhnya jelas mengenai seberapa cepat lembaga itu memasukkan pemeriksaan media sosial ke dalam proses aplikasi visa. Jadi belum bisa dipastikan mana (dan kapan) pelamar akan harus melalui proses itu.

Telefonica Gandeng MTN Guna Perluas Wilayah Ekspansi

0

Telko.id – Dua raksasa Telekomunikasi asal Amerika Latin dan Afrika bertemu dengan Telefónica bermitra dengan MTN untuk program mitra strategis dan dirancang untuk menghasilkan skala tambahan serta jangkauan geografis yang lebih luas.

MTN berkantor pusat di Afrika Selatan, namun memiliki operasi di seluruh Afrika termasuk Nigeria, dimana perusahaan baru-baru ini didenda oleh pemerintah terkait hal tersebut. Sementara Telefónica adalah perusahaan Spanyol, tetapi beroperasi di banyak negara di Amerika Latin, sehingga mereka berdua memiliki banyak pengalaman untuk mengembangkan pasarnya.

Target utama kemitraan ini adalah perusahaan – terutama perusahaan multinasional yang beroperasi di kedua wilayah dan kategori negara berkembang seperti M2M. Mereka juga akan berkolaborasi pada inisiatif strategis sekitar peluang industri baru dan bagaimana untuk lebih memanfaatkan hal yang sudah ada.

“MTN Group percaya kemitraan strategis dengan Telefónica, yakni salah satu operator terbesar dan paling maju di dunia ini, akan membawa manfaat besar untuk MTN untuk bisa lebih bertumbuh di masa depan,” kata Herman Singh, Group Chief Digital Officer di MTN.

Ia juga menambahkan, “Ruang lingkup pengembangan termasuk proses inovasi kami dan penawaran produk baru seperti pindah ke Dunia Digital , serta memanfaatkan skala gabungan kami di berbagai bidang seperti pengadaan.”

Herman menyebut bahwa kemitraan ini sebagai langkah penting untuk kemajuan bersama.

Sementara itu, Mario Martin selaku Aliansi Group Director Telefonica menyebut bahwa kerjasama ini akan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaaan telekomunikasi tersebut.

“Telefónica memiliki keyakinan yang kuat dalam keuntungan dari skala dan penyatuan keterampilan yang dibawa oleh kemitraan industri ini serta kami sangat bangga memiliki partner MTN Group sebagai pemain di industri Telekomunikasi dengan track record yang luar biasa.”

“Kami yakin bahwa perjanjian ini akan membawa manfaat penting untuk kedua Grup,” tutup mario. [ak/if]

2019, Dunia akan Keluarkan USD1.3 Triliun untuk Internet of Things

0

Telko.id – IDC memprediksi bahwa belanja global Internet of Things akan mencapai USD1.3 triliun pada tahun 2019, naik dari dari USD698.6 juta di 2015. Asia-Pasifik, disebut-sebut menjadi kawasan ‘paling konsumtif’ jika bicara tentang pengeluaran IOT.

Dilansir dari Total Telecom, Selasa (15/12), perusahaan riset tersebut mengatakan bahwa secara geografis Asia-Pasifik saat ini menghabiskan uang paling banyak untuk IOT, dengan persentase 40% dari total di seluruh dunia. Disusul Amerika Utara dan Eropa Barat di urutan kedua dan ketiga, dengan pengeluaran gabungan lebih dari USD250 miliar.

Dalam hal industri vertikal, IDC menyebut bahwa manufaktur dan transportasi saat ini memimpin klasemen, dengan belanja IoT masing-masing sekitar USD165.6 juta dan USD78.7 juta pada tahun 2015.

“Manufaktur dan transportasi keduanya cocok untuk penyebaran IoT,” kata Vernon Turner, wakil presiden senior dan peneliti IoT di IDC, dalam sebuah pernyataan beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, kedua industri ini telah menghubungkan pemasok, produk, pelanggan, dan bahkan pekerjanya saat ini dan benar-benar telah menuai hasil dari itu. Meskipun, tingkat pertumbuhan akan berbeda di berbagai daerah, mengingat keberagaman dari Internet of Things itu sendiri.

Menurut IDC, di Eropa Tengah dan Timur (CEE), dan Timur Tengah serta Afrika (MEA), sektor IOT yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah bangunan cerdas, di mana IOT digunakan untuk mengoptimalkan operasional gedung melalui otomatisasi, serta pemantauan jarak jauh dan kontrol.

Di Amerika Latin, IDC memprediksi sektor IOT yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah pemeliharaan dan layanan lapangan, dimana data sensor dikumpulkan dan dikirim dari lapangan untuk teknisi.

Di Asia-Pasifik, perusahaan asuransi akan semakin banyak yang mengandalkan remote telematika untuk memantau perilaku pengemudi untuk tujuan perhitungan premi. Sementara di Amerika Utara, teknologi IOT akan dimanfaatkan untuk tujuan pemasaran kontekstual untuk mendapatkan informasi tentang perilaku konsumen, kata IDC.

Akuisisi KCOM, CityFibre Rogoh Kocek Rp 2 Triliun

0

Telko.id – Setelah beberapa waktu lalu sempat menjadi pemberitaan berkat proyek Kota Gigabit-nya, CityFibre baru-baru ini kembali membuat cerita. Pengembang jaringan asal Inggris itu telah mengumumkan akusisinya terhadap jaringan nasional KCOM. Langkah ini secara tidak langsung telah memperluas cakupan perusahaan menjadi 20% dari pasar Inggris.

Seperti namanya, CityFibre berfokus pada konektivitas serat di perkotaan dan kesepakatan ini akan melipatgandakan kota yang dicakupnya menjadi 36. Sementara penambahan dana baru sebesar £90 juta atau setara Rp 2 Triluin akan memungkinkan CityFibre memperluasnya lebih lanjut. Direncanakan, mencapai 50 kota pada tahun 2020. Demikian dilansir dari Telecoms, Selasa (15/12).

CityFibre menambahkan, ketika kesepakatan ini ditutup pada pertengahan Januari 2016, perusahaan akan menjadi peyedia infrastruktur terbesar kedua di Inggris, setelah BT.

Saat ini, aset spesifik perusahaan terdiri dari 1.100 km duktus dan jaringan serat di 24 kota di Inggris, serta 1.100 km jaringan jarak jauh yang menghubungkan mereka dengan pusat data di Inggris dan poin peering internet di London. Jaringan baru akan menghubungkan lebih dari 7.000 situs sel mobile, 24.500 situs sektor publik dan 245.000 usaha.

Terkait akuisisi ini, CEO CityFibre, Greg Mesch mengatakan bahwa ini adalah kejadian paling signifikan yang terjadi di pasar infrastruktur digital Inggris dalam satu dekade terakhir. Dimana Inggris kini memiliki alternatif infrastruktur aman yang independen.

“Dengan jejak kaki kami yang semakin besar dan banyaknya kota yang menuntut infrastruktur yang lebih baik, kami akan terus tumbuh, menawarkan mitra yang ada dan baru sebuah kesempatan yang semakin meningkat untuk memanfaatkan serat murni di masa depan,” katanya.

Tahun Depan. Advan Akan Penuhi 20% TKDN

0

Telko.id – Advan, sebagai salah satu pemain di ranah smartphone 4G LTE siap memenuhi aturan pemerintah terkait TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri). Rencananya, tahun 2016 mendatang perusahaan akan memenuhi sekitar 20% Tingkat Kandungan Lokal pada produknya.

Hal ini diutarakan Tjandra Lianto, Marketing Director Advan saat acara peluncuran smartphone 4G teranyar perusahaan hari ini, Senin (14/12). Diakuinya, Advan akan memenuhi TKDN sebanyak 20% pada tahun 2016 dengan cara memfokuskan diri pada R&D dan Pembangunan Pabrik.

“Kami berupaya untuk memenuhi aturan tersebut,” tuturnya.

Sekedar informasi, Advan baru saja meluncurkan perangkat 4G besutannya yang diberi nama i5A dan akan merilis beberapa produk 4G lainnya pada kuartal pertama di tahun depan.

Sejatinya, saat ini Advan telah memiliki pabrik yang ada di Semarang. Namun mereka masih memerlukan partner pendukung untuk membuat produk 4G. Pabrik tersebut juga mampu memproduksi smartphone sebanyak 6000 unit dalam waktu satu hari.

“Kita akan mencari industri komponen pendukung yang ada di Indonesia untuk mendongkrak TKDN,” ucapnya. Sampai saat ini nilai kandungan lokal pada Advan belum menyentuh angka 20% dan akan segera menjadikannya 20% dalam waktu dekat.

Untuk R&D sendiri, Tjandra menyebutkan tengah berkonsentrasi penuh dan melibatkan rekan mereka di Indonesia serta di China.

Mengenai potensi pada industri 4G sendiri, Tjandra mengaku terdapat sebuah potensi yang sangat besar, mengingat sudah tersedianya jaringan 4G LTE di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Advan rencananya akan menggandeng beberapa operator penyelenggara 4G LTE seperti Indosat Ooredoo dan Telkomsel untuk memasarkan produk terbarunya ini. Tak hanya itu, Advan juga mengungkap cita-citanya mereka untuk menjadi market leader di Industri smartphone 4G Indonesia. Hal tersebut tergambar pada kontrak kerjasama dengan FC Barcelona yang diperpanjang dan memakan dana jutaan Euro. [ak/if]