spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1719

Telkomsel Kerahkan 7 Unit Combat BTS Mobile Di Ancol dan Taman Mini

0

 

Telko.id – Tempat wisata adalah tempat yang biasa dikunjungi masyarakat saat akan menikmati pergantian tahun. DI Jakarta utara, Taman Impian Ancol menjadi salah satu tempat favorite. Untuk itu, Telkomsel sudah penambahan kapasitas layanan untuk melayani para pelanggannya yang pasti akan meningkat jumlah nya di area tersebut.

“Telkomsel sudah mensiagakan 5 unit Combat BTS Mobile untuk memberikan kenyamanan dan pengalaman broadband yang berkesan bagi para pelanggan yang akan menghabiskan malam pergantian tahun di sana,” Primadi K. Putra, Vice President Corporate and Community Account Management Telkomsel menjelaskan.

Selain itu, Telkomsel juga memberikan bantuan pada jajaran Korlantas dalam Operasi Lilin – Jaya 2015 guna mendukung operasional selama pergantian tahun.

Selain itu, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pun menjadi area yang diantisipasi lonjakan penggunaanya oleh Telkomsel. “Menghadapi momen libur Natal dan Tahun, Telkomsel sudah mempersiapkan diri untuk menjamin kenyaman pelanggan dalam menikmati layanan Telkomsel, terutama di sejumlah titik keramaian yang menjadi Poin Of Interest (POI) tempat berkumpulnya massa yang cukup banyak di saat momen liburan dan khususnya malam pergantian tahun, seperti halnya di Taman Mini Indonesia Indah ini,” ujar, Heru Sukendro, General Manager Sales Regional Central Jabotabek Telkomsel menjelaskan.

NARU_TMII-1

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Telkomsel menambah kapasitas dan coverage BTS existing. Selain itu juga menambah 2 unit Combat BTS Mobile yang ditempatkan di wahana Keong Mas dan Snow Bay.

Hal ini sudah dipersiapkan Telkomsel dikarenakan berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir tingkat kunjungan di TMII meningkat dari yang biasanya sekitar 40 ribu pengunjung di akhir pekan, meningkat menjadi sekitar 65 ribu di malam pergantian tahun, yang dibarengi peningkatan trafik telekomunikasi hingga 2 kali lipat, baik itu voice call, SMS, maupun akses internetan. (Icha)

FIFA World Cup 2018 di Rusia Jadi Ajang Uji Coba 5G

0

 

Telko.id – Rusia akan menjadi tuan rumah World Cup 2018. Pada pesta akbar sepak bola ini akan dijadikan juga sebagai ajang uji coba 5G oleh operator Russia, Mobile TeleSystems (MTS). Dalam merealisasikan, MTS menggandeng Ericsso, baik untuk riset maupun pengembangan kebutuhan teknikal untuk telekomunikasi standar yang baru yang akan digunakan selama masa uji coba di World Cup 2018 tersebut.

“Agar kedua belah pihak mendapatkan pemahaman yang komprehensif atas solusi kinerja untuk jaringan 5G di Rusia pada tahun 2018 tersebut, kami berencana untuk mulai menguji beberapa vendor utama untuk serangkaian pilot projects pada jaringan MTS di tahun depan,” ujar Andrey Ushatskiy, VP and CTO MTS yang disadur dari RCR Wireless.

MTS dan Ericsson sudah sepakat untuk mengimplementasikan pilot project ini di LTE-Unlicensed atau Licensed-Assisted Access dengan menggunakan LTE radio interface di unlicensed 5 GHz band bersama dengan beberapa titik akses Wi-Fi di 2016.

MTS dan Ericsson juga berencana untuk mengembangkan pilot project tentang solusi 5G menggunakan high-speed data transmission di 15 GHz band di 2017 dan membangun konstruksi di wilayah yang akan digunakan untuk demonstrasi teknologi 5G selama Wolrd Cup 2018 di Rusia.

“Pada 2018, kami tidak hanya akan riset saja, tetapi juga uji coba dan implementasi teknologi penting yang akan meningkatkan performance dan luas jangkauan dari jaringan MTS,” ujar Jeff Travers, head of customer unit at Ericsson Northern Europe and Central Asia, yang dikutip dari RCR Wireless. (Icha)

Teknologi Digital ‘Paksa’ Industri Perbankan Bertransformasi

0

 

Telko.id – Industri perbankan adalah salah satu industry yang cukup serius terdampak karena adanya transformasi digital. Bagaimana tidak? Sekarang, untuk melakukan transaksi atau menyimpan alat tukar, bisa menggunakan lembaga lain selain perbankan.

Tekanan tersebut membuat industry perbankan melakukan investasi untuk modernisasi infrastruktur digital pada 2015. Seperti yang dilakukan oleh beberapa bank di Inggris. Selain itu juga mulai fokus memberikan jasa melalui saluran digital. Lalu apa yang akan terjadi pada industry perbankan pada 2016?

Tekanan Pada Industri Perbankan Semakin Kuat

Di 2016, tekanan pada industry perbankan juga semakin meningkat. Sudah bukan rahasia bahwa bisnis perbankan mulai di ‘gerogoti’ oleh perusahaan raksasa internet seperti Apple, Google, Facebook dan Amazon. Secara bisnis, perusahaan raksasa internet tersebut sudah memiliki hubungan yang sangat baik dengan para consumer nya karena memang sering digunakan fasilitas nya. Nah, 2016, hubungan dengan para penggunanya ini akan lebih ditingkatkan lagi dengan masuk ke kegiatan pembayaran.

Sebut saja Apple yang akan meluncurkan layanan mobile payment pada tahun 2016. Kemudian Samsung di bulan September lalu sudah mensasar segmen yang sama dengan Apple.

“Google, Facebook, Apple dan lainya merupakan pesaing dengan ekosistem yang besar. Dan jika mulai mendorong ke layanan keuangan untuk basis pelanggan sendiri saja, maka ekosistem tersebut berpotensi dapat mengambil pelanggan dari bank,” ujar Alessandro Hatami, mantan Digital Payments and Innovation Director di Bank Lloyds UK.

Memang untuk menggantikan menjadi bank tidak akan terjadi, namun raksasa teknologi sangat sesuai untuk membangun solusi teknologi front end user friendly. Dan itu menjawab tuntutan konsumen akan pembayaran yang nyaman,” ujar Philippe Gelis, CEO P2P Currency Exchange Kantox.

Bermuncul Blockchain dan Bitcoin Baru

Blockchain pada 2015 lalu mampu memberikan bunga besar dan tahun 2016 diproyeksikan akan terus berlanjut. Beberapa bank sudah mulai melakukan investigasi untuk mengetahui bagaimana aplikasi blockchain ini dapat ‘dimanfaatkan’ untuk bisnis perbankan. Langkah ini juga dibantu oleh Microsoft untuk dapat merealisasikan dalam bisnis secara nyata. Pada saat yang sama, ekosistem starups juga tumbuh dan mendorong untuk menggunakan layanan diluar industry perbankan.

Menurut Jeremy Millar, partner di Magister Advisors, M & A penasihat untuk industri teknologi, tahun depan akan munculnya setidaknya lima blockchain bitcoin dan bisnis dengan valuasi lebih dari $ 1 miliar.

Valuasi tersebut akan membangun kesempatan untuk menjual produk dan service ke dalam industry yang lebih besar dan sangat menguntungkan di dunia. Bukan untuk subsidi layanan ke konsumen untuk mengadopsi atau pun membangun komunitas menghasilkan uang melalui iklan. Bahkan perusahaan baru tersebut akan memiliki real value yang abadi. Bukan dongen yang akan memudar.

Sektor Keuangan akan Menuai Keuntungan dari IoT

Dengan berkembangnya IoT maka yang pertama terpikir adalah jasa keuangan. Laporan dari Deloitte menunjukan bahwa peningkatan jumlah perangkat yang mudah terkoneksi dengan interent menjadi bahan penting untuk menentukan keputusan ke mana industry perbankan akan dibawa.

Ketika IoT sudah terhubung dengan keuangan maka akan terjadi ledakan data yang begitu besar. Hal ini menjadi sangat menarik, bagaimana menggunakan efek yang demikian besar tersebut. Khususnya bagaimana untuk menjadikan semua itu di monetize. Kondisi ini juga akan mendorong terbentuk nya perusahaan baru.

Dengan perkembangnya teknologi digital, maka sangat penting bagi perbankan untuk memilih dan memilah saluran digital baru mana yang sesuai sehingga dapat dijadikan strategi terpadu yang berkembang dari generasi pertama ke generasi kedua perbankan digital.

“Proses reengineering untuk mengetahui kebutuhan konsumen dan disesuaikan dengan bisnis perbankan bukan persoalan yang mudah. Namun, perbankan digital harus dilakukan agar tetap kompetitif dan relevan,” ujar Balazs Vinnai, general manager, Digital Channels menjelaskan. (Icha)

Roadmap 4G LTE di Indonesia Sampai 2019

0

Telko.id – Saat ini, operator sedang sibuk untuk mengkomersialkan layanan 4G LTE. Wilayah yang dilayani pun terus ditambah. Lalu, apa rencana pemerintah untuk 4G LTE di Indonesia di tahun 2016 sampai 2019?

Yang pertama dilakukan adalah refarming untuk spectrum 2100 Mhz. Terutama untuk blok 11 dan 12 yang rencananya akan mulai dilakukan akhir 2015, tertunda karena menyelesaikan dulu refarming 1800 Mhz. Baru di kuartal pertama 2016 pemerintah akan melakukan penataan. Namun, bentuk nya akan lelang atau beauty contest masih belum ditentukan. “Soal broadband, saat ini sedang bersiap untuk membuka tender sumber daya yang tersisa di frekuensi 2.100 MHz,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika menjelaskan.

Tahun 2016 juga, pemerintah merencanakan akan melakukan refarming di spectrum 450 Mhz untuk 4G LTE. Dilanjutkan, pada 2017 akan melakukan refarming spectrum 800 Mhz. Baru pada 2018 akan melakukan seleksi untuk 2300 – 2330 Mhz dan full band 2300 MHz. Setelah itu di lanjutkan refarming frekuensi 800 MHz untuk 4G LTE. Penataan frekuensi ini dilakukan agar kebutuhan broadband di 2019 sebesar 350 Mhz bisa tercapai.

Kemudian ada juga proses penyelesaian Palapa Ring yang akan menjadibackbone akses internet seluruh Indonesia. Untuk Palapa Ring, saat ini masih dalam proses lelang yang rencananya akan selesai pada Februari 2016. Kemudian akan dilanjutkan dengan tandatangan kontrak. Setelah itu akan ada Financial Close yang akan selesai pada Juli 2016. Sedangkan untuk konstruksi akan dimulai pada Desember 2017. Baru pada Januari 2018 beroperasi. Rencananya, Palapa Ring ini dapat beroperasi hingga 15 tahun. (Icha)

 

 

 

Gawat, Sistem Pembayaran Hotel Hyatt Disusupi Malware

0

Telko.id – Sebagian dari Anda yang sempat menginap di jaringan Hotel Hyatt pada liburan panjang pekan lalu mungkin patut berhati-hati. Pasalnya, hotel yang bersangkutan baru-baru ini memperingatkan pengunjung akan adanya pelanggaran keamanan di sistem pembayaran pelanggan. Perusahaan mengatakan telah menemukan malware pada komputer yang mengelola pembayaran untuk hotel itu.

Presiden global Hyatt, Chuck Floyd mengatakan bahwa masalah telah diperbaiki, namun menyarankan pelanggan untuk memeriksa laporan bank untuk setiap aktivitas yang tidak biasa.

“Kami melakukan penyelidikan segera setelah menemukan kegiatan ini,” katanya seperti dilansir dari BBC, Senin (28/12).

Jaringan Hotel yang berbasis di Chicago ini memiliki 627 properti di portofolio-nya, namun mengatakan bahwa hanya 318 dari itu yang langsung terkena malware, sementara hotel franchise tidak terpengaruh.

Hingga berita ini diturunkan, perusahaan tidak mengatakan apakah malware tersebut telah menyebabkan informasi setiap pelanggan dapat diakses, tetapi menyebutkan bahwa mereka telah menyewa ahli keamanan cyber independen untuk membantu penyelidikan.

Hyatt telah membuat halaman web untuk mengupdate permasalahan ini kepada pelanggannya.

“Kami telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat sistem keamanan, dan pelanggan dapat merasa tenang menggunakan kartu pembayaran di hotel Hyatt di seluruh dunia,” kata Floyd lagi.

Hyatt bukanlah jaringan hotel pertama yang mengakui telah mengalami isu semacam ini. Sebelumnya, Hilton, Mandarin Oriental, Starwood dan jaringan Hotel Trump juga sempat menghadapi masalah dengan informasi pembayaran pelanggannya.

T-Mobile Tak Ingin Terburu-buru Soal 5G

0

Telko.id – Operator AS, T-Mobile tampaknya akan segera mengikuti rival senegaranya, AT&T dalam mengambil langkah yang lebih hati-hati terkait perkembangan 5G yang sedang marak belakangan ini.

Hal ini sebagaimana diungkapkan CTO perusahaan, Neville Ray, yang mengatakan bahwa perusahaan siap membawa 5G ke pasar dalam cara yang sangat nyata ketika saatnya tiba. Namun, dengan tetap mewaspadai tantangan yang ada.

Dilansir dari Mobile World Live, Senin (28/12), Neville juga mengungkapkan tidak akan terganggu dengan perang mulut dari rival mereka yang lain, yang akan menggelar layanan 5G lebih dini. Ia bahkan menyebutkan, bahwasanya saat inu belum ada aturan terkait 5G dari pihak regulasi.

Neville menyebut T-Mobile telah bekerja untuk memberikan pelanggan sebuah “pengalaman LTE Advanced (prasyarat untuk 5G)”. Ia menyatakan bahwa mereka memiliki lebih dari dua kali lipat jejak LTE untuk mencapai 304 juta orang selama tahun lalu.

Dalam sebuah posting di blog, T-Mobile juga mengungkap pertumbuhan layanan Voice over LTE (VoLTE), yang menyatakan bahwa hampir 40 persen dari panggilan telah dibuat melalui teknologi ini.

“Kami telah membangun investasi kami di VoLTE nasional untuk membawa pesan teks kuno dan panggilan suara ke era internet mobile,” kata Neville.

Sebagai informasi, rival T-Mobile lainnya, yakni Verizon mengatakan pada September lalu bahwa mereka berencana menggelar uji coba lapangan 5G tahun depan. Hal ini merujuk pada komentar wakil perusahaan, Roger Gurnani, yang mengatakan bahwa “5G tidak lagi menjadi impian masa depan yang jauh.”

Sementara itu AT&T nampaknya agak lebih tenang di dalam mengurusi permasalahan 5G ini. Hal tersebut tergambar dari mobilitas CEO mereka, Glenn Lurie yang mendesak agar perusahaan lebih berhati-hati dalam menjawab pertanyaan mengenai teknologi pada sebuah wawancara dengan Mobile World Live.

Menanggapi hal tersebut, pihak T-Mobile mengatakan mereka telah memiliki kecepatan internet hingga 150 Mbps dan menggunakan Carrier Aggregation untuk mencapai hal tersebut. Kecepatan ini dirasa sudah cukup untuk mengakomodir kebutuhan para pelanggan mereka. Setidaknya untuk saat ini. [ak/if]

Gunakan Lima Spektrum, Turkcell Melesat dengan 1.2 Gbps

0

 

Telko.id – Operator Turkcell mengklaim telah menghasilkan kecepatan mobile broadband hingga 1.2Gbps pada sebuah demo yang mereka lakukan belum lama ini. Hal ini mereka hasilkan berkat dukungan vendor jaringan asal China, Huawei.

Operator terbesar Turki ini sejatinya sedang mempersiapkan peluncuran teknologi 4.5 G ini pada 1 April 2016 mendatang. Pada bulan Agustus, mereka membayar sekitar € 1.62 juta untuk mendapatkan 172,4 MHz spektrum dalam lelang spektrum yang diadakan di Turki.

Dilansir dari mobile world live, Senin (28/12), teknologi 4.5G atau yang juga sering disebut dengan LTE-A pada dasarnya telah gencar dipromosikan oleh Huawei sejak beberapa waktu lalu. Vendor asal China itu juga telah menyediakan infrastruktur untuk outdoor secara nyata.

Hal itu tergambar pada sebuah project percontohan dari TeliaSonera yang diklaim telah mencapai “rekor dunia” untuk kecepatan download hingga 1Gbps di Oslo.

Teknologi 4.5G dihadirkan untuk menjembatani kesenjangan antara 4G dan 5G, yang resmi disetujui badan standar 3GPP pada bulan Oktober silam. Huawei sendiri telah mengklaim 4.5G akan mengurangi latensi dari tingkat saat ini, yakni dari sekitar 40ms menjadi 10ms dan memberikan kecepatan puncak secara teoritis yang mencapai hingga 1Gbps

Kembali ke Turkcell, perusahaan telekomunikasi ini menghasilkan kecepatan tersebut berkat agregasi di lima spektrum yang berbeda. Carrier Agregation pada lima band milik Turkcell ini rupanya menghasilkan kecepatan yang mampu mengalahkan upaya TeliaSonera.

Dalam demo yang dilakukan di Istanbul ini, Turkcell menggunakan frekuensi 79,8 MHz yang terdiri dari 29,8 MHz (20 + 9.8) di pita 1800 MHz, 30 MHz (20 + 10) pada pita 2.100 MHz, dan 20 MHz di pita 2600 MHz. Sebagai informasi, Turkcell telah mengakuisisi spektrum 1800, 2100 dan 2600 Mhz dalam lelang frekuensi yang digelar pada 26 Agustus silam.

“Dengan lelang 4.5G, kami telah menawarkan internet mobile broadband tercepat dan kami tidak hanya menawarkan 4.5G yang tercepat, melainkan melakukan upaya lebih dari itu dalam rangka untuk mencocokkan pengalaman serat saat di ponsel,” ucap Ilker Kuruoz, CTO Turkcell.

“Dengan lelang 4.5G, kami telah menetapkan batas yang tinggi dalam hal menawarkan internet mobile broadband tercepat. Kami telah mengumumkan bahwa kami tidak hanya akan menawarkan negara ini 4.5G tercepat yang akan digelar pada 1 April mendatang, tetapi lebih dari itu dalam rangka mencocokkan pengalaman serat saat di ponsel,” kata Ilker Kuruoz, Turkcell CTO.

Ia menambahkan, dengan demo kecepatan ini, perusahaan tidak hanya mendorong batas-batas 4.5G tetapi juga mengambil langkah besar untuk menuju 5G dalam hal mencapai kecepatan yang melebihi 1Gb/s.

Turkcell mengharapkan, teknologi 4.5G mereka dapat mendukung kecepatan download puncak teoritis hingga 375Mbps pada peluncuran komersial April mendatang. Namun, smartphone yang mendukung penyebaran ini tidak mungkin tersedia sebelum pertengahan 2017.

Saat ini Turkcell mengklaim pelanggan dapat menerima kecepatan maksimal 3G hingga 63.3Mbps, “pada perangkat yang mendukung,” yang berarti pengguna akan (dalam teori) melihat kecepatan mobile broadband mengalami kenaikan dalam waktu kurang dari dua tahun. [ak/if]

 

Mengoptimalkan Komunikasi Perangkat Internet of Things

0

Telko.id – Pemanfaatan Internet of Things (IoT) oleh pemerintah di Indonesia tidak hanya untuk mempermudah akses layanan publik ke masyarakat, tetapi bahkan untuk melindungi mereka dari bencana – seperti contoh sistem peringatan dini. Namun, seiring dengan meningkatnya pemanfaatan IoT dan semakin terintegrasinya suatu kota dengan sistem jaringan, tantangan terbesar adalah bagaimana pemerintah dan penyedia layanan dapat memastikan kelancaran akses dan keamanannya sistem mereka walaupun dibanjiri oleh transaksi komunikasi yang berlimpah – baik komunikasi antar sensor, sistem, hingga pengguna. Jika hal ini tidak ditangani dengan benar, maka akan berdampak buruk bagi masyarakat. Sebagai contoh bayangkan apa yang terjadi jika layanan publik menjadi tidak bisa diakses atau lebih buruk lagi mengalami kebocoran data, hingga keterlambatan sistem peringatan dini dalam memberikan sinyal darurat ke pengendali bencana.

Kelancaran transaksi komunikasi antar perangkat, sistem, menjadi hal yang krusial dalam pemanfaatan IoT untuk pelayanan publik hingga pemerintahan. Bagaimana memastikan kelancaran komunikasinya?

Pada dasarnya perangkat IoT terdiri dari dua komponen utama, yaitu perangkat keras dan aplikasi di dalamnya. Aplikasi di dalamnya inilah yang menjadi jiwa dari sebuah perangkat, yang memungkinkan terjadinya komunikasi antar perangkat, sistem, hingga pengguna. Aplikasi yang dimaksud tidak sekedar aplikasi yang pengguna lihat di layar komputer atau smartphone, tetapi juga seluruh aplikasi yang memungkinkan terjadinya penyimpanan data, pengiriman & penerimaan data, query, hingga pemrosesan data.

Aplikasi dapat berkomunikasi karena mereka memiliki jalur komunikasi tersendiri. Jika pada suatu waktu karena banyaknya data yang dialirkan hingga melonjaknya jumlah pengguna dalam satu waktu bisa membuat sistem tidak dapat diakses, lamban hingga tidak aman.

Agar aplikasi bisa menampilkan performa yang bagus dan bisa diandalkan, maka pengirimannya harus dilakukan dengan cepat dan aman dan mampu memastikan ketersedian aksesnya. Tantangan untuk mewujudkan hal itupun muncul, salah satunya karena kini ada beragam platform yang dimanfaatkan untuk penerapan aplikasi, yakni on premise, cloud dan hybrid. Ditambah lagi, tujuan pengiriman aplikasi, tidak hanya sebatas satu jenis perangkat, namun juga smartphone, tablet, hingga berbagai perangkat yang terhubung dengan internet. Tak pelak, proses pengiriman aplikasi sudah tidak lagi sama dibandingkan sebelumnya, di mana sebelumnya aplikasi hanya diterapkan di data center on premise dan tujuan pengirimannya hanya ke komputer lain.

Ilustrasi 1: Evolusi pengiriman aplikasi
Ilustrasi 1: Evolusi pengiriman aplikasi

Pekerjaan rumah penyedia layanan tak hanya harus menjawab tantangan itu, namun juga tantangan akan meningkatnya kebutuhan dan harapan pengguna seiring dengan makin meningkatnya adopsi perangkat yang terkoneksi dengan internet. Menurut data IDC (International Data Corporation) di Asia Pasifik dalam kurun waktu 2015 hingga 2020 akan terjadi peningkatan perangkat IoT menjadi 8,6 miliar perangkat. Adapun saat ini perangkat yang ada adalah sebesar 3,1 miliar.

Strategi yang bisa dilakukan perusahaan untuk mengoptimalkan penerapan serta pengiriman aplikasi, dan komunikasi antar perangkat, sistem, hingga pengguna adalah dengan menerapkan strategi yang berpusat pada aplikasi. Melalui strategi, ini perusahaan mampu untuk memegang kontrol penuh atas aplikasi mereka di manapun diterapkan dan dikirimkan dengan memanfaatkan application service.

Apa itu application service? Ibarat jam tangan yang menampilkan waktu dengan akurat berkat berbagai komponen yang bekerja di dalamnya, aplikasi juga membutuhkan ‘komponen’ untuk bisa berjalan dengan baik. Di sini, application service-lah komponennya yang terdiri dari serangkaian teknologi atau layanan yang meningkatkan ketersediaan, keamanan dan performa dari sebuah aplikasi. Application service juga harus mampu melekat kepada aplikasi di manapun aplikasi tersebut diterapkan. dan dikirimkan. Alhasil, perusahaan bisa menjaga kinerja dan keamanan aplikasi di manapun aplikasi itu diterapkan dan dikirimkan.

Dengan strategi yang berpusat pada aplikasi serta pemanfaatan application service, pemerintah dan penyedia layanan bisa mengoptimalkan dan memastikan kelancaran komunikasi antar perangkat, dan sistem IoT, hingga pengiriman informasi kepada pengguna, demi membantu mereka untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat. F5 adalah ahli di bidang penyediaan application service yang memungkinkan pengiriman aplikasi secara cepat, aman dan memastikan tingginya tingkat ketersediaan aplikasi tersebut.

3

 

Robert Healey adalah F5 Marketing Solutions Director, APAC & Japan . Robert bertanggung jawab dalam menangani penjualan, manajemen produk dan pengembangan bisnis perusahaan.

 

 

 

 

 

 

 

Inilah Bos Perusahaan Gabungan Nokia Dan Alcatel Lucent Di Indonesia

0

Telko.id – Nokia Network beberapa waktu lalu mengumumkan ‘Bos’ baru bagi perusahaan patungan bersama dengan Alcatel-Lucent untuk Indonesia.

Nokia menunjuk Robert Cattanach sebagai Head of Indonesia untuk mengepalai perusahaan tersebut. Sekadar informasi, Nokia berhasil mengakuisisi Alcatel-Lucent pada 15 April 2015 lalu dengan dana fantastis yakni senilai 214 Triliun rupiah.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima tim Telko.id, Robert akan mengelola dan mengawasi operasional pelanggan perusahaan yang ada di Indonesia, menerapkan beberapa strategi bisnis dan meningkatkan hubungan bisnis perusahaan tersebut dengan pelanggan, dengan fokus pada inovasi dan kualitas.

Seperti diketahui, Robert saat ini menjabat sebagai Head of Indonesia Nokia Networks. Merger ini akan menjadikan perusahaan patungan Nokia dan Alcatel-Lucent bernilai lebih dari 40 miliar euro.

“Kami sangat senang mengumumkan penunjukan Robert Cattanach sebagai Head of Indonesia. Robert memiliki track record yang baik dan pengalaman yang luas dalam mendorong solusi pelanggan yang terbaik di kelasnya di Indonesia.  Saya menantikan untuk bekerja sama dengan beliau karena kami ingin terus berusaha mendorong momentum bisnis di unit pasar tersebut,” ujar Paul Tyler, Head of Asia Pacific and Japan Nokia.

Penunjukan Robert Cattanach mengikuti pengumuman tim kepemimpinan senior yang direncanakan dan struktur organisasi untuk perusahaan gabungan Nokia dan Alcatel-Lucent pada tanggal 7 Oktober 2015.

Setelah penutupan penawaran pertukaran, direncanakan bahwa bisnis Networks akan dilaksanakan melalui empat kelompok bisnis: Mobile Networks, Fixed Networks, Applications & Analytics dan IP /Optical Networks. Nokia Technologies akan tetap jadi entitas yang terpisah dalam perusahaan gabungan tersebut.

Ericsson Dukung China Hadirkan Layanan 5G

0

Telko.id – Ericsson telah mempublikasikan penandatanganan nota kesepahaman dengan China Mobile Research Institute untuk berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan 5G.

Sejatinya, di tahun 2015 sudah terdapat banyak kesepakatan untuk teknologi generasi kelima ini. Seperti perjanjian R&D, mendirikan kelompok spesifikasi dan upaya kolaboratif lainnya yang diusung oleh seluruh industri untuk mulai bekerja agar teknologi 5G menjadi kenyataan. Komisi Eropa bahkan telah meluncurkan sejumlah inisiatif dengan membentuk kelompok bernama ‘FANTASTIC 5G’ dan ‘MMAGIC 5G’ tahun ini.

Menurut Ericsson, seperti dilansir dari Telecoms, Senin (28/12), bekerja dengan operator seluler terbesar di dunia (dalam hal jumlah pelanggan) akan memperpanjang untuk verifikasi, uji coba dan standarisasi antarmuka udara baru 5G untuk penyebaran komersial dari tahun 2020, ketika bicara tentang teknologi radio. Selain itu, Ericsson juga akan melihat ‘interworking’ terdekat antara 5G dan LTE, serta fitur RAN yang inovatif yang juga dapat mendorong pembaruan IOT dan menunjukkan potensi narrowband IOT.

Terkait kesepakatan ini, Wakil kepala CMRI (China Mobile Research Institute), Yuhong Huang, mengatakan bahwa ini merupakan langkah besar dalam mewujudkan visi strategi Internet+ di China.

“China Mobile secara resmi mengerahkan 4G pada akhir 2013, dan 4G+ kini resmi diluncurkan,” katanya.

Ia menambahkan, perusahaan bertujuan untuk meningkatkan kinerja jaringan, yang telah memberikan 300 juta pelanggan pengalaman pengguna yang sangat baik serta merupakan pendorong utama untuk strategi Internet+ di China.

Strategi Internet+ mengintensifkan dan momentumnaay tumbuh di Cina dalam kaitannya dengan transformasi dan upgrade lini industri tradisional dan model bisnis, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi paling maju. Sebagai generasi berikutnya dari infrastruktur mobile, 5G adalah pilar kunci untuk pembangunan ICT global.

“Kami merasa bahwa kerjasama yang lebih dekat dan lebih aktif antara Ericsson dan China Mobile akan mendorong hasil yang nyata di 5G dengan membantu untuk mendorong standarisasi, penelitian dan pengembangan, dan menciptakan, ekosistem lintas-industri yang terintegrasi,” puingkas Yuhong Huang. [ak/if]