spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1699

Fira OS Dipersiapkan Polytron Hadapi Era Internet Of Things

Telko.id – Polytron boleh berbangga karena menjadi merek lokal yang pertama kali menggunakan user interface sendiri yakni Fira OS. Yang bekerja di atas operating system Android. Bisa dibilang, langkah ini menjadikan Polytron sejajar dengan merek global.

“Jika saat ini baru digunakan pada smartphone Polytron, ke depan Fira OS ini juga akan ditanamkan pada perangkat lain keluaran Polytron untuk menghadapi era Internet Of Things,” ujar Tekno Wibowo, Marketing Director PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) menjelaskan.

Selanjutnya, Tekno juga mengharapkan bahwa Polytron akan siap sekitar 2 -3 tahun mendatang. Hal ini dapat dilakukan Polytron karena selain smartphone, Polytron juga merupakan produsen dari home appliances.

Pada era Internet of Things, prinsipnya adalah saling terhubung dan Cloud. Dari semua sisi, Polytron mulai mempersiapkan. Salah satunya adalah kepemilikian Cloud sendiri dan Fira OS ini. Sehingga sangat memungkinkan untuk perangkat produksi sendiri dapat saling terhubung dan juga terhubung dengan internet. Seperti pada AC dan TV.

“Terlebih, kami ini adalah pemain lokal dan kenal seperti apa masyakarat Indonesia. Dengan demikian, kami dapat memberikan solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan menjadi pembeda dibandingkan dengan merek lain. Baik yang lokal maupun global,” ujar Tekno menjelaskan.

Untuk smartphone sendiri, revenue yang disumbangkan untuk bisnis Polytron secara keseluruhan masih kecil. Pada tahun 2015 baru sebesar 5%. Ke depan diharapkan bisa mencapai 10%.

Target pada tahun 2016 sendiri, Polytron berharap mampu meningkatkan penjualan sekitar 5% dari tahun 2015 lalu yang mencapai 100 ribu unit per bulan. Atau sekitar 2 juta smartphone per tahun. Bahkan, Polytron sangat optimis bahwa 3 hingga 4 tahun ke depan akan menjadi merek lokal yang berjaya di negeri sendiri mengalahkan global brand dan menjadi nomor 1 di Indonesia.

Setelah 6 produk diawal tahun ini yang sudah diluncurkan, masih ada 8 sampai 10 tipe lagi hingga akhir tahun. Sekitar 75% merupakan smartphone yang mampu bekerja di jaringan 4G dan sisanya merupakan smartphone 3G.

Dengan adanya Fira OS ini, diperkirakan komponen TKDN dari smartphone Polytron akan bertambah 5 -10% lagi. Padahal, saat ini saja, TKDN smartphone dari Polytron sudah mencapai 35%. (Icha)

 

Situs Pencari Kerja Glints Hadir untuk Lulusan Baru Indonesia

0

Telko.id – Kabar baik mereka-mereka yang baru lulus di luar sana, yang mendambakan sebuah pekerjaan menjanjikan di sebuah perusahaan yang diimpikan. Kemarin, sebuah situs pencari kerja, bertajuk Glints telah hadir di Indonesia.

Platform yang dikhususkan untuk profesional muda dan lulusan baru ini mengklaim dapat membantu anak muda dalam menemukan passion mereka, serta mengembangkan keahlian khusus yang dibutuhkan untuk meniti karier yang diinginkan.

“Setiap tahunnya, Indonesia memiliki lebih dari 2 juta lulusan baru yang mencari kerja. Namun, hal ini menjadi tantangan berat karena adanya jurang pemisah yang semakin melebar antara keahlian yang dibutuhkan sebagai pekerja dan pendidikan yang dikenyam. Pada saat yang sama, perusahaan juga dihadapkan pada kesulitan untuk mendapatkan kandidat muda yang memiliki pengalaman serta keahlian yang relevan dengan bidang pekerjaan yang sedang dibutuhkan,” ungkap CEO Glints, Oswald Yeo.

Glints berasal dari Singapura dan dibuat serta dikembangkan oleh tiga orang anak muda (berusia 22 tahun) berkebangsaan Indonesia dan Singapura. Sejak didirikan, Glints telah meraih pendanaan yang hampir mencapai Rp 5,4 miliar dari para investor.

Hingga saat ini, Glints memiliki lebih dari 20.000 kandidat muda dan 2.000 perusahaan pemberi kerja yang tergabung di dalamnya. Tokopedia, Happyfresh, hingga perusahaan multinasional seperti Adidas dan Puma adalah beberapa diantaranya.

“Platform ini telah memudahkan saya untuk menemukan banyak talenta muda berkualitas, yang memiliki passion serta keahlian yang sesuai dengan bidangnya,” jelas Risky Dwi Nugroho, Recruitment Specialist, Tokopedia.

Di Indonesia, Glints sudah mulai menjalin kemitraan dengan banyak universitas dan perusahaan. Salah satunya adalah kerjasama dengan banyak perusahaan startup yang bermarkas di East Ventures Hive untuk menyelenggarakan sebuah startup career fair.

 

Ecommerce Indonesia Capai USD 3.8 Juta pada 2019, Transaksi Online Geser COD

0

Telkoid – Laporan terbaru Frost & Sullivan mengatakan bahwa pasar Ecommerce Indonesia akan tumbuh 31,1 persen CAGR mencapai USD 3,8 juta pada tahun 2019, naik dari USD 1,35 juta di tahun 2015.

Beberapa hal disebut-sebut menjadi alasan, diantaranya profil demografis Indonesia yang positif, pertumbuhan ekonomi yang kuat, adopsi ponsel yang tinggi dan banyaknya pemain Ecommerce yang menawarkan berbagai macam produk online untuk konsumen Indonesia.

Ecommerce di Indonesia sangat mirip dengan China pada tahun-tahun awal. Potensi untuk tumbuh didorong oleh kenaikan pendapatan, populasi anak muda yang bertambah dan tawaran ecommerce yang kian matang,” ungkap Spike Choo, Country Director Frost & Sullivan Indonesia.

Namun, beberapa kendala pun bukannya tidak menjadi hambatan. Infrastruktur logistik yang buruk dan kesulitan mengakses layanan perbankan adalah beberapa diantaranya yang masih membutuhkan tambahan investasi dan waktu sebelum Ecommerce di tanah air benar-benar bisa lepas landas.

Untuk mode pembayaran, Frost & Sullivan mencatat bahwa uang tunai masih akan dominan untuk transaksi offline, sementara pembayaran lewat kartu kredit dan debit serta e-money akan terus tumbuh sebagai akibat dari upaya terus menerus yang dilakukan oleh bank dan penyedia telekomunikasi dalam mendorong adopsi oleh end-user.

Di akhir tahun 2015 saja, diperkirakan 113 juta ATM+kartu Debit dan 17 juta kartu kredit beredar. Kartu debit melebihi jumlah kartu kredit sekitar 6,7 banding 1. Total nilai transaksi kartu kredit tahunan adalah 1,3 kali lebih tinggi dari kartu debit, nilai rata-rata transaksi per kartu kredit adalah 16, sementara kartu debit adalah 3, nilai transaksi rata-rata per kartu kredit adalah sekitar Rp 1 juta, sementara kartu debit Rp 605.000.

Choo memprediksi bahwa transaksi online, entah itu menggunakan kartu kredit, kartu debit ataupun e-banking akan melampaui COD dan OTC sebagai modus pembayaran pilihan untuk transaksi pada akhir 2016.

Masuk Indonesia, Netflix Harus Buat Bentuk Usaha Tetap

0

 

Telko.id – Telkom melakukan pemblokiran situs video streaming Netflix. Menurut Telkom, Netflix tidak memenuhi regulasi yang ada di Indonesia karena tidak memiliki iin atau tidak sesuai aturan di Indonesia. Selain itu, banyak memuat konten yang tidak diperbolehkan di Indonesia. Terutama yang bersifat kekerasan dan pornografi.

“Pemblokiran ini untuk melindungi pelanggan dari content-content yang tidak pantas,” ujar Arif Prabowo Vice President Corporate Communication Telkom.

Aturan yang dimaksud antara lain Undang-Undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman khususnya Pasal 57,, disebutkan bahwa “Setiap film dan iklan film yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan wajib memperoleh surat tanda lulus sensor”.

Di samping itu langkah yang dilakukan Telkom ini mengacu kepada Undang-UndangNo. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi Pasal 21, yang menyatakan bahwa Penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan usaha penyelenggaraan telekomunikasi yang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan atau ketertiban umum.

Langkah ini juga merupakan dukungan Telkom selaku BUMN kepada Pemerintah selaku regulator agar Netflix segera melakukan pembicaraan dengan Regulator ataupun operator untuk memberikan kepastian layanannya kepada masyarakat Indonesia

“Langkah yang kami ambil dilatarbelakangi untuk melakukan perlindungan dan kepastian layanan kepada masyarakat Indonesia, sekaligus menegakan kedaulatan Indonesia dari pemain asing,” tegas Arif Prabowo.

Dengan ramainya perbincangan tentang Netflix ini, Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika berkicau di Twitter. Dalam kicauannya, Chief RA, begitu sering dipanggil, kasus Netflix ini membuka diskusi tentang bisnis Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) asing yang buka layanan di Indonesia dan perusahaan ini memenuhi katagori sebagai PSE yang artinya harus mengikuti kebijakan yang ada di Indonesia.

Salah satu kebijakan yang paling pokok diikuti oleh PSE adalah keharusan membuat Bentuk Usaha Tetap atau BUT. Dengan BUT maka perusahaan tersebut akan memenuhi unsur legalitas, hak atau kewajiban secara hukum, regulasi fiscal, kepastian perlindungan konsumen dan lainnya.

Selain pendekatan bisnis dan legal, kehadiran PSE juga harus dilihat dari aspek kontennya. Di mana, dinamika perkembangan teknologi yang sangat kencang menjadi tantangan utama terhadap kebijakan manajemen konten. Check and Balance pun harus diterapkan bergantung pada karakteristik.

Rudiantara pun menyebutkan dalam twit nya bahwa untuk konten yang bersifat siaran atau hiburan, misalnya, ada pedomanPerilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari KPI. Untuk yang berkaitan dengan pornografi sudah ada UU Pornografi dan UU Perlindungan Anak. Untuk radikalisme, bisa digunakan UU Terorisme. Sedangakn untuk film, ada LSF. Hanya saja, seperti dalam kasus Netflix, mekanisme sensor ini belum bisa mewadahi kecepatan perkembangan teknologi.

Menkominfo pun sudah berkoordinasi dengan Mendikbud, Anies Baswedan dan sepakat untuk memberdayakan lembaga yang ada di Kemdikbud dalam membuat koridor sensor yang mekanismennya sesuai perkembangan teknologi. Jika pun nanti muncul Netflix-Netflix lain yang akan memasuki pasar Indonesia, harus disikapi secara seragam dengan regulasi yang memberi Level Playing Field. (Icha)

Gandeng Developer Lokal, Polytron Luncurkan Keluarga ZAP 6

0

Telko.id – Polytron menggandeng partner lokal untuk mendukung peraturan TKDN pada smartphone mereka. Dengan menggandeng perusahaan developer Fira OS, Polytron akan membenamkan User Interface dari Fira di keluarga smartphone ZAP 6 mereka.

Fira OS sendiri merupakan lokal konten yang baru berumur 1 tahun. Sekedar informasi, Fira OS juga dibangun dan dukembangkan oleh Polytron yang tentunya menjadi salah satu cara dari Polytron untuk menambah kadar kandungan lokal. Fira sendiri memiliki beberapa fitur menarik yang berbeda dibandingkan dengan ussr Interface pada umumnya.

Beberapa fitur unik dari FiraOS yakni, Fira UI dengan Smart Directory, Call Dialing yang mempermudah pengguna dalam mengangkat telepon ketika sedang bermain games atau menjalankan aplikasi lain. Kemudian hadir juga fitur Fira Store, yang akan mempermudah pengguna dalam melakukan pembayaran seperti voucher pulsa, voucher games dan token listrik secara online dengan menggunakan credit card.FiraOS juga menyediakan Fira Pay, Fira Id dan yang sedang dikembangkan adalah Fira TV.

Berbicara mengenai Produk yang diluncurkan pada hari ini (28/1), Polytron menghadirkan 5 varian produk dari generasi ZAP 6 seperti Posh Note 4G551, Posh 4G501, Note 4G550, Cleo 4G500 serta Power 4G502.

Polytron juga membenamkan fitur fingerprint pada smartphone andalan mereka yakni ZAP 6 Power dengan kapasitas baterai jumbo yang mencapai 5800 mAh.

Disinggung mengenai networking, Kelima varian ZAP6 ini sejatinya mendukung semua band FDD di Indonesia. Namun, smartphone yang digadang-gadang sebagai affordable 4G ini belum mendukung 4G cat 6 yang menjadi syarat utama dari pengoptimalisasian carrier aggregation (CA). Mengenai hal ini, Eben Haezar selaku asistant Product Manager Polytron mengungkapkan bahwasanya mereka masih menunggu jaringan LTE Advanced dari para operator 4G di Indonesia.

Bukan hanya itu, keluarga ZAP6 ini masih belum mendukung teknologi VoLte yang saat ini sedang ramai dibicarakan. Namun, Eben menyebut, “Untuk VoLte hanya tinggal kita update saja Firmware dari smartphone nya saja dan kedepannya kami akan fokus dulu terhadap VoLte,” ucapnya.

Berbicara mengenai TKDN, Pihak Polytron mengklaim jika mereka sudsh memenuhi sekitar 35% kandungan lokal sejak meluncurkan varian ZAP5 yang lalu. Hal tersebut terlihat dari pernyataan Marketing Director Polytron, Tekno Wibowo yang menyebut, “Polytron sudah memiliki basic manufacturing dengan lima lini pabrik di Kudus, untuk ZAP 5 saja, kami telah memiliki 35% kandungan lokal dan pada peluncuran ZAP6 juga kami hadirkan FiraOS sebagai lokal konten,”ucapnya.

Dari kelima smartphone keluarga ZAP 6 tersebut, terdapat dua produk bundling dengan operator Indosat berupa paket perdana dengan total kuota internet sebesar 16GB untuk pembelian ZAP 6 Pose dan Pose Note secara preorder di Blibli.com.

UC Browser Akhiri 2015 dengan Raih 50% Pangsa Pasar di Indonesia

0

Telko.id – 2015 sepertinya menjadi tahunnya UC Browser di Indonesia. Hal itu ditandai dengan keberhasilan penyedia perangkat lunak dan layanan Internet mobile ini dalam mencapai pangsa pasar sebesar 55,27% pageviews per bulan.

Prestasi ini diraih sekitar setengah tahun setelah UC Browser mengamankan tempat pertama di industri lokal, dimana satu dari setiap dua halaman seluler yang dilihat di Indonesia diproses oleh UC Browser, dan UC Browser telah menjadi jalur penting dalam lalu lintas mobile di negara ini.

Melihat kembali pasar mobile browser di Indonesia pada tahun 2015, StatCounter menunjukkan bahwa hanya UC Browser yang terus memiliki rata-rata pertumbuhan hingga 3 persen per bulan sepanjang tahun. UC Browser menutup tahun 2015 dengan menggandakan pangsa pasar dibandingkan dengan pangsa pada awal 2015, yaitu saat mereka meraih kemenangan.

“Kami akan mempertahankan pertumbuhan kami dengan memperbesar jaringan mitra lokal selain tetap terus menjaga berbagai inovasi produk kami. Semua pembelajaran yang berasal dari kemitraan dengan e-tailers, penyedia konten, dll, tahun lalu telah membuat kami tetap teguh dalam meningkatkan komitmen kami untuk masyarakat setempat,” ungkap Kenny Ye, Director of UCWeb International Business dalam keterangan resminya, Kamis (28/1).

Popularitas UC Browser dapat dikaitkan dengan citra merek dan fitur-fitur unik yang disukai oleh pengguna Indonesia, seperti kecepatan membuka halaman dan mengunduh video serta konten in-app sepakbola widget – Sepakbola UC.

Komitmen UC Browser untuk pasar Indonesia tercermin dalam langkah besar tahun lalu, termasuk merilis versi 10.7 untuk Android, penunjukkan Indonesia sebagai kantor pusat regional, menunjuk Raffi Ahmad sebagai brand ambassador dan menjadi No.5 di daftar iklan YouTube terpopuler di 2015.

Baru-baru ini, UC Browser versi 10.8 untuk Android juga diluncurkan untuk menawarkan pengalaman browsing yang lebih cepat dan stabil bagi pengguna, juga memberikan kontrol untuk pengalaman browsing yang mulus dalam waktu yang bersamaan. Hal ini bertujuan untuk membina hubungan yang lebih erat dan dinamis dengan komunitas pengguna.

Upgdare ke DOCSIS 3.1, Operator Denmark Pilih Huawei Sebagai Partner

0

Telko.id – Operator asal Denmark, TDC, baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk meluncurkan kabel broadband 1-Gbps dengan menjadi perusahaan telekomunikasi pertama di Eropa yang meng-upgrade jaringannya ke DOCSIS 3.1 (D3.1).

Penyebaran akan dimulai pada kuartal terakhir tahun ini dan dijadwalkan akan selesai pada akhir 2017, di mana titik jaringan upgrade akan melewati 1,5 juta tempat.

“Kami ingin infrastruktur di Denmark menjadi yang terbaik di dunia,” kata Pernille Erenbjerg, CEO TDC, pada konferensi pers di London belum lama ini, menambahkan bahwa upgrade ke D3.1 adalah “salah satu tujuan strategis utama perusahaan.”

Saat ini, jaringan kabel TDC menggunakan DOCSIS 3.0, yang mendukung kecepatan downlink puncak 300 Mbps.

“Ini jelas merupakan upgrade jaringan keseluruhan pertama (ke D3.1) di Eropa,” tambah kepala kantor teknologi TDC, Carsten Bryder.

TDC telah menghabiskan waktu satu tahun untuk merencanakan upgrade ini, dengan mengamati sejumlah perusahaan seperti Cisco dan lainnya, yang memiliki keahlian di bidang ini. Meskipun, pada akhirnya Huawei yang terpilih untuk memasok peralatan yang diperlukan untuk menggelar D3.1 TDC ini.

Berdasarkan kesepakatan itu, vendor China tersebut juga akan menyediakan jasa rekayasa terkait untuk mendukung penyebaran.

“Huawei memiliki ambisi yang sama untuk menjadi penggerak pertama dalam hal ini,” kata Bryder.

Menurut Daniel Tang, CTO Huawei untuk bisnis jaringan tetap, DOCSIS 3.1 memungkinkan perusahaan untuk menggunakan infrastruktur yang ada, yang membantu dalam menghemat biaya.

Bryder sendiri mengakui bahwa meluncurkan sebuah jaringan fibre-to-the-home (FTTH) baru memang akan menelan biaya delapan kali lebih mahal daripada upgrade ke D3.1.

Chief Operating Officer TDC, Peter Schleidt, mengatakan bahwa setelah upgrade D3.1, perusahaan akan mengenakan biaya premium kepada pelanggan untuk kabel broadband 1-Gbps, namun ia menolak untuk mengungkapkan secara persis berapa biaya yang akan dikenakan itu.

Sebagai permulaan, TDC tidak akan tergesa-gesa untuk memperluas jangkauan laayanannya ini, dan ‘memaksa’ pelanggan untuk mendaftar. Namun, ia mengharapkan pelanggan akan tergoda untuk berlangganan ketika mengetahui bahwa mereka memiliki pilihan untuk meng-upgrade kecepatan di kemudian hari.

NTT DoCoMo Hasilkan 5G Berkecepatan 2Gbps

0

Telko.id – Raksasa operator asal Jepang, NTT DoCoMo telah bekerja sama dengan sejumlah vendor besar untuk melakukan uji coba 5G di ‘lingkungan yang sebenarnya” di Tokyo, hasil ujicoba tersebut berhasil mencapai kecepatan transmisi data lebih dari 2Gbps.

Dilansir dari Telecom Asia, Operator bekerja dengan Huawei, Nokia Networks, Samsung, Ericsson dan Fujitsu di sebuah lokasi yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi di Tokyo.

Sekedar informasi, uji coba ini menggunakan milimeter-gelombang yang memiliki frekuensi sinyal yang sangat tinggi yakni 70 GHz untuk transmisi data.

DoCoMo mengatakan ini adalah pertama kalinya transmisi data 5G telah dicapai dalam kompleksitas komersial karena masalah sebelumnya tak terpecahkan yang melibatkan BTS berada di luar jangkauan serta refleksi sinyal yang disebarkan.

Operator dan mitranya mengatasi masalah ini dengan menggunakan dua teknologi baru yaitu beamforming, yang berfokus pada gelombang radio dalam arah tertentu, dan beam tracking untuk mengendalikan arah berdasarkan lokasi perangkat mobile.

DoCoMo bekerjasama dengan Samsung pada bulan November lalu untuk melakukan uji coba 5G secara terpisah  di Suwon, salah satu kota di Korea Selatan. Ujicoba ini menggunakan frekuensi 28 GHz untuk mengirimkan data pada kecepatan lebih dari 2.5Gbps dalam kendaraan yang bergerak dengan kecepatan 60km / jam.

Operator juga baru-baru berkolaborasi dengan Ericsson, Fujitsu dan Huawei pada uji coba teknologi yang diharapkan menjadi komponen standar 5G, termasuk menggunakan teknologi multi-user multiple-input multiple-output (MU- MIMO).

Oracle Bawa Solusi di Indonesia

0

Telko.id – Bersamaan dengan perkenalan Country Managing Director untuk Indonesia yang baru, Oracle juga memperkenalkan strategi solusi cloud computing untuk segala industri di Indonesia. berkaca dari komentar Country Managing Director mereka, Erwin Sukiato yang menyebut,  “Ke depannya, perusahaan-perusahaan akan beralih menggunakan cloud, untuk keperluan menyimpan data secara aman. Kita bisa mengakses kapan dan di mana saja, selama masih tetap terhubung dengan internet,” ucapnya.

Berdasarkan hasil riset yang dimiliki Oracle, 80 persen aplikasi produksi pada cloud, tetapi baru sekitar 25 persen yang terpenuhi. Sebanyak 100 persen pengembangan perangkat lunak/usaha pengujian akan dilakukan dalam cloud. Dan, semua data perusahaan akan disimpan secara virtual melalui komputasi awan.

Saat ini, Oracle mengklaim sebagai satu-satunya penyedia solusi bagi korporasi, selain yang dilakukan oleh Microsoft. Oracle menawarkan tiga area layanan komputasi awan, yakni software as a service (SaaS), platform as a service (PaaS), dan infrastructure as a service (IaaS).

Guna membantu pelanggannya dalam menerapkan cloud, Oracle pun menghadirkan enam rumus desain yang terdiri atas rendah biaya, reliabilitas, kinerja, desain berbasis standar, kompatibilitas lengkap, dan keamanan yang selalu ada.

Oracle juga memiliki solusi yang menjadi keunggulan mereka berbasis cloud. Solusi tersebut adalah Oracle Ennterprise Resource Planning (ERP) Cloud. Solusi ini merupakan solusi cloud paling komprehensif untuk perusahaan global. Solusi-solusi untuk Enterprise Performance Management, Governance Risk dan Compliance, Supply Chain Management, serta integrasi dengan portfolio Oracle SaaS lainnya untuk Human Capital Management dan Customer Experience memungkinkan pelanggan untuk melakukan proses pengadopsian yang cepat, praktis, dan didorong oleh bisnis.

Oracle ERP Cloud memberian beberapa fitur seperti

Oracle Financials Cloud

Oracle Financials Cloud didesainuntukmengontroloperasidanaksesinformasi yang cepat,dengankemampuananalitik yang sudah tertempel langsung. Cash positioning dan forecasting yang komprehensif memberikan kontrol likuiditas jangka pendek melalui perencanaan dan penyeimbangan transfer tunai atau pembayaran.

Financial Reporting Center yang ditingkatkan memberikan model distribusi laporan yang aman dan kolaboratif, ditujukan untuk pengguna bisnis dan keuangan, menyediakan titik akses yang tunggal dan konsisten untuk semua kebutuhan pelaporan standar dan kustom kepada pelanggan.

Oracle Procurement Cloud

Oracle Procurement Cloud kini menambah kedalaman melalui dukungan bahan langsung untuk manufaktur dan orkestrasi rantai suplai, yang memungkinkan pelanggan di industri produk untuk mengadopsi cloud.

Direct Materials Support meliputi bahan dan layanan tidak langsung untuk mendukung proses manufaktur dan bahan langsung, termasuk barang yang dikonfigurasi, pengapalan barang, dan pemesanan back-to-back.

Integrasi Oracle Sourcing dengan Oracle PPM Cloud telah menyederhanakan manajemen dan pelacakan kegiatan negosiasi yang rumit.

Oracle Project Portfolio Management (PPM) Cloud

Oracle PPM Cloud didesain untuk pekerja proyek modern, dengan analitik yang sudah menempel di pelaporan dan dashboard yang interaktif. Oracle PPM Cloud telah memperluas integrasinya di solusi cloud danon-premise.

Dashboard yang real-time, mudah untuk digunakan, dan menyatu untuk manajemen keuangan proyek dan eksekusi proyek, menyediakan wawasan proyek yang ditingkatkan dengan analitik kinerja untuk proyek yang dimonitor sendiri.

PPM Cloud kini terintegrasi dengan Oracle Sourcing Cloud untuk mengatur negosiasi dan telah memperluas kemampuan untuk proses pengembangan produk dengan integrasi ke Innovation Management Cloud.

Oracle Supply Chain Management (SCM) Cloud

Oracle SCM Cloud memungkinkan perusahaan untuk berinovasi dan eksekusi dengan cepat, serta menskalakan rantai suplai mereka. Pelanggan dapat menerapkan fungsionalitas manajemen rantai suplai Oracle dengan risiko rendah, biayakecil, dan fleksibilitas tinggi, baik sebagai bagian dari transformasi ERP ke cloud, atau sebagai layanan berbasis cloud untuk fungsi rantai suplai tertentu. Selain dukungan yang sudah ada di cloud untuk inventarisasi, costing, Product Master Data Management, Product Lifecycle Management, Transportation and Global Trade Management, Oracle Supply Chain Management kini termasuk juga:

Oracle Order Management – Pengisian dan manajemen pemesanan multi-channel, ditambah fiturcapture, pricing, dan konfigurasi pemesanan yang terintegrasi.

Oracle Planning Central – Perencanaan suplai dan permintaan yang terintegrasi, didesain untuk merampingkan proses perencanaan dari analisis, optimisasi, hingga eksekusi.

Manufacturing – Dukungan yang terintegrasi untuk berbagai metode manufaktur (Build to Stock, Build to Order, CTO, Outsourced) dari inovasi produk, produksi, hingga manajemen biaya.

Inilah Country Managing Director terbaru Oracle Untuk Indonesia

0

Telko.id – Penyedia solusi layanan berbasis Cloud, Oracle akhirnya menunjuk Country Managing director untuk Indonesia. Pada Jumpa Pers di salah satu Hotel di Kawasan Senayan, Jakarta (27/1) Oracle menunjuk Seorang Erwin Sukiato sebagai bos baru mereka untuk Indonesia.

Erwin merupakan seorang veteran di industri Teknologi Informasi dengan lebih dari 20 tahun pengalaman, ia pernah menduduki peran pemimpin strategis dan taktis di sejumlah perusahaan. Sejatinya, Erwin bukanlah muka baru di perusahaan solusi ini, Ia juga pernah bekerja di Oracle dari tahun 1996 sampai 1998, dengan posisi terakhirnya adalah sebagai Sales Director untuk Sektor Publik, Energi dan Telekomunikasi.

Penasaran dengan Country Managing Director terbaru Oracle ini, berikut tim Telko.id merangkum rekam jejaknya di Industri IT Indonesia.

Erwin memulai karirnya di perusahaan outsourcing TI di Auckland, Selandia Baru, kemudian kembali ke Indonesia dan menjabat sebagai konsultan di perusahaan perangkat lunak pertambangan. Di tahun 1994, ia mulai terjun ke bidang manajemen TI, pengembangan penjualan dan bisnis. Bersamaan dengan itu, Erwin mendirikan perusahaannya sendiri di tahun 1998, dan sempat masuk bursa saham di tahun 2001.

Pria yang telah menikah dan memiliki lima orang anak ini kemudian melanjutkan pertualangannya di industri IT Indonesia. Padatahun 2003, ia menjual sahamnya di perusahaan tersebut dan bergabung dengan IBM sebagai ASEAN Business Unit Executive untuk Channel Business.

Erwin adalah salah satu dari sekian banyak profesional IT yang mengecap pendidikan diluar negeri. Ia merupakan lulusan dari Waikato Technical Institute. Pada tahun 2008, Erwin meninggalkan IBM untuk bergabung dengan SAS, di mana ia menghabiskan 4,5 tahun berkarir disana, Ia juga sempat merasakan bekerja untuk VeriFone Sebelum akhirnya “pulang kampung” dan bergabung kembali dengan Oracle.

Sekedar informasi, sebelumnya Oracle menujuk seorang Uday Matkhar sebelum akhirnya posisi tesebut digantikan oleh Erwin. Pada saat Jumpa Pers, Erwin juga mengungkapkan mengenai fenomena cloud computing yang mulai bemunculan di setiap bisnis di Indonesia.