spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1695

Siapakah Operator Nirkabel Tercepat Di Amerika Serikat?

Telko.id – Siapakah operator nirkabel tercepat di Amerika Serikat saat ini? Perusahaan pengujian OpenSignal memiliki beberapa jawaban dengan hasil mengejutkan untuk tempat teratas.

Berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh OpenSignal, T-Mobile menempati peringkat tertinggi dan yang pertama pada pengujian ini. T-Mobile berhasil membawa pulang penghargaan untuk kecepatan dan latency dari jaringan 3G-nya. Sementara berbicara mengenai 4G, Verizon lebih unggul dalam hal cakupan. Namun, untuk segi kecepatan, baik Verizon dan T-Mobile memiliki kecepatan yang sama.

Hal berbeda terjadi pada AT&T. Berdasarkan pengujian tersebut, operator terbesar kedua di Amerika Serikat ini tidak mendapatkan penghargaan apapun. Berbanding terbalik dengan Sprint yang unggul dari segi latency untuk jaringan 4G.

Dilansir dari laman CNET, (4/2), tes ini semakin kritis dan menjadikan konsumen lebih cerdas dan mengetahui banyak hal tentang layanan yang mereka gunakan, dengan setiap operator menawarkan beberapa diskon atau promosi untuk “memancing” mereka. Hasil ini juga menjadi modal dari setiap operator untuk mengiklankan produknya kepada konsumen.

Dalam konteks skema, OpenSignal mengumpulkan data dari para pengguna yang mengunduh aplikasi seperti speedtest dari Ookla dan mengumpulkan data dari 180.000 peserta. Sekedar informasi, data tersebut berbeda dengan data yang dikumpulkan dari tes drive, di mana perusahaan mengirim “driver” untuk memantau perangkat yang menggunakan jaringan yang berbeda, seperti studi yang dilakukan oleh RootMetrics.

Jaringan T-Mobile berada pada kecepatan rata-rata 12,3 megabit per detik, atau hanya terpaut 0,3 megabit dari kecepatan rata-rata yang dihasilkan oleh Verizon, yakni 12 megabit per detik. Tetapi karena sedikit perbedaan, OpenSignal menyatakan kedua operator menjadi juara dalam hal kecepatan 4G. Perusahaan juga mencatat bahwa kecepatan T-Mobile bersaing sengit dengan Verizon di 11 kota terbesar di Amerika Serikat.

“Kuncinya di sini adalah bahwa tahun terakhir ini telah menjadi tahun pertumbuhan cakupan bagi kami,” kata juru bicara T-Mobile.

Sementara itu, Verizon tampak meremehkan metodologi tes, dengan menyebutkan, “Studi yang menggunakan data yang bersumber dari pengguna ini terdengar bagus, tetapi mereka dapat dengan mudah menyesatkan, ketika Anda tidak dapat mempercayai seseorang terhubung ke jaringan, maka cara tersebut tidak dapat mengukur performa atau kecepatan,” kata seorang juru bicara.

Berbeda dengan Sprint, mereka lebih cenderung menunjuk penelitian lain yang dilakukan oleh Nielsen, juru bicara mereka mengungkapkan, “Kami akan terus bekerja keras untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan kami, tapi kami juga tahu bahwa perbedaan kinerja jaringan sering dapat dibedakan untuk sebagian besar pelanggan di sebagian besar pasar,” kata perusahaan itu.

Sementara seorang juru bicara dari AT & T tidak bersedia untuk mengeluarkan komentar.

Sekedar informasi, hasil ini merupakan angka rata-rata berdasarkan sampling data, sehingga cakupan dan kecepatan akan bervariasi tergantung pada tempat Anda tinggal.

Secara keseluruhan, OpenSignal juga menyimpulkan bahwa operator AS telah kehilangan “taring” mereka di seluruh dunia, dengan banyak penyedia layanan di luar negeri yang menawarkan jaringan lebih cepat.

“Amerika Serikat berada jauh di belakang negara lain secara global dalam kecepatan LTE,” kata studi tersebut.

Kecepatan rata-rata internet di Amerika Serikat adalah 9,9 megabit per detik, sementara banyak negara lain menawarkan koneksi yang konsisten dengan kecepatan dua kali lipat dibandingkan negeri Paman Sam.

Pengguna 4G di Taiwan Sentuh Angka 10 Juta

0

Telko.id – Enam operator seluler Taiwan mendapatkan hampir tiga kali lipat jumlah pelanggan 4G tahun lalu menjadi 10,4 juta, atau sekitar 32 persen dari total mobile base negara.

Pemimpin pasar operator di Taiwan Chunghwa Telecom memiliki koneksi 4G dengan tiga juta pengguna pada tahun lalu dan total pengguna 4G mereka menjadi 4,4 juta, jumlah tersebut menyumbang sekitar 41 persen dari pasar 4G. Sementara Taiwan Mobile dan Far EasTone masing-masing memiliki pertumbuhan lebih dari dua kali lipat koneksi 4G mereka yakni sekitar 2,4 juta.

Tiga operator yang meluncurkan layanan LTE pada Mei 2014, telah menjaring hampir 9,2 juta sambungan 4G, sementara tiga pendatang baru memiliki 1,2 juta pengguna LTE, menurut GSMA Intelligence.

Sementara operator yang lebih kecil yakni Asia Pacific Telecom (APT), yang melakukan merger dengan Ambit Microsystems dan telah disetujui oleh regulator pada tanggal 31 Desember lalu melaporkan bahwa pengguna mobile data mereka meningkat 20 persen menjadi 940.000 user pada tahun lalu, seperti dilansir dari Mobile World Live, (4/2).

Sekedar informasi, Kedua perusahaan baik APT dan Ambit adalah anak perusahaan dari produsen kontrak elektronik Hon Hai Precision, atau yang lebih dikenal dengan nama Foxconn.

Menurut GSMA Intelligence, APT memiliki 3,1 juta sambungan pada akhir tahun lalu, sementara Ambit baru saja memiliki 26.000 pengguna yang kesemuanya penggunanya adalah pengguna 4G.

Chunghwa, yang memiliki total pangsa pasar 33 persen, bertujuan untuk menambahkan dua juta pelanggan 4G lagi ditahun ini, dengan total menjadi 6,4 juta.

Berbicara mengenai teknologi VoLte, Dalam berita lainnya, Taiwan Mobile telah diikuti oleh rival APT dan Taiwan Star Seluler dalam meluncurkan voice-over-LTE (VoLTE). Tapi layanan ini hanya tersedia untuk sekitar 500.000 pelanggan yang menggunakan iPhone 6 dan 6s dan hanya antara pengguna di jaringan operator tersebut. Sementara tarif panggilan, masih menggunakan tarif yang sama seperti untuk 3G, namun pengguna harus membayar biaya bulanan sebesar 30 dollar Taiwan atau sekira $ 0,90 untuk layanan ini.

Pada bulan Mei,  Ambit adalah operator pertama di negara itu yang menawarkan layanan VoLTE, yang “interoperable” dengan jaringan APT dan Taiwan Mobile pada saat peluncuran.

Telkomsel Targetkan 6 Juta Penguna Aktif T-Cash Tahun Ini

0

Telko.id – Semakin diminatinya gaya hidup praktis oleh masyarakat diakui Telkomsel menjadi alasan kian populernya layanan digital. Salah satunya adalah penggunaan uang elektronik sebagai alat pembayaran. Itu sebabnya, operator pelat merah ini optimis akan dapat menambah jumlah pengguna aktif T-cash menjadi 6 juta pada tahun 2016, dari 300.000 pengguna aktif saat ini.

Target tersebut dicanangkan seiring dengan semakin merchant dan outlet yang terdaftar menggunakan T-cash. Saat ini, total outlet yang tersebar di Jabodetabek adalah sekitar 3.000 unit, sementara jumlah merchant yang terdaftar berkisar 60. Beberapa diantaranya adalah restoran makanan siap saji McD, Wendys, Baskin Robbins, XXI, dan banyak lagi.

Tahun 2016, baik jumlah outlet maupun merchant diharapkan akan bertambah. Terlebih, T-cash juga akan turut menghampiri beberapa kota lainnya seperti Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar.

“Target kita outlet akan bertambah menjadi 33000 dari 3000 saat ini. Sementara untuk jumlah merchant penambahannya tidak akan terlalu signifikan. Paling dari 60 menjadi 100,” ungkap GM Digital Payment & Banking Product Development Telkomsel, Herman Soeharto seperti dikutip dari Telsetnews, Rabu (3/2).

T-cash sendiri merupakan layanan pembayaran eletronik yang terkoneksi dengan nomor ponsel Telkomsel. Ada dua jenis transaksi yang ditawarkan di merchant yang ada yakni menggunakan layanan pesan singkat maupun layanan tap cash atau menggunakan sticker khusus yang dihubungkan dengan mesin EDC.

Saat ini, layanan e-money atau mobile money tersebut telah mengalami peningkatan trafik transaksi hingga 150% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dan popularitasnya pun kian menanjak, seiring dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan layanan tersebut, entah itu untuk sekadar membeli tiket nonton ataupun membeli makanan dan minuman.

“Hampir semua orangg suka menggunakan t-cash, dan mereka bilang ingin merekomendasikan itu pada temannya,” tambah Herman lagi.

Kemudahan penggunaan – dalam hal ini T-cash Tap – dimana penguna hanya perlu menempelkan ponselnya ke mesin EDC untuk melakukan transaksi disebut-sebut menjadi alasan kian diminatinya layanan e-money dari Telkomsel ini.

“Kebanyakan orang yang menggunakan T-cash mengaku ada kebanggaan tersendiri. Ngerasa keren, atau cool. Karena dia beda dari orang lain,” tambah Herman.

NetGuard Portfolio Sekuriti Kini dan Nanti dari Nokia

Telko.id – Serangan cyber di jaman digital ini tidak akan pandang bulu. Perlu keamanan yang super agar setiap serangan dapat ‘ditangkis’. Tapi dengan mudah juga di monitor. Itu sebabnya, banyak perusahaan yang mencoba berbagai kemampuannya untuk melakukan system monitoring dan analisis keamanan. Salah satunya adalah Nokia. Perusahaan asal Finland ini meluncurkan NetGuard Security Managemen Center pada ajang Mobile World Congres 2016.

“Saat ini jaringan-jaringan menjadi semakin heterogen dan terbuka, membuat mereka rentan terhadap serangan siber. Setiap degradasi lanjutan dari kinerja jaringan, apakah mati sebagian atau seluruhnya, adalah salah satu dari ancaman terbesar bagi para operator. Dampak dari kejadian sejenis dapat berkisar dari beberapa konsumen yang tidak puas hingga kerusakan pada keseluruhan bisnis. NetGuard Security Management Center kami memberikan operator keyakinan bahwa seluruh jaringan mereka aman, bukan hanya beberapa bagian individual saja yang terlindungi,” ujar Guiseppe Targia, pimpinan Security Nokia menjelaskan.

NetGuard Security Management Center dari Nokia ini akan memberikan kontrol single point untuk jaringan multi-vendor. Selain itu juga menyederhanakan dan mengakselerasi deteksi dan respon serangan bagi para operator.

Seperti diketahui, masalah keamanan, saat ini menjadi perhatian utama dalam pengembangan Internet of Things. Pasalnya, setiap perangkat dengan IP address rentan terhadap serangan-serangan berbahaya. Dalam Vodafone Barometer 2015, 64% bisnis merespon bahwa sekuriti dan privasi adalah kendala paling umum dalam adopsi machine-to-machine.

“Kami di Deutsche Telekom sangat mengapresiasi pendekatan Nokia, yang secara komprehensif menangani masalah sekuriti dengan solusi terkonsolidasi yang membawa nilai lebih besar daripada jumlah modul sekuriti individual. Sebagai contohnya, dengan audit sekuriti otomatis bersama dengan korelasi alarm sekuriti, kami akan dapat menemukan serangan-serangan yang tidak dapat dideteksi jaringan-jaringan saat ini,” ujar Dr. Stefan Pütz, Wakil Presiden Network and Infrastructure Security, Group Security Services, di Deutsche Telekom (DT) menjelaskan.

Dengan adanya solusi dari Nokia ini maka akan memperkuat lagi keamanan di saat serangan-serangan terjadi. NetGuard Security Management Center adalah sebuah platform piranti lunak terkonsolidasi serta mudah digunakan yang akan membantu para operator memonitor dan mengontrol seluruh system sekuriti multi-vendor yang digelar di seluruh jaringan telekomunikasi mereka. Selain itu juga mengkombinasi sistem-sistem monitoring dan konfigurasi berbeda dalam satu tempat sehingga akan meningkatkan sekuriti karena insiden-insiden dapat dianalisa serta dikorelasikan secara terpusat untuk perlindungan terhadap serangan yang mungkin saja tidak terdeteksi oleh sistem-sistem sekuriti yang terisolasi.

Selain dari pendeteksian dan pencegahan cepat dan mudah terhadap serangan-serangan, NetGuard Security Management Center juga meningkatkan efisiensi operasional serta menurunkan total biaya sekuriti para operator melalui konfigurasi massal otomatis dan konsisten dari kebijakan-kebijakan sekuriti, upgrade bulk firmware dan verifikasi seting-seting penguatan sekuriti dari vendor tertentu.

Kelebihan dari Security Management Center adalah mampu mengintegrasi seluruh sistem-sistem sekuriti jaringan, terlepas dari manapun vendornya, untuk memonitor status sekuriti serta mengelola insiden, kerentanan, kebijakan sekuriti dan akses jaringan.

Solusi ini juga akan mengawasi serangan-serangan di jaringan dengan secara proaktif mendeteksi kelemahan-kelemahan sekuriti dan mengkorelasi mereka sesuai dengan basis data internal.

Selain itu, analisis sekuriti yang diperoleh akan diterapkan oleh mesin pembuat keputusan yang dapat dikonfigurasi serta berbasis peraturan yang akan memicu langkah korektif otomatis atau membantu operator mengimplementasi sebuah respon manual. NetGuard juga akan mengoptimalkan konfigurasi parameter-parameter sekuriti dan menurunkan resiko serangan-serangan pada infrastruktur jaringan.

Berbeda dengan solusi vertical, untuk melindungi elemen-elemen jaringan, Security Management Center menawarkan sebuah gambaran lengkap dari keseluruhan jaringan, mengkorelasi kejadian-kejadian yang berasal dari lapisan-lapisan yang biasanya terisolasi seperti radio access, transport, core dan operasi-operasi untuk mendeteksi dan memitigasi serangan-serangan yang lebih luas. (Icha)

 

 

Microsoft Ujicoba Data Center di Bawah Laut

Telko.id – Apakah ada terpikir untuk membangun data center di lautan bebas? Microsoft sudah memikirkan hal itu. Itu sebabnya, Microsoft melakukan percobaan untuk mengaplikasikannya. Tentu sebuah pemikiran yang radikal untuk saat ini. Tapi nanti? Siapa tahu memang dibutuhkan. Dan, Microsoft sudah pernah mencoba.

Sebenarnya, teknologi untuk menyimpan komputer di bawah air bukan hal baru. Pada kenyataannya, ada beberapa karyawan Microsoft pernah melakukannya. Hal itu juga yang melahirkan ide untuk menyimpan data center di dalam laut. Dengan melakukan percobaan ini, maka ada beberapa persoalan yang dipecahkan. Misalnya, memperkenalkan sumber tenaga baru, bagaimana melakukan penurunan biaya untuk pendinginan, mendekatkan jarak dengan populasi yang akan dihubungkan serta membuatnya lebih mudah dan lebih cepat untuk pusat data set-up.

Sebagai background, pusat data adalah tulang punggung dari komputasi awan, dan banyak di dalamnya jaringan antar komputer. Tentu hal ini membutuhkan daya yang besar untuk melakukan tugasnya. Seperti penyimpanan, pengolahan dan / atau mendistribusikan jumlah informasi yang banyak. Untuk itu semua, dibutuhkan kekuatan listrik yang besar pula yang dapat dihasilkan dari sumber daya terbarukan seperti angin dan matahari, atau, dalam hal ini, mungkin gelombang atau energi pasang surut.

Ketika pusat data yang lebih dekat ke populasi yang dituju, seperti tempat orang tinggal dan bekerja, maka “latency” akan berkurang. Itu artinya, download, web browsing dan game semua lebih cepat. Dengan organisasi yang lebih mengandalkan awan, permintaan untuk pusat data pun menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Tentu, membutuhkan biaya untuk membangun dan memeliharanya.

Semua itu menjadi tantangan yang menarik bagi tim Microsoft Research yang cukup piawai menyadiakan solusi yang out-of-the-box.

Ben Cutler, manajer proyek yang memimpin tim di belakang percobaan ini, menjuluki tim nya sebagai Project Natick yang merupakan bagian dari kelompok dalam Microsoft Research yang berfokus pada proyek-proyek khusus. “Kami lihat sesuatu permasalahan dari sudut pandang baru, perspektif yang berbeda, dengan kemauan untuk menantang kebijaksanaan konvensional. Hal itu terlihat ketika ada sebuah makalah tentang menempatkan pusat data di dalam air yang diberikan oleh Norm Whitaker, yang kini mengepalai proyek khusus untuk Microsoft dalam penelitian selanjutnya,” ujar Ben Cutker, Manajer Proyek Microsoft menjelaskan.

Salah satu yang menjadi tantangan adalah bagaimana menempatkan peralatan elektronik dari serangan air laut yang kadar garamnya sangat tinggi. Tentu, hal ini membutuhkan proses pengujian dan desain yang sangat ketat. Hal ini juga mengingatkan bagaimana fiber optic ditemukan. Dan berdasarkan itulah maka ada optimistis bahwa menyimpan data center di bawah laut pun dapat dilakukan.

Untuk merealisasikan mimpi menyimpan data center di bawah laut pun terinspirasi dari kapal selam. Dimana desain kapal selam yang bulat adalah bentuk yang terbaik agar terhindar dari benturan dan tekanan.

Pada tahap awal ujicoba, data center tidak akan ditempatkan jauh dari pantai. Hal ini untuk mempermudah dalam memperoleh jaringan listrik yang ada. Baru nantinya akan menggunakan energi HYDROKINETICT yang berasal dari gelombang laut untuk daya. Ini bisa membuat pusat data bekerja secara independen dari sumber energi yang ada, terletak dekat dengan kota-kota pesisir, didukung oleh energi laut terbarukan. Itulah salah satu keuntungan besar dari skema datacenter di bawah air – mengurangi latency dengan mengurangi jarak ke populasi dan akan mempercepat transmisi data.

Proyek ini menunjukkan hal itu mungkin dilakukan untuk menyebarkan data center dengan lebih cepat karena mengubahnya dari proyek konstruksi yang tentu saja membutuhkan beragam ijin dan memakan waktu. Sebagai perbandingan, untuk membangun kapal tempat ujicoba data center ini hanya membutuhkan waktu 90 hari saja. Padahal, jika data center di bangun di daratan, membutuhkan penyesuaian dengan lingkungan, medan dan tentu akan berbeda-beda untuk setiap lokasinya. Sedangkan untuk dibawah laut, dapat diproduksi secara masal karena kondisi di bawah air relatif sama dan konsisten.

Apalagi, untuk data center, masalah pendinginan merupakan hal penting. Biasanya, dijalankan dengan menggunakan chiller agar tidak terjadi overheating. Lingkungan dingin di dalam laut, secara otomatis membuat pendinginan data center menjadi lebih murah dan lebih hemat energi. Terlebih lagi, data center itu akan dipantau secara jarak jauh dengan menggunakan kamera dan sensor lainnya. Sehingga pencatatan data seperti suhu, kelembaban, jumlah daya yang digunakan untuk sistem, bahkan kecepatan arus, tetap dapat dilakukan. Walau demikian, sebulan sekali, tetap aka nada penyelam yang turun untuk memeriksa. Sampai saat ini, tim masih menganalisis data dari percobaan tersebut, namun sejauh ini, hasil yang diperoleh cukup menjanjikan.

Saat ini, Microsoft sedang merencanakan tahap berikutnya dari proyek ini. Dengan menggunakan kapal yang berukuran empat kali dari wadah yang saat ini digunakan. Selain itu juga memiliki 20 kali kekuatan komputasi. Tim ini juga menguji kapal yang bisa di dalam air selama setidaknya satu tahun dan mengerahkan sumber energi laut terbarukan. Termasuk juga belajar melakukan konfigurasi ulang firmware dan driver untuk disk drive, agar dapat bertahan lebih lama. (Icha)

Program CSR, Blibli.com Bangun Ruang Publik Ramah Anak

0

Telko.id – Blibli.com sebagai salah satu e-commerce terbesar di Indonesia hari ini (3/2) menghadirkan ruang publik terpadu sebagai salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka. Bertempat di kawasan Tambora, Jakarta, Blibli.com bersama dengan Pemprov DKI Jakarta meresmikan dua Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di kawasan Krendang, Kecamatan Tambora dan Kedoya Utara kecamatan Kebon Jeruk.

Dalam peresmian ini, hadir juga CEO Blibli.com, Kusumo Martanto. Dalam sambutannya, Ia mengatakan bahwa pembangunan RPTRA merupakan wujud dari program Corporate Social Responsibility dari Blibli.com untuk menjadikan Jakarta sebagai kota ramah anak dan penghijauan lingkungan.

“Kemajuan IT dan komunikasi berdampak positif pada pada terciptanya ekonomi kreatif, selain itu banyak manfaat yang juga bisa dinikmati oleh berbagai kalangan termasuk generasi muda dan kehadiran RPTRA diharapkan untuk menjadi wadah untuk menstimulus kreatifitas dari masyarakat agar dapat memanfaatkan kemajuan IT dengan baik,” ujar Kusumo pada saat peresmian RPTRA di Tambora, Jakarta.

“kami mengucapkan apresiasi yang sebesar-besarnya. Kita semua sadar sekarang di DKI ini ketersediaan ruang publik sudah sangat sedikit, Kami dari blibli.com, mencoba memaksimalkan kreatifitas dan kemajuan teknologi, walaupun kemajuan teknologi berguna, namum kita tetap membutuhkan ruang terbuka untuk berinteraksi sesama masyarakat,”

Ia juga berharap kita jaga RPTRA ini agar tetap bersih dan terpelihara dan terimakasih atas dukungannya.
Sekedar informasi, Blibli.com menghadirkan RPTRA di empat titik di Jakarta. Keempat titik tersebut terbagi menjadi dua wilayah yakni tiga lokasi di Jakarta Barat yang meliputi Krendang kecamatan Tambora, Kedoya Utara kecamatan Kebon Jeruk, Meruya Selatan kecamatan Kembangan dan wilayah Jakarta Pusat yang diwakili oleh Pulo Gundul kecamatan Tanah Tinggi.

Dalam peresmian ini, hadir pula Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau yang sering disapa Ahok.

Ahok, “Kami mengucapkan rasa terima kasih untuk blibli.com, sebagai pihak sponsor, hadirnya RPTRA juga menjadi sebuah tempat untuk berkumpulnya para warga berdiskusi,” ucapnya.

Blibli.com merupakan satu-satunya e-commerce diantara sejumlah perusahaan swasta yang melakukan kerjasama dengan Pemprov DKI untuk menghadirkan RPTRA di tengah-tengah warga Jakarta.

Kusumo mengungkapkan, sebagai e-commerce lokal hasil karya Indonesia, program CSR ini menjadi bentuk partisipasi mereka untuk mendukung lingkungan yang lebih baik.

Ia menambahkan, “Kami menyadari solusi kemudahan hidup berangkat dari adanya ide kreatif, dimana ide kreatif bisa lahir jika anak bangsa memiliki wadah tempat berkreasi, berinteraksi antar sesama untuk menciptakan inovasi,”tutupnya.

Setiap taman RPTRA memiliki fasilitas wifi untuk internet akses bagi warga masyarakat sekitar.

Eropa Siap Alokasikan Band 700 MHz Seluruhnya untuk Seluler

0

Telko.id – Komisi Eropa telah mengumumkan proposal untuk mengkoordinasikan band 700 MHz untuk layanan mobile dan membatasi siaran TV dengan band sub-700 MHz.

Langkah ini terjadi kurang dari tiga bulan setelah ITU mengalokasikan band 700 MHz (khususnya 694-790 MHz) untuk mobile di kawasan EMEA, dan itu menggambarkan tindakan yang cukup cepat oleh standar EC (Komisi Eropa). Komisi menggabungkan langkah ini dengan ide Digital Single Market-nya, yang membundel sekelompok inisiatif bersama-sama ke dalam strategi diperlukan.

“28 pendekatan yang berbeda untuk mengelola frekuensi radio di Uni Eropa tidak membuat ekonomi masuk akal di Digital Single Market,” kata Andrus Ansip, VP DSM. “Kami mengusulkan pendekatan bersama untuk menggunakan band 700 MHz untuk layanan seluler. Band ini adalah spot yang tepat baik untuk cakupan yang luas maupun kecepatan tinggi. Ini akan memberikan akses internet berkualitas untuk semua warga Eropa, bahkan di daerah pedesaan, dan membuka jalan bagi 5G, jaringan komunikasi generasi berikutnya.”

Hal senada diungkapkan Günther Oettinger, Komisioner Masyarakat dan Ekonomi Digital. Menurutnya, Eropa tidak bisa memiliki kualitas internet mobile tinggi untuk segalanya dan untuk semua orang di berbagai tempat kecuali mereka memiliki infrastruktur modern dan aturan modern.

“Dengan proposal ini kita menunjukkan bahwa kita dapat memiliki keduanya, sektor audiovisual yang baik serta spektrum yang kita perlukan untuk 5G. Band 700 MHz akan ideal untuk bidang baru yang menjanjikan seperti kendaraan yang terkoneksi dan Internet of Things. Saya ingin Eropa memimpin dalam 5G. Itu sebabnya semua negara anggota harus bertindak pada tahun 2020.”

Jika negara-negara anggota benar-benar berupaya mereka bahkan bisa memindahkan siaran TV sepenuhnya ke band 470-694 MHz dalam waktu kurang dari empat tahun, meski batas waktu yang sebenarnya adalah 30 Juni 2020. EC menganggap saat itulah 5G akan dimulai.

Kinerja Perusahaan Memburuk, Yahoo Pangkas 1.700 Pekerja

0

Telko.id – PHK sepertinya menjadi kalau keluar terakhir yang ditempuh perusahaan dengan kinerja kurang menyenangkan setahun belakangan ini. Yahoo, dalam hal ini menjadi salah satu diantaranya. Perusahaan internet yang berbasis di California ini memutuskan untuk merumahkan sekitar 1.700 karyawan (15%) dan ‘membuang’ layanan-layanan yang dianggap tidak menguntungkan.

CEO Yahoo, Marissa Mayer berharap untuk menjual beberapa layanan yang dimaksud dengan harga sekitar USD 1 miliar, meskipun ia tidak mengidentifikasi layanan tersebut. Dalam keterangan yang diberikannya kepada beberapa pemegang saham, Mayer juga mengatakan bahwa dewan direksi Yahoo akan memikirkan “alternatif strategis” yang memungkinkan penjualan semua operasi perusahaan Internet itu.

Analis telah berspekulasi bahwa Verizon, AT&T dan Comcast mungkin tertarik untuk membeli bisnis utama Yahoo. Demikian dilaporkan Phys, Rabu (3/2).

Mayer mengaku yakin bahwa rencananya untuk menjalankan Yahoo sebagai perusahaan yang lebih kecil dan lebih fokus secara dramatis akan mencerahkan masa depan dan meningkatkan daya saing perusahaan, disamping tentunya daya tarik untuk pengguna, pengiklan, dan mitra-mitra.

Pemotongan jumlah karyawan ini bisa jadi adalah kesempatan terakhir Mayer untuk meyakinkan pemegang saham bahwa dia telah menemukan cara untuk menghidupkan kembali pertumbuhan perusahaan setelah tiga tahun belakangan diterjang badai.

Beberapa pemegang saham Yahoo yang paling vokal, seperti SpringOwl Asset Management, sudah menyimpulkan bahwa Mayer juga harus diberhentikan. Namun Mayer, yang tak lain merupakan mantan bintang di Google yang membantu Google melampaui Yahoo, belum menunjukkan indikasi bahwa dia berniat untuk mengundurkan diri.

Yahoo sendiri, setelah pemecatan massal selesai pada akhir Maret, diperkirakan masih akan memiliki sekitar 9.000 pekerja. Jumlah yang dianggap SpringOwl masih tiga kali lebih banyak dari yang seharusnya dipekerjakan perusahaan.

“Kami ingin melihat harga saham yang lebih tinggi, dan kami pikir Marissa dan tim manajemennya saat ini telah menjadi halangan untuk itu,” kata Eric Jackson, managing director SpringOwl.

Seperti diketahui, saham Yahoo merosot 25 sen menjadi USD 28,81 dalam perpanjangan perdagangan setelah rincian Mayer mengenai upaya turnaround terbaru keluar.

Pendapatan Yahoo telah menyusut dalam masa pemerintahan Mayer, meskipun dia telah menghabiskan lebih dari USD 3 miliar untuk membeli lebih dari 40 perusahaan, disamping membawa bakat baru dan mengembangkan aplikasi mobile dan layanan lain yang dirancang untuk menarik lebih banyak lalu lintas dan pengiklan.

Penurunan ini terus bertahan sementara pengiklan telah terus meningkatkan upaya pemasaran digital mereka. Sebagian besar uang tersebut mengalir ke Google dan Facebook – dua perusahaan yang sebelumnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Yahoo Inc yang kini berusia 20 tahun.

Chipset MediaTek Rentan Terhadap Serangan Hacker

0

Telko.id – Siapa sangka produsen chipset smartphone dan tablet yang sedang naik daun, MediaTek ternyata menyimpan celah pada chipset mereka yang telah tertanam di banyak handset pengguna. Prosesor ciptaan vendor asal Tionkok ini dikabarkan rentan terkena serangan hacktivis.

Kabar tersebut awalnya diungkapkan pada akun twitter seorang peneliti dan pengembang mobile security R&D Justin Case.

Dilansir dari Techworm, Pemilik akun @jcase menyebutkan bahwa MediaTek cacat, dan bug tersebut dibiarkan terbuka oleh perusahaan karena lupa menutup debug sebelum memasarkan perangkat ke publik.

Celah tersebut sejatinya dapat dimanfaatkan hacker untuk mencuri data pribadi pengguna seperti foto, kontak, bahkan dapat memonitor semua lalu lintas dan ada kemungkinan para hacker akan meretas dari sebuah backdoor di dalam software MediaTek.

Sementara itu, pihak MediaTek langsung membalas kicauan dari sang pengembang ini, dengan mengungkapkan, “Kami menyadari masalah ini dan telah ditinjau oleh tim keamanan MediaTek, kesalahan yang ditemukan ada di perangkat yang mengoperasikan sistem OS Android 4.4 KitKat,” katanya.

Pihak MediaTek menambahkan, bahwa adanya fitur de-debug dimaksudkan untuk pengujian telekomunikasi interoperabilitas di China. Setelah proses pengujian si produsen ponsel seharusnya menonaktifkan kembali fitur de-bug sebelum melakukan pengiriman smartphone.

“Setelah melakukan penyelidikan, kami menemukan bahwa beberapa produsen ponsel tidak menonaktifkan fitur tersebut, sehingga masalah sistem keamanan sangat berpotensi diretas oleh hacker,” tutupnya.

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan, XL Kirim Mahasiswa ke Akademi Militer

0

Telko.id – Kemampuan dalam kepemimpinan adalah salah satu modal dasar dalam pengembangan bakat seseorang untuk meraih sukses di sama depan. Memahami pentingnya hal ini, PT XL Axiata Tbk (XL) pun merasa perlu untuk kembali mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti latihan kepemimpinan di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 100 mahasiswa dari berbagai universitas negeri di Indonesia akan mengikuti pelatihan selama 10 hari, terhitung sejak 29 Januari hingga 7 Februari 2016.

”Dengan keahlian dan kurikulum yang dimiliki, Akademi Militer merupakan tempat yang tepat untuk menumbuhkan dan menempa jiwa kepemimpinan para mahasiswa program XL Future Leaders. Kita tahu, semua Jenderal TNI ditempa dari tempat ini. Tak ada lagi yang diragukan dari kemampuan Akmil menggembleng para calon pemimpin,” ungkap Director & Chief Digital Service Officer Ongki Kurniawan dalam keterangan tertulisnya.

Hal senada diutarakan Wakil Gubernur Akademi Militer Brigjen TNI Dudung Abdurrahman, S.E, M.M. Diakuinya, menempa anak-anak muda Indonesai dan mengasah jiwa kepemimpinan mereka merupakan tugas Akmil juga, karena Akmil adalah milik rakyat Indonesia.

“Karena itu pula kami menyambut baik kerjasama dengan XL Axiata untuk ikut menggembleng para mahasiswa penerima beasiswa Program XL Future Leaders. Kami memandang program ini sangat baik karena berorientasi pada upaya melahirkan para pemimpin bangsa di masa depan,” katanya.

Ini merupakan tahun ke-4 XL menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan kepada penerima beasiswa XL Future Leaders dan tahun ke-2 XL mengirimkan penerima beasiswa XL Future Leaders ke AKMIL Magelang. Pelatihan ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan para siswa sebagai bagian dari proses belajar.

Upaya XL tidak hanya mempersiapkan dana yang dapat mendukung keberlangsungan pendidikan para penerima beasiswa XL Future Leaders, tetapi juga mempersiapkan mereka agar bisa lebih siap menjadi pemimpin masa depan dan mampu berkompetisi secara global. Ini merupakan wujud dari komitmen XL untuk terus mendukung peningkatan dunia pendidikan di Indonesia sekaligus mempersiapkan pemimpin masa depan yang berkompeten.

Selama sepuluh hari penerima beasiswa tersebut akan dibimbing langsung oleh para instruktur dari Akmil, Yayasan Karya Salemba Empat, dan XL sendiri. Serangkaian program pelatihan yang akan diberikan meliputi pengembangan karakter, e-Learn,personal grooming, wawasan kebangsaan, dan bela negara. Semua materi akan disampaikan di lingkungan dan menggunakan fasilitas Akmil, tempat di mana ratusan Taruna Akmil juga belajar di sana.

Para peserta pelatihan merupakan 100 orang mahasiswa yang lolos mengikuti program beasiswa XL Future Leaders tahun 2015/2016. Mereka adalah mahasiswa tahun akhir yang belajar di 15 universitas negeri di berbagai daerah di Indonesia. Beasiswa akan berlaku selama 1 tahun. Kampus mereka adalah Universitas Indonesia, Univeritas Negeri Jakarta, Insitut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Udayana, Universitas Nusa Cendana, Universitas Mulawarman, dan Universitas Sam Ratulanggi.

Dalam perekrutan mahasiswa penerima beasiswa, XL bekerjasama dengan Karya Salemba Empat (KSE), sebuah organisasi nirlaba yang mengelola dana beasiswa bagi mahasiswa. Dalam perekrutan mahasiswa untuk beasiswa ini, XL dan KSE antara lain menggunakan kriteria antara lain prestasi akademik, juga kemampuan ekonomi peserta dalam meneruskan pendidikannya.

Selain itu, perekrutan juga didasarkan pada disiplin ilmu yang sesuai dengan kebutuhan XL dalam merekrut karyawan. Para mahasiswa penerima beasiswa XL Future Leaders melalui rekrutmen yang dilakukan oleh KSE ini memang akan mendapatkan kesempatan untuk berkarir di XL.

Beasiswa XL Future Leaders merupakan bagian dari program XL Future Leaders yang telah dikenal sebagai program pelatihan leadership berkelanjutan bagi mahasiswa Indonesia berprestasi. Beasiswa XL Future Leaders ini memberikan dana pendidikan selama setahun khusus bagi 100 mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi dengan nilai akademis tinggi. Mereka berasal dari 15 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Selain dana pendidikan yang disalurkan setiap bulan, mereka juga mendapatkan materi kepemimpinan dan pelatihan untuk menghadapi dunia kerja.