spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1613

Laporan Keuangan Jeblok, Ericsson Gandakan Penghematan

0

Telko.id – Ericsson belum lama ini mengumumkan akan menggandakan sasaran pemotongan biaya sebagai akibat dari penjualan kuartal kedua yang menurun pada tingkat ekonomi di beberapa pasar serta belanja lebih rendah pada jaringan mobile broadband.

Dilansir dari TotalTelecom (20/7), Vendor jaringan asal Swedia ini mengharapkan adanya perbaikan dalam tren pasar di semester kedua 2016. Sebelumnya, mereka menargetkan akan mengurangi biaya dengan margin sebesar 9 miliar kronor atau setara dengan € 949.500.000 per tahun pada 2017.

Namun, Pada Selasa kemarin Ericsson mengatakan akan memotong investasi R & D di properti intelektual dan mencari keuntungan efisiensi dari struktur perusahaan yang baru yang diresmikan pada bulan April dan dilaksanakan pada tanggal 1 Juli dalam upaya untuk melakukan penghematan lebih lanjut.

Secara bersama-sama kegiatan ini sama dengan melipat gandakan penghematan sebelumnya yang bertarget pada biaya operasional. Hal ini diutarakan langsung oleh CEO Ericsson Hans Vestberg, dalam sebuah pernyataan.

Sekadar informasi, fokus penghematan pada biaya operasional muncul setelah Ericsson melaporkan laporan penjualan Q2 sebesar SEK 54.1 miliar, atau turun sekitar 11% secara year-on-year.

“Tren industri yang negatif dari kuartal pertama telah berdampak intensif pada permintaan untuk mobile broadband,” kata Vestberg.

Secara khusus, kelemahan makro-ekonomi terjadi di Brazil, Rusia dan Timur Tengah, dan penyelesaian upgrade jaringan seluler di Eropa telah membebani hasil yang didapat oleh Ericsson. Sementara itu, kinerja mereka di China dan Amerika Utara masih tergolong stabil, berkat penyebaran berkelanjutan 4G sebelumnya dan upgrade kapasitas yang terakhir.

Pada bisnis jaringan sendiri, Ericsson memperoleh pendapatan yang menurun, terhitung dalam tiga bulan sampai 30 Juni tahun ini. Pendapatan mereka turun sekitar 14% secara year-on-year menjadi SEK 26.8 miliar. Sedangkan pada divisi layanan, pendapatan mereka turun ke SEK 24.5 miliar dari SEK 26.4 miliar. Hal serupa juga terjadi pada support business solution Ericsson yang mebgalami penurunan pendapatan sekitar 7% yakni sebesar SEK 2.9 miliar dari sebelumnya SEK 3.1 miliar tahun sebelumnya.

Diharapkan, Arus tren penjualan dan bisnis campuran dapat unggul untuk paruh kedua tahun ini. Vestberg menambahkan bahwa selain rencana pemotongan biaya tersebut, Ericsson juga akan melihat ke biaya yang lebih rendah dari penjualan dan beradaptasi dengan pasar yang lemah.

“Saya yakin bahwa strategi kami dan tindakan yang kita lakukan sekarang akan menciptakan nilai yang baik dimasa depan bagi para pemegang saham,” katanya.

Terkait isu ini, Tim Telko.id juga sempat menghubungi perwakilan Ericsson Indonesia beberapa waktu lalu, namun mereka masih enggan berkomentar mengenai hal ini, terutama mengenai badai PHK yang mungkin akan menghampiri vendor asal Swedia ini.

Lenovo Kembali Gandeng Smartfren Untuk Smartphone Baru

0

Telko.id – Lenovo kembali meluncurkan smartphone dari lini Vibe mereka yakni Vibe K5 Plus. Smartphone penerus dari Vibe K5 Plus sebelumnya dan memiliki fitur dan spesifikasi yang sama dengan K5, hanya saja K5 Plus akan mendapatkan handset VR serta Theater Max Controller pada masa preorder.

“Kami akan menawarkan smartphone ini pada dua varian, yakni dengan varian RAM 2 GB dan 3GB karena melihat demand dari pasar Indonesia,” ujar Anvid Erdian 4P Lead Lenovo Indonesia di Jakarta (19/7).

Vibe K5 Plus juga bekerjasama dengan partner ekslusif mereka yakni Smartfren, pengguna akan mendapatkan paket smartplan universal dengan bonus aktivasi langsung kuota data sebesar 300 MB serta bonus 100 menit panggilan ke sesama Smartfren untuk menggunakan fitur VoLTE. Berbicara mengenai VoLTE, Smartphone ini sudah native VoLTE sehingga pengguna tidak perlu menginstall aplikasi Smart VoLTE untuk menjajal fitur ini.

Berbicara mengenai kerjasama dengan Smartfren ini, hadirnya Vibe K5 Note di channel online juga menghadirkan pertanyaan perihal registrasi SIM Card yang harus dilakukan di gallery Smartfren.

“Pasar online juga besar maka dari itu kita membuka dua channel yakni online dan offline, namun untuk registrasi pengguna masih harus mendatangi gallery Smartfren terdekat,” jawab Anvid.

Sementara itu, disinggung mengenai jumlah unit yang tersedia untuk kerjasama dengan Smartfren, Anvid memastikan semua produk Lenovo yang dirakit di Indonesia akan bekerjasama dengan Smartfren. Namun Ia mengindikasikan akan membuka kerjasama dengan operator lainnya.

Lebih lanjut, Lenovo ingin secara konsisten untuk tetap memberikan produk , dengan meluncurkan K5 Plus. Mereka juga memiliki Theater Max controller untuk memberikan pengalaman yang lebih nyata.

Sekadar informasi, Lenovo juga menggandeng pengembang aplikasi ‘Dradeout’ untuk menghadirkan game tersebut ekslusif pada smartphone Lenovo Vibe K5 Plus.

Mengenai harga dan ketersediaan, Preorder Lenovo Vibe K5 Plus dengan RAM 3 GB ini akan berlangsung pada tanggal 20 hingga 26 Juli 2016 yang tersebar di enam channel online seperti Blibli.com,Dinomarket.co.id, Bhinneka.com, Erafone.com,Lazada.co.id serta Mataharimall.com dengan harga sebesar Rp. 2.499.000,-

ISP Asal Hong Kong Ini Akhirnya Kantongi Lisensi MVNO

0

Telko.id – ISP asal Hong Kong, Hong Kong Broadband Network Limited (HKBN) resmi mendapatkan lisensi sebagai penyedia layanan MVNO dari regulator telekomunikasi OFCA.

Melalui lisensi ini, OFCA telah memberikan ijin kepada HKBN untuk menawarkan layanan mobile dengan menggunakan infrastruktur jaringan yang dibangun oleh operator seluler.

Perusahaan telah menandatangani perjanjian dengan China Mobile Hong Kong, dan dalam diskusi dengan dua operator seluler lainnya, dengan tujuan meluncurkan layanan mobile bagi pelanggan perumahan dan perusahaan. Demikian dilaporkan TelecomAsia, Selasa (19/7).

HKBN berharap dapat menggelar soft launch untuk layanan mobile-nya Agustus tahun ini untuk melengkapi layanan online yang ada.

Dengan penambahan layanan MVNO, perusahaan akan dapat memperkenalkan penawaran quad-play yang menggabungkan broadband, telepon kabel, OTT hiburan dan layanan mobile dalam paket yang sama.

“Ini adalah langkah yang kuat untuk memaksimalkan nilai pemegang saham dengan menawarkan rangkaian lengkap dari layanan tetap dan bergerak, memanfaatkan basis pelanggan broadband kami yang terus bertambah hingga lebih dari 800.000 rumah tangga,” kata pemilik sekaligus CEO HKBN, William Yeung.

Ia menambahkan, berkaca dari keberhasilan perusahaan di pasar broadband tetap, layanan mobile akan datang dengan proposisi nilai yang kuat. Tujuannya agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dengan harga yang sangat kompetitif.

HKBN baru-baru ini mengumumkan bahwa mayoritas pengawasan perusahaan dan karyawan level manajemen kini telah berinvestasi di perusahaan di bawah program co-ownership yang diterapkan.

Baru Menjabat, Kepala ICT Filipina Perintahkan Audit Spektrum

0

Telko.id – Kepala Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi (DICT) Filipina yang baru telah memerintahkan inventarisasi atas spektrum telekomunikasi di negara tersebut, untuk mengetahui spektrum mana saja yang digunakan dan mana yang tidak.

Dalam temu wartawannya baru-baru ini, Sekretaris DICT Rodolfo Salalima mengatakan bahwa frekuensi adalah sumber daya publik yang langka dan merupakan warisan bangsa. Oleh karena itu tidak seharusnya didiamkan tanpa dimanfaatkan.

Dia menjelaskan bahwa tindakan ini bertentangan dengan Konstitusi Filipina dan hukum pelayanan publik yang menyatakan bahwa frekuensi harus diberikan hanya kepada mereka yang bisa menggunakannya secara efektif dan efisien.

Nah, jika mereka – dalam hal ini perusahaan telekomunikasi – tidak menggunakan frekuensi yang telah diberikan atau diserahkan itu dalam waktu yang wajar sebagaimana dinyatakan dalam kesepakatan, maka lebih baik untuk mencabutnya dan memberikannya pada perusahaan telekomunikasi lain yang bisa dengan efektif dan efisien memanfaatkannya.

Kepala DICT juga memberi jaminan bahwa proses hukum akan diamati jika departemen ingin mencabut lisensi spektrum atau memberi izin jika beberapa perusahaan telekomunikasi ditemukan tidak menggunakannya dalam jangka waktu yang ditentukan.

“Kami akan mendengar penjelasan mereka,” katanya, seraya menjelaskan bahwa apa yang dibayar oleh perusahaan telekomunikasi hanyalah penggunaan frekuensi. “Mereka tidak menjadi pemilik dari frekuensi ini karena mereka tidak pernah dapat memilikinya di bawah Konstitusi Filipina.”

Masalah ini muncul setelah pembelian San Miguel Corporation (SMC) oleh dua operator yang dominan di negara itu – PLDT dan Globe Telecom, dimana badan antitrust pemerintah, Komisi Persaingan Filipina (PCC) kini menginginkan penyelidikan.

Salalima mengatakan bahwa frekuensi sangat penting untuk operasi perusahaan telekomunikasi dalam melayani masyarakat.

“Ini alasannya kenapa, PLDT dan Globe harus membeli kontrol dari perusahaan induk SMC sehingga setidaknya mereka dapat memiliki bagian dari frekuensi (tidak seluruhnya) yang diperlukan bagi mereka untuk lebih meningkatkan layanan,” katanya seperti dilansir TelecomAsia, Selasa (19/7).

Ia menambahkan, telah menyerahkan sepenuhnya masalah ini ke PCC untuk memutuskan apakah kesepakatan pembelian perusahaan telekomunikasi ini adalah demi kepentingan masyarakat atau tidak. Perhatiannya lagi-lagi kembali pada efisiensi penggunaan spektrum, terutama mengingat kebutuhan untuk meningkatkan kecepatan koneksi internet di negara dan pelayanan publik.

Eropa Targetkan Broadband 100 Mbps untuk Setiap Rumah

0

Telko.id – Komisi Eropa sedang membuat perombakan pada aturan telekomunikasi di benua biru itu, yang akan mencakup target untuk ‘mendadani’ setiap rumah tangga dengan broadband berkecapatan 100 Mbps dalam satu dekade.

Menurut Financial Times, salinan awal dari rencana Komisi Eropa itu telah ada di tangan mereka dan rencananya akan dipublikasikan pada bulan September, yang akan mengatur sejumlah target yang dirancang untuk mendorong investasi swasta di bidang infrastruktur fixed-line. Dan 100 mbps hanyalah awal, dengan target 1 Gbps untuk sekolah dan bisnis.

Menurut dokumen yang bocor, sebanyak €155 miliar akan diperlukan untuk mendorong infrastruktur yang sangat kuat ini. Jumlah yang mungkin akan membutuhkan lebih dari beberapa aspirasi yang tinggi dan beberapa token subsidi untuk mengekstrak dari perusahaan telekomunikasi yang haus margin.

Sebuah indikasi yang memungkinkan mengenai seberapa serius Komisi Eropa merangsang investasi telekomunikasi akan menjadi puncak dari penyelidikan Komisi Eropa ke dalam rencana Deutsche Telekom untuk meng-upgrade jaringan tembaganya.

Rencana DT telah disetujui oleh regulator dalam negeri Jerman, tapi Komisi Eropa ingin melihat lagi. Masalah potensial adalah bahwa teknologi vectoring yang digunakan untuk meningkatkan kinerja kabel tembaga akan meninggalkan kapasitas cukup untuk perusahaan telekomunikasi Jerman lainnya yang menyewanya dari DT.

Diharapkan, keputusan sudah akan ada akhir pekan ini, lapor Telecoms, Selasa (19/7).

McDonald dan Starbucks Setuju Untuk Blokir Situr Porno

0

Telko.id – Pelanggan McDonald maupun Starbucks kini tidak bisa lagi sembarangan mengakses situs tertentu ketika berada di area mereka. Pasalnya, kedua ‘tempat nongkrong’ ini kini telah menerapkan teknologi filtering yang akan menghalangi pelanggan yang menggunakan Wi-Fi untuk mengakses situs porno.

Langkah ini diambil menyusul kampanye dari kelompok anti-pornografi Enough is Enough dan Pusat Nasional untuk Eksploitasi Seksual yang meminta kedua perusahaan untuk menyaring konten tersebut.

Dilaporkan Phys, Selasa (19/7), McDonald mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa filtering Wi-Fi telah diaktifkan di sebagian besar restoran yang mencapai hampir 14.000 jaringan secara nasional. Sementara juru bicara Starbucks mengatakan bahwa kedai kopi yang berbasis di Seattle itu akan menerapkan teknologi filtering ketika mereka telah menemukan sebuah sistem yang “juga tidak sengaja memblokir konten yang tidak diinginkan.”

Presiden Enough is Enough, Donna Rice Hughes memuji langkah ini dan mengatakan organisasi berencana untuk mendorong bisnis dan tempat-tempat lain untuk menyaring Wi-Fi mereka.

Sementara itu, Pusat Nasional untuk Eksploitasi Seksual mengatakan bahwa tempat-temoat seperti Chick-fil-A dan Panera Bread telah lebih dulu memblokir pornografi di Wi-Fi.

Meskipun tidak ada statistik mengenai seberapa sering Wi-Fi publik di McDonald dan Starbucks telah digunakan untuk mengakses pornografi, Hughes mengatakan kepada CNN Money bahwa ada laporan berita tentang hotspot Wi-Fi publik semakin sering digunakan untuk lalu lintas pornografi anak dan ajakan seksual anak-anak.

Warga Jakarta Ingin Transportasi dan Keamanan Yang Lebih Baik

Telko.id – Gelombang urbanisasi terjadi hampir diseluruh dunia. Keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik masih dipersepsikan dengan hidup di kota. Dengan adanya fenomena ini, Microsoft memiliki program Microsoft CityNext. Sebuah program yang bertujuan untuk mendorong kota-kota agar lebih berkelanjutan, sejahtera, dan berdaya saing tinggi secara ekonomi – dengan menggunakan pendekatan yang sederhana.

Harapannya adalah inisiatif ini dapat membantu kota-kota agar bisa jauh lebih berpotensi dengan memberikan layanan-layanan digital inovatif, yang mampu membawa penduduknya ke kehidupan yang lebih aman, sehat, dan berpendidikan.

Salah satu agendanya adalah melakukan survey yang bertajuk Microsoft City Next Asia Pacific Survey: Your City, Your Future. Survey ini dilakukan pada beberapa negara dan salah satunya adalah Jakarta. Survey ini meneliti respon lebih dari 200 penduduk di Jakarta terkait harapan dan prioritas mereka dalam sepuluh tahun ke depan di tengah meningkatnya tekanan urbanisasi.

Penduduk Jakarta sangat optimis dengan kualitas hidup mereka di masa mendatang, sebagaimana terlihat dari hasil survey yang menyatakan hampir 67 persen responden meyakini kehidupan mereka akan berubah menjadi lebih baik pada tahun-tahun mendatang. Hasil tersebut menempatkan Jakarta sebagai kota kedua paling optimistis setelah Mumbai. Pun demikian, responden menekankan perbaikan infrastruktur transportasi adalah faktor yang paling membutuhkan penanganan di kota ini (82 persen), diikuti oleh keamanan dan ketertiban umum (78 persen), lowongan pekerjaan (77 persen), dan pendidikan (74 persen).

Survey CityNext juga mengungkapkan bahwa penduduk Jakarta memandang teknologi memiliki peran penting dalam meningkatkan kondisi kehidupan di kota-kota. Sebanyak 93 persen responden menyetujui peran teknologi yang paling signifikan adalah dalam penyampaian informasi mengenai layanan-layanan kota kepada warganya. Sementara di posisi kedua, 90 persen responden sepakat peran teknologi adalah untuk menyediakan konektivitas yang lebih baik melalui jaringan Wi-Fi dan seluler, serta untuk meningkatkan komunikasi antara warga dan kotanya guna menciptakan kepedulian masyarakat yang lebih baik. Peran teknologi lainnya adalah untuk menciptakan peluang-peluang ekonomi baru (88 persen), dan untuk membantu perencanaan kota yang lebih baik dengan menggunakan analisis Big Data (85 persen).

“Mulai dari solusi layanan komputasi awan sampai aplikasi-aplikasi mobile dan Big Data, teknologi memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengubah kota menjadi komunitas yang lebih aman, pintar, dan berkelanjutan. Bagi pemerintah Indonesia, teknologi memiliki potensi guna membantu para perancang kota dalam menangani permasalahan yang kerap mereka hadapi seperti transportasi dan ketertiban umum,” jelas Peter Sutiono, Director of Public Sector, Microsoft Indonesia.

“Sebagai contoh, pemakaian alat analisis bisa dimanfaatkan untuk mengobservasi kedatangan bus dan kereta api agar bisa tiba lebih tepat waktu dan terhindar dari kemacetan lalu lintas. Sedangkan lebih banyak kamera pengawas yang dipasang di tempat-tempat umum dapat membantu pihak berwenang untuk menekan angka kriminalitas seperti pencopetan sehingga Jakarta bisa menjadi kota yang lebih aman untuk ditinggali,” tambahnya.

Berkaitan dengan kota-kota lain di Asia Pasifik yang dikagumi, survei menunjukkan warga Jakarta lebih memilih untuk tinggal di Singapura karena kebersihan dan ketertibannya. Kota selanjutnya adalah Tokyo yang jauh lebih populer di kalangan responden yang berusia lebih muda karena citra kota ini yang menyenangkan. Sementara Sydney dan Melbourne masuk ke dalam daftar kota yang aman karena responden mengagumi pemerintahan Sydney yang stabil serta sistem transportasi Melbourne yang terjamin.

Di saat urbanisasi membuka gelombang tantangan baru, kota-kota di Asia Pasifik yang telah dan tengah berkembang menghadapi tekanan yang berat untuk memodernisasi infrastruktur yang sudah dimakan waktu. Mereka pun dituntut untuk menyediakan layanan yang lebih beragam kepada warganya sambil berhadapan dengan penghematan ekonomi dan berkurangnya sumber-sumber daya keuangan. Melalui partisipasi dengan sektor publik, Microsoft CityNext bertujuan untuk membantu kota-kota mengukur solusi dan pelayanan untuk melaksanakan ‘New with Less’. Pelayanan ini memungkinkan kota-kota tersebut bisa lebih bersaing di pasar global, meningkatkan keterlibatan penduduk kota, serta mendorong keberlanjutan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.

Survei Jakarta merupakan bagian dari studi regional yang melibatkan kota-kota lain, yaitu Bangkok, Beijing, Shanghai, Delhi, Mumbai, Manila, Seoul, Singapura, Sydney, Taipei, Tokyo, dan Osaka. (Icha)

Solusi Huawei Bantu Operator Jalankan Digital Transformasi

0

Telko.id – Huawei telah mengumumkan upgrade suite pada aplikasi CEM dalam upaya untuk membantu strategi operator dalam menjalankan transformasi digital.

Dilansir dari Telecoms (19/7), penawaran tersebut telah diperbarui dengan dinamakan Digital Customer Care (DCC) yang dimaksudkan untuk memprovide operator dengan dengan berbagai tools untuk melengkapi pelanggan dengan self-service yang lebih maju dan kemampuan interfacing pelanggan, Huawei mengatakan. DCC tampaknya mencakup semua aspek strategi CEM, dari front-end hingga back office operation, dan Huawei mengatakan bahwa solusi ini sudah memberikan manfaat bagi opex operator.

“Penggunaan seri Digital Customer Care   akan membantu operator untuk meningkatkan pemanfaatan saluran swalayan digital dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Kami telah bekerja dengan berbagai operator di mana solusi DCC kami telah menghasilkan penghematan biaya hingga 30% di OPEX layanan pelanggan dan meningkatkan kepuasan pelanggan sebesar 10%. Kami percaya bahwa solusi DCC akan menjadi enabler kunci untuk transformasi digital CSP ini. ” ucap Jacky Zhou, Vice President of Huawei Global Technical Services.

Huawei mengatakan DCC akan membantu operator dalam memprovide end user mereka dengan resolusi instan untuk masalah kualitas layanan, seperti manajemenvkeluhan pelanggan melalui self-service atau jejaring sosial, atau analisis data dan masalah konektivitas layanan. Sistem deteksi kesalahan juga DCC diduga menggunakan machine learning untuk menganalisis keluhan pelanggan, dan dengan tepat merekomendasikan tindakan korektif untuk pengguna melalui set instruksi sederhana yang disampaikan melalui Portal self-service milik operator.

Sementara itu, Huawei juga bermitra dengan spesialis SAPconsulting SNP AG untuk membantu kelancaran jalur menuju transformasi digital dengan menyelaraskan penawaran mereka. Menurut SNP, Huawei akan menyediakan infrastruktur hardware SAP HANA, dengan SNP menyediakan software SAPTransformation Backbone-nya dalam sebuah langkah yang tampaknya akan memungkinkan perusahaan untuk cepat, mudah dan efisien dalam mengubah ke S4 HANA atau SAP Business Suite di HANA.

“Sebagai hasil dari kemitraan baru ini kita dapat lebih mendukung klien untuk berhasil membentuk perubahan digital dan untuk memanfaatkan peluang pasar baru. Kombinasi terdepan hardware yang kuat dan perangkat lunak standar industri memungkinkan transformasi cepat model bisnis dan proses teknologi HANA. Ini menawarkan pelanggan kami keuntungan yang signifikan dalam biaya dan efisiensi pada proyek-proyek yang sangat kompleks,”SNP CEO, Andreas Schneider-Neureither.

Ini Dia Pemenang Tender Palapa Ring Paket Timur

0

Telko.id – Setelah sempat pengulangan lelang Palapa Ring Paket Timur, akhirnya pemenang lelang yang mengerjakan jaringan broadband wilayah timur ini pun sudah ditentukan oleh pemerintah. Pengumuman ini tertuang dalam surat pengumuman lelang nomor 319/KOMINFO/BP3TI.31.9/PL.02.02/06/2017.

Konsorsium Moratelindo, IBS dan Smart Telecom lah yang dinyatakan lulus dan akan mengerjakan proyek kerjasama dengan pemerintah untuk membangun jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring Paket Timur. Sedangkan Konsorsium XL, Indosat dan Alita dinyatakan diskualifikasi dan gugur.

Paket timur ini membutuhkan dana paling besar dibandingkan paket Barat dan Timur. Pasalnya, pembangunan jaringan banyak berada di laut. Setidaknya mencapai 80% dan darat hanya 20%. Itu sebabnya, valuasi proyek ini pun mencapai Rp. 14 Triliun dengan skema availability payment pemerintah selama kurun waktu 15 tahun.

Sebagai informasi, paket Timur ini menjangkau wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua, (sampai dengan pedalaman Papua) dengan total panjang kabel serat optik sekitar 6.300 km di darat dan di laut. Jaringan ini akan membentangkan jaringan tulang punggung serat optik di 35 kabupaten kota di Indonesia.

Pemerintah menargetkan Proyek Palapa Ring akan selesai pada akhir tahun 2018. Pada 1 Januari 2019 mulai beroperasi sepenuhnya. (Icha)

Meski Network Sharing, Operator Tidak Boleh ‘Malas’ Bangun Jaringan

0

Telko.id – Operator telekomunikasi diminta untuk tidak ‘malas’ dalam membangun jaringan tanpa harus menunggu keluarnya aturan soal berbagi jaringan aktif (Network Sharing).

“Pembangunan jaringan oleh operator melekat dalam kewajiban modern lisensi. Seandainya ada network sharing tak boleh melupakan khitah operator penyelenggara jaringan untuk tetap membangun infrastruktur telekomunikasi di Indonesia,” tegas Wakil Ketua Desk Ketahaan dan Keamanan Cyber Nasional, Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Marsekal Pertama Ir Prakoso.

Ia menambahkan, selama ini operator telekomunikasi yang sahamnya dikuasai investor asing hanya mau membangun di daerah yang mempunyai nilai ekonomis saja. Padahal, Indonesia bukan hanya di Jakarta atau di Pulau Jawa saja. “Jangan sampai network sharing hanya dijadikan alasan bagi operator telekomunikasi untuk tak membangun jaringan telekomunikasi di daerah terpencil,” lanjutnya.

Sampai dengan saat ini, pada industri telekomunikasi seluler terdapat beberapa pemain seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, Smartfren telecom, serta tak ketingalan Hutchison Tri Indonesia. Diantara deretan pemain ini, memang Telkomsel yang paling giat dalam membangun jaringan hingga ke pelosok. Hal ini juga dikarenakan Telkomsel memiliki mayoritas saham yang dikuasai pemerintah Indonesia.

Lebih lanjut, operator telekomunikasi yang sahamnya dikuasai asing juga seharusnya ikut terlibat dalam membangun jaringan telekomunikasi yang terintegrasi dengan pemerintah hingga tempat terpencil dan daerah perbatasan. Sehingga tak hanya satu jaringan telekomunikasi saja yang ada di daerah perbatasan atau di daerah terpencil. Tujuannya adalah jika terjadi kegagalan dalam satu jalur jaringan tidak akan menyebabkan kegagalan jaringan dalam waktu yang lama (system redundansi).

“Meskipun mereka adalah perusahaan asing, namun mereka juga harus memiliki kontribusi positif terhadap pembangunan nasional khususnya dalam ketahanan nasional di bidang telekomunikasi dan Cyber. Karena mereka telah melakukan kegiatan usaha dan memakai sumber daya terbatas (frekuensi) yang dimiliki oleh Indonesia ,” ujar Marsekal Pertama.

Hal senada juga diutarakan oleh Anggota Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DetikNas) Garuda Sugardo. Ia menambahkan, jika network sharing tidak diikuti dengan komitmen pembangunan infrastuktur, pihak yang paling diuntungkan adalah operator telekomunikasi asing. Sebab Operator telekomunikasi asing tak perlu capek-capek membangun jaringan di wilayah terpencil atau kurang menguntungkan. Mereka cukup mendompleng operator penyelenggara jaringan yang sudah ada.

“Menurut saya konsep berbagi jaringan itu saling berbagi bukan yang satu berbagi tapi yang lain minta bagian. Itu tidak adil dan bertendensi berpihak. Apalagi kepada operator yang sudah ‘menggadaikan’ jaringan kepada vendor secara managed service,” ujarnya.

“Pemerintah harus mewaspadai operator ‘pemalas’ yang engan membangun infrastruktur telekomunikasi. Padahal mereka telah mengantungi ijin penyelenggaraan Operator Jaringan dan Operator Layanan,” lanjut Garuda.

Sekadar informasi, pintu masuk network sharing di Indonesia tengah berusaha dibuka dengan direvisinya Peraturan Pemerintah (PP) No 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi dan PP 53 tahun 2000 tentang spektrum sharing.

Revisi PP No 52 rencananya akan mengubah perihal modern licensing bagi penyelenggara telekomunikasi dengan tidak lagi menitikberatkan kepada pembangunan infrastruktur tetapi di service level agreement (SLA). Sedangkan Revisi PP No 53 rencananya akan membuka peluang penggunaan frekuensi secara bersama oleh operator.

Sementara itu, Network sharing dianggap sebagai salah satu cara untuk mencapai tingkat efisiensi dalam industri telekomunikasi. Dan ini diakui betul oleh sejumlah operator, tak terkecuali di Indonesia. Tak heran, jika beberapa diantaranya pun telah mencoba mengimplementasikannya. Network Sharing sendiri, pada dasarnya merupakan mekanisme penggunaan bersama infrastruktur aktif telekomunikasi antar operator telekomunikasi di suatu negara.

“Kita harus melihatnya bukan dari scoop operator, melainkan scoop Nasional,” ungkap Merza Fachys, selaku pengamat telekomunikasi yang juga menjabat sebagai ketua ATSI.

“Sebut saja ada sebuah kota kecil di Indonesia dengan penduduk 300 ribu jiwa dan hanya setengahnya yang menggunakan layanan telepon dan dilayani oleh lima operator di Indonesia sendiri-sendiri. Padahal kapasitas dari jaringan yang dibangun untuk masing-masing operator melebihi dari jumlah pengguna di wilayah tersebut. Untuk apa devisa negara dihamburkan untuk membeli lima network di wilayah tersebut, kebayang gak pemborosan negara kita ini,” ujarnya seraya memberi contoh kasus.