spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1598

NTT DoCoMo Tambah Bujet untuk Perluas Jaringan LTE

0

Telko.id – Operator telekomunikasi Jepang, NTT DoCoMo, dilaporkan akan meningkatkan pengeluaran pada jaringan LTE-nya, dari yang semula ¥ 4 miliar atau setara US$ 3,9 miliar menjadi ¥ 97,1 atau sekitar US$ 95.5 miliar meningkatkan sedikit pengeluaran CAPEX-nya pada kuartal pertama 2016. Hal ini sebagaimana diungkapkan sang CEO, Kazuhiro Yoshizawa baru-baru ini.

“Meskipun ini adalah peningkatan dari tahun ke tahun bila dibandingkan dengan rencana awal kami, kemajuan belanja modal sedikit di belakang rencana tersebut,” kata Yoshizawa.

Saat ini, seperti dilaporkan GTB, Jumat (5/8), jumlah BTS LTE perusahaan telah mencapai 143.500 termasuk 30.900 BTS premium 4G. Perusahaan bermaksud untuk memperluas jumlah BTS premium 4G untuk 1.203 kota di Jepang.

NTT DoCoMo telah meluncurkan layanan broadband 275Mbps dan berinvestasi di teknologi carrier aggregation untuk menggabungkan spektrum baru dengan 3,5 gigahertz. Tujuannyaa adalah untuk akhirnya meluncurkan layanan broadband 377Mbps dan memperluas carrier aggregasi untuk menutupi 49 kota di seluruh Jepang.

“Selama tahun fiskal 2016 ini kami berencana untuk meluncurkan layanan yang melebihi 500 megabit per detik dan akan menggunakan MIMO. Menjelang tahun 2020, kami akan meningkatkan dasar jaringan untuk meluncurkan 5G,” kata Yoshizawa.

NTT DoCoMo mengatakan jumlah pelanggan mobile meningkat sebesar 6% pada tahun fiskal lalu, mencapai 71.61 juta. Jumlah pengguna smartphone dan tablet juga meningkat sebesar 13% menjadi 33.44 juta.

Koneksi IoT Tembus 27 Miliar Pada 2025, China Memimpin Klasemen

0

Telko.id – Menurut laporan terbaru yang diterbitkan Machina Research, jumlah koneksi Internet of Things (IoT) di dunia – dan pendapatan terkait – akan tumbuh empat kali lipat antara tahun 2015 dan 2025, memberikan kesempatan bagi perusahaan telekomunikasi untuk menghasilkan uang, terutama mereka yang memiliki pengalaman dalam layanan TI perusahaan.

Koneksi IoT global disebut-sebut akan mencapai 27 miliar pada tahun 2025, naik dari 6 miliar koneksi tahun di tahun lalu.

Selama periode yang sama, peluang pendapatan IoT akan tumbuh US$ 3 triliun dari US$750 miliar, dengan total US$ 1,3 triliun datang langsung dari pengguna akhir melalui perangkat, konektivitas dan pendapatan aplikasi, lanjut lembaga riset itu lagi, seperti dilansir dari Totaltele, Jumat (5/8).

Sementara itu sisanya akan berasal dari berbagai sumber termasuk pengembangan aplikasi, integrasi sistem, hosting dan monetisasi data.

Terlepas dari kenyataan bahwa pendapatan dari konektivitas murni yang relatif kecil, yakni US$ 50 miliar pada tahun 2025, diakui CEO Machina Research Matt Hatton, perusahaan telekomunikasi bisa menangkap lebih banyak peluang ketimbang dari apa yang diyakini banyak pengamat industri. Perusahaan telekomunikasi masih akan fokus pada kesempatan yang lebih luas, seperti menyediakan aplikasi IoT yang sebenarnya.

Beberapa operator, sebut saja Vodafone di Inggris, mengejar aplikasi secara agresif, sementara operator lain Tele2 di Swedia lebih fokus pada bagian konektivitas horisontal. Di Indonesia, operator seperti XL Axiata memilih untuk lebih fokus dalam mengembangkan ekosistem untuk layanan IoT. Ekosistem di sini merujuk pada kemampuan menciptakan solusi atas kebutuhan industri dan masyarakat dengan jalan menggabungkan berbagai ragam perangkat yang ada di sekitar.

Pada tahun 2025, 72% dari semua koneksi IoT akan menggunakan teknologi jarak pendek seperti WiFi, Zigbee, dan powerline di dalam gedung, naik sedikit dari 71% saat ini.

Koneksi seluler akan mencapai 2,2 miliar pada tahun 2025, naik dari 334 juta pada akhir 2015, yang sebagian besar akan berbasis LTE, Machina Research memprediksi. Mobil terhubung akan menjadi kunci di sini, mengingat 45% dari koneksi IoT seluler pada 2025 akan berada di sektor itu.

Pilihan area rendah daya, seperti Sigfox, Lora dan LTE-NB1, akan menghasilkan 11% dari koneksi pada tahun 2025, lanjut Machina.

Sementara itu, untuk negara yang akan mempimpin pasar IoT sendiri, China disebut-sebut akan berada di urutan teratas pada tahun 2025, tetapi hanya dengan 21% koneksi IoT dibandingkan dengan AS di angka 20%. Namun AS akan menangkap pangsa pendapatan yang lebih besar dengan 22%, sementara China 19%.

Negara terbesar ketiga yang akan memimpin pasar IoT adalah Jepang, dengan 7% koneksi dan 6% pendapatan.

Pada tahun 2025, IoT akan menghasilkan lebih dari 2 zettabytes data, sebagian besar dari perangkat elektronik konsumen, pungkas Machina.

Ini Dia Potensi Pasar IOT di Indonesia

0

Telko.id – Indonesia saat ini memiliki populasi lebih dari 235 juta penduduk dan 297 juta pengguna mobile. Hal ini menjadikan Indonesia negara terbesar keempat di dunia, yang diperkirakan akan menjadi pemain utama dalam pertumbuhan IOT terbesar di Asia Tenggara.

Kondisi tersebut juga mendorong pengembangan industri di Indonesia. Di mana pada tahun 2030, sektor otomotif diperkirakan akan mencapai 46 juta kendaraan. Sementara di sektor pelayanan publik, 83 juta rumah akan tersedia untuk 300 juta orang. Sedangkan di sektor keuangan, 4,8 juta UKM akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Cloud Computing pun akan banyak bermunculan sebagai solusi dari strategi TI bagi sebagian besar bisnis di Indonesia, terutama UKM. Namun demikian, data pemerintah terbaru menunjukkan bahwa 70 persen atau sekitar 56.500.000 UKM di Indonesia tidak menggunakan solusi TI. Namun, pasar Cloud Computing itu sendiri di Indonesia diperkirakan akan mencapai lebih dari US $ 120 juta pada 2017 dan Software-as-a-Service (SaaS) akan menjadi pilihan populer di Indonesia.

Dengan tingkat penetrasi seluler dari 120% di Indonesia, Indosat Ooredoo percaya bahwa Cellular Service Provider dipercaya mitra untuk membantu adopsi IOT. Itu sebabnya, operator ini yakin mampu memimpin dalam pengembangan IOT melalui portofolio nya yang luas. Termasuk di dalamnya solusi dan layanan mulai dari connectivity, infrastructure, cloud services, data analytics to end-to-end IoT solutions dan services. Selain itu juga akan memperkenalkan inovasi sederhana dan enviroment yang terbuka bagi para developer lokal untuk mengembangkan dan membangun IoT service yang inovatif. Dan, tidak ketinggalan Big Data.

“Selama dua tahun belakangan ini, kami banyak melakukan penelitian terhadap pasar yang sangat intens. Dan tahun ini kami akan terus mempercepat pertumbuhan perbankan, transportasi dan keamanan, ditambah mengembangkan pasar baru di eHealth, asuransi berbasis pengguna, aplikasi bisnis, industri IOT, gas minyak, pintar Kota, “kata Hendra Sumiarsa, Kepala Mesin-to-Machine, Indosat Ooredoo.

Dalam preview diskusi panel tersebut, Arifa Febriyanti, Kepala Internet of Things, XL Axiata, juga menekankan bahwa perusahaan telekomunikasi memainkan peran yang sangat penting dalam dunia IOT. Di mana perusahaan telekomunikasi dapat menjadi end-to-end solusi untuk layanan IOT.

“Untuk pengguna atau akhir pelanggan, ada tidak ada kerumitan untuk mereka sementara menggunakan solusi IOT karena perusahaan telekomunikasi yang ambil bagian sebagai penyedia solusi untuk IOT dapat menyediakan segala sesuatu mulai dari konektivitas, aplikasi, perangkat dan semua sensor yang menyediakan layanan Total end-to-end, “tambahnya. (Icha)

SmartTone Hadirkan Wi-Fi Calling Multi Device

0

Telko.id – SmarTone Hong Kong telah memperkenalkan Wi-Fi Calling untuk beberapa perangkat menggunakan peralatan yang disediakan oleh Ericsson.

Dilansir dari TelecomAsia (5/8), layanan panggilan Wi-Fi terbaru ini memungkinkan pelanggan untuk mengkoneksikan hingga lima perangkat pribadi yang tidak memiliki kartu SIM – termasuk tablet, komputer dan jam tangan pintar – untuk mengaktifkan panggilan suara operator melalui koneksi dari Wi-Fi.

Perangkat dapat berada di titik akses Wi-Fi yang berbeda, dan panggilan dapat ditransfer mulus ke smartphone pengguna. Layanan ini juga mendukung beberapa panggilan simultan dengan menggunakan nomor yang sama.

Ericsson sendiri telah mengupgrade layanan dari Wi-Fi Calling yang ada untuk mendukung fungsi multi-perangkat. Perusahaan ini menawarkan platform end-to-end yang terdiri evolve packet core, IMS, pengelolaan data pengguna dan OSS / BSS.

“SmarTone selalu berfokus untuk memberikan pengalaman yang luar biasa kepada pelanggan kami. Dengan kecenderungan semakin banyak pelanggan yang menggunakan beberapa perangkat saat ini, kami menawarkan layanan Wi-Fi Calling dengan multi-perangkat untuk pelanggan kami, “kata CTO SmarTone Stephen Chau.

“Kami percaya kemampuan baru untuk memperluas layanan suara ke perangkat tanpa SIM-card adalah merupakan kenyamanan asli untuk pelanggan kami,” tambah Chau.

Sementara itu, Sebuah survei Ericsson ConsumerLab terbaru berdasarkan pengguna Wi-Fi Calling di Amerika Serikat menunjukkan bahwa empat dari lima pengguna sangat puas dengan layanan ini. Sedangkan, sekitar satu dari tiga pengguna smartphone internasional menyadari teknologi tersebut dan tujuh dari 10 berpendapat bahwa hal ini merupakan prospek menarik.

Indosat Kerjasama Direct Carrier Billing Dengan Fortumo

0

Telko.id – Fortumo dan Indosat Ooredoo, hari ini mengumumkan peluncuran direct carrier billing.  Kemitraan ini akan membuka kesempatan bagi 69.800.000 pelanggan Indosat Ooredoo untuk melakukan pembayaran online dengan mengisi rekening mobile nya tanpa perlu menggunakan kartu kredit.

“Kami sangat senang untuk membangun kerjasama ini strategis dengan Fortumo. Kerjasama ini memberikan banyak manfaat bagi  pelanggan Indosat Ooredoo dan memungkinkan transaksi di jaringan yang lebih luas lagi,” ujar Prashant Gokarn, Chief New Business & Innovation Officer Indosat Ooredoo menjelaskan. Gokarn pun menambahkan bahwa langkah ini menjadi inovasi dari Indosat Ooredo yang bertujuan untuk menjadi telco digital terkemuka.

Platform direct carrier billing Fortumo ini sudah digunakan oleh beberapa toko aplikasi terkemuka. Seperti Google Play dan Windows Phone Store. Lalu sudah digunakan juga oleh perusahaan digital media seperti Sony, HOOQ dan Gaana. Platform ini pun sudah digunakan para perusahaan game seperti EA Mobile, Gameloft, Kinguin dan Rovio). Fortumo pun sudah kerjasama dengan 350 operator seluler di seluruh dunia.

“Dengan menggunakan platform Fortumo akan memberikan tambahan pendapatan bagi operator seluler dari semua segmen industri digital secara langsung. Itu sebabnya, Kami sangat antusias untuk bermitra dengan Indosat Ooredoo dan berharap ada pertumbuhan pendapatan dari operator karena metode pembayaran ini, ” ujar Siddharth Sahi, Vice President Carrier Sales – Asia Fortumo menjelaskan. (Icha)

Trend Pasar Mobile dan Komputasi Akan Mengarah ke Pasar 60 GHz WiGig Pada 2017

Telko.id – Industri mobile dan komputasi pada 2017 diperkirakan akan bergeser ke pasar 802.11ad atau lebih dikenal dengan WiGig. Di mana, pada saat itu, adopsi terhadap teknologi mobile maupun komputasi sudah semakin tinggi lagi.

ABI Research memperkirakan akan beredar 180 juta chipset WiGig yang dikirim ke pasar smartphone pada tahun 2017. Jumlahnya akan terus meningkat hingga tahun 2021 akan mencapai total 1,5 miliar chipset. Chipset WiGig ini sendiri akan secara signifikan meningkatkan Wi-Fi throughput, meningkatkan efisiensi, dan memperluas penggunaan produk pada kebutuhan lain yang potensial.

“Produk yang berbasis Tri-band, di mana produk tersebut menggabungkan 2.4GHz, 5GHz, dan teknologi 60GHz akan mengangkat Wi-Fi ke tingkat berikutnya, memberikan keseimbangan yang lebih baik antara keandalan dan kinerja dari sebelumnya,” kata Andrew Zignani, Industri Analyst di ABI Research menjelaskan.

Zignani menambahkan bahwa sebelum pick up, pasar WiFi ini masih memiliki kendala utama yakni ekosistem perangkat yang ada untuk membangun ke arah band 60 GHz belum terbangun. Kenapa?

Pasalnya, sampai saat ini saja, para OEM masih banyak yang belum menemukan pasar yang cukup menarik sehingga 802.11ad  atau WiGig ini layak dan membenarkan ada biaya tambahan yang muncul saat produksi. Ditambah lagi akan muncul  kompleksitas dalam mengadopsi standar.

Namun industri ini membuat gairah baru di pasar dengan adanya kolaborasi terbaru dari Intel dan Qualcomm. Hal ini akan merangsang pertumbuhan dan mempengaruhi perusahaan lain untuk bermain di lahan yang sama. Seperti Broadcom, MediaTek, Nitero, Peraso, dan SiBEAM yang sudah siap juga merangsek ke pasar menyuplai chipset WiGig.

Gelombang pertama WiGig-enabled smartphone diperkirakan bakal hadir akhir tahun ini, meskipun dalam jumlah terbatas. Produk tersebut sudah dibenamkan teknologi WiGig 802.11ad dalam chipset Snapdragon 820 platform keluaran Qualcomm. Hal ini menjadi tanda awal dari gelombang yang lebih besar lagi dari Qualcomm dan pemasok IC lainnya untuk mendorong teknologi maju.

Teknologi baru ini membuka peluang bagi OEM untuk lebih membedakan produk andalan nya pada segmen menengah dengan dan perangkat pada segmen yang lebih rendah. Selain itu juga akan memaksimalkan kinerja saat streaming dari access points dan mendorong kelancaran transfer konten antar perangkat.

“WiGig memiliki masa depan cerah di industri ponsel, PC, nnetwork dan lainnya. Tahun 2017 menjadi titik kritis dalam pengembangan dan keberhasilan WiGig,” kata Zignani menyimpulkan. Zignani pun berharap tahun ini mulai banyak pemasok IC melakukan kegiatan promosi dalam skala besar.  (Icha)

Telefonica Jadi Operator Pertama di Organisasi Keamanan Cyber Eropa

0

Telko.id – Telefonica terpilih sebagai satu-satunya perusahaan telekomunikasi yang akan bergabung dengan dewan Organisasi Keamanan Cyber Eropa (ECSO).

ECSO sendiri merupakan organisasi yang dipimpin setengahnya oleh kemitraan antara publik dan swasta (cPPP) dengan Komisi Eropa. Didirikan belum lama ini, dengan anggta lebih dari 130 negara, organisasi ini bertugas untuk mempromosikan pengembangan strategi dan teknologi keamanan cyber.

Inisiatif ini bertujuan untuk merangsang investasi hingga €1.8 miliar dalam penelitian keamanan cyber, lapor Totaltele, Kamis (4/8).

“Kita harus beranjak dari solusi keamanan terisolasi yang difokuskan pada perlindungan aset ke solusi yang mampu menganalisis informasi perangkat, jaringan, peralatan teknologi dan pengguna, menggabungkan ini dengan intelijen eksternal pada kerentanan, ancaman dan agen lainnya,” kata Pedro Pablo Pérez García, direktur divisi keamanan global Telefonica sekaligus CEO unit keamanan sibernya, ElevenPaths dalam sebuah pernyataan.

García dan Cristina Vela, penasihat senior Telefonica di kantor Brussel akan mewakili operator Spanyol ini di ECSO.

Telefonica menekankan pentingnya pendekatan berkelompok untuk keamanan siber dalam era internet of things yang semakin berkembang belakangan ini, dimana itu juga menunjang pengembangan bisnis baru.

“Kepercayaan antara industri dan administrasi publik dari negara-negara anggota sangat penting untuk pelaksanaan yang efektif dari pendekatan ini dan dalam pengertian ini, peran yang harus dimainkan oleh cPPP penting,” kata García.

Lanjutkan transformasi digital, AXA Life Luncurkan Solusi Secure Payment

0

Telko.id – AXA Life sebuah perusahaan asuransi baru saja mendapatkan penghargaan bergengsi untuk transformasi digital yang mereka lakukan.

Sekadar informasi, AXA Life memulai transformasi digital sejak 2014, dengan bertransformasi dari sisi services dan meluncurkan beberapa fitur seperti e-duplicate, e-policy yang dikirim via email dan hardcopy, AXA direct yang merupakan customer portal, hingga e-claim untuk mengklaim rumah sakit melalui email.

AXA Life kembali melakukan terobosan baru dalam transformasi digital untuk secure payment dengan meluncurkan Interactive Voice Response (IVR). IVR ini berguna dalam transaksi pembelian produk asuransi jiwa dan kesehatan dari AXA melalui jalur telemarketing yang menjamin keamanan dalam hal pembayaran.

Sekadar informasi, layanan IVR atau interactive Voice Response merupakan teknologi yang memudahkan telemarketing dalam proses penjualan, dimana nasabah tidak perlu menyebutkan nomor kartu kredit. Nasabah cukup menginput sendiri dengan menekan 16 angka nomor kartu kredit serta expire date kartu pada keypad ponsel atau pesawat telepon.

“Sebenarnya sistem ini sudah kita implementasi pada bulan mei lalu, tapi kita ingin melakukan grand launch ke media. Sistem ini, begitu nasabah sudah setuju dengan penawaran yang kita berikan, nasabah langsung dihubungkan oleh sistem ini dan nasabah tinggal menginput nomor kartu kredit mereka pada dial pad ponsel mereka kemudian sistem tinggal melakukan check dan selesai,” ucap Hengky Djojosantoso di Jakarta (4/8).

“Kita bisa mengklaim, Kita merupakan perusahaan asuransi pertama yang menggunakan sistem ini di Indonesia, security data dari nasabah kita selalu jadi prioritas dari Kita,” tambah Hengky.

DSC_0174

Sementara itu, disinggung mengenai security pada sistem mereka, Hengky berani menjamin keamanan data pengguna dengan sistem ini.

“Semua proses yg kita lakukan itu ada guideline dari Id Security dan kita akan mengenkrip data kartu kredit nasabah ketika memasuki back end dari sistem kita. Seluruh nasabah yang bertransaksi melalui telemarketing telah menggunakan sistem ini diseluruh Indonesia,” ujarnya.

Berbicara mengenai transformasi digital kedepan, Mereka masih melihat teknologi sebagai pendukung dari bisnis mereka, namun mereka juga melihat tingginya peluang untuk penjualan asuransi melalui digital. Hal tersebut terlihat dari berbagai value yang ditawarkan ketika nasabah membeli produk melalui jalur digital.

“Inovasi digital menjadi salah satu bisnis strategi utama AXA Life Indonesia, mengingat masyarakat Indonesia sudah semakin dekat dengan dunia digital saat ini, AXA di Indonesia juga sidah mengedepankan transformasi digital untuk menyempurnakan layanan bisnis,” tukas Hengky.

Jepang Puncaki Klasemen untuk Penetrasi Mobile Broadband di OECD

0

Telko.id – Menurut statistik baru yang diterbitkan oleh badan internal OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), penetrasi mobile broadband di organisasi tersebut mencapai 90,3% pada akhir 2015.

Ada sekitar 1,15 miliar pelanggan mobile broadband di 35 negara anggota di organisasi tersebut pada akhir tahun, yang bersama-sama memiliki populasi 1,27 miliar. Itu merupakan peningkatan dari 117 juta pelanggan pada tahun sebelumnya, ketika penetrasi mencapai 81,6%.

Menurut laporan Totaltele, Kamis (4/8), Jepang berada di barisan terdepan dalam peringkat OECD, setelah menyalip Finlandia. Negara sakura itu memiliki 176 juta pelanggan, dengan tingkat penetrasi 138,8%, sementara Finlandia 7,4 juta pelanggan dengan penetrasi 135,4%.

Di peringkat ketiga, ada Swedia, dengan penetrasi mobile broadband sebesar 120,8%, sementara sembilan negara secara total memiliki tingkat di atas 100%. Enam negara lainnya adalah AS, Denmark, Australia, Estonia, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Lima negara lainnya menyusul di belakang, meliputi Norwegia, Swiss, Irlandia, Islandia dan Inggris – datang pada atau di atas rata-rata OECD.

OECD juga mengungkapkan bahwa pelanggan broadband tetap mencapai 371 juta pada akhir Desember, naik dari 356 juta pada akhir tahun 2014, dengan tingkat penetrasi 29%.

Untuk urusan koneksi, diketahui bahwa 45,6% melalui DSL, 19,4% berasal dari serat – naik dari 16,2% dari 12 bulan sebelumnya – dan 32% adalah kabel.

Swiss memuncaki klasemen untuk penetrasi fixed broadband dengan 51,9%, diikuti oleh Denmark dengan 42,4% dan Belanda dengan 41,3%.

Sekedar informasi, OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi sendiri merupakan sebuah organisasi internasional dengan lebih dari tiga puluh negara yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Sebelumnya, organisasi ini dipanggil OEEC (Organisation for European Economic Co-operation).

Teknologi Mobile Financial Rangsang Percepatan Gerakan Nasional Non-Tunai

0

Telko.id – Saat ini, pemerintah sangat giat melakukan berbagai program guna mendorong percepatan keuangan inklusif (financial inclusion) dan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT). Salah satu alternatif nya adalah melalui teknologi informasi, khususnya dengan pengembangan layanan uang digital.

Layanan uang digital tidak menjadi dominasi perbankan saja karena operator seluler pun memiliki kemampuan secara teknologi maupun jangkauan atau coverage yang luas. Itu sebabnya, Telkomsel, sebagai salah satu operator besar di Indonesia cukup agresif mengembangkan layanan keuangan digitalnya yakni TCash. Selain melakukan pengembangan produk, Telkomsel menjalin kemitraan dengan berbagai institusi dan perusahaan, sehingga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dalam menikmati layanan keuangan, termasuk membantu sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“TCASH adalah layanan keuangan digital Telkomsel yang dapat mendukung laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kami cukup yakin bahwa TCASH dapat menjadi media yang efektif untuk mewujudkan percepatan inklusi layanan keuangan digital untuk semua masyarakat Indonesia,” kata Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel di sela-sela berlangsungnya World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 di Jakarta.

Ririek menjelaskan bahwa di Indonesia layanan telekomunikasi seluler telah berkembang dengan pesat selama beberapa tahun terakhir, dimana penetrasi seluler mencapai 130% dari total populasi. Hal ini menjadi modal awal yang baik untuk perkembangan mobile financial service di Indonesia. Terlebih lagi dengan jumlah pengguna Telkomsel yang mencapai 157 juta pelanggan, jaringan distribusi yang tersebar di lebih dari 400.000 outlet, dan jangkauan network hingga ke pelosok yang mencakup 95% wilayah populasi Indonesia.

Saat ini Telkomsel pun telah bekerja sama dengan pemerintah untuk melakukan uji-coba pemanfaatan TCASH sebagai alternatif solusi mekanisme penyaluran non-tunai bantuan pangan dan sosial bersama Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di Jakarta, Solo, Medan dan Bogor selama bulan Agustus – September 2016 dengan total penerima bantuan sebanyak 1500 orang. Hal ini merupakan bagian dari persiapan implementasi penyaluran non-tunai bantuan pangan dan sosial tahun 2017 oleh pemerintah kepada 15 juta penerima manfaat. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan distribusi bantuan sosial secara non-tunai menjadi lebih tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat administrasi.

Di sisi lain, melihat masih tingginya angka populasi masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan (unbanked), Telkomsel juga telah menjalin kerjasama dengan BTPN untuk menghadirkan layanan keuangan terbaru berupa layanan ketersambungan antara uang elektronik TCASH dengan tabungan BTPN Wow! Layanan keuangan terhubung pertama di Indonesia ini hadir untuk memberikan kemudahan bertransaksi dan menabung melalui ponsel, mengkombinasikan kekuatan produk dan jaringan telekomunikasi dengan produk dan jaringan perbankan.

Selain itu  Telkomsel juga aktif bekerja sama dengan komunitas-komunitas untuk mengembangkan cash-less ecosystem, seperti dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) untuk memfasilitasi kebutuhan transaksi jual-beli dan pembayaran secara non tunai melalui layanan TCASH bagi 30.000 anggota komunitas Perempuan Nusantara (Penara), dan dengan komunitas Daarut Tauhid. Ke depannya, layanan ini berpotensi untuk dikembangkan di 3.000 pesantren di Indonesia, serta berbagai komunitas petani maupun komunitas ekonomi menengah ke bawah lain yang belum terjangkau layanan keuangan formal.

Untuk mendukung hadirnya layanan keuangan digital yang prima, Telkomsel terus meningkatkan kualitas dan sebaran jaringannya. Saat ini pelanggan Telkomsel dilayani oleh  118.000 BTS yang hadir di berbagai penjuru negeri, dimana sekitar 57% diantaranya merupakan BTS broadband (3G dan 4G). Tidak lupa penggelaran jaringan Internet cepat 4G juga sudah dapat dirasakan di 116 kota di seluruh Indonesia.

“Kami meyakini bahwa teknologi seluler dapat memberikan manfaat yang positif kepada masyarakat. Melalui TCASH kami ingin memberikan akses keuangan ke masyarakat luas dengan berbagai kemudahan dan manfaat.  Kami akan terus melakukan pengembangan sehingga produk ini senantiasa memberikan solusi yang tepat, mendorong laju pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, berdampak sosial yang positif dan pada akhirnya memberi kontribusi bagi Indonesia”, tutup Ririek.

Peran TCASH dalam percepatan keuangan inklusif dan GNNT di Indonesia ini ditampilkan di acara WIEF ke-12 yang bertemakan ‘Decentralizing Growth, Empowering Future Business’ yang berlangsung 2-4 Agustus di Jakarta. Mengusung visi untuk mengeksplorasi dan mengembangkan peran kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai Negara, WIEF akan dihadiri sekitar 2.500 peserta dari 60 negara.

Untuk menjamin kenyamanan berkomunikasi para delegasi dan peserta WIEF, khususnya ketika mengakses  Mobile Broadband menggunakan jaringan 4G LTE Telkomsel, di lokasi tempat acara berlangsung (khususnya di area indoor Jakarta Convention Center), Telkomsel juga telah melakukan sejumlah penguatan baik infrastruktur maupun pengamanan kualitas jaringan. Disamping mengandalkan kekuatan 12 BTS Node B jaringan 3G, Telkomsel juga sudah mempersiapkan 5 eNode B jaringan 4G LTE, dan tambahan 19 titik BTS Lampsite yang tersebar di area indoor JCC. (Icha)